Sabtu, 23 Mei 2020

Hakikat Dan Metodelogi Pembelajaran PAI


A.    Pengertian Hakikat Pembelajaran
Secara umum istilah belajar dimaknai sebagai suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Dengan pengertian demikian, maka pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, 2000: 24). Adapun yang dimaksud dengan proses pembelajaran adalah sarana dan cara bagaimana suatu generasi belajar, atau dengan kata lain bagaimana sarana belajar itu secara efektif digunakan. Hal ini tentu berbeda dengan proses belajar yang diartikan sebagai cara bagaimana para pembelajar itu memiliki dan mengakses isi pelajaran itu sendiri (Tilaar, 2002: 128).[1]
Menurut Hamalik Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi (siswa dan guru), material (buku, papan tulis, kapur dan alat belajar), fasilitas (ruang, kelas audio visual), dan proses yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.
 Proses tindakan belajar pada dasarnya adalah bersifat internal, namun proses itu dipengaruhi oleh factor-faktor eksternal. Misalnya, perhatian peserta didik dalam pembelajaran dipengaruhi oleh rangsangan yang berasal dari luar.[2]
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi (mengawali), memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik, (Tim Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 2009). Dan juga telah dijelaskan dalam Pasal 1 butir 20 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, yakni “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Pembelajaran Agama Islam sendiri tentunya tidak boleh lepas dengan tujuan utama pendidikan agama di Indonesia yang tercantum dalam pasal 39 ayat 2 UU No. 2 tahun 1989, “pendidikan merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan mempertimbangkan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional”.[3]
Dari beberapa penjelasan tentang pengertian pembelajaran diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri utama pembelajaran yaitu adanya tujuan, inisiatif, fasilitan, dan interaksi antar individu dan lingkungan.
Sedangkan beberapa komponen pembelajaran yang harus diperhatikan oleh peseta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran, diantaranya: tujuan, kurikulum, pendidik, peserta didik, sarana-prasarana, metode, materi, serta evaluasi. Adanya evaluasi dalam komponen pembelajaran ini adalah salah satu langkah untuk memperbaiki segala sesuatu yang kurang dan menigkatkan serta mengembangkan segala sesuatu yang dianggap memenuhi target/baik sebelumnya.
Dari beberapa penjelasan tentang pengertian pembelajaran diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri utama pembelajaran yaitu adanya tujuan, inisiatif, fasilitan, dan interaksi antar individu dan lingkungan.
Sedangkan beberapa komponen pembelajaran yang harus diperhatikan oleh peseta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran, diantaranya: tujuan, kurikulum, pendidik, peserta didik, sarana-prasarana, metode, materi, serta evaluasi. Adanya evaluasi dalam komponen pembelajaran ini adalah salah satu langkah untuk memperbaiki segala sesuatu yang kurang dan menigkatkan serta mengembangkan segala sesuatu yang dianggap memenuhi target/baik sebelumnya.

B.     Pengertian Metodologi Dan Metode Pembelajaran PAI
Metodologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua suku kata: “metodos” berarti “cara” atau “jalan”, dan “logos” berarti “ilmu”.metodelogi berarti ilmu tentang jalan atau cara. Mahmud Yunus mengatakan bahwa metode adalah jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang supayas sampai padatujuan tertentu, baik dalam lingkungan perusahaan atau perniagaan, maupun dalam kupasan ilmu pengetahuan dan lainnya.[4]
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa metodologi pembelajaran islam adalah ilmu yang membahas tentang cara untuk mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan ajaran islam dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Al-Qur’an dan Hadist.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai apa yang telah ditentukan. Dengan kata lain metode adalah suatu cara yang sistematis untuk mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan bila ditinjau dari segi terminologis (istilah), metode dapat dimaknai sebagai jalan yang di tempuh oleh seseorang supaya sampai pada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan atau perniagaan maupun dalam kaitan ilmu pengetahuan dan lainnya. [5]
Pengertian metode pembelajaran adalah pendidikan memegang peranaan penting dalam mempersiapkan sumber daya Manusia yang berkualitas. Oleh karena itu pendidikan hendaknya dikelola, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal tersebut bisa tercapai bila siswa dapat menyelesaikan pendidikan tepat pada waktunya dengan hasil belajar yang baik. Hasil belajar seseorang ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang ada diluar siswa adalah guru professional yang mengelola pembelajaran dengan metode-metode yang tepat, yang member kemudahan bagi siswa untuk mempelajari materi pelajaran, sehingga menghasilkan belajar yang lebih baik.[6]
     Metodologi berarti ilmu tentang metode, sementara metode berarti cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam ilmu tentang mengajar, metodologi disebut didaktik yaitu ilmu yang membahas tentang kegiatan proses belajar mengajar yang menimbulkan proses belajar. Didaktik dibedakan menjadi dua, yaitu dikdaktik umum dan didaktik khusus. Didaktik umum membahas prinsip-prinsip umum dalam mengajar dan belajar, sedangkan didaktik khusus yaitu membahas cara-cara guru menyajikan bahan pelajaran kepada pelajar.[7]
C.      Ruang Lingkup Metodelogi Pembelajaran PAI
Menurut Abu Ahmadi, dalam bukunya, “Didaktik dan Metodik” mengatakan, bahwa ruang lingkup Pendidikan Islam Pada lima hal seperti di bawah ini.
1.    Perencanaan.
Perencanaan (planning) adalah suatu kegiatan kegiatan yang dilakukan sebelum melakukan aktivitas.[8] Menurut Robert Glasar, langkah pertama dalam membuat persiapan mengajar ialah menentukan tujuan pengajaran yang handal di capai pada jam pelajaran yang bersangkutan, langkah kedua ialah menentukan intering bahavior, entering behavior ialah langkah tatkala guru menentukan kondisi siswanya yang mencakup kondisi umum serta kondisi kesiapan kemampuan belajarnya. Langkah ketiga ialah menentukan prosedur (langkah-langkah) mengajar, langkah keempat ialah menentukan cara dan teknik evaluasi.[9]

2.      Bahan Pembelajaran.
Bahan juga disebut juga dengan materi yaitu, suatu yang diberikan kepada siswa saay berlangsungnya proses belajar mengajar (PBM).
3.      Strategi Pembelajaran.
Strategi berarti “rencanan yang cermat mengenai kegaiatan untuk mencapai sarana khusus adalah tindakan guru dalam melaksanakan rencana pemelajaran.
4.      Media Pembelajaran.
Media disebut juga dengan alat yaitu sarana yang dapat membantu PBM atau menetapkan alat penilaian yang paling tepat untuk menilai sarana (anak didik) tersebut.
5.    Evaluasi.
Evaluasi adalah penilaian pada dasarnya adalah memberikan pertimangan atau nilai berdasarkan kreteria tertentu. Fungsi penilaian hasil belajar yang di lakukan dalm PBM adalah Untuk mengetahui tercapainya tujuan pengajaran, dalam hal ini adalah TIK, Untuk mengetahui keefektifan PBM yang telah dilakukan guru, dalam hal ini guru sangat di harapkan kompeten dalam mengajar.[10]

D.      Prinsip- Prinsip Penggunaan Metode Pembelajaran PAI
Metodelogi pembelajaran merupakan ilmu bantu yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi berfungsi membantu dalam proses pembelajaran, karena memberikan alternative dan mengandung unsur-unsur inovatif.
Menurut Mulyasa (2004), tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku peserta didik. Oleh karena itu Firdaus (2005) menjelaskan bahwa pembelajaran pada dasarnya merupakan proses pengalaman belajar yang sistematis yang bermanfaat untuk siswa dalam kehidupannya kelak dan pengalaman belajar yang diperoleh siswa juga sekaligus menghilhami mereka ketika menghadapi problem dalam kehidupan sesungguhnya.[11] Dalam kontek pemberian pengalaman belajar yang dimaksud di atas, maka implementasi metodelogi pembelajaran yang selama konvesional (terpusat pada guru), sudah saatnya untuk diganti dengan metodelogi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif dalam pembelajaran.
Menurut Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Saibany, prinsip-prinsip metodologi pendidikan islam adalah sebagai berikut:
a.     Mengetahui motivasi, kebutuhan, dan minat anak didiknya.
b.    Mengetahui tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
c.     Mengetahui tahap kematangan, perkembangan, dan perubahan anak didik.
d.    Mengetahui perbedaan-perbedaan individu dalam anak didik.
e.     Memperhatikan kepahaman, dan mengetahui hubungan-hubungan, integrasi pengalaman dan kelanjutannya, keaslian, pembaharuan, dan kebebasan berfikir.
f.     Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan
bagi anak didik.
g.    “Menegakkan uswah hasanah.[12]
Pendapat yang hampir sama, menurut Abdurrahman Mas’ud, bahwa secara teknis dalam penerapan metode, guru harus melakukan hal-hal sebagai berikut :
a)    Guru hendaknya bertindak sebagai role model, suri tauladan bagi kehidupan sosial siswa, baik di dalam maupun luar di luar kelas.
b)   Garu hendaknya menunjukkan sikap kasih sayang kepada siswa.
c)    Guru hendaknya memperlakukan siswa sebagai subyek dan mitra belajar, bukan obyek.
d)   Guru hendaknya bertindak sebagai fasilitator, promotor of learning yang lebih mengutamakan bimbingan, menumbuhkan kreativitas siswa, serta interakstif dan kamunikatif dengan siswa.
Maka menurut Syaiful Bahri, dalam penggunaan metode hendaknya didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
a.       Selalu beroritentasi pada tujuan.
b.      Tidak terikat pada satu alternatif saja.
c.        Kerap dipergunakan sebagai suatu kombinasi dari berbagai metode.
d.       Kerap dipergunakan berganti-ganti dari satu metode ke metode lain. 
Sedangkan menurut Ahmad Tafsir, cara yang paling tepat dan cepat dalam pembelajaran agama Islam  yaitu dengan memperhatikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab ketika metodologi pembelajaran PAI mau diterapkan, yaitu : siapa yang diajar?, berapa jumlahnya?, seberapa dalam agama itu akan diajarkan?, seberapa luas yang akan diajarkan?, dimana pelajaran itu berlangsung? dan peralatan apa saja yang tersedia?. 
 Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa prinsip metodologi pembalajaran PAI harus dapat memungkinkan pembelajaran PAI terpusat pada guru dan siswa yang menjadi komponen penentu dalam pembelajaran, yaitu terjadinya interaksi antara guru dan siswa bersama-sama dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran PAI. Dalam hubungan ini tugas guru PAI bukan hanya menyampaikan pesan berupa materi pelajaran, melainkan pemahaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar, dengan kata lain meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.[13]

D.    Manfaat Metode Pembelajaran PAI
Metode-metode pembelajaran PAI memiliki manfaat bagi pendidik dan peserta didik, baik dalam proses belajar dan pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari, bahkan untuk hari esok.
Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Saibany mengatakan bahwa kegunaan metodologi pendidikan islam adalah sebagai berikut:
1)        untuk menolong siswa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan
2)    ketrampilan berfikir yang logis dan sistematis.
Membiasakan pelajar berfikir sehat, rajin, sabar, dan teliti dalam menuntut ilmu.
3)    Memudahkan pencapaian tujuan proses belajar mengajar sebagaimana yang telah ditentukan sebelumnya.
4)    Untuk menciptakan suasana PMB yang kondusif, komunikatif, sehingga pada akhirnya bermuara pada pencapaian tujuan akhir.[14]
Dengan demikian, keberadaan metodologi pembelajaran menunjukkan pentingnya metode dalam sistem pengajaran. Tujuan dan materi yang baik tanpa didukung dengan metode penyampaian yang baik dapat menghasilkan yang tidak baik. Atas dasar itu, pendidikan agama Islam sangat memperhatikan terhadap masalah metodologi pembelajaran ini. Sebagaimana hadits nabi, yang artinya sebagai berikut :
 Bagi segala sesuatu itu ada caranya (metodenya). Dan metode masuk surga, adalah ilmu (H.R. Dailami)”.[15]







BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi (mengawali), memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik, (Tim Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 2009). Dan juga telah dijelaskan dalam Pasal 1 butir 20 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, yakni “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Metodologi pembelajaran islam adalah ilmu yang membahas tentang cara untuk mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan ajaran islam dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Al-Qur’an dan Hadist.
metode pembelajaran adalah pendidikan memegang peranaan penting dalam mempersiapkan sumber daya Manusia yang berkualitas.
Menurut Abu Ahmadi, dalam bukunya, “Didaktik dan Metodik” mengatakan, bahwa ruang lingkup Pendidikan Islam Pada lima hal seperti di bawah ini.
1.    Perencanaan.
2.    Bahan Pembelajaran.
3.    Strategi Pembelajaran.
4.    Media Pembelaran.
5.    Evaluasi.
Menurut Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Saibany, prinsip-prinsip metodologi pendidikan islam adalah sebagai berikut:
a.         Mengetahui motivasi, kebutuhan, dan minat anak didiknya.
b.        Mengetahui tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
c.         Mengetahui tahap kematangan, perkembangan, dan perubahan anak didik.
d.        Mengetahui perbedaan-perbedaan individu dalam anak didik.
e.         Memperhatikan kepahaman, dan mengetahui hubungan-hubungan, integrasi pengalaman dan kelanjutannya, keaslian, pembaharuan, dan kebebasan berfikir.
f.         Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan bagi anak
didik.
g.         “Menegakkan uswah hasanah.
Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Saibany mengatakan bahwa kegunaan metodologi pendidikan islam adalah sebagai berikut:
5)        untuk menolong siswa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan
6)        ketrampilan berfikir yang logis dan sistematis.
Membiasakan pelajar berfikir sehat, rajin, sabar, dan teliti dalam menuntut ilmu.
7)        Memudahkan pencapaian tujuan proses belajar mengajar sebagaimana yang telah ditentukan sebelumnya.
8)        Untuk menciptakan suasana PMB yang kondusif, komunikatif, sehingga pada akhirnya bermuara pada pencapaian tujuan akhir.







DAFTAR PUSTAKA
Arif, Armai.  2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta :
Ciputat Pers.
Chabib, Thoha dkk. 2004. Metodologi Pengajaran Agama. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Ismail. 2009. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM Cet.IV.
Semarang : LSIS dan RASAIL Media Group.
M. Arifin. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.
Rahman, Nazarudin. 2009. Manajemen Pembelajaran ; Implementasi konsep, Karakteristik dan Metodologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum, Cet I.
Yogyakarta : Pustaka Felicha.
Sutikno, M. Sobry  2008. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Prospect.
Tim DirJen Pembinaan PAI pada Sekolah Umum. 2001. Metodologi Pendidikan    
Agama Islam. Jakarta : Departemen Agama RI.
Zuhairin. 1997. Sejarah Pendidikan Islam.  Jakarta : Bumi Aksara.
Alamjhie, 2011, Makalah Hakekat Belajar dan Pembelajaran, Di unduh pada 18
Mei 2014 Pkl. 01.41 WIB dari
pembelajaran/
Plasbersinegri, 2013, Makalah Hakikat Pembelajaran, Di unduh pada 18 Mei 2014 Pkl. 01.30
pembelajaran.html
Taudhied, Abu. 1990. Beberapa Aspek Pendidikan Islam. Yogyakarta : Fakultas
Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Agusagif. 2013. Metodelogi pembelajaran Pendidikan-Pendidikan. Diunduh pada tanggal 20 Mei 2014 Pkl. 01.30 WIB dari http://agusagif.blogspot.com/2013/04/metodologi-pembelajaran-pendidikan.html.



[1] Alamjhie, 2011, Makalah Hakekat Belajar dan Pembelajaran, dari
http://alamjhie.wordpress.com/2011/11/19/makalah-hakekat-belajar-dan-pembelajaran/
[2] Plasbersinegri, 2013, Makalah Hakikat Pembelajaran, dari http://plsbersinergi.blogspot.com/2013/08/makalah-hakikat-pembelajaran.html

[3] Thoha Chabib Dkk, 2004, Metodologi Pengajaran Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 11.                             
[4] Armai Arif, 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, hal.
  87.
[5] Ismail, 2009, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM Cet.IV, Semarang: LSIS      
  dan RASAIL Media Group, hal. 8.
[6] M. Sobry Sutikno, 2008, Belajar dan Pembelajaran, Bandung: Prospect,  hal. 83.
[7] Tim DirJen Pembinaan PAI pada Sekolah Umum, 2001, Metodologi Pendidikan Agama Islam,
   Jakarta : Departemen Agama RI, hal. 19
[8] Armai Arif, 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, hal.
  89.
[9] M. Arifin, 1996, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, hal. 61.
[10] Zuhairin, 1997, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, hal. 18.

[11] Nazarudin Rahman, 2009, Manajemen Pembelajaran ; Implementasi konsep, Karakteristik dan   

   Metodologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum, Cet I, Yogyakarta : Pustaka Felicha,    
  hal. 165.
[12] Armai Arief, 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, hal. 93-94.
[13] Agusagif, 2013, Metodelogi pembelajaran Pendidikan-Pendidikan, Diunduh pada tanggal 20
   Mei 2014 Pkl. 01.30 WIB dari http://agusagif.blogspot.com/2013/04/metodologi-pembelajaran-pendidikan.html
[14] Ibid, hal. 97.
[15] Abu Taudhied, 1990, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hal. 73.

Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...