BAB II
PEMBAHASAN
A. Ontologi Pendidikan Islam
Ontologi berasal dari kata Yunani on (ada), ontos berarti keberadaan. Sedangkan logos berarti pemikiran. Jadi ontologi adalah pemikiran mengenai yang ada dan keberadaannya. Bidang ontologi membatasi diri pada objek apa yang dikaji oleh ilmu pengetahuan. Ontologi membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang dapat dipikirkan manusia seara rasional dan dapat diamati melalui panca indera manusia.[1]
Secara umum, ontologi yaitu suatu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan ke arah mana proses kejadiannya.[2] Adapun pengertian lain mengenai ontologi yaitu asas menetapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahan (objek formal pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek formal tersebut.[3]
Bertolak dari istilah dan fungsi pendidikan dalam perspektif Islam, maka objek formal ilmu pendidikan Islam yaitu upaya normatif (sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam fenomena qauliyah dan kauniyah) membantu proses perkembangan peserta didik (sebagai manusia) dan satuan sosial ke tingkat yang lebih baik. Proses pengembangan itu menyangkut dimensi-dimensi:
1. Pengetahuan (teoretis, praktis dan fungsional),
2. Kreativitas,
3. Berbagai potensi dan fitrah,
4. Akhlak dan kepribadian,
5. Sumber daya yang produktif,
6. Peradaban yang berkualitas, dan
7. Nilai-nilai Ilahi dan nilai-nilai insani.[4]
Secara mikro, telaah ilmu pendidikan Islam menyangkut keterkaitan berbagai faktor, unsur, komponen dalam pendidikan Islam. Sedangkan secara makro, objek formal pendidikan Islam ialah upaya normatif merancang dan mengembangkan kemampuan keseluruhan manusia agar tercapai tingkat kehidupan yang normatif lebih baik. Telaah pendidikan Islam secara makro menyangkut keterkaitan pendidikan Islam dengan sistem sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama baik yang bersifat nasional maupun transnasional.
Objek kajian ilmu pendidikan Islam memiliki karakteristik tersendiri, yang berasumsi bahwa sumber ilmu pengetahuan yaitu Allah SWT., yang disampaikan melalui pengalaman batin Nabi Muhammad SAW yang mewujud dalam bentuk fenomena qauliyah (Al-Quran dan As-Sunnah), serta disampaikan melalui penciptaan yang mewujud dalam bentuk fenomena kauniyah (alam semesta dan manusia).
Dari kedua fenomena tersebut dapat digali dan dikaji konsep-konsep pendidikan yang bersifat universal, sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran filosofis dan asas-asas pendidikan Islam, yang kemudian dimasukkan ke dalam kegiatan eksperimen tau melalui penelitian ilmiah, yang pada gilirannya melahirkan teori-teori atau ilmu pendidikan Islam, dan diuraikan secara operasional untuk dikembangkan menjadi metode, manual atau teknik-teknik pendidikan Islam.
Wilayah kajian pendidikan Islam bermuara pada tiga masalah pokok yaitu:
1. Foundational problems, yang terdiri atas religious foundation and philosophic foundational peroblems serta fondasi yuridis/ hukum dan empiric/ scientific foundational problems yang menyangkut dimensi-dimensi fondasi historis, sosiologis, psikologis, biologis, antropologis, ekonomi dan politik.
2. Structural problems, dari struktur perkembangan jiwa manusia dikategorikan ke dalam masa kanak-kanak, remaja, dewasa dan manula. Dari struktur atau jenjang pendidikan bisa dikategorikan ke dalam pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, menengah, pendidikan tinggi dan seterusnya.
3. Operational problems, menyangkut keterkaitan berbagai faktor/ unsur/ komponen dalam pendidikan Islam, misalnya hubungan interaktif lima faktor pendidikan yaitu tujuan pendidikan, pendidik dan tenaga kependidikan, peserta didik, alat-alat pendidikan Islam dan lingkungan pendidikan.[5]
Kajian tentang manusia dalam konteks lingkungan di mana pendidikan Islam itu diselenggarakan mencakup:
1. Pendidikan (Islam) dan keluarga,
2. Pendidikan (Islam) di sekolah atau madrasah atau pada pendidikan keagamaan formal seperti pondok pesantren dan madrasah diniyah,
3. Pendidikan (Islam) di masyarakat,
4. Pendidikan (Islam) di masjid atau mushala,
5. Pendidikan Islam di media masa.[6]
Kajian pendidikan Islam dapat dikembangkan ke dalam tema-tema kajian sebagai berikut:
1. Wilayah fondasi filosofis atau pemikiran, menyangkut bidang pemikiran konseptual yang dibangun dari nash-nash Al-Quran dan Hadis. Wilayah ini dapat dikembangkan ke wilayah tertentu, misalnya filsafat pendidikan Islam Indonesia suatu kajian tipologis, model-model pengembangan filsafat pendidikan Islam di Indonesia dan sebagainya.
2. Wilayah pondasi yuridis/hukum, menyangkut kebijakan pendidikan Islam dapat dikembangkan ke dalam tema-tema kajian seperti studi kebijakan pengembangan pengembangan agama Islam di sekolah, analisis kritis tentang kebijakan SKL PAI, dan sebagainya.
3. Wilayah fondasi ilmiah atau empiris pendidikan Islam yang meliputi psikologis, sosiologis, ekonomi, antropologis, politik dan historis. Kajian dalam wilayah ini dapat dikembangkan menjadi tema tema seperti pendidikan anak dalam keluarga muslim sebagai tinjauan psikologis, dinamika pendidikan pondok pesantren suatu tinjauan historis sosiologis, dan sebagainya.
4. Wilayah program dan praktik penyelenggaraan pendidikan Islam, meliputi pondok pesantren atau madrasah diniyah, madrasah dan pendidikan lanjutannya, pendidikan umum yang bernafaskan Islam, pelajaran agama Islam di sekolah, dan pendidikan Islam di dalam keluarga, tempat-tempat ibadah atau kajian yang sekarang sedang digalakan oleh masyarakat.
Melalui kajian atau penelitian semacam itu, akan ditemukan berbagai teori pendidikan Islam yang terkait dengan dimensi-dimensi foundational problems, structural problems, dan operational problems atau gabungan dari beberapa dimensi tersebut.
B. Epistemologi Pendidikan Islam
Epistimologi berasal dari kata Yunani episteme yang berarti “pengetahuan”, “pengetahuan yang benar”, “pengetahuan ilmiah”, dan logos berarti Teori. Epistimologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode, dan sahnya (validitas) pengetahuan. Epistimologi merupakan suatu bidang filsafat nilai yang memprsoalkan tentang hakikat kebenaran.[7]
Epistemologi yaitu pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia diperoleh, apakah dari akal pikiran atau dari pengalaman panca indera atau dari ide-ide atau dari Tuhan. Selain itu, epistemologi merupakan pemikiran tentang validitas pengetahuan manusia, artinya sampai dimana kebenaran pengetahuan tersebut.[8]
Cara memperoleh materi pengetahuan sangat bergantung pada karakteristik materinya itu sendiri. Apakah berupa pengalaman manusia yang empiris, rasional atau hermeneutis. Adapun cara pengembangan ilmu pendidikan Islam bisa menggunakan metode penelitian ilmiah, metode penelitian filosofis dan juga bisa menggunakan metode penelitian mistik (sufistik). Hal ini tergantung pada apa yang diteliti.
Ibnu Sina berpendapat bahwa epistimologi punya dua cara: inderawi dan deduktif, disamping emanasi dan pancaran. Sebab, melalui jalur inderawi kita menumpukkan gambaran-gambaran konsepsional dari alam eksternal, karena barang siapa kehilangan indera berarti kehilangan pengetahuan.[9]
Cara membangun ilmu pendidikan Islam bisa dilakukan dengan cara:
1. Cara deduksi, yakni dimulai dari teks wahyu atau sabda Rasul, kemudian ditafsirkan, dari sini muncul teori pendidikan Islam pada tingkat filsafat. Teori tersebut dieksperimenkan atau diuji secara empiris, dari sini akan muncul teori pendidikan Islam pada tingkat ilmu. Selanjutnya dijabarkan secara lebih operasional, sehingga langsung dapat dijadikan petunjuk teknis (manual).
2. Cara induksi konsultasi, dialogis, dan atau saling kritik dengan cara seseorang mengambil teori yang sudah ada, kemudian dikonsultasikan, didialogkan atau saling kritik dengan ayat-ayat qauliyah, sehingga ditemukan teori yang didaftarkan ke dalam khazanah ilmu pendidikan Islam.
Melalui upaya tersebut berarti untuk mengembangkan teori pendidikan dalam perspektif Islam terdapat intervensi dan konstruksi dari pemikir itu sendiri (ijtihad), sehingga hasilnya bersifat terbuka terhadap adanya kritik dan perubahan, untuk selanjutnya bisa disempurnakan dan diperbaiki oleh pemikir berikutnya, yang menggaris bawahi terjadinya dinamika pemikiran pendidikan Islam.[10]
C. Aksiologi Pendidikan Islam
Aksiologi tersusun dari kata bahasa Yunani axios dan logos. Axios berarti nilai dan logos artinya teori. Aksiologi adalah “teori tentang nilai”. Nilai merupakan realitas yang abstrak yang berfungsi sebagai daya pendorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam hidup.[11]
Proses mengenal dan mengetahui melalui belajar seseorang tidak bisa terlepas dari masalah aksiologi (nilai-nilai) mengingat semua aspek dari proses kehidupan manusia bagaimana kecilnya, senantiasa bergerak dalam sistem nilai-nilai. Nilai-nilai dalam proses itu mengandung prinsip yang tetap, karena bersifat mengarahkan dan menuntun, bukan nilai yang berubah-ubah yang berkecenderungan menyesuaikan diri dengan keadaan dan kondisi yang berbeda.[12]
Aksiologi yaitu suatu pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan.[13] Adapun pengertian lain mengenai aksiologi yaitu asas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan.[14]
Pengembangan dan penerapan ilmu pendidikan Islam diperlukan etika profetik, yakni etika yang dikembangkan atas dasar nilai-nilai Ilahiah (qauliyah) bagi pengembangan dan penerapan ilmu. Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai Islami yang bersumber dari kitab suci Al-Quran dan Al-Hadis dan sejalan dengan tuntutan kemajuan atau modernisasi kehidupan masyarakat akibat pengaruh kebudayaan yang meningkat, pendidikan Islam memberikan kelenturan perkembangan nilai-nilai dalam ruang lingkup konfigurasinya.[15]
Ada beberapa butir nilai, yang merupakan hasil deduksi dari Al-Quran yang dapat dikembangkan untuk etika profetik pengembangan dan penerapan ilmu pendidikan Islam yaitu:
1. Nilai ibadah, yakni bagi pemangku ilmu pendidikan Islam, pengembangan dan penerapannya merupakan ibadah (QS. Al-Zariyat ayat 56, Ali Imran ayat 190-191).
2. Nilai ihsan, yakni ilmu pendidikan Islam hendaknya dikembangkan untuk berbuat baik kepada semua pihak pada setiap generasi, disebabkan karena Allah Swt., telah berbuat baik kepada manusia dengan aneka nikmat-Nya dan dilarang berbuat kerusakan dalam bentuk apapun (QS. Al-Qashash ayat 18).
3. Nilai masa depan, yakni ilmu pendidikan Islam hendaknya ditujukan untuk mengantisipasi masa depan yang lebih baik, karena mendidik berarti menyiapkan generasi yang akan hidup dan menghadapi tantangan-tantangan masa depan yang jauh berbeda dengan periode sebelumnya (QS. Al-Hayr ayat 18).
4. Nilai kerahmatan, yakni ilmu pendidikan Islam hendaknya ditujukan untuk kepentingan dan kemaslahatan seluruh umat manusia dan alam semesta (QS. Al-Anbiya ayat 107).
5. Nilai amanah yakni ilmu pendidikan Islam adalah amanah Allah Swt., bagi pemangkunya. Sehingga pengembangan dan penerapannya dilakukan dengan niat, cara, dan tujuan sebagaimana dikehendaki-Nya (Al-Ahzab ayat 72).
6. Nilai dakwah yakni pengembangan dan penerapan ilmu pendidikan Islam merupakan wujud dialog dakwah menyampaikan kebenaran Islam (QS. Fushshilat ayat 33).
7. Nilai tabsyir, yakni pemangku ilmu pendidikan Islam senantiasa memberikan harapan baik kepada umat manusia tentang masa depan mereka, termasuk menjaga keseimbangan atau kelestarian alam (QS. Al-Baqarah ayat 119).[16]
BAB III
KESIMPULAN
A. Ontologi
Ontologi berasal dari kata Yunani on (ada), ontos berarti keberadaan. Sedangkan logos berarti pemikiran. Secara umum, ontologi yaitu suatu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan ke arah mana proses kejadiannya.
Adapun proses pengembangan filsafat pendidikan Islam menyangkut beberapa dimensi:
1. Pengetahuan (teoretis, praktis dan fungsional);
2. Kreativitas;
3. Berbagai potensi dan fitrah;
4. Akhlak dan kepribadian;
5. Sumber daya yang produktif;
6. Peradaban yang berkualitas dan
7. Nilai-nilai Ilahi dan nilai-nilai insani.
Adapun wilayah kajian pendidikan Islam bermuara pada tiga masalah pokok yaitu:
1. Foundational problems;
2. Structural problems;
3. Operational problems.
B. Epistimologi
Epistimologi berasal dari kata Yunani episteme yang berarti “pengetahuan”, “pengetahuan yang benar”, “pengetahuan ilmiah”, dan logos berarti teori. Epistemologi yaitu pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia diperoleh, apakah dari akal pikiran atau dari pengalaman panca indera atau dari ide-ide atau dari Tuhan.
Ibnu Sina berpendapat bahwa epistimologi punya dua cara: inderawi dan deduktif.
C. Aksiologi
Aksiologi tersusun dari kata bahasa Yunani axios dan logos. Axios berarti nilai dan logos artinya teori. Aksiologi adalah “teori tentang nilai”. Nilai merupakan realitas yang abstrak yang berfungsi sebagai daya pendorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam hidup. Aksiologi yaitu suatu pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan.
Ada beberapa butir nilai, yang merupakan hasil deduksi dari Al-Quran yang dapat dikembangkan untuk etika profetik pengembangan dan penerapan ilmu pendidikan Islam yaitu:
1. Nilai ibadah;
2. Nilai ihsan;
3. Nilai masa depan;
4. Nilai kerahmatan;
5. Nilai amanah;
6. Nilai dakwah;
7. Nilai Tabsyir.
DAFTAR PUSTAKA
Ihsan, Hamdani. 1998. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Jalaludin. 2013. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Madkour, Ibrahim. 2004. Aliran dan Teori Filsafat Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Mahmud. 2011. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Muhaimin. 2011. Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
Nizar, Syamsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers.
Rachman, Abd. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
Tilaar. 2010. Antologi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Nuansa Aksara.
[1] Jalaludin,2013,filsafat pengetahuan, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada hal: 157
[2] Arifin, Filsafat Pendidikan Islam Cet. Ke-6, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hlm. 6.
[3] Muhaimin, Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), hlm. 43.
[4] Ibid., hlm. 43.
[5] Ibid., hlm. 44-45.
[6] Ibid., hlm. 47.
[7] Jalaludin,2013,filsafat pengetahuan, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada hal: 157
[8] Arifin, Op, Cit., hlm. 6.
[9] Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Jakarta: Bumi Aksara, hlm. 281.
[10] Muhaimin, Op, Cit., hlm. 61-63.
[11] Jalaludin, Op, Cit., hln. 162.
[12] Arifin, Op, Cit., hlm. 82.
[13] Ibid., hlm. 6.
[14] Muhaimin, Op, Cit., hlm. 43.
[15] Arifin, Op, Cit., hlm. 121.
[16] Muhaimin, Op, Cit., hlm. 64.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar