BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Salah satu masalah utama dalam pembelajaran budaya atau kebudayaan Islam selama ini adalah bahwa kadar apresiasi siswa serta umat Islam secara universal terhadap budaya dewasa ini sangat minim dan atau bahkan hampir tidak ada. Sebaliknya ada rasa minder atau inferior complex di kalangan Muslimin tatkala membandingkan budayanya dengan kemajuan budaya Barat dewasa ini.
Di era globalisasi serta pesatnya perkembangan kemajuan dunia teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi kaum Muslimin, terutama sikap dan peran kaum pendidik, terdidik, cendikia, yang perlu dikembangkan secara proposional dalam pemanfaatan IPTEK yang diterapkan di dunia pembelajaran kebudayaan Islam sebagai media pembelajaran yang penuh vitalitas. Sebagaimana yang kita lihat dalam sejarahk yang terjadi adalah dunia pendidikan Islam yang penuh vitalitas; berhasil memahami, menyerap, mentransfer, serta melaksanakan ajaran-ajaran Rasul secara konsisten, dinamis, dan kreatif terhadap peserta didik.
- Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diambil rumusan masalah yakni, sebagai berikut:
1. Apa Pengertian media pembelajaran?
2. Apa Kriteria penggunaan media pembelajaran?
3. Bagaimana Klasifikasi media pembelajaran?
4. Apa Manfaat dan kegunaan media pembelajaran?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dalam penyusunan makalah ini yaitu, sebagai berikut:
A. Pengertian media pembelajaran
B. Kriteria penggunaan media pembelajaran
C. Klasifikasi media pembelajaran
D. Manfaat dan kegunaan media pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian media pembelajaran
Media berasal dari kata medium (media: jamak, medium: tunggal), artinya secara harfiah ialah perantara, penyampai, atau penyalur.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Kerena pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran, dan tabiat, serta pembentukkan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Berdasarkan uraian di atas, media pembelajaran sesungguhnya merupakan bagian dari sumber pembelajaran yang di dalamnya pengajaran disampaikan. Dalam pengertian lain, media pembelajaran adalah saran pembelajaran yang di gunakan sebagai perantara yang di gunakan proses pembelajaran untuk mempertinggi efektivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dlam hubungan ini terdapat dua unsur yng terkandung dalam media pembelajaran, yaitu: (1) Pesan atau bahan pembelajaran yang akan disampaikan yang selanjutnya disebut sebagai perangkat lunak (software), dan (2) Alat penampil atau perangkat keras (hardware).
1. Tujuan dan prinsip penggunaan media
a. Tujuan penggunaan media pembelajaran yaitu:
1) Memperjelaskan penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis
2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra
3) Memperlancarnya proses pembelajaran
4) Menimbulkan kegairahan belajar
5) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi langsung dengan kenyataan.
6) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuan dan ingatan.
b. Prinsip-prinsip keterampilan menggunakan media pembelajaran yaitu:
1) Tepat guna, artinya media pembelajaran yang di gunakan sesuai dengan kompentensi dasar.
2) Berdaya guna, artinya media pembelajaran yang di gunakan mampu meningkatkan motivasi siswa
3) Bervariasi, artinya media pembelajaran yang di gunakan mampu mendorong sikap aktif siswa dalam belajar.
B. Kriteria penggunaan media pembelajaran
Menurut Degeng (1989) menyatakan sekurang-kurangnya ada lima cara dalam mengklasifikasi media pembelajaran untuk keperluan mempreskripsikan strategi penyampaian, yaitu:
1. Tingkat kecermatan reprensentasi
2. tingkat interaktif yang mampu ditimbulkannya,
3. tingkat kemampuan khusus yang dimilikinya
4. tingkat motivasi yang mampu ditimbulkannya
5. tingkat biaya yang diperlukan.
Tingkat kecermatan representatif merupakan suatu media dapat diletakkan dalam suatu garis kontinum, seperti: benda konkret, media pandang dengar; seperti film bersuara, media pandang seperti gambar atau diagram. Bagaimanapun juga, kontinum ini dapat bervariasi untuk suatu pembelajaran. Misalnya, untuk mengajarkan tentang profesi pelaksanaan ibadah salat akan memiliki variasi kontinum yang berbeda menurut tingkat kecermatan representasinya.
Tingkat interaktif yang mampu ditimbulkan oleh suatu media juga dapat dibentangkan dalam suatu kontinum, tetapi titik-titik dalam kontinum ini ditunjukkan oleh jenis media yang berbeda, misalnya; komputer, pembelajar, buku kerja, buku teks/rekaman, dan siaran radio/televisi.
C. Klasifikasi media pembelajaran
Para ahli telah mengklasifikasi alat/ media pembelajaran pada dua bagian: yaitu media pembelajaran yang bersifat benda (material), dan media pembelajaran yang bukan benda (non materil).
1. Media pembelajaran yang bersifat benda (material)
Menurut Oemar Hamalik, media yang bersifat benda adalah: Pertama, bahan-bahan cetakan atau bacaan, dimana bahan-bahan ini lebih mengutamakan kegiatan membaca atau penggunaan simbol-simbol kata atau verbal. Kedua, alat-alat audio visual yakni alat-alat yang dapat digolongkan pada: (1) alat tanpa proyeksi seperti papan tulis dan diagram, (2) media pendidikan tiga dimensi, seperti: benda asli, peta dan (3) alat pendidikan yang menggunakan teknik, seperti radio, tape recorder, in-focus, internets. Ketiga, sumber-sumber masyarakat, seperti objek-objek peninggalan sejarah. Keempat, kumpulan benda-benda (material collection), seperti kedaunan, benih, batu, dan sebagainya.
Menurut Zakiah Drajat (1992: 81), media pembelajaran yang berupa benda adalah, sebagai berikut:
a. Media tulis, seperti Al-Qur’an, Hadits, Tauhid, Sejarah.
b. Benda-benda alam seperti hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.
c. Gambar-gambar yang dirancang seperti grafik.
d. Gambar yang diproyeksikan, seperti vidio, transparan, in-fokus.
e. Audio recording (alat untuk dengar), seperti kaset, dan tepe radio.
2. Media pembelajaran yang bukan benda (non materil)
Media ini tidak dapat diamati dengan indera tetapi keberadaannya sangat membantu dalam pembelajaran diantara media tersebut adalah sebagai berikut:
a. Keteladanan
Pada umumnya manusia memerlukan figur identifikasi (uswah al-hasanah) yang dapat membimbing manusia ke arah kebenaran. Untuk memenuhi keinginan tersebut itu, Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW menjadi tauladan bagi manusia. Kemudian kita diperintahkan untuk mengikuti Rasul, diantaranya memberikan tauladan yang baik. Untuk menjadi sosok yang ditauladaninya, Allah SWT memerintahkan kepada manusia selaku khalifah fi al ardh mengerjakan perintah Allah dan Rasul sebelum mengajarkannya kepada orang yang dipimpinnya. Termasuk dalam hal ini sosok pendidik yang dapat ditauladani oleh anak didik.
Menurut Al-Ghazali (2007: 208), mengemukakan bahwa seperti yang disitir oleh Fathiyah Hasan Sulaiman tedapat beberapa sifat penting yang harus dimiliki oleh seorang yang diteladani, yaitu:
(1) Amanah dan tekun bekerja
(2) Bersifat lemah lembut dan kasih sayang terhadap murid
(3) Dapat memahami dan berlapang dada dalam ilmu serta orang-orang yang mengajarkannya
(4) Tidak rakus pada materi
(5) Berpengetahuan luas, serta
(6) Istiqamah dan memegang teguh prinsip.
Al-Ghazali juga menambahkan bahwa terdapat beberapa sifat penting yang harus terinternalisasi dalam diri murid, yaitu:
(a) Rendah hati,
(b) Mensucikan diri dari segala keburukkan, serta
(c) Taat dan istiqamah.
b. Pembiasaan
Pembiasaan adalah satu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja tanpa dipikirkan lagi. Dengan pembiasaan pendidikan memeberikan kesempatan kepada peserta didik terbiasa mengamalkan ajaran agamanya, baik secara individu maupun secara kelompok dalam kehidupan sehari-hari, termasuk juga membiasakan sesuatu yang baik menurut pemikiran manusia.
Berawal kepada pembiasaan itulah peserta didik membiasakan dirinya menuruti dan patuh pada aturan-aturan yang berlaku ditengah kehidupan masyarakat. Walaupun pada umumnya, menimbulkan kebiasaan yang baik tidaklah mudah, dan sering memakan waktu yang panjang. Tetapi bila sudah menjadi kebiasaan sulit pula untuk merubahnya. Karena menanamkan dan menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan yang baik sangatlah penting, terutama pada awal kehidupan anak untuk melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa, suka tolong menolong orang yang dalam kesusahan, membantu fakir miskin. Agama Islam sangat mementingkan media pembiasaan, dengan pembiasaan itulah diharapkan peserta didik mengamalkan agamanya secara berkelanjutan.
c. Perintah
Perintah adalah suatu keharusan untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Dalam hal ini perintah itu bukan hanya apa yang keluar dari mulut seseorang yang harus dikerjakan oleh orang lain, tetapi termasuk pula anjuran, pembiasaan dan peraturan umum yang harus ditaati oleh peserta didik.
Dalam memeberikan perintah terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu;
1. Jangan memeberikan perintah kecuali karena diperlukan
2. Hendaknya perintah itu dengan ketetapn hati dan niat yang baik
3. Jangan memerintahkan kedua kalinya jika perintah pertama belum dilaksanakan
4. Perintah hendaknya benar-benar dipertimbangkan akan akibatnya
5. Perintah hendaknya brifat umum, bukan bersifat khusus.
d. Penguatan (reinforcemen)
Penguatan adalah seuatu yang menyenagkan yang dijadikan sebagai hadiah bagi anak yang berprestasi baik dalam belajar, dalam sikap dan perilaku. Yang terpenting dalam penguatan hanya hasil yang dicapai seorang dan dengan hasil tersebut pendidikan dapat membentuk kata hati dan kemauan yang lebih baik dan lebih bijak.
Penguatan itu dapat dilakukan oleh pendidik dengan cara bermacam-macam, antara lain:
(1) Pendidik mengangguk-anggukkan kepala tanda senang dan membiarkan suatu jawaban yang diberikan oleh seorang peserta didik
(2) Guru memberikan kata-kata yang menggembirakan (pujian)
(3) Guru memberikan benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak-anak, dan sebagainya.
e. Pengalaman
Menurut Bahri Djamrah dkk (1997: 70), menyatakan bahwa pengalaman kyang dilalui seseorang adalah guru yang baik. Pengalaman merupakan guru tanpa jiwa, namun selalu dicari oleh siapapun juga, belajar dari pengalaman adalah lebih baik dari sekedar bicara dan tidak pernah berbuat sama sekali.
Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua pengalaman dapat bersifat mendidik, karena ada pengalaman yang tidak bersifat mendidik. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik jika guru tidak membawa anak didik ke arah tujuan pendidikan akan tetapi menyelewengkan dari tujuan itu, misalnya mendidik anak menjadi pencuri. Karena itu ciri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak, manfaat bagi kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan, dan menambah integrasi anak.
D. Manfaat dan kegunaan media pembelajaran
Yusuf Hadi Miarso dkk, menyatakan bahwa alat/ media itu mempunyai nilai-nilai praktis yang berupa kemampuan antara lain:
1. Membuat konkrit konsep yang abstrak
2. Membawa obyek yang sukar didapat kedalam lingkungan belajar siswa
3. Menampilkan obyek yang terlalu besar
4. Menampikan obyek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang
5. Mengamati gerakan yang terlau cepat
6. Memungkinkan keseragaman pengamatan dan presepsi bagi pengalaman belajar
7. Membangkitkan motivasi belajar
8. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat di ulang maupun disimpan menurut kebutuhan.
Sementara itu Abu Bakar Muhammad, juga berpendapat bahwa kegunaan alat/ media itu antara lain adalah:
1. Mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dan memperjelas materi pelajaran yang sulit
2. Mampu mempermudah pemahaman dan menjadikan pelajaran lebih menarik dan hidup
3. Merangsang anak bekerja dan menggerakan naluri kecintaan menelaah belajar dan menimbulkan kemauan keras untuk mempelajari sesuatu
4. Membantu pembentukan kebiasaan, melahirkan pendapat, melahirkan dan memikirkan suatu pelajaran, serta,
5. Menimbulkan kekuatan perhatian (ingatan) mempertajam, indera, melatihnya, memperluas perasaan dan cepat belajar.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
KESIMPULAN
media pembelajaran sesungguhnya merupakan bagian dari sumber pembelajaran yang di dalamnya pengajaran disampaikan. Dalam pengertian lain, media pembelajaran adalah saran pembelajaran yang di gunakan sebagai perantara yang di gunakan proses pembelajaran untuk mempertinggi efektivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Kriteria penggunaan media pembelajaran Menurut Degeng (1989) menyatakan sekurang-kurangnya ada lima cara dalam mengklasifikasi media pembelajaran untuk keperluan mempreskripsikan strategi penyampaian, yaitu:
1. Tingkat kecermatan reprensentasi
2. tingkat interaktif yang mampu ditimbulkannya,
3. tingkat kemampuan khusus yang dimilikinya
4. tingkat motivasi yang mampu ditimbulkannya
5. tingkat biaya yang diperlukan.
Sementara itu Abu Bakar Muhammad, juga berpendapat bahwa kegunaan alat/ media itu antara lain adalah:
1. Mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dan memperjelas materi pelajaran yang sulit
2. Mampu mempermudah pemahaman dan menjadikan pelajaran lebih menarik dan hidup
3. Merangsang anak bekerja dan menggerakan naluri kecintaan menelaah belajar dan menimbulkan kemauan keras untuk mempelajari sesuatu
4. Membantu pembentukan kebiasaan, melahirkan pendapat, melahirkan dan memikirkan suatu pelajaran, serta,
5. Menimbulkan kekuatan perhatian (ingatan) mempertajam, indera, melatihnya, memperluas perasaan dan cepat belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009.
Ramayulis, Dasar-Dasar Kependidikan, Padang: The Zaki Press, 2009.
Ramayulis, Profesi dan Etika Keguruan, Jakarta: Kalam Mulia, Cet ke-7, 2013.
Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta; PT Rineka Cipta, 1997.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar