Kamis, 04 Juni 2020

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
  Seperti yang telah kita ketahui bahwa agama Islam dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan wasiat tenatang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin umat Islam setelah beliau wafat. Setelah beliau wafat sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshor berkumpul di balai kota Bani Sa’idah, Madinah. 
  Mereka memutuskan  bermusyawarah siapa yang akan menjadi pemimpin. Akhirnya, mereka memilih Khulafa al-Rasyidin. Dengan demikian, agama Islam pada awalnya lahir dan berkembang di Jazirah Arab. Kalau begitu, bagaimana agama Islam bisa masuk dan berkembang di Indonesia, yang mana jarak tempuh anatara jazirah arab dengan Indonesia sangatlah jauh dan pada saat itu transportasi sangatlah masih belum mendukung.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat diklasifikasikan rumusan masalah sebagai berikut.
1.      Kapan masuknya Islam ke Indonesia?
2.      Bagaimana Islam berkembang di Indonesia?
3.      Apa peristiwa-peristiwa penting dan siapa tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam di Indonesia?
4.      Apa pengaruh Islam terhadap kebudayaan Indonesia?
5.      Apa ibrah dari peristiwa perkembangan Islam di Indonesia?

C.    Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui waktu masuknya Islam ke Indonesia;
2.      Untuk mengetahui perkembang Islam di Indonesia;
3.      Untuk mengetahui peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam di Indonesia;
4.      Untuk mengetahui pengaruh Islam terhadap kebudayaan Indonesia; dan
5.      Untuk mengambil ibrah dari peristiwa perkembangan Islam di Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Masuknya Islam ke Indonesia
Mengenai kapan waktu Islam mulai masuk ke Indonesia yang sebenarnya, pada awalnya ditemukan adanya dua pendapat dari para ahli yang berbicara mengenai hal tersebut. Pertama, bahwa Islam mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M, dan pendapat kedua pada abad ke-12 M. adapun dasar pemikirannya adalah sebagai berikut.
1.      Pendapat pertama
Agama Islam telah masuk ke wilayah Indonesia pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M, yang dibawa oleh para saudagar arab yang berdagang di Tiongkok/Cina. Dari tanah Arab, para saudagar itu menuju Tiongkok melalui jalur Arab – Malabar – Nicobar - Aceh (Pasai di Aceh Utara dan Perlak di Aceh Timur) - Malya - Kamboja - Daratan Cina.
Pendapat yang pertama ini didasarkan pada berita yang menyebutkan adanya orang-orang muslim yang berdagang dan singgah di kepulauan Indonesia, berita itu berasal dari berita Cina zaman Dinasti Tang. Dalam berita itu disebutkan bahwa ada orang-orang Ta-shih yang tadinya berusaha untuk menyerang Kerajaan Holing atau Kalingga di Jawa, tetapi membatalkan niatnya karena kerajaan Holing dibawah Ratu Sima 674 M masih kuat.[1]
2.      Pendapat kedua
Pendapat kedua menyatakan bahwa Islam mulai masuk ke Indonesia, yakni pada abad ke-12 M atau abad ke-7 H, yaitu di wilayah Sumatera yakni di daerah Aceh. Hal itu dibuktikan dengan datangnya seorang mubaligh bernama Abdullah Arief tahun 1115 M ke wilayah Aceh, yang menyebarkan agama Islam. Kemudian pada tahun 1205 tercatat sebuah nama penguasa bernama Raj Johan Syah yang menguasai wilayah sampai semenanjung Malaya.[2] Pendapat ini mempunyai data-data dan argument yang kuat, antara lain sebagai berikut.[3]
a.       Dalam sejarah Melayu dikatakan bahwa pada tahun 1151 M, datanglah ke Aceh, mubalig dari tanah Arab bernama Abdullah Arif. Mubalig itulah yang pertama kali menyebarkan Islam di wilayah Sumatra.
b.      Dalam sejarah Aceh dinyatakan bahwa pada tahun 1205 M, tercatat nama Raja Johan Syah yang dimaklumkan sebagai sultan Aceh yang pertama. Wilayah kerajaannya telah mencakup tanah melayu.
c.       Pada masa berikutnya tercatat pula raja muslim Aceh, bernama Malikus Saleh yang wafat pada tahun 1297 M.
d.      Dalam buku catatan pengembaraan Ibnu Bathutah dikatakan bahwa pada tahun 1315 M, di Samudra Pasai telah berdiri kerajaan Islam dan di pimpin oleh seorang sultan yang agamis.
3.      Pendapat ketiga
Berdasarkan hasil Seminar Nasional Masuknya Islam Ke Indonesia yang diadakan di Medan tahun 1963 para ahli menyimpulkan, bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-1 H atau ke-7 M langsung dari tanah Arab. Daerah yang disinggahi adalah pesisir Sumatera. Agama Islam tersebut disebarkan oleh para saudagar muslim yang juga bertindak sebagai mubaligh dan dilakukan dengan cara damai.
4.      Pendapat keempat
Islam mulai masuk ke Indonesia yakni pada abad ke-13 atau abad ke-8 H. Pada awalnya, pendapat tersebut hanya berdasarkan dugaan yang dikaitkan dengan keruntuhan Dinasti Abbasiyah oleh Hulagu Khan (Mongol) pada tahun 1258. Dengan runtuhnya Kerajaan Dinasti Abbasyiah telah menyebabkan para pedagang Muslim Mencari tempat baru untuk berdagang, dan akhirnya mereka menemukan Indonesia sebagai tempat mereka untuk berdagang. Kemudian pendapat itu diperkuat oleh berita Marco Polo dari Venesia, Italia yang pada tahun 1292 pernah singgah di Pasai telah terdapat masyarakat Muslim.[4]
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, para ahli sejarah mengambil kesimpulan sementara, bahwa Islam masuk ke Indonesia sebagai berikut.
1.      Islam masuk ke Indonesia pertama kali pada abad ke-1 H/VII Masehi langsung dari tanah Arab.
2.      Daerah yang pertama kali menerima ajaran Islam adalah pesisir Sumatra. Setelah mengalami perkembangan masyarakat muslim, raja Islam yang pertama berada di Aceh.
3.      Dalam proses Islamisasi berikutnya, bangsa pribumi Indonesia juga turut aktif menyebarkan agama Islam.
4.      Para mubalig muslim pertama itu selain sebagai penyair juga saudagar.
5.      Penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan cara damai.[5]

B.     Perkembangan Islam di Indonesia
Berdasarkan pendapat para ahli itu, Islam berkembang dan menyebar ke berbagai tempat diseluruh Nusantara melalui pesisir Pulau Sumatra, yang pada waktu itu ramai dikunjungi oleh saudagar-saudagar Arab, India, Tionghoa, dan sebagainya. Para saudagar ini merangkap sebagai mubalig.
Para ahli sejarah mengtakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan berbagai cara dan cirrinya tersendiri. Artinya, perkembangan agama Islam di Indonesia berbeda dengan Negara-negara lain. Perbedaan itu antara lain terdapat pada ciri-ciri berikut ini.[6]


1.      Islam berkembang secara natural
Adapun Islam di Indonesia berkembang secara alami, evalutif, berjalan apa adanya, tidak ada paksaan dan tidak pula dengan kekerasan, pada mulanya, Islam disampaikan hanya sebatas berita dan informasi mengenai kebenaran yang hakiki. Setiap orang boleh menanggapi dan boleh tidak. Bagi yang tertarik boleh ikut dan masuk agama Islam, dan bagi yang tidak boleh menolak dan mengatakan keberatan. Dengan demikian, perkembangan Islam dapat berjalan dengan aman dan damai. Lambat tapi pasti pada akhirnya agama Islam dapat berkembang pesat.
2.      Islam berkembang secara cultural
Salah satu pendekatan yang diambil oleh para ulama terdahulu dalam mengembangkan agama Islam, adalah pendekatan cultural. Islam tidak anti budaya dan peradaban, bahkan dapat dijadikan sebagai motor penggerak budaya dan perdaban. Oleh sebab itu, para ulama terdahulu mengembangkan Islam melalui kebudayaa, baik seni budaya maupun adat istiadat yang secara substansial tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan demikian, agama Islam dapat berkembang dengan pesat tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari masyarakat negeri ini.
3.      Islam berkembang secara persuasive
Para ulama terdahulu mengembangkan Islam tidak dengan cara represif (kekerasan), melainkan dengan cara persuasive dan kekeluargaan. Tidak sedikit para ulama terdahulu yang berhasil menaklukan hati seorang raja karena kedekatan mereka dengan pribadi sang raja. Banyak pula ulama yang menyamar menjadi nelayan, petani,pedagang,dan lain-lain untuk sekedar menumbuhkan kepercayaan dari lingkungan masyarakatnya, sehingga mereka mudah menyampaikan ajaran Islam.
4.      Islam berkembang secara genetis
Figure dan ketokohan para ulama yang simpati dan menarik, tidak jarang memikat hati masyarakat. Sebagian mereka ada yang ingin menikahkan putrinya mereka dengan sang ulama. Akibatnya terjadilah interaksi genetis yang akan melahirkan generasi penerus perjuangan. Bahkan melalui pekawinan itulah, agama Islam dapat mudah berkembang dan diterima oleh masyarakat dengan senang hati.
Setelah sempat mengalami kejayaan dengan berdirinya beberapa kerajaan Islam di Indonesia, agama Islam terus mengalami pasang surut di kalangan umatnya, seiring dengan keterpurukan umat Islam di wilayah ini sedang berjuang merebut kemerdekaan bangsanya.
Untuk dapat melihat perkembangan Islam di Indonesia, tentu dapat disaksikan dari peran aktif umat Islam bangsa ini dalam mengembangkan agama dan memajukan bangsanya. Setelah agama Islam menyebar ditengah masyarakat Indonesia, umat Islam di negeri ini mengambil peranan penting dalam upaya meraih kemerdekaan bangsa dan negaranya. Umat Islam dari Sabang sampai Merauke bahu-membahu dan bersatu padu dalam melakukan perjuangan merebut kemerdekaan.
Setelah kemerdekaan bangsa diraih berkat rahmat Allah SWT, dan kerja keras para pejuang, umat Islam dan para ulama senantiasa mengawal setiap program yang dicanagkan oleh pemerintah. Usaha untuk mempertahankan aqidah Islam bangsa ini juga terus dilakukan oleh para ulama, sehingga agama Islam tetap berkembang dari waktu ke waktu.
Perkembangan Islam di Indonesia juga dapat dilihat dari banyaknya organisasi kemasyarakatn (Ormas), bahkan organisasi sosial politik (Orsospol), organisasi profesi, dan sebagainya yang berasaskan Islam atau berlabel Islam. Pada siding MPR tahun 1999 para anggota majelis sepakat melakukan amandemen terhadap UUD 1945, dan umat Islam berkeinginan untuk memasukkan salah satu butir dari piagam Jakarta yang intinya mengharuskan umat Islam bangsa ini menjalankan syariat Islam. Namun upaya itu gagal demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, mengingat penduduk negeri ini tidak semuanya memeluk agama Islam.
Islam di Indonesia juga terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Berbagai organisasi Islam bermunculan, baik yang berskala lokal, regional, nasional bahkan internasional. Organisasi-organisasi itu semu bernapaskan dakwah Islam, yakni menjungjung aqidah tauhid dan amar ma’ruf nahi mungkar.[7]

C.    Peristiwa-Peristiwa Penting dan Tokoh-Tokoh yang Berprestasi dalam Perkembangan Islam di Indonesia
1.      Peristiwa dakwah Islam di pulau sumatera dan tokoh-tokohnya
a.       Peristiwa pembentukan kerajaan Islam samudra pasai
Kerajaan  samudra  pasai merupakan kerajaan Islam pertama yang pernah ada di Indonesia. Sebab wilayah itu merupakan wilayah pertama yang di masuki agama Islam di Indonesia. Samudra pasai semula adalah nama sebuah kampung di tepi sungai pasai. Setelah menjadi kerajan, kampung itu berubah nama menjadi samudra pasai. Raja samudra pasai yang pertama masuk Islam adalah Merah Silau berganti nama menjadi Sultan Malikus Salih (w. 698 H/1292 M). Setelah rajanya masuk Islam, seluruh penduduk pasai akhirnya dapat diIslamkan.
Sepeninggal Sultan Malikus Salih, Samudra pasai di perintah oleh beberapa orang raja, seperti Al Malikuz Zahir I (w. 1297 M), Al Malikuz Zahir II (1326-1340 M), Zainal Abidin (w. 1350 M) Iskandar (w. 1412 M). raja samudra pasai yang paling berjasa dalam penyebaran Islam adalah Al Malikuz Zahir II. Sultan inilah yang di temui oleh ibn bathutah, seorang pengembara perkembangan arab. Menurut ibnu bathutah dalam buku catatan perjalananya, Sultan pasai sangat mencintai Agama dan memahami ilmu-ilmunya secara mendalam, beliau bermadzhab Syafi’I dan menguasai benar Madzhab itu.[8]
b.      Peristiwa pembentukan Kerajaan Aceh Darussalam
Setelah Malaka dapat dikuasai oleh Portugis, banyak saudagar yang mengungsi ke Aceh. Raja Aceh yang pertama adalah Sultan Ali Mughayat Syah (1507-1522 M). sultan dapat menyatukan seluruh Wilayah Aceh yang dulu di kuasai oleh kerajaan samudra pasai. Sepeninggal Sultan Ali Mughayat Syah, kerajaan aceh Darussalam di pimpin oleh raja-raja penerusnya, tetapi yang paling berhasil membawa Kerajaan Aceh ke puncak ke jayaan adalah Iskandar Muda (1607-1636 M). pada masa kepemimpinanya, Aceh mengalami zaman keemasaan dan bangsa aceh menjadi subur makmur.[9]
c.       Peristiwa  pembentukan Kerajaan Islam Palembang
Sultan Badaruddin di turunkan dari takhtanya oleh Portugis, dan mengangkat Sultan Najamuddin sebagai raja Islam Palembang. Namun ketika Belanda kembali. Najamuddin di paksa diturunkan dari takhtanya, tapi sultan menolak dan meminta bantuan Portugis tapi belanda dapat menaklukan pasukanya, sehingga Najamuddin tertangkap dan di buang ke Cianjur Jawa Barat, ahirnya Sultan Badaruddin pun naik takhta kembali atas dukungan Belanda. Meskipun Hati Sultan tetap menantang Belanda.
Pada tahun 1821 M. Belanda kembali menyerang Palembang di bawah pimpinan Jendral  De Kock, peperangan sengitpun terjadi, dan akhirnya palembangpun jatuh ke tangan Belanda. Empat tahun kemudian, yaitu tahun 1825, kesultanan Palembang resmi di bubarkan oleh belanda.
Adapun tokoh-tokohnya agama dan ilmuan yang menonjol dan berprestasi yang cukup besar peranya dalam perkembangan agama Islam. Mereka itu antara lain sebagai berikut.[10]
1.      Syaikh Nuruddin Ar-Raniry (w. 1086 H/ 1658 M).
2.      Abdurrauf As-singkil (1024-1105 H / 1615-1730 M).
3.      Hamza Fansyuri
4.      Syamsudin As-Sumantrani.

2.      Peristiwa dakwaah Islam di pulau  jawa dan tokoh-tokohnya
a.       Peristiwa Pembentukan Kerajaan Islam Demak
Kerajaan Islam demak merupakan Kerajaan Islam pertama dipulau Jawa, yang kemudian menyusul beberapa kerajaan-kerajaan Islam lainya. Kerajaan Demak didirikan pada tahun 1478 M, hal itu di dasarkan pada runtuhnya kerajaan Majapahit yang di beri tanda Candra Sengkala, sirna hilang bertaning bumi, yang menunjuk pada tahun saka 1400 atau 1478 M. Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fatah, yang pada mulanya ia seorang Mubaligh yang menyebarkan agama Islam di tanah jawa.[11]
b.      Pembentukan kerajaan Islam Mataram
Mataram sebelumnya adalah suatu daerah kabupaten dari kerajaan Islam pajang pimpinan Sultan Hadiwijaya. Bupatinya di pegang oleh Sutowijoyo. Pada tahun 1582 M Sutowijoyo memberontak, dan kesultanan pajang pun di tumbangkan, dan berdirilah kerajaan  Islam mataram dengan raja pertamanya sutawijaya. Sepeninggal sutawijaya, kerajaan Mataram dipimpin oleh generasi penerusnya, antara lain raden mas jalang, sultan agung, amangkhurat I, Amangkurat II, Amangkurat III, pakubuana I, Prabu mangkurat jawa, pakubuana II, dan pakubuana III.
c.       Peristiwa pembentukan kerajaan Islam Banten 
Setelah fatahilah atau sunan gunung jati dapat menaklukkan Sunda kelapa dari Portugis, dakwah Islam diarahkan  diwilayah banten yang kala itu sedang di bawah kekuasaan Hindu Pajajaran. Atas  bantuan dari kerajaan Demak, pasukan Fatahilah yang dipimpin putranya yang bernama Hasanudin dapat menguasai wilayah banten. Seiring dengan usianya yang semakin menua, Fatahilah yang menyerahkan kepemimpinan atas Banten kepada  putra tertuanya Hasanudin, dan menyerahkan Cirebon pada putra keduanya pangeran pasarean. Dengan demikian, resmilah Hasanudin sebagai Raja Banten pertama. Pada tahun 1570 M. Hasanuddin wafat dan digantikan oleh putranya  pangeran Yusuf.  Pada saat itu, di Jawa Barat masih berdiri kerajaan Pejajaran Hindu yang dipimpin oleh Prabu Sedah (raja pajajaran terakhir).  Pangeran Yusuf menyerang markas istana Prabu Sedah, dan membuat sang Prabu menyerah. Sejak saat itulah kerajaan pajajaran musnah di Jawa Barat.
Sepeninggal pangeran Yusuf, Banten dipimpin oleh generasi penerusnya, tetapi yang paling terkenal dan banyak berjasa menyebarkan Islam adalah Sultan Ageng Tirtayasa. Di bawah kepemimpinanya, banten mengalami zaman keemasan, disegani kawan dan lawan, dan di kenal oleh mancanegara.
Adapun tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam di daerah jawa adalah Walisongo. Beliau-Beliau telah Merubah kepercayan masyarakat pulau jawa pada waktu itu, dari anamisme-anamisme, Hindu dan Budha Menjadi kepercayaan Tauhid yang Mengesakan Allah SWT.[12] Adapun nama-nama walisongo tersebut adalah:[13]
a)      Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim berasal dari Persia, beliau dating ke tanah jawa pada tahun 1399 M, dan wafat pada tahun 1419 M. Beliau tinggal di tanah jawa selama 20 tahun, dan selama itu pula beliau senantiasa gigih berdakwah menyiarkan agama islam. Dakwah beliau bersifat menyeluruh, dari masyarakatbias ke kalangan bangsawan.
Dalam menjalankan dakwahnya, Maulana Malik Ibrahim menggunakan sistem pondok. System inilah yang kemudian banyak digunakan oleh para ulama lain, dan kini di namakan pondok pesantren.

b)      Sunan Ampel
Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Beliau berasal dari campa, Aceh. Datang ke tanah Jawa pada tahun 1431 M dengan maksud untuk melakukan dakwah Islam, melanjutkan usaha dakwah islam yang telah di rintis oleh Maulana Malik Ibrahim.
Sunan Ampel memiliki kemampuan berdakwah yang tinggi, dan sangat memahami kondisi sosial masyarakat, sehingga dalam waktu singkat, namanya telah banyak dikenal orang. Beliau melakukan dakwah dengan cara-cara bijaksana, baik dalam meluruskan tauhid dan keimanan masyarakat maupun ahlak dan moral mereka.
c)      Sunan Bonang
Sunan Boning mempunyai nama kecilonya adalah Makhdum Ibrahim. Lahir pada tahun 1465 M dari pasangan Raden Rahmat atau Sunan Ampel dengan nyi Ageng Manila.  Sebagaimana ayahnya, Sunan Bonag juga mempunyai kemampuan memimpin dan berdakwah yang hebat, sehingga dapat memikat hati masyarakat. Beliau mencurahkan kebidang seni budaya, khususnya sastra. Banyak lagu-lagu dang ending jawa yang digubahnya menjadi syair-syair Islam yang menarik. Beliau juga banyak menulis cerita rakyat yang berisi tentang budi pekerti dan ajaran agama.
d)     Sunan Drajat
Nama Asli Sunan Drajat adalah Raden Qosim, yang merupakan Adik kandung dari Sunan Bonang putra Sunan Ampel. Dua Bersaudara itu sama-sama menempuh jalur Dakwah, tapi dengan metode yang berbeda. Jika Sunan Bonang menggunakan Seni Budaya sebagai metode pendekatan dakwahnya,sedangkan Sunan Drajat menjadikan bidang social ekonomi sebagai strategi dakwahnya.
e)      Sunan Giri
Nama Aslinya Raden Aenul Yakin, Beliau putra Maulana Ishak. Sunan Giri mencurahkan perhatianya dalam berdakwah pada bidang pendidikanAgama Islam. Dalam padepokan atau pondok yang di dirikanya di GIri, suatu daerah yang dekat gersik, jawa timur. Beliau bertindak sebagai Guru, ulama, dan pemimpin masyarakat. Gaya kepemimpinannya yang simpatik, membuat beliau disamakan kedudukannya dengan raja dan bergelar Sultan Abdul Faqih.
f)       Sunan Kalijaga
Nama kecil beliau adalah Raden Muhamad Syahid, putra Adipati Ario adipati kerajaan Majapahit untuk daerah Tuban. Sunan Kalijaga terkenal sebagai Mubalg besar, terutama di Kerajaan Demak. Selain sebagai ulama dan mubalig, beliau juga di kenal sebagai politikus dan negarawan terkemuka di zamanya, ahli dalam strategi perang dan siasat. Kemampuanya itu di gunakan untuk kepentngan Dakwah islam di kalangan kaum elit dan bangsawan, adapun untuk berdakwah di kalangan masyarakat biasa menggunakan pendekatan Seni budaya, khususnya seni Pewayangan.
g)      Sunan Kudus
Sunan Kudus di kenal dengan nama Ja’far Shadiq, dan nama aslinya adalah Raden Amir Haji. Sunan Kudus pernah menjadi panglima perang kerajaan demak. Namun karena tuntutan dakwah, sehingga setelah selesai dari dinas kemiliteran Kerajaan Demak, beliau segera memutuskan untuk berdakwah. Sunan Kudus memusatkan perhatian dakwahnya kepada tegaknya hukum-hukum islam di masyarakat, baik hukum  ibadah, mu’amalah maupun yang lainya.


h)      Sunan Muria
Nama kecilNya  adalah Raden Umar Said. Ia adalah putra Raden Muhamad Syahid atau Sunan Kalijaga. Dalam dakwahNya, Beliau memusatkan pada Tasawuf dan kezuhudan., menjahui kemewahan dunia dan berlimpahnya harta benda. Meskipun anak seorang raja dan keluarga bangsawan, beliau memilih tinggal ditempat yang sunyi, jauh dari keramaian manusia, tepatnya di lereng bukit Muria. Beliau mengajarkan Ilmu tasawuf kepada murid-muridnya untuk kemudian mereka ajarkan kepada masyarakat luas.
i)        Sunan Gunung jati
Nama Asli Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah. Selain sebagai ulama dan mubalig terkenal, Beliau juga di kenal sebagai Negarawan yang Bijak, panglima perang Kerajaan Demak yang gagah berani, yang di segani kawan dan lawan. Keberanianyanya menaklukan portugis hengkang dari bumi Batavia pada tahun 1527 M, Membuat Sunan Gunung jati semkain tersohor bahkan Beliau mampu mendirikan dua kesultanan sekaligus yaitu, Cirebon dan Banten sebagai Kerajaan Islam. Meskipun Sunan Gunung Jati banyak berkarir di kemileteren dan politik Negara, namun tuntutan dakwah selalu mengundangnya untuk segera dilakukan. Menjelang usia senjanya, Beliau melepaskan segala jabatan dunia, dan menyerahkannya kepada kedua putranya, untuk kemudian bergerak dibidang dakwah Islam.
3.      Peristiwa dakwah Islam di luar Pulau Sumatra dan Jawa serta tokoh-tokohnya
a.       Peristiwa pembentukan Kerajaan sukadana
Di Kalimantan Barat juga berdiri kerajaan Islam bernama kerajaan Islam sukadana. Menurut sejarah, Islam masuk ke sukadana melalui jasa seseorang mubaligh kebangsaan Arab bernama Syaikh Syamsudin. Syaikh itu datang dan menghadap Raja Sukadana   dan memberikan hadiah Al-Qur’an dan batu cincin akik dan yamani. Sang raja terharu dengan hadiah syaikh, dan menyatakan diri masuk Islam. Setelah masuk Islam namanya diganti menjadi Sultan Muhamad Shafiyudin (w.1677 M)
b.      Peristiwa Pembentukan Kerajaan Islam Gowa Makasar
Daerah Kerajaan Gowa Makasar hampir mencakup seluruh wilayah Sulawesi dan Kutai (Kalimantan), bahkan meliputi pulau Sumbawa dan Buton. Di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa Makasar  mengalami zaman keemasan. Beberapa kerajaan yang berada di Pulau Sulawesi hampir semuanya dapat di taklukan. Misalnya kerajaan Bone yang dipimpin oleh raja-raja Bugis. Bone dapat ditaklukkan  oleh Makasar, dan Rajanya bernama Aru Palaka di usir dan di asingkan ke luar Negri.
c.       Peristiwa Pembentukan Kerajaan Islam Ternate
Raja Ternate yang pertama masuk Islam adalah Mahrum. Sepeninggalanya di gantikan oleh putranya bernama Zainal Abidin. Pada tahun 1459 M,  Sultan Zainal Abidin menyerahkan kekuasaan sementara kepada seseorang kepada keluarganya, dan ia pergi merantau ke tanah jawa untuk menuntut ilmu di pesantrenya Sunan Giri, kemudian ke Gersik, lalu ke Aceh untuk menemui Sultan Aceh yang kala itu di pimpin oleh  Sultan Alaudin Ri’ayat Syah. Sepulangnya dari menuntut ilmu, Sultan Zainal Abidin segera memerintah di Ternate. Sehingga kerajaan Islam Ternate mengalami zaman keemasaan. Banyak daerah yang dapat diIslamkanya, seperti wilayah sulu, Mindanau, dan sebagainya.[14]

D.    Pengaruh Islam terhadap Peradaban Bangsa Indonesia
Islam datang ke Indonesia tidak hanya mempengaruhi keyakinan masyarakat pribumi, melainkan juga berpengaruh terhadap kebudayaannya. Penerimaan Islam di Indonesia sangat berkaitan dengan corak Islam sufistik yang berkembang sehingga mudah diterima karena sesuai dengan kebudayaan lokal yang ada. Dari ciri sufistik tersebut, maka Islam disambut baik dan dapat diintegrasikan kedalam pola sosial, budaya, dan politik yang sudah ada.[15]
Pengaruh islam terhadap kebudayaan dan peradaban bangsa Indonesia dan perkembanganya itu anatara lain sebagai berikut.[16]
1.      Pengaruh dalam seni bangunan; diantaranya masjid, makam, dan keratin.
2.      Seni rupa
3.      Seni sastra; diantaranya hikayat, babad, dan suluk.
4.      Seni pertunjukan; diantaranya seni tari, seni gamelan dan seni wayang.

E.     Mengambil Ibrah dari Peristiwa Perkembangan Islam di Indonesia
Mempelajari sejarah perkembangan Islam di Indonesia, tentu merupakan sesuatu yang menarik dan mengandung banyak ibrah. Diantara ibrah yang dapat diambil dari mempelajari sejarah perkembangan Islam di Indonesia, ialah sebagai berikut.
1.      Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang sejarah perjuangan kaum muslim dalam mengembangkan agama Islam di bumi nusantara.
2.      Dapat meneladani semangat juang dan pengorbanan kaum muslimin terdahulu dalam rangka menyebarkan agama Islam dan membela bangsa dan negara.
3.      Meneladani kecintaan kaum muslimin terdahulu pada ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum.
4.      Menaladani kesuksesan dan menjadikan pelajaran atas kegagalan mereka.[17]



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Para ahli sejarah mengambil kesimpulan sementara, bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kali pada abad ke-1 H/VII Masehi langsung dari tanah Arab. Daerah yang pertama kali menerima ajaran Islam adalah pesisir Sumatra. Dalam proses Islamisasi berikutnya, bangsa pribumi Indonesia juga turut aktif menyebarkan agama Islam, dilakukan dengan cara damai.
Para ahli sejarah mengatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan berbagai cara dan cirinya tersendiri yang membedakannya dengan negara-negara lain, yaitu Islam berkembang secara natural, secara kultural, secara persuasif, dan secara genetis.
Adapun peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam di Indonesia adalah sebagai berikut.
1.      Peristiwa dakwah Islam di pulau sumatera dan tokoh-tokohnya yaitu:
a.       Pembentukan kerajaan Islam samudra pasai, tokohnya adalah Syaikh Ismail, Sultan Malikus Shalih, Al-Maliks Zahir I, Zainal Abidin, Iskandar, dan Al-Maliks Zahir II.
b.      Pembentukan kerajaan Aceh Darussalam, tokohnya adalah Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan Iskandar Muda, dan Sulthanah Shafiyatudin.
c.       Pembentukan kerajaan Islam Palembang, tokohnya adalah Syaikh Nuruddin Ar-Raniry, Abdurrauf As-singkil, Hamza Fansyuri, dan Syamsudin As-Sumantrani.
2.      Peristiwa dakwah Islam di pulau Jawa dan tokoh-tokohnya yaitu:
a.       Pembentukan kerajaan Islam Demak, tokohnya yaitu Raden Fatah.
b.      Pembentukan kerajaan Islam Pajang, tokohnya yaitu Sultan Adi Wijaya.
c.       Pembentukan kerajaan Islam Mataram, tokohnya yaitu  I Raden Mas Jalang, Sultan Agung, Amangkhurat I, Amangkurat II, Amangkurat III, Pakubuana I, Prabu Mangkurat Jawa, Pakubuana II, dan Pakubuana III.
d.      Pembentukan kerajaan Islam Banten, tokohnya yaitu Wali Songo.
3.      Peristiwa dakwah Islam di luar pulau Sumatra dan pulau Jawa beserta tokoh-tokohnya yaitu:
a.       Pembentukan kerajaan Islam Sukadana, tokohnya adalah Syaikh Syamsudin.
b.      Pembentukan kerajaan Islam Gowa Makassar tokohnya adalah Sultan Hasanuddin.
c.       Pembentukan kerajaan Islam Ternane tokohnya adalah Mahrum, Sultan zainal Abidin, dan Syekh yusuf Al-Makassari.
Islam datang ke Indonesia juga berpengaruh terhadap kebudayaannya. Pengaruh islam terhadap kebudayaan dan peradaban bangsa Indonesia dan perkembanganya itu anataranya pengaruh dalam seni bangunan, seni rupa, seni sastra, dan seni pertunjukan. Dari semuanya itu, kita dabat mengambil Ibrah yang begitu banyak.



DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Muhammad. 2011. Sejarah Kebudayaan Islam, Surabaya: Bintang Ilmu.
Rosady, Eddiy. 2005. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Inti Media Cipta Nusantara.
Wahid, Sy. 2009. Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah. Bandung: CV Amico.



[1] Eddy Rosady, Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Inti Media Cipta Nusantara, 2005, Hlm. 62.
[2] Ibid., Eddy Rosady, Hlm. 63
[3] Wahid Sy, Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah, Bandung: CV Amico, 2009, Hlm. 100.
[4] Eddy Rosady, Op.Cit., Hlm. 63.
[5] Wahid Sy, Op.Cit., Hlm. 100.
[6] Ibid., Hlm. 100-102.
[7] Ibid., Wahid Sy, Hlm. 102-103.
[8] Ibid., Hlm. 104-105.
[9] Ibid., Hlm. 105-106.
[10] Ibid., Hlm. 106-107.
[11] Ibid., Hlm. 108.
[12] Ibid., Hlm. 110-111.
[13] Ibid., Hlm. 111-113.
[14] Ibid., Hlm. 113-114.
[15] Muhammad Arifin, Sejarah Kebudayaan Islam, Surabaya: Bintang Ilmu, 2011, Hlm. 178.
[16] Eddy Rosady, Op.Cit., Hlm. 74.
[17] Wahid Sy, Op.Cit., Hlm. 115-116

Tidak ada komentar:

Posting Komentar