Minggu, 10 Mei 2020

PERANG SALIB INVASI MONGOL


BAB II
PEMBAHASAN
Invasi Mongol

A.    Asal-Usul Bangsa Mongol
Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah sampai ke Siberia Utara, tibet selatan, dan Manchuria Barat, serta Turkistan Timur. Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan mempunyai dua putra kembar yaitu Mongol dan Tartar. Mongol mempunyai anak Ilkhan yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa Mongol.[1]
Kehidupan bangsa mongol berlangsung sangat sederhana, orang-orang Mongol mempunyai watak yang kasar, suka berperang, dan berani menghadang maut untuk mencapai keinginannya, namun mereka sangat patuh kepada pimpinannya.
Agama bangsa Mongol semulanya ialah Syamanisme, mereka mempercayai adanya Yang Maha Kuasa tetapi mereka tidak beribadah namun menyembah kepada arwah, terutama roh jahat yang mendatangkan bencana.
Pemimpin bangsa Mongol yang pertama yaitu Yesugey yang merupakan ayah Jenghiz nama aslinya yaitu Temujin. Ia adalah seorang pandai besi yang mencuat namanya karena perselisihannya yang dimenangkannya melawan Ong Khan/Togril, sekarang kepala suku Kereyt. Jenghiz adalah gelar bagi Temujin yang diberikan kepadanya oleh sidang kepala-kepala suku Mongol yang mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggibangsa itu pada tahun 1206, atau disebut Jenghiz Khan ketika berumur 44 tahun.
Jenghiz Khan dan bangsa yang dipimpinnya meluaskan wilayah ke Tibet dan Cina tahun 1213 M,dan menaklukkan kota Beijing tahun 1215 M. Invasi Mongol ke wilayah Islam terjadi karena ada peristiwa Utrar, 1218 M yaitu ketika Gubernur Khawarizm membunuh para utusan Jenghiz yang disertai pula oleh saydagar Muslim. Peristiwa tersebut menyebabkan Mongol menyerbu wilayah Islam, dan dapat menaklukkan Transoxania yang merupakan wilayah Khawarizm tahun 1219-1220, padahal sebelumnya mereka itu justru hidup berdampingan secara damai satu sama lain.
B.     Para Pemimpin Mongol yang Terkenal
1.      Jenghiz Khan (7 H/12-13 M)
Jenghiz Khan adalah pemimpin paling terkemuka tanpa tanding. Ia menundukkan seluruh Mongolia dan Tartar dibawah kekuasaannya dan menyatukan mereka, lalu membentuk pasukan yang sangat besar serta telah meletakkan undang-undang Mongolia yang terkenal.
Dengan pasukannya ia menyerbu pemerintahan Khawarizm dan menghancurkannya. Ia menguasai negeri-negeri Asia seperti Bukhara, Balkh, Naisabur, dan Iran.
2.      Hulagu Khan (7H/13M)
Hulagu Khan adalah pimpinan Mongolia yang menghabisi kekhalifahan Abbasiyah dan menghancurkan Baghdad, dengan membunuh sebagian besar pendudukannya. Bahkan juga membunuh Khalifah Al-Mu’tashim, khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah. Selanjutnya ia melanjutkan penyerbuannya menghancurkan sebagian kota-kota di Syiria. Hulagu juga mendirikan Pemerintahan Ilkhan di Irak.
3.      Timur Lenk (8H/14M)
Timur Lenk adalah penguasa muslim India yang memerangi negeri-negeri tetangga seperti Persia, Irak, Syam, dan Turki. Timur Lenk artinya timur yang pincang.
4.      Zhahirudin Babur (10 H/15-16 M)
Zhahiruddin Babur adalah pendiri kekaisaran Mongolia (muslim) di India, yang berkuasa sepanjang tahun 932-1275 H/1526-1858 M.
C.     Ciri-ciri Masa Mongol
a.       Berpindahnya pusat ilmu.
Kegiatan ilmu yang pada masa Abbasiyah berpusat dikota-kota Baghdad, Bukhara, Naisabur, Ray, Cordova, Sevilla, ketika kota-kota tersebut hancur maka kegiatan ilmu berpindah ke kota-kota Kairo, Iskandariyah, Usyuth, Faiyun, Damaskus, Hims, Halab dan lain-lain kota di Mesir dan di Syam.
b.      Tumbuhnya ilmu-ilmu baru.
Dalam masa ini mulai matang ilmu umron (sosiologi) dan filsafat tarikh (philosophy of history) dengan munculnya Muqaddimah Ibn Khaldun sebagai
c.       Kurangnya kutubul khanah.
d.      Banyaknya sekolah dan mausu’at.
e.       Penyelewengan ilmu.

D.    Serangan Hulagu Khan
Tahun 1258 wilayah kultur Arab menjadi jajahan Mongol setelah Baghdad. Hulagu membentuk Kerajaan Ilkhan yang berpusat di Tabris dan Maragha. Ia dipercaya oleh saudaranya , Mongke Khan untuk mengembalikan wilayah-wilayah Mongol di Asia Barat yang telah lepas dari kekuasaan Mongol setelah kematian Janghiz Khan. Ia berangkat dengan disertai pasukan yang besar untuk menunaikan tugas tersebut tahun 1253 dari Mongolia. Atas keprcayaannya tersebut, Hulagu dapat menguasai wilayah yang luas seperti Persia, Irak, Cucasus dan Asia Kecil.sebelum menundukkan Baghdad, ia telah menguasai Baghdad, ia telah menguasai pusat gerakan Syi’ah Isma’iliyah di Persia Utara tahun 1256.
Pada bulan Januari 1258, dinding-dinding kuat Baghdad diserang oleh pasukan Hulagu Khan. Orang-orang Mongol itu tidak menerima syarat-syarat yang diajukan oleh pihak Abbasiyah untuk menerima penyerahan kota. Bahkan mereka pula tidak dapat menerima ancaman-ancaman yang direkayasa dan dipercayai oleh penduduk Baghdad, seperti akan hancur bagi siapa pun yang memusuhi khalifah Abbasiyah dan jika khlaifah dibunuh maka kesatuan alam akan terganggu, matahari akan sembunyi, hujan akan terhenti turun dan tumbhu-tumbuhan tidak akan hidup lagi. Hulagu tidak akan menrima ancaman yang berbau gaib karena ia telah dinasihati oleh para astrolognya.
Pasukan Mongol menyerang kota Baghdad pada tanggal 10 Februari 1258. Khalifah dan para pejabat tinggi negara menyerah tanpa syarat, sepuluh hari kemudian mereka dibunuh termasuk sebagian besar keluarga khalifah dan penduduk yang tidak berdosa. Akibat dari pembunuhan dan keruskan ini yaitu timbulah penyakit tipes lantaran mayat-mayat yang bergelimpangan belum sempat dikebumikan, hulagu menggunakan gelar Ilkhan dan menguasai wilayah yang  lebih luas lagi hingga ke Syiria Utara, seperti kota Aleppo, Hama dan Harim.
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa pada tahun 656 H/1258 M, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang tiba di salah satu pintu Bgahdad. Khalifah Al-Mu’tashim, penguasa terakhir Bani Abbasiyah di Baghdad betul-betul tidak dapat membendung topan tentara Hulagu Khan. Para saat yang kritis tersebut, wazir khalifah Abbasiyah, Ibnu Al-Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. Ia mengatakan pada khalifah,”aku telah menemui mereka untuk perjanjian damai. Raja (Hulagu Khan) ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakar, putra khalifah. Dengan demikian, Hulagu Khan menjamin posisimu. Ia tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan, sebagaimana kakek-kakekmu terhadap sultan-sultan Saljuk.
            Khalifah menerima usul tersebut. Ia keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara, permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. Hadiah-hadiah tersebut dibagikan Hulagu kepada panglimanya. Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fiqh dan orang-orang terpandang. Akan tetapi, sambutan Hulagu sungguh diluar dugaan khalifah. Apa yang dikatakan wazirnya ternyata tidak benar. Mereka semua, termasuk wazir sendiri, dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran. Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Kota Baghdad sendiri dihancurkan sehingga rata dengan tanah, sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut.
            Selanjutnya ia ingin merebut Mesir, tetapi malang, pasukan Mamluk rupanya lebih kuat dan lebih cerdik sehingga pasukan Mongol dapat dipukul di ‘Ain Jalut, Palestina, tahun 1260 sehingga mengurungkan niatnya melangkahi Mesir.
            Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama 2 tahun, sebelum melanjutkan gerakan ke Syiriya dan Mesir. Dari Baghdad, pasukan Mongol menyebrangi sungai Eufrat menuju Syiria, kemudian melintasi Shinai, Mesir. Pada tahun 1260 M, mereka berhasil menduduki Nablus. Panglima tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir meminta agar Sultan Qutus yang menjadi raja Kerajaan Mamalik di sana menyerah. Permintaan itu ditolak oleh Qutus, bahkan utusan Kitbugha dibunuhnya.
            Tindakan Qutus ini menimbulkan kemarahan di kalangan tentara Mongol. Kitbugha kemudian melintasi Yordania. Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamalik yang dipimpin langsung oleh Qutus dan Baybras di ‘Ain Jalut. Pertempuran dahsyat pun terjadi. Pasukan Mamalik berhasil menghancurkan tentara Mongol pada 3 September 1260 M.
            Baghdad dan daerah-daerah yang ditaklukan Hulagu selanjutnya di perintah oleh Dinasti Ilkhan. Ikhlan adalah gelar yang diberikan kepada Hulagu. Dari sinilah di kemudian hari muncul Kerajaan Mongol Islam. Karena keturunan Hulagu Khan yang masuk Islam dan mendirikan Kerajaan Mongol Islam dengan nama Dinasti Ilkhan.     
E.     Dinasti Di Persia
Hulagu mendirikan negara besar Mongol yang memperluas kekuasaannya sampai ke Persia, Irak, dan Asia Kesil. Pada tahun 1259, Hulagu mendirikan observatorium di kota Maragha atas nasihat ahli astrologi filsafat terkemuka, Nasiruddin At-Tus. Kota ini menjadi tempat tinggal bagi para ahli teologi Islam, ahli filsafat, dan ahli kedokteran, dan berisi sejumlah besar buku-buku yang pada awal mulanya ditempatkan di sebuah perpustakaan besar di Baghdad.
Hulagu digantikan oleh anaknya yaitu Abaqa (1265-1282 M) yang menjadi Kaisar Ilkhan kedua di Persia. Abaqa sangat menaruh simpati kepada kaum kristen, hal tersebut terjadi karena pengaruh janda ayahnya, anak perempuan tertua dari Wang Khan, terkenal dalam sejarah orang-orang Eropa di abad pertengahan seperti halnya Prester John, pemimpin keluarga Krait. Ia memiliki hubungan yang sangat baik dengan Paus, raja-raja Eropa dan orang-orang Salib Syria disebabkan perkawinannya dengan anak perempuan kaisar Bizantium dan ia menginginkan bantuan mereka untuk melawan Mamluk di Mesir.
Ahmad Takudar (1282-1284 M), merupakan kaisar Mongol ketiga di Persia. Ahmad Takudar merupakan orang pertama diantara mereka yang masuk Islam. Awalnya ia dibesarkan sebagai seorang Kristen dan sudah dibaptis dan dijuluki Nicola. Ketika ia sudah mencapai masa baligh, ia berbalik kepada Islam karena pergaulannya dengan teman-teman muslim. Ia menyatakan bahwa ia ingin dipanggil dengan nama Ahmad Khan. Ia berusaha untuk mengajak seluruh bangsa Mongol kepada kepercayaan ini dan banyak yang memberikan respon. Sebagai ekspresi loyalitasnya terhadap Islam, ia mengirimkan pesan kepada para teolog di Baghdad dan kepada Sultan Mamluk di Mesir menyatakan keinginannya untuk melindungi dan mempertahankan reputasinya.
Hal tersebut menyebabkan rakyat menjadi berang dan bekerja sama dengan para bangsawan untuk memecatnya. Pada tanggal 10 Agustus 1284 M, takudar ditangkap dan dihukum mati oleh Arghun. Ia dengan seketika menegakkan kebijaksanaan pemimpin sebelumnya yang bersifat ramah tamah terhadap para tetangganya yang beragama Islam. Namun demikian, Arghun menghukum mati orang Islam di negaranya, mengusir mereka dari kedudukannya di dalam lembaga keadilan dan keuangan dan melarang mereka untuk memperlihatkan diri di Istananya.
Ghazan (1295-1304 M) Kaisar Ilkhan bangsa Mongol ketujuh di Persia. Ia dibesarkan sebagai seorang Budha dan telah membangun beberapa kuil Budha di Persia. Ia sudah mempelajari ajaran-ajaran agama yang  berbeda pada zamannya dan kerap kali mengadakan diskusi dengan tokoh-tokoh terpelajar dari setiap kepercayaan. Begitu raja ketiga memeluk Islam dan menjadikan agama Islam sebagai agama resmi pemerintahannya.
Ghazan digantikan oleh Uljaytu Banda (1305-1316 M), putra Arghun yang kekuasaannya termasuk Persia, Irak, dan Azerbaijan. Ia mengesahkan atau menegakkan seluruh peraturan atau hukum yang berlaku di masa para pemimpin sebelumnya. Pada tahun pengangkatannya, ia mendirikan kota raja Sultaniyya, dekat Zanjan. Uljayatu mengangkat Rashiduddin, ahli sejarah dan astronomi terkemuka dan Sa’id dari Sawa sebagai menteri keuangan.
Setelah meninggalnya Uljaytu Khuda Banda, anaknya yang masih muda yaitu Abu Said (1317-1334 M), merupakan deretan terakhir dari pemimpin-pemimpin bangsa Mongol Ilkhan di Persia, ia menggantikan ayahnya untuk menaiki tahta kepemimpinan. Ia mengangkat Rashiduddin dan Ali Shah sebagai menteri untuk pemerintahannya, namun Ali Shah segera memasuki konspirasi untuk mrelawan saingannya yaitu Rashiduddin yang dipecat dan di eksekusi karena dengki dengan kejujuran, loyalitas, dan ilmu pengetahuannya.
Tahun 1318-1319 M, Asia kecil mengalami bencana kelaparan, pada tahun 1320 M terjadi taufan dengan hujan es yang sangat mengerikan. Dengan adanya bencana tersebut, Abu Sa’id berkonsultasi dengan para teologi untuk menginterpretasikan sebab-sebab malapetaka tersebut disebabkan keteledoran yang terdapat di seluruh negara, seperti minum-minuman keras dan pelacuran. Oleh karena itu Abu Sa’id menutup seluruh rumah yang tidak beraturan dan menyuruh agar menghancurkan sejumlah minuman keras. Ia hanya igin ada sebuah minuman keras di setiap daerahnya sebagai persediaan untuk para musafir.

F.      Kebudayaan Mongol Islam
Hukagu Khan merupakan pribadi yang tertarik pada bangunan dan arsitektur yang indah dan filsafat, atas saran Nasiruddin At Tusi, seorang filsuf muslim besar, ia membangun observatorium di Maragha tahun 1259.
Sebagian wilayah Ilkhan yang berada dikawasan kebudayaan Arab seperti Irak, Kurdistan dan Azerbaijan, diwarisi oleh Dinasti Jalayiriyah. Jalayir adalah suku Mongol yang mengikuti Hulagu ketika menaklukkan negeri-negeri Islam.
Pada masa Uways, pengganti Hasan Agung, Jalayiriyah baru memiliki kedaulatan secara penuh. Ia dapat menundukkan Azerbaijan, namun mendapat perlawanan dari Dinasti Muzaffariyah dan khan-khan Horde Keemasan. Mereka akhirnya dikalahkan oleh Qara Qoyunlu.
Dari sini dapat dilihat bahwa kultur Islam yang berada di kawasan Arab seperti Irak dan Syiria serta sebagian Persia sebelah barat, walaupun secra politis dapat ditaklukkan oleh Mongol, tetapi akhirnya Mongol sendiri terserap ke dalam budaya Islam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa akar budaya Islam di kawasan budaya Arab diperintah bukan hanya dinasti yang berbangsa Arab, tetapi siapa yang kuat akan memerintah wilayah tersebut. Dinasti-dinasti silih berganti menguasai wilayah tersebut dan yang bertahan ialah kekuasaan dari bangsa Arab, baik pada masa klasik ataupun masa modern.[2]

G.    Dampak Kekuasaan Mongol
Dampak negatif kekuasaan Mongol terhadap peradaban Islam jauh lebih banyak dibandingkan dengna dampak positifnya. Kehancuran nampak jelas dimana-mana dari serangan Mongol dari wilayah Timur hingga ke Barat. Kehancuran kota-kota dengan bangunan yang indah dan perpustakaan yang mengoleksi banyak buku memperburuk situasi umat Islam. Pembunuhan terhadap umat Islam terjadi bukan hanya pada masa Hulagu yang membunuh khalifah Abbasiyah dan keluarganya, melainkan pembunuhan pun dilakukan pada umat Islam yang  tidak berdosa. Seperti yang dilakukan oleh Arghun terhadap Takudar yang dihukum mati karena masuk Islam. Arghun membunuh umat Islam dan mencopot jabatan penting negara yang mereka sandang.
Bangsa Mongol yang asal mulanya memeluk nenek moyang mereka, beralih memeluk agama Buddha dan rupanya mereka bersimpati terhadap orang-orang Kristen yang bangkit kembali pada masa itu dan mengahalngi dakwah Islam di kalangan Mongol.
Tragedi yang lebih fatal lagi yaitu hancurnya Baghdad sebagai pusat Dinasti Abbasiyah yang di dalamnya terdapat berbagai macam tempat belajar dengan fasilitas perpustakaan, semuanya dibakar oleh Hulagu.
Adapun dampak posoif dengan berkuasanya dinasti Mongol setelah para pemimpinnya memeluk agama  Islam. Mereka dapat menerima dan masuk ke agama Islam disebabkan karena mereka berasimilasi  dan bergaul dengan masyarakat muslim dalam jangka panjang. Seperti yang dilakukan oleh Ghaza Khan yang menjadikan Islam sebagai agam resmi kerajaan. Pendorong masuknya Islam ialah karena pengaruh menteri Rashiduddin yang terpelajar dan ahli sejarah yang terkemuka yang selalu berdialog dengannya, dan Nawruz seorang gubernurnya untuk beberapa provinsi Syiria. Ia menyuruh kaum Kristen dan Yahudi untuk mencetak uang  yang berciirikan Islam, melarang riba serta menyuruh para pemimpinnya menggunakan sorban.


Perang Salib


A.    Timbulnya Perang Salib
Perang Salib (The Crusades War) adalah serangkaian perang agama selama hampir dua abad sebagai reaksi Kristen Eropa terhadap Islam Asia. Perang ini terjadi karena sejumlah kota dan tempat suci Kristen di duduki Islam sejak 632, yaitu di daerah Suriah, Asia Kecil, Spanyol, dan Sicilia. Militer Kristen menggunakan salib sebagai simbol yang menunjukkan bahwa perang ini suci dan bertujuan membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari orang Islam.
Penyebab awal perang salib ini adalah adanya persaingan antara Islam dan Kristen. Penguasa Islam Alp Arselan yang memimpin gerakan ekspansi yang dikenal dengan peristiwa “Manzikart” pada tahun 464 H (1071 M) menjadi orang-orang Romawi terdesak. Tentara Alp Arsenal yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-Hajr, Prancis dan Armenia.[3] Peristiwa ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap umat Islam, sehingga mencetuskan Perang Salib.
Menurut Philip K. Hitti, perang salib adalah reaksi dunia kristen di Eropa terhadap dunia Islam di Asia, sejak tahun 632 M yang merupakan pihak penyerang di Syiria dan Asia kecil, tetapi juga di Spanyol dan Sisilia. Dilihat dari sudut lain, maka faktor-faktor yang turut menimbulkan Perang Salib ialah keinginan mengembara dan bakat kemiliteran bangsa Teutonia yang mrngubah peta Eropa sejak mereka memasuki lembaran sejarah, penghancuran gereja suci dilakukan oleh seorang khalifah Fathimiyah tahun 1009, sedangkan gereja tersebut merupakan tujuan ribuan jamaah dari Eropa, dan perlakuan buruk yang dialami jamaah Kristen di Asia kecil yang telah diislamkan. Tetapi, yang menjadi penyebab langsungnya perang ini ialah permintaan kaisar Alexius Comnenus tahun 1095 kepada Paus Urbanus II, yaitu meminta bantuan dari Romawi karena daerah-daerahnya yang terserak sampai pesisir laut Marmora ditindas binasakan oleh Bani Saljuk. Bahkan kota Konstatinopel pun diancam direbut oleh kaum muslimin.
Adapun menurut Karen Amstrong sebab utama Perang salib adalah pendudukan Saljuk di Syiria yang sebelumnya dikuasai daulah Fathimiyah pada tahun 1070. Selama pertempuran Saljuk juga terlibat konflik dengan Kekaisaran Baizantium yang sedang lemah dan perbatasannya tidak memiliki pertahanan yang cukup kuat. Ketika pasukan Salib memasuki perbatasan Anatolia, mereka mengalahkan Bizantium di perang Manzikart pada tahun 1071.
Perang Salib berlangsung selama 200 tahun mulai dari 1095-1293 M, dengan 8 kali penyerbuan. Perang tersebut bertujuan untuk merebut kota Palestina dari tangan kaum muslimin. Peperangan ini memakan korban jiwa maupun harta dan kebudayaan yang tidak sedikit jumlahnya. Perang ini pun merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan di pantai Timur Laut Tengah yang merusak hubungan antara dunia Timur dan dunia Barat.
B.     Sebab-Sebab Perang Salib
Faktor utama yang menyebabkan perang salib yaitu :

1.      Faktor agama
Sejak Dinasti saljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan dinasti Fathimiyah pada tahun 1070 M, pihak kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke sanakarena penguasa Saljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitul Maqdis. Bahkan mereka yang pulang berjiarah sering mengeluh karena mendapat perlakuan jelek dari orang Saljuk yang fanatik. Umat Kristen merasa perlakuan para penguasa Saljuk sangat berbeda dari para penguasa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya.

2.      Faktor Politik
Kekalahan Bizantium sejak 330 disebut Konstatinopel (Istambul) di Manzikart, wilayah Armenia pada 1071 dan jatuhnya Asia Kecil ke bawah kekuasaan Saljuk telah mendorong Kaisar Alexius I Comnenus (kaisar Konstatinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus Urbanus II dalam usahnya untuk mengembalikan kekuasaannya di bawah pendudukan dinasti Saljuk. Paus Urbanus bersedia membantu Bizantium karena danya janji antara kaisar Alexius untuk tunduk di bawah kekuasaan Paus di Roma dan harapan untuk dapat mempersatukan gereja Yunani dan Roma.
Di lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah sehinggaorang kristen di Eropa berani untuk ikut mengambil bagian dalam perang Salib. Ketika itu Dinasti Saljuk di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, dan Dinasti Fathimiyah di Mesir dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin goyah. Situasi semakin parah karena adanya pertentangan segitiga antara khalifah Fathimiyah di Mesir, Khalifah Abbasiyah di Baghdad dan Amir Umayyah di Cordova yang memproklamasikan dirinya sebagai khalifah.situasi yang mendorong penguasa Kristen di eropa untuk merebut satu persatu daerah kekuasaan Islam, seperti Dinasti kecil di Edessa dan Baitul Maqdis.
3.      Faktor Sosial Ekonomi
Para pedagang besar yang berada di pantai Timur Laut Tengah, terutama di Venesia, Genoa, dan Pisa berambisi untuk menguasai sejumlah kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Mereka rela menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan mereka apabila pihak Kristen Eropa memperoleh kemenangan. Hal tersebut dimungkinkan karena jalur Eropa akan bersambung dengan rute perdagangan di timur melalui jalur strategis tersebut.
Selain itu, stratifikasi sosial masyarakat Eropa saat itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu kaum gereja, kaum bangsawan serta kesaria, dan rakyat jelata. Kehidupan rakyat jelata sangat tertindas dan terhina, mereka harus tunduk kepada para tuan tanah yang sering bertindak semena-mena dan dibebani berbagai pajak serta sejumlah kewajiban lainnya. Sehingga ketika mereka di mobilisasi oleh pihak gereja untuk turut mengambilbagian dalam perang salibdengan janji akan diberi kebebasan dan kesejahteraan apabila dapat memenangkan perang, mereka menyambutnya dengan spontan melibatkan diri dalam perang tersebut.
Selain hal tersebut pada saat tersebut di Eropa berlaku hukum waris yang menetapkan bahwa hanya anak tertua yang berhak menerima harta warisan. Apabila anak tertua meninggal, harta warisan harus diserahkan kepada gereja. Hal ini menyebabkan populasi orang miskin semakin meningkat.


C.     Periodesasi Perang Salib
Pada umumnya Perang Salib dapat dikelompokkan ke dalam tiga periode sebagaimana disebutkan oleh Philip K Hitti dan Badri Yatim :
1.      Periode Pertama
Pidato Paus Urbanus II pada Konsili Clermont (26 November 1095 M) menggema ke seluruh penjuru Eropa yang membangkitkanseluruh negara Kristen mempersiapkan berbagai bantuan untuk mengadakan penyerbuan. Gerakan ini merupakan gerakan spontanitas yang diikuti berbagai kalangan masyarakat.
Menurut Hasan Ibrahim Hasan dalam Tarikh Al Islam, gerakan ini merupakan gerombolan rakyat jelata yang tidak memiliki pengalaman berperang, tidak disiplin, dan tanpa memiliki persiapan. Dipimpin oleh Piere L’Ermite. Sepanjang jalan menuju kota Konstatinopel, gerakan ini membuat keonaran, perampokan, dan bentrokan dengan penduduk Hongaria dan Bizantium. Akhirnya pasukan Salib dapat dikalahkan oleh Dinasti Saljuk.
Pasukan salib angkatan berikutnya dipimpin oleh Godfrey of Boulion. Gerakan ini merupakan ekspedisi militer yang terorganisasi rapi. Pada musim semi tahun 1095 M, pasukan ini berangkat ke Konstatinopel kemudian Palestina. Tentara Salib memperoleh kemenangan besar yaitu tanggal 18 Juni 1097 berhasil menaklukan Nicea, dan tahun 1098 menguasai Edessa. Mereka mendirikan Kerajaan Latin I dengan Baldwin sebagai rajanya. Selain itu mereka menguasai Antiochea  dan mendirikan kerajaan Latin II di Timur, rajanya yaitu Bohemond. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis (Yerussalem) dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya yaitu Godfrey. Setelah itu tentara Salib melanjutkan ekspansinya, mereka menguasai kota Akka, Tripoli dan Tyre. Di Tripoli mereka mendirikan Kerajaan Latin IV dengan Raymond rajanya.
Pada tahun 1127 M, muncul Imaduddin Zanki seorang pahlawan Islam termasyhur dari Mousul, yang dapat mengalahkan tentara Salib di kota Aleppo Hamimah dan Edessa. Kemenangan itu merupakan kemenangan pertama kali yang di susul dengan kemenangan selanjutnya sehingga tentara salib merasakan pahitnya kekalahan demi kekalahan.

2.      Periode Kedua
Wafatnya Imaduddin Zanki pada tahun 1046 M, membangkitkan anaknya Nuruddin Zanki untuk melanjutkan tugas sang ayah dalam berjihad. Nuruddin berhasil merebut kembali Antiochea pada tahun 1149 M, dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali.
Jatuhnya Edessa ini menyebabkan orang-orang kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Codrad II. Keduanya memimpin pasukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syiria. Namun mereka tidak berhasil memasuki Damaskus karena di hadang oleh Nuruddin Zanki. Akhirnya mereka melarikan diri ke negerinya.
Nuruddin wafat pada tahub 1174 M. Kemudian pimpinan perangpun dipegang oleh Shalahuddin Al-Ayyubi yang berhasil mendirikan Dinasti Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M. Hasil peprangan Shalahuddin yang terbesar adalah merebut kembali Yrusalem pada 2 Oktober 1187 M. Sehingga kerajaan Latin yang didirikan tentara Salib di Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir.
Jatuhnya Yerussalem sangat memukul tentara Salib, hal ini menyebabkan mereka menyusun rencana untuk membalasnya. Kali ini tentara Salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa raja Jerman, Richard The Lion Hart raja Inggris dan Philip Augusstus raja Perancis. Pasukan ini mendapat tantangan yang berat dari Shalahuddin, namun mereka dapat merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota Kerajaan Latin, namun mereka tidak berhasil merebut Palestina
Pada tanggal 2 November 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Shalahuddin yang disebut dengan Shulh Ar-Ramlah. Perjanjian itu berisi bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Baitul Maqdis tidak akan diganggu. Setelah perjanjian tersebut disepakati, Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi meninggal dunia pada Februari 1193 M.

3.      Periode Ketiga
Tentara Salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Mereka berusaha merebut Mesir terlebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan mendapat bantuan dari orang-orang Kristen Qibti.
Dalam periode ini munculnya pahlawan wanita Islam yang gagah berani yaitu Syajar Ad-Dur. Ia berhasil menghancurkan pasukan raja Louis IX darIa berhasil menghancurkan pasukan raja Louis IX dari Perancis dan sekaligus menangkap raja tersebut. Syajar telah mampu menunjukkan sikap kebesaran Islam dengan mebebaskan dan mengizinkan raja Louis IX kembali ke negerinya.
Meskipun menderita kekalahan dalam perang Salib, umat Kristen Eropa telah mendapatkan hikmah yang tidak ternilai karena mereka dapat berkenalan dengan kebudayaan dan peradaban Islam yang sudah sedemikian maju. Hal tersebut menyebabkan lahirnya renaisans di Barat.





DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah
Al-Usairy, Ahmad. 2009. Sejarah Islam. Jakarta: Akbar Media
Armstrong, Karen. 2002. Islam Sejarah Singkat. Yogyakarta: Jendela
Mahmudunnasir, Syed. 1988. Islam Konsepsi Sejarah. Bandung: Remaja Rosda Karya
Sunanto, Musrifah. 2003. Sejarah Islam Kelasik. Jakarta : Prenada Media
Yatim, Badri. 1993. Sejarah Peradaban Islam.Jakarta: Raja Rafindo Persada.



[1] Dr. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998, hal. 111.
[2] Dr. Samsul Munir Amin, M.A, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2010. Hal. 225-227.
[3] Dr. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998, hal.76.

Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...