Rabu, 20 Mei 2020

Aspek-Aspek Psikologi dalam Pembelajaran PAI

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan suatu proses belajar mengajar yang didalamnya terdapat interaksi individu yaitu antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan guru sebagai pengajar yang sedang mengajar. Dalam upaya mewujudkan proses belajar-mengajar yang efektif dan efisien maka perilaku yang terlibat dalam proses tersebut hendaknya didinamiskan secara baik. Pengajar hendaknya mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar mampu mewujudkan perilaku belajar siswa melalui interaksi belajar-mengajar yang efektif dalam situasi belajar-mangajar yang kondusif.
Untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif dan efisien, maka tenaga pendidik sangat memerlukan aneka ragam pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan profesinya karena pengajar memegang peran kunci utama, artinya keberhasilan pembelajaran banyak tergantung dari pihak pengajar itu sendiri. Salah satunya mengetahui dan menerapkan apa saja hal-hal yang menjadi aspek psikologis dalam sebuah pembelajaran. Berbicara mengenai aspek psikologis pada dasarnya adalah membicarakan aspek prilaku individu yang terkait dengan pembelajaran.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut.
1.    Bagaimana berprilaku mengajar?
2.    Bagaimana berprilaku belajar?
3.    Bagaimana interaksi antara pengajar dengan pelajar?

C.    Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan yang dapat diambil dari rumusan masalah di atas adalah:
1.    Untuk mengetahui bagaimana prilaku mengajar,
2.    Untuk mengetahui bagaimana prilaku belajar, dan
3.    Untuk mengetahui bagaimana interaksi antara pengajar dengan pelajar.



                                                                           BAB 
PEMBAHASAN

A.    Prilaku Mengajar
Seperti yang telah dikemukakan di atas, bahwasanya pengajar atau guru memegang peran kunci yang amat sentral dalam proses pembelajaran. Dalam hubungan ini guru memegang peran penting dalam menciptakan suasana belajar-mengajar yang sebaik-baiknya mampu menciptakan situasi belajar mengajar yang kondusif agar terjadi prilaku belajar yang efektif pula dalam diri siswa, dan situasi yang kondusif dapat dijadikan indikasi keberhasilan mengajar.
Tugas guru dalam mengajar tidak hanya sebagai penyampai pengetahuan, tetapi lebih meningkat sebagai perancang pengajaran, pengevaluasi hasil belajar, dan sebagai pengarah belajar.
1.      Guru sebagai perancang pengajaran
Sebagai perancang pengajaran (manager of instruction), seorang guru akan berperan mengelola seluruh proses belajar-mengajar dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa sehingga setiap sisiwa dapat belajar secara efektif dan efisien. kegiatan belajar hendaknya dikelola sebaik-baiknya, sehingga memberikan suasana yang mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar dengan kualitas yang lebih baik.[1]
Sebagai perancang pengajaran, guru diharapkan mampu untuk merancang kegiatan belajar mengajar secara efektif dengan suasana yang kondusif bagi siswa. Untuk itu harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang prinsip-prinsip belajar sebagai dasar dalam merancang kegiatan belajar-mengajar, seperti merumuskan tujuan, memilih bahan, memilih metoda, kegiatan evaluasi, dan lain-lain.
2.      Guru sebagai penilai pengevaluasi hasil belajar
Sebagai penilai hasil belajar (evaluation of student learning), guru dituntut untuk berperan secara terus menerus mengikuti hasil belajar yang dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik terhadap proses kegiatan-belajar mengajar, yang selanjutnya akan dijadikan sebagai titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar-mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar-mengajar akan senantiasa ditingkatkan terus-menerus untuk memperoleh hasil belajar yang optimal.[2]
3.      Guru sebagai pengarah belajar
Sebagai pengarah belajar (derectur of learning), guru berperan untuk senantiasa menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motifasi siswa untuk belajar. Dalam hubungan ini, guru mempunyai peran motivator keseluruhan kegiatan belajar siswa. Sebagai motivator belajar guru harus mampu untuk :
a.       Membangkitkan dorongan siswa untuk belajar;
b.      Menjelaskan secara konkrit kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran;
c.       Memberikan reward (hadiah) untuk berprestasi yang dicapai di kemudian hari; dan
d.      Memberi regulasi (aturan) prilaku siswa.
Sebagai pengarah belajar, pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran  tidak hanya melalui pendekatan instruksional akan tetapi disertai pendekatan pribadi. Melalui pendekatan pribadi ini diharapkan guru dapat mengenal dan memahami siswa secara lebih mendalam sehingga dapat membantu dalam keseluruhan proses belajarnya. Dengan perkataan lain, sebagi director of learning, guru sekaligus berperan sebagai pembimbing proses belajar-mengajar. Sebagai pembimbing dalam belajar, guru diharapkan mampu untuk :
a.       Mangenal dan memahami setiap siswa, baik secara individual maupun kelompok;
b.      Memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam proses belajar;
c.       Memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan karakteristik pribadinya;
d.      Membantu setiap siswa dalam menghadapi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya; dan
e.       Menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.[3]
Untuk mewujudkan perilaku mengajar secara tepat, karakteristik pengajar yang diharapkan adalah:
1.      Memiliki minat yang besar terhadap pelajaran dan mata pelajaran yang diajarkannya.
2.      Memiliki kecakapan untuk memperkirakan kepribadian dan suasana hati secara tepat serta membuat kontak dengan kelompok secara tepat.
3.      Memiliki kesabaran, keakraban, dan sensitivitas yang diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar.
4.      Memiliki pemikiran yang imajinatif (konseptual) dan praktis dalam usaha memberikan penjelasan kepada pesrta didik.
5.      Memiliki kualifikasi yang memadai dalam bidangnya, baik isi maupun metode.
6.      Memiliki sikap terbuka, luwes, dan eksperimental dalam metode dan teknik.
Pengajar (guru) akan mengajar secara baik apabila:
1.      memiliki sikap dasar yang benar, yaitu:
a.       Bertindak sebagai pembimbing dan kawan,
b.      Menghindari corak hubungan yang berjarak antara pengajar dan pelajar,
c.       Memahami tujuan dan kesulitan pelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya para pengajar:
a)      Bertemu dengan kelompok secara informal untuk mengenal mereka secara mendalam,
b)      Berminat kepada pelajar di samping berminat kepada pelajaran.
2.      Memiliki sasaran yang benar, yaitu:
a.       Mewujudkan tujuan untuk mengembangkan pribadi pelajar dan bukan memberikan informasi,
b.      Menyadari bahwa tujuan jangka panjang adalah perkembangan optimal dan pribadi pelajar sehingga tercapai kepuasan pribadi dan produktifitas kerja yang optimal oleh karena itu, para pengajar seyogyanya:
a)      Menyiapkan rencana kegiatan belajar mengajardengan sebaik-baiknya,
b)      Melaksanakan rencana tersebut dengan baik.
3.      Memiliki informasi faktual yang diperlukan. Oleh karena itu para guru seyogyanya:
a.       Menemukan, memahami dan memilih informasi yang memadai,
b.      Mempersiapkan pokok-pokok rangkuman materi,
c.       Menghargai dan memanfaatkan penemuan pelajar.
4.      Memahami berbagai macam metode dan teknik, dan mengetahui bagaimana memilihnya. Oleh karena itu para pengajar seyogyanya:
a.       Mampu memilih macam-macam metode dan teknik pada setiap tahapan,
b.      Memberikan kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan, mendapatkan informasi, analisis, menilai, dan menyatakan gagasan secara jelas.
5.      Membantu pelajar dalam merencanakan tindak lanjut. Oleh karena itu para pengajar seyogyanya mendiskusikan masalah-masalah secara baik sebelum kegiatan belajar berakhir.[4]

B.     Prilaku Belajar
            Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan prilaku baru yang secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Dari pengertian tersebut tambak bahwa salah satu ciri perbuatan belajar adalah tercapainya perubahan prilaku baru. Namun tidak semua perubahan prilaku merupakan hasil belajar. Adapun ciri-ciri perubahan prilaku sebagai hasil belajar adalah:
1.      Perubahan yang disadari,
2.      Perubahan yang bersifat kontinu dan fungsional,
3.      Perubahan yang bersifat fositif dan aktif,
4.      Perubahan yang bersifat relatife permanen dan bukan bersifat temporer, dan bukan karena proses kematangan, pertumbuhan atau perkembangan,
5.      Hasil belajar ditandai dengan perubahan seluruh aspek pribadi,
6.      Belajar merupakan proses yang disengaja,
7.      Belajar terjadi karena ada dorongan dan tujuan yang ingin dicapai,
8.      Belajar merupakan suatu bentuk pengalaman yang dibentuk secara sengaja, sitematis, dan terarah.
Prilaku belajar siswa dalam psikologi pendidikan diartikan sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan prilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Hubungannya dengan proses belajar ini, yang harus dikenal betul oleh para pengajar adalah apa yang disebut dengan metakognisi dan persepsi sosial-psikologis pelajar.
            Adapun yang dimaksud dengan metakognisi adalah pengetahuan seorang individu terhadap proses dan hasil belajar yang terjadi dalam dirinya serta hal-hal yang terkait. Hal ini mengandung arti bahwa, agar proses belajar dapat berlangsung secara efektif, maka pelajar seharusnya mampu mengenal proses dan hasil yang terjadi dalam dirinya. Untuk itu para pengajar hendaknya mampu mengenal dan membantu siswa. Sedangkan yang dimaksud dengan persepsi sosio-psikologis adalah sampai seberapa jauh pelajar mempersepsi proses belajar yang berlangsung beserta situasi-situasi yang berpengaruh. [5]
Hasil prilaku belajar ditunjukan dengan adanya perubahan prilaku dalam keseluruhan pribadi pelajar. Prilaku hasil belajar mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Para pengajar hendaknya mampu mengantisipasi aspek-aspek perubahan perilaku ini yang dimulai dari perencanaan kegiatan-kegiatan mengajar, menumbuhkannya dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar. Perlu diingat bahwa prilaku bisa bersumber dari berbagai aspek prilaku lain yang bersifat internal maupun eksternal. Para pengajar harus memahami aspek-aspek internal dan eksternal yang bisa memengaruhi prilaku siswa.
Diantara aspek internal yang mesti difahami adalah: potensi, prestasi, kebutuhan, minat, sikap, pengalaman, kebiasaan, emosi, motivasi, kepribadian, perkembangan, keadaan fisik, cita-cita, dan lain-lain. Pengenalan dan pemahaman dalam aspek-aspek diatas dapat dilakukan dengan cara atau pendekatan studi dokumentasi, observasi termasuk kunjungan rumah, kuesioner (daftar isi), wawancara, tes, dan lain-lain.[6]
Perilaku belajar yang efektif disertai proses mengajar yang tepat, maka proses pembelajaran diharapkan mampu menghasilkan manusia-manusia yang memiliki karakteristik pribadi yang mandiri, pelajar yang efektif dan pekerja yang produktifPribadi yang mandiri adalah pribadi yang mampu mengenal dan menerima dirinya sendiri dan lingkungannya, mampu mengarahkan dirinya dan dapat mewujudkan dirinya secara optimal. Pelajar efektif adalah mereka mampu melakukan kegiatan belajar dengan memperoleh hasil sebaik-baiknya dan dapat diterapkan dalam kehidupannya. Sedangkan pekerja yang produktif adalah mampu melaksanakan pekerjaannya dengan hasil yang seoptimal mungkin. Guna mewujudkan kualitas manusia seperti itu sekurang-kurangnya ada tiga kualitas belajar yang harus dikembangkan dalam diri para siswa yaitu:
1.    Belajar untuk menjadi (learning to be)
Belajar untuk menjadi adalah kegiatan belajar yang dilakukan siswa sehingga pada giliranya akan menghasilkan  pribadi-pribadi yang mandiri, yaitu pribadi yang mengenal dirinya, mengarahkan dirinya, merencanakan dan membuat keputusan bagi masa depannya untuk kemudian mewujudkan dirinya secara optimal. Kegiatan belajar yang dilakukan tidak hanya mendapatkan hasil belajar yang berupa informasi dan tambahan ilmu pengetahuan dan ketrampilan, tetapi hendaknya dapat mengembangkan dirinya kearah terbentuknya kepribadian yang utuh dan mandiri (insan kamil).[7]
Belajar untuk menjadi, relevan dengan tujuan belajar dalam perspektif Islam, yaitu agar menjadi seorang muslim yang memiliki kepribadian Islami. Dengan perkataan lain terwujudnya kepribadian muslim yang berakhlak terpuji. Sebagaimana syair yang dilontarkan Syekh Muhammad bin Hasan bin Abdillah:
تَعَلَّمْ فَاِنَّ الْعِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ # وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّ الْمَحَاِمِد
Artinya: “Belajarlah ilmu pengetahuan, karena sesungguhnya ilmu pengetahuan itu merupakan hiasan bagi yang memilikinya. Ilmu itu juga menjadi kelebihan, dan tanda bagi setiap sesuatu yang terpuji”.[8]
2.    Belajar untuk belajar (learning to learn)
Belajar untuk belajar adalah apa yang dicapai dari suatu peristiwa belajar hendaknya mendorong siswa untuk belajar lebih lanjut baik secara horisontal maupun vertikal. Secara horisontal artinya upaya perluasan kegiatan belajar kearah yang lebih luas terutama dalam kaitanya dengan bidang lain atau berbagai aspek kehidupan. Secara vertikal artinya upaya kegiatan belajar untuk mencapai hasil yang lebih tinggi. Siswa hendaknya mampu belajar untuk mendapatkan hasil yang akan dijadikan sebagai titik tolak bagi kegiatan belajar selanjutnya. Sebagaimana Syekh Az-Zarnuji mengemukakan dalam syairnya:
دَاوِمْ عَلَى الدَّرْسِ لَاتُفَارِقُهُ #  فَالْعِلْمُ بِالدَّرْسِ قَامَ وَرْتَفَعَا
Artinya: “Biasakanlah selalu belajar, dan janganlah kamu mencoba untuk memisahkan (meninggalkan) belajar, karena ilmu itu bergantung pada orangnya bisa jadi tetap dan semakin bertambah lantaran selalu dipelajari terus menerus”.[9]
Islam mengajarkan umatnya terus belajar sepanjang hayat selagi masih ada kesempatan dan sebelum jasad bersatu dengan tanah, sebagaimana hadits Rosulullah SAW:
أُطْلُبُوااْلعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اْلَحْدِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu mulai ayunan sampai liang landak”.
Belajar harus dilakukan terus-menerus setiap saat sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Di era perkembangan ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK), kegiatan belajar harus terus-menerus dilakukan secara aktif agar dapat mengimbangi tantangan yang ada.
 Islam tidak saja mencukupkan pada anjuran supaya belajar, bahkan menghendaki supaya seseorang itu harus terus-menerus melakukan pembahasan, research dan studi. Rosulallah SAW dalam hadisnya mengatakan: “seseorang itu dapat di anggap seorang yang alim dan berilmu, selama ia terus belajar, apbila ia menyangka bahwa ia sudah serba tahu, maka ia sesungguhnya seorang jahil (bodoh)”.
3.    Belajar untuk bekerja (learning to work)
Bekerja pada prinsipnya merupakan tugas setiap orang dalam memperoleh kelangsungan dan kebahagian hidupnya. Untuk menjadi pekerja yang efektif dan produktif, dibutuhkan berbagai penguasaan ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Kegiatan belajar pada dasarnya merupakan proses memperoleh bekal untuk dapat melakaukan pekerjaan secara produktif dan efektif. Oleh karena itu, hendaknya apa yang dipelajari hendaknya menjadi modal bagi keefektifan dan produktivitas kerja. Hasil belajar tidak hanya berupa tambahan ilmu pengetahuan saja, tetapi menghasilkan penguasaan ketrampilan untuk siap memasuki lapangan kerja. Untuk itu, siswa hendaknya mampu melakukan kegiatan belajar dengan hasil yang fungsional untuk bekerja secara produktif.
Agama Islam juga sangat memperhatikan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani dipenuhi dengan memberi makanan dan minuman serta pakaian. Sedangkan kebutuhan rohani yaitu agar manusia beribadah kepada Allah dengan semaksimal mungkin. Sebagaimana perintah Allah agar kita menuntut kebahagian akhirat, dan tidak pula melupakan urusan dunia. Hal yang sama juga disampaikan Rosulullah SAW sebagaimana sabda beliau:
أَحْرِثْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًاوَاعْمَلْ لِاَخِرَاتِكَ كَاَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا
Artinya: “Bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya, dan bekerjalah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati besok”.[10]
Selain belajar untuk menjadi, belajar untuk belajar, dan belajar untuk bekerja, UNESCO mengemukakan empat pilar pendidikan sebagai landasan model pembelajaran berbasis kompetensi adalah Learning to know, learning to do, learning tobe, dan learning to live together.
Sesuai dengan anatomi Benyamin Blom, cakupan proses belajar dengan proses pembelajaran berbasis kompetensi mengandaikan adanya kesadaran bahwa belajar tidak hanya untuk mengetahui (kognitif) tentang suatu hal. Proses pembelajaran menjadi sarana seseorang untuk ahirnya mampu bereksistensi; mampu melakukan sesuatu baik untuk dirinya sendiri, lingkungan maupun bangsanya; mampu berpikir, mengembangkan bakat dan minatnya; serta mampu hidup bersama orang lain. Para siswa harus diberdayakan agar mau dan mampu beraktifitas untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to know) dengan makin meningkatkan interaksi dengan lingkungan fisik, sosial maupun budayanya sehingga para siswa mampu membangun pemahaman dan pengetahuan terhadap dunia disekitarnya (learning to do). Interaksi siswa dengan dirinya sendiri, lingkungan fisik, sosial, dan budayanya akan membengun pengetahuan dan kepercayaan dirinya sebagai manusia yang hidup dan berkembang (learning to be). Keberadaan siswa sebagai makhluk sosial tidak dapat diingkari sehingga ia perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar berinteraksi, bekerja sama, dan hidup berdampingan bersama orang lain. Melalui interaksi antar individu dalam sebuah kelompok itulah pemahaman-pemahaman dan pengalaman seseorang untuk hidup dengan orang lain ditanamkan dan dipelajari (learning to live together). Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang berfariasi (learning to live together) akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajmukan dan melahirkan sikap-sikap positif serta toleransi terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup.[11]
Sedangkan dalam Islam, selain belajar untuk menjadi, belajar untuk belajar, dan belajar untuk bekerja Islam juga mengajarkan belajar untuk di amalkan. Imam Ghazali menyatakan bahwa meskipun seseorang membaca (belajar) beratus-ribu masalah ilmiah, kemudian mengajarkannya pula, tetapi tidak mengamalkannya, maka itu semua tidak ada faedahnya. Ilmu baru ada manfaatnya apabila di amalkan. Al-Ghazali menghendaki setiap muslim supaya belajar, kemudian beramal dan bekerja dengan ilmunya itu, dan selanjutnya ikhlas dan jujur pula dalam perbuatannya. Rosulullah SAW bersabda: “belum di anggap seseorang itu berilmu sampai ia mengamalkan ilmunya.
Sedang orang yang berilmu kemudian tidak mengamalkan ilmunya, mendapat suatu ancaman yang berat, hal ini dilukiskan dalam hadits Nabi SAW:
مِنْ عِلْمٍ علمافَكَتَمَهُ اَلْجَهُ بِلْجَامٍ مِنْ نَارٍيَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه ابوداوود)
Artinya: “barang siapa yang diajari sesuatu ilmu, lalu dia menyembunyikannya, maka Allah mengekangnya pada hari kiamat dengan kekangan api neraka”.[12]
C.    Interaksi Pengajar-Pelajar
Perwujudan perilaku guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pengajar akan tampak dalam interaksi antara keduanya. Dalam interaksi ini terjadi proses saling memengaruhi sehingga terjadi perubahan perilaku pada diri pelajar dalam bentuk tercapainya hasil belajar. Sekurang-kurangnya ada tiga hal dalam interaksi pengajar-pelajar ini, yaitu proses belajar, metode mengajar, dan pola-pola interaksi.
Proses belajar merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan tidak terlepas dari kondisi belajar serta situasi di sekitarnya. Proses belajar berlangsung secara bertahap mulai dari yang sederhana sampai ke yang paling kompleks. Agar proses belajar dapat berlangsung secara efektif, para guru hendaknya memerhatikan faktor-faktor:
1.      Penjabaran tujuan,
2.      Motivasi kepada siswa,
3.      Penggunaan model,
4.      Urutan materi,
5.      Bantuan dalam usaha pertama,
6.      Pengaturan latihan secara efektif,
7.      Masalah perbedaan individu,
8.      Evaluasi dan bimbingan,
9.      Usaha menghafal, dan
10.  Bantuan dalam aplikasi hasil belajar.[13]
Metode  mengajar yang di pergunakan guru merupakan unsur yang penting bagi perwujudan perilaku pelajar. Oleh karena itu, hendaknya guru mampu memilih dan mempergunakan metode mengajar secara tepat dengan variasi yang di sesuaiakan dengan kebutuhan dan situasi. Pemilihan dan penggunaan metode mengajar hendaknya memerhatikan faktor-faktor seperti karakteristik siswa, perkembangan siswa, materi pelajaran, tuntutan lingkungan, sarana dan lain sebagainaya.
Seperti disebutkan sebelumnya, dalam proses belajar mengajar akan terjadi interaksi antara pengajar dengan pelajar. Pola-pola interaksi yang terjadi dalam proses mengajar-belajar, akan bervariasi tergantung pada situasi belajar mengajar. Sekurang-kurangnya ada empat pola interaksi yang terjadi yaitu:
1.      Interaksi individual,
2.      Interaksi individual-kelompok,
3.      Interaksi kelompok-individual, dan
4.      Interaksi kelompok-kelompok.[14]
Interaksi dalam proses pembelajaran bermakna interaksi edukatif. Interaksi edukatif  adalah yang secara sadar mempunyai tujuan untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan. Dengan demikian, dalam hal ini yang penting bukan bentuk interaksinya, tetapi yang pokok adalah maksud atau tujuan berlangsungnya interaksi itu sendiri. Oleh karena itu, situasinya adalah belajar mengajar, sudah tentu interaksinya edukatif dalam arti bertujuan mendidik. Interaksi edukatif harus memenuhi cirri-ciri sebagai berikut:
1.      Ada tujuan yang ingin dicapai,
2.      Ada bahan atau pesan yang menjadi isi interaksi,
3.      Ada pelajar yang aktif mengalami,
4.      Ada guru yang melaksanakan,
5.      Ada metode untuk mencapai tujuan,
6.      Ada situasi yang memungkinkan proses interaksi (belajar mengajar), dan
7.      Ada penilaian terhadap hasil interaksi.
Proses belajar-mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal di sekolah, di dalamnya terjadi interaks antara berbagai komponen pengajaran. Komponen-komponen itu dapat di kelompokan ke dalam tiga kategori utama yaitu Guru, isi atau materi pelajaran, dan siswa. Interaksi antara ketiga komponen utama diatas melibatkan sarana dan prasarana seperti metode, media, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi belajar-mengajar (proses pembelajaran) yang memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah di rencanakan
       


                     PENUTUP
A.    Simpulan
Pengajar atau guru memegang peran kunci yang amat sentral dalam proses pembelajaran. Dalam hubungan ini guru memegang peran penting dalam menciptakan suasana belajar-mengajar yang sebaik-baiknya mampu menciptakan situasi belajar mengajar yang kondusif agar terjadi prilaku belajar yang efektif pula dalam diri siswa, dan situasi yang kondusif dapat dijadikan indikasi keberhasilan mengajar.
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan prilaku baru yang secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya, Hasil prilaku belajar ditunjukan dengan adanya perubahan prilaku dalam keseluruhan pribadi pelajar.
Perwujudan perilaku guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pengajar akan tampak dalam interaksi antara keduanya. Proses belajar merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan tidak terlepas dari kondisi belajar serta situasi di sekitarnya. Proses belajar berlangsung secara bertahap mulai dari yang sederhana sampai ke yang paling kompleks. Agar proses belajar dapat berlangsung secara efektif


B.     Saran
            Alhamdulilah, segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam ini, akhirnya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan apa yang telah dosen perintahkan. Mengingat akan terbatasnya pengetahuan penyusunkritik dan saran yang membangun dari rekan-rekan semua kami harapkan. Kekurangan milik kita selaku manusia dan kebenaran milik Allah semata.





                        DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, M. Ishom. 2009. Kaifa Nurrobbi Abna’ana (Pengantar Pendidikan Islam). Yogyakarta: SJ Press.
Al-Qudsy, Noor Aufa Shiddiq. 2005. Pedoman Belajar Bagi Pelajar dan santri. Surabaya: Al-Hidayah.
Harsanto, Radno. 2007. Pengelolaan Kelas yang Dinamis. Yogyakarta: Kanisius.
Nur Alawiya, Huda. 2011. Aspek-Aspek Psikologi dalam Pembelajaran PAI diunduh melalui website  http://hudanuralawiyah.wordpress.com/2011/11/25/makalah-aspek-aspek-psikologis-dalam pembelajaran. Jumat, 13 september 2013. Pukul 16.13 WIB
Seini Kuba, Anggun. 2012. Aspek-Aspek Psikologis dalam Belajar diunduh melalui website http://andrevalen28.blogspot.com/2012/03/aspek-aspek-psikologis-dalam-belajar.html. Jumat, 13 september 2013. Pukul 16.19 WIB
Surya, M. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan IKIP Bandung.
Syah, M. 1996. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Rosda Karya.



Thohirin. 2006. Psikologi  Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.








[1] Thohirin. 2006. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Hal.78
[2]Nur Alawiya, Huda. 2011. Aspek-Aspek Psikologi dalam pembelajaran PAI diunduh melalui website  http://hudanuralawiyah.wordpress.com/2011/11/25/makalah-aspek-aspek-psikologis-dalam pembelajaran. Jumat, 13 september 2013. Pukul 16.13 WIB
[3] Ibid. Thohirin, hal.78-79
[4] Surya, M. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan IKIP Bandung. Hal.68-69
[5]Seini Kuba, Anggun. 2012. Aspek-Aspek Psikologis dalam Belajar diunduh melalui website http://andrevalen28.blogspot.com/2012/03/aspek-aspek-psikologis-dalam-belajar.html. Jumat, 13 september 2013. Pukul 16.19 WIB
[6] Ibid. Thohirin, hal.83
[7] Ibid. Thohirin, hal.84
[8]Al-Qudsy, Noor Aufa Shiddiq. 2005. Pedoman Belajar Bagi Pelajar dan santri. Surabaya: Al-Hidayah. Hal.4
[9] Ibid. Al-Qudsy, hal.40
[10] Achmadi, M. Ishom. 2009. Kaifa Nurrobbi Abna’ana. Yogyakarta: SJ Press. Hal.66
[11] Harsanto, Radno. 2007. Pengelolaan Kelas yang Dinamis. Yogyakarta: Kanisius.hal.19
[12] Ibid. Achmadi, hal.123
[13] Ibid. Surya, hal.70
[14] Ibid. Tohirin, hal.87

Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...