BAB II
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu sendiri asal katanya adalah ”kelola”, ditambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari kata pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu “management”, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan. Manajemen atau pengelolaan dalam pengertian umum menurut Suharsimi Arikunto (1990;2) adalah pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan.[1] Sedangkan kelas menurut Oemar Hamalik (1987:311) adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama, yang mendapat pengajaran dari guru.[2]
Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dengan sengaja dilakukan guna mencapai tujuan pengajaran.[3] Kesimpulan sederhananya adalah pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran.
Dalam konteks yang demikian itulah kiranya pengelolaan kelas penting untuk diketahui oleh siapapun juga yang menerjunkan dirinya kedalam dunia pendidikan.
Sedangkan menurut Sudirman N, dalam (dkk. 1991; 310), pengelolaan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas. Ditambahkan lagi oleh Hadari Nawawi (1989;115), dengan mengatakan bahwa kegiatan manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.[4]
B. Tujuan Pengelolaan Kelas
Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum pengelolaan kelas adalah penyedian fasilitas bagi bermacam macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dalam intelektual dalam kelas. Fasilitas yang demikian itu memungkinkan siwa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa. (Sudirman N, 1991, 311)
Suharsimi Arikunto (1988 : 68) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.[5]
Terkait dari penjelasan diatas dalam hal pengelolaan kelas dapat pula ditinjau dari segi interaksi komunikatif. Artinya seorang guru dituntut mampu mengatur segala kondisi apapun yang terjadi didalam kelas saat pebelajaran berlangsung agar terciptanya komunikasi dua arah yaitu antara guru dengan murid, murid dengan guru sehingga proses belajar-mengajar dapat berlangsung dengan baik. Hal ini bertujuan untuk memudahkan sekaligus meringankan tugas guru atau wali kelas.
C. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas
Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat dipergunakan. Maka adalah penting bagi guru untuk mengetahui dan menguasai prinsi-prinsip pengelolaan kelas, yang di uraikan berikut ini :
1. Hangat dan Antusias
Hangat dan antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar.guru yang hangat dan akrab engan anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
2. Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
3. Bervariasi
Penggunaan alat atau media atau alat bantu,gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik mengurangi munculnya gangguan, kevariasian dalam penggunaan apa yang dsi sebut diatas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif.
4. Keluesan
Keluesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif..
5. Penekanan pada hal-hal yang positif
Pada dasarnya, dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif, dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif, dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan Yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
6. Penanaman disiplin diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Karena itu,guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya iku disiplin berdisiplin dalam segala hal.[6]
D. Penataan Ruang Kelas
Meneciptakan suasana belajar yang menggairahkan perlu memperhatikan peraturan / penataan ruang kelas/belajar. Penyusunan dan pengatura belajar hendaknya memungkinkan anak didik duduk berkelompok dan memudahkan anak didik bergerak secara leluasa. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal yang diperhatikan adalah :
1. Ukuran dan bentuk kelas
2. Bentuk serta ukuran bangku dan meja anak didik
3. Jumlah anak didik dalam kelas
4. Jumlah anak didik dalam setiap kelompok
5. Jumlah kelompok dalam kelas
Komposisi anak didik dalam kelompok (seperti anak didik pandai dengan anak didik kurang pandai, pria dengan wanita).[7]
E. Masalah Dalam Pengelolaan Kelas
Keaneka macaman masalah perilaku siswa itu menimbulkan beberapa masalah pengelolaan kelas. Menurut made pidarta masalah-masalah pengelolaan kelas yang berhubungan dengan perilaku siswa adalah:
1. Kurang kesatuan, dengan adanya kelompok-kelompok, klik-klik, dan pertentangan jenis kelamin.
2. Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, misalnya ribut, bercakap-cakap, bergi kesana-kemari, dan sebagainya.
3. Reaksi negatif terhadap anggota kelompok, misalnya ribut, bermusuhan, mengucilkan, merendahkan kelompok bodoh dan sebagainya.
4. Kelas mentolerasi kekeliruan-kekeliruan temannya, ialah menerima dan mendorong perilaku siswa yang keliru.
5. Mudah mereaksi negatif atau terganggu misalnya didatangi monitor, tamu-tamu, iklim yang berubah dan sebagainya.
6. Moral rendah, permusuhan dan agresif misalnya dalam lembaga dengan alat-alat belajar kurang, kekurangan uang, dan sebagainya.
7. Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah, seperti tugas-tugas tambahan, anggota kelas yang baru, situasi baru dan sebagainya .[8]
Kegiatan interaksi edukatif dengan pendekatan kelompok menghendaki peninjauan pada aspek perbedaan individual anak didik. Postur tubuh anak didik yang tinggi sebaiknya di tempatkan di belakang. Anak didik yang mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran sebaiknya di tempatkan di depan kelas. Dengan begitu, mata anak didik yang minus dapat melihat tulisan di papantulis dengan cukup baik. Penempatan anak didik yang mengalami ganggung pendengaran didepan akan mempermudah si anak untuk menyimak apa yang disampaikan guru.[9]
Pegaturan tempat duduk sebenarnya akan berhubungan dengan permasalahan siswa sebagai individu dengan perbedaan pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Tetapi di dalam perbedaan dari ketiga aspek itu ada juga terselip persamaannya, persamaan dan perbedaan dimaksud adalah:
1. Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan (inteligensi).
2. Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan.
3. Persamaan dan perbedaan dalam hasil belajar.
4. Persamaan dan perbedaan dalam bakat.
5. Persamaan dan perbedaan dalam sikap.
6. Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan.
7. Persamaan dan perbedaan dalam pengetahuan /pengalaman.
8. Persamaan dan perbedaan dalam ciri-ciri jasmaniah.
9. Persamaan dan perbedaan dalam minat.
10. Persamaan dan perbedaan dalam cita-cita.
11. Persamaan dan perbedaan dalam kebutuhan.
12. Persamaan dan perbedaan dalam kepribadian.
13. Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan tempo perkembangan.
14. Persamaan dan perbedaan dalam latar belakang lingkungan.
Berbagai persamaan dan perbedaan kepribadian siswa diatas, berguna dalam membantu usaha pengaturan kelas. Terutaman berhubungan dengan masalah bagaimana pola pengelompokan siswa guna menciptakan lingkungan belajar yang aktif dan kreatif, sehingga kegiatan belajar yang penuh kesenangan dan bergairah dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama. [10]
F. Definisi Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif adalah pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang menekankan pada kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dalam situasi keseharian.
Beberapa pendapat tentang pendekatan komunikatif :
1. Penguasaan secara naluri yang dipunyai seorang penutur asli untuk menggunakan dan memahami bahasa secara wajar dalam proses berkomunikasi atau berinteraksi dan dalam hubungannya dengan konteks sosial (Dell Hymes)
2. Pendekatan yang mengintegrasikan pengajaran fungsi-fungsi bahasa dan tata bahasa (Little Wood, 1981)
3. Pendekatan yang mendasarkan pandangannya terhadap penggunaan bahasa sehari-hari secara nyata (M. Soenardi Dwiwandono, 1996)
Dari pendapat-pendapat di atas tampaknya pendekatan komunikatif ingin ditekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam proses interaksi antarmanusia. Komunikasi di sini juga bisa berupa komunikasi lisan maupun tertulis.[11]
Secara umum ada empat buah strategi ataupun alat bantu yang dapat di gunakan untuk penyajian peraturan, prosedur, dan perintah yang komplek agar dapat diambil keputusan yang tepat dan persoalan dapat diatasi.
1. Strategi yang tidak dapat menjamin yang tidak dapat menjamin bahwa
persoalan yang dapat dilakukan dengan baik, ialah :
a. Prosa yang beruntun, ciri ini metode penyampaian yang paling umum.
b. Huristik, cara ini terdiri dari proses mencoba-coba atau penemuan (discovery)
2. Strategi yang benar-benar dapat menjamin pemecahan yang baik, asal saja
inforamsinya yang tepat dan akurat, ialah :
a. Algoritma, cara ini adalah resep atau seperangkat perintah yang disajikan dalam “Format Pohon Keluarga”.
b. Tabel keputusan, ini juga merupakan resep, tertapi hal ini berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab.[12]
G. Ciri-ciri Pendekatan Komunikatif
Adapun ciri-ciri pendekatan Komulatif adalah sebagai berikut :
1. Adanya kegiatan komunikasi fungsional dan interaksi sosial yang saling berkaitan erat.
2. Pembelajaran berorientasi pada pemerolehan kompetensi komunikatif, bukan ketepatan gramatikal.
3. Pembelajaran diarahkan pada modifikasi dan peningkatan murid dalam menemukan kaidah bahasa lewat kegiatan berbahasa.
4. Materi pembelajaran berangkat dari analisis kebutuhan berbahasa pembelajar
Pentingnya faktor afektif dalam belajar bahasa.
Pentingnya faktor afektif dalam belajar bahasa.
Dengan pembelajaran komunikatif, siswa diharapkan mangusai kompetensi komunikatif. Karakteristik kompetensi Komunikatif yaitu:
1. Bersifat dinamis. Kompetensi bahasa selalu berubah-ubah menuju ke arah kemajuan sesuai dengan kemajuan dan berkembangan bahasa.
Ivor K. Davies, Pengelolaan Belajar, Cv. Rajawali, Jakarta, 1991, h. 197
2. Meliputi bahasa lisan dan tulis. Siswa dianggap memiliki kompetensi bahasa apabila mereka menguasai bahasa secara lisan dan tulisan baik dalam tataran reseptif maupun produktif.
3. Bersifat kontekstual sesuai dengan kondisi yang ada.
4. Meliputi kompetensi bahasa dan performansi bahasa.
5. Bersifat relative
Prosedur pembelajaran dengan menggunakan pendekatan komunikatif menurut (Finnachiaro & Brumfit, 1983) yaitu:
1. Penyajian dialog singkat.
2. Pelatihan lisan dialog yang disajikan.
3. Penyajian tanya jawab.
4. Penelaah dan pengkajian.
5. Penarikan simpulan.
6. Aktivitas interpretative.
7. Aktivitas produksi lisan.
8. Pemberian tugas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pengertian pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dengan sengaja dilakukan guna mencapai tujuan pengajaran. Kesimpulan sederhananya adalah pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran.
2. Tujuan Pengelolaan Kelas adalah menyediakan fasilitas bagi bermacam macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dalam intelektual dalam kelas.
3. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas adalah Hangat dan Antusias, Tantangan, Bervariasi, Keluesan, Penekanan pada hal-hal yang positif, Penanaman disiplin diri
4. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal yang diperhatikan adalah : Ukuran dan bentuk kelas, Bentuk serta ukuran bangku dan meja anak didik, Jumlah anak didik dalam kelas, Jumlah anak didik dalam setiap kelompok, Jumlah kelompok dalam kelas
5. Masalah Dalam Pengelolaan Kelas adalah: Kurang kesatuan, Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, Reaksi negatif terhadap anggota kelompok, Kelas mentolerasi kekeliruan-kekeliruan temannya, Mudah mereaksi negatif atau terganggu misalnya didatangi monitor, Moral rendah, permusuhan, Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah.
6. Beberapa pendapat tentang pendekatan komunikatif adalah Penguasaan secara naluri, Pendekatan yang mengintegrasikan pengajaran, Pendekatan yang mendasarkan pandangannya terhadap penggunaan bahasa sehari-hari secara nyata.
7. Adapun ciri-ciri pendekatan Komunikatif adalah sebagai berikut :
a) Adanya kegiatan komunikasi fungsional dan interaksi sosial yang saling berkaitan erat
b) Pembelajaran berorientasi pada pemerolehan kompetensi komunikatif, bukan ketepatan gramatikal
c) Pembelajaran diarahkan pada modifikasi dan peningkatan murid dalam menemukan kaidah bahasa lewat kegiatan berbahasa
d) Materi pembelajaran berangkat dari analisis kebutuhan berbahasa pembelajar Pentingnya faktor afektif dalam belajar bahasa
B. Saran
Kami menyadari akan kekurangan dalam makalah ini, maka pembaca dapat menggali kembali sumber-sumber lainnya, untuk menyempurnakannya. Jadi kami harapkan kritik yang membangun dari anda sekalian, untuk kami lebih bisa baik dan sempurna lagi dalam pembuatan makalah ini selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Davies, Ivor K. 1991. Pengelolaan Belajar. Jakarta: Cv. Rajawali.
Djamarah, Syaiful Bahri, dkk. 2002. Strategi Belajar Mengajar I. Jakarta :Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Guru dan Anak didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta:
Rineka Cipta.
Tutut Sholehah. 2008. Strategi Pembelajaran yang Efektif. Jakarta : Citra Grafika
Desian.
Farichin Farich. 2011. Pendekatan Komunikatif Dalam. Diunduh pada 1 Desember 2013 pkl. 20.30 WIB dari http://farichinfarich.blogspot.com/2011/04/pendekatan-komunikatif-dalam.html
[5] Syaiful Bahri Djamarah, dkk, 2002, Strategi Belajar Mengajar 1, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 199-200
[7] Syaiful Bahri Djamarah, 2002, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 174
[10] Syaiful Bahri Djamarah, dkk, 2002, Strategi Belajar Mengajar 1, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 231
http:// Farichinfarich.Blogspot.com/2011/04/pendekatan-komunikatif-dalam.html
http:// Farichinfarich.Blogspot.com/2011/04/pendekatan-komunikatif-dalam.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar