BAB I
A. Latar Belakang Masalah
Islam pada periode klasik ialah sejarah perjuangan kaum muslimin menyebarkan Islam pada kisaran waktu tahun 650-1250 M.[1] Pada masa inilah Islam mengalami puncak kejayaannya. Tidak hanya dalam bidang keagamaan, namun mencakup dalam bidang lain seperti pemerintahan, ilmu pengetahuan, sosial ekonomi, bahkan seni budaya pun berkembang cukup pesat pada zaman tersebut.
Pada Zaman ini wilayah dakwah islam menyebar hampir keseluruh bumi, bahkan sejarah mencatat seperempat wilayah di bumi ini telah menjadi daerah kekuasaan Islam pada masa itu. Dari hal inilah Islam mencapai puncak kejayaannya, Islam menjadi agama yang dipatuhi, ajaran-ajaran Islam diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Para Khalifah yang memimpin pada masa itu mempunyai sikap yang tegas dan semangat untuk memajukan Islam. Mereka menanamkan nilai-nilai Islam dalam proses kepemimpinannya. Hal ini terbukti dari tindakan tegas mereka terhadap orang-orang atau kelompok yang ingin memprogandakan ajaran-ajaran Islam. Tidak hanya itu pembangunan dan sistem tata negara yang kuat pun diterapkan pada masa kepemimpinannya. Para ulama, ahli ilmu, dan para tokoh pun dijamin penghidupannya oleh negara, sehingga banyak karya-karya yang dihasilkan pada masa tersebut.
Sistem pendidikan yang baik pun diterapkan pada masa tersebut. Para khalifah memberikan pendidikan gratis bagi warganya dan mewajibkan warganya untuk tidak putus sekolah. Dari hal inilah banyak para tokoh ulama dan ilmuwan yang muncul, seperti Ibnu sina, Al-Kindi, Umar bin Abdul Aziz, dan lain-lain.
Hendaknya para pemimpin dan umat Islam pada masa sekarang berbangga hati, dan meneladani sikap dan strategi yang dilakukan oleh para khalifah pada masa Islam klasik. Hal ini penting karena umat islam dan para pemimpin Islam masa sekarang sudah banyak yang tidak menanamkan nilai-nilai keislaman dalam diri dan kepemimpinannya, bahkan umat Islam pada masa sekarang seolah-olah sudah kehilangan jati dirinya sebagai umat dari agama yang mulia, agama yang membawa kedalam jalan kebenaran dan kebahagiaan, baik didunia maupun diakherat. Jika ajaran agama Islam kembali ditegakkan bukan tidak mungkin Islam akan berjaya kembali dimuka bumi ini, waallahualam bisshawab.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Islam periode klasik?
2. Bagaimana perkembangan Islam pada periode klasik zaman keemasan tahun 650-1250 M?
3. Apa saja Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dan siapa saja tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode klasik tahun 650-1250 M?
C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui pengertian Islam pada periode klasik!
2. Untuk Mengetahui perkembangan Islam pada periode klasik zaman keemasan tahun 650-1250 M!
3. Untuk Mengetahui Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode klasik tahun 650-1250 M!
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN ISLAM PERIODE KLASIK ZAMAN KEEMASAN PADA TAHUN 650-1250 M
Islam pada periode klasik ialah sejarah perjuangan kaum muslimin menyebarkan Islam pada kisaran waktu tahun 650-1250 M. Pada kurun waktu itu, dakwah islam mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Bahkan sepanjang sejarah islam, hanya pada periode itulah terjadi puncak kejayaan umat islam dalam pentas sejarah umat manusia. Umat islam mengalami kemajuan diberbagai bidang, baik politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, sosial budaya maupun seni. Oleh sebab itu, pada masa tertentu dari kurun waktu tersebut, disebut masa keemasan umat islam.[2]
B. PERKEMBANGAN ISLAM PERIODE KLASIK ZAMAN KEEMASAN PADA TAHUN 650-1250 M
Periode klasik berlangsung selama tujuh abad. Sejak masa kepemimpinan para Khalifah Rasyidah (632-661 M), Dinasti Umayyah (661-750 M), Dinasti Abbasiyah (750-1250 M). Oleh sebab itu para ahli sejarah Islam membagi periode ini kedalam tiga episode, yaitu sebagai berikut:
1. Episode Khulafaurrasyidin (632-661 M)
Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, kepemimpinan umat Islam dipegang oleh Khulafaurrasyidin. Khalifah pertama adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Nama asli beliau adalah Abdullah Ibnu Abi Quhafah at Tamimi, dimasa jahiliyah bernama Abdul Ka’bah. Setelah masuk Islam, Nabi mengganti namanya menjadi Abdullah Abu Bakar. Beliau lahir tahun 572 M di Makkah. Abu Bakar adalah sahabat \Nabi yang terkenal akan kedermawanannya. Salah satu kisah yang menggambarkan kedermawanannya ketika beliau menebus Bilal bin Rabbah dari tangan majikannya yang bernama Umayyah bin Khalaf. [3]
Setelah Rasullulah SAW wafat, tampuk kepemimpinan kaum muslimin diserahkan kepada Abu Bakar ash Shiddiq. Dimasa kekhalifahannya, ada beberapa kebijakan yang penting diantaranya yaitu:[4]
a. Pembukuan Al-Qur’an
Perang Riddah menimbulkan banyak kurban, termasuk ssebagian para penghafal Al-Qur’an. Kenyataan ini sangat merugikan dan mengkhawatirkan, jika semakin banyak penghafal Al-Qur’an yang gugur, akibatnya Al-Qur’an bisa hilang. Umar bin Khatab mencatat semua hafalan Al-Qur’an pada para sahabat yang masih hidup. Dengan demikian Al-Qur’an dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Abu Bakar ragu apakah harus menrima usulan Umar bin Khatab atau menolaknya? Ia ragu sebab Nabi belum pernah melakukannya. Namun, Umar berhasil meyakinkan Abu Bakar bahwa pengumpulan Al-Qur’an akan sangat bermanfaat bagi keutuhan Al-Qur’an itu senndiri. Akhirnya Abu bakar menugaskan Zaid bin Tsabit untuk memimpin pengumpulan Al-Qur’an.
b. Perluasan wilayah baru (Futuhat)
Kekuasaan yang dijalankan masa khalifah Abu Bakar, sebagaimana masa Rasulullah SAW, bersifat sentral. Kekuasaan legislatif, eksekutif,dan yudikatif terpusat ditanagn khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, khalifah juga melaksanakan hukum. Meskipun demikian, seprti juga Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar juga mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.
Ketika Abu bakar menjadi Khalifah, ia berusaha mewujudkan keinginan tersebut dalam upaya memperluas kekuasaan Islam ke daerah Syiria. Untuk keperluan tersebut Abu Bakar menugaskan empat orang panglima perang, yaitu:
1) Yazid bin Abu Sufyan yang ditugaskan didamaskus
2) Abu Ubaidah bin Jarrah ditugaskan di Homs sebagai panglima besarnya
3) Amru bin Ash ditugaskan di Palestina
4) Surahbil bin Hasanah ditugaskan di Yordania
Pada waktu berlangsungnya perang melawan tentara Romawi Timur, datang sebuah berita tentang wafatnya Abu Bakar (13 H/634 M). Selanjutnya yang menggantikan kedudukan Abu Bakar adalah Umar Bin Khatab.
a. Pengembangan wilayah Islam
Pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, usaha pengembangan wilayah Islam terus dilanjutkan. Kemenangan dalam perang Yarmuk pada masa Abu Bakar, membuka jalan bagi umar untuk menggiatkan lagi usahanya. Dalam pertempuran di Ajnadin tahun 16 H/636 M, tentara Romawi dapat dikalahkan. Selanjutnya beberapa kota di pesisir Syiria dan Palestina, seperti Jaffa, Gizar, ramla, Typus, Uka (Acre), Askalon dan Beirut dapat ditundukan tahun 18 H/638 M dengan diserahkan sendiri oleh Patrik kepada Umar Bin Khatab.
b. Mengeluarkan Undang-Undang
Diantara jasa dan peninggalan Khalifah Umar bin Khatab selama ia menjabata sebagai khalifah adalah menertibkan pemerintahan dan mengeluarkan Undang-Undang. Diadakan kebijakan peraturan perundangan mengenai ketertiban pasar, ukuran dalam jual beli, mengatur kebersihan jalan dan lain-lain.
c. Membagi wilayah Pemerintahan
Khalifah Umar Bin Khatab membagi wilayah menjadi beberapa daerah pemerintahan, yaitu pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah. Khalifah bertintak sebagai pemimpin pemerintahan pusat, sedangkan di daerah dipegang oleh para gubernur yang membantu tugas pemerintahan khalifah didaerah-daerah.
d. Membentuk beberapa dewan
Khalifah Umar bin Khatab juga membentuk beberapa dewan, diantaranya dewan pembendaharaan Negara, dan dewan militer. Ia juga membentuk utusan kehakiman, dimana hakim yang terkenal pada saat itu adalah Ali bin Abu Thalib.
Setelah masa kekhalifahan Umar bin Khatab berakhir, khalifah berikutnya yakni Utsman Bin Affan. Pada masa khalifah Utsman bin Affan ada beberapa kebijakan dan strategi, yaitu:
a. Perluasan wilayah
Pada masa khalifah Usman bin Affan terdapat juga beberapa upaya perluasan daerh kekuasaan Islam diantaranya adalah melanjutkan usaha penaklukan persia. Kemudian Tabaristan, Azerbaijan dan Armenia. Usaha perluasan daerah kekuasaan Islam tersebut lebih lancar lagi setelah dibangunnya armada laut. Satu persatu daerah diseberang laut ditaklukannya, antara lain wilayah Asia kecil, pesisir laut hitam, pulau Cyprus, rhodes, Tunisia dan Nubia.
Dalam upaya pemantapan dan stabilitas daerah kekuasaan Islam diluar kota Madinah, khalifah Usman bin Affan telah menaklukan pengamanan terhadap para pemberontak yang melakukan makar didaerah Azerbaijan dan Rai, karena mereka enggan membayar pajak, begitu juga di Iskandariyah dan di Persia.
b. Standarisasi Al-Qur’an
Pada masa khalifah Usman bin Affan terjadi persilisihan dikalangan kaum muslimin perihal cara baca Al-Qur’an (qiraat). Kondisi ini menyebabkan perang saudara. Kondisi ini dilaporkan oleh Hudzaifah Al-Yamani kepada khalifah Usman bin Affan. Menanggapi laporan tersebut, khalifah Usman memutuskan untuk melakukan penyeragaman cara baca Al-Qur’an. Cara baca inilah yang akhirmya di[pakai secara resmi oleh kaum muslimin. Dngan demikian perselisihan dapat diselesaikan dan perpecahan dapat dihindari.
Dalam menyusun cara baca Al-Qur’an resmi ini, khalifah Usman melakukannya berdasarkan cara baca yang dipakai dalam Al-Qur’an yang disusun oleh Abu Bakar. Setelah pembukuan selesai, dibuatlah beberapa salinannya untuk dikirim ke Mesir, Syam, Yaman dan Kufah, Basrah dan Makkah. Satu Mushaf disimpan di Madinah. Mushaf-mushaf inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Usmani. Khalifah Usman mengharuskan umat Islam menggunakan Al-Qur’an hasil salinan yang telah disebarkan tersebut. Sementara Mushaf Al-Qur’an dengan cara baca yang lainnya dibakar.
c. Pengangkatan Pejabat negara
Pemerintahan Usman berlangsung selama 12 tahun. Pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa dikalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Usman sangat berbeda dengan kepemimpinanUmar. Ini mungkin karena umurnya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tahun) dan sifatnya yang yang lemah lembut. Akhirnya pada tahun 35 H/655 M, usman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu.
Salah satu faktor yang menyebabkan banyak kecewa terhadap kepemimpinan Usman adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting diantaranya adalah Marwan ibnu Hakam. Dialah pada dasarnya yang menjalankan pemerintahan, sedangkan usman hanya menyandang gelar khalifah. Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting. Usman laksana boneka dihadapan keluarganya tersebut. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta kekayaan negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan tanpa terkonrol oleh Usman sendiri.
d. Pembangunan Fisik
Khalifah Usman berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air-air ke kota-kota. dia juga membangun jalan-jalan,jembatan-jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid Nabi di Madinah.
Khalifah berikutnya yakni Ali bin Abu Thalib, beliau memerintah hanya enam tahun, selama pemerintahannya ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada sedikitpun dimasa pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Ada beberapa kebijakan dan dtrategi yang dilakukan Ali bin Abu Thalib dimasa pemerintahannya, yaitu:
a. Penggantian pejabat lama dengan yang baru
Pada masa kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, beliau memecat para gubernur yang diangkat oleh Usman bin Affan. Dia yakin bahwa pemberontakan yang terjadi dikarenakan keteledoran mereka.
b. Penarikan kembali tanah hadiah
Khalifah Ali juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan usman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan diantara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan oleh Umar bin Khatab.
2. Episode Dinasti Umayyah (661-750 M)
Muawiyyah dilahirkan kira-kira 15 tahun sebelum Hijrah, dan masuk Islam pada hari penaklukan kota Makkah bersama-sama penduduk kota Makkah lainnya. Waktu itu ia berusia 23 tahun. Rasulullah SAW ingin sekali mendekatkan orang-orang yang baru masuk Islam diantara pemimpin-pemimpin keluarga ternama kepadanya, agar perhatian mereka kepada Islam itu dapat terjamin, dan agar ajaran-ajaran Islam itu benar-benar tertanam dalam hati mereka. Oleh sebab itu Rasulullah SAW berusaha supaya Mu’awiyyah menjadi lebih akrab kepada beliau. Mu’awiyyah lalu diangkat menjadi anggota dari sidang penulis wahyu.[5] Disinilah awal peranan muawiyyah dalam dakwah Islam.
Setelah Khalifah Utsman terbunuh, beserta berakhir pula beliau menjadi Khalifah, kemudian sahabat Ali diangkat menjadi Khalifah, datanglah masanya bagi Mu’awiyyah untuk memulai peranannya. Mu’awiyah membuat persiapan untuk menentang pengangkatan Ali menjadi Khalifah. Sejak saat itu mulailah berlangsung serangkaian pertempuran-pertempuran terpenting yakni perang shiffin. Pada perang ini muawiyyah mengalami kekalahan dalam perang, namun dia menang dalam hal pengalaman dan politik. Sesudah pertempuran di shiffin terjadilah beberapa pertempuran lagi dimana Mu’awiyyah berhasil melikwidir kekuasaan dan kekuatan musuhnya. Khalifah Ali mengalami berbagai kesulitan diantaranya perl;awanan kaum khawarij, diasmping itu juga perlawanan dari pengikutnya di Iraq yang bersikap murtad dan munafiq kepadanya.
Perkembangan islam pada masa daulat umayyah[6]
1. Perkembangan Tata Pemerintahan
Wilayah kekuasaan pada masa itu, di luar arabia, barulah mencapai Irak dan Iran pada belahan timur beserta syiria dan Palestina dan Mesir pada bagian utara.
Tetapi pada masa Daulat Umayyah (661-750 M), yakni Cuma lebih kurang dari 100 tahun sepeninggal Nabi Muhammad, wilayah kekuasaan Islam sudah mencapai perbatasan Tiongkok, disebelah timur dan pesisir atlantik pada belahan barat, termasuk wilayah Spanyol beserta Perancis selatan.
Perkembangan tata pemertintahan sesuai dengan perkembangan wilayah dan perkembangan urusan kenegaraan yang bertambah lama bertmbah kompleks.
Disamping majlis penasihat yang mendampingi khalif maka berlaku pembagian tugas pemerintahan sebagai berikut:
a. Katib Al-Rasail, yakni sekertaris yang bertugas menyelenggarakan administratip dan surat menyurat dengan pembesar-pembesar setempat.
b. Katib al-kharaj, yakni sekertaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara.
c. Katib al-jundi, yakni sekretaris yang bertugas menyelenggarakan hal-hal yang bersengkutan dengan ketentaraan.
d. Katib al-syurthah, yakni sekretaris yang bertugas menyelennggarakan pemeliharaan keamanan umum (kepolisian)
e. Katib al-qudha, yakni sekretaris yang bertugas menyelenggarakan tertib-hukum melalui badan-badan peradilan dan hakim-hakim setempat.
Pada masa pemerintahan daulat umayyah itu belum dikenal istilah Wazir (Minister). Sekalipun begitu istilah al-katib (secretary) masih terpakai di dalam tata negara-modern dewasa ini. Hal itu dapat dijumpai pada susunan kabinet di Inggris dan Amerika Serikat.
2. Perubahan tata protokoler
Seorang khalif pada masa pemerintahan khulafaur-Rasyidin 632-661 M di madinah al-munawwarah masih berdiam pada rumah kediamannya dan bergaul seperti rakyat biasa di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu tidak ada tata cara secara khusus bagi menghadap khalif. Ia dapat dicegat dijalanan, di masjid, dan didatangi ke rumahnya.
Tetapi struktur kekuasaan pada masa daulat umayyah telah berbentuk kekuasaan warisan di dalam lingkungan satu keluarga, kedalam wilayah bekas kekuasaan imperium Roma.
Pada masa muawiyyah I itu bermula suatu tata cara protokoler bagi menghadap khalif. Fasilitas pertama untuk maju ke depan balai penghadapan khalif adalah anggota-annggota keluarga (ahlul-Nasbi). Jikalau garis turunan bersamaan tingktanya maka didahulukan pihak tertua usianya. Jikalau tingkat usia bersamaan maka didahulukan para Cendikiawan ( ahlul-Adabi wal-Ilmi).
Di luar tatacara protokoler itu maka ada empat jenis instansi yang beroleh hak istimewa (privileges) untuk menghadap khalif pada saat apapun juga, yaitu :
a. Para muazzin
b. Para pengawal
c. Para utusan perbatasan
d. Para pelayan makanan
Empat jenis instansi itu beroleh kebebasan penuh bagi menghadap khalif pada setiap saat.
3. Bidang Kesustraan dan Ilmiah
Daulat umayyah (661-750 M) itu merupakan loncatan mendadak dari masyarakat tertutup di Arabia kepada suatu masyarakat terbuka yang penuh oleh perbenturan pengaruh dan kepentingan, terdiri atas ragam bangsa, ragam aliran, ragam keyakinan.
Dalam bidang seni muncul penyair-penyair arab besar, yaitu:
a. Ghayyats taglibi al-akhtal (640-710 M)
b. Jurair (653-733 M)
c. Al-Farazdak (641-732 M)
Dan dalam bidang ilmiah muncul ilmuan besar, yaitu: Yuhana Al-Dimaski
3. Episode Dinasti Abbasiyah (750-1250 M)[7]
Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang paling lama berkuasa, yakni selama 500 tahun. Dinasti ini merupakan kelanjutan dari dinasti Islam bani Ummayah. Setelah berhasil merebut kekeuasaan dari Bani Umayyah, para pemimpin Dinasti Abbasiyah segera melanjutkan perjuangan umat Islam dalam berdakwah. Wilayah kekuasaan Islam pada saat itu sudah sangat luas, dan kondisi demikian itu menuntut kepiawaian dan keterampilan para pemimpinnya. Oleh sebab itu, Khalifah Dinasti Abbasiyah segera mengambil langkah-langkah strategis bagi berlangsungnya dakwah Islam.
Langkah pertama, mereka memindahkan ibu kota kerajaan dari Damaskus, Syiria ke Bagdad, Irak, dengan harapan terdapat semanagt baru bagi kaum muslimin terutama yang terlibat dalam roda pemerintahan.
Langkah berikutnya, mereka mengolah pemerintahan Islam saat itu dengan pola administrasi dan manajemen yag modern pada masanya. Selain itu, mengingat wilayah kekuasaannya telah mencakup seperempat dunia, Dinasti Abbasiyah tidak terpokus lagi kepada perluasan wilayah (dakwah politik), melainkan kepada upaya peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pemberdayaan pendidikan, pemberantasan buta huruf, pengkajian dan penggalian ilmu pengetahuan, dan penyediaan lapangan kerja. Oleh sebab itu, pada masi inilah ilmuwan muslim kenamaan lahir, para orator, budayawan, filosof, dan sebagainya juga banyak bermunculan. Pada masa ini pula sebenarnya umat muslim mendapat masa keemasan.
C. PERISTIWA-PERISTIWA PENTING DAN TOKOH-TOKOH YANG BERPRESTASI DALAM PERKEMBANGAN ISLAM PADA PERIODE KLASIK
Ada banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada zaman Islam klasik. Peristiwa ini sekaligus menandai akan kemajuan Islam pada masa itu, peristiwa-peristiwa penting itu diantaranya sebagai berikut:
1. Peristiwa penting dibidang politik, militer, dan tokoh-tokohnya
Periode klasik merupakan masa keemasan bagi kaum muslimin, oleh karena itu banyak peristiwa penting yang terjadi selama peristiwa tersebut. Diantaranya peristiwa politik dan militer, peristiwa sosial budaya, dan peristiwa ilmu pengetahuan dan keagamaan. Peristiwa-peristiwa penting dibidang politik dan militer yang patut dicatat antara lain:[8]
a. Peristiwa penumpasan kaum pemberontak
Baik Dinasti Umayah maupun Dinasti Abbasiyah keduanya mengambil kebijakan tegas dalam hal keamanan dalam negeri. Dinasti umayah misalnya mengikis habis para pengikut Ali bin Abu Thalib beserta keturunannya dengan terjadinya peristiwa pembantaian di karbala. Begitu juga dengan kaum khawarij yang menolak tahkim (arbitrase) ketika perang shiffin terjadi.
Sebagaimana Dinasti Umayah, Dinasti Abbasiyah pun melakukan hal yang sama. Mereka menganggap keturunan dan para pengikut setia dinasti Umayah sebagai ancaman yang akan memberontak kemudian hari. Oleh karena itu, langkah yang tepat adalah mengikis habis sisa-sisa keturunan dan pegikut setia mantan dinasti Ummayah.
b. Peristiwa penumpasan kelompok gerakan keagamaan
Selain pemberontakan yang dilakukan oleh Abdullah bin Ali dan Abu Muslim Al-Khurasany, para khalifah abbasiyah juga mengahadapi berbagai pemberontakan dari kalangan agamawan. Mereka menggunakan nama agama sebagai alat untuk mencapai tujuan politiknya. Diantara gerakan keagamaan yang melakukan pemberontakan itu ialah sebagai berikut:
1) Gerakan kelompok Ar-Rawandiyah
Pada masa klasik terjadi pula pemberontakan yang dilakukan oleh beberapa kelompok keagamaan. Mereka memberontak terhadap pemerintahan yang sah dengan dalih agama. Misalnya pemberontakan yang dilakukan oleh beberapa kelompok keagamaan, antara lain gerakan kelompok Ar-Rawandiyah.
Sebenarnya kelompok ini merupakan kumpulan para pendukung Abu Muslim al-Khurasany dari Persia. Mereka tidak terima pemimpinnya dibunuh oleh khalifah Abbasiyah. Kemudian mengadakan perlawanan secara terselubung dengan menggunakan kedok agama. Kelompok ini memasukan ajaran Zorowaster, mani’iyah, Saba’iyah, dan Mazdakiyah kedalam ajaran Islam. Mereka meyakini roh Nabi Isa telah menjelma pada diri Ali bin Abu Thalib, ketika Ali meninggal, roh itu berpindah kepada keturunannya hingga sampai kepada Ibrahim bin Muhamad, salah seorang keturunan Ali dan fatimah yang ada pada aktu itu. Dalam ajaran mereka juga meyakini bahwa orang yang telah dimasuki roh Nabi Isa itu adalah “Tuhan”.
2) Gerakan kelompok Al-Muqanniyah
Pada masa pemerintahan Abdullah al-makmun (198-218 H/813-833 M), muncul suatu pemberontakan atas nama agama. Tokoh pemberontakan itu bernama al-mukanna dari Khurasan. Orangnya bermuka buruk, bertubuh pendek dan gemuk, namun akalnya sangat cerdik. Sebenarnya,ia merupakan pengikut kelompok Ar-Rawandiyah yang selamat dari penumpasan. Untuk melanjutkan cita-cita leluhurnya, ia melakukan propaganda atas nama leluhurnya.
Al-muqanna melakukan propaganda sendiri dengan berkeliling keberbagai daerah. Dalam melakukan propagandanya, ia menutupi wajahnya yang buruk dengan topeng emas, dengan alasan manusia tidak akan sanggup memandang wajahnya, karena ia adalah Tuhan.
Menurut ajaran al-Muqanna bahwa shalat, puasa, zakat, dan haji itu tidak wajib, sedangkan harta dan wanita adalah milik bersama, yang harus dinikmati bersama pula. Ajarannya itu sama dengan ajaran komunis dan sosialis. Akibat dari propagandanya itu, Al-Muqanna mendapat banyak pengikut dari berbagai wilayah. , seperti samarkhand, bukhara, turki, dan lainnya.
Khalifah dinasti Abbasiyah segera menumpas gerakan Muqanniyah dan mengikis habis para pengikutnya. Menyaksikan para pengikutnya tewas dalam pertempuran, Al-Muqanna dan istri-istrinya segera membakar diri dalam kobaran api sambil berkata: “saya akan naik kelangit, boleh ikut saya dan boleh minum air yang saya minum”.
3) Gerakan kelompok Al-Khuramy
Pada masa pemerintahan Abbasiyah muncul gerakan pemberotakan yang berkedok agama. Tokoh utamanya bernama Babek Al-Khuramy salah satu keturunan Abu muslim al-Khurasani. Dia juga termasuk pengikut ar-Rawandiyah.
Babek al-khuramy memprogandakan ajara Tanasukh (perubahan nama dan penggantian tubuh/reinkarnasi). Menurut ajarannya, semua Rasul berasal dari ruh yang satu, sejak nabi Adam AS sampai ke Nabi Muhammad SAW. Rohnya hanya satu, tetapi mereka berganti nama dan raga. Al-Khuramiyah juga menghilangkan shalat fardu, membolehkan minum arak, dan hubungan sex bebas.
Dalam menghadapi gerakan ini pada tahun 220 H/835 M khalifah dinasti Abbasiyah mengirim pasukan dengan jumlah yang cukup besar, dan akhirnya dapat ditumpas sampai ke akar-akarnya. Babek sendiri tertangkap dan akhirnya dihukum mati.
4) Gerakan Kelompok Az-Zanadiqah
Pada masa pemerintahan Abbasiyah II (227-231 H/842-847 M) muncul juga pemberontakan yang dipimpin oleh anak keturunan mawali dari Persia. Gerakan ini dinamakan Az-Zanadiqah, karena ajaran mereka sama skali menyimpang dari ajarn Islam. Mereka menghalalkan segala cara untuk memperoleh segala sesuatu, memperbolehkan sex bebas, minuman keras, dan menghindarkan dari menyebut nama Tuhan.
Ajaran mereka sama dengan ajaran atheis dan komunis, tidak mengenal agama dan Tuhan. Meskipun mereka beragamna Islam, namun dihati mereka ingkar dan tidak mau mengakui ajaran Islam. Oleh sebab itu mereka diberi nama kaum Zindiq (Az-Zanadiqah). Pengikut kelompok ini cukup banyak dan menyebar diberbagai ilayah. Gerakan ini pada tahun 228 H/843 M ditumpas habis oleh Khalifah Abbasiyah. Banyak tokoh dari mereka yang tertangkap dan dihukum mati.
c. Peristiwa politik pemerintahan
Sepanjang sejarah Islam klasik, tat pemerintahan terus mengalami perubahan dan perbaikan. Para khalifah menjalankan politik pemerintahan dengan sistem modern pada waktu itu.
Beberpa lembaga pemerintahan yang dibentuk oleh para khalifah,antara lain sebagai berikut:
a. Pembentukan perdana menteri dan para kabinetnya sebagai pembantu utama khalifah dalam menjalankan roda pemerintahan.
b. Pembentukan sekretariat Negara (Diwanul kitabah), yang dipimpin oleh Raisul Ktabah (Sekretaris Negara). Dalam menjalankan tugasnya, sekretaris negara dibantu oleh lima orang sekretaris, yaitu: Katib rasil (sekretaris bidang persuratan), Katib Kharraj (sekretaris bidang perpajakan dan kas Negara), Katibul Jundi (sekretaris bidang kemiliteran dan Hankam), Katibul Qadha (sekertaris bidang hukum dan perundang-undangan), katibus Syurthah (sekretaris bidang kepolisian dan keamanan sipil).
c. Pembentukan departemen sebagai lembaga pembantu perdana menteri, antara lain: Diwanul Kharij (Departemen Luar Negeri), Diwanul Ziman (Departemen Pengawasan dan urusan Negara), Diwanul Jundi (Departemen pertahanan dan keamanan), Diwanul Akarah (depertamen pekerjaan umum dan tenaga kerja), Dianul Rasail (departemen pos dan komunikasi).
d. Pembentukan gubernur dan penataan pemerintahan Desa
e. Pembentukan angkatan bersenjata, terdiri atas angkatan darat (AD), dan Angkatan Laut (AL). Setiap angkatan dipimpin oleh panglima perang, yang disebut Amirul Umara.
f. Pembentukan Baitul Mal dan lembaga kas Negara, yang mengelola bidang: Diwanul Khazanah (bidang pembendaharaan Negara), Diwanul Azara’a (bidang hasil bumi), Diwanul Khazainussilah (bidang perlengkapan tentara).
g. Pembentukan Mahkamah Agung yang menamgami bidang: Al-Qadha (menangani perkara agama, hakimnya disebut Qadhi), Al-Hisbah (mengadili perkara umum, baik pidana maupun perdata, hakimnya disebut Al-Musthasib), An-Nazhar fil Madzalim (pengadilan tingkat banding setelah perkara dari Al-Qadha dan A-Hisbah, hakimnya disebut Sahibul Mazalim).
Tokoh-tokoh dalam bidang politik dan militer yang menonjol prestasinya pada masa Islam Klasik antara lain:
1) Muawiyah bin Abu Sufyan (41-60 H/661-680)
2) Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/717-743 M)
3) Jendral Thariq bin Ziyad
4) Abu Abas As-Shafah (132-136 H/750-754 M)
5) Abu-Fa’far Al-Mansur (136-158 H/754-775 M)
6) Abdullah Al-Makmun (198-218 H/813-833 M)
7) Jenderal Salahuddin Al-Ayubi
2. Peristiwa-peristiwa penting dibidang Ilmu Agama Islam
Khusus ilmu-ilmu Agama Islam, pada aktu Islam klasik telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang cukup berarti, sehingga menjadi pijakan nbagi perkembangan ilmu selanjutnya. Banyak peristiwa keilmuan yang terjadi pada masa itu, antara lain:
a. Menyempurnakan tulisan dan tanda baca Al-Qur’an
b. Kodifikasi dan penulisan Hadis
3. Peristiwa dibidang Sosial Ekonomi
Para khalifah bekerja keras untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan negaranya. Para khlaifah berhasil membangun ekonomi rakyatnya, dengan membangun beberapa sektor perekonomian, seperti sektor pertanian, idustri dan perdagangan.
a. Sektor pertanian
Pada masa klasik Islam, banyak bendungan, kanal, terusan dan irigasi yang dibangun untuk membantu petani mengalirkan air ke lahan-lahan pertanian mereka. Akibatnya sepanjang wilayah pertanian mereka tampak subur dan menghijau, hasil pertanian melimpah, dan rakyat menjadi sejahtera.
b. Sektor perindustrian
Selain memajukan sektor pertanian, khalifah juga besar perhatiannya terhadap sektor Industri. Para khalifah menganjurkan rakyatnya agar berlomba membuat industri, baik pertambangan maupun pengolahan dan sebagainya. Pada aktu itu banyak kota-kota yang dijadikan pusat industri, seperti kota Basrah bergerak dibidang industri sabun dan gelas, kota Kuffah dibidang industri sutera, kota Khazastan dibidang industri tekstil sutera bersulam, kota Damaskus dibidang Industri pakaian jadi yang terbuat dari sutera bersulam. Kota Syam dibidang Industri keramik dan gelas berukir dan banyak kota lainnya.
c. Sektor perdagangan dan jasa
Sektor perdagangan dan jasa juga menjadi perhatian dari para khalifah Islam. Hasil-hasil pertanian dan industri, banyak yang diperdagangkan ke luar negeri. Untuk keperluan niaga dan jasa, banyak dibangun dermaga dan pelabuhan, seperti pelabuhan Baghdad, pelabuhan Damaskus, Dermaga Kuffah, dan sebagainya. Dengan keadaan ini banyak pedagang dari manca negara yang keluar masuk wilayah Abbasiyah. Mereka menjual dan membeli barang-barang dagangan dengan rasa aman dan damai.
4. Peristiwa dibidang pendidikan
Sektor pendidikan juga menjadi pusat perhatian para khalifah Islam. Sudah menjadi tekad para khalifah, untuk memberikan pendidikan gratis bagi rakyatnya. Tidak hanya ditingkat dasar, menengah, melainkan sampai perguruan tinggi. Semua biaya ditanggung oleh negara. Semua warga bangsa Abbasiyah tidak boleh ada yang putus sekolah. Para guru, ulama, dan tenaga kependidikan lainnya mendapat pengakuan dan gaji yang cukup dari pemerintah.
Untuk memajukan sektor pendidikan dan sumber daya manusia itu, setiap khalifah Islam mendirikan lembaga pusat pendidikan dan pengkajian ilmu pengetahuan, seperti lembaga Baitul Hikmah, Darul Hikmah, Majelis Mundarazah, Kuttab, Ma’had An-Nidzamiyya, dan sebagainya.
5. Peristiwa dibidang seni budaya
Bidang seni budaya mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Diantara seni budaya yang berkembang pada wktu itu ialah sebagai berikut:
a. Seni arsitektur
Para khalifah Islam sangat menyukai seni arsitektur atau seni bangunan. Untuk memajukan seni budaya ini para khalifah banyak mendatangkan para ahli dari luar Abbasiyah, seperti romawi, Yunani, dan persia. Mereka diundang selain untuk keperluan membangun suatu gedung, mereka juga ditugasi untuk mengajar putera-puteri Abbasiyah dibidang seni tersebut. Dengan demikian sepeninggal ahli seni arsitektur itu banyak bermunculan arsitek-arsitek muslim.
b. Seni tata kota
Seni tata kota juga mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada waktu itu banyak kota-kota yang dibangun dengan menggunakan teknik dan seni tata kota yang tinggi. Diantara kota-kota yang memiliki seni tata kota yang tinggi antara lain: kota Bagdad dengan Arsitektur berbentuk bundar. Dipusat kota dibangun Istana Khalifah dan Masjid Raya. Disekeliling istana dan masjid dibangun alun-alun dan rumah komandan pengawal dan para pengaalnya. Sepanjang batas kota dihiasi dengan taman bunga, dan dikelilingi dengan tembok pertahanan yang tinggi. Selain itu, kota dibagi menjadi empat ilayah administrasi. Barat, timur, utara, dan selatan. Setiap wilayah dipimpin oleh wali gubernur dan bertanggung jaab terhadap khalifah.
c. Seni sastra
Kota Baghdad dan sekitarnya pada waktu itu dikenal sebagai gudangnya penyair dan sastrawan. Akibatnya perkembangan seni sastra mengalami puncak keemasannya pada masa klasik ini.
Para penyair dan sastrawan banyak bermunculan pada waktu itu, diantaranya: Abu Atahiyah (130-211 H/760-841 M), Abu Nawas (145-198 H/741-794 M), Abu Tamam (w. 232 H/847 M), Al-Buhtury (206-285 H/821-900 M), Al-Mutannabi (303-354 H/916-967 M).
d. Seni musik
Selain seni sastra, arsitektur, dan tata kota, seni musik juga mengalami perkembangan yang cukup pesat pada aktu itu. Para Khalifah islam pada umumnya menyukai seni musik, dan mereka mempunyai seniman-seniman musik khusus istana untuk menghibur khalifah dan keluarganya.
Banyak seniman yang lahir pada masa ini, antara lain: Yunus bin sulaiman (w. 148 H/765 M), Khalil bin Ahmad Al-Farahidi (w. 175 H/791 M), Isha bin Ibrahim Al-Maushuli (w. 250 H/850 M).
6. Peristiwa-peristiwa penting dibidang ilmu pengetahuan dan peradaban serta tokoh-tokohnya
Pada masa ini kaum muslimin banyak melakukan transformasi ilmu pengetahuan melalui penerjemahan buku-buku karya bangsa terdahulu, seperti buku-buku karya bangsa Yunani, Romawi, Persia, Mesir Kuno, Mesopotamia, India, maupun karya bangsa terdahulu lainnya.
Diantara ilmu yang mengalami proses transformasi dan pengembangan ialah sebagai berikut:
a. Penerjemahan buku-buku filsafat
Setelah para ulama banyak menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani kedalam bahasa Arab, terutama pada masa pemerintahan Abbasiyah maka pada masa-masa berikutnya kaum muslimin banyak tertarik mempelajari filsafat, bahkan mereka mampu mnafsirkan dan mengadakan perubahan serta perbaikan sesuai ajaran Islam. Usaha mereka itu, pada gilirannya melahirkan filsafat Islam yang sempat menjadi bintangnya dunia filsafat. Begitu pula filosof muslim juga banyak yang dilahirkan pada masa ini, dan buah karya mereka masih dapat kita jumpai sampai saat ini.
Adapun tokoh-tokoh dalam bidang filsafat antara lain: Abu Ishak Al-Kindi (185-259 H/801-873 M), Abu Nash Al-Farabi (w. 390 H/961 M), Ibnu Sina (370-428 H/ 980-1038 M), Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1201 M), Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H/1058-1011 M).
b. Pengembangan ilmu kedokteran
Ilmu tentang kedokteran juga mulai berkembang dengan pesat pada masa akhir abad klasik, yakni paruh terakhir dinasti Abbasiyah I. Banyak dokter muslim yang terkenal pada waktu itu, dan rumah sakit yang megah dan dengan peralatan yang memadai. Rumah sakit yang pertama yang dibangun dengan perlatan canggih yaitu Rumah sakit Islam Yundhissafur di Persia, Iran sekarang, kemudia rumah sakit Bagdad. Banyak dkter muslim dan non muslim yang berpraktik dikedua rumah sakit tersebut, selain mereka juga mengajar para mahasiswa kedokteran di berbagai perguruan tinggi yang ada diberbagai kota besar.
Adapun tokoh-tokoh dalam bidang kedokteran antara lain: Jabir bin Hayyan (w. 161 H/778 M), Abu Zakariya Ar-Razi (251-313 H/809-873 M), Ibnu Sina (370-428 H/ 980-1038 M), Thabib bin Qurra (221-286 H)
c. Pengembangan ilmu astronomi dan astrologi
Ilmu astronomi ialah ilmu yang menyelidiki keadaan-keadaan bintang, dimana letaknya, gerakannya serta tanda-tanda yang ditunjukannya, untuk menentukan hujan, panas dan sebagainya atau dengan kata lain untuk meramal cuaca. Adapun ilmu astrologi adalah yang menitik beratkan hubungan-hubungan kejadian alam, seperti perang, damai, meninggal, sedih, bahagia, dan sebagainya. Ilmu ini mulai berkembang sejak Khalifah Abu Ja’far Al-mansur (136-158 H/754-775 M).
Tokoh tokoh Muslim yang bergerak dalam bidang Astronomi dan Astrologi antara lain: Abu Ma’syar al-Falaki (w. 272 H/885 M), Jabir al-Battani (w. 319 H/931 M), Baihan al-Bironi (w. 440 H/1004 M)
d. Pengembangan ilmu bahasa
Mengingat masyarakat muslim pada masa klasik semakin majemuk dan kompleks yang terdiri atas suku bangsa dan bahasa maka ilmu tata bahasa Arab pun dituntut untuk dapat menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Perkembangan tata bahasa Arab mengalami kemajuan pada masa pemerintahan Abbasiyah. Adapun tokoh-tokohnya sebagai berikut: Imam Syibawaih (w. 183 H/799 M), Abu Zakariya Al-Farra (w. 208 H/823 M), Abu Nawas (145-198 H/762-813 M).
e. Pengembangan ilmu sejarah
Pada masa klasik, telah disusun buku sejarah umat manusia serta segala sikap perilaku hidupnya, peristia yang dialaminya, dan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan kehidupan manusia. Pada masa ini, banyak sejarawan muslim yang terkenal dan produktif, sehingga buah karya mereka masih dapat kita temukan saat ini, seperti kitab muqadimah karya Ibnu Khaldun.
Adapun tokoh-tokohnya antara lain: Abu Ismail Al-Azdy, Al-Waqidy Al-Maghazy, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hisyam.
f. Pengembangan ilmu geografi
Ilmu tentang tata letak wilayah ini mulai berkembang sejak masa pemerintahan Abbasiyah, dan terus berkembang sampai saat ini. Para khalifah Abbasiyah memberikan jaminan hidup yang memadai bagi para ilmuwan dan ulama, termasuk ilmuwan geografi.
Adapun tokoh-tokohnya dalam bidang ilmu geografi, antara lain: Ibnu Kardabazah, Ibnu Khaik, Ibnu Fadlan.
g. Pengembangan ilmu farmasi dan kimia
Setelah buku-buku asing banyak diterjemahkan kedalam bahasa Arab, termasuk buku-buku tentang kimia dan farmakologi maka para ilmuwan muslim sibuk menggali dan mempelajari ilmu ini. Mereka banyak mengahasilkan buah karya tentang kedua ilmu tersebut. Diantara karya-karya mereka masih dapat kita jumpai sampai saat ini, seperti kitab Al-Mughny karya Ibnu Baithar.
Adapun tokoh-tokoh yang lain dalam bidang ilmu farmasi dan kimia antara lain: Tsabit bin Qurrah Al-Hirany, Abul Wafa Muhamad bin Ismail bin Abbas.
h. Pengembangan ilmu pasti
Ilmu pasti juga sangat berkembang dengan pesat pada masa klasik, khususnya masa Dinasti Abbasiyah. Peran lembaga penerjemah Baitul Hikmah sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk perkembangan ilmu pasti (Riyadhiyat).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Islam pada periode klasik ialah sejarah perjuangan kaum muslimin menyebarkan Islam pada kisaran waktu tahun 650-1250 M. Pada kurun waktu itu, dakwah islam mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat.
Ahli sejarah Islam membagi periode Klasik Islam kedalam tiga episode, yaitu sebagai berikut: Episode Khalifah Rasyidah (632-661 M), Episode Dinasti Umayyah (661-750 M), dan Episode Dinasti Abbasiyah (750-1250 M).
Ada banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada zaman Islam klasik. Peristiwa ini sekaligus menandai akan kemajuan Islam pada masa itu, peristiwa-peristiwa penting itu diantaranya sebagai berikut:
1. Peristiwa penting dibidang politik, militer, dan tokoh-tokohnya
a. Peristiwa penumpasan kaum pemberontak
b. Peristiwa penumpasan kelompok gerakan keagamaan
Kelompok gerakan keagamaan yang berhasil di tumpas yaitu: Gerakan kelompok Ar-Rawandiyah, Gerakan kelompok Al-Muqanniyah, Gerakan kelompok Al-Khuramy, Gerakan Kelompok Az-Zanadiqah
c. Peristiwa politik pemerintahan
Beberapa lembaga pemerintahan yang dibentuk oleh para khalifah, antara lain sebagai berikut: Pembentukan perdana menteri dan para kabinetnya , Pembentukan sekretariat Negara (Diwanul kitabah), Pembentukan departemen sebagai lembaga pembantu perdana menteri, antara lain: Diwanul Kharij (Departemen Luar Negeri), Diwanul Ziman (Departemen Pengawasan dan urusan Negara), Diwanul Jundi (Departemen pertahanan dan keamanan), Diwanul Akarah (depertamen pekerjaan umum dan tenaga kerja), Dianul Rasail (departemen pos dan komunikasi), Pembentukan gubernur dan penataan pemerintahan Desa, Pembentukan angkatan bersenjata, terdiri atas angkatan darat (AD), dan Angkatan Laut (AL), Pembentukan Baitul Mal dan lembaga kas Negara, Pembentukan Mahkamah Agung.
2. Peristiwa-peristiwa penting dibidang Ilmu Agama Islam
Banyak peristiwa keilmuan yang terjadi pada masa itu, antara lain: Menyempurnakan tulisan dan tanda baca Al-Qur’an, dan Kodifikasi dan penulisan Hadis.
3. Peristiwa dibidang Sosial Ekonomi
Para khalifah berhasil membangun ekonomi rakyatnya, dengan membangun beberapa sektor perekonomian, seperti sektor pertanian, industri dan perdagangan.
4. Peristiwa dibidang pendidikan
Untuk memajukan sektor pendidikan dan sumber daya manusia itu, setiap khalifah Islam mendirikan lembaga pusat pendidikan dan pengkajian ilmu pengetahuan, seperti lembaga Baitul Hikmah, Darul Hikmah, Majelis Mundarazah, Kuttab, Ma’had An-Nidzamiyya, dan sebagainya.
5. Peristiwa dibidang seni budaya
Bidang seni budaya mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Diantara seni budaya yang berkembang pada waktu itu ialah sebagai berikut: Seni arsitektur, Seni tata kota, Seni sastra, Seni musik
3. Peristiwa-peristiwa penting dibidang ilmu pengetahuan dan peradaban serta tokoh-tokohnya
Diantara ilmu yang mengalami proses transformasi dan pengembangan ialah sebagai berikut: Penerjemahan buku-buku filsafat, Pengembangan ilmu kedokteran, Pengembangan ilmu astronomi dan astrologi, Pengembangan ilmu bahasa, Pengembangan ilmu sejarah, Pengembangan ilmu geografi, Pengembangan ilmu farmasi dan kimia, Pengembangan ilmu pasti.
DAFTAR PUSTAKA
H.A. Wahid Sy. 2009. Sejarah kebudayaan Islam MA. Bandung: CV Amico
Prof.Dr. A. Syalabi. 1995. Sejarah dan Kebudayaan Islam 2. Jakarta: Mutiara Sumber Widya
Joesoef sou’yb. 1977. Sejarah Daulat Umayyah I di damaskus. Jakarta:Bulan Bintang
Kementrian Agama Republik Indonesia. 2014. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Kementrian Agama
[1] H.A. Wahid Sy. 2009. Sejarah kebudayaan Islam MA. Bandung: CV Amico hal. 43
[2] H.A. Wahid Sy. 2009. Sejarah kebudayaan Islam MA. Bandung: CV Amico hal. 43
[3] Kementrian Agama Republik Indonesia. 2014. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Kementrian Agama hal.70
[4] Ibid hal. 87
[5] Prof.Dr. A. Syalabi. 1995. Sejarah dan Kebudayaan Islam 2. Jakarta: Mutiara Sumber Widya hal.30
[6] Joesoef sou’yb, 1977, sejarah daulat umayyah I di damaskus, Bulan Bintang: Jakarta Hal 233-239
[7] H.A. Wahid Sy. 2009. Sejarah kebudayaan Islam MA. Bandung: CV Amico hal. 45
[8] Ibid hal.47

