Kamis, 14 Mei 2020

OBSERVASI KERATON KESEPUHAN CIREBON_JAWA BARAT



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Keraton Kesepuhan didirikan pada tahun1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang Menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506, beliau bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon. Keraton Kesepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Dan sebutan Pakungwati Berasal dari nama Ratu Ayu Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang meniksh dengan Sunan Gunung Jati. Putri itu cantik rupawan berbudi luhur dan bertubuh kokoh serta dapat mendampingi suami, baik dalam bidang Islamiyah, pembina negara maupun sebagai pengayom yang menyayangi rakyatnya.
Akhirnya beliau wafat pada tahun 1549 didalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa dalam keadaan yang sangat tua, dari pengorbanan tersebut akhirnya nama beliau di abadikan dan dimulyakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kesepuhan.

B.     Landasan Teori
Pada landasan teori ini akan diterangkan teori yang berhubungan dengan judul penulisan ini, diantaranya;
1.      Pengertian  dan Peranan Keraton Kesepuhan terhadap pemeliharaan kebudayaan di Cirebon.
2.      Arsitektur dan Interior yang ada di Keraton Kesepuhan Cirebon.
3.      Koleksi-koleksi dan Alat Musik yang ada di Keraton Kesepuhan Cirebon.
4.      Urutan Baluarti Keraton Kesepuhan Cirebon.

BAB II
METODE PENELITIAN
A.      Rancangan Penelitian
Dalam merancang penelitian yang akan dilaksanakan, penulis menggunakan metode observasi dan wawancara dan tanya jawab untuk memperoleh data yang dibutuhkan dari tempat penelitian. Adapun susunan kedua metode tersebut diuraikan sebagai berikut :
a)         Observasi
Observasi ialah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Cara atau metode tersebut pada umumnya ditandai oleh pengamatan tentang apa yang benar-benar dilakukan oleh individu, dan membuat pencatatan secara objektif  mengenai apa yang diamati.[1]
Dalam Penelitian yang di laksanakan, penulis menggunakan metode observasi, yakni terjun langsung kelapangan. Hal ini dilakukan agar data yang di peroleh lebih akurat karena berasal dari narasumbernya. Observasi yang dilakukan penulis ini dilaksanakan pada :

Hari               : Jum’at
Tanggal         : 10 Oktober 2014
Waktu           : 08.45 WIB s/d selesai
Tempat          : Keraton Kesepuhan Cirebon Jawa Barat




b)      Wawancara dan Tanya Jawab
Metode wawancara ini penulis gunakan untuk mendapatkan data secara langsung dari narasumber yang memang merupakan ahlinya di bidang kesejarahan keraton kasepuhan. Yang menjadi narasumber dalam wawancara yang dilakukan penulis tersebut yaitu :
Semua pekerja atau (Abdi Dalem) yang berada di keraton kasepuhan..






BAB III
HASIL WAWANCARA
Saya berangkat bersama Teman-tema dengan angkot menuju ke Kraton Kesepuhan Cirebon. Cuaca yang mendukung membuat Saya dan Teman-teman sangat bersemangat untuk memulai observasi. Saya dan teman-teman langsung menemui Pemandu yang akan membantu untuk menjelaskan tentang Sejarah Keraton Kasepuhan. Disinilah Saya dan teman-teman memulai Wawancara dengan Narasumber yang ada disitu :
Mahasiswa                  : Assalamu’alaikum…
Narasumber                 : Wa’alaikumsalam… Ini darimana dan ada keperluan apa
kemari ?
Mahasiswa                  : Maaf, Bapak sebelumnya. Kami dari IAIN Syekh Nurjati
Cirebon, jadi Kami datang kemari dengan tujuan Kami ada  tugas dari  Dosen Mata kuliah Materi pendidikan SKI di MA. Untuk observasi tentang Keraton Kasepuhan.
Narasumber                 : Oh, ya.. Silahkan kemari.. Yang kemarin ada Mahasiswa dan
Mahasiswi kesini untuk observasi seperti kalian, universitasnya sama. Apakah itu Rombongan Kalian ?
Mahasiswa                  : Itu bukan Rombongan Kami, mungkin itu dari kelas yang
lainnya. Bolehkah Kami memulai mewawancarai ?
Narasumber                 : Boleh silahkan. Mau mewawancarai tentang apa ?
Mahasiswa                  : Pada tahun berapa di bangunnya Keraton Kasepuhan ?
Narasumber                 :  Pada tahun 1430.
Mahasiswa                  : Tahun berapa Sunan Gunung Jati diangkat sebagai penguasa
di Cirebon ?
Narasumber                 : Pada tahun 1479, dan pada tahun 1527 masa kejayaan
Keraton Kasepuhan.
Mahasiswa                  : Sampai lupa menanyakan nama Bapak, kalau boleh tahu
nama Bapak sendiri siapa ?
Narasumber                 : Nama saya, Bapak Hariyanto.
Mahasiswa                  : Bapak lahir pada tanggal berapa ?
Narasumber                 : 11 September 1968.
Mahasiswa                  : Bapak sekolah dimana ?
Narasumber                 : Di SLTA Widya Utama, Bapak keturunan dari Banten.
Mahasiswa                  : Kalau boleh tahu nama Istri Bapak siapa?
Narasumber                 : Istri Bapak namanya Fitri Oktavia.
Mahasiswa                  : Tahun berapa membangun Keraton Kasepuhan ?
Narasumber                 : pada tahun 1529 membangun Keraton ke-2, dibagi menjadi 2
keraton dan Pemerintahan masih kesultanan masih aktif, tetapi tidak ke politik. Pangeran Raja Adi Pati Arief  Natadiningrat ke-19.
Mahasiswa                  : Apakah bangunan keraton ini sudah diubah ?
Narasumber                 : Bangunan keraton masih bangunan yang dulu, hanya genting
saja yang diganti.
Mahasiswa                  : Oh.. Berarti bangunan ini sangat kokoh dan juga kuatnya.
Terima kasih atas penjelasannya.
Narasumber                 : ya, sama-sama.




BAB IV
PEMBAHASAN
A.      Pengertian dan Peranan Keraton Kesepuhan  terhadap pemeliharaan kebudayaan di Cirebon
Diceritakan Ki Kuwu Cirebon H. Abdullah Iman, istrinya Dewi Indangayu sudah melahirkan bayi perempuan diberi nama Ratu masa Pakungwati. Kemudian Ki Kuwu membangun keraton disebut keraton Pakungwati pada tahun 1452 M. Pula disebelah timurnya dibangun sebuah “tajug Jami” di pinggir pantai disebut Tajug Pajilagrahan, (sekarang tempatnya disebut kampung Grubugan/ Sitimuliya). Antara tahun istrinya yang kedua mengandung, setelah datang pada waktunya lalu melahirkan seorang bayi lelaki diberi nama Pangeran Carbon pada tahun 1454 M.
Keraton Pakungwati diperlebar dan diperbesar pada tahun 1479 M. setelah membangun keraton Ki Kuwu Cakrabuana bergelar Sri Mangana (Cirebon sejak tahun 1454 M. menjadi sebuah Negara beragama Islam, namun tetap tidak ada paksaan dalam memeluk agama). Kepala negaranya adalah Pangeran Cakrabuana yang bersemayam di Keraton Pakungwati, diakui oleh Prabu Siliwangi Pajajaran sebagai Sri Mangana/ Prabu Anomi.[2]
Pada abad ke-15, pangeran Cakrabuana Putra Mahkota Pajajaran membangun keraton yang kemudian diserahkan kepada putrinya Ratu Ayu Pakungwati, Istri dari sunan Gunung Jati, maka keratonnya di sebut Keraton Pakungwati. Sejak didirikannya Keraton Kanoman pada tahun 1679 oleh Sultan Anom I, Maka semenjak itu Keraton Pakungwati bergelar Keraton Kesepuhan.
Keraton Kesepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna disetiap sudut Arsitektur keraton ini pun terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo didalamnya.
Sebagai pusat dakwah Islam, keraton memegang peranan yang sangat vital, ini jelas terlihat dari sejarah yang menyebutkan bahwa Syaikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) selain berperan sebagai seorang sultan, beliau juga adalah seorang hakim atau Qadi. Ajaran agama Islam yang di bawa wali sanga ini memiliki pemahaman bahwa Islam adalah agama yang Transformatif yang bisa berakulturasi dengan budaya masyarakat di wilayah penyebarannya masing-masing. Oleh karena itu Keraton harus mampu menjadi ujung tombak dan juga pusat dakwah ajaran Islam di wilayah kekuasaannya.
B.       Arsitektur dan Interior
Apabila kita perhatikan ruang luar Keraton Kesepuhan, kita bisa melihat bagaimana perpaduan unsur-unsur Eropa seperti meriam dan Patung Singa dihalaman muka, Furnitur dan meja kaca gaya Perancis tempat para tamu sultan berkaca sebelum menghadap, gerbang ukiran Bali dan Pintu Kayu model ukiran Perancis yang menampakkan gambaran kosmopolitan Keraton Kesepuhan yan tersimpan dalam musium Keraton.
Kegemaran Kesultanan Cirebon mengadopsi gaya dan arsitektur model Eropa yang mengisi bagian dalam Keraton Kesepuhan. Perhatikan bagaimana model dan ukiran ruang pertemuan sultan dengan para menteri yang di buat dengan model hampir sama dalam interior kerajaan perancis dibawah dinasti Bourbon, seperti model kursi, meja dan lampu gantung. Bagaimanapun terdapat kombinasi gaya interior ini apabila kita memperhatikan sembilan kain berwarna di latar belakang singgasana raja yang melambangkan sosok wali sanga. Di sini tradisi Jawa bercampur dengan Eropa yang telah 'di lokalkan'.
Hal yang menarik dari Keraton Kesepuhan adalah adanya piring-piring porselin asli Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak cuma di Keraton, Piring-piring porselin itu bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di Cirebon.
C.      Koleksi Museum
1.        Museum Benda Kuno
Musium ini menyimpan barang-barang kerajinan, diantaranya ;
a)        Seperangkat Gamelan Degung persembahan dari Ki Gede Kawungcaang
Banten tahun 1426. b) Seperangkat Gamelan berlaras Slendro dan Wayang Purwa dari Cirebon tahun 1748 peninggalan Sultan  Sepuh IV.
b)        Seperangkat Gamelan Sekaten persembahan dari Sultan Demak ke III (Sultan Trenggono).
c)        4 buah rebana peninggalan Sultan Kalijaga tahun 1412 dan Genta (bel) yang di namai Bergawang.
d)       Rak berisi beberapa buah tombak untuk khotbah.
e)        Di sudut ruangan ada satu set meja kursi hitam model Eropa.
f)         Vitrin I: Berisi Pagoda Graken untuk tempat jamu, Peti Kandaga dari Suasa tempat perhiasandan Kaca Rias semua peninggalan tahun 1506.
g)        Vitrin II: Berisi tempat tinta dari cina tahun 1697, Ani-ani untuk potong padi, Gelas minum dari VOC tahun 1495,dan alat upacara Raja.
h)        Vitrin III: Berisi 24 buah baju logam disebutHarnas/Malin juga disebut Baju Kere dari Portugis tahun 1527.
i)          Vitrin IV: Berisi Kujang, Cundrik Pedang dan Trisula.
j)          Vitrin V: Berisi beberapa buah mata tombak, dll.

2.    Museum Kereta
Di sebelah timur Taman Bunderan Dewan Daru berdiri bangunan untuk tempat penyimpanan Kereta Pusaka yang dinamakan Kereta Singa Barong.
Di dalam musium Kereta juga terdapat 2 buah Tandu Jempana dari Cina, persembahan dari Kapten Tan Tjoeng Lay dan Kapten Tan Boen Wee tahun 1676. Tandu Jempana ini untuk Permaisuri dan Putra Mahkota. Tandu Garuda Mina di buat pada tahun 1777 di gempol Palimanan, tandu ini di pergunakan untuk mengarak anak yang mau di khitan. Juga terdapat pedang-pedang dari Portugis dan belanda, 2 buah meriam dari Mongolia pada tahun 1424 yang berbentuk naga. Di belakang Kereta terdapat tombak-tombak panjang berbendera kuning yang disebut Blandrang. Juga terdapat Tanggul Gada atau Tanggul Manik sebagai lambang pengayoman. Dan juga seperangkat Angklung Kuno persembahan dari masyarakat daerah Kuningan.
D.      Urutan-urutan Baluarti Keraton Kesepuhan Cirebon
Keraton Kesepuhan Cirebon mempunyai bangunan-bangunan bersejarah dengan urutan Baluarti Keraton meliputi Alun-alun yang fungsinya untuk apel besar dan baris berbaris para prajurit juga pentas perayaan negara, Masjid Agung yang di pergunakan untuk ibadah dan kegiatan Agama, Pancaretna, Panca Niti, Kali Sipadu , Kreteg Pangrawit, Lapangan Giyanti, Siti Inggil, Pengada, Kemandungan, Langgar Agung, Pintu Gledegan, Taman Bunderan Dewan Daru, Musium Benda Kuno, Musium Kereta, Tugu Manunggal, Lunjuk, Sri Manganti, Kuncung dan Kutenegara Wadasan, Pringgandani, Langgar Alit, Jinem Arum, Kaputran, Bangsal Prabayaksa, Kaputren, Dalem Arum, Bangsal Agung Panembahan, Pungkuran, Dapur Mulud, dan juga Pamburatan.[3]







BAB V
PENUTUP
A.      Analisis
Hasil penelitian diharapkan memiliki kegunaan praktis bagi pihak yang ingin mengetahui sejarah Keraton Kesepuhan khususnya dan pihak-pihak lain yang berkaitan umumnya, yaitu sebagai bahan acuan dalam membuat kebijakan untuk menghadapi atau mengatasi permasalahan masa kini dan memprediksi masa yang akan datang.
Kegunaan hasil penelitian secara umum adalah untuk melengkapi dokumentasi kesejarahan Cirebon khususnya sejarah kesultanan. Hasil penelitian ini juga memiliki arti penting sebagai salah satu refisi bagi para pemandu wisata daerah Cirebon dan para peneliti masalah kesultanan, dan mungkin pula berguna sebagai sumber acuan bagi refitalitasi keraton di Cirebon, khususnya keraton Kesepuhan.

B.       Kesimpulan
Berdasarkan konsep tersebut di atas, maka uraian ini membahas suatu pendekatan umum yang menerangkan bahwa Keraton Kesepuhan memiliki Peranan yang sangat penting dalam Pemeliharaan Kebudayaan di kota Cirebon atau bahkan memberikan kontribusi yang mencangkup aspek material dan juga spiritual melalui peninggalan-peninggalannya seperti Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Alat-alat musik, Arsitektur dan Interior bangunannya, serta penyebaran Kebudayaan Islam oleh wali sanga yang harus kita junjung tinggi nilai-nilai moral dan spiritualnya.



DAFTAR PUSTAKA
Purwanto, Ngalim.  2012. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.
Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Sulendranngrat. 1984. Babad Cirebon.
Isosial. 2011. Makalah Keraton Kesepuhan Cirebon. Diunduh pada 23 Oktober 2014. Pkl. 21.00 WIB. Dari  http://isosial.blogspot.com/2011/11/makalah-keraton-
kasepuhan-cirebon.html.


[1] Ngalim Purwanto, 2012, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, hlm. 149.
[2] Sulendranngrat, 1984, Babad Cirebon, hlm. 20-21.
[3] Isosial, 2011, Makalah Keraton Kesepuhan Cirebon, Diunduh pada 23 Oktober 2014, Pkl. 21.00
 WIB, dari,  http://isosial.blogspot.com/2011/11/makalah-keraton-kasepuhan-cirebon.html





HASIL FOTO OBSERVASI













Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...