Kamis, 28 Mei 2020

MODEL-MODEL DESAIN PEMBELAJARAN


BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Model- model desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, Misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembengan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu,desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas.
Desain pembelajaran merupakan proses keseluruhan tentang kebutuhan dan tujuan belajar serta system penyampaiannya. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan bahan dan kegiatan pembelajaran, uji coba dan penilaian bahan, serta pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Model desain pembelajaran pada dasarnya merupakan pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan terhadap komponen-komponen pembelajaran.

B.     Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Apa pengertian model-model desain pembelajaran ?
2.      Apa saja unsur desain pembelajaran ?
3.      Sebutkan model-model desain pembelajaran ?

C.    Tujuan Penulis
Adapun tujuan pembahasan yang dapat di klasifikasikan dari latar belakang di atas adalah:
1.      Untuk mengetahui model-model desain pembelajaran.
2.      Untuk mengetahui unsur desain pembelajaran.
3.      Untuk mengetahui macam-macam model-model desain pembelajaran.



BAB II
TINJAUAN TEORITIS

           Sebuah model merupakan gambaran mental yang membantu kita untuk menjelaskan sesuatu dengan lebih jelas terhadap sesuatu yang tidak dapat dilihat atau tidak dialami secara langsung (Dorin, Demmin, dan Gabel, 1990) Model dapat berupa skema, bagan, gambar, dan tabel. Model menjelaskan keterkaitan berbagai komponen dalam suatu pola pemikiran yang disajikan secara utuh. Model dapat membantu kita melihat kejelasan keterkaitan secara lebih cepat, utuh, konsisten, dan menyeluruh. Hal ini disebabkan suatu model disusun dalam upaya mengkonkretkan keterkaitan hal-hal abstrak dalam suatu skema, bagan, gambar, atau tabel. Dengan mencermati model kita dapat membaca uraian tentang banyak hal dalam sebuah pola yang mencerminkan alur pikir dan pola tindakan.[1]
    Desain pembelajaran merupakan prinsip-prinsip penerjemahan dari pembelajaran dan instruksi ke dalam rencana-rencana untuk bahan-bahan dan aktivitas-aktivitas instruksional (Smith and Ragan, 1993). Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa disain pembelajaran dapat dianggap sebagai suatu sistem yang berisi banyak komponen yang saling berinteraksi. Komponen-komponen tersebut harus dikembangkan dan diimplementasikan untuk kelengkapan suatu instruksional.[2]
  Herbert Simon (Dick dan Ceray,2006), Mengartikan desain sebagai proses pemecahan masalah. Tujuan sebuah desain adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia. Dengan demikian, suatu desain muncul karana kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan. Melalui suatu desain orang biasa melakukan langkah-langkah yang sistematis untuk memcahkan suatu persoalan yang dihadapi. Dengan demikian suatu desain pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat lineal yang diawali dengan penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rencana untuk merespon kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diujicobakan dan akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil tentang efektivitas rancangan (desain) yang disusun.
                  Menurut Jerrold E. Kemp (1985: 4) pada waktu itu para psikolog memperkenalkan teori baru tentang proses pembelajaran manusia, termasuk pentingnya merinci tugas yang akan dipelajari dan dilaksanakan, dan kebutuhan siswa untuk berperan aktif agar mereka benar-benar belajar. Pada waktu yang sama, ahli media audi visual menggunakan asas belajar yang diketahui dalam merancang film dan media pengajaran lainnya. Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para  ahli. Secara umum, model desain pembelajaran dapat diklasifikasikan kedalam model berorientasi kelas, model berorientasi sistem, model berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar.
Menurut Knowles, Pembelajaran adalah cara pengorganisasian peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.Menurut SlavinPembelajaran didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku individu yang disebabkan oleh pengalaman. Menurut Woolfolk, Pembelajaran berlaku apabila sesuatu pengalaman secara relatifnya menghasilkan perubahan kekal dalam pengetahuan dan tingkah laku. Menurut Crow & Crow, Pembelajaran adalah pemerolehan tabiat, pengetahuan dan sikap. Model Dick and Carrey,Salah satu model desain pembelajaran adalah model Dick and Carey (1985). Model ini termasuk kedalam model prosedural.
Model Pengembangan Desain Sistem Instruksional (PPSI), merupakan singkatan dari prosedur pengembangan sistem intruksional. Istilah sistem instruksional mengandung pengertian bahwa PPSI menggunakan pendekatan sistem dimana pembelajaran adalah suatu kesatuan yang terorganisasi , yang terdiri dari seperangkat komponen yang salaing berhubungan dan bekerjasama satu sama lain secara fungsional dan terpadu dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan .
Dengan demikian PPSI adalah suatu langkah – langkah pengembangan dan pelaksanaan pembelajaran sebagai suatu sistem dalam rangka untuk mencapai tujuan yang diharapkan secara efeksif dan efisien (Harjanto,2008 : 5).
Model Gerlach dan Ely, Model pengembangan desain intruksional yang dikembangan oleh Gerlach dan Ely (1971) ini dimaksudkan untuk pedoman perencanaan mengajar.
Model pembelajaran Gerlach dan Ely merupakan suatu metode perencanaan pengajaran yang sistematis. Model ini menjadi suatu garis pedoman atau suatu peta perjalanan pembelajaran karena dalam model ini diperlihatkan keseluruhan proses belajar mengajar yang baik, sekalipun tidak menggambarkan secara rinci setiap komponennya. Dalam model ini juga diperlihatkan hubungan antara elemen yang satu dengan yang lainnya serta menyajikan suatu pola urutan yang dapat dikembangkan dalam suatu rencana untuk mengajar.Model yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely (1971) dimaksudkan sebagai pedoman perencanaan mengajar.[3]
Model desain pembelajaran yang dikemukakan kemp dkk (2001) dalam Pribadi (2011:117) berbentuk lingkaran atau cyle. Menurut mereka model berbentuk lingkaran menunjukkan adanya proses kontinyu dalam menerapkan desain pembelajaran.Menurut Gustafson dan Brach (2002) dalam Pribadi (2011:118) model desain ini merupakan sebuah model yang berfokus pada perencanaan kurikulum.sehingga memprioritaskan langkah dan perspektif siswa yang akan belajar.[4]







BAB III
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Model-model Desain Pembelajaran
Model adalah bentuk yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Model suatu gambaran untuk mempermudah guru menyampaikan pelajaran di depan kelas. Desain pembelajaran adalah tata cara yang dipakai untuk melaksanakan proses pembelajaran. Konsep desain pembelajaran pertama kali dimanfaatkan pada perang dunia II dan sesudahnya.[5]
Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, Misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dansebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembengan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu,desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar. Desain pembelajaran sebagai proses. Merupakan pengembangan sistematis tentang spesifikasi pembelajaran dengan menggunakan teori pembelajaran dan teori belajar untuk menjamin mutu pembelajaran. Desain pembelajaran merupakan proses keseluruhan tentang kebutuhan dan tujuan belajar serta system penyampaiannya. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan bahan dan kegiatan pembelajaran, uji coba dan penilaian bahan, serta pelaksanaan kegiatan pembelajarannya.

B.     Unsur Desain Pembelajaran
Unsur desain pembelajaran meliputi sepuluh, yaitu :
  1. Kajian kebutuhan belajar beserta tujuan pencapaiannya, kendala, dan prioritas yang harus diketahui.
  2. Pemilihan pokok bahasan atau tugas untuk dilaksanakan berdasarkan tujuan umum yang akan dicapai.
  3. Mengenali ciri siswa.
  4. Menentukan isi pelajaran dan unsur tugas berdasarkan tujuan.
  5. Menentukan tujuan belajar yang akan dicapai beserta tugas.
  6. Desain kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan (pengembangan silabus).
  7. Memlihkan media yang akan dipergunakan.
  8. Memilihkan pelayanan penunjang yang diperlukan.
  9. Memilihkan evaluasi hasil belajar siswa.
  10. Memilih uji awal kepada siswa.[6]
C.     Model-model Desain Pembelajaran
Model pengembangan PPSI biasa digunakan sebagai pola pengembangan pengajaran dalam rangka kurikulum untuk SD, SMP dan SMA, dan kurikulum untuk sekolah – sekolah kejuruan. PPSI sebagaimana pola pengembangan pengajaran lainnya yang menggunakan pendekatan sistem, yakni mengutamakan adanya tujuan yang jelas sehingga dapat dikatakan bahwa PPSI menggunakan pendekatan yang berorientasi pada tujuan. Istilah “sistem instruksional” dalam PPSI menunjukkan pada pengertian sebagai suatu kesatuan pengajaran yang terorganisasi yang terdiri atas sejumlah komponen antara lain : materi, metode, alat, evaluasi yang kesemuanya berinteraksi satu sama lainnya untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. PPSI merupakan langkah – langkah pengembangan dan pelaksanaan pengajaran sebagai suatu sistem untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif.[7]


Munculnya model PPSI dilatarbelakangi oleh beberapa hal berikut.[8]
  1. Pemberlakuan kurikulum 1975, metode penyampaian adalah “Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI)” untuk Pengembangan Satuan Pembelajaran (RPP).
  2. Pengembangan pradigma “pendidikan sebagai suatu system”, maka pembelajaran menggunakan pendekatan sistem (PPSI).
  3. Pendidik/guru masih menggunakan pradigma “ Transfer of Knowledge” belum pada pembelajaran yang professional.
  4. Tuntutan kurikulum 1975 yang berorientasi pada tujuan, relevansi, efesien, efektivitas, dan kontinuitas.
  5. Sistem semester pada kurikulum 1975 menuntut perencanaan pengajaran sampai satuan materi terkecil.
Konsep dari PPSI ini adalah bahwa sistem instruksional yang menggunakan pendekatan system, yaitu satu kesatuan yang terorganisasi, yang terdidri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan fungsi PPSI adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematik dan sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan  proses belajar-mengajar. 
Ada lima langkah-langkah pokok dari pengembangan model PPSI ini yaitu :
  1. Merumuskan tujuan pembelajaran (menggunakan istilah yang operasional, berbentuk hasil belajar, berbentuk tingkah laku dan hanya ada satu kemampuan/ tujuan).
  2. Pengembangan alat evaluasi (menentukan jenis tes yang akan  digunakan, menyusun item soal untuk setiap tujuan).
  3. Menentukan kegiatan belajar mengajar, (merumuskan semua kemungkinan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan, menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh).
  4. Merencanakan program kegiatan belajar mengajar, (merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode yang digunakan, memilih alat dan sumber yang digunakan dan menyusun program kegiatan/ jadwal).
  5. Pelaksanaan, (mengadakan pretest, menyampaikan meteri pelajaran, mengadakan posttest dan revisi).
Model Glasser model desain pembelajaran pada dasarnya merupakan pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan terhadap komponen-komponen pembelajaran. Adapun model pembelajaran yang akan dipaparkan adalah model Glasser. Model Glasser adalah model yang paling sederhana.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengembangkan desain pembelajaran Model Glasser adalah sebagai berikut :
  1. Instructional Goals (Sistem Objektif)
Pembelajaran dilakukan dengan cara langsung melihat atau menggunakan objek sesuai dengan materi pelajaran dan tujuan pembelajaran. Jadi, seorang siswa diharapkan langsung bersentuhan dengan objek pelajaran. Dalam hal ini siswa lebih ditekankan pada praktik.
  1. Entering Behavior (Sistem Input).
Pelajaran yang diberikan pada siswa dapat diperlihatkan dalam bentuk tingkah laku, misalnya siswa terjun langsung ke lapangan.
  1. Instructional Procedures (Sistem Operator).
Membuat prosedur pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa, sehingga pembelajaran sesuai dengan prosedurnya.
  1. Performance Assessment (Output Monitor).
Pembelajaran diharapkan dapat mengubah penampilan atau perilaku siswa yang menetap. Model Glasser adalah model yang paling sederhana. Ia menggambarkan suatu desain atau pengembangan pembelajaran kedalam empat komponen.[9]
Model Gerlach dan Ely ada beberapa model pembelajaran yang digunakan, salah satunya adalah model pembelajaran Gerlach dan Ely (1971). Gerlach dan Ely mendesain sebuah model pembelajaran yang cocok digunakan untuk segala kalangan termasuk untuk pendidikan tingkat tinggi, karena didalamnya terdapat penentuan setrategi yang cocok digunakan untuk peserta didik dalam menerima materi yang akan disampaikan.
Determination of Strategy
Komponen-komponen Model Pembelajaran Gerlach dan Ely.
Organization of Groups
Gerlach dan Ely
Sepecification of content
Design Model                                                                                                
Specification of objectives
Assesment of Entering Behaviors
Allocation of time
Alocation of Space
Selection of Resources
Evaluation of Performance
Analysis of Feedback


Model pembelajaran Gerlach dan Ely dikembangkan berdasarkan sepuluh unsur yaitu :
  1. Sepesifikasi isi pokok bahasan (specification of content).
  2. Sepesifikasi tujuan pembelajaran (specification of objectives).
  3. Pengumpulan dan penyaringan data tentang siswa (assessment of entering behaviors).
  4. Penentuan cara pendekatan, metode, dan teknik mengajar (determination of strategy).
  5. Pengelompokan siswa (organization of groups).
  6. Penyediaan waktu (allocation of time).
  7. Pengaturan ruangan (allocation of space).
  8. Pemilihan media/ sumber belajar (selection of resources).
  9. Evaluasi (evaluation of performance).
  10. Analisis umpan balik (analysis of feedback). [10]
Model Jerold E. Kemp memberikan bimbingan kepada para siswanya untuk berfikir tentang masalah-masalah umum dan tujuan-tujuan pembelajaran. Model ini juga mengarahkan para pengembang desain instruksional untuk melihat karakteristik para siswa serta menentukan tujuan-tujuan belajar yang tepat. Langkah berikutnya adalah spesifikasi isi pelajaran dan pengembangkan pretes dari tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya adalah menetapkan strategi dan langkah-langkah dalam kegiatan belajar-mengajar serta sumber-sumber belajar yang akan digunakan.
Desain pembelajaran model kemp ini dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan, yakni :
  1. Apa yang harus dipelajari siswa (tujuan pembelajaran).
  2. Apa/ bagaimana prosedur, dan sumber-sumber belajar apa yang tepat untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan (kegiatan, media, dan sumber belajar yang digunakan).
  3. Bagaiman kita tahu bahwa hasil belajar yang diharapkan telah tercapai (evaluasi).
Langkah-langkah pengembangan desain pembelajaran model kemp, terdiri dari delapan langkah, yakni :
  1. Menentukan tujuan instruksional umum (TIU) atau kompetensi dasar, yaitu tujuan umum yang ingin dicapai dalam mengajarkan masing-masing pokok bahasan.
  2. Membuat analisis tentang karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain untuk mengetahui apakah latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program, serta langkah-langkah apa yang perlu diambil.
  3. Menentukan tujuan instruksional secara spesifik, operasional, dan terukur (dalam KTSP adalah indikator). Dengan demikian, siswa akan tahu apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, dan apa ukurannya bahwa ia telah berhasil. Bagi guru, rumusan itu akan berguna dalam menyusun tes kemampuan/ keberhasilan dan pemilihan materi/ bahan belajar yang sesuai.
  4. Menentukan materi/ bahan ajar yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus (indikator) yang telah dirumuskan. Masalah yang sering kali dihadapi guru-guru adalah begitu banyaknya materi pelajaran yang harus diajarkan dengan waktu yang terbatas.
  5. Menetapkan penjajagan atau tes awal (preassessment). Ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awal siswa dalam memenuhi persyarat belajar yang dituntut untuk mengikuti program pembelajaran yang akan dilaksanakan.
  6. Menentukan strategi belajar mengajar, media dan sumber belajar. Kriteria umum untuk pemilihan stategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus (indikator) tersebut, adalah efisiensi, keefektifan, ekonomis, kepraktisan, melalui suatu analisis alternatif.
  7.  Mengoordinasikan sarana penunjang yang diperlukan meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu dan tenaga.
  8. Mengadakan evaluasi. Evaluasi ini sangat perlu untuk mengontrol dan mengkaji keberhasilan program secara keseluruhan, yaitu siswa, program pembelajaran, alat evaluasi (tes), dan metode dan metode/ strategi  yang digunakan.
Model pembelajaran Jerold E. Kem (1977), terdiri atas delapan langkah, yaitu :
  1. Menentukan tujuan pembelajaran umum atau standar kompetensi dasar, yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam setiap kegiatan pembelajaran.
  2. Membuat analisis tentang karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain untuk mengetahui apakah latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program, serta langkah-langkah apa yang perlu diambil.
  3. Menentukan tujuan pembelajaran khusus atau indikator, yaitu tujuan yang sepesifik, operasional, dan terukur.
  4. Menentukan materi/bahan pelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
  5. Menentukan penjajagan awal (preassessment) atau pretes, yaitu untuk mengetahui sejauh mana siswa telah memenuhi persyaratan belajar yang dituntut untuk mengetahui program pembelajaran.
  6.   Menentukan strategi belajar-mengajar dan sumber belajar yang sesuai. Kriteria umum untuk pemilihan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus tersebut adalah : (a) Efisiensi, (b) Keefektifan, (c) Ekonomis, (d) Kepraktisan melalui suatu analisis alternatif.
  7. Koordinasi sarana penunjang yang diperlukan, meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan tenaga.
  8. Mengadakan evaluasi, yaitu untuk mengontrol dan mengkaji keberhasilan program secara keseluruhan, yaitu : (a) Siswa, (b) Program pembelajaran, (c) Instrumen evaluasi, dan (d) metode yang digunakan.[11]




BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Model adalah bentuk yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Model suatu gambaran untuk mempermudah guru menyampaikan pelajaran di depan kelas. Desain pembelajaran adalah tata cara yang dipakai untuk melaksanakan proses pembelajaran. Konsep desain pembelajaran pertama kali dimanfaatkan pada perang dunia II dan sesudahnya.
Unsur desain pembelajaran meliputi sepuluh, yaitu :
  1. Kajian kebutuhan belajar beserta tujuan pencapaiannya, kendala, dan prioritas yang harus diketahui.
  2. Pemilihan pokok bahasan atau tugas untuk dilaksanakan berdasarkan tujuan umum yang akan dicapai.
  3. Mengenali ciri siswa.
  4. Menentukan isi pelajaran dan unsur tugas berdasarkan tujuan.
  5. Menentukan tujuan belajar yang akan dicapai beserta tugas.
  6. Desain kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan (pengembangan silabus).
  7. Memlihkan media yang akan dipergunakan.
  8. Memilihkan pelayanan penunjang yang diperlukan.
  9. Memilihkan evaluasi hasil belajar siswa.
  10. Memilih uji awal kepada siswa.
Model-model desain pembelajaran antara lain : Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), model Glasser, model Gerlach dan Ely, model Jerold E. Kem.





DAFTAR PUSTAKA
Aadesti.2013. Proposal Tesis Model Assure. Diunduh pada 17 April 2014. Pkl. 01.29 WIB
Christopambarita.1983. blogspot. Diunduh pada 14 April 2014. Pkl. 22.00 WIB
Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme. Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada.
Usman, Basyiruddin. 2002. Metodelogi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta : Ciputat
Press.
Yamin, Martinis. 2007. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan.
Jakarta : Garung Persada Press.
Zuhairistain. 2009. Pengertian Desain Pembelajaran. Diunduh pada 15 April 2014. Pkl. 10.30 WIBhttp://zuhairistain.blogspot.com/2009/04/pengertian-desain-pembelajaran_16.html
Wijayalabs. 2008. Aplikasi Model Desain Pembelajaran. Diunduh pada 16 April 2014.
Pkl. 00.01 WIB http://wijayalabs.wordpress.com/2008/07/11/aplikasi-model-desain-pembelajaran/




[2]Wijayalabs, Aplikasi Model Desain Pembelajaran, 2008, http://wijayalabs.wordpress.com/2008/07/11/aplikasi-model-desain-pembelajaran/
[5]Zuhairistain, Pengertian Desain Pembelajaran, 2009, http://zuhairistain.blogspot.com/2009/04/pengertian-desain-pembelajaran_16.html.
[6]Martinis Yamin, 2007, DesainPembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta : Gaung Persada
Press, hal. 12.
[7]Basyiruddin Usman, 2002, Metodelogi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta : Ciputat Press, hal. 83-84.
[8]Rusman, 2012, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada, cet. 5, Hlm. 147-148.

[9]Ibid, Rusman, hlm. 152-154.
[10]Ibid, Rusman, hlm. 155-166.
[11]Ibid, Rusman, hlm. 166-185.

Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...