Al-Qarashi, Baqir Sharif. 2003. Seni Mendidik Islami. Jakarta: Pustaka Zahra.
Filsafat Pendidikan
BAB 1
PENGERTIAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN
Pendidikan adalah suatu dan satu-satunya sarana pencapaian kematangan, serta mengangkat level-level sosial dan individu. Karena itu, ia merupakan kebutuhan hidup yang mengikat serta bagian signifikan dalam entitas-entitas masyarakat dan individu.
Pendidikan dalam pengertian umum, mengindahkan keseluruhan Seni Mendidik Islami: Kiat-kiat Menciptakan Generasi Unggul. Aspek fisik, intelektual dan etika kepribadian. Pengajaran artinya proses transfer pengetahuan pada individu-individu. Proses ini merupakan salah satu sarana pendidikan. keberhasilan pendidikan diukur berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.
Filsafat dan pendidikan memiliki suatu hubungan yang kuat. Fitchte menegaskan hubungan ini dalam esai yang ia tulis untuk Pemerintahan Jerman. Ia berkata tanpa kebaikan dari filsafat, pendidikan tidak akan dapat mencapai sebuah kecerahan yang sempurna. Ada saling keterhubungan diantara keduanya, yang masing-masing akan menjadi tidak sempurana serta tidak efektif tanpa yang lainnya. John Dewy melebihi point ini. Ia berkata, “Filsafat kelasik tidak ada dapat tekanan berbagai pertanyaan pendidikan tentang intelektualitas-intelektualitas. Kaum naturalis yang terkemuka merupakan sebuah bab tunggal dalam sejarah ilmu pengetahuan. Urusan-urusan pendidikan mengharuskan para filsuf sesat dan lawan-lawan mereka untuk berfilsafat. Ucapan menyangkut pendidikan mereka mendorong mereka memunculkan teori-teori filsafat.”
Tujuan-tujuan pendidikan diantaranya sebagai berikut:
1. Tujuan-tujuan sepiritual
Al-Ghazali berkata, “Wahai para pemuda ! Telah banyak malam-malam yang engkau lalui dengan pencarian pengetahuan serta penelusuran buku-buku, dan engkau pantang dari tidur. Aku tidak tau niatmu. Jika itu untuk mendapatkan urusan dunia ini, mengumpulkan rongsokannya, memegang posisinya, serta berlagak di depan orang lain, maka celakalah engkau ! namun apabila niatmu adalah untuk memakmurkan sunnah-sunnah Nabi, memperbaiki akhlakmu, serta menghinakan jiwa yang cenderung buruk, maka banyak balasan membahagiakan maka akan menjadi milikmu”.
2. Tujuan-tujuan materi
Beberapa ahli pendidikan Inggris telah menanamkan tujuan ini sebagai “tujuan rot dan mentega” (bread and butter goal). Pendapat ini bagaimanapun memiliki sebuah nilai. Manusia, karena cenderung untuk hidup selama-lamanya, perlu mendapatkan penghasilan serta mencari sara-sarananya, yang sungguh merupakan hal paling wajib demi kelangsungan individu-individu dan para tanggungan-tanggungannya. Telah berkata, “Pembelajaran suatu profesi ialah amannya dari kemiskinan.” Pendapat ini secara khusus tertarik pada aspek materil-materil.
3. Tujuan-tujuan sosial
Kondrsie berkata bahwa, tujuan sosial pendidikan ialah pengelolaan pembelajaran dalam sebuah cara yang menghasilkan perkembangan industrial guana mencapai kepuasan orang-orang serta memungkinkan mereka untuk menjalankan berbagai tugas sosial yang diperlukan.
4. Perkembangan individu
Plato berpandangan bahwa salah satu tujuan pendidikan semestinya membebaskan individu-individu bodoh dari ikatan ketidaksadara, serta membawa mereka dari dunia suram ke dunia yang cerah serta merdeka. Watak-watak kejiwaan yang tertinggi harusnya diangkat ketingkat-tingkat pelaksanaan berbagai perbuatan baik di dunia ini.
5. Tujuan-tujuan lainnya.
Para filsuf pendidikan menyebutkan tujuan-tujuan yang lain yang mencapai perkembangan individu dan menonjolkan diri. Yaitu kesejahteraan, tugas-tugas sosial serta emosi, dan pengenalan alam.
BAB II
PERENCANAAN KULTURAL DALAM PROSES PENDIDIKAN MODERN
Sistem pengejaran di Negara-negara Barat bergantung pada perkembangan, kristalisasi, dan ekspansi ilmu pengetahuan materil. Orang saling bersaing di medan ilmu dan pengetahuan sebab kedua bidang ini merupakan kebutuhan hidup. Merekapun percaya bahwa proses pencerahan dan pertumbuhan diperoleh melalui penyebaran ilmu semata. Seni Mendidik Islami: Kiat-kiat menciptakan Generasi Unggul.
Perhatian utama pendukung komunisme ialah menanamkan ateisme (paham yang tidak mengakui adanya Tuhan-Penny) dan keabadian kosmos di mentalitas para pelajar, serta mengajari mereka bahwa tidak ada wujud abadi yang menciptakan jagad raya. Mereka juga mengajarkan bahwa materi bukan negative atau statis yang menerima gerakan dari jiwa, akan tetapi mereka adalah wujud-wujud energik yang memiliki pengaturan diri sendiri serta kemerdekaan dari jiwa. Lebih jauh, mereka mengajarkan bahwa materi berlalu melalui perkembangan sejarah yang tiada henti, dan jagat raya adalah tidak berbatas dengan tiadanya pencipta atau pemberi kehidupan.
Lenin berkata, “Hipotesis Heraclitus, filsuf kuno yang beranggapan bahwa dunia adalah satu dan tidak diciptakan oleh satu Tuhan atau seorang manusia, dan akan tetap tiada henti sebagaimana bunga api hidup yang menyala dan mati berdasarkan hukum-hukum tertentu, adalah uraian fantasis tentang prinsip kecendrungan dialektika ateis.
Menolak hipotesis Hegel akan eksistensi (keberadaan) sebelum bumi, Engeis berkata, “Hipotesis tentang eksistensi sebelum bumi hanyalah sia-sia khayalan yang menyakini penciptaan bumi ini. Satu-satunya realitas yang sebenarnya ialah dunia materi yang dapat kita sadari dan miliki.
Ilmu pengetahuan kajian-kajian filsafat kuno dan modern telah menggugurkan hipotesis ateis. Telah terbukti bahwa setiap kemungkinan membutuhkan sebuah penyebab yang ada untuk membentuk dan mengada. Penyebab ini membuat dan mengubah yang mungkin dari ketiadaan menjadi ada. Mustahil sebuah sebab ada tanpa perbuatan mengadakan. Demikian pula, tidak ada nalar dapat menjadi nalar tanpa penalaran. Penyebab yang ada tidak terlelakan, harus memiliki kemampuan aktif serta kehendak yang gigih akan mengadakan dan mengomposisian, jika tidak, mustahil bentukkan dan penciptaan mengada, sebab yang lemah tidak dapat mengaruniakan tujuan yang lama dicarinya. Segala sesuatu yang dijagad raya ini adalah saksi keberadaan, kemampuan, dan kekuasaan Tuhan. Ketika kita menganalisis dan mempelajari phenomena apapun dari jagad raya, sekalipun dengan cara deduksi, kita dapat melakukan apa-apa yang lebih dari mencermati jejak-jejak dan kebesaran Tuhan. Kita dapat melihat kekuatan-kekuatan Tuhan. Kita dapat melihat kekuasaan Tuhan di dalam jiwa kita, juga pada setiap partikel tunggal di eksetensi ini.”
Para pakar pendidikan muslim sangat memperdulikan para murid. Mereka merancang metode berharga yang ditunjukkan untuk mendisiplinkan para murid serta mereka memperoleh adab yang pertama dan akhlak mulia.
BAB III
PERTANYAAN DAN JAWABAN
a. Pertanyaan
1. Apa yang dimaksud dengan Filsafat pendidikan ?
2. Apa yang dimaksud dengan metode induksi dan metode deduksi ? Berikan contohnya !
3. Apa saja asumsi filsafat pendidikan, tolong jelaskan ?
b. Jawaban
1. Filsafat berasal dari bahasa Arab falsafah yang berkaitan dengan kata sofiah yang berarti bijaksana dan kata Sufi sebagai sebutan bagi orang yang ahli berfilsafat.
Pendidikan adalah hasil peradaban suatu bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu yang diwariskan turun temurun kepada generasi berikutnya, supanya generasi berikutnya dapat bertumbuh fisik maupun rohani dan menjadikan anak didik selaras dengan kehidupan dunia.
Jadi filsafat pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normatif dalam bidang pendidikan merumuskan kaidah-kaidah norma-norma atau ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia dalam hidup kehidupannya.
2. Metode induksi adalah suatu cara penganalisaan ilmiah yang bergerak dari hal-hal yang bersifat khusus (individu) menuju kepada hal yang bersifat umum (universal).
Metode deduksi adalah bergerak dari hal-hal yang bersifat umum (universal) kemudian atas dasar itu ditetapkan hal-hal yang bersifat khusus.
Contohnya : 1) Aluminium apabila dipanaskan akan meleleh.
Jadi dapat disimpulkan bahwa benda yang berbahan aluminium apabila dipanaskan pasti akan meleleh.
2) Nabi Ibrahim ketika mencari Tuhan yang sebenarnya,
nabi berfikir apakah yang dilangit yang terang (matahari) adalah Tuhannya yang selalu memantaunya, akan tetapi kenapa kalau ketika menjelang sore Tuhan malah menghilang?
Nah disitu Nabi Ibrahim berfikir masa Tuhan tiba-tiba menghilang dan muncul apabila ketika menjelng sore, disini bahwasanya Matahari dapat disimpulkan bukan Tuhannya. Akan tetapi mereka ada yang mengatur dan menggerakannya.
Nabi berfikir kembali apakah bulan yang terang itu adalah Tuhanku yang selalu mengawasiku setiap hari ? tapi pas menjelang pagi bulan menghilang. Nabi berfikir kembali apa itu Tuhanku, akan tetapi kenapa munculnya setiap malam.
Disini Nabi berfikir bahwa yang ada diseluruh alam ini ada yang mengatur dan jelas bukan bahwa Tuhan itu adalah Allah Swt. Yang mengatur semuanya.
3. Asumsi filsafat pendidikan ada beberapa diantaranya sebagai berikut :
a. Spekulatif yaitu memahami dan merumuskan.
b. Normatif yaitu penentu arah dan pedoman.
c. Kritik yaitu pertimbangan dan penafsiran.
d. Intergratif yaitu roh/ azaz, pendidikan.
e. Teori bagi praktek yaitu konsep, analisa, dan kesimpulan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar