BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Surah At-Taubah tergolong Madaniyah, yang turun sesudah surah Al-Anfal surah ke- 8 ayatnya berjumlah 75 ayat ini termasuk golongan Madaniyah. Madaniyah sendiri yaitu surah yang turun di kota Madinah. Surah At-Taubah adalah surah ke -9, ayatnya berjumlah 129 ayat, ini tergolong surah Madaniyah. Disini akan membahas Surah At-Taubah ayat 117-118 tentang 3 sahabat yang ditinggalkan dalam Perang Tabuk bersama Rasulullah, dan bertaobat kepada Allah Swt.. Karena tidak mengikuti Perang Tabuk.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana bacaan surah At-Taubah/ 9 : 117-118 ?
2. Apa asbabun nuzul surah At-Taubah/ 9 : 117-118 ?
3. Bagaimana isi kandungan dalam surah At-Taubah/ 9 : 117-118 ?
4. Bagaiman sejarah dari surah At-Taubah/ 9 : 117-118 ?
C. Tujuan
Adapun tujuannya sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bacaan surah At-Taubah/ 9 : 117-118.
2. Untuk mengetahui asbabun nuzul surah At-Taubah/ 9 :117-118.
3. Untuk mengetahui isi kandungan dalam surah At-Taubah/9 : 117-118.
4. Untuk mengetahui sejarah dari surah At-Taubah/ 9 : 117-118.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Surah At-Taubah/ 9 : 117-118
“117. Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin, dan orang-orang ansar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha pengasih, maha Penyayang kepada mereka. 118. Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah / 9 : 117-118)[1]
B. Asbabun Nuzul Surah At-Taubah/ 9 : 117-118
Sebab turunnya surah At-Taubah/ 9 : 117-118 sebagai berikut :
Al-Bukhari dan lain-lain meriwayatkan dari Ka’ab bin Malik, katanya, “Aku tidak pernah tidak ikut bersama Rasulullah dalam suatu pertemuan kecuali Perang Badar, hingga terjadi Perang Tabuk, yang merupakan perang terakhir yang beliau jalani. Beliau mengumumkan keberangkatan kepada khalayak . . .(ia menceritakan kisahnya dengan panjang), kemudian Allah menurunkan ayat tentang taubat atas kami, ‘Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin,…”hingga firman-Nya pada ayat 118, ‘ ‘Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang. ‘Dan tentang kamilah turunlah ayat 119.”… Bertakwallah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.’ ”[2]
C. Isi Kandungan Surah At-Taubah/ 9 : 117-118
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tanda-tanda iman sejati adalah mengikuti bimbingan para pemimpin
agama dalam kondisi sulit bukan hanya dalam kondisi normal saja.
2. Seluruh umat manusia bahkan para Nabi as mengharapkan anugerah Ilahi
dan terkabulnya taubat bagi para pendosa merupakan salah satu bukti rahmat Allah Swt.
D. Sejarah Surah At-Taubah/ 9 : 117-118
Ka’ab bin Malik adalah sahabat Ansar yang membuat perjanjian dengan Nabi di Aqabah bersama-sama dengan rekan Ansar yang lain. Beliau mahir dalam bidang syair. Nabi menobatkan beliau menjadi penyair bersama-sama dengan Hasan bin Thabit dan Abdullah bin Rawahah. Dalm kitab Dalilul Falihin disebutkan, beliau terlibat dalam setiap peperangan bersama Nabi kecuali pada Perang Badar. Sewaktu di Uhud beliau mengalami 11 luka di badannya.
Nama Ka’ab bin Malik begitu menonjol dalam sejarah Islam karena isu Tabuk. Sewaktu datang panggilan untuk berjihad di Tabuk, beliau melakukan persiapan terlalu lama sehingga akhirnya ditinggalkan Nabi dan tentara-tentara Islam. Beliau sebenarnya tidak memiliki alasannya untuk tidak pergi ke Tabuk karena pada saat itu beliau dalam keadaan sehat dan memiliki harta yang cukup.
Sekembalinya Nabi dan tentara-tentara Islam di Madinah, golongan yang tidak pergi berperang di Tabuk, mayoritas golongan munafik, datang menemui Nabi untuk memohon maaf disertai dengan berbagai alasan dan halangan untuk menyelamatkan diri agar tidak dihukum. Sewaktu Ka’ab menemui Nabi, beliau berbicara benar, yaitu bahwa beliau tidak mempunyai alasan yang munasabah untuk meninggalkan jihad dan beliau bersedia dihukum.
Setelah mendengar penjelasan dari Ka’ab, Nabi berkata, “Adapun orang ini, dia berbicara benar. Allah telah turunkan keputusannya tentang dirimu.” Sikap Ka’ab dijadikan bahan ejekan golongan munafik. Mereka berkata, “Demi Allah, kamu tidak pernah melakukan kesalahan selama ini. Apa salahnya jika untuk kali ini kamu berdusta untuk menyelamatkan diri, “Namun, Ka’ab tetap pada pendiriannya semula.
Menurut Imam Bukhari dan Muslim, selain Ka’ab ada 2 (dua) sahabat lainnya yang juga tidak pergi ke Tabuk yaitu Murarah bin Rabiah dan Hilal bin Umayyah. Hukuman yang diberikan kepada Ka’ab bin Malik adalah tidak diizinkan berbicara dan bergaul dengan Nabi dan para sahabat selama 50 hari. Pada waktu itu bumi yang luas terasa sempit bagi Ka’ab dan imannya benar-benar diuji.
Pada suatu hari, Raja Ghassan yang beragama Kristen memberikan sepucuk surat kepada beliau. Isi surat itu adalah, “Telah sampai berita kepada kami bahwa sahabat-sahabatmu telah mengasingkanmu, Allah tidak menjadikan kamu untuk dihina di dunia ini. Datanglah ke tempat kami agar kami dapat memberikan kegembiraan kepadamu, “Setelah membaca surat itu Ka’ab berkata, “Ah, ini juga suatu bencana.”[3]
Akhirnya setelah genap 50 hari, Allah menerima tobat Ka’ab dan rekan-rekannya melalui firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 117-118, “ Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin, dan orang-orang ansar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling kemudian Allah menerima taubat mereka.
Sesungguhnya Allah Maha pengasih, maha Penyayang kepada mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Pengampunan dari Allah ini benar-benar membuat ka’ab gembira. Sewaktu Ka’ab menemui Nabi, beliau menyambutnya dengan wajah yang berseri-seri. Ka’ab berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkan diriku karena aku berbicara jujur. Sebagai tanda tobatku, aku tidak akan berbicara kecuali yang benar sepanjang sisa hidupku yang masih ada.”
Keberhasilan sahabat Ka’ab disebabkan beliau bersikap positif yang ditunjang iman dan aqidah. Beliau mampu bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya tanpa menyalahkan orang lain. Berhadapan dengan masalah, manusia biasanya mencari kambing hitam. Ka’ab tidak bersikap demikian. Beliau bersikap jujur terhadap diri sendiri dan orang lain.
Hal menarik berkaitan dengan pribadi Ka’ab bin Malik adalah dalam menghadapi kegagalan beliau rela untuk belajar dan memperbaiki diri untuk mencapai keberhasilan. Dalam proses ini beliau tegar dan tabah menghadapi ujian. Sewaktu para sahabat mengucilkan beliau, bumi yang luas terasa sempit. Namun Ka’ab menyadari bahwa penderitaan ini adalah jembatan keberhasilan dan keridaan ilahi. Beliau mengarunginya tanpa keluh kesah. Beliau lolos dari ujian ini bukan termotivasi oleh imbalan dan harta. Tetapi dimotivasi oleh iman dan takwa. Ini adalah acuan dan pikiran positif yang perlu kita teladani.[4]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada ayat 117 dengan demikian, Allah menerima tobat Nabi dan pengikut Nabi orang-orang muhajirin dan ansar. Pada ayat 118 dengan demikian, tiga orang yang ditinggalkan dalam Perang Tabuk dan tidak mengikutinya. Allah SWT. akan menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Disini berarti, Allah menerima tobat umatnya apabila mereka bersungguh-sungguh dengan tobatnya dan takan mengulangi kesalahan yang sama seperti apa yang mereka perbuat sebelumnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
DAFTAR PUSTAKA
As-Suyuthi, Jalaluddin. 2008. Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, Cet. 1.
Kairo : Darul-Taqwa.
Kementerian Agama RI. 2011. Terjemah Tafsir Perkata. Bandung : CV. Insan
Kamil.
Abidin, Danial Zainal. 2004. 7 Formula Untuk Menjadi Individu Yang Sukses.
Malaysia: PTS. Malaysia.
[1] Kementerian Agama RI, Terjemah Tafsir Perkata, (Bandung : CV. Insan Kamil, 2011), hal. 205-
206.
2008), hal. 308.
Malaysia, 2004), hal. 244-245.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar