PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Akal merupakan suatu kelainan yang dimiliki manusia. Dengan akalnya, manusia mampu menjadi makhluk yang tidak tertandingi dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Manusia mampu menciptakan apa yang dirasakan, diinginkan olehnya, bahkan apa yang terbayang dalam pikirannya. Akan tetapi, karena akal pula manusia bisa menjadi sombong dan lupa diri. Lupa bahwa dirinya juga merupakan makhluk ciptaan Tuhan seperti makhluk-makhluk Tuhan lainnya.
Akal yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia memiliki kedudukan yang tinggi, sehingga penempatannya pun sesuai dengan fungsinya yakni di kepala. Kepala manusia dalam sains diuraikan memiliki otak yang dalam Ilmu Komputer disebut Prossessor. Otak inilah yang berfungsi sebagai daya pengatur tubuh manusia dan berperan sebagai media berpikir.
Namun, dalam kinerjanya otak manusia memiliki kekurangan, hal itu untuk menunjukkan bahwa manusia tetap adalah makhluk yang lemah tanpa Tuhan. Apa yang dilihat manusia dan dihafalnya akan tersimpan baik dalam otaknya atau bahkan hilang tidak teringat lagi. Hal inilah yang menjadi persoalan bahwa perlu sekiranya dilakukan pembahasan mengenai Fantasi, Ingatan dan Lupa dalam mata kuliah Psikologi Umum.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, diambil rumusan masalahnya sebagai berikut.
a. Apa yang dimaksud dengan Fantasi?
b. Apa yang dimaksud dengan Ingatan?
c. Apa yang dimaksud dengan Lupa?
3. Tujuan
Adapun tujuannya, yakni:
a. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan Fantasi,
b. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan Ingatan, dan
c. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan Lupa.
PEMBAHASAN
A. Fantasi
Mengenai Fantasi ada beberapa hal yang menjadi pembahasan, diantaranya:
1. Pengertian Fantasi
Menurut Kartini (1996:67), Fantasi adalah kemampuan menggunakan tanggapan-tanggapan yang sudah ada (dimiliki) untuk menciptakan tanggapan-tanggapan baru. Sedangkan Sujanto (2004:50) mengatakan bahwa Fantasi adalah suatu daya jiwa yang dapat membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan lama. Selain itu, menurut Abdul (2012) dalam blognya mengatakan bahwa Fantasi adalah kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan baru. Dari ketiga pengertian diatas dapat dikatakan bahwa manusia dalam posisi ini berarti sedang ber-imagination. Patty (1972:112) menguraikan bahwa yang dimaksud imagination adalah kesanggupan manusia untuk berfantasi yang memungkinkan terciptanya sesuatu yang baru atau sesuatu yang belum ada. Oleh karenanya, berfantasi berarti memunculkan atau menghasilkan hal yang baru, apabila tidak benar-benar baru maka tidak dapat dikatakan sebagai fantasi, melainkan hanya berpikir saja.
2. Pembagian Fantasi
Sujanto (2004:51) membagi Fantasi dalam dua kategori, yaitu: menurut terjadinya dan menurut jenis-jenisnya. Berikut ini merupakan pembahasan mengenai Pembagian Fantasi.
a. Menurut terjadinya, Fantasi ada dua macam, antara lain:
1) Fantasi yang tidak disadari adalah fantasi yang terjadi tanpa kita ketahui bahwa kita berfantasi. Misalnya, pada saat melihat sepak bola, kaki-kaki kita seakan-akan ikut mnyepak, dan sebagainya.
2) Fantasi yang disadari, ini pun terbagi menjadi dua yakni:
a) Fantasi disadari yang pasif, ialah fantasi disadari yang tidak dipimpin oleh akal maupun kemauan. Misalnya, pada saat kita sedang melamun.
b) Fantasi disadari yang aktif, adalah fantasi disadari yang dipimpin oleh kemauan dan akal. Salah satu contohnya adalah seorang pelukis, yang secara sadar melukis apa yang ingin dilukiskannya.
b. Menurut jenis-jenisnya, fantasi dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1) Fantasi Mencipta, yaitu fantasi yang dapat menghasilkan sesuatu yang sungguh-sungguh baru. Sedangkan menurut Achmadi (2009:70), Fantasi Mencipta ialah fantasi yang terjadi atas inisiatif atau kehendak sendiri tanpa bantuan orang lain. Misalnya pelukis, arsitek, designer dan sebagainya.
2) Fantasi Terpimpin, yaitu fantasi yang timbul karena sesuatu perangsang dari luar dan fantasi ini hanya menikmatinya. Seorang penyanyi menyanyikan sebuah lagu.
3) Fantasi Melaksanakan, yaitu fantasi yang berada diantara fantasi mencipta dan fantasi terpimpin.
Dicontohkan untuk ketiga jenis fantasi tersebut, yaitu seorang penyanyi sedang menyanyikan suatu lagu. Pada waktu ia menyanyikan nada-nada tinggi, penyanyi itu tampak marah, pada waktu penyanyi itu menyanyikan nada-nada rendah ia tersenyum simpul.
Ia menyanyikan suatu lagu dinamakan dengan Fantasi Terpimpin. Tetapi, gaya marah dan tersenyum adalah dengan Fantasi Mencipta, sebab ada kalanya penyanyi lain yang juga menyanyikan lagu itu tidak dengan marah ataupun tersenyum simpul.
3. Perbedaan Fantasi dan Berpikir
Singkatnya, Fantasi adalah kemampuan kognitif manusia yang mampu menciptakan suatu hal baru. Berpikir adalah proses mencari jawaban dari suatu hal yang telah ada. Adapun mengenai perbedaan keduanya, Patty (1972:113) menyebutkan ada dua perbedaan, yakni:
a. Dengan berfikir kita berusaha untuk menemukan sesuatu yang sudah ada tetapi belum diketahui, dengan berfantasi kita menciptakan sesuatu yang belum ada atau sesuatu yang baru.
b. Berfikir terikat kepada realitas, sedangkan berfantasi melepaskan kita dari realitas.
Dari penjelasan diatas telah jelas bahwa bukan berfantasi ketika tidak memunculkan hal yang baru, melainkan hanya berfikir saja.
4. Dampak dari Fantasi
Patty (1972:114) menyebutkan bahwa Ada dua Dampak dari Fantasi, yakni:
a. Dampak Positif
Adapun dampak positifnya, antara lain:
1) Segala alat-alat yang kita pakai, segala teori dalam ilmu pengetahuan, segala ciptaan seniman yang kita nikmati adalah hasil dari Fantasi.
2) Kita dapat menempatkan diri kita dalam hidup orang lain atau negeri-negeri yang jauh-jauh dan bercampur baur dengan orang yang tidak kita kenal.
3) Kita dapat membayangkan bagaimana dunia ini kelak. Kita dapat menentukan cita-cita hidup kita dan membayangkan hidup kita kelak, kita dapat menggambarkan bagaimana rupa dunia kita ini dalam abad-abad yang akan datang oleh fantasi kita dalam imagination kita.
4) Dengan fantasi, kita sekali-kali dapat melarikan diri dari dunia yang penuh dengan kesukaran, kekecewaan dan berada dalam suatu dunia yang kita ciptakan sendiri dimana kita mencapai segala keinginan kita, di akui dan dihargai, dimana kita hidup menurut kehendak kita sendiri.
b. Dampak Negatif
Bukan hanya dampak positif yang dihasilkan dari Fantasi ini, melainkan ada juga dampak negatifnya, yaitu:
1) Anak-anak membayangkan adanya setan-setan dan jin-jin yang karenanya hidup mereka menjadi tertekan.
2) Ada orang yang lebih suka berfantasi daripada bekerja.
3) Penjahat memakai fantasinya untuk merugikan orang lain.
Dari penjelasan diatas, jelas bahwasannya tidak selamanya berfantasi menghasilkan yang positif, melainkan negatif pun akan muncul. Hal tersebut terjadi apabila tidak memiliki kontrol yang baik dalam memfantasikan yang diinginkan.
B. Ingatan
Berikut pembahasan mengenai ingatan.
1. Pengertian Ingatan
Menurut Marliana (2010:215), Ingatan atau Memori adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi. Sedangkan Sujanto (2004:41) mengatakan bahwa ingatan adalah suatu daya jiwa kita yang dapat menerima, menyimpan dan mereproduksi kembali pengertian-pengertian atau tanggapan-tanggapan kita. Sehingga dengan kata lain, ingatan merupakan tempat menampung hasil-hasil yang ditangkap manusia. Misalnya, setelah mempelajari sesuatu kemudian menyimpannya didalam ingatan lalu diekspresikannya kembali apa yang diingatnya. Jadi, dalam prosesnya ingatan itu ada penerimaan, penyimpanan dan pereproduksian.
Sehubungan dengan ingatan, dikenal didalamnya mengenai amnesia. Kartini (1996:65) menguraikan bahwa gangguan dalam ingatan disebut amnesia. Amnesia bisa berlangsung pendek (untuk sementara waktu saja), namun bisa juga secara definitif (tetap) berlangsung untuk selama-lamanya. Amnesia juga bersifat sebagian atau parsial saja yang hilang dari ingatan, tetapi bisa juga bersifat total, yaitu seluruh kesadaran masa lalu itu hilang atau terganggu secara total sehingga tidak dapat di ingat kembali.
2. Pembagian Ingatan
Marliana (2010:215-216) menegaskan bahwa apabila diklasifikasikan berdasarkan durasi, alam dan pengambilan sesuatu yang diinginkan, ada dua kategori ingatan yaitu ingatan eksplisit dan ingatan implisit.
a. Ingatan Eksplisit
Ingatan eksplisit meliputi penginderaan, semantik, episodik, naratif dan ingatan otobiografi. Kegunaan dari ingatan eksplisit adalah untuk informasi sosial dan identitas, penggambaran otobiografi, aturan sosial, norma dan harapan. Adapun ciri-ciri ingatan ini, antara lain:
1) Berkembang belakangan/bias kortikal
2) Bias hemisfer kiri
3) Hippocampal/dorsal lateral
4) Memiliki konteks atau sumber ingatan yang jelas.
b. Ingatan Implisit
Ingatan implisit meliputi penginderaan, emosi, ingatan prosedural dan pengondisian rangsang-respons. Kegunaan Ingatan Implisit adalah tempat skema kelekatan, transference dan superego. Beberapa ciri Ingatan Implisit, antara lain:
1) Berkembang lebih awal/bias subkortikal
2) Bias hemisfer kanan
3) Berpusat pada amigdala
4) Bebas dari konteks atau tidak memiliki sumber atribusi atau pelabelan.
3. Daya Ingatan dan Sifat-Sifatnya
Achmadi (2009:75-76) menuturkan bahwa Daya Ingatan adalah daya jiwa untuk mencamkan, menyimpan dan mereproduksikan kesan-kesan. Adapun sifat daya ingatan manusia itu tidaklah sama pada masing-masingnya, dimana sifatnya dibedakan menjadi 4, yaitu:
a. Daya Ingatan Cepat
Orang yang memiliki daya ingatan ini dengan cepat dan mudah menyimpan dan mencamkan kesan-kesan.
b. Daya Ingatan Setia
Isi jiwa (kesaan-kesan) yang telah disimpan dalam jiwa itu tidak berubah-ubah.
c. Daya Ingatan Teguh
Dalam waktu yang singkat dapat mencamkan dan menyimpan kesan-kesan yang banyak.
d. Daya Ingatan Penuh
Isi jiwa (kesan-kesan) yang telah disimpan dan dicamkan itu cepat direprodusir.
Dalam kaitannya mengenai pembahasan Ingatan ini, ada tiga macam metode dalam menghafal diluar kepala, yakni:
a. Metode G (Ganzlern), yaitu metode belajar secara keseluruhan.
b. Metode T (Taillern), yaitu metode belajar bagian demi bagian. Bahan pelajaran yang panjang, dipelajari dan dihafalkan sedikit demi sedikit.
c. Metode V (Vermittelnde), yaitu ada yang dihafalkan bagian demi bagian dan ada yang secara keseluruhan.
4. Beberapa Cara Meningkatkan Ingatan
Berikut ini cara agar ingatan dapat meningkat kinerjanya.
a. Menciptakan asosiasi segala yang harus diingat
b. Berusaha menciptakan gambaran dan peta ingatan dalam pikiran
c. Mengasosiasikan kata yang ingin diingat dengan kata lain yang seirama
d. Menggunakan bayangan visual
e. Memahami hal yang harus diingat
f. Memberikan kode-kode terhadap sesuatu yang diingat secara kontekstual melibatkan emosi kedalam sesuatu yang diingat, misalnya merasa memiliki
g. Melatih memperbanyak ilustrasi yang berhubungan dengan sesuatu yang harus diingat
h. Mempelajari secara berulaang-ulang
i. Mendiskusikannya dengan teman dan sering mengutarakan pandangan tentang sesuaatu yang dimaksudkan
j. Membuat file-file diluar ingatan dengan tanda-tanda khusus yang mudah diingat, misalnya dengan nama hobi, tanggal lahir, nama anak pertama dan sebagainya.
Dari uraian-uraian diatas secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa ingatan yang ada pada manusia tidaklah sama dengan manusia lainnya. Ingatan manusia juga memiliki kekurangan bahkan dapat terjadinya kerusakan, yang biasa dikatakan hilang ingatan. Oleh karena pentingnya ingatan manusia bagi kelanjutan hidup manusia, cara-cara yang rasional dan tepat hendaklah digunakan agar penggunaan akal untuk mengingat menjadi baik.
C. Lupa
Seperti halnya Fantasi dan Ingatan, Lupa juga memiliki beberapa pembahasan dalam hal ini, yakni:
1. Pengertian Lupa
Marliana (2010:217) mengatakan bahwa Lupa adalah informasi yang hilang, yang sudah tidak mampu diingat kembali dikarenakan padatnya informasi didalam ingatan. Pengertian lain menyebutkan bahwa Lupa adalah suatu kondisi dimana suatu informasi yang telah disimpan dalam memori otak jangka panjang hilang (dalam website http://mosaicworld.wordpress.com/2009/04/05/definisi-lupa/).
Apa yang telah kita ingat, disimpan dalam bagian tertentu di otak. Kalau materi yang harus diingat itu tidak pernah digunakan, maka karena proses metabolisme otak, lambat laun jejak materi itu terhapus dari otak sehingga kita tidak dapat mengingatnya kembali. Jadi, bisa dikatakan materi tersebut hilang sendiri karena tidak digunakan. Mengenai hal tersebut, Ahmad (2004:53) menyebutkan bahwa mungkin pula materi itu tidak lenyap begitu saja, melainkan mengalami perubahan-perubahan secara sistematis, mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut.
a. Penghalusan, adalah materi berubah bentuk kearah bentuk yang lebih halus dan kurang tajam, sehingga bentuk yang asli tidak diingat lagi.
b. Penegasan, adalah bagian-bagian yang mencolok dari suatu hal ialah yang paling mengesankan. Oleh karenanya, dalam ingatan bagian-bagian ini dipertegas, sehingga yang diingat hanya bagian-bagian yang mencolok, sedangkan bentuk keseluruhan tidak begitu diingat. Misalnya, kita melihat seseorang dengan hidung mancung. Karena terkesan oleh hidungnya yang mancung, maka ingatannya tentang orang itu adalah hidungnya yang mancung, sedangkan wajah orang tersebut tidak begitu diingat.
c. Asimilasi, adalah perubahan yang cenderung untuk mencari bentuk yang ideal dan lebih sempurna. Misalnya, dalam ingatan kita tersimpan gambaran sebuah botol, maka ketika kita melihat benda yang mirip dengan botol, ingatan kita akan menuntun bahwa itu adalah botol.
Dalam paragraf selanjutnya Ahmad (2004) menguraikan bahwa peristiwa ketika kita melupakan sesuatu disebut represi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa peristiwa-peristiwa yang mengerikan, menakutkan, penuh dosa, menjijikkan dan sebagainya atau semua hal yang tidak dapat diterima oleh hati nurani akan kita lupakan dengan sengaja dan prosesnya ini seringkali tidak disadari karena terjadi diluar alam kesadaran.
2. Pembagian Lupa
Marliana (2010:217) menyebutkan ada dua pembagian lupa berdasarkan sebab-sebabnya, yakni:
a. Lupa karena hilangnya daya ingat terhadap informasi yang dimaksudkan, artinya tanpa disengaja atau tidak menyadarinya bahwa informasi yang dimaksud kurang memperoleh perhatian.
b. Lupa dengan sebab disengaja, sebagai lupa yang penuh kepura-puraan. Lupa yang disengaja merupakan upaya jiwa untuk menghilangkan informasi tertentu yang ada dalam ingatannya, tetapi bukan berarti dapat melupakannya secara absolut, karena bisa saja informasi itu semakin kuat memperhatikan diri dalam kehidupannya.
Pembagian lupa ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan agar mampu memahami tentang Lupa. Karena lupa merupakan bagian dalam ingatan manusia.
PENUTUP
Kesimpulan
Berikut yang bisa disimpulkan dari makalah ini.
A. Fantasi
Berfantasi berarti memunculkan atau menghasilkan hal yang baru, apabila tidak benar-benar baru maka tidak dapat dikatakan sebagai fantasi, melainkan hanya berpikir saja. Kesanggupan manusia untuk berfantasi yang memungkinkan terciptanya sesuatu yang baru atau sesuatu yang belum ada disebut Imagination. Imagination inilah yang akan menuntut manusia menciptakan sebuah karya.
B. Ingatan
Ingatan adalah suatu daya jiwa kita yang dapat menerima, menyimpan dan mereproduksi kembali pengertian-pengertian atau tanggapan-tanggapan kita. Sehingga dengan kata lain, ingatan merupakan tempat menampung hasil-hasil yang ditangkap manusia. Ada dua ingatan, yakni: Ingatan Eksplisit dan Ingatan Implisit.
C. Lupa
Lupa adalah informasi yang hilang, yang sudah tidak mampu diingat kembali dikarenakan padatnya informasi didalam ingatan. Apa yang telah kita ingat, disimpan dalam bagian tertentu di otak. Kalau materi yang harus diingat itu tidak pernah digunakan, maka karena proses metabolisme otak, lambat laun jejak materi itu terhapus dari otak sehingga kita tidak dapat mengingatnya kembali. Jadi, bisa dikatakan materi tersebut hilang sendiri karena tidak digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Ishom. 2009. Ya Ayyatuha An-Nafsu Al-Mutmainnah (Pengantar Psikologi Umum Berdasarkan Pendekatan Religi. Yogyakarta: SJ Press.
Basyiir, Abdul. 2012. Gejala Pengenalan Kognisi. Diunduh melalui http://abdulbasyiir.blogspot.com/2012/10/kognisi-gejala-pengenalan.html Hari Sabtu, 23 Maret 2013. Pkl. 23.00 WIB.
Fauzi, Ahmad. 2004. Psikologi Umum. Bandung: CV Pustaka Setia.
Kartono, Kartini. 1996. Psikologi Umum. Bandung: Mandar Maju.
Marliana, Rosleny. 2010. Psikologi Umum. Bandung: CV Pustaka Setia.
Mosaic World. 2009. Definisi Lupa. Diunduh melalui http://mosaicworld.wordpress.com/2009/04/05/definisi-lupa/ hari minggu 24 Maret 2013. Pkl. 08.00 WIB.
Sujanto, Agus. 2004. Psikologi Umum Edisi 1. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar