BAB II
PENYESUAIAN DIRI
A. Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri adalah suatu pengertian yang pada dasarnya diambil dari ilmu biologi (1) yang dibuat oleh teori Charles Darwin yang terkenal dengan teori Evolusi (1859). Biasanya pengertian tersebut menunjukkan bahwa makhluk hidup berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan alam tempat ia hidup, agar dapat tetap hidup.
Ilmu jiwa telah meminjam pengertian biologi tentang penyesuaian yang digunakan oleh para ahli biologi dengan istilah penyesuaian (= adaption). Dan digunakan dalam lapangan sosial kejiwaan dengan istilah penyesuaian atau penyelarasan (= adjustment). Maka manusia sebagaimana ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan kejiwaan sekitarnya, dan yang selalu menuntut agar menyerasikan antara dia dan lingkungan itu. Keadaan kehidupan itu sendiri mendorongnya pula untuk menyesuaikan diri. Yang membantunya dalam hal tersebut adalah kemampuan penyesuaian sosial dan kecerdasan.
Dari segi bahasa “Penyesuaian” adalah kata yang menunjukan keakraban, pendekatan dan kesatuan kata. Ia adalah lawan kata perbedaan, kerenggangan dan benturan. Penyesuaian diri dalam ilmu jiwa adalah proses dinamika yang bertujuan untuk mengubah kelakuannya agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara dirinya dan lingkungannya.[1]
Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, pransangka, depresi, kemarahan, dan lain-lain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis.[2]
Penyesuaian diri adalah suatu proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku, dimana individu berusaha untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, konflik-konflik, dan frustrasi yang dialaminya, sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan dimana ia tinggal.
Penyesuaian diri adalah suatu proses alamiah dan dinamis yang bertujuan mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai dengan kondisi lingkingannya atau proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungannya. penyesuian diri merupakan cara tertentu yang dilakukan individu untuk bereaksi terhadap tuntutan diri maupun tuntutan lingkungan. Penyesuaian diri adalah suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik secara sukses serta menghasilkan hbungan yang harmonis antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup.[3]
B. Aspek-Aspek Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri mempunyai dua aspek :
1. Penyesuaian Pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan seseorang untuk menerima diri demi tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Penyesuaian pribadi adalah, penerimaan individu terhadap dirinya, tidak benci, lari, dongkol atau tidak percanya padanya. Kehidupan kejiwaannya ditandai oleh sunyi dari kegoncangan dan keresahan jiwa yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan ratapan terhadap nasib diri.
Dasar pertama dari tidak terjadinya penyesuaian diri pada seseorang adalah kegoncangan emosi yang dideritanya. Biasanya kegoncangan tersebut terjadi akibat adanya berbagai dorongan yang masing-masingnya mendorong individu kepada pandangan yang berlainan. Hal itu dapat kita jelaskan dengan berbagai contoh; diantaranya konflik antara dorongan seks dan larangan-larangan sosial dan peraturan yang berlaku. Demikian pula konflik yang dialami oleh sementara orang seperti konflik antara kejujuran dan mencari rezeki dengan cara yang tidak sah. Atau pertentangan antara keinginan untuk menyerang dan takut akan dihadapkan kepada hukuman atas dirinya akibat serangan kepada orang lain.
2. Penyesuaian Sosial
Dalam lapangan ilmu jiwa sosial, proses ini dikenal dengan nama “proses penyesuaian sosial”. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengannya. Hubungan-hubungan tersebut baik dalam masyarakat, keluarga, sekolah, teman-teman ataupun Masyarakat luas secara umum. Penyesuaian sosial yang terjadi dalam bidang ini, mempunyai sifat pembentukan, karena eksistensi pribadi dan masyarakat bagi individu mulai mengambil bentuk sosial yang berpengaruh dalam masyarakat, mulai mendapatkan bahasa dan menyerap berbagai adat dan kebiasaan yang kuat, serta menerima kepercayaan di samping segi-segi perhatian yang dikuatkan Masyarakat.[4]
C. Bentuk-bentuk Penyesuaian Diri
Menurut Gunarsa bentuk-bentuk penyesuaian diri ada dua antara lain:
a. Adaptive
Bentuk penyesuaian diri yang adaptive sering dikenal dengan istilah adaptasi. Bentuk penyesuaian diri ini bersifat badani, artinya perubahan-perubahan dalam proses badani untuk menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan. Misalnya, berkeringat adalah usaha tubuh untuk mendinginkan tubuh dari suhu panas atau dirasakan terlalu panas.
b. Adjustive
Bentuk penyesuaian diri yang lain bersifat psikis, artinya penyesuaian diri tingkah laku terhadap lingkungan yang dalam lingkungan ini terdapat aturan-aturan atau norma. Misalnya, jika kita harus pergi ke tetangga atau teman yang tengah berduka cita karena kematian salah seorang anggota keluarganya, mungkin sekali wajah kita dapat diatur sedemikian rupa, sehingga menampilkan wajah duka, sebagai tanda ikut menyesuaikan terhadap suasana sedih dalam keluarga tersebut.[5]
D. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri antara lain (Enung dalam Nofiana, 2010:17):
- Faktor Fisiologis. Struktur jasmani merupakan kondisi yang primer dari tingkah laku yang penting bagi proses penyesuaian diri
- Faktor Psikologis. Banyak faktor psikologis yang mempengaruhi penyesuaian diri antara lain pengalaman, aktualisasi diri, frustasi, depresi, dan sebagainya.
E. Karakteristik Penyesuaian Diri
Menurut Enung (dalam Nofiana, 2010:17) karakteristik penyesuaian diri antara lain:
- Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional yang berlebihan. Mampu mengontrol emosi dan memiliki kesabaran dalam menghadapi berbagai kejadian dalam hidup
- Tidak menunjukkan adanya mekanisme pertahanan diri yang salah. Mempunyai mekanisme pertahanan diri yang positif sehingga masalah yang dihadapi terasa ringan.
- Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi. Tidak mengalami frustasi dan gejala-gejala kelainan jiwa.
- Memiliki pertimbangan yang rasional. Langkah apapun yang ingin ditempuh, selalu berdasarkan pemikiran yang rasional
- Mampu belajar dari pengalaman. Pengalaman hidup dapat menempa mentalnya menjadi lebih kuat dan tahan banting.
- Bersikap realistik dan objektif. Melihat berbagai kejadian atau masalah didasarkan pada realita dan pemikiran objektif.[6]
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang selalu bersosialisasi dengan lingkungan, tempat tinggal, sekolah dan sebagainya. Manusia juga harus bisa menyesuaikan baik dimana manusia itu berada. Tanpa penyesuaian seringkali Manusia merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri di dalam pekerjaan, sekolah, lingkungan, kehidupan keluarga dan dalam masyarakat pada umumnya sangat mempengaruhi.
Penyesuaian diri disini adalah bagaimana manusia bisa menempatkan dirinya sendiri dalam situasi apapun, dimana pun berada. Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, pransangka, depresi, kemarahan, dan lain-lain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis.
Penyesuaian diri disini lebih menekatkan bagaimana Manusia ini menjadi bentuk karakter yang sesungguhnya dalam mencapai tahap ke dewasaan. Penyesuaian ini terdiri dari beberapa aspek-aspek, bentuk-bentuk penyesuaian diri, faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri, serta karakteristik penyesuaian diri.
2. Rekomendasi
Menurut Saya makalah ini banyak kekurangan, dan kesalahan. Mohon di maklumi. Dalam makalah ini penyesuaian diri ini harus bisa menyesuaikan dimana dirinya berada. Penyesuaian diri yang bisa membentuk dirinya sendiri ke dalam tahap-tahap pendewasaan diri. Semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membacanya.
DAFTAR PUSTAKA
Fahmy, Musthafa. 1982. Penyesuaian Diri. Cet I. Jakarta : N.V. Bulan Bintang.
Kartono, Kartini. 2002. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka.
Kajian Pustaka. 2013. Teori Penyesuaian Diri. Di unduh pada 27 Juni 2014. Pkl. 15.00 WIB. Dari http://www.kajianpustaka.com/2013/01/teori-penyesuaian-diri.html
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia.
[3]Kajian Pustaka, 2013, Teori Penyesuaian Diri, Di unduh pada 27 Juni 2014, Pkl. 15.00 WIB, Dari http://www.kajianpustaka.com/2013/01/teori-penyesuaian-diri.html
[6] Kajian Pustaka, 2013, Teori Penyesuaian Diri, Di unduh pada 27 Juni 2014, Pkl. 15.00 WIB, Dari http://www.kajianpustaka.com/2013/01/teori-penyesuaian-diri.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar