السلام عليكم ورحمة الله
BAB I
BAB I
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tentang Belajar
- Banyak orang beranggapan, bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu atau menuntut ilmu. Ada lagi yang secara lebih khusus yang mengartikan belajar adalah menyerap pengetahuan. [1] Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan.[2] Belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan suatu kata yang berasal dari kata dasar “ajar” yang memiliki makna petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui. Adapun pengertian belajar sendiri memiliki 3 makna, yaitu: 1) Berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. 2) Berlatih. 3) Berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.[3]
Belajar adalah : perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik melalui aktivitas belajar sebagai hasil dari interaksi peserta didik dengan lingkungan pendidikan dan dengan guru.pengertian belajar secara psikologis, juga dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalm memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar didefinisikan oleh berbagai ahli sebagai berikut:
Slameto (1988:2) mengemukakan bahwa : “ belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya”.
Moeslichatoen (1989:1) belajar ialah proses yang membuat terjadinya proses belajar dan perubahan itu sendiri dihasilkan dari usaha dalam proses belajar.
Cronbach (sadirman 1990:22) belajar ialah perubahan dalam performansi sebagai hasil dari praktek.[4]
Belajar merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia beradadi sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan merasa bangga ketika anaknya telah mampu menyhebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru.[5]
Syaiful Bahri Djamarah (2002:13) mengatakan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku dan pengalaman hidupnya dari hasil interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.
Perubahan yang terjadi itu akibat dari kegiatan belajar. Yang telah dilakukan oleh individu. Perubahan ini adalah hasil yang telah dicapai dari proses belajar. Jadi, untuk mendapatkan hasil belajar dalam bentuk ‘perubahan’ harus melalui proses tertentu yang dipengaruhi oleh faktor dari dalam individu maupun luar individu. Namun, proses disini tidak dapat dilihat karena bersifat psikologis. Hanya saja dapat dilihat ketika seorang telah berhasil dalam belajar. Oleh karena itu, proses telah terjadi dalam diri seseorang hanya dapat disimpulkan dari hasilnya, karena aktifitas belajar yang telah dilakukannya.[6]
Skinner ,seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Learning Proces, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku )yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya,bahwa belajar adalah :”…a process of progressive behavior adaptation”.
Berdasarkan eksperimennya ,B F .Skiner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat.
Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi: ”…acquistion of any relatifely permanent change in behavior as a result of practice and experience” (Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman). Rumusan keduanya adalah process of acquiring responses as a result of special practice (belajar ialah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus).
Hintzman (1978) dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme ,manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Jadi dalam pandangan Hintzman ,perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
Pengalaman hidup juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang bersangkutan. Mungkin inilah dasar pemikiran yang mengilhami gagasan everyday learning (belajar sehari-hari) yang dipopulerkan oleh Profesor Jhon B Bigs. Witting (1981) dalam bukunya Psychology of Learning mendefinisikan belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam atau keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Bigs (1991) dalam pendahuluan Teaching for Learning: The View from Cognitive Psychology mendefinisikan belajar dalam tiga macam rumusan yaitu: rumusan kuantitatif, rumusan institusional, dan rumusan kualitatif.
Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya .Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa.
Secara instusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah dipelajari. Adapun pengertian belajar secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa.[7]
- Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning (1975) mengemukakan. “Belajar berhubungan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang di sebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderuangan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).”
Gagne, dalam buku The Conditions of Learning (1977) menyatakan bahwa: “Belajar terjadi apabila suatu situasi setimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemkian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”[8]
Telah dikemukakan di atas bahwa belajar bukan suatu tujuan akan tetapi suatu proses mencapai tujuan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.[9]
Jadi dapat dikatakan belajar merupakan suatu proses aktif melalui suatu latihan dan berakibat pada perubahan tingkah laku yang menuju kepada kedewasaan dan suatu kemajuan. Prestasi belajar merupakan kemampuan belajar. Banyak ahli yang bengga bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh lewat menuntut ilmu. Ada lagi yang lebih khususnya mengartikan prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh atau yang dicapai, (dilakukan, dikerjakan oleh seseorang) lewat proses belajar. Sebab semakin tinggi kepedulian terhadap bidang tertentu semakin tinggi prestasi belajar yang dicapai nya pada bidang tersebut.
Jika dilihat secara detil sebaiknya semain kurang kepudulian terhadap bidang tertentu semakin rendah pula prestasi belajar yang diperoleh, bahkan sama sekali tidak diperolehnya. Prestasi belajar menunjukkan tingkat yang dimiliki oleh siswa yang diperoleh dalam belajar.mengajar. seperti yang dikemukan oleh para ahli pendidikan bahwa: “Prestasi sebagai suatu bukti keberhasilan usaha yang dicapai sedangkan prestasi belajar merupakan suatu akhir dari belajar”
Aktivitas belajar setiap individu adalah sangat bermacam – macam. Belajar dapat pula dikatakan sebagai suatu proses, artinya dalam belajar akan terjadi proses melihat, membuat, mengamati, menyelesaikan masalah atau persoalan, menyimak, dan latihan. Banyak aktivitas – aktivitas yang oleh hampir setiap orang dapat disetujui kalau disebut aktivitas belajar, seperti misalnya mendapatkan pengetahuan baru tentang sesuatu hal, menghafal syair, nyanyian dan sebagainya.
Aktivitas belajar diperlihatkan oleh adanya perubahan perilaku. Bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar dapat bersifat fungsional-struktural, material-substansial, dan behavioral (Abin Syamsuddin Makmun, 2004:167). Dalam konteks pembelajaran, aktivitas belajar dan perubahannya memiliki indikator yang juga dapat diukur melalui cara-cara tertentu.
Ada beberapa aktivitas belajar yang tidak begitu jelas apakah itu tergolong sebagai perbuatan belajar; seperti misalnya mendapatkan bermacam – macam sikap sosial (misalnya prasangka), kegemaran, pilihan dan lain – lainnya. Selanjutnya ada beberapa hal yang kurang berguna yang juga terbentuk pada individu, seperti misalnya tics, gejala – gejala autistic, dan sebagainya, apakah hal – hal yang dikemukakan paling akhir itu tergolong pada hal belajar, sukar dikatakan.
Ada juga empat hal aktivitas dasar individu dalam konteks ini ialah siswa dalam hal belajar, yaitu : learning to know, learning to do, learning to live together dan learning to be.
Learning to know artinya belajar untuk mengetahui; pada aktivitas ini siswa melakukan aktivitas pemahaman tentang materi pembelajaran agar ia mengetahui dan memahami substansi yang terdapat dalam materi pembelajran tersebut.
Learning to do artinya belajar untuk berbuat; dalam konteks ini siswa akan belajar membuat sesuatu hal terhadap dirinya maupun orang lain seperti halnya mengerjakan, menerapkan, menyelesaikan persoalan, melakukan eksperimen, pengamatan dan sejenisnya, sehingga dari perilaku membuatnya tersebut siswa akan belajar dari pengalam yang ia jalani dan akan dapat merubah perilaku siswa tersebut.
Learning to live together artinya belajar untuk hidup bersama; yang menjadi target aktivitas ini adalah siswa memiliki kemampuan untuk hidup bersama artinya mampu hidup dalam berkelompok. Dalam hal ini siswa akan membentuk kelompok yang sesuai dengan konsep dirinya dan siswa akan memiliki pengalaman melakukan tanggung jawab dalam kelompok dan akan melakukan perubahan tingkah laku untu menerapakan sikap toleransi, memahami asas dalam kelompok serta memahami dan merasakan kesulitan orang lain.
Learning to be artinya belajar untuk menjadi; yang menjadi taget dalam aktivitas belajar ini adalah siswa akan mencoba untuk tetap menjadi dirinya sendiri yang sesuai dengan minat, bakat, potensi dan kemampuannya. Hasil belajar dari aktivtas ini benar – benar bermakna dalam kehidupan siswa maupun orang lain, sehingga dapat mengantar siswa menjadi manusia yang mandiri.
Belajar sebagai aktivitas mencakup:
1. belajar bagian : peserta didik belajar dengan membagi-bagi materi pelajaran ke dalam bagian-bagian agar mudah dipelajari untuk memahami makna materi pelajaran secara keseluruhan.
2. belajar dengan wawasan : belajar yang berdasr pada teori wawasan yangt menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses mereorganisasikan pola-pola perilaku yang terbentuk menjadi satu tingkah laku yang ada hubungannya dengan penyelesaian suatu persoalan
3. belajar diskriminatif : suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi rangsangan dan menjadikannya sebagai suatu pedoman.
4. belajar secara global atau keseluruhan : individu mempelajari keseluruhan bahan pelajaran lalu dipelajari secara berulang untuk dikuasai.
5. belajar incidental : proses yang terjadi secara sewaktu-waktu tanpa ada petunjuk yang diberikan oleh guru sebelumnya.
6. belajar instrumental : proses belajar yang terjadi karena adanya hukuman dan hadiah dari guru sebagai alat untuk mensukseskan aktivitas belajar peserta didik.
7. belajar intensional : belajar yang memiliki arah ,tujuan, dan petunjuk yang dijelaskan oleh guru.
8. belajar laten : belajar yang ditandai dengan perubahan-perubahan perilaku yang terlihat tidak terjadi dengan segera.
9. belajar mental : perubahan tingkah laku yang terjadi pada individu tidak nyata terlihat, melainkan hanya berupa perubahan proses kognitif dari bahan yang dipelajari.
10. belajar produktif : belajar dengan transfer maksimum
11. belajar secara verbal : belajar dengan materi verbal dengan melalui proses latihan dan proses ingatan.
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hal Belajar
Secara global faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam yaitu :
1. Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan / kondisi jasmani dan rohani siswa.
2. Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.
3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning) yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.[10]
Faktor-faktor yang di jelaskan di atas disini akan di jabarkan. Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan / kondisi jasmani dan rohani siswa. Aspek jasmaniah mencakup kondisi dan kesehatan jasmaniah dan individu. Tiap orang memiliki kondisi fisik yang berbeda seperti halnya kondisi fisik yang menyangkut pula kelengkapan dan kesehatan indra penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pencecapan. Indra yang paling penting dalam belajar adalah penglihatan dan pendengaran. Seseorang yang penglihatan atau pendengarannya kurang baik akan berpengaruh kurang baik pula terhadap usaha dan hasil belajarnya. Kesehatan merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan belajar.
Aspek psikis atau rohaniah tidak kalah pentingnya dalam belajar dengan aspek jasmaniah. Aspek psikis menyangkut kondisi kesehatan psikis, kemampuan-kemampuan intelektual, sosial psikomotor, serta kondisi afektif dan konatif dari individu. Untuk kelancaran belajar bukan hanya dituntut kesehatan jasmaniah tetapi juga kesehatan rohaniah. Seorang yang sehat rohaninya adalah orang yang terbebas dari tekanan-tekanan batin yang mendalam, gangguan-Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa. Keluarga, merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pendidikan, memberikan landasan dasar bagi proses belajar pada lingkungan sekolah dan masyarakat. faktor-faktor fisik dan sosial psikologis yang ada dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan belajar anak. Termasuk faktor fisik dalam lingkungan keluarga adalah : keadaan rumah dan ruangan tempat belajar, sarana dan perasarana belajar yang ada, suasana dalam rumah apakah tenang atau banyak kegaduhan, juga suasana lingkungan di sekitar rumah.
Keluarga yang tidak utuh, baik secara struktural maupun fungsional, kurang memberikan dukungan yang positif terhadap perkembangan belajar. Ketidakutuhan dalam keluarga akan menimbulkan kekurangseimbangan baik dalam pelaksanaan tugas-tugas keluarga maupun dalam memikul beban-beban sosial psikologis keluarga. Hal-hal di atas akan menimbulkan siswa kurang konsentrasi dalam belajar.
Iklim psikologis yang sehat akan mendukung kelancaran dan keberhasilan belajar, sebab suasana yang demikian dapat memberikan ketenangan, kegembiraan, rasa percanya diri, dorongan untuk berprestasi dll. Iklim belajar berkenaan dengan gairah untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan pendidikan di antara anggota keluarga.
Lingkungan ini meliputi lingkungan fisik sekolah seperti lingkungan kampus, sarana dan prasarana belajar yang ada, sumber-sumber belajar, media belajargangguan perasaan, kebiasaan-kebiasaan buruk yang mengganggu, frustasi, konflik-konflik psikis. Seorang yang sehat rohaninya akan merasakan kebahagiaan, dapat bergaul dengan orang lain dengan wajar, dapat mempercayai dan bekerja sama dengan orang lain, dapat tidur nyenyak, selera makan normal dsb.
Kondisi intelektual juga berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. Kondisi intelektual in menyangkut tingkat kecerdasan, bakat-bakat, baik bakat sekolah maupun bakat pekerjaan. Juga termasuk kondisi intelektual adalah penguasaan siswa akan pengetahuan atau pelajaran-pelajarannya yang lalu.
Kondisi sosial menyangkut hubungan siswa dengan orang lain, baik guru temannya, orang tuanya maupun orang-orang yang lainnya. Seseorang yang memiliki kondisi hubungan yang wajar dengan orang-orang di sekitarnya akan memiliki ketentraman hidup, dan hal ini akan mempengaruhi konsentrasi dan kegiatan belajarnya. Sebaliknya seorang yang mengalami kesulitan dalam hubungan sosial dengan temannya atau guru atau orang tuanya akan mengalami kecemasan, ketidaktentraman dan situasi ini akan mempengaruhi usaha belajarnya.
Keberhasilan belajar seseorang juga dipengaruhi oleh keterampilan-keterampilan yang dimilikinya, seperti keterampilan membaca, berdiskusi, memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas dan lain-lain. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan hasil belajar sebelumnya.
lingkungan sosial yang menyangkut hubungan siswa dan teman-temannya, guru-gurunya serta staf sekolah yang lain. Lingkungan sekolah juga menyangkut lingkungan akademis, yaitu suasana dan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar, berbagai kegiatan kokurikuler dsb.
Lingkungan massyarakat di mana siswa atau individu berada juga berpengaruh terhadap semangat dan aktivitas sebenarnya. Lingkungan masyarakat di mana warganya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup, terdapat lembaga-lembaga pendidikan dan sumber-sumber belajar di dalamnya akan memberikan pengaruh yang positif terhadap semangat dan perkembangan belajar generasi mudanya.[11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jadi dapat dikatakan belajar merupakan suatu proses aktif melalui suatu latihan dan berakibat pada perubahan tingkah laku yang menuju kepada kedewasaan dan suatu kemajuan. Prestasi belajar meunjukkan tingkat yang dimiliki oleh siswa yang diperoleh dalam belajar.mengajar. seperti yang dikemukan oleh para ahli pendidikan bahwa: “Prestasi sebagai suatu bukti keberhasilan usaha yang dicapai sedangkan prestasi belajar merupakan suatu akhir dari belajar”
Aktivitas belajar diperlihatkan oleh adanya perubahan perilaku. Bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar dapat bersifat fungsional-struktural, material-substansial, dan behavioral. Ada juga empat hal aktivitas dasar individu dalam konteks ini ialah siswa dalam hal belajar, yaitu : learning to know, learning to do, learning to live together dan learning to be.
Secara global faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam yaitu :
1. Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan / kondisi jasmani dan rohani siswa.
2. Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.
3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning) yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.
B. Saran
Kami menyadari akan kekurangan dalam makalah ini, maka pembaca dapat menggali kembali sumber-sumber lainnya, untuk menyempurnakannya. Jadi kami harapkan kritik yang membangun dari anda sekalian, untuk kami lebih bisa baik dan sempurna lagi dalam pembuatan makalah ini selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
Soemanto, Wasty. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Djamarah, Bahri, Syaiful. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Purwanto, M. Ngalim. 1992. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Effendi, E. Usman. 1989. Pengantar Psikologi. Bandung : Angkasa.
Sukmadinata, Syaodih, Nana. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sarjanaspdi. 2012. Belajar Dan Faktor-Faktor. Diunduh pada 5 Desember 2013 pkl. 20.30 WIB dari http://sarjanaspdi.blogspot.com/2012/11/belajar-dan-faktor-
faktor-yang.html
Shi-senhikari. 2011. Psikologi Pendidikan Tinjauan Psikologi. Diunduh pada 4
Desember 2013 pkl. 22.00 WIB dari
http://shisenhikari.blogspot.com/2011/05/psikologi-pendidikan-tinjauan-psikologi.html
[1] Drs. Wasty Soemanto, M.Pd, 2003, Psikologi Pendidikan, Cetakan Ke-3, Jakarta: PT. Rineka Cipta, hal. 103.
[2] Muhibbin Syah, M.Ed, 2004, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Cetakan Ke-9, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, hal. 94.
http://sarjanaspdi.blogspot.com/2012/11/belajar-dan-faktor-faktor-yang.html
[5] Shi-senhikari, 2011, Psikologi Pendidikan Tinjauan Psikologi,
http://shi-senhikari.blogspot.com/2011/05/psikologi-pendidikan-tinjauan-psikologi.html
[8] Drs. M. Ngalim Purwanto, MP, 1992, Psikologi Pendidikan, Cetakan Ke-7, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, hal. 84.
[10] Muhibbin Syah, M.Ed, 2004, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Cetakan Ke-9, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, hal. 132 .
- [11] Prof.Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, 2003, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Cetakan Pertama, hal. 162-165

Tidak ada komentar:
Posting Komentar