BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga, maupun masyarakat.
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan dipahami secara luas dan universal sebagai usaha sadar yang dilakukan pendidik melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses pemanusiaan ke arah tercapainya pribadi yang dewasa/susila yaitu sosok manusia yang sudah terisi secara penuh bekal ilmu pengetahuan serta memiliki integritas moral yang tinggi sehingga dalam perjalanannya nanti, manusia yang selalu siap baik jasmani maupun rohani.
Lembaga pendidikan atau kelas merupakan tempat untuk melaksanakan dan menguji kurikulum. Di sana semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat, dan kemampuan guru diuji dalam bentuk perbuatan, yang akan mewujudkan bentuk kurikulum yang nyata dan hidup. Perwujudan konsep, prinsip, dan aspek-aspek kurikulum tersebut seluruhnya terletak pada guru.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian pengembangan kurikulum?
2. Apa saja prinsip-prinsip pengembangan kurikulum?
3. Siapa yang berperan dalam pengembang kurikulum?
4. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pengembangan kurikulum?
C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan yang diambil dalam pembahasan ini yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian pengembangan kurikulum,
2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip pengembangan kurikulum,
3. Untuk mengetahui siapa pengembang kurikulum, dan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengembangan Kurikulum PAI
Pengembangan kurikulum adalah sebuah proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan kata lain pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
Prinsip kurikulum dapat juga dikatakan sebagai aturan yang menjiwai pengembangan kurikulum. Prinsip tersebut tentu mempunyai tujuan agar kurikulum yang didesain atau dihasilkan sesuai dengan permintaan semua pihak yakni anak didik, orangtua, masyarakat dan bangsa.
Pada umumnya ahli kurikulum memandang kegiatan pengembangan kurikulum sebagai suatu proses yang kontinu, merupakan suatu siklus yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu komponen tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi.
B. Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum PAI
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa prinsip-prinsip yang mendasar dalam pengembangan kurikulum, yaitu: Prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus.[1]
1. Prinsip-prinsip Umum
Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum yaitu sebagai berkut:
a. Prinsip Relevansi
Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum, yaitu relevan ke luar dan relevansi di dalam kurikulum itu sendiri. Relevansi keluar maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat. Kurikulum menyiapkan siswa untuk bisa hidup dan bekerja dalam masyarakat. Kurikulum bukan hanya menyiapkan anak untuk kehidupannya sekarang tetapi juga yang akan datang.
Kurikulum juga harus memiliki relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian, dan penilaian. Relevansi internal ini menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.[2]
b. Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum hendaknya memilih sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan di tempat lain, bagi anakyang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Suatu kurikulumyang baik adalah kurikulum yang berisi hal-hal solid, tetapi di dalam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu ataupun kemampuan, dan latar belakang anak.[3]
c. Prinsip Kontinuitas
Perkembangan dan proses belajar anak belangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti-henti. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas, dengan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjan lainnya, juga antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan. Pengembangan kurikulum perlu dilakukan serempak, perlu selalu ada komunikasi dan kerja sama antara pengembang kurikulum sekolah dasar dengan SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi.
d. Prinsip Praktis
Prinsip praktis (mudah dilaksanakan), menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prinsip ini juga disebut prinsip efisiensi. Betapun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlian dan peralatan yang sangat khusus dan mahal pula biayanya, maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan. Kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia. Kurikulum bukan hanya harus ideal tetapi juga praktis.
e. Prinsip Evektivitas
Pengembangan kurikulum tidak dapat dilepaskan dan merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan. Perencanaan di bidang pendidikan juga merupakan bagian yang dijabarkan dari kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah di bidang pendidikan. Keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini baik secara kuantitas maupun kualitas.[4]
Kurikulum pada dasarnya berintikan empat aspek utama yaitu; tujuan pendidikan, isi pendidikan, pengalaman belajar, dan penilaian. Integrasi antara keempat aspek tersebut serta antara aspek-aspek tersebut dengan kebijaksanaan pendidikan perlu selalu mendapat perhatian dalam pengembangan kurikulum.
2. Prinsip-prinsip Khusus
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar, dan penilaian.
a. Prinsip tujuan pendidikan
Tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (tujuan khusus).
b. Prinsip Pemilihan isi pendidikan
Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal.
1) Perlu penjabaran tujuan pendidikan/pengajaran ke dalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana. Makin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan semakin sulit menciptakan pengalaman belajar.
2) Isi bahan pelajaran harus meliputi segi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
3) Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis.
c. Prinsip proses belajar mengajar
Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1) Apakah metode/teknik belajar mengajar yang digunakan cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran
2) Aakah metode tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa.
3) Apakah metode tersebut memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat.
4) Apakah metode tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif dan psikomotor.
5) Apakah metode tersebut lebih mengaktifkan siswa atau mengatifkan guru atau kedua-duanya.
d. Prinsip kegiatan penilaian
Penilaian merupakan bagian integral dari pengajaran.
1) Dalam penyusunan alat penilaian (test) hendaknya diikuti langkah-langkah sebagai berikut.
i. Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
2) Dalam merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan beberapa hal:
i. Bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan ditest?
ii. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan test?
iii. Apakah test tersebut berbentuk uraian atau objektif?
iv. Berapa banyak butir test perlu disusun?
v. Apakah test tersebut diadministrasikan oleh guru atau murid?
3) Dalam pengolahan suatu hasil penilaian hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
i. Untuk apakah hasil-hasil test digunakan?
ii. Skor standar apa yang digunakan?
iii. Bagaimana pengubahan skor ke dalam skor masuk?
C. Pengembang Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut barpartisipasi, yaitu: administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli ilmu bidang pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak tersebut yang secara terus-menerus turut terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah:
1. Peranan para administrator pendidikan
Para administrator pendidikan ini terdiri atas: direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor wilayah, kepala kantor kabupaten serta kepala sekolah. Peranan para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam mengembangkan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum.[5]
Administrator tingkat pusat bekerja sama dengan para ahli pendidikan dan ahli bidang studi di Perguruan Tinggi serta meminta persetujuannya terutama dalam penyusunan kurikulum sekolah.Para administrator daerah (kepala kantor wilayah) dan administrator lokal (kabupaten, kecamatan, dan kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya yang secara terus menerus terlibat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru.
2. Peranan para ahli
Pengembangan kurikulum buka saja didasarkan atas perubahan tuntutan kehidupan dalam masyarakat, tetapi juga perlu dilandasi oleh perkembangan konsep-konsep dalam ilmu. Pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran para ahli, baik ahli pendidikan, ahli kurikulum, maupun ahli bidang studi / disiplin ilmu.
Pengembangan kurikulum bukan hanya sekedar memilih dan menyusun bahan pelajaran dan metode mengajar, tetapi menyangkut penentuan arah dan orientasi pendidikan, pemilihan sistem dan model kurikulum, baik model konsep, model desain, model pembelajaran, model media, model pengelolaan, maupun model evaluasinya, serta berbagai perangkat dan pedoman penjabaran serta pedoman implementasi dari model-model tersebut.[6]
3. Peranan guru
Guru memegang peranan yang sangat penting baik di dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum. Guru adalah perencana, pelaksana, dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Peranan guru bukan hanya menilai perilaku dan prestasi belajar anak didiknya dalam kelas, tetapi juga menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas.
Guru juga bukan hanya berperan sebagai guru di dalam kelas, ia juga seorang komunikator, pendorong kegiatan belajar, pengembang alat-alat belajar, pencoba, penyusunan organisasi, manajer sistem pengajaran, pembimbing baik di sekolah maupun di masyarakat dalam hubungannya dengan pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Guru juga berperan sebagai pelajar dalam masyarakatnya, sebab ia harus selalu belajar struktur sosial masyarakat, nilai-nilai utama masyarakat, pola tingkah laku dalam masyarakat.
4. Peranan orang tua murid
Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapat berkenaan dengan dua hal, yaitu: Pertama, dalam penyusunan kurikulum, dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum mungkin tidak semua orang tua murid ikut serta, hanya terbatas kepada beberapa orang saja yang cukup waktu dan mempunyau latar belakang yang memadai. Peranan orang tua lebih besar dalam pelaksanaan kurikulum.
Dalam pelaksanaan kurikulum diperlukan kerja sama yang sangat erat antara guru atau sekolah dengan para orang tua murid. Sebagian kegiatan belajar yang dituntut kurikulum dilaksanakan di rumah, dan orang tua sewajarnya mengikuti atau mengamati kegiatan belajar anaknya di rumah.
D. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum
Sekolah mendapatkan pengaruh dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat, terutama dari perguruan tinggi dan masyarakat. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum yaitu, sebagai berikut:[7]
1. Perguruan Tinggi
Kurikulum minimal mendapat dua pengaruh dari Perguruan Tinggi. Pertama, dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua, dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di Perguruan Tinggi Keguruan (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Bahwa pengetahuan dan teknologi banyak meberikan sumbangan bagi isi kurikulum serta proses pembelajaran.
Kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan juga mempengaruhi pengembangan kurikulum, terutama melalui penguasaan ilmu dan kemampuan keguruan dari guru-guru yang dihasilkannya. Penguasaan ilmu, baik ilmu pendidikan maupun bidang studi serta kemampuan mengajar dari guru-guru akan sangat mempengaruhi pengembangan dan implementasi kurikulum di sekolah.
2. Masyarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak untuk kehidupan di masyarakat. Sebagai bagian dan agen dari masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat di mana sekolah tersebut berada. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Masyarakat yang ada di sekitar sekolah mungkin merupakan masyarakat homogen atau heterogen, masyarakat kota atau desa, petani, pedagang, pegawai, dan sebagainya.
Sekolah harus melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat. Salah satu kekuatan ayang ada di masyarakat adalah dunia usaha. Perkembangan dunia usaha yang ada di masyarakat mempengaruhi pengembangan kurikulum, sebab sekolah bukan hanya mempersiapkan anak didik untuk hidup, tetapi juga untuk bekerja dan berusaha. Jenis pekerjaan dan perusahaan yang ada di masyarakat menuntut persiapannya di sekolah.
3. Sistem Nilai
Dalam kehidupan masyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral, keagamaan, sosial, budaya maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga bertanggungjawab dalam pemeliharaan dan penerusan nilai-nilai. Sistem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam kurikulum.
Masalah utama yang dihadapi para pengembang kurikulum menghadapi nilai ini adalah, bahwa dalam masyarakat nilai itu tidak hanya satu. Masyarakat umumnya heterogen dan multifalset. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai, yaitu:
a. Guru hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat.
b. Guru hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi, etis, dan moral.
c. Guru berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru.
d. Guru menghargai nilai-nilai kelompok lain.
e. Memahami dan menerima keragaman kebudayaan sendiri.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan uraian di atas yang berkenaan dengan pengembangan kurikulum, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Pengembangan Kurikulum PAI
Pengembangan kurikulum adalah sebuah proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik.
2. Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum PAI
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan.
a. Prinsip-prinsip Umum
Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum yaitu sebagai berkut:
1. Prinsip Relevansi
2. Prinsip Fleksibilitas
3. Prinsip Kontinuitas
4. Prinsip Praktis
5. Prinsip Evektivitas
b. Prinsip-prinsip Khusus
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar, dan penilaian.
1. Prinsip tujuan pendidikan
2. Prinsip Pemilihan isi pendidikan
3. Prinsip proses belajar mengajar
4. Prinsip kegiatan penilaian
3. Pengembang Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut barpartisipasi, yaitu: administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli ilmu bidang pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak tersebut yang secara terus-menerus turut terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah:
a. Peranan para administrator pendidikan
b. Peranan para ahli
c. Peranan guru
d. Peranan orang tua murid
4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum
a. Perguruan Tinggi
Kurikulum minimal mendapat dua pengaruh dari Perguruan Tinggi. Pertama, dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua, dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di Perguruan Tinggi Keguruan (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Bahwa pengetahuan dan teknologi banyak meberikan sumbangan bagi isi kurikulum serta proses pembelajaran.
b. Masyarakat
c. Sistem Nilai
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai, yaitu:
1. Guru hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat.
2. Guru hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi, etis, dan moral.
3. Guru berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru.
4. Guru menghargai nilai-nilai kelompok lain.
5. Memahami dan menerima keragaman kebudayaan sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Sholeh. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset
Mulyasa, E. 2009. Kurikulum Yang Disempurnakan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2002. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003. 2004. Jakarta: EV. Tamita Utama
[1] Nana Syaodih sukmadinata. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja Rosdakarta Offset, 2002). hlm., 150-151
[3]Sholeh Hidayat. Pengembangan Kurikulum Baru. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Persada Offset, 2013), hlm., 77
[4]Nana Syaodih sukmadinata., OP. Cit,. Hlm., 151
[5]Nana Syaodih sukmadinata., OP. Cit,. Hlm., 155
[6] E. Mulyasa. Kurikulum Yang Disempurnakan Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2009), hlm., 119
[7]Nana Syaodih sukmadinata., OP. Cit,. Hlm., 158-160
Tidak ada komentar:
Posting Komentar