BAB II
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang berbeda-beda. Ciri-ciri atau karakteristik tersebut diperoleh melalui pewarisan dari pihak orang tuanya. Dalam dunia pendidikan, guru harus mempunyai pengetahuan, kreativitas juga wawasan yang luas untuk memahami peserta didik. Selain itu juga harus mengerti psikologi anak tersebut.
Sebagai makhluk hidup (individu) mengalami proses perkembangan. Perkembangan adalah proses atau tahapan kearah yang lebih maju dalam pembelajaran, oleh karenanya seorang guru harus mampu memahami karakteristik dan perkembangan seorang anak dalam proses belajar, dalam pengertian belajar ada kata yang sangat penting untuk dibahas yaitu kata “ perubahan atau change, dari kata itu maka hakikat belajar adalah perubahan. Namun tidak semua perubahan tingkahlaku dapat dinggap belajar.Perubahan yang timbul karena proses belajar sudah tentu memliki ciri–ciri perwujudan yang khas.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik perkembangan individu dalam proses pembelajaran?
2. Bagaimana perkembangan individu dalam proses pembelajaran?
3. Bagaimana hubungan karektristik individu dalam proses pembelajaran?
4. Bagaimana hubungan karakteristik individu dari hasil proses pembelajaran?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuannya sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui karakteristik perkembangan individu dalam proses pembelajaran,
2. Untuk mengetahui perkembangan individu dalam proses pembelajaran,
3. Untuk mengetahui hubungan karakteristiik individu dalam proses pembelajaran, dan
4. Untuk mengetahui hubungan karakteristik individu dari hasil proses pembelajaran.
PEMBAHASAN
A. Karakteristik Perkembangan Individu Dalam Pembelajaran
Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.[1]Setiap siswa mempunyai kemampuan dan pembawaan yang berbeda. Siswa juga berasal dari lingkungan sosial yang tidak sama. Kemampuan, pembawaan, dan lingkungan sosial siswa membentuknya menjadi sebuah karakter tersendiri yang mempunyai pola perilaku tertentu. Pola perilaku yang terbentuk tersebut menentukan aktivitas yang dilakukan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah. Aktivitas-aktivitas diarahkan untuk mencapai cita-cita siswa, tentunya dengan bimbingan guru.[2]
Perbedaan individual di antara anak didik merupakan hal yang tidak mungkin dihindari, karena hampir tidak ada kesamaan yang dimiliki oleh manusia kecuali perbedaan itu sendiri. Sejauhmana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau kombinasi-kombinasi dari berbagai unsur perbedaan tersebut.
Pola perilaku yang dimiliki masing-masing siswa menyebabkannya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan yang ada merupakan hal yang sudah pasti, tidak ada satupun siswa yang mempunyai kesamaan dengan lainnya. Apabila ada satu aspek yang sama maka aspek yang lainnya pasti berbeda. Perbedaan setiap individu merupakan salah satu faktor yang menjadi pendukung untuk mewujudkan kualitas masing-masing individu.
Siswa adalah subjek yang menerima pelajaran. Ada siswa pandai, kurang pandai, dan tidak pandai. Setiap siswa mempunyai bakat intelektual, emosional, sosial, dan lain-lain yang sifatnya khusus.[3]Karakteristik siswa antara lain ditemukan ada siswa yang pandai, siswa kurang pandai, dan siswa yang tidak pandai. Siswa yang pandai akan lebih mudah menerima materi pembelajaran dibandingkan dengan siswa yang kurang pandai dan yang tidak pandai. Belum lagi perbedaan dalam bakat, emosional, dan sosial. Siswa yang berbakat, emosi stabil, dan lingkungan sosial yang baik akan lebih mudah mengikuti proses pembelajaran bila dibandingkan dengan siswa yang tidak berbakat, emosi tidak stabil, dan siswa yang berasal dari lingkungan sosial yang buruk. Perbedaan karakteristik ini menuntut guru untuk bersikap arif menyikapinya.Perbedaan individual yang dimiliki anak didik antara lain meliputi perbedaan dalam aspek biologis, psikologis, intelegensi, bakat, dan perbedaan lainnya.[4]
Begitu banyak ditemukan perbedaan dalam karakteristik siswa, antara lain perbedaan dalam hal biologis, psikologis, intelegensi, dan bakat. Keadaan fisik biologis satu siswa dengan yang lain berbeda sama sekali. Ada siswa yang mempunyai fisik sehat dan lengkap, ada juga siswa yang mempunyai fisik lengkap tetapi tidak sehat. Keadaan psikologis siswa juga beragam, tidak semua siswa siap secara psikologis untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Ada siswa yang datang ke sekolah dengan penuh semangat dan senang gembira, ada siswa yang datang ke sekolah dengan sedih dan susah, ada siswa yang malas, ada juga siswa yang berangkat ke sekolah karena menghindari pekerjaan di rumah, dan sebagainya.[5]
Intelegensi yang dimiliki siswa juga berbeda-beda, ada yang mempunyai intelegensi tinggi, intelegensi sedang, dan ada yang mempunyai intelegensi rendah. Perbedaan lain yang memerlukan perhatian dari guru adalah bakat.
Karakteristik siswa yang berikutnya adalah karakteristik fisiologis dan karakteristik psikologis. Kedua karakteristik ini memerlukan perhatian khusus dari guru. Siswa dengan kondisi fisiologis kurang sehat akan lebih memerlukan perhatian dari guru dibandingkan dengan siswa yang mempunyai kekurangan pada kondisi fisiologisnya. Karakteristik psikologis siswa juga berbeda-beda. Minat siswa terhadap suatu pelajaran berbeda-beda, apalagi penyajian materi pelajaran guru yang tidak menarik. Motivasi tidak kalah penting untuk diperhatikan.Guru harus mampu memberikan motivasi yang tepat kepada para siswanya. Motivasi yang tidak tepat hanya akan membuat siswa semakin tidak bersemangat untuk belajar, karena tidak semua siswa mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar.
Karakteristik siswa yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar siswa antara lain: latar belakang pengetahuan dan taraf pengetahuan, gaya belajar, usia kronologi, tingkat kematangan, spektrum dan ruang lingkup minat, lingkungan sosial ekonomi, hambatan-hambatan lingkungan dan kebudayaan, intelegensia, keselarasan dan attitude, prestasi belajar, motivasi dan lain-lain.[6]
Keberagaman karakteristik yang dimiliki siswa menjadi faktor pendukung dan sekaligus menjadi penghambat dalam kegiatan belajar mengajar.
a. Karakteristik Biologis
Aspek biologis yang terkait langsung dengan penerimaan pelajaran di kelas adalah kesehatan mata dan telinga. Anak didik yang memiliki masalah tertentu dalam penglihatan dan pendengarannya akan mengalami masalah tersendiri dalam menerima pelajaran. Dalam hal ini, bila kondisi faktor-faktor lain adalah sama, maka anak yang sehat fisiknya secara menyeluruh akan lebih berpeluang untuk mencapai prestasi yang maksimal.
Kesehatan fisik anak didik perlu mendapat perhatian serius dari guru. Tidak semua siswa mengikuti pembelajaran dengan kondisi fisik yang baik. Kondisi fisik kurang sehat akan mengganggu siswa belajar.[7]
b. Karakteristik Psikologis
Perbedaan psikologis pada siswa mencakup perbedaan dalam minat, motivasi, dan kepribadian.Perbedaan siswa dalam hal minat, motivasi, dan kepribadian akan selalu ditemui pada sekelompok siswa. Tidak semua siswa mengikuti pelajaran dengan minat yang tinggi terhadap mata pelajaran. Ada siswa yang dengan setengah hati mengikuti pelajaran. Demikian pula dengan perbedaan motivasi, ada siswa yang memiliki motivasi tinggi sehingga sangat aktif mengikuti pelajaran, sedangkan yang lainnya mungkin setengah termotivasi atau bahkan tidak termotivasi untuk belajar. Kepribadian siswa juga berbeda, ada siswa yang terbuka sehingga mudah bergaul dan mempunyai banyak teman, tetapi adapula siswa yang tertutup sehingga sulit bergaul dan terkesan tidak mempunyai teman karena sering menyendiri.
c. Karakteristik Intelegensi
Intelegensi adalah kemampuan potensial umum untuk belajar dan bertahan hidup, yang dicirikan dengan kemampuan untuk belajar, kemampuan untuk berpikir abstrak, dan kemampuan memecahkan masalah.
Setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut menambah keunikan dalam suatu kelas pembelajaran. Ada siswa yang dengan cepat mampu menyerap materi pembelajaran dan ada siswa yang lamban menyerapnya. Ada siswa yang mampu dengan cepat menyelesaikan soal ujian atau tugas, dan ada siswa membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan satu tugas saja.
d. Karakteristik Bakat
Siswa yang belajar sesuai dengan bakatnya akan lebih mudah menerima dan menguasai materi pembelajaran jika dibandingkan dengan siswa yang tidak berbakat dalam mata pelajaran tertentu. Walaupun siswa yang tidak berbakat juga sangat dimungkinkan untuk menerima materi pembelajaran dengan lebih baik.
e. Karakteristik Lainnya
Perbedaan individual lain yang banyak diteliti oleh para ahli adalah perbedaan jenis kelamin, perbedaan etnis, dan perbedaan kondisi sosial ekonomi.
Siswa laki-laki dan siswa perempuan berbeda karakteristiknya. Secara umum, siswa perempuan akan lebih rajin daripada siswa perempuan. Kondisi sosial ekonomi orang tua siswa sangat beragama, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi kelompok sosial ekonomi bawah, kelompok sosial ekonomi sedang, dan kelompok sosial ekonomi atas. Mayoritas siswa berasal dari kelompok sosial ekonomi sedang.[8]
Ada tiga kelompok karakteristik siswa yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Karakteristik yang berkaitan dengan fisiologis. Karakteristik ini meliputi: jenis kelamin, kondisi fisik, usia kronologis, panca indera, tingkat kematangan, dan sebagainya.
2. Karakteristik yang berkaitan dengan psikologis. Karakteristik ini meliputi: bakat, minat, motivasi, intelegensi, gaya belajar, emosi, dan sebagainya.
3. Karakteristik yang berkaitan dengan lingkungan. Karakteristik ini meliputi etnis, kondisi sosial ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya.[9]
B. Perkembangan Individu Dalam Proses Pembelajaran
Perkembangan adalah sebuah pemaparan sebuah kondisi manusia yang terus mengalami perubahan ketingkat (fase) yang lebih tinngi secara alami dan terus terjadi..[10]
Di dalam kamus besar bahasa Indonesia (1991), arti “perkembangan” adalah perihal berkembang. Yang berarti mekar terbuka atau membentan, menjadi besar, luas, dan banyak serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya.
Menurut Mujib, pengembangan kepribadian islam adalah usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk memaksimalkan daya-daya insaninya,, agar ia mampu mengaktualisasikan diri lebih baik, sehingga memperoleh kualitas hidup di dunia maupun di akhirat. Manusia yang baik tidak dapat dilihat dari kadar ukuran fisik dan potensi diri berupa bakat dan kekuatan, atau sesuatu yang lain berupa kekhasannya. Namun, perjalan arah hidup yang difokuskan kearah kebaikan (al-sirath al-mustaqim ila al-haqq) itulah manusia yang baik.
Pengertian pengembangan dapat disimpulkan kondisi manusia yang terus mengalami perubahan ketingkat yang lebih tinggi atau lebih besar, luas, dan individu menjadi sempurna dalam hal kepribadian serta mampu mengaktualisasikan diri lebih baik.
Sebagai seorang guru, sangat perlu memahami perkembangan peserta didik. Perkembangan peserta didik tersebut meliputi: perkembangan fisik, perkembangan sosioemosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual. Perkembangan fisik dan perkembangan sosio sosial mempunyai kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental atau perkembangan kognitif siswa.
Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik di atas, sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang akan dilaksanakan. Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan.
1. Perkembangan Fisik Anak/Siswa
Anak masuk kelas satu SD atau MI berada dalam periode peralihan dari pertumbuhan cepat masa anak anak awal ke suatu fase perkembangan yang lebih lambat. Ukuran tubuh anak relatif kecil perubahannya selama tahun tahun di SD. Pada usia 9 tahun tinggi dan berat badan anak laki laki dan perempuan kurang lebih sama. Sebelum usia 9 tahun anak perempuan relatif sedikit lebih pendek dan lebih langsing dari anak laki laki.
Pada akhir kelas empat, pada umumnya anak perempuan mulai mengalami masa lonjakan pertumbuhan. Lengan dan kaki mulai tumbuh cepat. Pada akhir kelas lima, umumnya anak perempuan lebih tinggi, lebih berat dan lebih kuat daripada anak laki laki. Anak laki laki memulai lonjakan pertumbuhan pada usia sekitar 11 tahun. Menjelang awal kelas enam, kebanyakan anak perempuan mendekati puncak tertinggi pertumbuhan mereka. Periode pubertas yang ditandai dengan menstruasi umumnya dimulai pada usia 12 13 tahun. Anak laki laki memasuki masa pubertas dengan ejakulasi yang terjadi antara usia 13 16 tahun.
Perkembangan fisik selama remaja dimulai dari masa pubertas. Pada masa ini terjadi perubahan fisiologis yang mengubah manusia yang belum mampu bereproduksi menjadi mampu bereproduksi. Hampir setiap organ atau sistem tubuh dipengaruhi oleh perubahan perubahan ini. Anak pubertas awal (prepubertal) dan remaja pubertas akhir (postpubertal) berbeda dalam tampakan luar karena perubahan perubahan dalam tinggi proporsi badan serta perkembangan ciri ciri seks primer dan sekunder.[11]Meskipun urutan kejadian pubertas itu umumnya sama untuk tiap orang, waktu terjadinya dan kecepatan berlangsungnya kejadian itu bervariasi. Rata rata anak perempuan memulai perubahan pubertas 1,5 hingga 2 tahun lebih cepat dari anak laki laki. Kecepatan perubahan itu juga bervariasi, ada yang perlu waktu 1,5 hingga 2 tahun untuk mencapai kematangan reproduksi, tetapi ada yang memerlukan waktu 6 tahun. Dengan adanya perbedaan perbedaan ini ada anak yang telah matang sebelum anak matang yang sama usianya mulai mengalami pubertas.
2. Perkembangan Sosio emosional Anak/Siswa
Menjelang masuk SD, anak telah rnengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengaruh sosial yang lebih kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada dasarnya egosentris (berpusat pada diri sendiri), dan dunia mereka adalah rumah keluarga, dan taman kanak kanaknya.
Selama duduk di kelas kecil SD, anak mulai percaya diri tetapi juga sering rendah diri. Pada tahap ini mereka mulai mencoba membuktikan bahwa mereka "dewasa". Mereka merasa "saya dapat mengerjakan sendiri tugas itu, karenanya tahap ini disebut tahap 'I can do it my self'. Mereka dimungkinkan untuk diberikan suatu tugas.
Daya konsentrasi anak tumbuh pada kelas kelas tinggi SD. Mereka dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk tugas tugas pilihan mereka, dan seringkali mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Tahap ini juga termasuk tumbuhnya tindakan mandiri, kerjasama dengan kelompok, dan bertindak menurut cara cara yang dapat diterima lingkungan mereka. Mereka juga mulai peduli pada permainan yang jujur. Selama masa ini mereka juga mulai menilai diri mereka sendiri dengan membandingkannya dengan orang lain. Anak anak yang lebih muda menggunakan perbandingan sosial (social comparison) terutama untuk norma norma sosial dan kesesuaian jenis jenis tingkah laku tertentu. Pada saat anak anak tumbuh semakin lanjut, mereka cenderung menggunakan perbandingan sosial untuk mengevaluasi dan menilai kemampuan kemampuan mereka sendiri.
Sebagai akibat dari perubahan struktur fisik dan kognitif mereka, anak pada kelas besar di SD berupaya untuk tampak lebih dewasa. Mereka ingin diperlakukan sebagai orang dewasa.Terjadi perubahan perubahan yang berarti dalam kehidupan sosial dan emosional mereka. Di kelas besar SD anak laki laki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam kelompok menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Tidak diterima dalam kelompok dapat membawa pada masalah emosional yang serius Teman teman mereka menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya sangat tinggi. Remaja sering berpakaian serupa. Mereka menyatakan kesetiakawanan mereka dengan anggota kelompok teman sebaya melalui pakaian atau perilaku.
Hubungan antara anak dan guru juga seringkali berubah. Pada saat di SD kelas rendah, anak dengan mudah menerima dan bergantung kepada guru. Di awal awal tahun kelas tinggi SD hubungan ini menjadi lebih kompleks. Ada siswa yang menceritakan informasi pribadi kepada guru, tetapi tidak mereka ceritakan kepada orang tua mereka. Beberapa anak pra remaja memilih guru mereka sebagai model. Sementara itu, ada beberapa anak membantah guru dengan cara cara yang tidak mereka bayangkan beberapa tahun sebelumnya. Malahan, beberapa anak mungkin secara terbuka menentang gurunya.
Salah satu tanda mulai munculnya perkembangan identitas remaja adalah reflektivitas yaitu kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam benak mereka sendiri dan mengkaji diri sendiri. Mereka juga mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara apa yang mereka pikirkan dan mereka rasakan serta bagaimana mereka berperilaku. Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan. Remaja mudah dibuat tidak puas oleh diri mereka sendiri. Mereka mengkritik sifat pribadi mereka, membandingkan diri mereka dengan orang lain, dan mencoba untuk mengubah perilaku mereka. Pada remaja usia 18 tahun sarnpai 22 tahun, urnumnya telah rnengembangkan suatu status pencapaian identitas
C. Hubungan Karakteristik Individu Dalam Pembelajaran
Siswa sebagai raw input dalam proses belajar-mengajar di sekolah memiliki karakteristik tertentu, baik fisiologis maupun psikologis yang kesemuanya mempengaruhi bagaimana proses dan hasil belajarnya.
Karakteristik siswa sangat mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Siswa yang mempunyai kesiapan secara fisiologis dan psikologis akan mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebaliknya, siswa yang tidak mempunyai kesiapan secara fisiologis dan psikologis akan mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran.
Perbedaan psikologis siswa dapat dimanfaatkan guru dalam mengelola kelas, terutama dalam penempatan anak di tempat duduk dan pengelompokkan.[12] Melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu merupakan salah satu kewajiban guru. Proses pembelajaran dapat dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas. Umumnya, proses pembelajaran di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dilaksanakan di dalam kelas. Pembelajaran di kelas memerlukan kemampuan guru dalam mengelola dengan sebaik-baiknya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Salah satu pengelolaan yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur tempat duduk dan mengelompokkan siswa sesuai dengan karakteristik psikologisnya. Misalnya, emosi mempunyai pengaruh terhadap proses belajar seseorang. Emosi positif akan mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali. Karena itu, proses pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif pada diri siswa. Usaha menciptakan emosi positif pada diri siswa dapat dilakukan dengan cara antara lain dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
Menurut Elliot bahwa salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru untuk mengatasi perbedaan individual siswa adalah dengan penerapan mastery learning, yaitu suatu kualitas pembelajaran di mana guru dan siswa memutuskan secara bersama tentang waktu yang dibutuhkan dan apa yang perlu dikuasai oleh siswa.
Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi perbedaan karakteristik siswa adalah dengan menerapkan mastery learning (pembelajaran tuntas). Mastery learning memungkinkan siswa untuk menyelesaikan materi pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan karakteristik masing-masing. Tidak semua siswa mampu menguasai materi pembelajaran dalam waktu yang sama. Perbedaan individual merupakan hal yang pasti dijumpai dalam kondisi pembelajaran di manapun. Menghadapi perbedaan individual siswa, guru harus bersikap bijaksana. Artinya, guru harus bersikap sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa dan memberikan perhatian yang cukup kepada siswa yang bermasalah. Guru perlu memberikan pembelajaran yang sesuai dengan perbedaan di antara para siswanya. Hal yang harus dipahami oleh guru adalah tidak semua siswa harus memiliki penguasaan yang sama terhadap pelajaran.
Cara untuk mengeliminir perbedaan siswa antara lain:
a. Program nutrisi dan stimulasi harus diberikan pada anak-anak yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.
b. Penciptaan mekanisme sosial yang mendukung.
c. Pembelajaran secara kontekstual, disesuaikan dengan perbedaan masing-masing.
d. Mengadakan program remediasi dua tahap.
e. Pengembangan profesionalisme guru dalam upaya meningkatkan pembelajaran yang berorientasi perbedaan.[13]
Perbedaan karakteristik siswa berhubungan erat dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan, ada beberapa cara yang dapat dilaksanakan untuk mengurai perbedaan-perbedaan tersebut, antara lain dengan memberikan program nutrisi kepada siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, menciptakan mekanisme sosial yang baik di antara para siswa, melaksanakan pembelajaran konstektual, program remedial bagi yang belum tuntas, dan meningkatkan prosesionalisme guru.
D. Hubungan Karakteristik Siswa dengan Hasil Pembelajaran
Menurut Purwantobahwa karakteristik yang dimiliki siswa baik fisiologis maupun psikologis mempengaruhi proses dan hasil belajarnya.
Kondisi fisiologis siswa mempengaruhi hasil pembelajaran. Siswa yang belajar dengan kondisi fisiologis baik lebih mungkin untuk memperoleh hasil yang maksimal bila dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan kondisi fisiologis tidak baik. Siswa yang sedang sakit tidak akan mampu mengikuti kegiatan belajar dengan baik sehingga hasil yang diperolehnya juga tidak akan maksimal. Demikian pula dengan kondisi psikologis siswa, tidak semua siswa yang mengikuti kegiatan belajar datang dengan kondisi psikologis yang sehat. Ada siswa yang datang ke kelas dengan penuh semangat, riang gembira, dan minat yang besar untuk belajar. Ada pula siswa yang datang ke kelas dengan perasaan takut, sedih, susah, malas, tidak senang, dan sebagainya. Siswa dengan kondisi psikologis yang tidak sehat akan sulit menerima materi pelajaran sehingga hasilnya juga kurang. Lain halnya dengan siswa yang mengikuti pelajaran dengan kondisi psikologis sehat, siswa ini akan mengikuti proses pembelajaran dengan baik sehingga hasil yang diperolehnya juga akan lebih baik.[14]
Perbedaan psikologis siswa berkorelasi positif dengan hasil belajar yang dicapai. Siswa yang mempunyai minat besar terhadap pelajaran, motivasi yang tinggi untuk belajar, dan kemampuan memori yang maksimal, maka hasil belajar yang dicapai juga akan maksimal.
Kondisi psikologis siswa berhubungan positif dengan hasil belajar, artinya kondisi psikologis sehat maka hasil belajar juga akan cenderung baik atau meningkat, sebaliknya kondisi psikologis tidak sehat maka hasil belajar juga akan cenderung tidak baik atau menurun. Siswa dengan minat besar, motivasi tinggi, dan memori maksimal akan belajar dengan sungguh-sungguh dan konsentrasi tinggi, sehingga akan memperoleh hasil pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sebaliknya, siswa dengan minat, motivasi, dan memori rendah akan belajar dengan bermalas-malasan dan asal-asalan atau belajar sekenanya saja. Kondisi seperti ini akan mengakibatkan hasil belajarnya tidak sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
Sudah menjadi asumsi umum bahwa seseorang akan lebih berhasil kalau dia belajar dalam bidang yang sesuai dengan bakatnya.[15]
Menurut Arikunto bahwa siswa yang memiliki karakteristik atau kekhususan sendiri-sendiri banyak mempengaruhi keberhasilan dalam belajar.
Karakteristik siswa mempengaruhi hasil belajarnya, karakteristik yang mendukung akan berpengaruh positif terhadap hasil pembelajaran, sedangkan karakteristik yang tidak mendukung akan berpengaruh negatif terhadap hasil pembelajaran.[16]
Hasil belajar yang dicapai siswa, banyak dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan lingkungan belajar terutama kualitas pengajaran.
Kemampuan siswa secara individual yang merupakan faktor pembawaan akan mempengaruhi hasil pembelajaran yang dicapainya. Lingkungan belajar terutama kualitas proses pembelajaran berpengaruh terhadap hasil pembelajaran. Pengelolaan kelas yang baik dan dukungan fasilitas pembelajaran yang mencukupi menjadi salah satu faktor pendukung pencapaian hasil belajar. Hasil belajar akan kurang maksimal apabila tidak didukung dengan ketersediaan sumber dan media pembelajaran.
Karakteristik siswa mempunyai hubungan positif dengan hasil pembelajaran. Artinya, semakin baik karakteristik siswa maka hasil belajar akan cenderung semakin baik atau meningkat. Sebaliknya, karakteristik siswa yang tidak baik akan menyebabkan hasil belajar tidak baik atau menurun. Misal, perbedaan intelegensi yang merupakan modal utama dalam belajar untuk mencapai hasil yang optimal. Setiap siswa memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tampak dari proses dan hasil belajar yang dicapai. Pada proses belajar di kelas, ada siswa yang cepat menerima penyampaian guru dan ada yang lamban. Tinggi rendah hasil belajar tergantung pada tinggi rendah intelegensi yang dimiliki, walaupun intelegensi bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi hasil belajar.[17]
KESIMPULAN
A. Karakteristik Perkembangan Individu Dalam Pembelajaran
Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.adapun karakteristik yang dimiliki setiap individu ialah:
1.Karakteristik Biologis
2.Karakteristik Psikologis
3. Karakteristik Intelegensi
4. Karakteristik Bakat
5. Karakteristik yang lainnya.
B. Perkembangan Individu Dalam Proses Pembelajaran
Perkembangan adalah kondisi manusia yang terus mengalami perubahan ketingkat yang lebih tinggi atau lebih besar, luas, dan individu menjadi sempurna dalam hal kepribadian serta mampu mengaktualisasikan diri lebih baik.
Ada dua macam perkembangan yang harus diperhatikan yaitu:
1. Perkembangan fisik anak
2. Perkembangan sosio emosional
C. Hubungan Karakteristik Individu Dalam Pembelajaran
Menurut Elliot bahwa salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru untuk mengatasi perbedaan individual siswa adalah dengan penerapan mastery learning, yaitu suatu kualitas pembelajaran di mana guru dan siswa memutuskan secara bersama tentang waktu yang dibutuhkan dan apa yang perlu dikuasai oleh siswa.
D. Hubungan Karakteristik Siswa dengan Hasil Pembelajaran
Kondisi psikologis siswa berhubungan positif dengan hasil belajar, artinya kondisi psikologis sehat maka hasil belajar juga akan cenderung baik atau meningkat, sebaliknya kondisi psikologis tidak sehat maka hasil belajar juga akan cenderung tidak baik atau menurun. Siswa dengan minat besar, motivasi tinggi, dan memori maksimal akan belajar dengan sungguh-sungguh dan konsentrasi tinggi, sehingga akan memperoleh hasil pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sebaliknya, siswa dengan minat, motivasi, dan memori rendah akan belajar dengan bermalas-malasan dan asal-asalan atau belajar sekenanya saja. Kondisi seperti ini akan mengakibatkan hasil belajarnya tidak sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdillah, H. dan Abdul, M. 1988. Prinsip-prinsip Belajar untuk Pengajaran. Surabaya Indonesia: Usaha Nasionaal.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Khodijah, Nyayu. 2011. Psikologi Pendidikan. Palembang: Grafika Telindo Press.
Purwanto, Ngalim. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sardiman AM. 2001. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Sudjana, Nana. 2008. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
[1]Sadarman, Interaksi dan Motivasi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hal 118.
[2]Khodijah, Psikologi Pendidikan, (Palembang: Grafindo Telindo Press, 2011), hal 181.
3Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal 296.
[4] Khodijah, Op. Cit., Hal. 182.
[5]Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: pustaka Belajar, 2009 ), hal 107
[6] Sardiman, Op. Cit., Hal. 119.
[7]Khodijah, Op. Cit., Hal. 183.
[8]Khodijah, Op, Cit., Hal. 187.
[9]Khodijah, Op, Cit., Hal. 187.
[10]Popi Sopiatin, dkk, Spikologi Belajar Dalam Perpektif Islam, (Bogor: ghalia Indonesia, 2011), Hal.87
[11]Abdul Abdillah, Prinsip-Prinsip Belajar untuk Pengajar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1988)
[12]Khodijah, Op, Cit., Hal, 184-189.
[13]Khodijah, Op, Cit., Hal. 194.
[14]Purwanto Ngalim, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), Hal. 107.
[15]Khodijah, Op, Cit., Hal. 186.
[16]Arikanto, Op. Cit., Hal. 295.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar