BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Islam di Dunia
a. Perkembangan Ekonomi di Dunia Islam[1]
- Selama berabad-abad umat Islam hidup dalam tekanan kaum penjajah Barat. Kondisi umat Islam sangat memprihatinkan, baik dari segi politik, ekonomi, sosial, pendidikan, maupun kebudayaan. Keadaan itu mulai berubah setelah munculnya kesadaran umat Islam di seluruh dunia untuk bangkit melawan bangsa penjajah, dan berusaha sekuat tenaga meraih kemerdekaan dan kebebasan dari kekangan kaum kolonialis Barat.
Setelah merdeka, umat Islam berusaha membangun negaranya masing-masing, menentukan masa depan bangsa dan negaranya sendiri, dan menjalin kerja sana yang kuat antara sesama negara Islam untuk menjaga stabilitas keamanan dalam dan luar negeri. Negara-negara Islam bangkit sebagai negara-negara baru, yang lebih demokratis dan berdaulat, bebas dari tekanan negara lain, bahkan mulai menggalang solidaritas dan persatuan antar sesama negara Islam.
Menjelang abad ke-20 negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah menemukan sumber-sumber minyak bumi dan gas yang memiliki cadangan cukup melimpah. Sumber daya alam itu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan dan pembangunan bangsa-bangsa di kawasan itu. Pada akhir perang dunia kedua, produksi minyak negara-negara Arab semakin meningkat melebihi 20.000 barel per hari, sehingga dapat meningkatkan devisa negara-negara di kawasan itu.
Keadaan ini menjadikan negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah sangat diperhitungkan dalam percaturan ekonomi dunia. Sebab kebijakan produksinya sangat menentukan stabilitas industri dan ekonomi bangsa-bangsa lain, khususnya bangsa Barat di sisi lain, bangsa-bangsa di kawasan itu juga memiliki devisa yang cukup melimpah, melebihi kebutuhan negaranya.
Sejak tahun 1963 M negara-negara Arab telah menjadikan kekuatan dunia di bidang ekonomi karena cadangan devisanya yang bermiliar dollar berhasil dihimpun. Banyak negara Islam yang turut menikmati limpahan kekayaan tersebut, berupa bantuan untuk membangun negaranya masing-masing seperti Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Indonesia, Nigeria, Uganda, Mali, Somalia, Niger, Afghanistan, dan sebagainya.
b. Perkembangan Politik Dunia Islam
Umat Islam secara politik mulai bangkit sejak pertemuan umat Islam di Mekah atas prakarsa organisasi Pan-Islamisme. Negara-negara Islam mulai melakukan perlawanan terhadap penjajah di negara masing-masing. Misalnya, di Indonesia muncul berbagai gerakan umat Islam melawan penjajah Belanda. Mereka berjuang dengan gigih dan pantang menyerah, seperti Imam Bonjol (1821-1837), Pangeran Diponegoro (1825-1830), Sultan Ageng Tirtayasa (1888 M) dan para tokoh pejuang lainnya, yang terus gigih mengusir para penajajah di tanah air. Di Al-Jazair muncul Abdul Qadir, di Kaukasus muncul Syamil, di Sudan muncul Al-Mahdi, dan begitu juga di negara-negara Islam lainnya.
Kebangkitan politik dunia Islam itu, dimanfaatkan kaum muslimin untuk mengusir para penjajah Barat dari negaranya masing-masing, sehingga mereka dapat meraih kemerdekaan dengan hasil kerja kerasnya melawan penjajahan. Misalnya Indonesia meraih kemerdekaan tahun 1945, disusul Irak pada tahun yang sama, Syiria pada tahun 1946, India dan Pakistan pada tahun 1947, Libia tahun 1952, Sudan tahun 1955, Maroko tahun 1956, Tunisia dan Malaysia tahun 1957, dan begitu seterusnya umat Islam di seluruh dunia dapat merebut kemerdekaan bangsanya.
c. Perkembangan Pendidikan Dunia Islam
Umat Islam mulai bangkit kesadaran pendidikannya, sejak akhir abad ke-19 M. Pada saat ini, kaum muslim di seluruh dunia menyadari keterbelakangannya dan ketertinggalannya dari bangsa Barat. Para ulama, khususnya di Mesir mulai mencari penyebab yang membuat umat Islam terbelakang, dan mencoba mengkaji dan memahami kemajuan bangsa barat saat itu. Akhirnya, para ulama dan pemerintah di Mesir sepakat bahwa sistem pendidikan Islam harus diubah dan disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Pemerintah Mesir banyak mengirim para pelajar ke luar negeri, khususnya Eropa, seperti Prancis, Inggris, Austria, dan lainnya. Para pelajar itu kemudian pulang ke negerinya dan melakukan pembaruan di bidang pendidikan dan pemikiran Islam. Hasilnya, Mesir meraih kemajuan yang gemilang di bidang pendidikan, sosial, politik, dan ekonomi.
Keberhasilan Mesir kemudian diadopsi oleh negara-negara Islam lainnya, baik yang ada di kawasan Asia maupun Afrika. Negara-negara itu mengirimkan para pelajarnya ke Mesir, untuk belajar di Universitas Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan percontoan dunia Islam. Sistem pendidikan Al-Azhar menjadi rujukan bagi lembaga pendidikan Islam di seluruh dunia, seperti di Indonesia terdapat Madrasah Ibtidaiyh, Tsanawiyah, Aliyah, dan bahkan perguruan tinggi seperti IAIN, STAIN, UIN dan sebagainya, yang keseluruhannya semula mengdopsi sistem pendidikan Al-Azhar.
Sejak itulah, dunia pendidikan Islam mulai bangkit dan terus berkembang sampai saat ini. Bahkan umat Islam mulai banyak yang memadukan antara sistem pendidikan Islam dengan pendidikan umum, yang diharapkan akan lahir generasi penerus yang handal yaitu selain memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, juga berakhlak mulia.
B. Peristiwa-Peristiwa Penting dan Tokoh-Tokoh yang Berprestasi Dalam Perkembangan Islam
1. Peristiwa perkembangan Islam di Benua Afrika dan tokoh-tokohnya
Sebenarnya agama Islam masuk ke Benua Afrika sejak zaman Rasulullah saw masih hidup. Bahkan beliau pernah mengirim 15 orang delegasi untuk menyebarkan agama Islam di wilayah itu, khususnya di daerah Etiopia. Oleh sebab itu, wajar jika agama Islam terus berkembang di Benua Afrika sampai saat ini. Hampir semua negara di wilayah itu mempunyai penduduk muslim, bahkan sebagian besar negara-negara di Afrika mengaku sebagai negara Islam dan menjadi anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI). Di antara negara-negara itu ialah sebagai berikut:
a. Etiopia
Islam masuk ke Etiopia sejak zaman Rasulullah SAW masih hidup. Para juru dakwah yang pertama kali menginjakkan kaki ke wilayah itu sebanyak 15 orang, dengan pimpinan rombongan Ja’far bin Abu Tholib. Mereka diutus langsung oleh Rasulullah SAW untuk menegakkan panji-panji Islam di negeri itu. Sudah sewajarnya, jika agama Islam merupakan agama mayoritas penduduk negeri itu, dan urutan keduanya adalah agama Kristen.
Pada umumnya, umat Islam Etiopia bermadzhab Syafi’i, sebagian menganut madzhab Hambali dan Hanafi. Umat Islam Etiopia saat ini, lebih kurang 17.289.000 orang atau 65% dari total penduduk yang ada.
b. Sudan
Sudan merupakan salah satu negara yang ada di benua Afrika. Agama Islam masuk ke Sudan sejak zaman Khalifah Utsman bin Affan, dengan juru dakwah Abdullah bin Sa’id bin Abi Sarah. Setelah itu, agama Islam mengalami perkembangan yang begitu pesat, sehingga beberapa abad kemudian berdiri beberapa kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Al-Funji (1505-1820), kesultanan Darafura (1638-1875), dan kesultanan Taqli pada tahun 1570 sampai akhir abada ke-19 Masehi.
Setelah Amr bin Ash menaklukan Mesir, dia mengirim Abdullah bin Sa’id bin Abi Sarah ke negeri yang berada di putaran selatan ini. Maka sampailah Abdullah bin Dungalah pada tahun 31 H, dan mulailah kabilah-kabilah Arab ini berangkat menuju Sudan. Lalu, berhijrahlah ke sana > 1000 orang Umayyah, setelah berdirinya Pemerintahan Abbasiyah pada tahun 132 H/ 749 M.
Kaum muslimin menguasai kerajaan-kerajaan Nasrani di Sudan pada abad ke-2 H/8 M. Diantara kerajaan Islam terbesar yang pernah berdiri di sana adalah kesultanan az-Zarqa (Kerajaan Fuwang) dengan ibukotanya Sinar antara tahun 911-1237 H/ 1505-1821 M, lalu berdiri kerajaan Fauri dengan ibukotanya Tarah, setelah runtuhnya kesultanan az-Zarqa’. Kemudian Mesir menguasai Sudan pada masa Muhammad Ali Pasya pada tahun 1236 H/ 1821 M. Mereka tetap bertahan hingga berdirinya Pemerintahan Mahdiyah di bawah pimpinan Muhammad Ahmad al-Mahdi (1299-1317 H/ 1881-1899 M).
Pada tahun 1376 H/ 1956 M negara ini mengumumkan kemerdekaan penuhnya di bawah pimpinan Ismail al-Azhari, lalu diikuti oleh Pemerintahan Abdulah Khalil pada tahun 1957 M. setelah kudeta militer, Negara itu dipimpin oleh Fariq Ibrahm Abud pada tahun 1958-1963 M. Kemudian lewat revolusi rakyat bawah tanah, kekuasaan diambil alih oleh al-Khatmi Khalifah (1965-1696 M). Pada tahun 1389 H/ 1969 M terjadi kudeta dibawah pimpinan Ja’far Muhammad Numairi (1969-1985 M) dia berkuasa hingga jatuh karena revolusi rakyat. Lalu, kekuasaan dipegang oleh pemerintahan transisi dibawah pimpinan Marsekal Abdurahman Suwar adz-Dzahab (1985-1986 M).
Maka, diselenggarakanlah pemilihan umum yang dimenangkan oleh Ahmad Mirghoni (1986-1989 M). Pada tahun 1410 H/ 1989 M terjadi kudeta militer dipimpin oleh presiden sekarang Umar Hasan Ahmad al-Basyir yang pengangkatan resminya sebagai presiden telah dilaksanakan sesuai memenangkan pemilu pada tahun 1996 M/ 1417 H. Sudan telah menderita dari sejak kemerdekaannya disebabkan oleh kekacauan dan tidak adanya kestabilan politik, sehingga mengakibatkan timbulnya sejumlah kudeta militer. Negeri ini tertinggal bidang peradaban dan ekonomi akibat perang saudara yang menghancurkan yang terjadi secara terus menerus (di Sudan selata) sejak tahun 1983 M.[2]
Ketika dunia Islam sedang terpuruk oleh kolonialisme penjajah Barat, umat Islam Sudan mengalami berbagai tekanan, terutama tekanan akidah Islam yang dilancarkan para penjajah Barat. Namun dibawah pimpinan presiden Ghofar Numairi, umat Islam Sudan mulai bangkit dan bertekada melakukan Islamisasi di berbagai bidang.
Beberapa peraturan perundang-undangan telah dibuat oleh presiden Ghofar Numairi yang lebih cenderung ke arah pembentukan negara Islam. Diantara peraturan itu adalah sebagai berikut:
1. Negara dilarang mengimpor, memproduksi, dan menjual minuman keras meskipun negara kehilangan pendapatan pajak 215 milyar rupiah.
2. Slogan kehormatan resmi negara (semacam kata “hormat”) yang harus digunakan oleh angkatan bersenjata adalah kalimat “Allahu Akbar”.
3. Seluruh jenis pajak dihapuskan kemudian dibentuk dewan zakat yang dipimpin oleh 3 kementerian.
c. Tanzania
Negara ini Berdiri karena federasi Tanzaniko dan Zanjibar yang terbentuk pada tahun 1384 H di Afrika Timur. Luas wilayahnya mencapai 945.087 km2, dengan jumlah penduduk sebanyak 30 juta jiwa menurut data statistik tahun 1419 H/1998 M. [3]
Dahulu kaum muslimin berhijrah dan tinggal di sepanjang pesisir Afrika Timur. Orang-orang Arab ini telah sampai di pantai Tanzania. Mereka telah berdiam di sana sejak awal abad ke-2 H/8 M. Islam lalu tersebar melalui tangan mereka. Maka berdirilah emirat-emirat Islam. Diantaranya adalah kerajaan Zang (pada abad ke-4 H/ 10 M) yang menyebarkan Islam di wilayah-wilayah yang luas.[4]
Mayoritas penduduk Tanzania adalah muslim (70%). Ibu kota negara itu adalah Darussalam. Meskipun umat Islam di negeri itu mayoritas, namun secara politik mereka belum mampu memegang tampuk kekuasaan. Presiden negeri itu seorang Kristiani bernama Yulius Nyerere, karena itu pekembangan Islam disana menemui banyak hambatan. Semua sekolah termasuk madrasah-madrasah milik umat Islam dinasionalisasikan, sedangkan umat Kristiani disana masih memiliki sekolah kependetaan. Masjid-masjid jami masih dibuka, tapi mencari imam dan khatib sangat sulit karena madrasah-madrasah mencetak imam dan khatib tersebut telah lama ditutup.
Kristenisasi presiden Yulis Nyerere sangat tampak, ketika negara itu melakukan invasi ke Uganda dan berhasil menggulingkan presiden Idi Amin. Dengan serta merta, Nyerere menggantikan dengan seorang Kristiani.
d. Kenya
Islam masuk ke negeri itu pada awal abad ke-VII Masehi, pada saat umat Islam melakukan hijrah ke Etiopia. Sebagian umat Islam ada yang menetap dikerajaan Sawahili Batu dan berhasil menyebarkan agama Islam disana, terutama kepada penduduk kepulauan Lamu yang sekarang menjadi bagian dari negara Kenya. Di kepulauan Lamu itulah umat Islam dapat berkembang dan membentuk kerajaan Islam Lamu, sehingga kaum muslimin disana masih memegang teguh agama Islam sampai sekarang.
Perkembangan Islam yang terpenting di Kenya, juga terdapat di kota Siu, yang setiap tahun mencetak 500 orang mubaligh penghafal Al-Qur’an, kemudian mereka dikirim ke berbagai daerah.
Jumlah umat Islam di Kenya saat ini lebih kurang 4.500.000 orang atau 30 % dari total penduduk seluruhnya. Di negeri itu terdapat 5.000 buah masjid, dna 15 buah di antaranya terdapat di Kota Naerobi, Ibu Kota Kenya.
e. Uganda
Uganda merupakan salah satu dari negara Afrika Timur, sebagian besar wilayahnya berada di utara katulistiwa. Luasnya sekitar 241.139 km2. Dahulu Uganda diperintah oleh 4 kerajaan yang berasal dari suku tradisional dipimpin oleh Bojand.[5]
Ibu Kota Uganda bernama Kampala, penduduk negeri itu berjumlah lebih kurang 14.000.000 jiwa. Mayoritas penduduknya beragama Islam, dan selama kepemimpinan presiden Idi Amin mereka dapat menjalankan dakwah Islam dengan leluasa, sehingga agama Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat. Namun pada tahun 1979 tragedi buruk menimpa rakyat negeri itu, dengan invasi Tanzania ke Uganda yang berhasil menggulingkan Presiden Idi Amin. Sejak itulah kepemimpinan Uganda dipegang oleh seorang Kristen bernama Yusuf Kironde Lulu, seorang misionaris lulusan sekolah seminari (sekolah pendeta).
Di bawah kepemimpinan Yusuf Kironde, umat Islam banyak mengalami tekanan. Ribuan kaum muslimin dibunuh, ribuan lainnya dipenjarakan. Banyak umat Islam Uganda mengungsi ke berbagai negara Islam tetangga, seperti Sudan, Kenya, Zaire, dan lainnya. Yang jelas mereka hidup dalam penderitaan.
f. Eritheria
Ibu kota Eritheria bernama Asmara. Letaknya di pesisir laut merah. Penduduk negeri itu mayoritas Muslim, mereka menganut madzhab Maliki, ada yang menganut madzhab Syafi’i, da nada juga yang menganut madzhab Hanafi. Selama dalam masa penjajahan Inggris dan Italia, umat Islam mengalami tekanan dan dakwah Islam pun terhambat. Setelah meraih kemerdekaan, kaum muslimin mulai berdakwah kembali dan agama Islam pun dapat berkembang di sana. Hampir di setiap sudut kota terdapat bangunan masjid yang megah.
g. Somalia
Negara Arab yang terletak di ujung Afrika. Negara ini tampak dari perairan Samudera India. Islam tersebar diwilayah ini melaui hijrahnya orang-orang Arab dari wilayah Amman, Hadramaut, dan Yaman. Juga dari jalur hubungan perdagangan yang belum terputus sepanjang masa sejarah antara negeri Arab dan Afrika Timur.
Islam terus tersebar sepanjang abad ke-4 dan 5 H (10-11 M) secara damai lewat perantaraan kabilah-kabilah yang datang dari Ihsa’. Kerajaan Islam pertama di Somalia adalah Kerajaan Iffah yang diserang oleh orang-orang Atsyubiyah sepanjang abad ke-8 H/ 14 M.
Setelah itu, kaum musliminmendirikan kerajaan Adaal. Perselisihan dan peperangan terus berlangsung antara orang-orang Somalia dengan Atsyubiyah hingga dimulainya penjajahan Inggris dan Italia pada tahun 1355 H/ 1936 M. Negara ini merdeka pada tahun 1380 H/ 1960 M, kemudian Abdullah Utsman menjadi presiden republik ini. Pada tahun 1389 H/ 1969 M kekuasaan beralih kepada militer lewat kudeta yang dipimpin oleh Muhammad Saed Bari. Dia membentuk sistem baru lewat kediktatorannya. Pada tahun 1412 H/ 1991 M partai-partai politik bentukan sayed Bari kalah, lalu terpilihlah Ali Mahdi sebagai presiden transisi.
Pimpinan lokal, Muhammad Farah Aidid, menolak pemerintahan transisi ini. sehingga terjadi konflik bersenjata. Kelompok-kelompok bersenjata ini menguasai wilayah yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan rakyat Somalia tetap berada dalam kemiskinan, ketakutan, dan penyakit hingga tahun 2000 M.[6]
Penduduk Somalia berjumlah lebih kurang 3.950.000 jiwa dan mayoritas beragama Islam. Banyak madrasah dan masjid dibangun di setiap sudut kota, bahkan di Ibu Kota Jibuti terdapat ratusaan sekolah dan masjid yang berkembang dengan baik.
Umat Islam Somalia mengalami hambatan dalam dakwahnya karena adanya gerakan kaum misionaris Kristen yang semakin gencar di negeri itu. Selain itu juga karena factor ekonomi negara itu yang masih terpuruk.
h. Mauritania
Agama Islam di Mauritania merupakan agama mayoritas penduduk negeri itu. Pada umumnya mereka menganut madzhab Maliki. Mereka berjuang dengan gigih mengembangkan agama Islam, sehingga hamper 100% penduduknya muslim.
2. Peristiwa perkembangan Islam di Eropa dan tokoh-tokohnya
Islam masuk ke Eropa sejak masa kekhalifahan Dinasti Umayah. Daerah pertama kali yang dimasuki agama Islam adalah Andalusia atau Spanyol. Di wilayah itu, agama Islam sempat jaya dan umat Islam mampu mendirikan Kerajaan Islam selama hamper dua abad lamanya. Oleh karena itu, tidak aneh jika agama Islam di eropa kemudian mengalami perkembangan yang signifikan sampai saat ini.
Meskipun mayoritas penduduk Negara-negara di Benua Eropa beragama Kristen, namun Islam mulai tumbuh kembali di bumi Eropa. Umat Islam tinggal di hampir semua Negara di Eropa, dan agama Islam mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Negara-negara itu di antara lain sebagai berikut:
a. Austria
Bersamaan dengan lahirnya abad kebangkitan Islam, di Ibu Kota Austria, Wina diresmikan Islamic Centre yang pertama kali. Gedung Islamic Centre ini dapat menampung 30.000 umat Islam. Di sampingnya berdiri sebuah masjid Jami yang cukup megah dan gedung perpustakaan yang menyediakan buku-buku bacaan keagamaan, serta sebuah madrasah yang khusus mempelajari Al-Qur’an. Presiden Austria Rudolf dan Perdana Menterinya Bruno Kreitscy dalam sambutan peresmian Islamic Centre tersebut mengatakan bahwa ia berjanji akan melindungi agama dan umat Islam karena termasuk agama kedua terbesar di negaranya.
b. Belgia
Belgia merupakan kerajaan negara yang telah mengakui agama Islam sebagai agama resmi negaranya. Hal ini dicantumkan dalam undang-undang Negara Belgia yang diumumkan pada tanggal 17 Juli 1974.
Pada tahun 1975, kurikulum pendidikan agama Islam telah dimasukkan ke dalam kurikulum nasional, dan para guru-gurunya telah mendapatkan perhatian yang baik dari pemerintah, bahkan banyak pula yang diangkat sebagai pegawai negeri. Di antara mata pelajaran agama Islam yang masuk Kurikulum Nasional Belgia adalah Al-Qur’an, Al-Hadits, Bahasa Arab dan Pendidikan Agama Islam.
c. Spanyol
Dahulu Spanyol bernama Andalusia. Daerah itu pernah dikuasai oleh pemerintahan Islam, kemudian berdiri sendiri sebagai Kerajaan Islam. Kemudian mengalami kehancuran pada tahun 1492 M oleh pasukan Kristen dibawah pimpinanan Ferdinand dan Isabell. Oleh sebab itu, banyak sisa-sisa peninggalan umat Islam di sana dan masih berdiri kokoh sampai saat ini.
Meskipun kaum Kristiani berupaya membumihanguskan Islam di tanah Spanyol, namun nilai-nilai Islam masih tetap tumbuh di wilayah itu. Pada tahun1975 M sekelompok pemuda Spanyol ramai-ramai menyatakan diri masuk Islam di Inggris, kemudian mereka pulang ke negaranya dan mendirikan lembaga masyarakat muslim Cordova.
Pada tahun 1978 M, Undang-Undang Spanyol mengakui agama Islam sebagai salah satu agama resmi di negeri itu dan sederajat dengan agama-agama lain. Oleh karena itu, umat Islam Spanyol dapat melaksanakan salat Idul Adha di depan Kathedral (bekas masjid) setelah mendapat izin dari Uskup dan Walikota Cordova. Pemerintah Spanyol mulai menerapkan teori kerukunan antarumat beragama.
d. Jerman
Sampai saat ini pemerintah Jerman masih belum mengakui agama Islam sebagai agama resmi di negeri itu. Meskipun demikian, agama Islam di sana dapat berkembang dengan baik. Di Jerman telah berdiri organisasi Islam Zentrum, yang memiliki dana cukup besar dan mempunyai cabang yang cukup banyak sampai ke luar negeri, seperti di Belanda, Swiss, Belgia, dan sebagainya. Berkat kegigihan oranisasi itu, umat Islam di Jerman terus bertambah hingga mencapai 500.000 orang. Masjid-masjid banyak di bangun hampir di setiap sudut kota yang terdapat kaum muslimin, dan jumlahnya mencapai 600 buah. Masjid di sana rata-rata berlantai tiga, yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. Lantai pertama untuk pertemuan umat Islam, lantai kedua untuk madrasah, dan lantai ketiga untuk berjamaah.
e. Belanda
Agama Islam di negeri Belanda dapat berkembang berkat perjuangan mubalignya bernama Abdul Wahid Van Bommel, seorang Belanda tulen. Abdul Wahid berusaha keras memperjuangkan ajaran Islam di negerinya, dan mendirikan Oraganisasi Islam Belanda. Dia juga berjuang untuk mendapatkan hak umat Islam di sana, sehingga diberi tempat untuk menjalankan shalat Jum’at dan salat Id berjamaah di tempat terbuka.
Pada tahun 1983 di Kota Ridderekerek telah dibangun sebuah masjid megah yang diprakarsai oleh BJW Both Kepala Direktorat Kesejahteraan Minoritas pemerintah Belanda. Masjid itu cukup megah dan dilengkapi berbagai sarana, seperti ruang serbaguna, madrasah dan sebagainya.
Pada tahun 1996 kaum muslimin Indonesia yang tinggal di Belanda, khususnya di Ibu Kota Denhaag membangun sebuah masjid megah berkat sumbangan seorang pengusaha Indonesia Probosutedjo. Masjid itu, semula sebuah gereja yang kemudian dibeli dan direnovasi menjadi masjid.
f. Inggris
Agama Islam berkembang di Inggris dengan membahagiakan. Hal itu merupakan hasil kerja kerasa Mozarobes, seorang yang sangat berjasa dalam sejarah perkembangan Islam di Negara kerajaan itu. Di Inggris terdapat oraganisasi Muslim yaitu Bengali Da’watul Islam. Organisasi ini giat mencetak kader-kader mubalig, kemudian mengirimkannya ke berbagai wilayah di Inggris.
Pada tahun 1984, di Kota Wales, Inggris telah dibangun sebuah masjid megah dan Islamic Centre oleh Duta Besar Republik Arab Yaman, Ahmad Dayfillah Al-Azieb. Gedung itu memuat 27.999 orang, dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern. Selain oraganisasi Islam di Bengali, di Inggris juga tumbuh beberapa organisasi Islam, seperti:
1) The Islamic Council of Europe (Majelis Islam Eropa).
2) The Union of Muslem Organization (Persatuan Organisasi Muslim Inggris).
3) The Association for British Muslim’s (Perhimpunan Muslim Inggris).
g. Prancis
Meskipun perkembangan Islam di Prancis belum seperti di Inggris, namun umat Islam Prancis diam-diam mulai bergeliat mengembangkan agamanya. Perlahan namun pasti, agama Islam di negeri itu menjadi nomor dua setelah Kristen Katolik. Perkembangan itu disebabkan oleh banyaknya intelektual Muslim dari Negara-negara bekas jajahan Prancis yang migrasi ke negeri ini, sehingga para ilmuan muslim tersebut dapat berinteraksi dengan para intelektual Prancis. Hasilnya, tidak sedikit para ilmuwan negeri itu yang tertarik masuk agama Islam, seperti Maurice Bucael, Maurice Bejart, Jackues Yues Cousteus dan Roger Graudy.
h. Yunani
Mayoritas penduduk Yunani beragama Kristen Ortodoks, dan umat Islam di sana berjumlah sekitar 130.000 orang. Di negeri itu terdapat lima buah masjid, dua buah Madrasah Ibtidaiyah, dan dua buah Madrasah Tsanawiyah.
3. Peristiwa Perkembangan Islam di Asia dan tokoh-tokohnya
Agama Islam berkembang di Asia sejak awal kelahirannya. Namun perkembangan yang signifikan terjadi setelah beberapa abad kemudian. Di antara Negara-negara Asia yang perkembangan Islamnya cukup baik, selain di wilayah Timur Tengah, ialah sebagai berikut:
a. Thailand
Agama Islam masuk ke Thailand diperkirakan pada abad ke-10 M yang dibawa oleh para saudagar Arab dan India. Karena mereka memainkan peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi Thailand, maka raja mengizinkan kaum muslimin tinggal di Kota Bangkok Noi. Mereka tidak suka tinggal bersama masyarakat asli karena masih memelihara babi.
Dalam perkembangannya, para saudagar Arab itu kemudian menyatu dengan masyarakat local dan mengadakan perkawinan campuran, sehingga dakwah Islam semakin berkembang. Berkat perjuangan mereka itulah, agama Islam masih tetap berkembang di Thailand, terutama di wilayah Thailand Selatan sebagai Naratiwat, Yale dan Patayat.
b. Filipina
Agama Islam masuk ke Filipina sekitar abad ke-6 dan ke-7 M, yang dibawa langsung oleh para saudagar dari Hadramaut melalui jalur Hindia dan Samudra Hindia.
Wilayah pertama yang mereka singgahi adalah Kepulauan Mindanau, sekitar tahun 1475 M. Mubalig yang dating ke wilayah itu, bernama Syeikh Syarif Kebungsuan dari Mekah. Adapun mubalig yang datang ke Kepulauan Sulu, Filipina adalah Sayyid Abdul Aziz dari Jeddah. Sayyid Abdul Azizlah yang dapat mengislamkan Raja Malaka pertama, Paramesuara atau Merah Silau yang kemudian berganti nama menjadi Maliku Shalih.
Berkat perjuangan para mubalig itulah, agama Islam di Filipina terus berkembang sampai saat ini, terutama di wilayah Filipina Selatan, yakni Kepulauan Mindanau. Kaum muslimin di wilayah itu menginginkan memiliki negeri sendiri, sehingga mereka berjuang keras untuk meraih kemerdekaan dari pemerintah Filipina. Dalam perjuangannya mereka membentuk suatu organisasi yang bernama MNLF (Moro National Liberty Fron/Fron Pembebasan Nasional Moro).
Moro adalah julukan bangsa Prancis yang kemudian digunakan oleh bangsa Filipina untuk kaum muslimin di negeri itu. Perjuangan umat Islam Filipina memiliki negeri sendiri masih cukup panjang, dan mereka terus berjuang, baik secara politik maupun diplomasi nasional dan internasional.
c. Jepang
Sebelum perang dunia kedua, Jepang termasuk negara ekslusif yang menutup diri, sehingga agama Islam baru masuk ke negara itu, setelah pecahnya perang dunia kedua tersebut. Pada waktu itu, Jepang berperang melawan Rusia. Banyak penduduk Rusia yang mengungsi ke Jepang, salah satunya ilmuwan bernama Abdul Rasyid Ibrahim, ia merupakan teman karibnya Jenderal Akashi, panglima perang Jepang di Rusia. Setelah di Jepang, Abdul Rasyid melaksanakan dakwah Islam di kalangan masyarakat negeri itu dan berhasil mengislamkan Konaru dan Yama Oka. Mereka berdua sempat melaksanakan ibadah haji.
d. Korea
Agama Islam masuk ke korea pada tahun 1995 M yang dibawa oleh Abdurahman dan Zubair Khoci. Keduanya adalah imam rohani tentara Turki yang dikirim ke Korea dalam misi perdamaian antara korea utara dan korea selatan. Orang korea yang pertama kali masuk Islam adalahUmar kim Jin Kyu, Mohamad Yon, dan Sabir Suh. Pada tahun 1959 mereka melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Setelah bertemu dengan jutaan umat Islam dari berbagai Negara, mereka segera melakukan dakwah di negaranya.
Berkat perjuangan mereka, agama Islam dapat berkembang dengan pesat di Korea. Pada tahun 1963 di Seoul Ibu Kota Korea Selatan didirikan sebuah mesjid megah, dan lengkap dengan fasilitas dakwahnya, baik untuk pendidikan Al-Qur’an, pertemuan akbar, dan sebagainya. Masjid itu dipimpin oleh Sabir Suh. Tahun 1980 juga didirikan sebuah Universitas Islam di kota Yang In. universitas itu memiliki 15 fakultas, yang lima diantaranyafakultas Syariah, Bahasa Arab, Ilmu Perbandingan Agama, Sejarah Islam, dan Pendidikan Agama Islam. Umat Islam di Korea sampai saat ini berjumlah sekitar 21 ribu orang.
e. Cina
Agama Islam masuk ke Cina pada masa pemerintahan Usman bin Affan. Mubalig pertama yang diutus ke negeri itu ialah Sa’ad bin Abi Waqas. Setelah itu banyak para saudagar Arab yang keluar masuk Cina sambil berdakwah. Masyarakat Cina pada umumnya menerima kedatangan agama Islam, dan banyak di antara mereka yang tertarik menjadi Muslim. Keagungan ajaran Islam yang diperaktikan dan diajarkan oleh Para Mubalig, membuat masyarakat Cina kagum dan menyebutnya dengan Hui-Hui Chew atau Tsing Ching Chew yang artinya agama yang suci.[7]
Tempat yang pertama kali menerima dakwah Islam ialah Kanton salah satu kota terbesar di Cina. Sa’ad Bin Abi Waqas pertama kali berdakwah di kota itu. Dan ia pun tinggal cukup lama di kota itu sampai meninggal dunia. Kuburannya masih terawat dengan baik sampai sekarang karena Masyarakat Cina masih menghormatinya.
Selain melalui jalur dakwah, agama Islam juga dapat berkembang melalui jalur perkawinan. Banyak para mubalig muslim yang kemudian menikahi gadis setempat dan beranak pinak. Anak keturunan mereka itulah yang kemudian meneruskan dakwah Islam di negeri tirai bambu itu. Sampai saat ini, penduduk muslim di Cina lebih kurang 20 juta orang atau 2% dari jumlah penduduk Cina yang satu miliar.
C. Mengambil Ibrah Dari Peristiwa Perkembangan Islam Di Dunia[8]
Setelah mengetahui sejarah perkembangan Islam, peristiwa penting, dan tokoh-tokoh umat Islam di dunia, terdapat beberapa ibrah yang hendaknya dapat kita petik dan dijadikan sumber motivasi bagi kehidupan kita sehari-hari. Di antara ibrah yang harus kita petik itu ialah sebagai berikut.
1. Semangat belajar yang tinggi
Kebodohan sangat erat dengan kemiskinan, dan kemiskinan menunjukkan kelemahan dan hilangnya kekuatan serta keberanian. Dalam kondisi itulah, dahulu umat Islam dijajah oleh bangsa-bangsa Barat, karena mereka sedang dalam keterbelakangan dari berbagai aspek, baik pendidikan, ekonomi maupun aspek lainnya. Pada waktu itu, semangat belajar umat Islam sangat rendah, sehingga mereka hidup dalam kebodohan dan kemiskinan. Oleh sebab itu, hendaknya kita ambil pelajaran atas sejarah masa lalu tersebut. Kita harus bangkit dan mempunyai semangat tinggi dalam belajar, jangan putus asa dan jangan menyerah untuk berhenti menuntut ilmu. Sebab hanya dengan itulah, umat Islam akan mampu meraih kemajuan dan kesuksesan.[9]
2. Menjunjung tinggi persatuan dan persaudaraan
Kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari sejarah perkembangan umat Islam di dunia. Betapa pun besarnya kekuatan dan gigihnya perjuangan umat Islam dalam melawan penjajah, tanpa persatuan dan persaudaraan maka cita-cita luhur perjuangan sukar diwujudkan. Oleh sebab itu, kebersamaan, persatuan dan persaudaraan antara sesama muslim di seluruh dunia Islam terus mereka jalin, misalnya melalui pertemuan ibadah haji atau dalam bentuk kerja sama yang lainnya. Oleh karena itu, hendaknya kita juga dapat mencontoh sepak terjang mereka yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, di lingkungan keluarga di tengah masyarakat maupun di mana saja kita berada.
3. Pantang menyerah dalam berjuang
Pepatah mengatakan; “Hidup ini adalah perjuangan, perjuangan itu perlu pengorbanan, pengorbanan itu perlu keikhlasan, keikhlasan itu bekal utama semangat juang”. Artinya, suatu perjuangan tidak akan sukses tanpa ada semangat dan kerja keras yang senantiasa pantang menyerah; seperti yang telah ditunjukkan oleh kaum muslimin di berbagai dunia.
Mereka berjuang pantang menyerah demi meraih kemerdekaan bangsa negaranya. Demikian pula hendaknya, kita juga memiliki semangat juang yang tinggi, ulet dan pantang menyerah dalam mengejar cita-cita, agar kelak mendapat kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
4. Memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas tentang sejarah Islam
Dengan mempelajari sejarah perkembangan Islam di dunia, tentu kita dapat mengetahui dengan saksama betapa mulianya perjuangan umat Islam di seluruh dunia. Perjuangan mereka dalam menyebarkan Islam di berbagai Negara dapat menambah wawasan dan memotivasi kita untuk dapat meneladaninya dikemudian hari.
5. Merasa memiliki banyak saudara seiman dan seagama di seluruh dunia
Islam mengajarkan persaudaraan kepada umatnya, baik saudara seiman dan seagama maupun saudara sebangsa dan senegara. Dengan mempelajari sejarah perkembangan Islam di dunia, kita dapat merasakan betapa banyak saudara-saudara kita seiman di berbagai belahan dunia. Dengan demikian, kita tidak boleh takut dan merasa lemah dalam memperjuangkan agama Allah.
6. Memiliki semangat juang yang tinggi dalam membela agama
Betapa pun beratnya medan kehidupan yang dihadapi kaum muslimin di seluruh dunia, tapi mereka tidak akan menyerah, mundur dari akidah Islam apalagi berputus asa. Semangat juang mereka sangat tinggi, baik dalam membela agama Islam, maupun membela bangsa dan negara. Semangat juang yang tinggi itulah, yang hendaknya dipetik sebagai ibrah dalam kehidupan sehari-hari.
7. Memiliki semangat menuntut dan menggali Ilmu pengetahuan
Dalam ajaran agama Islam bahwa menuntut ilmu itu wajib hukumannya. Oleh karena itu, kita harus memiliki semangat yang tinggi untuk menuntut dan menggali ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu-lmu umum, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin di negaranya masing-masing.
D. Meneladani Tokoh-Tokoh yang Berprestasi dalam Perkembangan Islam di Dunia[10]
Setelah membaca dan memahami sejarah perkembangan Islam di dunia dan para tokoh penggeraknya, hendaknya kamu dapat meneladani perilaku para tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam di dunia.
Sebelum meneladani perilaku mereka, hendaknya diperhatikan terlebih dahulu beberapa hal berikut.
1. Baca dan pahami sejarah perkembangan Islam di dunia dan contoh-contoh perkembangannya, dengan cermat dan teliti.
2. Cari buku-buku lain sebagai penunjang yang membahas tentang sejarah perkembangan Islam di dunia, atau kamu mencari melalui situs internet.
3. Tanamkan kenyakinan bahwa setiap muslim itu bersaudara, dimana pun mereka berada.
4. Tanamkan sikap rasa memiliki dan menghormati terhadap sesama, sehingga tercipta situasi dan kondisi yang rukun, aman, damai, dan sejahtera.[11]
BAB III
PENUTUP
Simpulan
A. Perkembangan Islam di dunia terbagi menjadi kepada beberapa bidang yaitu:
1. Perkembangan ekonomi
2. Perkembangan politik
3. Perkembangan pendidikan
B. Peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam.
1. Peristiwa perkembangan Islam di Benua Afrika yang meliputi beberapa wilayah, antara lain:
a. Etiopia, tokohnya yaitu Ja'far bin Abu Tholib.
b. Sudan, berdirinya beberapa kerajaan Islam. Adapun tokoh yang berprestasi yaitu Abdullah bin Sa'id bin Abi Sarah.
c. Tanzania
d. Kenya, mencetak 500 orang mubaligh penghafal Al-Qur’an, kemudian mereka dikirim ke berbagai daerah tiap tahunnya dan adanya 5.000 masjid.
e. Uganda, Idi Amin.
f. Eritheria
g. Somalia, banyak madrasah dan masjid dibangun di setiap sudut kota, bahkan di Ibu Kota Jibuti terdapat ratusaan sekolah dan masjid yang berkembang dengan baik.
h. Mauritania
2. Peristiwa perkembangan Islam di Benua Efrika yang meliputi beberapa wilayah, antara lain:
a. Austria, diresmikan Islamic Centre yang pertama kali. Gedung Islamic Centre ini dapat menampung 30.000 umat Islam. Di sampingnya berdiri sebuah masjid Jami yang cukup megah dan gedung perpustakaan yang menyediakan buku-buku bacaan keagamaan, serta sebuah madrasah yang khusus mempelajari Al-Qur’an. Tokohnya yaitu: Presiden Austria Rudolf dan Perdana Menterinya Bruno Kreitscy.
b. Belgia, kurikulum pendidikan agama Islam telah dimasukkan ke dalam kurikulum nasional.
c. Spanyol, Undang-Undang Spanyol mengakui agama Islam sebagai salah satu agama resmi di negeri itu dan sederajat dengan agama-agama lain.
d. Jerman, berdiri organisasi Islam Zentrum dan masjid-masjid banyak di bangun hampir di setiap sudut kota yang terdapat kaum muslimin.
e. Belanda, mendirikan Oraganisasi Islam Belanda, Pada tahun 1983 di Kota Ridderekerek telah dibangun sebuah masjid megah yang diprakarsai oleh BJW Both Kepala Direktorat Kesejahteraan Minoritas pemerintah Belanda, Pada tahun 1996 kaum muslimin Indonesia yang tinggal di Belanda, khususnya di Ibu Kota Denhaag membangun sebuah masjid megah. Tokohnya yaitu: Abdul Wahid Van Bommel dan Probosutedjo.
f. Inggris, pada tahun 1984, di Kota Wales, Inggris telah dibangun sebuah masjid megah dan Islamic Centre oleh Duta Besar Republik Arab Yaman, Berdirinya beberapa organisasi Islam seperti: Bengali Da'watul Islam, The Islamic Council of Europe (Majelis Islam Eropa), The Union of Muslem Organization (Persatuan Organisasi Muslim Inggris) dan The Association for British Muslim’s (Perhimpunan Muslim Inggris). Ahmad Dayfillah Al-Azieb.
g. Prancis
h. Yunani
3. Peristiwa perkembangan Islam di Asia yang meliputi beberapa wilayah, antara lain:
a. Thailand.
b. Filipina, membentuk suatu organisasi yang bernama MNLF (Moro National Liberty Fron/Fron Pembebasan Nasional Moro). Tokohnya adalah Syeikh Syarif dan Sayyid Abdul Aziz.
c. Jepang.
d. Korea, pada tahun 1963 di Seoul Ibu Kota Korea Selatan didirikan sebuah mesjid megah, dan lengkap dengan fasilitas dakwahnya, baik untuk pendidikan Al-Qur’an, pertemuan akbar, dan sebagainya. Tahun 1980 juga didirikan sebuah Universitas Islam di kota Yang In. Tokohnya adalah Abdurahman, Zubair Khoci, Umar kim Jin Kyu, Mohamad Yon, dan Sabir Suh.
e. Cina, tokohnya adalah Sa’ad bin Abi Waqas.
4. Ibrah dari peristiwa perkembangan Islam di dunia
a. Semangat belajar yang tinggi.
b. Menjunjung tinggi persatuan dan persaudaraan.
c. Pantang menyerah dalam berjuang.
d. Memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas tentang sejarah Islam.
e. Merasa memiliki banyak saudara seiman dan seagama di seluruh dunia.
f. Memiliki semangat juang yang tinggi dalam membela agama.
g. Memiliki semangat menuntut dan menggali Ilmu pengetahuan.
5. Meneladani tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam di Dunia dengan beberapa cara, yaitu:
a. Membaca dan memahami sejarah perkembangan Islam di dunia.
b. mencari buku dan referensi lain.
c. menanamkan keyakinan.
d. menanamkan sikap memiliki dan menghormati terhadap sesama..
DAFTAR PUSTAKA
Al-Usairy, Ahmad. 2003. Sejarah Islam. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.
Fachruddin, Dr. Fuad Mohd. 1985. Perkembangan Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Wahid Sy, H.A. 2009. Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah. Bandung: Armico.
[1]HA. Wahid Sy, Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah, (Bandung: CV. Armico, 2009) hlm. 199-121.
[2]Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003) hlm. 519-520.
[3] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003) hlm. 542.
[5] Ahmad Al-Usairy, Op, Cit., hlm. 541
[6] Ahmad Al-Usairy, Op, Cit., hlm. 528-529.
[8]Ibid hlm. 129-130
[10]HA. Wahid Sy, Op, Cit., hlm 130.
