Rabu, 03 Juni 2020

PERKEMBANGAN MASA KANAK-KANAK


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Perkembangan masa kanak-kanak.
1.         Motorik
Motorik ialah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan gerakan-gerakan tubuh. Dalam perkembangan motoris, unsure-unsur yang menentukan ialah otot, saraf, dan otak. Ketiga unsur itu melaksanakan masing-masing peranannya secara “interaksi positif”, artinya unsur-unsur yang satu saling berkaitan, saling menunjang, saling melengkapi dengan unsur yang lainnya untuk mencapai kondisi motoris yang lebih sempurna keadaannya.
Motorik anak-anak jauh berbeda dengan motorik yang dimiliki orang dewasa. Perbedaan itu dapat kita lihat dalam 3 hal, yaitu :
a.         Cara memegang
Ada perbedaan antara orang dewasa memegang benda/ perkakas dengan cara anak memegang perkakas. Pada orang dewasa, perkakas dipegang dengan cara khas agar ia dapat mempergunakannya secara optimal. Sedangkan anak asal memegang saja.
b.         Cara berjalan
Perhatikan orang dewasa berjalan; mereka hanya menggunakan otot-ototnya yang perlu saja. Sedangkan anak-anak berjalan seolah-olah seluruh tubuhnya ikut bergerak-gerak.
c.         Cara menyepak
Perhatikan anak-anak menyepak bola; kedua belah tangannya mengaju ke depan dengan berlebih-lebihan.[1]
Ada gerakan yang merupakan akibat dari kemauan, ada gerakan yang terjadi  diluar kemauan, ada gerakan yang terjadi diluar kemampuan dan biasanya kurang disadari karena ia berjalan otomatis karena banyak gerakan yang dilakukan anak-anak agar lebih mudah mengenali gerakannya, kita bagi gerakan-gerakan itu kedalam tiga golongan seperti berikut :
a.         Motorik statis
Gerakan tubuh sebagai upanya untuk memperoleh keseimbangan, misalnya keserasian gerakan tangan dan kaki pada waktu kita sedang berjalan.
b.         Motorik ketangkasan
Gerakan untuk melaksanakan tindakan yang berwujud ketangkasan dan keterampilan, misalnya gerak melempar, menangkap dan sebagainya.
c.         Motorik penguasaan
Gerakan untuk mengendalikan otot-otot, roman muka dan sebagainya.
Perkembangan motorik bagi perkembangan kepribadian anak pada umumnya. Ketika anak itu masih bayi, ia belajar mengenal benda-benda yang dapat dijangkaunya dengan melalui mulutnya. Setelah ia pandai berjalan makin luas ruang yang dapat dikuasainya, semakin banyak hal yang harus dikenalnya.
Anak yang berusia dua atau tiga tahun itu tidak puas dengan hanya melihat-lihat atau meraba-raba benda saja. Anak itu makin bertambah kemampuannya. Setiap hari sejak mulai bangun sampai tidur, kelihatannya ia selalu sibuk mengerjakan sesuatu atau melakukan percobaan sehingga orang mengatakan masa ini sebagai masa pencoba.

2.         Pengamatan dan Fantasi
Kegiatan yang menggunakan alat-alat indera seperti perbuatan melihat, mendengar, mencium, mengecap dan meraba disebut mengamati.  Bagaimana terjadi proses pengamatan pada umumnya ? Bermacam-macam perangsang datang dari luar melalui alat indera. Di dalam alat indera, perangsang diubah menjadi perangsang sensoris (sensus = alat indera). Gambaran penginderaan dikirim (melalui saraf sensoris) menuju ke pusat saraf dalam otak. Di dalam otak, gambaran penginderaan itu diolah di bagian pusat pengamat, maka terjadilah gambaran pengamatan. 
Kesanggupan jiwa membentuk tanggapan yang baru dengan pertolongan tanggapan yang telah ada, dinamakan berfantasi. Anak-anak sangat luas dan leluasa fantasinya, artinya dapat membuat gambaran khayal yang baik dan luar biasa sehingga orang dewasa menganggapnya mustahil, misalnya sapu dan tongkat diciptakan menjadi kuda-kudaan, kursi dibalikan menjadi kereta kuda dan sebagainya.[2]
Charlotte Buhler telah meneliti tentang dongeng dan fantasi anak-anak yang dirangkumnya sebagai berikut :
a.         Masa pertama: usia sampai 4 tahun
Masa ini disebut masa “Struwelpeter”. Dalam masa ini anak-anak gemar mendengarkan cerita tentang anak yang nakal, anak berkuku panjang dan anak kotor, anak berambut gondrong, dan sebagainya.
b.         Masa kedua: usia 4-8 tahun
Dalam masa ini anak-anak suka sekali mendengarkan cerita tentang kehidupan. Sebagai contoh : Timun Mas, Cinderella, Bawang Putih dan sebagainya, mereka dengarkan berulang-ulang dengan tidak bosan-bosannya sampai mereka ingat benar susunan kata-katanya maupun jalan ceritanya.
c.         Masa ketiga: usia 8-12 tahun
Masa ini akan dikemukakan lebih lanjut nanti dalam masa anak sekolah.[3]

3.         Perkembangan Bahasa
Bahasa dalam artian yang sempit berarti: pemisahan di antara obyek dan subyek; yaitu yang kesadaran pada Aku sebagai subyek yang berdiri berhadapan dengan obyek (benda, dan orang lain). Di dalam bahasa itu penting sekali arti kesadaran-nama; yaitu bahwa setiap “bunyi-bunyi” akan selalu menunjuk pada satu obyek tertentu: peristiwa, person, benda dan abstraksi tertentu.
Tangis bayi dan anak juga merupakan bentuk bahasa; yaitu bahasa yang pertama-tama dipakai untuk menyampaikan isi kehidupan batiniahnya. Dengan bertambahnya umur anak, bahasanya makin berkembang pula. Antara lain juga dengan menggunakan onama toppe ; yaitu berikan nama benda-benda/ hewan, dengan menyebutkan bunyinya (onama = nama; poiein = membuat, menirukan bunyi). Umpama saja, anak memberikan nama “tut-tut” pada kereta api; “ngak-ngak” untuk angsa; “tik-tik” untuk menyebutkan lonceng, “meong” untuk menyebutkan kucing; “uk-uk” untuk menyebutkan ayam jantan, dan lain-lain. Selanjutnya secara berangsur-angsur anak akan memahami, bahwa bahasa merupakan symbol dari benda dan pengertian tertentu.
Penguasaan bahasa anak akan berkembang menurut hukum alami; yaitu mengikuti bakat, kodrat, dan ritme perkembangan yang alami. Namun perkembangan tadi sangat dipengaruhi lingkungan atau oleh stimuli ekstern  (pengaruh lingkungan). Di samping itu bahasa anak terpadu erat dengan alam penghayatannya, terutama sekali dengan emosi/ perasaannya. Hal ini jelas terungkap dalam lagu, irama, dan suara anak sewaktu ia mengucapkan kata-kata dan kalimat.[4]

4.         Perkembangan Sikap Sosial.
Hal yang terpenting dalam perkembangan anak antara umur tiga sampai enam tahun ialah perkembangan sikap sosial secara umum adalah hubungan antara manusia dengan manusia yang lain, saling kebergantungan dengan manusia lain dalam berbagai kehidupan bermasyarakat.
Di kalangan anak yang lain yang tampak menonjol adalah sikap simpatinya. Anak mulai memahami kepada siapa ia harus menaruh simpati, dan kepada siapa ia bersikap tidak simpati.[5]

B.       Peran Orang tua dalam Pendidikan ditinjau dari Psikologis
1.         Lingkungan Keluarga
Orang tua atau keluarga adalah lembaga sosial resmi yang terbentuk setelah adanya suatu perkawinan. Pendidikan dalam keluarga di dasarkan atas prinsip cinta dan kasih sayang. Karena dengan inilah yang akan menjadi kekuatan untuk mendorong orang tua agar tidak bosan membimbing dan memberikan pertolongan yang di butuhkan anaknya. Oleh karenanya keluarga disebut sebagai primary community  yaitu sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. (Alisuf Sabri, 1999:14-15).
Orang tua atau keluarga adalah institusi yang sangat berperan dalam rangka melakukan sosialisasi, bahkan internalisasi, nilai-nilai pendidikan. Meskipun jumlah institusi pendidikan formal dari tingkat dasar sampai ke jenjang yang paling tinggi semakin hari semakin banyak, namun peran keluarga dalam transformasi nilai edukatif ini tetap tidak tergantikan. keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama. Keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.
Karena itulah, peran keluarga dalam hal ini begitu berarti. Bahkan bisa dikatakan bahwa tanpa keluarga, nilai-nilai pengetahuan yang didapatkan di pendidikan formal tidak akan ada artinya sama sekali. Sekilas memang tampak bahwa peran keluarga tidak begitu ada artinya, namun jika direnungkan lebih dalam, siapa saja akan bisa merasakan betapa berat peran yang disandang keluarga. Hal yang nyata adalah sebagian besar anak jalanan yang mengenyam pendidikan hanya mendapatkan pendidikan secara formal tanpa memahami esensi dari pendidikan itu sendiri, hingga akhirnya tidak terlihat kesopanan, estetika dari anak-anak tersebut, karena orang tua tidak memberikan edukasi yang cukup.
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama, karena dalam keluarga inilah anak memperoleh pendidikan dan bimbingan. Oleh karena itu lingkungan keluarga bertanggung jawab terhadap pembentukan waktu dan pertumbuhan jasmani anak.
Dalam lembaga keluarga peranan keluarga terdapat dalam undang-undang Sisdiknas, adapun tugas dan tanggung jawab keluarga di Indonesia dalam pendidikan dapat di rumuskan dengan menanamkan jiwa agama atau nilai-nilai ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, menanamkan nilai-nilai pancasila dan nilai budaya yang cocok untuk pembangunan nasional.
Membiasakan dan menanamkan akhlak yang terpuji, menampilkan keterampilan-keterapilan dalam hidup sehari-hari, mengembangkan kepribadian yang teguh, memperhatikan dan mengembangkan bakat serta memupuk minat dan bakat. Adapun hak dan kewajiban orang tua sudah diatur dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003, pasal 7 ayat 1 dan 2.[6]
2.         Lingkungan Masyarakat
Masyarakat adalah sekumpulan orang atau sekelompok manusia yang hidup bersama di suatu wilayah dengan cara berpikir dan bertindak yang relatif sama sehingga membuat warga masyarakat itu menyadari diri mereka sebagai suatu kelompok.
Saat ini masyarakat berperan sebagai fasilitator dalam menunjang pelaksanaan pendidikan nasional, ikut serta dalam menyelenggarakan pendidikan swasta, membantu pengadaan tenaga, saran dan prasarana serta membantu mengembangkan profesi baik secara  langsung  maupun tidak langsung.
Secara psikologis masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan, hal ini dapat diketahui dari masyarakat itu sendiri yang merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin dapat hidup tanpa orang lain.
Secara konseptual tanggung jawab masyarakat, antara lain: mengawasi jalannya nilai sosio budaya, menyalurkan aspirasi masyarakat, membina dan meningkatkan kualitas keluarga. Hak dan kewajiban masyarakat juga sudah diatur dalam Undang-undang Nomor 20  tahun 2003, pasal 8 dan 9 tentang sistem pendidikan Nasional.
3.      Lingkungan Sekolah
Mengingat perkembangan anak yang amat pesat pada usia sekolah, dan mengingat bahwa lingkungan keluarga sekarang tidak lagi mampu memberikan seluruh fasilitas untuk mengembangkan fungsi-fungsi anak terutama fungsi intelektual dalam mengejar kemampuan zaman modern maka anak memerlukan satu lingkungan sekolah yang baru yang lebih luas; berupa sekolahan, untuk mengembangkan semua potensinya.
Dari lingkungan keluarga yang sempit, anak sekarang memasuki lingkungan sekolah yang lebih luas, yang mempunyai kondisi dan situasi berbeda sekali dengan keluarga. Di sekolah ini hasil-hasil kebudayaan bangsa dan zamannya akan ditransformasikan ataupun ditransmisikan pada anak. Dengan pengoperan hasil budaya tadi, di harapkan anak bisa mempelajari produk-produk kultur bangsanya, untuk kemudian mampu bertingkah laku sesuai dengan norma-norma etis dan norma sosial lingkungan sekolah.[7]  

C.       Pendidikan Agama Islam Utama Dalam Keluarga
Keluarga merupakan bagian dari sebuah masyarakat. Unsur-unsur yang ada dalam sebuah keluarga baik budaya, mazhab, ekonomi bahkan jumlah anggota keluarga sangat mempengaruhi perlakuan dan pemikiran anak khususnya ayah dan ibu. Pengaruh keluarga dalam pendidikan anak sangat besar dalam berbagai macam sisi. Keluargalah yang menyiapkan potensi pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak. Lebih jelasnya, kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan tingkah laku kedua orang tua serta lingkungannya.
Kedua orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan kepribadian anak. Islam menawarkan metode-metode yang banyak di bawah rubrik aqidah atau keyakinan, norma atau akhlak serta fikih sebagai dasar dan prinsip serta cara untuk mendidik anak. Dan awal mula pelaksanaannya bisa dilakukan dalam keluarga. Sekaitan dengan pendidikan, Islam menyuguhkan aturan-aturan di antaranya pada masa pra kelahiran  yang mencakup cara memilih pasangan hidup dan adab berhubungan seks sampai masa pasca kelahiran yang mencakup pembacaan azan dan iqamat pada telinga bayi yang  baru lahir, tahnik (meletakkan buah kurma pada langit-langit bayi, mendoakan bayi, memberikan nama yang bagus buat bayi, aqiqah (menyembelih kambing dan dibagikan kepada fakir miskin), khitan dan mencukur rambut bayi dan memberikan sedekah seharga emas atau perak yang ditimbang dengan berat rambut. Pelaksanaan amalan-amalan ini sangat berpengaruh pada jiwa anak.[8] 
Seorang pria dan wanita yang berjanji dihadapan Allah SWT untuk hidup sebagai suami istri berarti bersedia untuk memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibu anak-anak yang bakal dilahirkan. Ini berarti bahwa pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan siap sedia untuk menjadi orang tua dan salah satu kewajiban, hak orang tua tidak dapat dipindahkan adalah mendidik anak-anaknya. Sebab seorang anak merupakan amanah dan perhiasan yang wajib dijaga dengan sebaik-baiknya. Apabila tidak dijaga akan menyebabkan kualitas anak tidak terjamin, sehingga dapat membahayakan masa depannya kelak. Orang tua harus dapat meningkatkan kualitas anak dengan menanamkan nilai-nilai yang baik dan ahlak yang mulia disertai dengan ilmu pengetahuan agar dapat tumbuh manusia yang mengetahui kewajiban dan hak-haknya. Jadi, tugas orang tua tidak hanya sekadar menjadi perantara adanya makhluk baru dengan kelahiran, tetapi juga mendidik dan memeliharanya.
Nasikh Ulwan dalam bukunya ”Tarbiyah Al-Aulad Fi-Al Islam,” sebagaimana dikutif oleh Heri Noer Aly, merincikan bidang-bidang pendidikan anak sebagai berikut:
  1. Pendidikan Keimanan, antara lain dapat dilakukan dengan menanamkan tauhid kepada Allah dan kecintaannya kepada Rasul-Nya.
  2. Pendidikan Akhlak, antara lain dapat dilakukan dengan menanamkan dan membiasakan kepada anak-anak sifat terpuji serta menghindarkannya dari sifat-sifat tercela.
  3. Pendidikan Jasmaniah, dilakukan dengan memperhatikan gizi anak dan mengajarkanya cara-cara hidup sehat.
  4. Pendidikan Intelektual, dengan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak dan memberi kesempatan untuk menuntut mencapai tujuan pendidikan anak. (Aly, 1999 : 182).
Orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi hak pendidikan atas anaknya. Dengan pendidikan, anak akan dapat mengembangkan potensi-potensi dan bakat yang ada pada dirinya. Sehingga ia akan menjadi generasi-generasi yang kuat, kuat dari faktor psikologis maupun fisiologis. Seorang anak merupakan  generasi penerus dari generasi sebelumnya.Setiap generasi ke generasi akan memiliki pengaruh yang ditimbulkan dari generasi sebelumnya,  generasi yang lemah akan mewariskan kelemahan kepada generasi berikutnya begitu juga dengan generasi yang kuat akan mewariskan kekuatan kepada generasi sesudahnya. Dengan memenuhi hak anak atas pendidikan diharapkan akan menjadi generasi yang kuat yang dapat mewariskan kekuatan pada generasi berikutnya .Sebagai mana Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 9 sebagai berikut:
Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-oarng yang seandainya meninggalakan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendakalah mereka mengucpakan perkataaan ayang benar.” (QS. An-Nisa : 9).
Dalam pendidikan ilmiah, seorang ayah memiliki fungsi sebagai guru pertama sebelum sang anak dilepas kepada guru di sekolahnya. Seorang ayah terlebih dahulu harus membekali mereka dengan pemahaman yang benar, memberikan semangat dalam belajar dan menuntut ilmu, mengarahkan kepada ilmu-ilmu syari’at yang bermanfaat. Sang ayah tidak boleh mengarahkan anaknya hanya untuk mempelajari ilmu dunia, melainkan akhiratnya, sebaliknya ia harus mengarahkan anaknya untuk mempelajari ilmu yang akan mendekatkan anaknya kepada Allah dan kecintaan kepada kehidupan akhiratnya.
Dalam membimbing anak, orang tua perlu memiliki kesabaran dan sikap dan bijaksana, orang tua harus memahami alam pikiran anak dan harus mengerti kemampuan yang dimiliki anak. Ada bermacam-macam kegiatan bimbingan belajar yang dapat dilakukan oleh orang tua antara lain yang diungkapkan oleh Kartini Kartono sebagai berikut:
  1. Menyediakan fasilitas belajar, yang dimaksud dengan fasilitas belajar di sini adalah alat tulis, buku tulis, buku-buku ini pelajaran dan tempat untuk belajar. Hal ini dapat mendorong anak untuk lebih giat belajar, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar.
  2. Mengawasi kegiatan belajar di rumah, sehingga dapat mengetahui apakah anaknya belajar dengan sebaik-baiknya.
  3. Mengawasi penggunaan waktu belajar anak di rumah, sehingga orang tua dapat mengetahui apakah anaknya menggunakan waktu dengan teratur dan sebaik-baiknya.
  4. Mengetahui kesulitan anak dalam belajar, sehingga dapat membantu usaha anak dalam mengatasi kesulitannya dalam belajar.
  5. Menolong anak mengatasi kesulitannya, dengan memberikan bimbingan belajar yang di butuhkan anaknya. (Kartono, 1992 : 91-92).[9]





BAB III
ANALISIS

Analisa gabungan dari semuanya itu sangat penting karena perkembangan masa anak-anak meliputi beberapa gabungan. Ibu sangat berperan penting untuk menumbuhkan putra putrinya menjadi anak yang tumbuh sehat dan berperilaku yang baik. Dalam itu juga sangat penting bagaimana supanya peran tersebut berhasil kepada anak-anaknya. Tanpa peran Orang tua, anak tidak akan berarti apa-apa dalam sebuah lingkungan. Untuk membentuk karakter anak disini orang tua sangat berarti dalam peranan untuk membimbing anaknya dalam pendidikan.
Menurut agama juga bahwa Kedua orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan kepribadian anak. Islam menawarkan metode-metode yang banyak di bawah rubrik aqidah atau keyakinan, norma atau akhlak serta fikih sebagai dasar dan prinsip serta cara untuk mendidik anak. Dan awal mula pelaksanaannya bisa dilakukan dalam keluarga. Sekaitan dengan pendidikan, Islam menyuguhkan aturan-aturan di antaranya pada masa pra kelahiran  yang mencakup cara memilih pasangan hidup dan adab berhubungan seks sampai masa pasca kelahiran yang mencakup pembacaan azan dan iqamat pada telinga bayi yang  baru lahir, tahnik (meletakkan buah kurma pada langit-langit bayi, mendoakan bayi, memberikan nama yang bagus buat bayi, aqiqah (menyembelih kambing dan dibagikan kepada fakir miskin), khitan dan mencukur rambut bayi dan memberikan sedekah seharga emas atau perak yang ditimbang dengan berat rambut. Pelaksanaan amalan-amalan ini sangat berpengaruh pada jiwa anak.



BAB IV
PENUTUP

1.         Kesimpulan
Perkembangan masa anak-anak meliputi beberapa perkembangan diantaranya, motorik, pengamatan dan fantasi, perkembangan bahasa, perkembangan sosial. Salah satu peran penting adalah orang tua, tanpa orang tua anak tersebut tidak akan mendapatkan pendidikan yang sangat berarti untu anak tersebut.
Orang tua atau keluarga adalah institusi yang sangat berperan dalam rangka melakukan sosialisasi, bahkan internalisasi, nilai-nilai pendidikan. Meskipun jumlah institusi pendidikan formal dari tingkat dasar sampai ke jenjang yang paling tinggi semakin hari semakin banyak, namun peran keluarga dalam transformasi nilai edukatif ini tetap tidak tergantikan. keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama. Keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.
Seorang pria dan wanita yang berjanji dihadapan Allah SWT untuk hidup sebagai suami istri berarti bersedia untuk memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibu anak-anak yang bakal dilahirkan. Ini berarti bahwa pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan siap sedia untuk menjadi orang tua dan salah satu kewajiban, hak orang tua tidak dapat dipindahkan adalah mendidik anak-anaknya. Sebab seorang anak merupakan amanah dan perhiasan yang wajib dijaga dengan sebaik-baiknya. Apabila tidak dijaga akan menyebabkan kualitas anak tidak terjamin, sehingga dapat membahayakan masa depannya kelak. Orang tua harus dapat meningkatkan kualitas anak dengan menanamkan nilai-nilai yang baik dan ahlak yang mulia disertai dengan ilmu pengetahuan agar dapat tumbuh manusia yang mengetahui kewajiban dan hak-haknya. Jadi, tugas orang tua tidak hanya sekadar menjadi perantara adanya makhluk baru dengan kelahiran, tetapi juga mendidik dan memeliharanya.

2.         Rekomendasi
Menurut Saya makalah ini banyak kekurangan, dan kesalahan. Mohon di maklumi kalau ada kesalahan dalam penulisan baik di sengaja maupun tidak. Semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membacanya.









DAFTAR PUSTAKA

Hidayat Karya, 2013, Peran Orang Tua Dan Masyarakat Terhadap,  Di unduh pada 7 Juni 2014, Pkl. 15.00 WIB, Dari HTTP://HIDAYATKARYADI.BLOGSPOT.COM/2013/11/PERAN-ORANGTUA-DAN-MASYARAKAT-TERHADAP.HTML.
L, Zulkifli. 1993. Psikologi Perkembangan. Cet. VI. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.
kartono, Kartini. 2007. Psikologi Anak. Cet. VI. Bandung : CV. Mandar Maju.
Zaldym, 2010, Peran dan Fungsi Orang Tua dalam Mengembangkan Kecerdasaan Emosional Anak, Di unduh pada 7 Juni 2014, Pkl. 15.10 WIB, Dari http://zaldym.wordpress.com/2010/07/17/peran-dan-fungsi-orang-tua-dalam-mengembangkan-kecerdasan-emosional-anak/




[1] Zulkifli L, 1993, Psikologi Perkembangan, Cet. VI, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, Hal. 31.
[2] Ibid, Hal. 32-33.
[3] Ibid, Hal. 33-34.
[4] Kartini kartono, 2007, Psikologi Anak, Cet. VI, Bandung : CV. Mandar Maju, Hal. 126-127.
[5] Zulkifli L, 1993, Psikologi Perkembangan, Cet. VI, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, Hal. 45-46.
[6]  Hidayat Karya, 2013, Peran Orang Tua Dan Masyarakat Terhadap,  Di unduh pada 7 Juni 2014, Pkl. 15.00 WIB, Dari HTTP://HIDAYATKARYADI.BLOGSPOT.COM/2013/11/PERAN-ORANGTUA-DAN-MASYARAKAT-TERHADAP.HTML.

[7] Kartini kartono, 2007, Psikologi Anak, Cet. VI, Bandung : CV. Mandar Maju, Hal. 133-135.
[8] Hasan Biklu, Behruz, Rawanshenasi khanewade, Sar Omade Kawush, Tehran, cetakan pertama, tahun 1380 HS, hal 145.

[9]Zaldym, 2010, Peran dan Fungsi Orang Tua dalam Mengembangkan Kecerdasaan Emosional AnakDi unduh pada 7 Juni 2014, Pkl. 15.10 WIB, Dari http://zaldym.wordpress.com/2010/07/17/peran-dan-fungsi-orang-tua-dalam-mengembangkan-kecerdasan-emosional-anak/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar