BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan kewajiban setiap umat Islam hal tersebut terukir dalam sejarah bahwasanya uswatun hasanahnya kita pun pertama kali menerima wahyu dituntut oleh Allah SWT untuk berusaha iqro atau selalu belajar dalam kondisi apapun,siapapun dan dalam keadaan apapun hal tersebut tentu senada dengan firman Allah yang diberikan kepada nabi Muhammad yaitu surat Al-Alaq yang esensinya bahwa manusia dituntut untuk selalu belajar dari lahir hingga meninggal dunia.
Di dalam kita melaksanakan belajar tentu kita akan menemukan halangan atau hambatan yang terjadi ketika melakukan proses belajar,untuk itu dibutuhkan pemahaman tentang proses belajar yang baik tentang perilaku belajar dan jenis-jenis belajar ataupun sebaliknya tentang perubahan perilaku belajar yang terjadi pada setiap individu sehingga dengan adanya pembahasan tentang perubahan perilaku belajar dan jenis-jenis belajar yang terjadi dalam pemebelajaran Pendidikan Agama Islam maka akan dihasilkan sebuah pemahaman dan pembahasan yang mendetail tentang hal tersebut sehingga akan berimplikasi pada efektifitas dan efisiensi serta motivasi dalam proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh pendidik dan peserta didik.
Diharapkan setelah adanya pembahasan yang mendalam tentang perubahan perilaku belajar dan jenis-jenis belajar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam ini,maka tidak ada lagi sesuatu yang menyimpang dalam proses belajar mengajar di sekolah maupun di lingkungan yang lain.Pendidik akan merasa terbantu dengan adanya proses identifikasi masalah seperti ini sehingga dalam proses mengajar pendidik akan selalu melaksanakan standar prosedur yang telah ditetapkan baik oleh lembaga maupun oleh pemerintah,sebaliknya peserta didik juga akan mampu berdaptasi dengan proses belajar yang sudah ditetapkan oleh aturan yang ditetapkan oleh pendidik atau lembaga dan pemerintah.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka pembahasan dari makalah ini dapat diambil suatu rumusan masalah diantaranya sebagai berikut.
A. Apakah yang dimaksud dengan perubahan perilaku belajar?
B. Bagaimanakah perwujudan perilaku belajar pada setiap individu?
C. Apa jenis-jenis belajar yang terdapat di dalam proses belajar seseorang?
3. Tujuan Penulisan makalah
A. Untuk mengetahui dan menganalisa apakah yang dimaksud dengan perubahan perilaku belajar pada setiap individu
B. Untuk mengetahui dan menganalisa bagaimanakah perwujudan perilaku belajar pada setiap individu
C. Untuk mengetahui dan menganalisa apa jenis-jenis belajar yang terdapat di dalam proses belajar seseorang
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perubahan perilaku belajar
1. Pengertian perubahan perilaku belajar
Perubahan perilaku belajar ialah sebuah perilaku yang dilakukan oleh individu dengan memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Perubahan yang disadari
b. Perubahan yang bersifat kontinu dan fungsional
c. Perubahan yang bersifat positif dan aktif
d. Perubahan yang bersifat relative permanen dan bukan bersifat temporer,dan bukan karena proses kematangan,pertumbuhan atau perkembangan
e. Hasil belajar ditandai dengan perubahan seluruh aspek pribadi baik aspek kognitif,afektif,maupun psikomotor
f. Belajar merupakan proses yang disengaja
g. Belajar terjadi karena ada dorongan dan tujuan yang akan dicapai
h. Belajar merupakan suatu bentuk pengalaman yang dibentuk secara
sengaja,sistematis,dan terarah
2. Ciri-ciri khusus perubahan perilaku belajar
Setiap perilaku belajar yang dilakukan oleh setiap individu pasti menimbulkan ciri-ciri yang spesifik yang ditimbulkan oleh sikap dari perilaku individu tersebut. Perubahan-perubahan perilaku belajar tersebut antara lain:
a. Perubahan intensional
Perubahan intensional adalah perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau praktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari.Dengan perkataan lain,bukan perubahan karena kebetulan.Karakteristik ini maknanya adalah bahwa siswa menyadari akan adanya perubahan yang dialami atau sekurang-kurangnya ia merasakan adanya perubahan dalam dirinya,seperti penambahan pengetahuan,kebiasaan,sikap dan pandangan sesuatu,keterampilan,dan seterusnya.Perubahan yang diakibatkan mabuk,gila,dan kelelahan tidak termasuk dalam karakteristik belajar,karena individu yang bersangkutan tidak menghendaki keberadaannya atau tidak menyadarinya.
Di samping perilaku belajar itu menghendaki perubahan yang disadari,juga diarahkan pada tercapainya tujuan perubahan tersebut.Jadi,apabila seorang siswa belajar bahasa inggris misalnya,sebelumnya ia telah menempatkan taraf kemahiran yang disesuaikan dengan tujuan pemakaiannnya.Penetapan ini misalnya,apakah bahasa asing tersebut akan ia gunakan untuk keperluan studi ke luar negeri ataukah untuk sekedar bias membaca teks-teks atau literature berbahasa inggris.
b. Perubahan positif dan aktif
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif [lihat kembali Syah(1996) dan Surya(1997)].Perubahan bersifat positif maknanya baik,bermanfaat,serta sesuai dengan harapan.Hal ini juga bermakna bahwa perubahan tersebut senantiasa mereupakan penambahan,yakni diperoleh dari sesuatu yang relative baru (misalnya pemahaman dan keterampilan baru)yang lebih baik dari apa yang telah ada sebelumnya.Perubahan bersifat aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan (misalnya,bayi yang bisa merangkak setelah bisa duduk).Dengan perkataan lain,perubahan tersebut karena usaha siswa itu sendiri.
c. Perubahan efektif dan fungsional
Perubahan ini terjadi karena proses belajar bersifat efektif,yakni berdaya guna.Artinya,perubahan tersebut membawa pengaruh,makna,dan manfaat tertentu bagi orang atau individu yang belajar.Perubahan bersifat fungsional juga bermakna bahwa ia relative menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan,perubahan tersebut dapat direduksi dan dimanfaatkan.Perubahan fungsional dapat diharapkan memberi manfaat yang luas,misalnya ketika siswa menempuh ujian dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupan sehari-hari dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.Selain itu,perubahan yang efektif dan fungsional biasanya bersifat dinamis dan mendorong timbulnya perubaahan-perubahan positif lainnya.Misalnya,apabila seseorang belajar menulis,ia akan mampu merangkaikan kata dan kalimat dalam bentuk tulisan,dan ia juga akan memperoleh kecakapan lainnya seperti membuat catatan,mengarang surat dan lainnya. [1]
Menurut pendapat Slameto dalam bukunya Popi Sopiatin dan Sohari Sahrani(2011:12) mereka menjelaskan tentang ciri-ciri perubahan perilaku belajar dalam diri seseorang ,maka akan dijelaskan sebagai berikut.
a). Perubahan yang disadari atau terjadi secara wajar
perubahan ini berarti bahwa,seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan adanya perubahan di dalam dirinya.Misalnya,seseorang menyadari pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah, kebiasaannya bertambah. Jadi, perubahan tingkah laku yang terjadi karena mabuk atau dalam keadaan tidak sadar,tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar, karena orang yang bersangkutan tidak menyadari akan perubahan itu.
b). Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional
sebagai hasil belajar,perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara kesinambungan,tidak statis.Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar selanjutnya.Misalnya jika seorang anak belajar menulis,maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat menulis menjadi dapat menulis.Perubahan ini berlangsung terus menerus sehingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik dan sempurna .Ia dapat menulis indah,dapat menulis dengan pulpen,dapat menulis dengan kapur,dsb.
c). Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
dalam perbuatan belajar,perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.Dengan demikian,semakin banyak usaha belajar itu dilakukan,semakin banyak dan baik perubahan yang akan diperoleh.Perubahan yang bersifat aktif berarti perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya,melainkan karena usaha individu itu sendiri.Misalnya perubahan tingkah laku proses kematangan yang terjadi dengan sendirinya akibat dorongan dari dalam,maka tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar.
d). Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara atau temporary
perubahan yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk beberapa saat saja,seperti berkeringat,keluar air mata,bersin,menangis,dan sebagainya,tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam arti belajar.Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen.Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.Misalnya,kecakapan seorang anak dalam memainkan piano.belajar seperti ini tidak akan cepat hilang begitu saja,melainkan akan terus dimiliki dan semakin berkembang jika terus dilatih dan dikembangkan.
e). Perubahan dalam belajar selalu mengarah kepada tujuan dan selalu terarah
perubahan ini mengandung arti bahwa sesuatu perubahan terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai.Perubahan belajar mengarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.Misalnya,seseorang yang belajar mengetik,sebelumnya sudah menetapkan kemudian yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik,atau tingkat kecakapan yang akan dicapainya.Dengan demikian,perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah kepada tingkah laku yang telah ditetapkan.
f). Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses belajar, meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.
Contohnya, jika seorang anak telah belajar naik sepeda, maka perubahan yang paling tampak ialah dalam keterampilan naik sepeda tersebut.Akan tetapi,ia telah mengalami perubahan-perubahan lainnya,seperti pemahaman tentang cara kerja sepeda,pengetahuan tentang jenis-jenis sepeda,pengetahuan tentang alat-alat sepeda,cita-cita untuk memiliki sepeda yang lebih bagus,kebiasaan membersihkan sepeda dan sebagainya.Jadi,Aspek perubahan yang satu akan selalu berhubungan erat dengan aspek-aspek yang lainnya. [2]
B. Perwujudan perilaku belajar pada setiap individu
Manifestasi atau perwujudan perilaku-perilaku belajar biasanya lebih sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut.
1. Kebiasaan
Setiap individu (siswa) yang telah mengalami proses belajar,kebiasaan-kebiasaannya akan tampak berubah.Burghradt dalam Syah(1996) menyatakan bahwa kebiasaan itu timbul karena proses penyusunan kecenderungan respon dengan menggunakan stimulasi yangh berulang-ulang.Dalam proses belajar,pembiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlakukan.Karena proses pengurangaan inilah,muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis.Kebiasaaan seperti ini terjadi karena prosedur pembiasaan seperti dalam classical dan operant conditioning (lihat kembali makna dan teori belajar).Contoh siswa yang belajar bahasa secara berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru,akhirnya akan terbiasa dengan penggunaan bahasa secaara baik dan benar.Jadi,berbahasa dengan yang baik dan benar itulah perwujudan perilaku belajar individu(siswa) tadi
2. Keterampilan
Keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat saraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis,menhgetik,olahraga,dan sebagainya.Meskipun sifatnya motorik,tetapi keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.Dengan demikian individu(siswa) yang melakukan gerakan motoric dengan koordinasi dan kesadaran yang rendah dapat diangggap kurang atau tidak terampil.Menurut Rebber(1988),keterampilan adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu.Keterampilan bukan hanya meliputi gerakan motoric,melainkan juga pengejawantahan fungsi mental yang bersifat kognitif .Pernyataan ini maknanya cukup luas,sehingga orang yang mampu mendayagunakan orang lain secara tepat juga dianggap sebagai orang yang terampil.Misalnya,guru yang bisa mendayagunakan siswa secaara tepat,sehingga bisa terwujud perilaku belajar yang efektif pada siswa,guru yang bersangkutan dianggap teraampil.Selain itu,siswa yang bisa mendayagunakan teman-temannya di kelas,sehingga muncul aktivitas belajar bersama,siswa yang bersangkutan bisa dianggap terampil
3. Pengamatan
Menurut Sujanto(1985:21) pengamatan adalah proses mengenal dunia luar dengan menggunakan indera. Alat-alat indera yang digunakan dalam pengamatan adalah:
a. Indera penglihatan
b. Indera pendengaran
c. Indera pembau atau penciuman
d. Indera perasa atau pengecapan
e. Indera peraba
f. Indera keseimbangan
g. Indera perasa urat daging (kinestasi/kinestetik)
h. Indera perasa jasmaniah (organism)
Syah(1966:118) menyatakan bahwa pengamatan artinya proses menerima,menafsirkan,dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga.Berkat pengalaman belajar,seorang siswa akan mampu mencapai pengamatan yang benar objektif sebelum memperoleh pengertian.Pengamatan yang salah akan mengakibatkan timbulnya pengertian yang salah pula.
Proses pengamatan melalui tiga tahap,yaitu :
1) Saat alami(saat physis),yaitu saat indera kita menerima perangsang dari luar
2) Saat jasmani (saat physiologis),yaitu saat perangsang itu diteruskan oleh urat saraf sensori ke otak,dan
3) Saat rohani (saat psychis),yaitu saat sampainya perangsang itu ke otak,kita menyadari perangsang itu dan bertindak(Sujanto,1985:21)
4. Berpikir Asosiatif dan Daya ingat
Berpikir asosiatif adalah berpikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya.Berpikir asosiatif itu merupakan proses pembentukan hubungan antara rangsangan dengan respon.Kemampuan siswa untuk melakukan hubungan asosiatif yang benar amat dipengaruhi oleh tingkat pengertian atau pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar.Misalnya,seorang siswa yang mampu menjelaskan arti penting tanggal 12 Rabiul awal.Kemampuan siswa tersebut dalam mengasosiasikan tanggal bersejarah itu dengan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW,hanya bisa didapat apabila ia telah mempelajari riwayat hidup beliau.
Al-Quran menggunakan prinsip asosiasi,misalnya ketika mengajarkan sesuatu kepada Nabi SAW,Al-Quran menghubungkan pelajaran yang tengah diberikan dengan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya dan di sisi lain dikaitkan dengan pelajaran yang telah diberikan kepada para nabi dan peristiwa sebelumnya.Daya ingat merupakan perwujudan belajar,sebab merupakan unsur pokok dalm berpikir asosiatif.Jadi,siswa yang telah mengalami proses belajar akan ditandai dengan bertambahnya simpanan materi (pengetahuan dan pengertian) dalam memori,serta meningkatnya kemampuan menghubungkan materi tersebut dengan situasi atau stimulus yang sedang ia hadapi.
5. Berpikir rasional dan kritis
Berpikir rasional dan kritis adalah perwujudan perilaku belajar, terutama yang bertalian dengan pemecahan masalah (problem solving).Umumnya, siswa yang berpikir rasional akan menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan “bagaimana”(how) dan “mengapa”(why). Dalam berpikir rasional, siswa dituntut menggunakan logika (akal sehat) untuk menentukan sebab akibat,menganilisis,menarik kesimpulan-kesimpulan,dan bahkan juga menciptakan hukum-hukum (kaidah teoritis) dan ramalan-ramalan.
Berpikir kritis dapat diwujudkan ketika diskusi atau memecahkan suatu persoalan melalui diskusi atau berdebat. Berkaitan dengan ini Al-Quran mengajarkan agar berdebat secara maruf (baik). Selanjutnya, menurut Rebber (1988) dalam berpikir kritis, siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan gagasan pemecahan masalah dan mengatasi kesalahan atau kekurangan.
6. Sikap
Dalam pengertian sempit, sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987) dalam Syah (1966) sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relative menetap untuk bereaksi dengan baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu.Menurut Mueller (1996:4) sikap adalah menyukai atau menolak suatu objek psikologis. Selanjutnya Mueller (1966) menyatakan bahwa sikap adalah 1)..pengaruh atau penolakan, 2).penilaian, 3).suka atau tidak suka, atau 4).kepositifan atau kenegatifan terhadap suatu objek psikologis.
Pernyataan diatas menunjukkan bahwa,pada prinsipnya sikap adalah kecenderungan individu (siswa) untuk bertindak dengan cara tertentu. Perwujudan perilaku belajar siswa-siswi akan ditandaai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah (lebih maju dan lugas) terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa, dan sebagainya.
7. Inhibisi
Secara singkat, inhibisi adalah upaya pengurangan atau pencegahan timbulnya suatu respons tertentu karena adanya proses respon lain yang sedang berlangsung. Dalam kaitannya dengan belajar, inhibisi bermakna kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu,lalu memilih atau melakukan tindakan lainnya yang lebih baik ketika ia berinteraksi dengan lingkungannnya (Syah,1996:120).
Kemampuan siswa melakukan inhibisi umumnya diperoleh melalui proses belajar.Karena itu,makna dan perwujudan perilaku belajar seorang siswa akan tampak pula dalam kemaampuan kemampuannya melakukan inhibisi.Misalnya,seorang siswa yang telah berhasil mempelajari bahaya narkoba dan alcohol,ia akan menghindari membeli obat-obatan terlarang dan minuman keras.Sebagai gantinya,ia akan membeli obat-obatan dan minuman sehat (tidak berbahaya).
8. Apresiaasi
Apresiasi adalah suatu pertimbangan (judgement) mengenai arti penting atau nilai sesuatu (Chaplin 1997).Dalam penerapannya,apresiasi sering diartikan sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda (baik abstrak maupun konkret)yang memiliki nilai luhur. Apresiasi adalah gejala ranah afektif yang umumnya ditujukan pada karya-karya seni budaya seperti seni: sastra, music, lukis, drama, dan sebagainya.
Tingkat apresiasi siswa terhadap nilai sebuah karya sangat bergaantung pada tingkat pengalaman belajarnya. Misalnya, seorang siswa yang telah mengalami proses belajar agama secara mendalam, maka tingkat apresiasinya terhadap nilai seni baca Al-Quran dan kaligrafi akan mendalam pula. Dengan demikian, pada dasarnya seorang siswa baru akan memiliki apresiasi yang memadai terhadap objek tertentu (misalnya kaligrafi) apabila sebelumnya ia telah mempelajari maateri yang berkaitan dengan objek yang dianggap mengandung nilai penting dan indah tersebut.
9. Tingkah laku afektif
Tingkah laku afektif adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan seperti takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was, dan sebagainya.Tingkah laku seperti ini tidak terlepas dari pengalaaman belajar.Oleh karena itu,ia dianggap sebagai perwujudan perilaku belajar.Seorang siswa dapat dianggap berhasil secara afektif dalam belajar agama(khususnya agama Islam),apabila ia telah menyenangi dan menyadari dengan ikhlas kebenaraan ajaran agama Islam yang ia pelajari,lalu menjadikannya sebagai system nilai diri.Kemudian,pada gilirannya ia menjadikan system nilai ini sebagai penuntun hidup,baik dikala suka maupun duka (Drajat,1985).
C. Jenis-jenis belajar yang terdapat di dalam proses belajar seseorang
Jenis-jenis belajar ini antara lain:
1. Belajar abstrak
Belajar jenis ini sering disebut dengan belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak.Tujuan belajar jenis ini adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah yang tidak nyata (abstrak).Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak,diperlukan nalar yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi, misalnya dalam mempelajari matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan sebagian materi mata pelajaran atau bidang studi agama Islam seperti tauhid (keimanan dan filsafat bagi mahasiswa) dan lain-lain
2. Belajar keterampilan
Belajar jenis ini adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik,yakni yang berhubungan dengan urat-urat saraf dan otot-otot(neuromuscular).Tujuan belajar jenis ini adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan-keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini, latihan-latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan, misalnya dalam belajar olahraga, music, menari, melukis, elektronik, dan lain-lain. Dalam mata pelajaran agama Islam, belajar ini tampak suatu materi-materi, seperti wudhu, tayamum, shalat, haji (mata pelajaran ibadah), dan lain-lain.
3. Belajar social
Belajar jenis ini adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah-masalah social. tujuan belajar jenis ini adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakaapan dalam memecahkan masalah-masalah social seperti keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah-masalah social seperti keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah-masalah lain yang bersifat social atau kemasyarakatan. Belajar social juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain atau kelompok lain untuk memenuhi kebutuhannnya secara berimbang dan proposional.Mata pelajaran yang bermuatan belajar social misalnya PPKn.Dalam agama Islam,belajar model ini tampak pada akhlak,karena maata pelajaran ini sangat menekankan hubungan dengan orang lain.
4. Belajar pemecahan masalah (Problem Solving)
Belajar jenis ini adalah belajar dengan menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti. Artinya,belajar jenis ini tampak pada penggunaan pendekatan sistrematis, logis, teratur, dan teliti sebagai dasar untuk pemecahan masalah.Tujuan belajar jenis ini adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas.Untuk mencapai tujuan belajar jenis ini, kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi serta insight (tilikan akal) amat diperlukan.
5. Belajar rasional
Belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional sering disebut belajar rasional. Tujuan belajar jenis ini adalah untuk memperoleh bermacam-macam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Belajar jenis ini erat kaitannnya dengan belajar pemecahan masalah. Melalui belajar jenis ini, diharapkan memiliki kemampuan rational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis, dan sistematis (lihat Reber,1988 dalam Syah 1996).
Bidang-bidang studi yang dapat digunakan sebagai sarana belajar rasional,sama dengan bidang-bidang studi untuk belajar pemecahan masalah.Perbedaannya,belajar rasional tidak memberi tekanan khusus pada penggunaan bidang studi eksakta.Artinya,bidang-bidang studi noneksakta pun dapat memberi efek yang sama dengan bidang studi eksakta dalam belajar rasional.
6. Belajar kebiasaan
Belajar jenis ini diartikan dengan proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar jenis ini selain menggunakan perintah,contoh atau teladan,dan pengalaman khusus,juga menggunakan hukum-hukum dan ganjaran.Tujuan belajar jenis ini adalah agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu(konstektual).Dengan perkataan lain,selaras dengan norma-norma dan tata nilai moral yang berlaku,baik yang bersifat religious maupun tradisional dan kultural.Belajar kebiasaan akan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga (informal).Selain itru,tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama Islam dan PPKn sebagai sarana belajar kebiasaan bagi siswa.
7. Belajar Apresiasi
Belajar jenis ini sering diartikan dengan belajar mempertimbangkan areti penting atau nilai suatu objek.Tujuan belajar jenis ini adalah agar siswa memperoleh dan mengembaangkan kecakapan ranah rasa(affective skills)seperti kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu misalnya apresiasi sastra,music,dan sebagainya.Mata pelajaran yang menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi,antara lain bahasa dan sastra,kerajinan tangan,kesenian,dan menggambar.Dalam mata pelajaran agama Islam,jenis belajar seperti ini tampak pada apresiasi siswa terhadap seni baca Al-Quran dan kaligrafi (seni menulis indah Al-Quran).
8. Belajar pengetahuan
Belajar jenis ini juga dikenal dengan belajar studi.Belajar pengetahuan adalah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap suatu objek pengetahuan tertentu.Tujuan belajar jenis ini adalah agar siswa memperoleh tambahan informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yangh biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya,seperti dengan menggunakan alat-alat laboratorium dan penelitian lapangan.Siswa di sekolah sering melakukan belajar jenis ini,misalnya pada pelajaran biologi di laboratorium dengan melakukan praktik bedah terhadap katak dan tikus untuk mengetahui sel-sel perkembang biakannya. Demikian juga pada pelajaran lain seperti fisika dan kimia.
Berbeda dengan pendapat Syah (1966) dalam bukunya Slameto (1991:5-8) menyatakan jenis-jenis belajar mencakup beberapa hal antara lain:
a. Belajar bagian (part learning)
b. Belajar dengan wawasan (learning by insight)
c. Belajar diskriminatif (discriminative learning)
d. Belajar global atau keseluruhan (global whole learning)
e. Belajar incidental (incidental learning)
f. Belajar instrumental (instrumental learning)
g. Belajar intensional (intentional learning)
h. Belajar laten (laten learning)
i. Belajar mental (mental learning)
j. Belajar produktif (productive learning)
k. Belajar verbal (verbal learning)[3]
Menurut Pasaribu dan Simanjuntak Berdasarkan kegiatan belajar maka terdapat jenis belajar:
1. Kecakapan jasmaniah
Jenis belajar atau skill yang motoris ini mengutamakan agar gerak-gerik jasmaniah yang di perlakukan itu pada akhirnya berjalan otomatis. Jadi tujuannya otomatisasi gerak-gerik hal nya sama dengan yang terdapat pada skill rohaniah (membaca, menghitung). Untuk skill inipun perlu latihan karena bertujuan mengotomatisasi
2. Problem solving
Jenis belajar ini memerlukan penyelesaiaian dengan berpikir bukan cdengan cara latihan dalam arti mengulangi gerak-gerik tertentu.Dicari relasi pengertian dengan factor yang terlibat dalam soal tertentu (situasi)
3. Belajar fakta pengetahuan
Dalam ilmu terdapat segi hafalan dan segi pengertian.segi pengertian membentuk hafalan yang penting melihat fakta daalam keseluruhan dan kemudian merealisasikan.Jadi penting latihan dan pengertian.
4. belajar cara terdapaat dalam menyelesaikan penelitian ilmiah.langkah dalam membuat paper, membuat daftar literature, cara mengorganisir, cara menyetir. Belajaar ini terdiri dari trial dan erros.
5. Belajar Sikap
Jenis belajar ini dapat terjadi dengan berbagai cara mengetahui sesuatu dan merealisasikan sikap. Belajar sikap termasuk belajar norma dengan cara identifikasi, interaksi kelompok (ada sikap kelompok yang tertentu), alat komunikasi contioning. Sikap merupakan dinamika untuk berbuat.
6. Belajar memperoleh minat yang mendalam
7. Jenis belajar ini dilakukan dengan konsentrasi yang pada umumnya untuk berbakti pada masyarakat. Di di sekolah juru rawat dan hal-hal di benci, tetapi dilaksanakan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Perubahan perilaku belajar
a. Pengertian perubahan perilaku belajar
Perubahan perilaku belajar ialah sebuah perilaku yang dilakukan oleh individu dengan memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Perubahan yang disadari
2. Perubahan yang bersifat kontinu dan fungsional
3. Perubahan yang bersifat positif dan aktif
4. Perubahan yang bersifat relative permanen dan bukan bersifat temporer,dan bukan karena proses kematangan,pertumbuhan atau perkembangan
5. Hasil belajar ditandai dengan perubahan seluruh aspek pribadi baik aspek kognitif,afektif,maupun psikomotor
6. Belajar merupakan proses yang disengaja
7. Belajar terjadi karena ada dorongan dan tujuan yang akan dicapai
8. Belajar merupakan suatu bentuk pengalaman yang dibentuk secara
sengaja,sistematis,dan terarah
b. Ciri-ciri khusus perubahan perilaku belajar
Setiap perilaku belajar yang dilakukan oleh setiap individu pasti menimbulkan ciri-ciri yang spesifik yang ditimbulkan oleh sikap dari perilaku individu tersebut.Perubahan-perubahan perilaku belajar tersebut antara lain:
1. Perubahan intensional
2. Perubahan positif dan aktif
3. Perubahan efektif dan fungsional
2. Perwujudan perilaku belajar pada setiap individu
Manifestasi atau perwujudan perilaku-perilaku belajar biasanya lebih sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut.
a. Kebiasaan
b. Keterampilan
c. Pengamatan
d. Berpikir Asosiatif dan Daya ingat
e. Berpikir rasional dan kritis
f. Sikap
g. Inhibisi
h. Apresiaasi
i. Tingkah laku afektif
3. Jenis-jenis belajar yang terdapat di dalam proses belajar seseorang
Jenis-jenis belajar ini antara lain:
a. Belajar abstrak
b. Belajar keterampilan
c. Belajar social
d. Belajar pemecahan masalah (Problem Solving)
e. Belajar rasional
f. Belajar kebiasaan
g. Belajar Apresiasi
h. Belajar pengetahuan
Berbeda dengan pendapat Syah (1966) dalam bukunya Slameto (1991:5-8) menyatakan jenis-jenis belajar mencakup beberapa hal antara lain:
1. Belajar bagian (part learning)
2. Belajar dengan wawasan (learning by insight)
3. Belajar diskriminatif (discriminative learning)
4. Belajar global atau keseluruhan (global whole learning)
5. Belajar incidental (incidental learning)
6. Belajar instrumental (instrumental learning)
7. Belajar intensional (intentional learning)
8. Belajar laten (laten learning)
9. Belajar mental (mental learning)
10. Belajar produktif (productive learning)
11. Belajar verbal (verbal learning)
Menurut Pasaribu dan Simanjuntak Berdasarkan kegiatan belajar maka terdapat jenis belajar
B. Saran dan Kritik
Dalam penyusunan makalah ini penulis menginginkan adanya masukan serta kritikan dari pembaca sehingga dalam penulisan makalah – makalah lain khususnya makalah Psikologi belajar ini kami akan mendapatkan banyak revisi serta masukan dari berbagai karakteristik pembaca sehingga dimaksudkan agar dalam penulisan makalah – makalah yang lain akan menjadi lebih baik dan menuju kesempurnaan .terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Pasaribu,I.L, dan Simanjuntak,B.1983.Proses Belajar Mengajar.Bandung; Tarsino
Sopiatin,Popi, dan Sahrani,Sohari.2011.Psikologi Belajar dalam Perspektif Islam.Bogor; Ghalia Indonesia
Tohirin.2008.Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.Jakarta; PT.Raja Grafindo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar