Minggu, 24 Mei 2020

CARL GUSTAV JUNG (PSIKOLOGI ANALITIK)


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Psikologi Analitik
Menurut teori Jung, pikiran (psike) terbagi menjadi tiga bagian:
1.    Ego sadar
Ego yang dikemukakan oleh Jung ini sangat mirip dengan ego yang diajukan oleh Freud dalam hal cakupan dan artinya, yaitu aspek dari kepribadian yang disadari, ditambah dengan perasaan akan diri (Jung percaya bahwa identitas personal ini, atau ego, berkembang ketika individu berusia sekitar empat tahun)
2.    Ketidaksadaran Personal
Ketidaksadaran personal, berisikan pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan yang bukan merupakan bagian dari kesadaran saat itu, akan tetapi sesungguhnya masih tetap dapat diakses. Ketidaksadaran personal ini berisi pemikiran-pemikiran dan dorongan-dorongan yang tidak penting pada masa kini, seperti halnya pemikiran dan dorongan yang akan ditekan secara aktif karena sifatnya yang mengancam ego.
Jung juga memandang ketidaksadaran personal mencakup materi masa lalu dan masa depan. Pemikiran ini berkembang dari observasi Jung terhadap para pasiennya yang mengalami mimpi yang berhubungan dengan peritiwa-peristiwa dan persoalan-persoalan masa depan. Hal ini bukan berarti bahwa mereka  “melihat” masa depan, namun lebih bahwa mereka merasakan hal-hal yang mungkin akan terjadi.
Pada akhirnya, Jung percaya bahwa ketidaksadaran personal ada untuk mengimbangi ide-ide dan sikap-sikap sadar, yaitu jika pandangan sadar seseorang hanya melihat satu sisi, ketidaksadaran personal mungkin akan melihat sudut pandang yang sebaliknya melalui mimpi atau cara lain, sebagai usaha untuk mengembalikan keseimbangan yang dimaksud.

3.    Ketidaksadaran kolektif
Mungkin yang paling kontroversial adalah fakta bahwa ketidaksadaran kolektif ini melibatkan tingkat yang lebih dalam dari ketidaksadaran dan dibentuk oleh symbol emosional yang sangat kuat yang disebut sebagai arketipe.
Gambaran ini sudah dikenal banyak orang dan telah terbentuk sejak awal mula kehidupan.Arketipe-arketipe ini berasal dari reaksi-reaksi emosional nenek moyang kita terhadap peristiwa-peristiwa yang terum menerus berulang, seperti terbit dan tenggelamnya matahari, perubahan musim dan hubungan interpersonal yang terus muncul seperti hubungan ibu dan anak. Adanya arketipe atau pola-pola emosi tertentu mempengaruhi kita untuk berperilaku dalam cara yang terprediksi terhadap stimulus yang umum.[1]
Carl Gustay Jung awalnya kolega Feud namun, dia keluar dari psikoanalisis ortodoks untuk mendirikan teori kepribadian yang berbeda.Pesikologi analitik dibengun diatas asumsi bahwa fenomena gaib dapat dan sungguh memengaruhi hidup setiap orang.Jung percaya bahwa setiap dari kita dimotivasikan bukan hanya oleh pengalaman-pengalaman bernada emosi yang diwarisi dari nenek moyang kita.Imaji-imaji warisan  ini membentuk apa yang disebut Jung alam bawah sadar kolektif.Alam bawah sadar kolektif mencakup elemen-elemen yang tidak pernah kita alami secara individual namun yang diturunkan pada kita dari nenek moyang kita.
Beberapa elemen bahwa sadar kolektif ini menjadi sanagt berkembang, dan Jung menyebutkan arketipe.Arketipe yang paling inklusif adalah konsep perealisasian-diri yang hanya hanya dapat bercapai dengan mencapai keseimbangan di antara beragam daya kepribadian yang berlawan.Kalau begitu, teori Jung merupakan sebuah kompedium dari kutub-kutub yang saling berlawanan.Manusia introver sekaligus ekstrover, rasionalsekaligus irasional, laki-laki sekaligus perempuan, sadar sekaligus tidak sadar, dan didorong oleh kejadian-kejadian masa lalu sekaligus ditarik oleh ekspetasi-ekpetasi masa depan.
Bab ini membahas sejumlah detail dalam hidup Carl Jung yang panjang dan penuh warna, dan menggunakan fragmen-fragmen dari sejarah hidupnya mengilustrasikan konsep-konsep dan teori-teorinya.Konsep bawah sadar kolektif Jung menjadi teorinya salah satu yang paling menarik dari semua konsep kepribadian.

B.     Dinamika Kepribadian
Di bagian dinamika kepribadian ini,  akan melihat gagasan Jung tentang kausalitasdan  teologi, dan tentang progresi  dan regresi.
1.       Kausalitas dan Teleologi
Apakah motivasi sebab-sebab masa lalu ataukah dari tujuan-tujuan teleologis?Jung berpendapat bahwa motivasi berasal dari keduanya.Kausalitas meyakini bahwa peristiwa-peristiwa masa kini memiliki asal usul di dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya. Freud sangat meyakini sudut pandang kausal dalam penjelasannya mengenai perilaku orang dewasa berdasarkan pengalaman-pengalam masa kanak-kanak awal mereka (lihat bab 2).
Jung mengkritik Freud karena telah menjadi satu-sisi dalam penekanan terhadap kuasalitas dan menegaskan bahwa pandangan kausal saja tidak bisa menjelaskan semua motivasinya.Sebaliknya, teleologi meyakini bahwa peristiwa-peristiwa masa kini dimotivasikan oleh dan tujuan-tujuan aspirasi-aspirasi kedepan yang mengarahkan tujuan seseorang.
Adler memegang pandang ini, menegaskan bahwa manusia dimotinasikan oleh persepsi-persepsi sadar dan tidak mengenai tujuan-tujuan akhirnya fiksional (lihat bab 3). Jung tidak begitu banyak mengkritik adler jika dibandingkan terhadap Freud namun, dia menegaskan bahwa perilaku manusia dibentuk oleh daya-daya kausal sekaligus teleologis dan bahwa penjelasan-penjelasan teleologis.
Penekanan Jung terhadap keseimbangan bisa dilihat dan konsepsinya tentang mimpi.Dia setuju Freud bahwa kebanyakan mimpi berasal dari masa lalu, yaitu disebabkan oleh pengalaman-pengalaman sebelumnya. Namun disisi lain, Jung mengklaim sejumlah mimpi dapat membantu seseorang mengambil keputusan tentang masa depan, sama seperti mimpinya sendiri yang membuat penemuan-penemuan penting dalam ilmu alam akhirnya membawa dia kepada pilihan kariernya saat ini.
Sifat pokok prosese energy selain arahnya adalah nilai intensitasnya (werteintensitat).Bentuk khusus manifestasi energy di dalam jiwa adalah gambaran.Gmbaran itu adalah hasil fantasi mencipta yang menonjolkan bahwa dari ketidaksadaran menjadi gambaran seperti yang terdapat pada mimpi.Dalam mimpi gambaran itu merupakan lambing yang isinya atau maknanya bergantung pada banyak sedikitnya energy.
Adapun gambaran itu bergantung hubungan dimana gambaran itu muncul yaitu nilai gambar dalam keselurruhan konteks proses psikis. Gambaran yang sama, dalam konteks yang satu merupakan pemegang peran utama, adapun pada konteks yang lain hanya memegang peran yang tidak penting.
Keempat fungsi jiwa (pikiran, perasaan, pendirian, dan intuisi) yang pokok dan kedua sikap jiwa (ekstravers dan intrivers) serta berbagai system yang membentuk keseluruhan kepribadian berinteraksi satu sama yang lain dalam tiga mcam cara yaitu, sebagai berikut:
a.       Sesuatu aspek atau system mengkompensasikan kelemahannya terhadap yang lain
b.      Sesuatu aspek atau system menentang aspek atau system yang lain
c.       Satu atau dua system mungkin bersatu untuk membentuk sintesis.

2.  Progresi dan Regresi
Untuk mencapai realisasi-diri, manusia harus beradaptasi bukan hanya kepada lingkungan luar, tetapi juga dengan dunia batin mereka.Adaptasi kepada dunia luar melibatkan aliran maju energy psikis yang disebut Progres, sedangkan adaptasi dengan dunia batin mengandalkan arus mundur energy psikis yang disebut Regresi.Keduanya, progresi dan regresi sangat esensial jika manusia ingin mencapai pertumbuhan individual atau realisasi-diri.
Progresi mencakup seseorang yang bereaksi secara konsisten berdasarkan seperangkat kondisi lingkungan, sedangkan regresi adalah langkah mudur yang dibutuhkan demi pencapaian suatu tujuan sampi berhasil. Regresi mengaktifkan psike yang tidak didasari, sebuah bantuan esensial dalam menyelesaikan sebagian  besar masalah. Jika dilakukan sendiri-sendiri, progresi maupun regresi tidak akan mengarah kepada perkembangan-entah keduanya dapat mengarah pada keberat-sebelahan atau kegagalan dalam beradaptasi. Namun jika keduanya dipadukan, dikerjakan bersama-sama, barulah hal ini dapat mengaktifkan proses perkembangan pribadi yang sehat (Jung, 1928/1960).
Regresi dicontohkan dalam krisis paruh baya Jung, di mana selama periode-periode itu hidup pesikisnya bergerak ke dalam menuju alam bawah dasar dan menjauh dari pencapaian keluar apa pun yang signifikan. Dia menghabiskan sebagian energinya mengenali pesikenya yang tidak disadari dan sedikit saja menulis dan memberi kuliah.Regresi mendominasi hidupnya ketika progresi hamper-hampir berhenti.Kemudian dia bangkit dari periode ini dengan keseimbangan psike lebih besar sekali lagi menjadi tertarik kepada dunia yang terekstraversi.Namun begitu, pengalaman-pengalaman regresifnya dengan dunia yang teriontroversi sudah membentuknya secara permanen dan mengubahnya secara mendalam.Jung (1961) yakin bahwa langkah regresif dibutuhkan untuk menciptakan sebah kepribadian yang seimbangan dan untuk tumbuh menuju perealisasian-diri.
C.    Tahap Perkembangan
Proses individuasi ini ditandai oleh macam-macam perjuangan batin melalui berbgai macam tahap perkembangan.
1.      Masa Muda
Periode dari pubertas sampai paruh baya disebutmasa muda.Anak muda berjuang meraih kemandirian psikis dan fisik dari orang tua mereka, menemukan belahan jiwanya, membentuk keluarganya, dan merebut sebuah tempat dimpanggung dunia ini.
Menurut Jung (1931/1960-an), masa muda merupakan, atau mestinya, sebuah periode peningkatan aktivitas, kematangan seksualitas, tumbuhnya kesadaran dan pemahaman bahwa era kanak-kanak yang bebas dari masalah tidak akan pernah kembali lagi. Kesulitan utama yang dihadapi orang muda adalah menaklukkan kecenderungan alamiah (yang ditemukan juga pada usia pertengahan dan tahun-tahun berikutnya) untuk mengandalkan kesadaraan sempit kanak-kanak agar terhindar dari masalah-masalah yang terus mengganggu seumur hidup. Hasrat untuk hidup dimasa lalu ini disebut Jung prinsip konservatif.
Pribadi paruh baya atau lebih tua terus berusaha mempertahankan nilai-nilai masa mudanya akan menghadapi remuknya paruh hidup kedua, cacat dalam kapasitasnya untuk mancapai realisasi diri, dan ketidak sempurnaan kemampuannya untuk mencapai tujuan-tujuan baru atau mencari makna baru untuk hidup (Jung, 1931/1960-an).
2.      Paruh Baya
Jung percaya bahwa hidup paruh baya dimulai kira-kira pada usia 35 sampai 40 tahun, seperti ilustrasi matahari yang melewati titik zenith dan mulai bergerak turun ke cakrawala. Meskipun penurunan ini dapat menghadapkan orang-orang paruh baya kepada peningkatan kecemasan namu, hidup paruh baya juga menjadi periode potensial yang menakjubkan.
Jika orang-orang paruh baya memperhatikan nilai-nilai social dan moral dari hidup mereka sebelumnya, maka mereka menjadi sangat kolot dan fanatik dalam upayanya mempertahankan daya tariff fisik dan ketangkasan mereka. Ketika menemukan bahwa ideal-ideal mereka mulai bergeser, mereka bisa berjuang dengan penuh rasa putus asa untuk mepertahankan penampilan dan gaya hidup masa muda.
Kebanyakan dari manusia, tulis Jung (1931/1960-an halaman 399), tidak sikap “mengambil langkah maju dalam kehidupan senja namun yang lebih buruk lagi, kita mengmbil langkah ini  menjadi dengan asuransi keliru bahwa kebenaran dan ideal kita akan mendukung kita meskipun . . . kita tidak dapat hidup dalam kehidupan senja berdasarkan program kehidupan fajar karena apa yang besar dalam kehidupan fajar menjadi kecil dalam kehidupan senja, dan apa yang benar dalam kehidupan fajar akan menjadi sebuah dusta dalam kehidupan senja”.
Bagaimana kehidupan paruh baya ini dapat sampai pada kepenuhannya ?orang-orang yang menjalani masa muda mereka tanpa nilai-nilai kanak-kanak atau pun nilai masa muda akan siap untuk mengembangkan kehidupan paruh baya dan dapat hidup maksimal di tahapan ini. Mereka sanggup menyerahkan tujuan-tujuan ektraversi masa muda mereka dan bergerak kea rah perluasan kesadaran secara introversi.
Kesehatan psikologis mereka tidak dikembangkan oleh keberhasilan dalam bisnis, prestise dimasyarakat, ataupun kepuasan dengan kehidupan keluarga. Mereka harus menatap masa depan dan antisipasi , menghentikan gaya hidup masa muda, dan menemukan pemaknaan baru di periode paruh baya. Langkah ini sering kali namun, tidak sellu  mensyaratkan orientasi religious yang matang, khususnya keyakinan kepada hidup sesudah meninggal.
3.      Usia Senja
Seiring dengan senja kehidupan yang makin mendekat, manusia mendekati penyusutan pensdalam sama seperti terang dan kehangatan matahari senja terus merosot. Jika dikehidupan sebelumnya manusia takut pada kehidupan, maka sekarang dan selanjutnya mereka takut pada kematian .rasa takut pada kematian adalah tujuan hidup dimana hidup hanya dapat dipenuhi saat kematian dilihat dalam terang ini. Pada 1934, setelah memasuki usia 60 tahunan, Jung menulis :
Umumnya kita menggantungkan masa lalu kita dan tetap terperangkap dalam ilusi masa muda.Menjadi tua berarti menjadi tidak popular. Tampaknya banyak orang tidak sadar bahwa keinginan untuk tidak menjadi tua sama maksudnya dengan keinginan untuk mengembang biakkan sepatu anak-anak. Menusia 30 tahun yang masih terperangkap sikap kanak-kanak akan menjadi anak muda yang kerdil apakah itu menyenangkan ?belum lagi jika dia kehilangan gaya hidup dan mengalami gangguan psikologis.
Seorang muda yang tidak berjuang dan melakukan hal-hal ini telah kehilangan bagian terbaik masa mudanya. Begitu pula seorang yang tua namun tidak tahu bagaimana cara mendengarkan rahasia kehidupan sungai kehidupan ini, sama seperti orang yang menjatuhkan diri dari lembah, menjadi tidak masuk akal. Mungkin dia menjadi mumi spiritual, sebenarnya tidak memiliki apa-apa kecuali relik-relik masa lalu yang kolot.
Kebanyakan pasien Jung adalah orang-orang paruh baya dan berusia senja, dan banyak dari mereka menderita kenangan masa lalu, bergantung dengan putus asa kepada tujuan dan gaya hidup masa sebalumnya ,dan berjalan mengikuti gerak hidup tanpa tujuan. Jung memperlakukan orang-orang ini dengan  membantu mereka menetapkan tujuan-tujuan baru dan menemukan makna dalam hidup dengan pertama-tama menemukan makna kematian.
Dia sampai kepada perawatan ini melalui interprestasi mimpi, karna mimpi orang tua sering kali dipenuhi oleh symbol-simbol dan kelahiran kembali seperti perjalanan-perjalaan panjang atau perubahan-perubahan dalam lokasi. Jung menggunakan symbol-simbol ini dan symbol lain untuk menentukan sikap bahwa sdar pasien terhadap dan membantu mereka menemukan filsafdat hidup yang bermakna bagi mereka.
a.       Tahap-tahap perkembangan manusia
Tahap perkembangan menurut Jung dibagi menjadi empat tahap, yaitu masa kanak-kanak, masa muda, masa baya, dan masa senja.
1)   Fase kanak-kanak dibagi menjadi tiga sub tahapan yaitu fase anarkis (dicirikan dengan kesadaran chaos dan sporadis), fase monarkis (dicirikan oleh perkembangan ego dan permulaan pikiran logis dan verbal), dan fase dualistic (masa anak-anak saat ego terbagi menjadi subjektif dan objektif)
2)   Masa muda menurut Jung merupakan periode peningkatan aktivitas, kematangan seksualitas, tumbuhnya kesadaran dan pemahaman bahwa masa kanak-kanak yang  bebas dari masalah tidak akan pernah kembali. Periode masa muda dimulai dari pubertas sampai paruh baya
3)   Paruh baya menurut Jung kira-kira usia 35 sampai 40 tahun. Ini adalah ketika manusia mulai mengalami penurunan daya tahan, daya tarik, dan ketangkasan manusia. Meskipun penurunan ini dapat menghadapkan orang-orang paruh baya pada peningkatan kecemasan, masa hidup paruh baya juga menjadi periode potensial yang menakjubkan.
4)   Usia senja, manusia mengalami penyusutan kesadaran. Jika dalam kehidupan sebelumnya manusia takut kehidupan, pada masa ini manusia takut akan kematian.

Menurut Jung, peristiwa psikis tidak selalu dapat dijelaskan dengan prinsip sebab akibat. Dua peristiwa psikis yang terjadi secara bersamaan dan tampak saling berhubungan, yang satu tidak menjadi penyebab dari yang lain, karena sulit membedakan antara masa lalu dan masa depan. Ini yang dinamakan prinsip sinkronisitas. Prinsip sinkronisitaslah yang membuat peristiwa mental atau fisik terjadi bersamaan dengan aktifnya isi-isi tidak sadar
a.       Inviduasi dan Transendensi
Tujuan manusia adalah mancapai kesempurnaan yang disebut realisasi diri.
1.      Individuasi yaitu proses analitik memilah-milah, memerinci dan mengelaborasi aspek-aspek kepribadian
2.      Transendensi yaitu proses sintetik, mengintegrasikan materi tidak sadar dengan materi kesadaran mengintegrasikan system-sistem secara keseluruh agar berfungsi dalam satu kesatuan secara efektif.
b.      Tahap-tahap perkembangan
Hereditas berperan penting dalam psikologi        Jung karena alasan sebagai berikut;
1.      Hereditas berkenaan dengan insting biologis yang berfungsi memelihara kehidupan dan reproduksi
2.      Hereditas mewariskan pengalaman leluhur dalam bentuk arsetip ingatan tentang ras yang telah menjadi bagian dari hereditas karena diulang berkali-kali lintas generasi
D.    Aktifitas Energi Psikis
Energy psikis muncul dari pengalaman individual dan merupakan energi untuk berfikir, berkeinginan, memelihara dan berjuang. Energy psikis mengikuti hukum equivalence dan entropy dari hukum thermodinamika, yaitu jumlah energy tidak akan berubah dan saling berinteraksi agar mencapai keseimbangan. Energy psikis melakukan dua tujuan hidup, yaitu mempertahankan diri dan mengembangkan budaya dan aktivitas spiritual dengan melakukan progression, sublimation (energy bergerak maju), regression dan repression (yang menekankan ketidaksadaran).[2]
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perkembangan kepribadian menurut pandangan Jung lebih lengkap dibandingkan dengan Freud, meskipun Jung adalah salah seorang pendiri teori psikologi dalam dan pernah menjadi murid Sigmund Freud.
Jung menyatakan bahwa manusia selalu maju atau mengejar kemajuan dari taraf perkembangan yang kurang sempurna menuju taraf yang lebih sempurna.Manusia juga selalu berusaha mencaai taraf diferensiasi yang lebih tinggi.Akan tetapi, terlepas dari semua itu, Jung telah berhasil memperluaskan tafsiran tentang penyakit jiwa atau mimpi, sementara Freud hanya mengembangkan interpretasi yang sangat sempit.Jung mengembangkannya ke wilayah interpretasi mitologis, yang setiap hal dapat berarti apapun.
Pada pihak lain Jung juga memiliki kesamaan dengan kalangan non-Freudian dan humanisis. Dia yakin bahwa kita pasti ingin maju, bergerak kea rah yang positif dan bukan hanya ingin beradaptasi dengan perubahan, seperti yang diyakini kalangan Freudian dan behavioris lainnya.Idenya tentang realisasi diri sangat mirip dengan aktualisasi diri.





BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Berdasarkan penjelasan psikologi analitik di atas mengenai dimensi dinamika kepribadian, Energi psikis, dan tahapan perkembangan maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1.      Teori psikologi analitik
Dimensi psikologi analitik dibagi menjadi tiga, yaitu:
a.       Ego sadar
b.      Ketidaksadaran personal
c.       Ketidaksadaran kolektif
2.      Dinamika kepribadian
Di bagian dinamika kepribadian ini,  akan melihat gagasan Jung tentang kausalitasdan  teologi, dan tentang progresi  dan regresi.
3.      Tahapan perkembangan
Proses individuasi ini ditandai oleh macam-macam perjuangan batin melalui berbgai macam tahap perkembangan.
a.       Masa muda
b.      Paruh baya
c.       Masa senja
4.      EnergyPsikis
Psikis  muncul dari pengalaman individual dan merupakan energi untuk berfikir, berkeinginan, memelihara dan berjuang.psikis dan Prinsip Kerja




DAFTAR PUSTAKA
Bahaqi, MIF. 2008. Psikologi Pertumbuhan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Miriam W. Schustack, dkk. 2006. Kepribadian Teori Klasik dan Riset
Modern. Jakarta: Erlangga.
Suryabrata, Sumadi. 1988. Psikologi Kepribadian. Jakarta: CV. Rajawali
Syamsu YusufLN, dkk. 2011. Teori Kepribadian. Bandung: PT Rosdakarya Offset
Ujam Jaenudin, dkk. 2013. Psikologi Kepribadian (Lanjut) Studi Atas Teori
Dan Tokoh Kepribadian. Bandung: Pustaka Setia.




[1]Howard S. Friedman dan Miriam W. Schustack, 2006, Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern, Jakarta: Erlangga, Hal. 129-130.

[2]H. Adang Hambali dan Ujam Jaenudin, 2013, Psikologi Kepribadian (Lanjut) Studi Atas Teori Dan Tokoh Kepribadian, Bandung: Pustaka Setia, Hal. 76-80.

Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...