Jumat, 05 Juni 2020

TEORI KEPRIBADIAN ERICH FROMM


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi Erich Fromm
From lahir pada tanggal 23 Maret 1900 di Frankfurt, Jerman, sebagai anak tunggal dari orangtua Yahudi Ortodoks kelas menengah. Ayahnya, Naphtali Fromm adalah putra seorang rabbi dan cucu dari dua rabbi. Ibunya, Rosa Krause Fromm adalah kemenakan Ludwig Krause, seorang sarjana Talmudik terkenal. Ketika masih kanak-kanak, Erich belajar Perjanjian Lama di bawah bimbingan beberapa sarjana kitab suci terkemuka, orang-orang yang dianggapnya sebagai “para humanis dengan toleransi yang sangat besar”.
Selama masa remaja, Fromm tergerak sangat dalam oleh tulisan-tulisan Freud dan Karl Marx. Namun, dia juga distimulasikan oleh perbedaan-perbedaan di antara kedua orang itu. Ketika Fromm menggali lebih dalam lagi, dia mulai mempertanyakan validitas kedua sistem tersebut. Fromm ingin memahami kaidah-kaidah yang mengatur hidup manusia individual juga kaidah-kaidah masyarakat.
Tahun 1925 sampai 1930, Fromm belajar psikoanalisis, pertama di Munich kemudian di Frankfurt dan akhirnya di Berlin Psychoanalytic Institute, tempat dia dianalisis oleh Hanns Sachs, salah satu murid Freud. Meskipun Fromm tidak pernah bertemu langsung dengan Freud, kebanyakan guru-gurunya selama tahun-tahun itu adalah murid langsung teori Freudian awal.
Pada tahun 1926, Fromm menikahi Frieda Reichmann, analisnya sendiri yang senioritasnya dalam psikoanalisis lebih dari 10 tahun di atas dirinya. Reichmann kemudian memperoleh reputasi internasionalnya atas kerjanya dengan pasien-pasien  skizoprenik. Namun, pada tahun 1930, Fromm dan Reichmann berserai, dan keduanya bermigrasi ke Amerika Serikat.
Pada tahun 1930, Fromm dan beberapa tokoh psikoanalisis mendirikan South German Institute for Psychoanalysis di Frankfurt namun, karena ancaman Nazi semakin besar, dia segera pindah ke Swiss, dan bergabung dengan International Institute of Social Research di Jenewa yang baru saja didirikan. Pada tahun 1933, dia menerima undangan untuk memberi serangkaian kuliah di Chicago Psychoanalytic Institute. Tahun-tahun berikutnya, di bermigrasi ke Amerika Serikat dan membuka praktik pribadi di New York City.
Pada tahun 1944, Fromm menikahi Henry Gurland, seorang perempuan yang dua tahun lebih muda darinya dan yang tertarik kepada pemikiran religi dan mistik. Tahun 1951, mereka pindah ke Meksiko untuk mencari iklim yang lebih hangat bagi Gurland yang menderita rematik persendian. Disana Fromm bergabung dengan National Autonomous University di Mexico City, tempat dia mendirikan departemen psikoanalitik di sekolah kedokteran itu.
Setelah istrinya meninggal pada tahun 1952, Fromm melanjutkan hidupnya di Meksiko dan bergantian menghuni rumahnya di Cuernavaca dan Amerika Serikat, tempat dia memegang beragam posisi akademis, termasuk profesor psikologi di Michigan State University sejak tahun 1957 sampai 1961, dan menjadi profesor di New York University sejak tahun 1962 sampai 1970.
Pada tahun 1953, Froom menikahi Annis Freeman. Pada 1968, Fromm menderita serangan jantung serius dan terpaksa mengurangi jadwal padatnya. Pada 1974, dia dan istri pindah ke Muralto, Swiss, tempat Fromm kemudian meninggal pada 18 Maret 1980, beberapa hai setelah ulang tahunnya yang ke 80.
Fromm memulai karir profesionalnya sebagai psikoterapis dengan menggunakan teknik psikoanalisis ortodoks, namun setelah 10 tahun ia mulai mengembangkan metode-metodenya sendiri yang lebih aktif dan konfrontasional. Selama beberapa tahun, ide-ide kultural, sosial, ekonomi dan psikologinya sudah meraih jumlah audiens yang luas. Diantaranya buku-bukunya yang terkenal yaitu:
1.      Escape from Freedom (1941)
2.      Man for Himself (1947)
3.      Psychoanalysis and Religion (1950)
4.      The Sane Society (1955)
5.      The Art of Loving (1956)
6.      Marx’s Concept of Man (1961)
7.      The Heart of Man (1964)
8.      The Anatomy of Human Destructiveness (1973)
9.      To Have or Be (1976)
10.  For the Love of Life (1986)[2]

B.     Asumsi-Asumsi Dasar Erich Fromm
Asumsi paling dasar Fromm yaitu kepribadian individu dapat dipahami hanya dalam terang sejarah manusia. From mengemukakan bahwa “diskusi mengenai situasi manusia selalu mendahului diskusi kepribadian, dan psikologi harus dilandaskan kepada konsep antropologis, filosofis tentang eksistensi manusia”.
From yakin bahwa manusia tidak seperti hewan, sudah “tercabut” dari kesatuan prasejarah mereka dengan alam (prehistoric union with nature). Mereka tidak memiliki insting-insting yang kuat untuk beradaptasi dengan dunia yang sedang berubah, tetapi mereka sanggup mengembangkan kemampuan rasionya, sebuah kondisi yang disebut Fromm “dilema manusia”.
Manusia mengalami dilema dasar ini karena sudah menjadi terpisah dari alam tetapi memiliki kemampuan untuk menjadi sadar akan diri mereka sebagai makhluk-makhluk yang terisolasi. Kemampuan manusia untuk menalar, merupakan berkah sekaligus kutukan. Di satu sisi mengizinkan manusia untuk bertahan, namun di sisi lain memaksa mereka untuk memecahkan dikotomi dasar yang tak terpecahkan. Fromm menyebut hal-hal ini “dikotomi-dikotomi eksistensial” karena mereka berakar  dalam eksistensi terdalam manusia.
Manusia tidak dapat menghindari dikotomi-dikotomi eksistensial ini karena berkain dengan budaya dan kepribadian individual masing-masing dikotomi-dikotomi tersebut yaitu:
1.      Dikotomi pertama merupakan dikotomi yang paling fundamental, yaitu berkenaan dengan hidup dan mati. Kesadaran diri dan rasio menyatakan pada kita bahwa kita pasti akan mati, kita berusaha mati-matian menegasikan dikotomi ini dengan mempostulasikan hidup sesudah mati. Sebenarnya upaya ini tidak akan pernah mengubah fakta bahwa hidup kita tetap akan berakhir dengan kematian.
2.      Manusia sanggup mengonsepsikan tujuan realisasi diri yang seutuhnya, namun kita juga sadar bahwa hidup terlalu singkat untuk mencapai tujuan tersebut.  Ia mengatakan bahwa “hanya jika masa hidup individu sama panjangnya dengan usia kemanusiaan, barulah dia dapat berpartisipasi  sepenuhnya dalam perkembangan manusia yang berlangsung dalam proses historis”.
3.      Manusia pada akhirnya sendirian saja meskipun kita tidak bisa menoleransikan pengisolasian. Manusia menyadari diri mereka sebagai individu yang berbeda dan di waktu yang sama percaya bahwa kebahagiaan mereka bergantungkepada perasaan bersatu dengan manusia lainnya. Meskipun manusia tidak dapat memecahkan seluruh persoalan kesendirian versus kesatuan ini, mereka harus tetap mengupayakannya atau terpaksa harus menempuh resiko kegilaan.[3]

C.    Kebutuhan Dasar Manusia
Manusia dimotivasikan oleh kebutuhan-kebutuhan fisiologis, seperti rasa lapar, seks dan rasa aman namun, dilemma manusia mereka tidak akan pernah terjawab dengan memuaskan kebutuhan-kebutuhan hewani ini saja. Hanya kebutuhan-kebutuhan yang khas manusiawi yang dapat menggerakkan seseorang menuju penyatuan kembali (reunion) dengan dunia alamiah. Kebutuhan-kebutuhan eksistensial ini muncul selama evolusi budaya manusia sejak awal, tumbuh subur dari upaya-upaya mereka menemukan jawaban bagi eksistensi mereka dalam menghindar dari menjadi gila. Bahkan Fromm (1955) yakin bahwa perbedaan terpenting antara individu yang mentalnya sehat dari penderita neurotic atau kegilaan adalah individu yang sehat menemukan jawaban bagi eksistensi mereka, yaitu jawaban yang berkaitan secara menyeluruh dengan kebutuhan total manusiawi mereka. Fromm meliputi dua kelompok kebutuhan yaitu:
a.      Kebutuhan Kebebasan dan Keterikatan
1.      Keterhubungan ( Relatedness)
Kebutuhan manusiawi atau eksistensial pertama adalah keterhubungan, yaitu dorongan untuk menyatu dengan sebuah pribadi atau pribadi-pribadi lainnya. Fromm mempostulasikan tiga cara dasar yang di dalamnya seseorang bisa berhubungan dengan dunia : ketundukan, menguasai, dan mencintai. Seseorang dapat tunduk kepada seseorang, sebuah kelompok atau sebuah institusi untuk menjadi satu dengan dunia. “Dengan cara ini dia mentransendensikan keterpisahan eksistensi individualnya dengan menjadi bagian dari seseorang atau sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sehingga mengalami identitasnya bersatu dengan kekuasaan yang kepadanya dia tunduk” (Fromm, 1981, hlm 2).
Jika pribadi yang tunduk mencari hubungan dengan pribadi yang sanggup mendominasi, maka pencari kekuasaan akan menyambut pasangan yang bersedia tunduk kepadanya itu. Ketika pribadi yang tunduk dan pribadi dominan saling bertemu, mereka sering membangun sebuah hubungan yang simbiotik, sebuah hubungan yang memuaskan kedua belah pihak.
Manusia dalam hubungan simbiotik tertarik satu sama lain bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusasaan kebutuhan terhdap keterhubungan. Namun kebutuhan ini sebenarnya tidak pernah bisa terpuaskan sepenuhnya oleh konsep pasangan semacam itu, karena yang melandasi kesatuan mereka adalah  rasa permusuhan bawah sadar. Manusia dalam relasi simbiotik berpotensi besar untuk menyalahkan pasangannya jika suatu saat tidak sanggup memuaskan sepenuhnya kebutuhan-kebutuhan mereka.
Fromm yakin bahwa cinta adalah satu-satunya rute yang dapat menyatukan seseorang dengan dunia dan pada waktu yang sama mencapai individualitas dan integritasnya sendiri. Dia mendefinisikan cinta sebagai “penyatuan dengan seseorang, atu sesuatu di luar dirinya dibawah kondisi yang mempertahankan keterpisahan sekaligus mempertahankan integritas kedirian seseorang itu sendiri”. Cinta mencakup berbagai (sharing) dan penyatuan (communion) dengan orang lain namun, cinta juga tetap membiarkan masing-masing pelakunya bebeas menjadi pribadi yang unik dan terpisah. Cinta memampukan seseorang memuaskan kebutuhan bagi keterhubungan tanpa harus menyerahkan integritas dan independensinya. Dalam cinta, dua orang menjadi satu namun tetap dua.
Dalam The Art of loving, Fromm (1956) mengidentifikasikan empat elemen dasar yang umum bagi semua bentuk cinta sejati: perhatian tanggung jawab, penghargaan, dan pengenalan. Seseorang yang mencintai harus memerhatikan pribadi yang dicintainya dan bersedia untuk merawatnya. Cinta juga berarti tanggung jawab, yaitu kesedian dan kesanggupan untuk merespons kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikologis pasangannya, menghargainya siapa pun dia, dan mengindari godaan untuk mengubah pasangannya itu. Namun manusia dapat menghargai seseorang hanya jika dia memiliki pengenalan tentang orang tersebut. Mengenal seseorang berarti melihat seseorang dari sudut pandang orang itu. Kalau begitu, perhatian, tanggung jawab, penghargaan, dan pengenalan saling terkait semuanya dalam sebuah hubungan cinta.
Erich Fromm (1957) membedakan cinta menjadi lima macam, yaitu:
1.      Cinta sahabat atau persaudaraan, adalah cinta yang paling dasar dan umum. Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain. Kehidupan kelompok, kebersamaan, interaksi sosial merupakan kebutuhan dasar dari individu. Untuk membentuk kehidupan bersama, kehidupan kelompok dan interaksi sosial yang baik perlu disadari oleh rasa senang, rasa bersahabat, rasa cinta dari seoarang individu terhadap individu yang lainnya.
2.      Cinta orang tua. Cinta ini merupakan cinta murni, sebab tanpa disadari oleh rasa pamrih atau imbalan apapun, cinta orang tua benar-benar ditujukan bagi kepentingan anaknya.
3.      Cinta erotik, merupakan cinta antara jenis kelamin yang berbeda, antara pria dengan wanita. Cinta ini disebut cinta erotik karena mengandung dorongan-dorongan erotik atau seksual.
4.      Cinta diri sendiri. Manusia adalah makhluk yang bisa bertindak sebagai subjek dan juga sebagai objek. Berkenaan dengan masalah cinta, objek cintanya bisa diri sendiri.
5.      Cinta Tuhan, merupakan manifestasi dari hubungan manusia dengan yang gaib, yaitu yang menciptakannya. Cinta Tuhan lahir dari keyakinan akan agamanya, dan akan Tuhannya yang menentukan segala kehidupannya. Cinta Tuhan juga merupakan manifestasi dari kesediaan makhluk unuk berbakti kepada-Nya.[4]
2.      Transendensi (Transcendence)
Manusia didorong oleh kebutuhan akan transendensi, didefinisikan Fromm sebagai desakan untuk naik mengatasi eksistensi pasif dan aksidentalnya menuju “wilayah kebertujuan dan kebebasan”. Sama seperti keterhubungan dapat dikejar entah melalui metode produktif dan nonproduktif, transendensi juga dapat dicari lewat pendekatan positif atau negatif. Manusia dapat mentransendensikan hakikat pasif mereka entah dengan menciptakan kehidupan atau menghancurkannya.
Manusia dapat menjadi kreatif dengan cara-cara lain, mereka dapat menciptakan seni, agama, ide-ide, hokum-hukum, produksi material, dan cinta. Mencipta berarti menjadi aktif dan merawat yang sudah diciptakan.
Dalam The Anatomy of Human Destructiveness, Fromm (1973) berpendapat bahwa manusia satu-satunya spesies yang menggunakan agresi sadistic (maglinant aggression) yaitu membunuh karena alasan yang lebih dari sekedar bertahan hidup. Meskipun agresi sadistic merupakan hasrat yang dominan dan kuat disejumlah individu dan budaya, namun ini bukan sifat umum semua manusia.
3.      Keberakaran (Rootedness)
Kebutuhan eksistensial ketiga adalah keberakaran atau kebutuhan untuk membangun akar-akar atau merasakan aman di dunia layaknya di rumah sendiri. Cara yang ideal adalah membangun suatu perasaan persaudaraan  dengan sesama umat manusia, suatu perasaan keterlibatan, perhatian yang hangat, cinta yang tulus, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaan solidaritas dengan orang lain memuaskan kebutuhan untuk berakar, untuk berkoneksi, dan berhubungan dengan dunia luas.[5]
Manusia dapat juga mencari keberakaran lewat strategi fiksasi yang nonproduktif sebuah keengganan yang berat untuk bergerak melampui amannya perlindungan yang disediakan ibu. Manusia yang berjuang mencapai keberakaran lewat fiksasi. “takut mengambil langkah berikutnya dari kelahiran, yaitu lepas dari ibu. Mereka memiliki hasrat mendalam untuk diasuh, dirawat, dan dilindungi oleh figure keibuan, mereka adalah orang-orang yang bergantung secara eksternal, selalu ketakutan, dan merasa tidak aman jika perlindungan ibu ditarik darinya.
Keberakaran dapat juga dilihat secara filogenetik dalam evolusi spesies manusia. Fromm setuju dengan Freud bahwa hasrat-hasrat insestik bersifat universal namun, dia tidak setuju dengan keyakinan Freud kalau dikatakan hasrat-hasrat itu pada esensinya seksual. Menurut Fromm (1995) perasaan-perasaan insestik didasarkan kepada “hasrat yang terpendam sangat dalam untuk tetap berada di dalam, atau untuk kembali kepada semua kemasan rahimik atau kepada buah dada yang memberinya makan”.
Konsepsi Fromm tentang kompleks Oedipus sebagai hasrat untuk kembali ke rahim atau ibu atau kepada pribadi dengan fungsi keibuan harus dilihat dari sudut ketertarikannya kepada perempuan-perempuan yang lebih tua.
4.      Rasa Identitas (Sense of Identity)
Kebutuhan manusiawi yang keempat adalah rasa identitas, atau kemampuan untuk menyadari dirinya sebagai sebuah identitas yang terpisah. Fromm (1981) percaya bahwa manusia primitif mengidentifikasi diri lebih kepada klan dan tidak melihat diri mereka sebagai individu yang terpisah dari kelompok mereka. Bahkan selama abad pertengahan manusia masih mengidentifikasikan diri kepada peran social mereka dalam hierarki feodal.
Fromm yakin bahwa kebangkitan kapitalisme sudah memberikan manusia kebebasan ekonomi dan politik yang lebih besar. Identitas kebanyakan orang masih terletak dalam kemelekatan mereka dengan orang lain, atau kepada institusi-institusi besar, seperti bangsa, agama, pekerjaan, dan kelompok social. Identitas klan pra-individualistik, sebuah identitas kawanan yang baru berkembang juga yang di dalamnya rasa identitas bergantung kepada perasaan kemelekatan, yang tak diragukan lagi, mengerucut pada kerumunan/kawanan (the crowd). Bahwa keseragaman dan konformitas sering kali tidak dipahami dengan cara seperti ini karena ditutupi oleh ilusi individualitas, tidak berarti mengubah fakta yang sesungguhnya.
Tanpa identitas, manusia tidak dapat mempertahankan kewarasan mereka, dan ancaman ini menyedikan motivasi kuat untuk melakukan hampir apapun yang bisa dilakukan demi mencapai rasa identitas. Penderita neurotic berusaha melekatkan diri mereka kepada orang-orang kuat atau kepada institusi social atau politis. Namun pribadi yang sehat tidak begitu memerlukan konfirmasi kawanan, atau menyerahkan rasa identitas dirinya ke tanagn kawanan. Mereka tidak harus menyerahkan kebebasan dan individualita mereka hanya agar cocok dengan masyarakat sehingga darinya mereka memiliki rasa identitas yang autentik.[6]
From menyebutkan bahwa kepribadian yang paling matang adalah kepribadian yang dapat memenuhi tuntutan umum hidup serta menciptakan identitas positif dan aktif.[7]
b.      Kebutuhan untuk memahami dan beraktivitas
1.      Kerangka Orientasi (Frame of Orientation)
Kebutuhan manusia yang terakhir adalah kerangka orientasi. Karena sudah tercabut dari alam, manusia perlu peta jalan, sebuah kerangka orientasi, untuk menjadi petunjuk jalan mereka ke dunia. Tanpa peta seperti itu, manusia akan “bingung dan tidak sanggup bertindak dengan suatu tujuan dan suatu konsistensi”.
Sebuah kerangka orientasi memampukan manusia mengorganisasikan beragam stimuli yang datang pada mereka. Manusia yang memiliki kerangka orientasi kukuh dapat memahami peristiwa-peritiwa dan fenomena, namun yang kekurangan kerangka orientasi berusaha keras memasukan peristiwa-peristiwa ke dalam kerangka tertentu agar bisa masuk akal mereka.
Sebuah peta jalan tanpa sebuah tujuan atau sasaran tetap saja tidak berharga. Manusia memiliki kapasitas mental untuk membayangkan banyak jalan alternative untuk diikuti. Namun untuk bisa bertahan dari menjadi gila, mereka perlu tujuan akhir atau “objek devosi” yang tepat. Menurut Fromm, tujuan atau objek devosi ini berfokus pada energy manusia dalam sebuah arah yang tunggal, yang memampukan kita mentransendensikan eksistensi kita yang terisolasi, dan memberikan makna bagi hidup kita.[8]
2.      Kerangka Kesetiaan (Frame of Devotion)
Kebutuhan untuk memiliki tujuan hidup yang mutlak. Seseorang membutuhkan sesuatu yang dapat menerima seluruh pengabdian hidupnya, sesuatu yang membuat hidupnya menjadi bermakna.
3.      Keterangsangan-Stimulus (Exciation-Stimulation)
Kebutuhan untuk melatih sistem saraf, untuk memanfaatkan kemampuan otak. Manusia membutuhan stimulus yang mengaktifkan jiwa, yaitu stimulus yang tidak cukup direaksi saat itu, tetapi harus di respon secara aktif, produktif, dan berkelanjutan.
4.      Keefektifan (Effectivity)
Kebutuhan untuk menyadari eksistansi diri melawan perasaan tidak mampu dan melatih kompetensi/ kemauan.[9]

D.    Gangguan-Gangguan Kepribadian
Jika manusia yang sehat sanggup bekerja, mencintai dan berpikir secara produktif, maka kepribadian yang tidak sehat ditandai oleh masalah-masalah di tiga wilayah tersebut, khususnya kegagalan untuk mencintai secara produktif. From (1981) yakin bahwa pribadi yang terganggu secara psikologis tidak sanggup mencintai dan gagal membangun kemenyatuan dengan orang lain[10]. Dia menemukan tiga gangguan kepribadian yang berat yaitu:
1.      Nekrofilia (Necrophilia)
Istilah “nekrofilia” berarti mencintai yang mati dan biasanya mengacu kepada penyimpangan seksual dengan mayat. Namun begitu, Fromm (1964,1973) menggunakan nekrofilia dalam pengertian lebih umum untuk merujuk pada ketertarikan apapun terhadap hal-hal yang bersifat kematian. Nekrofilia adalah orientasi karakter alternatif dari biofilia. Manusia secara alamiah mencintai kehidupan, namun ketika kondisi-kondisi sosial menghambat pertumbuhan biofilia, mereka bisa mengadopsi orientasi nekrofilia.
Kepribadian nekrofilia membenci kemanusiaan; mereka biasanya rasis, suka berselisih dan suka menganiyaya; mereka mencintai pertumpahan darah, destruksi, teror dan siksaan; mereka sangat gembira jika menghancurkan kehidupan. Mereka adalah pendukung kuat hukum dan keteraturan; sangat suka membicarakan tentang penyakit, kematian dan pemakaman; dan mereka bisa memperloh kepuasan dari barang-barang yang jorok, busuk, mayat dan fases. Mereka lebih menyukai malam daripada siang, dan suka bekerja dalam kegelapan dan remang-remang.
Pribadi nekrofilia tidak memilih untuk bersikap destruktif, karena lebih tepatnya, perilaku destruktif mereka justru cerminan dari karakter dasar mereka itu sendiri. Semua orang dapat bersikap agresif dan destruktif dalam waktu-waktu tertentu namun disepanjang hidupnya, pribadi nekrofilia memberontak disekitar kematian, destruksi, penyakit, dan kemerosotan.[11]
2.      Narsisme Sadistik (Malignat Narcissism)
Sama seperti semua orang menunjukan beberapa prilaku nekrofilia, begitu pula semua orang bisa memiliki beberapa kecenderungan narsistik. Narsistik atau narsisme adalah suatu diposisi kepribadian yang lebih dalam dari sekedar self esteem yang tinggi, dan juga merasa superior dibandingkan sebagian besar orang, mencari pujian, sensitive terhadap kritik, kurang dapat berempati terhadap orang lain, dan ekssploitatif.[12]
 Manusia yang sehat memanifestasikan bentuk narsisme yang lebih lembut, yaitu ketertarikan kepada tubuhannya sendiri. Namun dalam bentuknya yang sadis, narsisme menghalangi persepsi mengenai realitas sehingga segala sesuatu yang melekat pada orang lain dinilai sangat rendah.
Individu-individu narsistik asik dengan dirinya sendiri, namun perhatian ini tidak terbatas hanya pada mengagumi diri di depan cermin. Keasyikan dengan tubuh sendiri seringkali mengarah pada hipokondriasis, sebuah perhatian obsesif terhadap kesehatan sendiri. Fromm (1964) juga menemukan hipokondriasis moral, atau keasyikan dengan rasa bersalah terhadap kekeliruan-kekeliruan sebelumnya. Manusia yang memfikasi dirinya tampaknya menginternalisasikan pengalaman-pengalaman mereka sendiri, untuk kemudian duduk bertengger di atas kesehatan fisik dan kebaikan moralnya.
Pribadi narsistik memiliki apa yang disebut Horney “klaim-klaim neurotic”. Mereka mencapai rasa aman dengan memegang erat-erat keyakinan yang terdistrosi bahwa kualitas personal mereka yang luar biasa sudah member mereka superioritas di atas siapapun. Karena apa yang mereka miliki-penampilan, kesehatan fisik, kekayaan begitu menakjubkan. Sehingga mereka percaya tidak perlu melakukan apapun untuk membuktikan nilai mereka. Rasa keberhagaan mereka bergantung pada gambar diri mereka yang narsistik dan bukannya kepada pencapaian-pencapaian mereka yang sebenarnya. Ketika upaya-upaya mereka dikritik orang lain, mereka akan bereaksi dengan penuh kemarahan dan kekasaran, sering kali mebalas pengkritiknya dan berusaha menghancurkan mereka sampai habis. Jika kritik terlalu menohok sehingga mereka tidak sanggup menghancurkannya, maka mereka menyimpan kemarahan itu dalam dirinya. Hasilnya adalah depresi, perasaan tak berharga. Meskipun depresi, rasa bersalah yang besar dan hipokondiarsis bisa tampak sebagai apapun kecuali pengagungan diri, Fromm percaya bahwa masing-masing hal ini dapat mengarah kepadanya narsisme yang lebih dalam.[13]


3.      Simbiosis Insestik (Incestuous Symbiosis)
Orientasi patologis ketiga adalah Simbiosis insestik, atau ketergantungan ekstrem terhadap ibu atau bayang-bayang ibu. Simbiosis insestik adalah bentuk yang berlebih-lebihan dari fikasi ibu yang lebih umum dan halus sifatnya. Manusia dengan fikasi ibu memerlukan seorang untuk memperhatikan, merawat, dan mengagumi mereka, merasa cemas dan depresi jika kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi. Kondisi ini relatif normal dan tidak trlalu campur aduk dengan hidup mereka sehari-hari. 
Namun dalam simbiosis insestik, manusia terpisah dari pribadi yang inang pengasuhnya. Kepribadian mereka bercampur aduk dengan kepribadian yang lain dan identitas-identitas individual mereka hilang. Simbiosis insestik berasal dari masa bayi sebagai kemelekatan alamia kepada pengasuh ibu kemelekatan merupakan sesuatu yang lebih kursial dan fundamental dari pada ketertarikan seksual yang mungkin berkembang   juga selama periode Oedipal. Namun Fromm lebih setuju kepada Harry Stack Sullivan dari pada  Freud, bahwa kemelekatan kepada ibu lebih diakibatkan oleh kebutuhan rasa aman dan bukannya seks. Fromm (1946) “dorongan-dorongan sekssual bukan penyebab fiksasi kepada ibu, melainkan akibatnya.” 
Manusia yang hidup dalam hubungan simbiotik insestik merasa kecemasan dan ketakutan yang ekstrem jika sampai hubungan itu terancam. Mereka yakin tidak dapat hidup tanpa pengganti ibu. Inang pengasuh tidak selalu berupa manusia lain-dia bisa berupa keluarga, bisnis, komunitas kerja, atau sebuah bangsa. Orientasi insestik mendistorsi penalaran kekuasaan, menghancurkan kapisitas bagi cinta autentik, dan mencegah manusia dari mencapai indenpendensi dan integritas.
Beberapa individu patologis memiliki ketiga gangguan kepribadian ini; yaitu mereka tertarik kepada hal-hal yang mati (nekrofilia), memperoleh kesenangan diri menghancurkan orang-orang yang dianggap sebagai inferior (narsisme sadistik) dan memiliki hubungan simbiotik neurotic dengan ibu atau figure pengganti ibu mereka (simbiosis insestik). Pribadi seperti ini membentuk apa yang disebut Fromm sindrom kemerosotan (syndrome of decay). Dia mengontraskan pribadi patologis ini dengan mereka yang ditandai oleh sindrom pertumbuhan (syndrome of growth), yang disusun dari kualitas-kualitas yang berlawanan yaitu biofilia, cinta, dan kebebasan positif.[14]

E.     Konsep Kemanusiaan
Lebih dari teoritisi manapun, Erich Fromm menekankan perbedaan antara manusia dan hewan-hewan lainnya. Hakikat esensial dari manusia terletak pada pengalaman unik mereka “berada di alam dan menjadi subjek bagi semua keindahannya, dan secara serempak mentransendensikan hakikatnya” (Fromm, 1992, hlm. 24) Dia yakin kalau hanya manusia yang sadar akan dirinya sendiri dan pengalaman mereka.
Yang lebih spesifik, pandangan Fromm tentang kemanusiaan terkumpul dalam defenisinya mengenai spesies: “Spesies manusia dapat didefinisikan sebagai primate yang muncul di titik evolusi dimana determinisme insting telah mencapai minimum dan perkembangan otak maksimum” (Frommm, 1976, hlm. 137). Umat manusia kalau begitu, adalah makhluk aneh di alam semesta, satu-satunya spesies yang sudah mengembangkan kombinasi kekuatan insting minimal dan perkembangan otak maksimal. “dengan berkurangnya kapisitas untuk bertindak lewat perintah insting namun memiliki kapisitas bagi kesadaran diri, rasio dan imajinasi. Spesies manusia memerlukan sebuah kerangka orientasi dan sebuah objek pemujaan agar tetap bisa bertahan hidup”. (hlm 137)
Namun perjuangan bertahan hidup ini harus dibayar dengan kecemasan dasar, rasa kesendirian/kesepian, dan rasa ketidakberdayaan. Di setiap zaman dan budaya, manusia menghadapi masalah fundamental yang sama, yakni bagaimana melarikan diri dari rasa keterkucilan dan menemukan kemenyatuan dengan alam dan dengan orang lain.
Secara umum, Fromm pesimistik sekaligus optimistik. Di satu sisi, dia yakin hanya kebanyakan orang tidak dapat mencapai penyatuan kembali dengan alam atau dengan sesamanya karena hanya sedikit saja orang yang sanggup mencapai kebebasan positif tersebut. Dia juga memiliki sikap yang agak negative kepada kapitalisme modern, yang ditegaskannya bertanggung jawab bagi perasaan terkucilkan dan kesepian sebagian besar manusia sembari bergantung secara putus asa terhadap ilusi independensi dan kebebasan. Di sisi lain, Fromm cukup punya harapan untuk percaya bahwa beberapa orang akan mencapai penyatuan kembali dan karenanya menyadari potensi kemanusian mereka. Dia juga percaya manusia dapat mencapai rasa identitas, kebebasan positif, dan menumbuhkan individualitasnya dalam batas-batas masyarakat kapitalistik.
Mengenai dimensi bebas versus optimisme, Fromm mengambil posisi tengah menekankan bahwa masalah ini tidak bisa diaplikasikan kepada seluruh spesies. Namun dia percaya bahwa individu memiliki tingkat kecenderungan yang semakin tinggi menuju tindakan yang dipilih dengan bebas, meskipun mereka jarang menyadari semua alternatif yang mungkin tersedia. Meskipun begitu, kemampuan mereka untuk menalar memampukan orang lain mengambil bagian aktif dalam takdir mereka sendiri.
Mengenai dimensi kuasalitas versus teologi, Fromm cenderung agak mendukung teologi. Dia yakin bahwa manusia secara konstan memperjuangkan sebuah kerangka orientasi, sebuah peta jalan untuk merencanakan hidup mereka di masa depan. Namun Fromm mengambil posisi tengah dalam hal motivasi yang disadari versus tidak disadari, lebih sedikit berpihak kepada motivasi yang disadari, dan menegaskan bahwa salah satu dari sifat manusia yang unik adalah kesadaran diri. Manusia adalah satu-satunya hewan yang dapat menalar, memvisualisasikan masa depan, dan berjuang dengan sadar kearah tujuan yang dibentuknya sendiri. Walaupun demikian Fromm juga menegaskan bahwa kesadaran diri ini adalah sebuah anugrah yang bercampur aduk, dan banyak orang merepresi karakter dasar mereka demi menghindari kecemasan yang menumpuk.
Mengenai masalah pengaruh sosial versus pengaruh biologis, Fromm lebih mementingkan  pengaruh sejarah, budaya, dan sosial dari pada biologi. Meskipun dia menekankan bahwa kepribadian manusia ditentukan secara historis dan cultural, dia tidak mendukung foktor-faktor biologis juga, malah mendiefinisikan manusia sebagai makhluk aneh di alam semesta.
Akhirnya, sementara Fromm meletakkan penekanan yang moderat pada kemiripan di antara manusia, dia juga mengizinkan ruang bagi sejumlah individualitas. Dia yakin bahwa meskipun sejarah dan budaya sangat memengaruhi kepribadian, manusia dapat mempertahankan sejumlah derajat keunikannya. Manusia adalah sebuah spesies yang memiliki kebutuhan manusiawi yang sama namun, pengalaman-pengalaman antar pribadi disepanjang hidup seseorang memberi mereka sejumlah keunikan.[15]
Erich Fromm menekankan iklim social seperti haknya sejarah pribadi individual sebagai sumber kemarahan dan kebencian. Fromm berteori bahwa individu merasa lebih sendiri dan terisolasi seiring dengan kemajuan peradaban dan seiring dengan meningkatnya kebebasan individual yang diperoleh orang-orang. Dalam rangka meniadakan perasaan kesepian dan aliensi, ia berteori beberapa orang meninggalkan kebebasannya, melepaskan individualitas dan prinsip-prinsipnya agar dapat menjadi bagian kelompok, berapa pun harganya.
Meskipun demikian, sebagai seorang psikoanalisis, Fromm menambahkan pentingnya relasi pada awal kehidupan. Ia menerima berbagai mekanisme yang berlangsung di dalam individu yang menyerupai kecenderungan neurotik sebagaimana didefinisikan Horney. Orang yang memiliki tipe kepribadian authoritarian sering kali gemar bertindak kejam untuk mendesakkan kekuasaannya terhadap orang lain, menganiaya mereka, dan merampas milik mereka menurut Fromm, karakteristik kepribadian ini diakibatkan oleh suatu relasi tertentu yang negatif dengan orang tuanya.[16]








BAB III
PENUTUP
Erich From lahir pada tanggal 23 Maret 1900 di Frankfurt, Jerman, sebagai anak tunggal dari orangtua Yahudi Ortodoks kelas menengah. Ayahnya, Naphtali Fromm adalah putra seorang rabbi dan cucu dari dua rabbi. Ibunya, Rosa Krause Fromm adalah kemenakan Ludwig Krause, seorang sarjana Talmudik terkenal. Ketika masih kanak-kanak, Erich belajar Perjanjian Lama di bawah bimbingan beberapa sarjana kitab suci terkemuka, orang-orang yang dianggapnya sebagai “para humanis dengan toleransi yang sangat besar”.
Asumsi paling dasar Fromm yaitu kepribadian individu dapat dipahami hanya dalam terang sejarah manusia. From mengemukakan bahwa “diskusi mengenai situasi manusia selalu mendahului diskusi kepribadian, dan psikologi harus dilandaskan kepada konsep antropologis, filosofis tentang eksistensi manusia”.
      Kebutuhan dasar manusia terdiri atas:
1.      Keterhubungan ( Relatedness)
2.      Transendensi (Transcendence)
3.      Keberakaran (Rootedness)
4.      Rasa Identitas (Sense of Identity)
5.      Kerangka Orientasi (Frame of Orientation)
6.      Kerangka Kesetiaan (Frame of Devotion)
7.      Keterangsangan-Stimulus (Exciation-Stimulation)
8.      Keefektifan (Effectivity)
Gangguan-gangguan kepribadian menurut Fromm terbagi tiga:
1.      Nekrofilia (Necrophilia)
2.      Narsisme Sadistik (Malignat Narcissism)
3.      Simbiosis Insestik (Incestuous Symbiosis)
Konsep kemanusiaan terkumpul dalam defenisinya mengenai spesies: “Spesies manusia dapat didefinisikan sebagai primate yang muncul di titik evolusi dimana determinisme insting telah mencapai minimum dan perkembangan otak maksimum” .



DAFTAR PUSTAKA
Baihaqi, MIF. 2008. Psikologi Pertumbuhan (Kepribadian Sehat untuk
Baron , Robert A dan Donn Byrne. 2005. Psikologi SosialTerjemahan oleh Ratna
Djuwita dkk. Jakarta: Erlangga.
Feist Jess & Gregory J. Feist. 2008.  Theories of Personality, diterjemahkan oleh
Yudi SantosoYogyakarta: Pustaka Pelajar.
Friedman Howard S. dan Miriam W. Schustack. 2008. Personality (Classic
Theories and Modern Research), diterjemahkan oleh Fransiska Dian
Ikarini, dkk, dengan judul Kepribadian (Teori Klasik dan Riset Modern) Jilid 1Jakarta: Erlangga.
Friedman , Howard S. dan Miriam W. Schustack. 2008. Personality (Classic
Theories and Modern Research), diterjemahkan oleh Fransiska Dian
Ikarini, dkk, dengan judul Kepribadian (Teori Klasik dan Riset Modern) Jilid 2. Jakarta:Penerbit Erlangga.
Hambali , Adang dan Ujam Jaenudin. 2013. Psikologi Kepribadian Lanjutan
(Studi atas Teori dan Tokoh Psikologi Kepribadian). Bandung: Pustaka
Setia.
Rosyadi, Khoirul. 2000. Cinta dan KeterasinganYogyakarta: LkiS Pelangi
Aksara.
Sukmadinata,  Nana Syaodih. 2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mengembangkan Optimisme)Bandung: Remaja Rosdakarya.



[1] Khoirul Rosyadi, Cinta dan Keterasingan, (Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara, 2000), hlm. 72.
[2] Jess Feist & Gregory J. Feist, Theories of Personality, diterjemahkan oleh Yudi Santoso, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 165-167.
[3] Ibid., hlm. 167.
[4] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 86
[5] MIF Baihaqi, Psikologi Pertumbuhan (Kepribadian Sehat untuk Mengembangkan Optimisme), (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 117.
[6] Jess Feist & Gregory J. Feist, Op, Cit., hlm. 167-171.
[7] Howard S. Friedman dan Miriam W. Schustack, Personality (Classic Theories and Modern Research), diterjemahkan oleh Fransiska Dian Ikarini, dkk, dengan judul Kepribadian (Teori Klasik dan Riset Modern) Jilid 1, (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 341.
[8] Jess Feist & Gregory J. Feist, hlm. 170.
[9] Adang Hambali dan Ujam Jaenudin, Psikologi Kepribadian Lanjutan (Studi atas Teori dan Tokoh Psikologi Kepribadian), (Bandung: Pustaka Setia, 2013), hlm. 123-124.
[10] Jess Feist & Gregory J. Feist, Op, Cit., hlm. 175.
[11] Jess Feist & Gregory J. Feist ,Op, Cit., hlm. 176.
[12] Robert A Baron dan Donn Byrne, 2003, Psikologi SosialTerjemahan oleh Ratna Djuwita dkk. (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 36
[13] Jess Feist & Gregory J. Feist, Op, Cit., hlm. 176.
[14] Ibid.,hlm. 176-177.
[15] Ibid., hlm.183-184.
[16] Howard S. Friedman dan Miriam W. Schustack. Personality (Classic Theories and Modern Research), diterjemahkan oleh Fransiska Dian Ikarini, dkk, dengan judul Kepribadian (Teori Klasik dan Riset Modern) Jilid 2(Jakarta:Penerbit Erlangga: 2008), hlm. 131

Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...