Minggu, 24 Mei 2020

KONSEP DASAR KURIKULUM

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa memahami konsep dasar dari kurikulum. Dengan diterapkannya kebijakan pemerintah (Depdiknas) yaitu pengembangan kurikulum operasional dilakukan oleh setiap satuan pendidikan dengan program Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka seluruh jajaran di setiap satuan pendidikan harus memiliki pemahaman yang luas dan mendalam tentang konsep dasar kurikulum, dan secara operasional harus dijadikan rujukan dalam mengimplementasikan kurikulum di setiap satuan pendidikan yang dikelolanya.
Pada dasarnya kurikulum merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen. Komponen-komponen kurikulum suatu lembaga pendidikan dapat diidentifikasi dengan cara mengkaji suatu kurikulum lembaga pendidikan itu. Dari buku tersebut kita dapat mengetahui pengertian dan dimensi kurikulum serta fungsi dan peranan suatu komponen kurikulum terhadap komponen kurikulum yang lain. Kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah bagi pihak-pihak yang terkait, baim secara langsung maupun tidak langsung, seperti pihak guru, keppala sekolah, pengawas, orangtua, masyarakat dan pihak siswa itu sendiri. Selain sebagai pedoman, bagi siswa kurikulum memiliki enam fungsi, yaitu: fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan, dan fungsi diagnostik. Mengingat pentingnya pemahaman menyeluruh konsep dasar dari kurikulum ini, maka penulis tergerak untuk menyusunnya menjadi sebuah makalah yang khusus mengungkap mengenai hal tersebut. Kiranya kehadiran makalah ini dapat sedikit membuka wawasan para pembaca semua.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai:
a.       Apa sajakah fungsi kurikulum?
b.      Bagaimana peranan kurikulum?
c.       Apa sajakah landasan kurikulum?
d.      Bagaimana organisasi kurikulum?

C.    Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasannya adalah sebagai berikut
a.       Untuk mengetahui fungsi kurikulum
b.      Untuk mengetahui peranan kurikulum
c.       Untuk mengetahui landasan kurikulum
d.      Untuk mengetahui organisasi kurikulum



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Fungsi Kurikulum
      Alexander Inglis, dalam bukunya Principle of Secondary Education (1918), mengatakan bahwa kurikulum berfungsi sebagai fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan, dan fungsi diagnostik.
1.      Fungsi penyesuaian
Individu hidup dalam lingkungan. Setiap individu harus mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya secara menyeluruh. Lingkunganpun harus disesuaikan dengan kondisi perorangan. Disinilah letak fungsi kurikulum sebagai alat pendidikan, sehingga individu bersifat well-adjusted.
2.      Fungsi Integrasi
Kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Oleh karena individu sender merupakan bagian dari masyarakat, maka pribadi yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam pembentukan atau pengintegrasian masyarakat.
3.      Fungsi Diferensiasi
Kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan di antara setiap orang dalam masyarakat. Pada dasarnya, diferensiasi akan mendorong orang berfikir kritis dan kreatif, sehingga akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat. Akan tetapi adanya diferensiasi tidak berarti mengabaikan solidaritas sosial dan integrasi, karena diferensiasi juga dapat menghindarkan terjadinya stagnasi sosial.
4.      Fungsi Persiapan
Kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan study lebih lanjut untuk suatu jangkauan yang lebih jauh, misal melanjutkan study kesekolah yang lebih tinggi atau persiapan belajar didalam masyarakat. Persiapan kemampuan belajar lebih lanjut ini sangat diperlukan, mengingat sekolah tidak mungkin memberikan semua yang diperlukan siswa atau apa pun yang menarik perhatian mereka.
5.      Fungsi Pemilihan
Perbedaaan (diferensiasi ) dan pemilihan (seleksi) adalah dua hal yang saling berkaitan. Pengakuan atas perbedaan berarti memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang diinginkan dan menarik minatnya. Kedua hal tersebut merupakan kebutuhan bagi masyarakat yang menganut system demokratis. Untuk mengembangkan berbagai kemampuan tersebut, maka kurikulum perlu disusun secara luas dan bersifat fleksibel.
6.      Fungsi Diagnostik
Salah satu segi pelayanan pendidikan adalah membantu dan mengarahkan siswa untuk mampu memahami dan menerima dirinya, sehingga dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Hal ini dapat dilakukan jika siswa menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimilikinya melalui proses eksplorasi. Selanjutnya siswa sendiri yang memperbaiki kelemahan tersebut dan mengenbangkan sendiri kekuatan yang ada. Fungsi ini merupakan fungsi diagnostic kurikulum dan akan memebimbing siswa untuk dapat berkembang secara optimal.[1]
B.     Peranan Kurikulum
Sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis, kurikulum mengemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan siswa. Apabila dianalisis sifat dari masyarakat dan kebudayaan, dengan sekolah sebagai institusi sosial dalam melaksanakan operasinya, maka dapat ditentukan paling tidak tiga peranan kurikulum yang sangat penting, yakni peranan konservatif, peranan kritis, atau evaluatif, dan peranan kreatif.[2]
Sebagai program pendidikan yang telah di rencanakan secara sistematis, kurikulum mengemban peranan yang sangat tinggi bagi pendidikan siswa. Apabila dianalisis sifat dari masyarakat dan kebudayaan, dengan sekolah sebagai institusi sosial dalam melaksanakan oprasinya , maka dapat di tentukan tiga peranan kurikulum yang sangat penting, yaitu konservatif, peranan kritis atau evaluative, dan peranan kreatif.

1.      Peranan kurikulum konservatif
Salah satu  tanggung jawab kurikulum adalah mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial pada generasi muda. Dengan demikian, sekolah sebagai suatu lembaga sosial yang dapat mempengaruhi dan membina tingkah laku siswa sesuai dengan berbagai nilai sosial yang ada dalam masyarakat, sejalan dengan peranan pendidikan sebagai suatu proses sosial. Oleh karena itu, dalam kerangka ini fungsi lebih kompleksdalam kerangka ini fungsi kurikulum menjadi teramat penting. Karena ikut membantu proses tersebut.
Dengan adanya peranan konservatif ini maka, sesungguhnya kurikulum berprentasi pada masa lampau.meskipun demikian peranan ini sangat mendasar sifatnya.
2.      Peranan Kritis atau Efaluatif
Kebudayaan senantiasa berubah dan bertambah. Sekolah tidak hanya mewariskan kebudayaan yang ada, melainkan juga menilai dan memilih berbagai unsur kebudayaan yang akan diwariskan. Dalam hal ini, kurikulum turut aktif berpartisipasi dalam kontrol sosial dan member penekanan pada unsur berfikir kritis.
3.      Peranan Kreatif
Kurikulum berperan dalam melakukan berbagai kegiatan kreatif dan konstuktif, dalam artian menciptakan dan menyusun suatu hal yang baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masa sekarang dan masa mendatang.
Ketiga peranan kurikulum tersebut harus berjalan secara seimbang, atau dengan kata lain terdapat keharmonisan diantara ketiganya. Dengan demikian kurikulum dapat memmenuhi tuntutan waktu dan keadaan dalam membawa siswa menuju kebudayaan masa depan.[3]
C.    Landasan Kurikulum
      Hakikat landasan kurikulum adalah faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum ketika hendak mengembangkan atau merencakan suatu kurikulum lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan tersebut dapat berupa sekolah maupun lembaga pendidikan luar sekolah.
      Dasar-dasar landasan kurikulum tersebut adalah filsafat, kemasyarakatan, kebudayaan, psikologi belajar, pertumbuhan dan perkembangan siswa, serta oraganisasi kurikulum. [4]
1.      Landasan filosofis
Istilah filsafat mengandung pengertian yang sangat beragam maknanya dan tergantung pada sudut pandang apa orang membicarakannya. Dalam pengertia yang sederhana dan umumnya filsafat diartikan cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, yakni suatu cara beripikir yang mengkaji objek secara mendalam salah satu ciri filsafat yang sifatnya universal dan menelaah sampai ke akar-akarnya secara mendasar. Salah satu kajian filsafat adalah tentang hakikat manusia, apa hakikat hidup manusia, apa tujuan hidupnya, dan sebagainya.
Tahap berikutnya filsafat mepersoalkan tentang hidup dan eksistensi manusia, pandangan hidup manusia, sebagai makhluk beragama, makhluk sosial, dan makhluk yang berbudaya. Dari telaah tersebut, filsfata mencoba mengkaji tiga pokok persoalan, yakni hakikat bener salah (logika), hakikat baik buruk (etika), dan hakikat indah jelek (estetika). Haikat pandangan hidup manusia mencakup ketiga hal tersebut (logika, etika, dan estetika). Kaitannya dengan kurikulum dari ketiga pandangan tersebut sangat diperlukan terutama dalam menetapkan arah dan tujuan pendidikan. Dengan pengertian lain, kearah mana pendidikan akan dibawa untuk itu perlu adanya kejelasan mengenai pandangan hidup manusia atau suatu bangs. Setiap bangsa atau negara mempunyai tatanan dan pandangan hidup masing-masing yang berbeda-beda sesuai dengan ideologi yang mereka anut. Bagi kita bangsa indonesia, sudah barang tentu menganut asas falsafah bangsa kita, yakni falsafah pancasila yang menjadi acuan dasar kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, termasuk didalamnya dalam menentukan arah pendidikan[5]. 
Falsafah atau pandangan hidup adalah sistem nilai dan berbagai norma yang disetujui, baik oleh individu maupun masyarakat suatu bangsa. Dari falsafah pendidikan, diperoleh gambaran ideal manusia yang dicita-citakan oleh masyarakat dalam bangsa yang bersangkutan. Berdasarkan falsafah pendidikan, ditentukan tujuan pendidikan nasional, yang selanjutnya mendasari tujuan instruksional, tujuan kurikulum, dan tujuan instruksional. [6]
2.      Landasan sosial-budaya
Dikatakan bahwa pendidikan juga merupakan proses sosialisasi dari pewarisan budaya dari generasi kegenarsi selanjutnya dalam upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia baik sebagai individu, kelompok masyarakat, maupun dalam konteks yang lebih luas yaitu budaya bangsa. Untuk itu melalui pendidikan pewarisan budaya bangsa akan terealisir dengan baik. Oleh karena itu anak didik dihadapkan pada budaya manusia, dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya, dan diarahkan kemampuan diri anak tersebut kearah manusia yang berbudaya.
Pendidikan sebagai proses budaya adalah upaya membina dan mengembangkan daya cipta, karsa dan rasa manusia menuju keberadaban manusia yang lebih luas dan tinggi, yaitu manusia yang berbudaya. Kebudayaan itu sifatnya ada yang universal artinya berlaku umum bagi setiap manusia, sedangkan kebudyaan yang bersifat khusus, artinya kebudaayan yang universal tersebut ada unsur-unsur yang khusus didalamnya. Sebagai contoh bahasa, secara universal bahasa dimiliki oleh setiap manusia, tetapi setiap kelompok manusia atau bangsa memiliki bahasa sendiri yang berbeda antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lainnya.
Semakin meningkatnya sosial budaya manusia akibat majunya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang merupakan bagian dari budaya itu sendiri, makasemakin tinggi pulalah tuntutan hidup manusia. Oleh karena itu pendidikan harus dapat mengantisipasinya dengan jalan menyiapkan anak didik (siswa) yang hidup secara wajar sesuai dengan perkembangan sosial budaya masyarakatnya[7] 
Kemasyarakatan beranjak dari suatu masyarakat tertentu. Masyarakat merupakan suatu sistem, yakni sistem keyakinan, sistem nilai, sistem kebutuhan, dan sistem permintaan. Oleh karenanya, kurikulum yang dikembangkan harus berpijak dan relevan dengan masyarakat tempat kurikulum tersebut akan dilaksanakan.
Kebudayaan bukan hanya material belaka, melainkan juga berupa sikap mental, cara berpikir dan kebiasaan hidup. Kebudayaan mencakup berbagai dimensi, di antaranya keluarga, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, teknologi, rekreasi, dan bantuan bagi kaum lemah. Semua dimensi tersebut hendaknya dipertimbangkan dalam proses pengembangan kurikulum. [8]
3.      Landasan psikologi
Pada dasarnya pendidikan tidak terlepas kaitannya dengan unsur-unsur psikologi, sebab pendidikan adalah menyangkut perilaku manusia itu sendiri, yakni mendidika berarti merubah tingkah laku anak menuju kedewasaan.
Faktor penting yang harus dipelajari dan dikuasai oleh guru pada perkembangan setiap individu dalam rangka pelaksanaan pembelajaran, guru harus memilih setrategi belajar mengajar yang tepat untuk mencapai tujuan pengejaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Seorang guru harus mengetahui bagaimana siswa belajar. Dengan demikian seorang gurudapat menyesuaikan dirinya dengan kondisi anak dan dapat menetapkan metode apa yang cocok dipakai yang sesuai dengan tujuan dan karaktersitik siswanya. Kesemuanya itu sudah barang tentu membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang hakikat belajar dan cara belajar siswa dan lain-lainnya[9].
Dalam proses pengembangan kurikulum, pertumbuhan dan perkembangan siswa perlu diperhatikan. Pertumbuhan berkenaan dengan jasmaniah, sedangkan perkembangan berkenaan dengan rohaniah. Dalam konteks ini, kebutuhan, motivasi, pribadi, hubungan sosial, dan emosional, semuany tercakup di dalam pola perkembangan tu.
Psikologi belajar mengetengahkan beberapa teori belajar, yang masing-masing menelaah proses mental dan intelektual perbuatan belajar tersebut. Kurikulum yang dikembangkan sebaiknya selaras dengan proses belajar yang dilakukan oleh siswa.
Organisasi kurikulum merujuk pada pola dan stuktur kurikulum yang sedang dikembangkan. Terdapat tiga bentuk organisasi kurikulum yang sedang menonjol, yakni kurikulum mata pelajaran terpisah, kurikulum yang mengorelasikan mata ajaran dalam bentuk bidang studi, dan kurikulum terintegrasi, yang mengintegrasikan semua mata ajaran dalam satu masalah atau proyek.[10]
D.    Organisasi Kurikulum
Dalam studi tentang kurikulum, dikenal beberapa bentuk organisasi kurikulum. Bentuk organisasi kurikulum tersebut memiliki ciri tersendiri, dan nampaknya mengalami proses perkembangan secara berurutan, sejalan dengan berbagai penemuan baru dalam ilmu kurikulum. Beberapa bentuk organisasi kurikulum tersebut diantaranya adalah kurikulum mata pelajaran, kurikulum dengan mata pelajaran berkorelasi, dan kurikulum berintegrasi.
1.      Kurikulum mata pelajaran
Kurikulum mata pelajaran ini digolongkan sebagai bentuk kurikulum yang masih tradisonal. Kurikulum ini sejak lama diterapkan pada sekolah-sekolah kita, sampai dengan munculnya kurikulum tahun 1968 dan kurikulum tahun 1975. Kurikulum ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang terpisah satu sama lain dan masing-masing berdiri sendiri
b.      Tiap mata pelajaran seolah-olah tersimpan dalam kotak tersendiri dan diberikana dalam waktu tertentu.
c.       Hanya bertujuan pada penguasaan sejumlah ilmu pengetahuan dan mengambaikan perkembangan aspek tingkah laku lainnya
d.       Tidak didasarkan pada kebutuhan, minat, dan masalah yang dihadapi para siswa
e.       Guru berperan paling aktif, dengan pelaksanaan sistem guru mata pelajaran dan mengabaikan fungsi belajar aktif dikalangan para siswa dan 
f.       Para siswa sama sekali tidak dilibatkan dalam perencanaan kurikulum secara kooperatif.
2.      Kurikulum dengan mata pelajaran berkorelasi
Untuk mengurangi kelemahan dengan adanya keterpisahan diantara berbagai mata pelajaran tersebut diusahakanlah agar mata pelajaran tersebut disusun dalam pola korelasi sehingga lebih mudah dipahami oleh para siswa inilah yang dinamakan kurikulum dengan mata pelajaran berkorelasi.
Para guru mata pelajaran lainnya dapat memberikan sumbangan terhadap pembahasan  topik tersebut.
Jadi ciri-ciri kurikulum ini adalah sebagai berikut:
a.       Berbagai mata pelajaran dikorelasikan satu dengan yang lainnya
b.      Sudah dimulai adanya usaha untuk merelefansikan pelajaran dengan permasalahan sehari-hari, kendatipun tujuannya masih penguasaan pengetahuan
c.       Sudah mulai mengusahakan penyesuaian pelajaran dengan minat dan kemampuan para siswa, meski pelayanan terhadap perbedaan individual masih sangat terbatas
d.      Metode penyampaian menggunakan metode korelasi, meski masih banyak menghadapi kesulitan, dan
e.       Meski guru masih memegang peran aktif, namun aktifas siswa sudah dikembangkan
3.      Kurikulum Integrasi
Integrasi berasal dari kata “integer” yang berarti unit. Dengan integrasi dimaksudkan perpaduan, koordinasi, harmoni, kebulatan keseluruhan.
Integrated curriculum dilaksanakan melalui pengajaran unit. Menurut caswell unit ialah “a series of related activities engaged in by children in the process of realizing a dominating purpose which is compatible with the aims of education”. Suatu unit mempunyai tujuan yang bermakna bagi anak yang biasanya dituangkan dalam bentuk masalah. Untuk memecahkan masalah itu anak-anak melakukan serangkaian kegiatan yang saling berkaitan. Menghadapkan anak kepada masalah berarti merangsangnya untuk berpikir dan ia tidak akan merasa puas dan tenang sebelum memecahkan masalah itu.[11]
Ciri-ciri kurikulum terintegrasi ini adalah sebagai berikut:
a.       Berdasarkan filsafat pendidikan berdemokrasi
b.      Berdasarkna kebutuhan, minat, dan tingkat perkembangan atau pertumbuhan siswa
c.       Sistem peyampaian menggunakan pengajaran unit baik unit pengalaman atau unit pelajaran
d.      Peran guru sama aktifnya dengan peran murid. Bahkan, peran murid lebih menonjol dalam kegiatan belajar mengajar, dan guru bertindak selaku pembimbing.[12]



BAB III
KESIMPULAN
      Alexander Inglis, dalam bukunya Principle of Secondary Education (1918), mengatakan bahwa kurikulum berfungsi sebagai fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan, dan fungsi diagnostik.
Sebagai program pendidikan yang telah di rencanakan secara sistematis, kurikulum mengemban peranan yang sangat tinggi bagi pendidikan siswa. Apabila dianalisis sifat dari masyarakat dan kebudayaan, dengan sekolah sebagai institusi sosial dalam melaksanakan oprasinya , maka dapat di tentukan tiga peranan kurikulum yang sangat penting, yaitu konservatif, peranan kritis atau evaluative, dan peranan kreatif.
Dasar-dasar landasan kurikulum tersebut adalah filsafat, kemasyarakatan, kebudayaan, psikologi belajar, pertumbuhan dan perkembangan siswa, serta oraganisasi kurikulum.  
Dalam studi tentang kurikulum, dikenal beberapa bentuk organisasi kurikulum. Bentuk organisasi kurikulum tersebut memiliki ciri tersendiri, dan nampaknya mengalami proses perkembangan secara berurutan, sejalan dengan berbagai penemuan baru dalam ilmu kurikulum. Beberapa bentuk organisasi kurikulum tersebut diantaranya adalah kurikulum mata pelajaran, kurikulum dengan mata pelajaran berkorelasi, dan kurikulum berintegrasi.







DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. 2007. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Nurdin, Syafruddin dan Basyiruddin Usman. 2003. Guru profesional dan
implementasi kurikulum. Jakarta: Ciputat press,
S. Nasution. 1994. Asas-asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.


[1] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik. 2007. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hlm: 13-14
[2] Ibid. Hlm: 11
[3] Ibid., Hlm: 11-12
[4] Ibid.,Hlm: 57-58
[5]. Syafruddin Nurdin dan Basyiruddin Usman. 2003. Guru profesional dan implementasi kurikkulum. Jakarta: Ciputat press,. Hlm 35-36
[6] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik. Op. Cit. Hlm: 57-58
[7]. Syafruddin Nurdin dan Basyiruddin Usman. Op. Cit. Hlm 37-38
[8] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik. Op. Cit., Hlm: 57-58
[9]. Syafruddin Nurdin dan Basyiruddin Usman. Op. Cit., Hlm 44
[10] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik. Op. Cit., Hlm: 57-58
[11] S. Nasution. 1994. Asas-asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara. Hlm: 195-196
[12] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik. Op. Cit,.. Hlm: 159

Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...