PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Masa modernisasi Islam atau disebut dengan masa pembaruan mulai menggeliat pada tahun 1800 M. Pada masa tersebut kalangan kaum muslimin banyak yang mengerahkan pemikirannya untuk kemajuan agama Islam. para Ulama, Cendekiawan muslim di berbagai wilayah Islam banyak yang intens terhadap studi Islam sehingga keortodokannya mulai ditinggalkannya. Sehingga pada masa pembaharuan tersebut ilmu pengetahuan, kebudayaan dan ajaran islam berkembang di berbagai Negara seperti Negara India, Turki, Mesir.
Pada perkembangan Islam abad modern, umat islam timbul kesadarannya tentang pentingnya ajaran islam yang sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman hidup. karena umat Islam sudah jauh dari ajaran Rasulullah SAW yaitu banyak penyimpangan-penyimpangan dari sumber asalnya, penyakit bid’ah, tahayul, klenik, perdukunan, kemusrikan dll sangat merebak dan hamper seperti kehidupan Jahiliyah. Dengan kondisi umat Islam tersebut maka muncullah para pembaharu yaitu suatu gerakan pemurnian terhadap ajaran agama Islam yang sesuai dengan ajaran yang bersumber pada Qur’an dan Hadits.
Adapun latar belakang dari makalah kelompok kami mengambil tema agama, yang berjudul perkembangan islam pada masa modern adalah karena banyak orang terutama umat muslim yang belum mengetahui bagaimana perkembangan islam pada masa modern secara keseluruhan. Mulai dari perkembangan ajaran islam, ilmu pengetahuan, samapi kebudayaan islam pada masa tersebut.
B. Rumusan Masalah
Dari rumusan masalah di atas, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perkembangan Islam pada masa modern?
2. Apa saja peristiwa-peristiwa penting dan siapa saja tokoh-tokoh penting dalam perkembangan Islam pada masa modern?
3. Ibrah apa saja yang dapat kita ambil dari peristiwa perkembangan Islam pada masa modern?
4. Bagaimana cara kita meneladani tokoh-tokoh dalam perkembangan Islam modern?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari rumusan masalah tersebut ialah:
1. Untuk memperoleh data mengenai perkembangan Islam pada masa modern
2. Untuk memperoleh data mengenai peristiwa-peristiwa penting tokoh-tokoh penting dalam perkembangan Islam pada masa modern
3. Untuk memperoleh data mengenai Ibrah yang dapat kita ambil dari peristiwa perkembangan Islam pada masa modern
4. Untuk memperoleh data mengenai cara kita meneladani tokoh-tokoh dalam perkembangan Islam modern
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Islam Pada Masa Modern
Dalam garis besarnya, sejarah Islam dapat dibagi menjadi tiga periode besar, yakni: klasik, pertengahan dan modern.[1] Modern bukanlah sekadar suatu periode, melainkan pandangan dunia atau prinsip metafisis (ontologis). Oleh karena itu modern diartikan sebagai draft dunia yang di dominasi oleh pandangan dunia modern.[2]
1. Perkembangan Ajaran Islam
Semenjak umat Islam menyadari kemunduran dan ketertinggalannya dari bangs-bangsa Barat. Timbullah ide-ide pembaruan dalam Islam. Ide-ide itu muncul dari para tokoh pembaruan dunia Islam untuk mengajak umat Islam agar sadar, bangkit, dan bangun dari nyenyak tidurnya. Kebangkitan umat Islam itu telah diprediksi oleh para orientasi Barat sendiri. Mereka melihat sumber utama pemicu kebangkitan umat Islam itu terdapat padaajaran Islam yang diyakininya. Misalnya Scawen Blunt mengatakan bahwa palinh tidak ada empat faktor yang mengandung kebangkitan umat Islam, yaitu:
a. Ibadah haji yang dilakukan kaum muslimin seluruh dunia setahun sekali. Pertemuan ibadah haji merupakan momentum strategis untuk menjalin persatuan umat Islam, disamping sebagai media tukar informasi satu sama lain.
b. Khalifah: yang mengharuskan adanya suatu pemerintahan dikalangan umat Islam berdasarkan agama.
c. Adanya kota Mekah dan Madinah sebagai kota yang disucikan umat Islam. Dua kota itu seelalu dikunjungi jutaan muslimin dan berbagai belahan dunia setahun sekali.
d. Adanya nilai-nilai luhur reformasi bagi kebangkitan Islam dan kaum muslimin pada masa yang akan datang.[3]
Sasaran utama yang menjadi target pembaharuan dalam dunia Islam adalah pembaruan akidah dan keimanan umat Islam. Pada saat itu banyak umat Islam yang memahami agamanya secara keliru, sehingga membuat mereka terpuruk dan jatuh kelembah kehinaan. Kekeliruan tersebut harus dibenarkan dan diluruskan agar kembali pada ajaran Islam dan mau mengamalkannya secara murni dan konsekuen.
Ide pembaharuan akidah pertama kali dilontarkan oleh Muhamad bin Abdul Wahab (1703-1778). Ulama yang tinggal di Najed. Ia menganjurkan agar umat Islam kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Tidak melakukan taklid buta terhadap ulama terdahulu, dan pintu ijtihad masih terbuka sampai akhir zaman. Dia melarang semua bentuk kegiatan yang berbauh bid’ah, khurapat dan takhayul seperti berziarah ke makam para wali tarekat untuk memohon pertolongan terhadap arwah para wali. Bagi Muhamad bin Abdul Wahab perbuatan tersebut tergolong musyrik dan dosa besar.
Di India juga muncul ide pembaharuan dan modernisasi pemikiran, yang dipelopori oleh syah Waliyullah (1703-1762). Ia berjuang geras mempersatukan umat Islam yang terpecah belaholeh adanya paham-paham yang menyesatkan. Misalnya, singkretisme, pantaisme, dan hinduisme, yang merusak ke dalam ajaran Islam yang membuat kaum muslimin India pada waktu itu berselisih satu sama lain. Lebih ironis lagi, tidak menyadari apa yang sedang diperselisikan.
Di Mesir juga terjadi proses kebangkitan umat Islam. Hal itu ditandai dengan bergulirnya gagasan pembaharuan yang dipelopori oleh Rifa’ah Badwi Rufi’at-Tahtawi (1801-1873). Ia menganjurkan agar umat Islam membuka diri bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari bangsa Barat. Ia menegaskan bahwa pintu ijtihad itu masih terbuka, tetap terbuka, dan tidak akan pernah ditutup sampai hari kiamat. Untuk itu, umat Islam segera berlomba-lomba mempelajari ilmu pengetahuan modern sebagaimana yang dipelajari oleh bangsa-bangsa Barat. Sebab hanya dengan demikian, umat Islam bangkit dari ketertinggalannya.
2. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Setelah sekian abad dunia Islam diselimuti kabut kebodohan dan kegelapan, pada abad ke-18 M. kaum muslimin segera menyadari ketertinggalan dan keterbelakangany, terutama umat Islam di Turki dan Mekah. Kedua Negara itu merupakan simbol kebangkitan dunia Islam. Di Mesir, Muhammad Ali Phasya (1765-1849) tampil sebagai pembaru di bidang ilmu pengetahuan. Usahanya itu dilanjutkan oleh penerusnya Rifa’ah Badwi At-Tahwi (1801-1873), ia berusaha menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dri Barat ke dalam bahasa arab. Selain itu, untuk memberikan pembelajaran dan pencerdasan umum kepada masyarakat, ia juga menerbitkan jurnal dan majalah tentang ilmu pengetahuan dan teknologi.[4]
Beberapa tahun kemudian, kaum muslimin di Mesir juga mendirikan berbagai lembaga pendidikan.baik tingkat dasar dan menengah maupun tingkat atas. Sekolah tinggi teknik, sekolah tinggi kedokteran, sekolah tinggi militer, sekolah tinggi farmasi merupakan lembaga perguruan tinggi yang pertama kali didirikan .sekolah tinggi farmasi dan apoteker didirikan pada tahun 1829, sekolah tinggi pertambangan tahun 1834, sekolah tinggi pertanian tahun 1836, sekolah tinggi penerjemahan tahun 1836.
Selain di Mesir, di turki juga mengalami proses kebangkitan umat Islam yang ditandai dengan ide pembaharuan yang digagas oleh Sultan Mahmud II (1785-1839). Sultan Mahmud adalah tokoh sentral bagi terjadinya pembaharuan dan kebangkitan umat Islam di Turki. Ia menganjurkan agar rakyatnya mau mempelajari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ia segera membuka sekolah-sekolah umum yang khusus mempelajari ilmu pengetahuan. Di India telah didirikan Universitas Islam Alghirah pada tahun 1890 M, pusat pendidikan muhammadaden anglo college (1878), dan muhamaden educational conference tahun 1889 M.
Lahirnya berbagai lembaga pendidikan tersebut, tentu bedampak positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada masa modern, bahkan dapat dirasakan manfaatnya hingga saat ini. Umat Islam mulai membuka diri dan bersedia menerima perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari mana pun datangnya, sepanjang tidak bertentangan dengan inti ajrn Islam.
3. Perkembangan Kebudayaan dan Peradaban
Dampak positif perkembangan kebudayaan dan peradaban misalnya, budaya demontrasi yang menempatkan setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama di muka hukum, budaya disiplin yang sudah mulai pudar di kalangan umat Islam, budaya persamaan hak, dan budaya emansipasi gender. Adapun dampak negatifnya antara lain pergalulan bebas, seks bebas, mabuk mabukan, perjudian, riba, hedonisme, dan sebagainya yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
B. Peristiwa-Peristiwa Penting dan Tokoh-Tokoh dalam Perkembangan Islam Pada Masa Modern
1. Peristiwa Gerakan Modernisasi Ideologi
Gerakan ini dipelopori oleh Muhamad bin Abdul Wahab (1703-1813), lahir di Uyaina, Saudi Arabia pada tahun 1703 M. Muhamad bin Abdul Wahab memandang persoalan tauhid merupakan ajaran yang paling dasar dalam Islam. Oleh karena itu, jika terjadi pencemaran atau pelencengan dari yang sebenarnya maka harus segera diluruskan. Ia berpendapat sebagai berikut.[5]
a. Yang bolh dan harus disembah hanyalah Allah, dan orang yang menyembah selain Allah maka ia menjadi musyrik dan boleh dibunuh.
b. Kebanyakan orang Islam bukan lagi menganut paham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan lagi kepada Allah, tetapi kepada syaikh atau wali dan dari kekuatan gaib. Orang Islam yang demikian juga termasuk musyrik.
c. Menyebut nama nabi, syaikh atau malaikat sebagai perantara dalam doa juga merupakan syirik.
d. Meminta syafaat selain kepada Tuhan adalah juga syirik.
e. Bernazar kepada selain Allah swt, juga termasuk syirik.
f. Memperoleh pengetahuan selain dari al-quran, hadits, dan qiyas merupakan kekufuran.
g. Tidak percaya kepada qada dan qadar juga merupakan kekufuran.
h. Menafsirkan al-quran secara bebas juga merupakan kekufuran.
Semua yang disebutkan diatas di anggap bid’ah, artinya kesesatan. Untuk meluruskan akidah dan syariah umat Islam, menurut Muhamad bid Abdul Wahab yaitu umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang asli, yang hanya berdasarkan al-Quran dan Sunnah. Pemikiran-pemikiran Muhamad bin Abdul Wahab yang menarik untuk diperhatikan antara lain sebagai berikut.
a. Hanya al-quran dan Hadits yang merupakan sumber asli ajaran Islam.
b. Taklid kepada ulama dan wali tidak diperkenankan.
c. Pintu ijtihad tetap terbuka dan tidak pernah ditutup.
2. Peristiwa Gerakan Modernisasi Politik Islam
Gerakan ini dipelopori oleh Jamaludin Al-Afghani. Ia dilahirkan di Asad pada tahun 1839 M, dan wafat di Istambul 1897 M. adapun karir politiknya yang paling tinggi sebagai perdana menteri pada masa pemerintahan Azham Afghanistan. Dalam pergolakan yang terjadi, Al-Afghani lebih memihak kepada kelompok yang mendapat dukungan Inggris. Dengan demikian, ia dapat leluasa meninggalkan tanah tempat kelahirannya menuju India pada tahun 1896 M.[6]
Ketika Inggris mulai mencampuri urusan politik dalam negeri India. Dan membutnya tidak lagi bebas bergerak, maka pada tahun 1871 M. al-Alfaghani memilih hijrah ke Mesir. Pada saat yang bersamaan, ide-ide politik kebangsaan yang digulirkan oleh at-Tahthawi telah banyak diserap oleh masyarakat Mesir, di antaranya ide trias politika dan patriotism. Oleh karena itu Afghani memandang bahwa masyarakat Mesir telah cukup matang untuk membentuk suatu partai kebangsaan. Akhirnya pada tahun 1879 M atas usaha Afghani dibentuklah partai Al-Hizbul Wathani (partai nasional). Slogan “Mesir untuk Mesir”mulai digumandangkan diantara tujuan partai ini adalah memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekan pers, dan pemasukan unsur-unsur Mesir dibidang militer.
Lebih kurang delapan tahun, Al-afghani tinggal dimesir dan berkiprah dalam persoalan politik, dan ia pindah ke Paris dan disana ia mendirikan perkumpulan Al-Urwatul Wutsqa. Anggotanya adalah kaum muslimin dari berbagai suku bangsa, seperti India, Mesir, Suriah, Afrika Utara, dan sebagainya. Organisasi ini bertujuan untuk memperkuat rasa persaudaraan Islam kepada kemajuan.
Melihat kiprahnya yang lebih banyak di bidang politik, Al-Afghani lebih cenderung disebut sebagai pemimpin politik Islam daripada sebagai pemikir pembaruan dalam Islam. Namun demikian langkah Al-Afghani tidak lepas dari kerangka mengadakan modernisasi dan pembaruan pemikir umat Islam. Banyak langkah yang dilakukannya dalam upaya pencerdasan politik masyarakat, di antaranya sebagai berikut.
a. Gerakan politik Pan-Islamisme
Untuk mengimplementasikan gagasan politiknya itu maka Al-afghani mengemasnya dengan gerakan Pan-Islamisme. Al-afghani menghendaki pemerintahan yang demokratis, yang didalamnya terdapat kebebasan mengeluarkan pendapat, dan kewajiban kepada Negara tunduk kepada undang-undan. Di atas semua itu persatuan umat Islam harus ditegakkan, sebab tanpa adanya persatuan umat, gagasan besar untuk memajukan umat Islam tidak akan pernah terwujud.[7]
b. Majalah politik Al-Urwatul Wutsqa
Al-afghani menerbitkan majalah yang diberi nama sama dengan organisasi sebagai induknya, yaitu al-Urwatul wutsqa, setelah terbit majalah langsung mendapat sambutan yang positif dikalangan umat muslim di seluruh dunia. Namun karena dunia Barat khawatir atas pengaruh besar al-Afghani dan majalah yang dipimpinnya itu, maka mereka melarang majalah tersebut masuk ke negara-negara Islam yang menjadi jajahan mereka. Naum ia tidak berhenti begitu saya, ia terus berjuang membela kepentingan umat Islam. Sampai akhirnya majalah itu diterbitkan kembali oleh para pengikutnya di Paris sepeninggal Al-afghani.
3. Peristiwa Modernisasi Politik dan Pemerintahan Islam
Gerakan ini dipelopori oleh Muhamad Abduh (1849-1905) dilahirkan di sebuah kampong di Mesir Hilir pada tahun 1949 M. langkah pembaruan Abduh di bidang politik dan pemerintahan antara lain sebagai berikut:
a. Modernisasi politik Islam
Pada tahun 1880 Muhamad Abduh diangkat menjadi redaktur syrat kabar resmi pemerintahan Mesir “Al-Waqa’I Al-Mishriyah”. Pada waktu itu rasa nasionalisme bangsa Mesir telah tumbuh dengan baik. Di bawa pimpinan Muhamad abduh, suart kabar milik pemerintah ini tidak hanya menyiarkan berita-berita resmi pemerintah, melainkan juga artikel-artikrl tentang kepentingan nasional mesir.[8]
Strategi pergerakan yang dikemas Muhamad Abduh mulai membuahkan hasil. Pada tahun berikutnya para perwira Mesir melakukan pendobrakan atas control yang dilakukan oleh para perwira Turki dan Sarkas, yang selama ini menguasai tentara Mesir. Atas peranan Muhamad Abduh melalui media massa ya ng dipimpinnya, perwira militer Mesir melakukan kedeta di bawah pimpinan Uraby Pasya, sehingga dapat menguasai pemerintahan. Namum pemerintahan yang dipegang kelompok nasionalis yang didalamnya terapat Muhamad Abduh itu, Inggris melakukan penyerangan besar-besaran. Kelompok nasionalispun dapat dengan mudah dijatuhkan.
Peperangan melawan Inggris itu disebut dengan Revolusi uraby Pasya.dan sebgai pihak yang kalah semua pemimpin nasionalis termasuk Muhamad Abduh dipenjarakan, kemudian di asingkan pada tahun 1882 M.
Pada tahun 1885 M Muhamad Abduh kembali ke Beirut melalui Tunisia, dan sempat mengajar dalam perbagai waktu lamanya. Pada tahun 1888 M, atas dasar usaha teman-temanya, diperbolehkan pulang ke Mesir, tetapi tidak di izinkan mengajar karena pemerintahan Mesirtakut akan pengaruhnya terhadap mahasiswa. Iapun diangkat sebagai hakim suatu pengadilan negeri. Pada tahun 1895 M ia ia diangkat sebagai anggota majelis A’la dari Al-Azhar. Karir tertinggi politik terjadi pada tahun 1899 M sebagai mufti Mesir. Kedudukan yang tinggi dipegangnya sampai ia meninggal pada tahun 1905 M.
b. Modernisasi Pemerintahan Islam (Khilafah)
Konsep khilafah Muhamad Abduh tidak berbeda dengan khalifah yang digagas oleh gurunya Jamaludin Al-Afghani. Hanya saja titik kulminasinya berbeda. Jika Al-Afghani menekankan pada persatuan umat sebagai kunci kemajuan umat Islam, maka Muhamad Abduh memandang pendidikan universal dan global sebagai langkah awal dalam pembentukan khilafah. Untuk memajukan kemajuan umat Islam, menurutnya harus aada satu pemerintahan dalam Islam (khilafah), dan untuk mendorong lahirnya sistem khilafah tersebut, hendaknya dimulai dari mencerdaskan umat Islam. Oleh karena itu pendidikan merupakan hak asasi bagi kehidupan umat Islam.[9]
4. Peristiwa modernisasi pemikiran keagamaan
Gerakan ini dipelopori oleh Sayyid Muhamad Rasyid Ridha (1865-1935), ia dilahirkan di suatu desa di Lebanon bernama Al-Qalamun. Menurut keterangan, ia berasal dari keturunan Al-Husain, cucu Rasulullah saw., sehingga pada namanya melekat nama Sayyid. Semasa kecil ia belajar di salah satu Madrasah di Al-Qalamun, untuk belajar membaca, menulis dan belajar Al-Qur’an. Pada tahun 1882 M Ia melanjutkan pelajarannya di Madrasah Al-Wathaniyah al-Islamiyah (Sekolah Nasional Islam) di Tripoli. Di Madrasah itu, selain bahasa Arab, diajarkan pula bahasa Turki, Prancis dan berbagai ilmu pengetahuan modern.
Pendiri sekolah nasional Islam itu adalah Syaikh Husain Al-Jisr, yang semula dimaksudkan untuk menandingi sekolah-sekolah Kristen yang sudah mulai bertebaran. Sayangnya sekolah tersebut tidak berumur panjang karena keburu ditutup oleh pemerinth Turki Usmani. Lalu Rasyid Ridha pun melanjutkan studinya di salah satu Madrasah yang ada di Tripoli. Namun hubungannnya dengan Syaikh Husain Al-Jisr tetap berlangsung, sebagaimana layaknya hubungan guru dan murid.
Ide-ide pembaruan oleh Syaikh Jisr tampaknya membekas dalam jiwa Rasyid Ridha, dan sejalan dengan pemikiran Jalaludin Al-Afghani beserta Muhamad Abduh yng ia kenali lewat majalah Al-Urwatul Wutsqa. Oleh karena itu, ketika Muhamad Abduh dibuang ke Lebanon, Rasyid Ridha tidak membuang kesempatan tersebut untuk segera bertemu dan berdiskusi bersama Muhamad Abduh. Pertemuan pertamanya itu, tampaknya sangat berkesan dihatinya, sehingga ketika Muhamad Abduh di panggil ulang ke Mesir, ia pun turut serta menuju negeri sang guru. Langkah-langkah modernisasi yang ia lakukan antara lain sebagai berikut:
a. Modernisasi pemikiran Islam
Merasa gagasan pembaruan di Suriah tidak mendapat respons positif dari penguasa Turki Usmani, maka Rasyid Ridha memutuskan segera menyusul sang guru Muhamad Abduh ke Mesir. Merasa dekat dengan sang guru, Rasyid Ridha atas dukungan Muhamad Abduh segera menerbitkanmajalah yang diberi nama Al-Manar. Di dalam edisi pertama dinyatakan bahwa tujuan, visi dan misi Al-Manar sama dengan Al-Urwatul Wutsqa, antara lain mengadakan pembaruan dibidang Agama, sosial dan ekonomi, memberantas takhayul dan bid’ahyang masuk ke dalam tubuh Islam, menghilangkan paham fatalisme di kalangan umat Islam, meningkatkan mutu pendidikan dan membela umat Islam dari kesewenang-wenangan bangsa Barat.
Melalui majalah Al-Manar, Rasyid Ridha menyiarkan gagasan-gagasan pemikiran Muhamad Abduh. Guru memberikan ide-ide pemikiran kepada murid, kemudian muridlah yang menjelaskan dan menyiarkan kepada khalayak umum melalui majalah Al-Manar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa majalah Al-Manar adalah corong pembaruan yang dilakukan oleh Muhamad Abduh dan Rasyid Ridha. Selain itu, gagasan Muhamad Abduh juga menjadi dikenal masyarakat luas, atas jasa muridnya yang setia (Rasyid Ridha) dalam menerbitkan majalah Al-Manar. Dua pemikir muslim itu, dapat disebut sebagai dua mata sisi uang yang tak dapat dipisahkan.
b. Modernisasi tafsir Al-Qur’an
Tidak puas menyerap ide-ide pemikiran Muhamad Abduh melalui majalah Al-Manar, Rasyid Ridha kemudian meminta sang guru agar menulis tafsir modern yang sesuai dengan gagasan pembaruannya. Pada mulanya, guru tidak sependapat dengan murid, dan ia pun menolak permintaan muridnya. Namun karena Rasyid Ridha mendesak dengan argumen-argumennya yang meyakinkan, akhirnya Muhamad Abduh bersedia memberikan kuliah tafsir Al-Qur’an di Al-Azhar. Kuliah-kuliah tafsir itu dimulai pada tahun 1899 M dan selalu dihadiri oleh Rasyid Ridha.
Keterangan-keterangan sang guru selalu dicatatnya untuk seterusnya disusun dalam bentuk artikel. Selanjutnya tulisan itu diserahkan kepada guru untuk dikoreksi. Setelah mendapat persetujuan, tulisan itu diterbitkan di Majalah Al-Manar. Muhamad Abduh memberikan kuliah tafsir itu selama kurang lebih 6 tahun, sampai ia meninggal tahun 1905. Semua catatan kuliahnya itu di rangkum oleh Rasyid Ridha untuk kemudian dimuat dalam majalah Al-Manar. Oleh sebab itu, tafsir yang ditulis Muhamad Rasyid Ridha diberi nama Tafsir Al-Manar.
Muhamad Abduh sempat memberikan tafsiran sampai dengan ayat 125 suran An-Nisa (Jilid III dari Tafsir Al-Manar), dan selanjunya adalah tafsiran Muhamad Rasyid Ridha sendiri.[10]
5. Peristiwa modernisasi politik kenegaraan
Gerakan ini dipelopori oleh Mustafa Kemal, ia diberi gelar Attartuk (Bapak Turki) atas keberhasilannya menyelamatkan Kerajaan Turki Usmani dari kehancuran total dan bangsa Turki dari penjajahan Eropa. Ia dilahirkan di Salonika pada tahun 1881 M. bapaknya bernama Ali Reza yang bekerja sebagai pegawai biasa pemerintahan Turki Usmani. Ibunya bernama Zubaedah, tergolong wanita yang taat beragama. Ketika tugasnya dimutasikan di daerah pinggiran di lereng gunung Olimpus, tak lama kemudian Ali Reza memilih pensiun muda dan menjadi pedagang kayu. Namun pekerjaannyya sebagai pedagang, banyak mendapat gangguan dari para perampok. Dalam keadaan susah, Ali Reza jatuh sakit dan meninggal dunia.
Langkah-langkah modernisasi yang dilakukannya antara lain sebagai berikut:
a. Modernisasi politik pemerintahan
Awal keterlibatan Mustafal Kemal Attartub dibidang politik, dimulai setelah menamatkan sekolah militernya Mustafa dan teman-temannya pernah membentuk suatu komite rahasia dan menerbitkan surat kabar tulisan tangan yang mendukung kritik terhadap sultan Turki. Kegiatannya itu diketahui oleh pihak pemerintah kerajaan, dan semua anggota gerakan itu diasingkan keluar Istambul. Mustafa Kemal dan temannya Ali Fuad dibuang ke Suriah sedangkan yang lainnya ada yang di penjarakan.
b. Modernisasi dan sekularisasi agama
Dalam pandangan Mustafa Kemal Attartub Agama harus dipisahkan dari negara dan dari segala urusan duniawi. Menurutnya, Bangsa Barat maju karena mereka melepaskan doktrin-doktrin Agama dari kehidupan mereka. Agama Islam mencakup segala segi kehidupan manusia, mulai dari pakaian, perkakas rumah tangga sampai dengan sekolah dan Institusi. Turut campurnya Islam kedalam segala lapangan kehidupan itulah yang menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran. Demikian Mustafa Kemal mengatakan, Bangsa Turki harus mengambil semua peradaban dari Barat, tanpa terkecuali dan tidak sebagian-sebagian, melainkan seutuhnya.
c. Reaksi Ulama ataside sekularisasi
Gerakan sekularisasi dan westernisasi Mustafa Kemal Attartub, bukan tidak mendapatkan tangan dari masyarakat Turki sendiri, terutama para Alim Ulama setempat, dan orang-orang yang ingin mempertahankan nilai-nilai Islam secara utuh. Misalnya ketika Mustafa Kemal menghapuskan sistem Khalifah dan Sultan. Para Ulama dan mayoritas umat Islam tidak menerima penghapusan Khilafah dan Sultan, bagi mereka Islam bisa ditegakkan melalui kekuasaan selain oleh faktor-faktor lain. Oleh sebab itu, mereka melakukan gerakan bawah tanah yang bertujuan tetap mempertahankan Islam dan nilai-nilai luhurnya di bumi Turki. Meskipun Khalifah Abdul Hamid telah dicabut kewenangannya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, dan beralih kepada presiden dan parlemen, namun mayoritas umat Islam masih mau mendengar titah Sultan dan tradisi kebesaran Islam di Istana Sultan tetap dilaksanakan. Hal itu menunjukkan bahwa rakyat Turki pada umumnya tidak setuju sekularisme yang digagas Mustafa Kemal.[11]
6. Peristiwa gerakan modernisasi pemikiran Islam
Gerakan ini dipelopori oleh Muhamad Iqbal, ia lahir di Sialkot, India pada tahun 1876 M. Setelah menyelesaikan sekolahnya, ia melanjutkan kuliah di Universitas Lahore. Pada tahun 1905 M, ia mendapt dorongan dari Thomas W. Arnold untuk melanjutkan studinya di Cambridge, kemudian pindah ke Munich, Jerman untuk menyelesaikan doktornya dibidang Tasawuf.
Pada tahun 1908 M, ia kembali ke Lahore untuk mengajar di almamaternya, dan merengkap sebagai pengacara. Selama di kota Lahore, ia sering mendapat panggilan ceramah ke berbagai Univeritas. Makalah ceramahnya itu dibukukan dengan judul The Reconstruction of Religious Thought of in Islam (membangun kembali pemikiran Islam).
Menurut Muhamad Iqbal, Islam pada hakikatnya mengajarkan dinamisme. Al-Qur’an senantiasa menganjurkan pemakaian akal terhadap ayat atau tanda yang terdapat dalam alam, seperti matahari, bulan, pertukaran siang dan malam, dan sebagainya. Orang yang tidak peduli dan tidak memperhatikan tanda-tanda itu, akan tetap buta terhadap masa-masa yang akan datang. Konsep Islam mengenai alam adalah dinamis dan senantiasa berkembang. Kemajuan serta kemunduran dibuat Tuhan silih berganti diantara manusia yang tinggal di muka bumi ini, dan hal itu mengandung arti dinamis.
Iqbal juga menegaskan bahwa Islam menolak konsep yang salah yaitu alam ini bersifat statis. Islam mempertahankan konsep dinamisme dan mengakui adanya gerak dan perubahan dalam hidup sosial manusia. Adapun prinsip yang dipakai dalam masalah gerak dan perubahan adalah ijtihad. Ijtihad mempunyai kedudukan penting dalam pembaruan Islam.
Konsep dinamismenya inilah yang membuat Iqbal mempunyai kedudukan penting dalam pembaruan di India. Dalam bait-bait syair yang diubahnya, ia selalu mengajak umat Islam India untuk senantiasa bergerak dan tidak tinggal diam. Bagi Iqbal, hakikat hidup adalah gerak, dan hukum hidup adalah menciptakan dunia baru. Bagitu tinggi ia menghargai gerak, sehingga ia menyebut bahwa kafir tang aktif dan kreatif lebih baik dari pada muslim yang statis dan suka tidur.
Selanjutnya menurut Iqbal, untuk bisa mengendalikan pribadi, kita harus menciptakan cinta dalam diri kita dan menjauhi segala bentuk pengangguran. Sebagaimana Rasulullah saw., memberikan suri tauladan kepada kita, dimana citra seluruh kehidupannya adalah kerja. Iqbal juga menjelaskan bahwa untuk mendapat kesempurnaan diri, ada 3 fase yang harus ditempuh, yaitu: a) Ketaatan terhadap hukum Ilahi; b) Penguasaan diri; c) Perwakilan Ilahi.[12]
C. Mengambil Ibrah dari Peristiwa Perkembangan Islam pada Masa Modern
Mempelajari sejarah perkembangan Islampada masa modern, dan mengetahui berbagai peristiwa perkembangan Islam pada masa itu, dapat diambil ibrah bagi kepentingan kehidupan kita pada masa kini dan yang akan datang. Sebab dalam sejarah umat terdahulu, terkandung pelajaran dan suri tauladan yang sangat berharga. Diantara ibrah yang dapat kita petik dari mempelajari sejarah perkembangan islam pada masa modern ialahsebagai berikut:
1. Menghendaki umat Islam meneladani sikap prilaku memegang teguh Agama Islam
Komitmen untuk memegang teguh Agama Islam dan menerapkannya dalam berbagai bidang kehidupan, senantiasa dipegang teguh oleh para Ulama modern. Untuk dapat merubah nasib kaum muslimin yang sempat terpuruk pada awal masa modern, terlebih dahulu mereka melakukan pembaruan atas pemahaman dan pengalaman ajaran Islam, seperti yang dilakukan Muhamad bin Abdul Wahab, Jamaludin Al-Afghani, Muamad Abduh dan lainnya.
2. Menghendaki umat Islam meneladani sikap prilaku mencintai Ilmu pengetahuan
Ilmu bagaikan cahaya yang dapat menerangi dunia yang gelap gulita. Orang yang memiliki ilmu sama halnya mempunyai cahaya yang dapat digunakan sebagai penunjuk jalan ditengah gelap malam. Oleh sebab itu, para ulama terdahulu sangat mencintai ilmu. Mereka tekun belajar siang dan malam, pagi dan sore tanpa mengenal lelah dan jenuh. Selagi ilmu belum didapat, mereka terus berkutat dengan buku-buku dan kitab-kitab. Mereka tidak membiarkan waktu berlalu tanpa mendapat ilmu. Dengan demikian, mereka dapat melakukan perubahan dahsyat bagi kehidupan kaum muslimin di seluruh dunia. Umat Islam yang selama berabad-abad menjadi bangsa tertindas, pada waktu itu mulai bangkit dan diperhitungkan dunia. Siakp prilaku mencintai ilmu inilah yang harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus yakin masa depan orang yang memiliki ilmu akan lebih baik daripada yang tidak berilmu karena ilmu sangat diperlukan bagi kehidupan manusia.
3. Dapat meneladani sikap prilaku mencintai budaya luhur
Agama Islam tidak melarang umatnya mencintai budaya luhur yang mereka miliki. Nilai-nilai budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran Agama, termasuk budaya modern harus dilestarikan, bahkan dapat dikembangkan menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Sebab manusia tidak lepas dari pengaruh kultur lingkungan yang menjadi tempat kehidupannya. Oleh sebab itu, para ulama pada masa modern sangat mencintai nilai-nilai budaya luhur mereka, termasuk seni budaya dan peradaban. Dengan mencintai budaya luhur yang dimiliki, kita tidak akan kehilangan jati diri sebagai bangsa yang bermartabat.[13]
D. Meneladani Tokoh-Tokoh yang Berprestasi dalam Perkembangan Islam pada Masa Modern
Adapun cara kita meneladani beberapa tokoh yang sangat berperan dalam perkembangan Islam modern ini ialah sebagai berikut:
1. Senantiasa menanamkan semangat juang yang kuat, sebagaimana mereka (para tokoh pejuang) memiliki semangat juang yang kuat dalam membangkitkan dan memajukan umat Islam.
2. Senantiasa bersemangat dalam persatuan dan kesatuan, sebagai mana mereka (para tokoh pejuang) bersemangat dalam berjuang merebut kemerdekaan bangsa da negara.
3. Senantiasa berkomitmen yang kuat dalam mengamalkan ajaran Islam, sebagai mana mereka juga memiliki komitmen yang tinggi terhadap pemahaman dan pengamalan ajaran Islam.
4. Meningkatkan wawasan dan pandangan hidup yang luas, sebagaimana mereka juga memiliki pandangan yang luas dan bersifat universal.
5. Menumbuhkan terus semangat ijtihad (menggali dasar-dasar hukum Islam), sehingga dapat menumbuhkan jalan keluar yang baik dari berbagai kesulitan yang dihadapi.[14]
PENUTUP
KESIMPULAN
Perkembangan Islam pada masa modern merupakan masa dimana umat Islam yang dipelopori oleh para tokoh pembaharu Islam menunjukkan perkembangannya dari ketertinggalan
DAFTAR PUSTAKA
Wahid, Sy. H.A. Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah. 2009. Bandung: CV Amico.
Harun, Nasution. 1975. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta: Bulan-Bintang.
Abdul, Hamid. 2010. Pemikiran Modern dalam Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
[1] Harun, Nasution. 1975. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta: Bulan-Bintang. Hlm: 14
[2] Abdul, Hamid. 2010. Pemikiran Modern dalam Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia. Hlm: 43
[3] H.A. Wahid, Sy. Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah. 2009. Bandung: CV Amico. Hlm:79
[4] Ibid. Hlm: 80-81
[5] Ibid. hlm:82
[6] Ibid.Hlm: 83-84
[7] Ibid. Hlm:86
[8] Ibid. Hlm:87
[9] Ibid. Hlm: 89
[10] Ibid. Hlm: 89-90
[11] Ibid. Hlm: 90-93
[12] Ibid. Hlm: 93-95
[13] Ibid. Hlm: 95-96
[14] Ibid. Hlm: 96

Tidak ada komentar:
Posting Komentar