BAB I
PENDAHULUAN
Metode kerja kelompok adalah metode yang sering digunakan dalam proses pembelajaran, salah satu faktor penting yang menjadi penyebab digunakannya metode ini adalah banyaknya perbedaan dari setiap individu siswa baik itu dari segi kecerdasan, sikap, maupun mental. Seorang guru hendaknya mengetahui kelebihan dan kekurangan metode kerja kelompok agar setiap digunakannya metode ini siswa mampu bekerja sama dan mengoptimalkan potensinya, sehingga tujuan dari pembelajaran tercapai.
Dalam pelaksanaannya metode kerja kelompok membutuhkan keterampilan khusus terutama untuk pendidik atau guru, karena dalam prakteknya siswa atau murid-murid seringkali tidak paham atau malas untuk mengerjakan tugas yang diberikan, sehingga perlunya management atau pengaturan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan untuk memaksimalkan atau penyesuaian terhadap pembagian kelompok agar siswa yang cerdas dapat membantu yang kurang cerdas, siswa yang aktif dapat membantu yang kurang aktif, bahkan siswa yang gesit dapat membantu siswa yang kurang gesit.
Dalam membuat kelompok kerja hendaknya guru memperhatikan keterhubungan antar anggota kelompok lainnya, baik itu secara pertemanan, jenis kelamin, maupun dari kekhasan murid itu sendiri, agar dalam bekerja kelompok terjadi hubungan yang baik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, diambil rumusan masalahnya sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan metode kerja kelompok?
2. Apa saja pertimbangan untuk membuat metode kerja kelompok?
3. Bagaimana pembagian metode kerja kelompok?
4. Apa saja kelemahan dan kelebihan metode kerja kelompok?
5. Bagaimana penggunaan metode kerja kelompok?
6. Bagaimana pelaksanaan metode kerja kelompok?
C. Tujuan
Adapun tujuannya, yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian metode kerja kelompok,
2. Untuk mengetahuipertimbangan membuat metode kerja kelompok,
3. Untukpembagian metode kerja kelompok,
4. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan metode kerja kelompok,
5. Untukmengetahui penggunaan metode kerja kelompok, dan
6. Untukmengetahui pelaksanaan metode kerja kelompok.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Kerja Kelompok
Istilah kerja kelompok mengandung arti bahwa siswa-siswa dalam suatu kelas dibagi kedalam beberapa kelompok baik kelompok yang kecil maupun kelompok yang besar. Pengelompokan biasanya didasarkan atas prinsip untuk mencapai tujuan bersama.[1] Ada beberapa definisi lain yang dimaksud oleh pakar pendidikan mengenai pengertian metode kerja kelompok ini, antara lain:
1. Metode Kerja Kelompok merupakan metode pembelajaran yang mengkondisikan kelas yang terdiri dari kesatuan individu-individu anak didik yang memiliki potensi beragam untuk bekerja sama.[2]
2. Metode kerja kelompok dalam rangka pendidikan dan pengajaran ialah kelompok kerja dari kumpulan beberapa individu yang bersifat paedagogis yang didalamnya terdapat adanya hubungan timbal balik (kerjasama) antara individu serta saling percaya mempercayai.[3]
Guru dapat memanfaatkan ciri khas dan potensi peserta didik untuk menjadikan kelas sebagai satu kesatuan (kelompok tersendiri) maupun dengan membaginya menjadi kelompok-kelompok kecil (sub-sub kelompok). Kelompok-kelompok tersebut dibentuk untuk memecahkan suatu masalah atau untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang perlu dikerjakan bersama-sama.[4]
B. Pertimbangan Membuat Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok dapat dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1. Perbedaan individu dalam belajar, terutama apabila kelas itu bersifat heterogen dalam belajar.
2. Perbedaan minat belajar. Dengan pertimbangan ini, kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri atas para siswa yang mempunyai minat yang sama.
3. Pengelompokan berdasarkan jenis pekerjaan yang akan diberikan.
4. Pengelompokan berdasarkan wilayah tempat tinggal. Artinya, pelajar-siswa yang tinggal dalam satu kelompok sehingga memudahkan koordinasi kerja.
5. Pengelompokan secara random, tanpa pertimbangan faktor-faktor lain.
6. Pengelompokan atas dasar jenis kelamin, kelompok siswa putra dan kelompok siswa putri.
Pertimbangan dasar dalam pemilihan kelompok biasanya berdasarkan atas pemilihan teman yang menurutnya lebih dekat atau lebih intim. Dalam proses belajar mengajar cara tersebut memiliki keuntungan, yaitu menimbulkan konsentrasi dalam belajar, memudahkan hubungan kepribadian dan dapat menimbulkan motivasi belajar. Pengelompokan dapat pula dilakukan oleh guru atas pertimbangan-pertimbangan paedagogis, diantaranya untuk membedakan anak didik yang cerdas, normal dan yang lemah.
Menurut Crow and Crow bahwa anak yang cerdas apabila digabungkan dengan anak yang lemah akan mengalami kesulitan-kesulitan dalam belajar terutama bagi yang lemah.
Untuk kelompok yang dibagi berdasarkan kemampuan anak didik, tugas guru sebagai pembimbing lebih berat, karena harus secara cermat memerhatikan anak didik yang lemah agar jangan terlalu dirugikan. Sedangkan bagi yang cerdas jangan sampai ada anggapan bahwa dengan adanya kelompok justru tidak memberi manfaat baginya. Dalam hal guru harus memberikan tugas kepada yang lebih cerdas untuk membantu teman-temannya yang lemah.
Guru dalam menentukan kategori anak yang cerdas dan yang lemah tidak hanya melihat dari nilai yang ada dalam raport atau hasil ulangan sehari-hari, tetapi harus dilihat juga kepribadian anak didik yang bersangkutan.
Menurut Crow and Crow pula, ciri anak yang superior ialah:
a. Observasinya tajam, cepat dan jelas dalam mengatasi pelajaran.
b. Cepat memberikan jawaban apabila menerima pertanyaan.
c. Pemahaman yang baik dan teratur.
d. Pemikiran yang terang dan logis.
Sementara ciri-ciri anak yang lamban adalah:
a. Perhatiannya kurang dan jangkauan pendek.
b. Interesnya sempit.
c. Mempunyai kesukaran-kesukaran dalam memusatkan pikiran.
d. Sukar berpartisipasi dalam kegiatan akademis dan sosial.
e. Mudah menjadi bingung dalam menghadapi masalah.[5]
C. Pembagian Metode Kerja Kelompok
Secara umum, pengelompokan kelas secara heterogen adalah baik agar anggota-anggota kelompok dapat saling melengkapi kekurangan. Dalam beberapa situasi, pengelompokan berdasarkan jenis kelamin akan lebih baik dan dianjurkan, terutama dalam mengerjakan materi fiqih yang membahas persoalan-persoalan kewanitaan.
1. Dilihat dari proses kerjanya, kerja kelompok dapat dibagi menjadi dua macam,yaitu:
a. Kelompok jangka pendek, artinya jangka waktu untuk bekerja dalam kelompok hanya bersifat insidental.
b. Kelompok jangka panjang, artinya proses kerja dalam kelompok tidak bersifat insidental, tetapi mungkin berlangsung untuk satu periode tertentu sesuai dengan masalah yang akan dipecahkan atau tugas tang akan diselesaikan.
c. Kerja kelompok campuran, disini siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok yang disesuaikan dengan kemampuan belajar siswa. Dalam kerja kelompok ini siswa diberi kesempatan untuk bekerja sesuai dengan kemampuan masing-masing sehingga kelompok yang pintar dapat seleai terlebih dahulu tidak perlu menunggu kelompok yang lain. Kelompok siswa yang agak lamban, diizinkan menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang sesuai dengan kemampuannya. Agar kerja kelompok campuran itu mencapai sasaran, guru perlu memperhatikan hal-hal ialah harus menyediakan tugas atau kegiatan belajar yang sesuai dengan kemampuan belajar setiap kelompok kemudian setiap tugas harus disusun sedemikian rupa sehingga setiap kelompok dapat mengerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain atau guru. Akhirnya guru harus memberi petunjuk yang jelas, sehingga siswa tau apa yang harus dilakukan dann apa yang diharapkan dari mereka masing-masing.[6]
Untuk mencapai hasil pembelajaran yang baik dengan metode kerja kelompok ini, ada beberapa faktor yang hendaknya diperhatikan oleh guru, yaitu:
1) Perlu adanya motivasi yang kuat untuk berkerja pada setiap anggota. Situasi yang menyenangkan antara anggota akan banyak menentukan berhasil tidaknya keja kelompok. Demikian pula persaingan yang sehat antar kelompok biasanya mendorong siswa untuk belejar.
2) Masalah dapat merupakan satu unit yang dipecahkan bersama, atau masalah dibagi-bagi untuk dikerjakan secara individual. Hal ini tergantung pada komplek tidaknya masalah yang dipecahkan.
3) Pengelompokan dapat dilakukan oleh anak didik sendiri.
2. Dilihat dari segi waktu dan cara pembentukan kelompok, maka metode ini dapat dibagi dalam beberapa macam, yaitu:
a. Kerja kelompok jangka pendek
Kelompok jangka pendek ini dapat dilaksanakan dalam kelas dalam waktu singkat kurang lebih 20 menit, dan kelompok ini berguna agar pada anak didik tertanam rasa saling membantu dan kerja sama dalam menyelesaikan suatu tugas. Disamping itu juga dimaksudkan menanamkan kepada diri anak didik tentang pentingnya musyawarah dan manfaatnya dalam kehidupan bermasyarakat.
b. Kerja kelompok jangka menengah
Kerja kelompok jangka menengah ini diadakan karena kepentingan untuk penyelesaian unit-unit pelajaran, yang akan lebih baik apabila dikerjakan bersama-sama dalam beberapa waktu.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dengan kelompok jangka menengah ini, yaitu:
1) Masalah yang dibahas adalah masalah yang penting bagi anak didik dan menarik perhatian mereka.
2) Dalam mengerjakan pekerjaan tersebut masing-masing anak didik hendaknya memiliki kepercayaan diri sebagai peserta yang penting serta sanggup memberikan kontribusi pemikiraan. Oleh sebab itu, sebaiknya dalam kelompok ini masing-masing pimpinan kelompok diberi pengarahan oleh guru sebagai pembimbing dalam membagi tugas pekerjaan dan cara melaksanakan kerja.
c. Kerja kelompok jangka panjang
Kelompok ini biasanya dinamakan kelompok studi. Suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok yang dibentuk dapat berlangsung sampai anak didik menyelesaikan jenjang pembelajaran pada suatu tingkat tertentu.
Manfaat yang dapat diambil dari kelompok-kelompok jangka panjang antara lain:
1) Mendorong adanya perlombaan meningkatkan kualitas kelompok.
2) Mendorong untuk bekerja sama secara rutin da dalam menyelesaikan pelajaran-pelajaran yang sulit.
3) Menanamkan solidaritas antar teman.
4) Dapat saling mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
5) Dapat memudahkan dalam melaksankan tugas guru dan pimpinan sekolah.[7]
Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, pengunaan metode kerja kelompok akan sangat membantu dalam proses penguatan materi tentang bagaimana membangun hablu minanas (hubungan dengan sesama manusia) menjadi hubungan yang harmonis dan bermakna. Sebagai contoh, dalam konteks ini guru agama bisa memberikan tugas kepada siswa secara berkelompok untuk mencermati kelompok-kelompok masyarakat dengan latar pandangan yang berbeda, sebut saja kelompok NU dan Muhamadiyah, yang dalam banyak situasi tidak bisa di pertemukan. Selanjutnya mereka diberikan tugas laporan atas pengamatan yang di lakukan di sertai dengan analisa dan rekomendasi.
Contoh lain, terkait dengan materi sejarah kebudayaan islam, siswa secara kelompok di minta mengunjungi situs-situs bersejarah yang bernuansa islam, sebut saja makam para wali atau tokoh agama di sekitar mereka tinggal untuk menggali makna perjuangan mereka dala menyebarkan agama islam.[8]
D. Kelemahan dan Kelebihan Metode Kerja Kelompok
1. Kelebihan
a. Ditinjau dari segi pendidikan, kegiatan kelompok murid-murid akan meningkatkan kualitas keperibadian, seperti: kerjasama, toleransi, kritis, disiplin, dsb.
b. Ditinjau dari segi ilmu jiwa akan timbul persaingan yang positif, karena anak akan lebih giat bekerja dalam kelompok masing-masing. Anak-anak yang pemalu akan lebih aktif.[9]
c. Ditinjau dari segi didaktik, bahwa anak-anak yang pandai dapat membantu teman-temannya yang kurang pandai, terutama dalam rangka memenangkan kompetisi antara kelompok.
2. Kelemahan
a. Metode kerja kelompok memerlukan persiapan-persiapan yang agak rumit apabila dibandingkan dengan metode yang lain, misalnya metode ceramah.
b. Apabila terjadi persaingan yang negatif hasil pekerjaan akan lebih memburuk.
c. Bagi anak-anak yang malas ada kesempatan untuk tetap fasif dalam kelompok itu dan kemungkinan besar akan mempengaruhi kelompok itu sehingga usaha kelompok itu akan gagal.[10]
E. Penggunaan Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok cocok digunakan bilamana:
1. Kekurangan alat atau fasilitas dikelas, misalnya dalam satu kelas hanya terdapat beberapa buku saja, sedangkan jumlah siswa cukup banyak. Untuk tercapainya tujuan pengajaran dan siswa diharuskan membaca buku tersebut, maka kelas dapat bekerjasama dengan siswa yang lebih pandai.
2. Terdapatnya beberapa unit pekerjaan yang perlu diselesaikan dalam waktu yang sama atau bila suatu tugas pekerjaan lebih tepat untuk dirinci, maka kelas dibagi beberapa kelompok menurut jenis kebutuhan, dan masing-masing kelompok bertanggung jawab terhadap tugas khusus yang diberikan.[11]
3. Kemampuan belajar siswa, didalam satu kelas kemampuan belajar siswa tidak sama, siswa yang pandai di dalam bahasa Inggris, belum tentu sama pandainya dalam pelajaran sejarah. Dengan adanya perbedaan kemampuan belajar itu, maka perlu dibentuk kelompok menurut kemampuan belajar masing-masing, agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya.
4. Minat khusus, setiap individu memiliki minat khusus yang perlu dikembangkan. Hal mana yang satu pasti berbeda dengan yang lain, tetapi tidak menutup kemungkinan ada anak yang minat khususnya sama, sehingga memungkinkan dibentuknya kelompok, agar mereka dapat dibina dan mengembangkan bersama minat khusus tersebut.
5. Memperbesar partisipasi siswa, di sekolah pada tiap kelas biasanya jumlah siswa terlalu banyak dan kita tahu bahwa jumlah jam pelajaran adlah sangat terbatas, sehingga dalam jam pelajaran yang sedang berlangsung sukar sekali untuk guru akan mengikutseterkan setiao murid dalam kegiatan itu. Bila itu terjadi siswa yangditunjuk guru akan aktif, yang tidak disuruh akan tetap pasif saja. Karena itulah bila berkelompok dan diberikan tugas yang sama pada masing-masing kelompok, maka banyak kemungkinan setiap siswa ikut serta melaksanakan dan memecahkannya.
6. Kerja sama yang aktif, dalam kelompok ini siswa harus bisa bekerja sama, mampu menyesuaikan diri, menyeimbangkan pikiran (pendapat) atau tenaga untuk kepentingan bersama, sehingga mencapai suatu tujuan untuk bersama pula.[12]
F. Pelaksanaan Metode Kerja Kelompok
Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam pelaksanaan metode kerja kelompok, yaitu:[13]
1. Menentukan Kelompok
Hal ini dapat dilakukan oleh guru dan murid atau secara bersama-sama antara guru dan murid. Aspek-aspek yang diperhatikan dalam kerja kelompok yaitu:
a) Tujuan
Seorang guru hendaknya menerangkan tujuan pelajaran terlebih dahulu dan harus mengetahui persis bagaimana cara mengerjakannya sebelum siswa mengerjakan tugas.
b) Tidak mengabaikan asas individual, dimana siswa dalam kelompoknya dapat dipandang sebagai pribadi yang berbeda dari segi kemampuan dan minatnya masing-masing
c) Mempertimbangkan fasilitas yang tersedia atau yang dimiliki
d) Dimaksudkan untuk memperoleh dan memperbesar peran atau partisipasi siswa dalam kelompoknya.
2. Pemberian Tugas-Tugas kepada Kelompok
Dalam hal ini seorang guru memberikan tugas-tugas pada kelompok masing-masing dan geru juga memberikan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas tersebut. Disamping itu juga seorang guru harus dapat menentukan siapa saja yang menjadi pemimpin kelompok serta tugas masing-masing anggota.
3. Setiap kelompok mengerjakan tugasnya masing-masing
Murid-murid mengerjakan tuga yang diberikan padanya secara bersama-sama, dan dalam hal ini seorang guru harus dapat mengwasi dinamika kelompok yang terjadi sehingga ia dapat mengalahkan, membantunya bila perlu serta dapat memberikan saran-saran tentang penyelesaian tugas bila diperlikan.
4. Melakukan Penilaian
Nilailah proses kelompok yang terjadi bersama-sam dengan kelompok lain. Yang dinilai tidak hanya hasil kerja yang dicapai oleh sebuah kelompok tetapi juga terhadap aspek-aspek lain seperti: interaksi, kerjasama, komunikasi sesma anggota dan aspek lainnya.
BAB III
KESIMPULAN
1. Pengertian kelompok kerja
Istilah kerja kelompok mengandung arti bahwa siswa-siswa dalam suatu kelas dibagi kedalam beberapa kelompok baik kelompok yang kecil maupun kelompok yang besar. Pengelompokan biasanya didasarkan atas prinsip untuk mencapai tujuan bersama.
2. Metode kerja kelompok dapat dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: perbedaan individu dalam belajar, perbedaan minat belajar, pengelompokan berdasarkan jenis pekerjaan yang akan diberikan, pengelompokan berdasarkan wilayah tempat tinggal, pengelompokan secara random, dan pengelompokan atas dasar jenis kelamin.
3. Pembagian Metode Kerja Kelompok
a. Dilihat dari proses kerjanya: kelompok jangka pendek, kelompok jangka panjang, dan kerja kelompok campuran.
b. Dilihat dari segi waktu dan cara pembentukan kelompok:kerja kelompok jangka pendek, kerja kelompok jangka menengah, dan kerja kelompok jangka panjang.
4. Kelemahan dan Kelebihan Metode Kerja Kelompok
a. Kelebihannya yaitu: ditinjau dari segi pendidikan, ditinjau dari segi ilmu jiwa, dan ditinjau dari segi didaktik.
b. Kelemahannya yaitu: metode kerja kelompok memerlukan persiapan-persiapan yang agak rumit apabila dibandingkan dengan metode yang lain, apabila terjadi persaingan yang negatif hasil pekerjaan akan lebih memburuk, dan bagi anak-anak yang malas ada kesempatan untuk tetap pasif.
5. Penggunaan Metode Kerja Kelompokcocok digunakan bilamana:
a. Kekurangan alat atau fasilitas dikelas,
b. Terdapatnya beberapa unit pekerjaan yang perlu diselesaikan dalam waktu yang sama atau bila suatu tugas pekerjaan lebih tepat untuk dirinci,
c. Kemampuan belajar siswa,
d. Minat khusus,
e. Memperbesar partisipasi siswa, dan
f. Kerja sama yang aktif.
6. Pelaksanaan Metode Kerja Kelompok
Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam pelaksanaan metode kerja kelompok, yaitu:menentukan kelompok, pemberian tugas-tugas kepada kelompok, setiap kelompok mengerjakan tugasnya masing-masing, dan melakukan penilaian.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam.Jakarta: Ciputat Pers. 2002.
Nasih, Ahmad Mujin, dan Lilik Nur Kholidah. Metode dan Teknik Pembelajaran Agama Islam. Bandung: PT Refika Aditama. 2013.
Roestiyah. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2001.
Sabri, Ahmad. Strategi Belajar Mengajar Dan Micro Teaching. Jakarta: Ciputat Pers. 2005.
Said, Usman. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. 1985.
Usman, M. Basyirudin. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat Pers. 2002.
Zuhairini, Abdul Ghofir, dan Slamet. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Biro Ilmiah Fakultas Sunan Ampel Malang. 1983.
[1] Armai Arief. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers Hlm.195.
[2] Ahmad Mujin Nasih, dan Lilik Nur Kholidah. 2013. Metode dan Teknik Pembelajaran Agama Islam. Bndung: PT Refika Aditama. Hlm. 73-77.
[3]Zuhairini, Abdul Ghofir, dan Slamet. 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Biro Ilmiah Fakultas Sunan Ampel Malang. Hlm.99.
[5]Ahmad Mujin Nasih, dan Lilik Nur Kholidah. Op Cit. Hlm. 74-75.
[6]Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hlm. 19.
[7]Usman Said. 1985. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan
Kelembagaan Agama Islam. Hlm. 239-240.
[8] Ahmad Mujin Nasih, dan Lilik Nur Kholidah. Op Cit. Hlm. 73-77.
[9]Armai Arief. Op Cit. Hlm. 198.
[10] Zuhairini, Abdul Ghofir, dan Slamet. Op Cit. Hlm. 99.
[11]M. Basyirudin Usman. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat Pers. Hlm. 49.
[12]Ahmad Sabri. 2005. Strategi Belajar Mengajar Dan Micro Teaching. Jakarta: Ciputat Pers. Hlm. 16-17.
[13]Armai Arief. Op Cit. Hlm.197-198.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar