Selasa, 19 Mei 2020

PERAN GURU DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Pendidik, peserta didik dan tujuan pendidikan merupakan komponen utama pendidikan. Ketiganya membentuk suatu triangle, jika hilang salah satu komponen, hilang pulalah hakikat pendidikan.  
Oleh karena itu seorang guru perlu memiliki kemampuan merancang dan mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang dianggap cocok dengan minat dan bakat serta sesuai dengan taraf perkembangan siswa. Termasuk didalamnya memanfaatkan memanfaatkan berbagai sumber dan media pembelajaran dan untuk menjamin efektivitas pembelajaran. Dengan demikian seorang guru perlu mempunyai kemampuan khusus, kemampuan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang selain guru.

B.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat ditarik beberapa rumusan masalah yaitu:
1.    Bagaimana Kinerja guru dalam pengembangan persiapan mengajar?
2.    Bagaimana Optimalisasi peran guru dalam proses pembelajaran?
3.    Bagaimana Guru profesional sebagai pengendali mutu pendidikan?
4.    Bagaimana Peranan guru dalam pengembangan kurikulum?

C.  Tujuan Rumusan Masalah
Berdsarkan rumusan masalah diatas mempunyai tujuan yaitu untuk:
1.    Mengetahui Kinerja guru dalam pengembangan persiapan mengajar.
2.    Mengetahui Optimalisasi peran guru dalam proses pembelajaran.
3.    Mengetahui Guru profesional sebagai pengendali mutu pendidikan.
4.    Mengetahui Peranan guru dalam pengembangan kurikulum.




BAB II
PEMBAHASAN
A.  Kinerja Guru Dalam Pengembangan Persiapan Mengajar
Proses pembelajaran dimulai dengan fase persiapan untuk mengembangkan kompentensi dasar, indicator hasil belajar dan materi standar sedemikian rupa.
Guru merupakan pengembang kurikulum bagi kelasnya,  yang akan menterjemahkan, menjabarkan dan mentransformasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum kepada peserta didik. Dalam hal ini guru tidak hanya mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge) akan tetapi lebih dari itu, yaitu membelajarkan anak supaya dapat berfikir integral dan komprehensif, untuk membentuk kompetensi dan mencapai makna tertinggi. Guru dalam mengembangkan persiapan mengajar mempunyai langkah-langkah yaitu:
1.    Mengidentifikasi dan mengelompokkan kompetensi yang ingin dicapai setelah proses pembelajaran. Kompetensi yang dikembangkan harus mengandung muatan yang menjadi materi standar, yang dapat diidentifikasi yang berdasarkan kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat, ilmu pengetahuan dan filsafat.
2.    Mengembangkan materi standar. Materi standar merupakan bahan pembelajaran berkenaan dengan jawaban atas “apa yang harus dipelajari oleh peserta didik untuk membentuk kompetensi?”. Materi standar merupakan isi kurikulum yang diberikan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran, dan pembentukan kompetensi.  Secara umum standar kompetensi mencakup tiga komponen utama, yaitu: ilmu pengetahuan, proses dan nilai-nilai, yang dapat dirinci dengan kompetensi standar, serta visi dan misi sekolah.
3.    Menentukan metode. Penentuan metode erat kaitannya dalam memilih strategi pembelajaran yang paling efisien dan efektif dalam memberikan pengalaman belajar yang diperlukanuntuk membentuk kompetensi dasar. Dalam hal ini, strategi pembelajaran merupakan kegiatan guru dalam melakukan proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam mencapai tujuan.
4.    Merencanakan penilaian. Sejalan dengan kurikulum 2004 yang berbasisi kompentensi penilaianhendaknya dilakukan berdasarkan apa yang dilakukan peserta didik selama pembelajaran dan pembentukan kompetensi.
Guru yang mempunyai kinerja tinggi akan bernafsu dan berusaha meningkatkan kompetensinya, baik dalam kaitannya  maupun penilaian pembelajaran,  sehingga diperoleh hasil kerja yang optimal.  Setidaknya terdapat 10 faktor yang dapat meningkatkan guru, baik factor internal maupun eksternal. Kesepuluh factor tersebut adalah:
1.    Dorongan untuk bekerja
2.    Tanggung jawab terhadap tugas
3.    Minat terhadap tugas
4.    Penghargaan terhadap tugas
5.    Peluang untuk berkembang
6.    Perhatian dari kepala sekolah
7.    Hubungan interpersonal sesame guru
8.    Musyawarah guru mata pelajaran dan kelompok kerja guru
9.    Layanan perpustakaan
10.    Kelompok diskusi terbimbing[1]

B.  Optimalisasi Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran
Ketika ilmu pengetahuan masih terbatas, ketika penemuan hasil teknologi belum bteknologi belum berkembang seperti saat ini maka peran penting guru di sekolah adalah menyampaikan ilmu sebagai warisan kebudayaan masa lalu yang dianggap berguana sehingga haru dilestarikan. Dalam abad teknologi dan informasi ini, siswa dapat mempelajarya di berbagai sumber.
Namun demikian, seperti yang telah dijelaskan, guru dalam proses pembelajaran mempunyai peran penting. Bagaimana hebatnya teknologi, peran guru tetap diperlukan.
1.    Guru sebagai sumber belajar
Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber belajar erat kaitannya dengan penguasaan mata pelajaran
2.    Guru sebagai fasilitator
Sebagai fasilitator guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam proses pembelajaran. Melalui usaha yang sungguh-sungguh  guru ingin agar dapat menyajikan bahan pelajaran dengan baik.
3.    Guru sebagai pengelola
Sebagai pengelola pelajaran  (learning manajer), guru berperan menciptakan iklim belajar yang memungkinkan  siswa belajar secara nyaman. Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses pebelajaran seluruh siswa.
4.    Guru sebagai demonstator
Guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti  dan memahami setiap yang disampaikan.
5.    Guru sebagai pembimbing
Siswa adalah individu yang unik. Keunikan tersersebut bias dilihat dari perbedaan. artinya tidak ada individu yang sama. walaupun secara fisik mempunyai kemiripan, akan tetapi pada hakikatnya mereka tidak sama baik dalam minat, bakat, kemampuan dan sebagainya. Perbedaan itulah menuntut guru berperan sebagai pembimbing. Membimbing siswa agar dapat potensi yang dimilikinya sebagai bekal hidup mereka.

6.    Guru sebagai motivator
Dalam proses pembelajaran motivasi sebagai salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, akan tetapi tidak ada motivasi belajar sehingga ia tidak berusaha sepenuhnya untuk mengerahkan seluruh kemampuannya. Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa memiliki motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi siswa.
7.    Guru sebagai evaluator
Sebagai evaluator guru berperan  untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Terdapat dua fungsi dalam memerankan sebagai evaluator yaitu:
a.    Untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan atau menentukan keberhasilan siswa dalam menyerap kurikulum.
b.    Untuk menentukan keberhasilan guru untuk melaksanakan seluruh  kegiatan yang telah diprogramkan.[2]

C.  Guru Profesional Sebagai Pengendali Mutu Pendidikan
Peran guru disekolah memiliki peran ganda, dipundak merekalah terletak mutu pendidikan. Guru juga seorang manajerial yang akan mengelola pembelajaran, merencanakan pembelajaran, mendesain pembelajaran, melaksanakan pembelajaran bersama siswa, dan melakukan pengontrolan atas kecakapan dan prestasi-prestasi siswa.[3]
Tanggung jawab seorang guru ditangannya harus tercipta manusia-manusi yang berbudi luhur, berperilaku baik, berprestasi, berkualitas, dan berakhlak mulia. Tanggung jawab ini merupakan alat ukur kesuksesan seorang guru dalam memberi pembelajaran, menjelaskan dalam pembelajaran kurikulum berbasis kompetensi, bahwa seorang guru harus memperharikan beberapa hal:
1.    Mengurangi metode ceramah
2.    Memberi tugas bagi setiap peserta didik
3.    Mengelompokan peserta didik berdasarkan kemampuan serta disesuai pata pelajaran
4.    Hubungi spesialis,bila ada peserta didik mempunyai kelainan
5.    Menggunakan prosedur yang bervariasi dalam membuat penilaian dan laporan
6.    Memahami bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama
7.    Mengebangkan situasi belajaryang memungkinkan setiap anak bekerja dengan kemampuan masing-masing pada setiap pelajaran
8.    Mengusahakan keterlibatan peserta didik dalam  berbagai kegiatan pembelajaran.[4]

D.  Peranan Guru Dalam Pengembangan Kurikulum
Dilihat dari segi pengelolaannya, pengembangan kurikulum dapat dibedakan antara yang bersifat sentralisasi, desentralisasi, dan sentral-desentral. Dalam pengembangan kurikulum bersifat sentralisasi , kurikulum disusun oleh sesuatu tim khusus di tingkat pusat. Kurikulum bersifat uniform untuk seluruh Negara, daerah, atau jenjang/jenis sekolah. Tujuan utama pengembangan kurikulum yang uniform ini adalah untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa serta memberikan standar penguasaan yang sama bagi seluruh wilayah.
Model pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi mempunyai beberapa kelebihan disamping juga kelemahan. Kelebihannya selain mendukung terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa, dan tercapainya standar minimal penguasaan/perkembangan anak, juga model ini mudah dikelola, dimonitor dan dievaluasi, serta lebih hemat dilihat dari segi biaya, waktu, dan fasilitas. Kelemahannya yaitu pertama, menyeragamkan kondisi yang berbeda-beda keadaan dan tahap perkembangan intelek, alam dan social budayanya sukar sekali. Kedua, Ketidakadilan dalam menilai hasil. Ketiga penggunaan standar yang sama untuk semua sekolah diseluruh wilayah akan memberikan gambaran hasil yang beragam dan menunjukkan adanya perbedaan yang sangat ekstrem.
Terlepas dari pro dan kontra, kelebihan dan kekurangannya kita akan melihat peranan guru di dalamnya. Peranan guru baik dalam model sentralisasi maupun desentralisasi dapat dilihat dalam tiga tahap, yaitu tahap perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pengembangan kurikulum pada tahap perancangan berkenaan dengan seluruh kegiatan menghasilakn dokumen kurikulum, atau kurikulum tertulis. Pelaksanaan kurikulum atau disebut juga implementasi kurikulum, meliputi kegiatan menerapkan semua rancangan yang tercantum dalam kurikulum tertulis. Evaluasi kurikulum merupakan kegiatan menilai pelaksanaan dan hasil-hasil penggunaan suatu kurikulum.
1.    Peranan Guru Dalam Pengembangan Kurikulum Yang Bersifat Sentralisasi
Dalam kurikulum yang bersifat sentralisasi, guru tidak mempunyai peranan dalam perancangan, dan evaluasi kurikulum yang bersifat makro, mereka lebih berperan dalam kurikulum mikro. Kurikulum makro disusun oleh tim atau komisis khusus, yang terdiri atas para ahli. Penyusunan kurikulum mikro diabarkan dari kurikulum makro. Guru menyusun kurikulum dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun, satu semester, satu catur wulan, beberapa minggu atau pun beberapa hari saja. Kurikulum untuk satu tahun, satu semester atau satu catur wulan di sebut juga program tahunan, semestrean, catur wulanan, sedangkan kurikulum untuk beberapa minggu atau hari, disebut satuan pelajaran. Program tahunan, semesteran, catur wulanan, ataupun satuan pelajaran memiliki komponen-komponen yang sama yaitu tujuan, bahan pelajaran, metode dan media pembelajaran, dan evaluasi, hanya keluasan dan kedalamnya berbeda-berda.
Menjadi tugas guru lah menyusun dan merumuskan tujuan yang tepat, memilih dan menyusun bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, minat, dan tahap perkembangan anak, memiliki metode dan media mengajar yang bervariasi, serta menyusun program dan alat evaluasi yang tepat. Suatu kurikulum yang tersusun sistematis dan rinci akan sangat memudahkan guru dalam implementasinya.
Implementasi kurikulum hampir seluruhnya bergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan ketekunan guru. Guru hendaknya mampu memilih dan menciptakan situasi-situasi belajar yang menggairahkan siswa, mampu memilih dan melaksanakan metode mengajar yang sesuai dengan kemampuan siswa, bahan pelajaran dan banyak mengaktifkan siswa. Guru hendakny mampu memilih, menyusun dan melaksanakan evaluasi, baik untuk mengevaluasi perkembangan atau hasil belajar siswa untuk menilai efesiensi pelaksanaannya itu sendiri.
Guru juga berkewajiban untuk menjelaskan kepada para siswanya tentang apa yang akan dicapai dengan pengajarannya. Ia juga hendaknya melakukan berbagai upaya untuk membangkitkan motivasi belajar, menciptakan situasi kompetitif dan kooperatif, memberikan pengarahan dan bimbingan. Guru memberikan tugas-tugas individual atau kelompok yang akan memperkaya dan memperdalam penguasaan siswa. Dalam kondisi ideal guru juga berperan sebagai pembimbing, berusaha memahami secara seksama potensi dan kelemahan siswa, serta membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa. 
2.    Peranan Guru Dalam Pengembangan Kurikulum Yang Bersifat Desentralisasi
Kurikulum desentralisasi disusun oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah atau daerah. Kurikulum ini diperuntukan bagi suatu sekolah atau lingkungan wilayah tertentu. Pengembangan kurikulum semacam ini didasarkan atas karakteristik, kebutuhan, perkembangan daerah serta kemampuan sekolah atau sekolah-sekolah tersebut. Dengan demikian kurikulum terutama isisnya sangat beragam, tiap sekolah atau wilayah mempunyai kurikulum tersendiri, tetapi kurikulum ini cukup realistis.
Bentuk kurikulum seperti ini mempunyai beberapa kelebihan di samping juga kekurangan . kelebihan-kelebihannya, diantaranya :
a.    Kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat setempat.
b.    Kurikulum sesuai dengan tingkat dan kemampuan sekolah, baik kemampuan professional, financial maupun manajerial.
c.    Disusun oleh guru-guru sendiri dengan demikian sangat memudahkan dalam pelaksanaannya.
d.   Ada motivasi kepada sekolah (kepala sekolah, guru) untuk mengembangkan diri, mencari dan menciptakan kurikulum yang sebaik-baiknya, dengan demikian akan terjadi smacam kompetisi dalam pengembangan kurikulum.
Beberapa kelemahan bentuk kurikulum ini adalah :
a.    Tidak adanya keseragaman, untuk situasi yang membutuhkan keseragaman demi persatuan dan kesatuan nasional, bentuk ini kurang tepat.
b.    Tidak adanya standar penilaian yang sama, sehingga sukar untuk diperbandingkan keadaan dan kemajuan suatu sekolah/wilayah dengan sekolah/wilayah lainnya
c.    Adanya kesulitan bila terjadi perpindahan siswa ke sekolah/wilayah lain.
d.   Sukar untuk mengadakan pengelolaan dan penilaian secara nasional.
e.    Belum semua sekolah/daerah mempunyai kesiapan untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum sendiri.
Untuk mengatasi kelemahan kedua bentuk kurikulum tersebut, bentuk campuran antara keduanya dapat digunakan, yaitu bentuk sentral-desentral. Beberapa waktu yang lampau di Perguruan Tinggi di Indonesia digunakan model pengembangan kurikulum bersifat desentralisasi. Tiap universitas, institute, atau akademi mempunyai otonomi untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum sendiri, satu berbeda dengan yang lainnya.
Dalam kurikulum yang dikelola secara desentralisasi dan sampai batas-batas tertentu juga yang sentralisasi-desen-tralisasi, peranan guru dalam pengembangan kurikulum lebih besar dibandingkan dengan yang dikelola secara sentralisasi. Guru-guru turut berpartisipasi, bukan hanya dalam penjabaran kurikulum induk ke dalam program tahunan/ semesteran/ catur wulan, atau satuan pelajaran, tetapi juga di dalam menyusun kurikulum yang menyeluruh untuk sekolahnya. Guru-guru turut member andil dalam merumuskan setiap komponen dan unsure kurikulum. Guru bukan hanya berperan sebgai pengguna, tetapi perencana, pemikir, penyusun, pengembang dan juga pelaksana dan evaluator kurikulum.[5]



BAB III
KESIMPULAN
A.    Kinerja Guru Dalam Pengembangan Persiapan Mengajar
Proses pembelajaran dimulai dengan fase persiapan untuk mengembangkan kompentensi dasar, indicator hasil belajar dan materi standar sedemikian rupa. Guru merupakan pengembang kurikulum bagi kelasnya,  yang akan menterjemahkan, menjabarkan dan mentransformasi- kan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum kepada peserta didik. Dalam hal ini guru tidak hanya mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge) akan tetapi lebih dari itu, yaitu membelajarkan anak supaya dapat berfikir integral dan komprehensif, untuk membentuk kompetensi dan mencapai makna tertinggi.
B.  Optimalisasi Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran
Ketika ilmu pengetahuan masih terbatas, ketika penemuan hasil teknologi belum bteknologi belum berkembang seperti saat ini maka peran penting guru di sekolah adalah menyampaikan ilmu sebagai warisan kebudayaan masa lalu yang dianggap berguana sehingga haru dilestarikan.
C.  Guru Profesional Sebagai Pengendali Mutu Pendidikan
Peran guru disekolah memiliki peran ganda, dipundak merekalah terletak mutu pendidikan. Guru juga seorang manajerial yang akan mengelola pembelajaran, merencanakan pembelajaran, mendesain pembelajaran, melaksanakan pembelajaran bersama siswa, dan melakukan pengontrolan atas kecakapan dan prestasi-prestasi siswa.
D.  Peranan Guru Dalam Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum dapat dibedakan antara yang bersifat sentralisasi, desentralisasi, dan sentral-desentral. Dalam pengembangan kurikulum bersifat sentralisasi , kurikulum disusun oleh sesuatu tim khusus di tingkat pusat. Kurikulum bersifat uniform untuk seluruh Negara, daerah, atau jenjang/jenis sekolah. Tujuan utama pengembangan kurikulum yang uniform ini adalah untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa serta memberikan standar penguasaan yang sama bagi seluruh wilayah.



DAFTAR PUSTAKA
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK, Bandung: Pt Remaja Rosdakarya. 2004.
Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru Dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Gaung Persada Press. 2006.
Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung;PT Remaja Rosdakarya. 1997.
Wina sanjaya, Kurikulum dan pembelajaran, Jakarta: kencana prenada media group. 2008.


[1] E. Mulyasa, 2004. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK, Bandung: Pt Remaja Rosdakarya. Hal: 96.
[2] Wina sanjaya, 2008. Kurikulum dan pembelajaran, Jakarta: kencana prenada media group. Hal: 280-290.
[3] Martinis Yamin, 2006. Profesionalisasi Guru Dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Gaung Persada Press. Hal: 55.
[4] Op Cit., Hal: 101.
[5] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. 1997. Bandung;PT Remaja Rosdakarya. Hlm; 198-202

Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...