Kamis, 14 Mei 2020

SURAT-SURAT PENDEK PILIHAN TENTANG KEPEDULIAN SOSIAL

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia di dunia ini diciptakan oleh Allah swt dalam keadaan yang berbeda-beda. Ada yang ditakdirkan menjadi orang yang serba berkecukupan dan ada pula yang ditakdirkan dalam keadaan serba kekurangan dan kesusahan. Ini merupakan salah satu bentuk ujian Allah swt terhadap hambanya, agar manusia dapat mendapatkan hikmah dari kehidupan dunia ini.
Bentuk ujian dengan kesusahan, kemiskinan dan serba kekurangan dari segi materi hingga saat ini tentulah masih ada. Ujian kemiskinan ini bukan hanya ujian untuk pihak yang mendapatkan kemiskinan saja, tetapi hal ini juga merupakan bentuk ujian bagi orang yang serba berkecukupan, yang sudah bisa hidup layak dan baik. ujian yang dimaksud yaitu kepeduliaan yang kita miliki. Karena terkadang orang yang sudah hidup enak seringkali lupa dan bersikap tidak peduli terhadap orang yang hidup miskin dan kekurangan.
Seyogianya, sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim memiliki jiwa yang peduli terhadap sesama dan lingkungannya. Kepeduliaan akan menciptakan lingkungan yang tenteram dan sejahtera. Kepeduliaan sosial dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti sikap tolong menolong, gotong royong, dan bahu membahu. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas surat-surat pendek mengenai kepeduliaan sosial dari surat al-Kausar dan al-Ma’un.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Seperti apa bentuk kepeduliaan sosial itu?
2.      Bagaimana bentuk kepedulian sosial yang tercantum dalam surat al-Kautsardan al-Ma’un?
3.      Seperti apa keterkaitan surat al-Kautsar dengan al-Ma’un tentang kepedulan sosial?
4.      Bagaimana penerapan isi kandungan dalam surat al-Kautsar dan al-Ma’un dalam kehidupan sehari-hari?

C.    Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1.      Untuk mengetahui pengertian dari kepedulian sosial,
2.      Untuk mengetahui isi kandungan dalam surat al-Kautsar dan al-Ma’un,
3.      Untuk mengetahui keterkaitan surat al-Kautsar dan al-Ma’un dengan kepedulian sosial, dan
4.      Untuk mengetahui penerapan isi kandungan dari surat al-Kautsar dengan al-Ma’un dalam kehidupan sehari-hari.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kepedulian Sosial[1]
Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui mengenai kepedulian sosial, antara lain pengertian kepedulian sosial, perlunya memiliki sikap kepedulian sosial, dan dampak positif sikap kepedulial sosial.
1.      Pengertian Kepedulian sosial
Kata peduli berarti memperhatikan atau menghiraukan. Menaruh peduli berarti menaruh perhatian atau menghiraukan sesuatu. Kepedulian berarti sikap memperhatikan atau memperhatikan sesuatu. Kata sosial berarti segala sesuatu mengenai masyarakat atau kemasyarakat. Dengan demikian, kepedulian sosial berarti sikap memperhatikan atau menghiraukan urusan orang lain atau (sesama anggota masyarakat). Kepedulian sosial yang dimaksud bukanlah untuk mencampuri urusan orang lain, tetapi lebih pada membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi orang lain dengan tujuan kebaikan dan perdamaian.
2.      Dampak positif memiliki kepedulian Sosial
Kepedulian sosial merupakan akhlak terpuji yang harus selalu dihidup suburkan dam jiwa setiap orang. Kepedulian sosial memiliki dampak positif dalam kehidupan bermasyarakat, antara lain
a.       Terwujudnya sikap hidup gotong royong.
b.      Terjalinnya batin yang akrab
c.       Menumbuhkan kerukunan dan kebersamaan
d.      Terjadinya pemerataan kesejahteraan
e.       Menghilangkan jurang pemisah antara si miskin dan si kaya
f.       Terwujudnya persatuan dan kesatuan
g.      Menciptakan kondisi masyarakat yang kuat dan harmonis
h.      Menghilangkan rasa dengki dan dendam

B.     Surah Al-Kautsar dan Al- Ma’un tentang Kepedulian Sosial
Islam mendidik umatnya agar memiliki keperduliannya sosial dan melarang bersifat individualis banyak surat atau ayat Al-Qur’an yang mengajarkan tentang bentuk kepedulian sosial, antara lain dalam surat Al-Kautsar dan Al- Ma’un.
1.      Surat Al-Kautsar
a.         Lafal Surah dan Terjemahannya



Artinya : “Sungguh, kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah). (Q. S. al-Kausar/ 108: 1-3)[2]
b.      Asbabun Nuzul
Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan lain-lain, dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari Ibnu Abbas, dikemukakan bahwa ketika Ka’ab bin al-Asyraf ( tokoh Yahudi) datang ke Mekah, kaum Quraisy berkata kepadanya: “ Tuan adalah pemimpin orang Madinah, bagaimana pendapat tuan tentang si pura-pura sabar yang diasingkan oleh kaumnya, yang menganggap dirinya lebih mulia daripada kami, padahal kami adalah penyambut orang yang melaksanakan haji, pemberi minumnya, serta penjaga Ka’bah?” Ka’ab berkata: “Kalian lebih mulia daripada dia.” Maka turunlah ayat ini yang membantah ucapan mereka.[3]
Adapun riwayat lain yaitu menurut Ibnu al-Munzir yang bersumber dari Ibnu Juraij, suruh ini turun berkaitan dengan kematian putra Nabi Muhammad Saw., Ibrahim. Dengan kematian putranya ini, beliau tidak lagi memiliki anak laki-laki. Hal ini mengundang orang kafir untuk lebih menekan batin beliau. Orang kafir Quraisy mengatakan “Bataru Muhammad (Muhammmad telah terputus keturunannya).” Ucapan ini sempat membuat beliau gelisah. Untuk menghiburnya Allah Swt. menurunkan surah ini.
Ibnu Abi Syaibah yang bersumber dari Ikrimah menjelaskan sebab turunnya surah ini sebagai berikut. Suatu ketika, Ka’ab bin Astraf (Pemimpin Yahudi Madinah) datang ke Mekah. Orang kafir Quraisy bertanya kepadanya, “Tuan adalah pemimpin orang Madinah. Bagaimana pendapat Tuan tentang si pura-pura sabar (Muhammad) yang diasingkan oleh kaumnya, yang menganggap dirinya mulai daripada kita ? Padahal, kita menyambut orang-orang yang melaksanakan haji dan pemberi minuman penjaga Ka’bah.” Ka’ab menjawab, “Kalian lebih mulia dari padanya.” Pada saat itu, turunlah Surah al-Kausar.[4]
c.       Kandungan Surah[5]
Pada ayat 1, Allah Swt. menyatakan bahwa Dia telah memberikan nikmat yang banyak kepada Nabi Muhammad Saw. nikmat banyak itu disebutkan sebagai al-Kausar. Ada beberapa penafsiran tentang al-Kausar. Berikut ini beberapa pendapat ulama tentang al-Kausar.

No
Nama Ulama
Penafsiran al-Kausar
1
Anas bin Malik
Nama sebuah telaga sebelum masuk ke surga. Telaga ini tempat Nabi Muhammad Saw. dan para umatnya minum sebelum melanjutkan perjalanan ke surga.
2
Ikrimah
Nubuwwat (kenabian)
3
Al-Hasan
Al-Qur’an
4
Abu Bakar bin Iyyasy dan Yaman bin Riab
Banyak sahabat, banyak umat, banyak pengikut
5
Al-Mawardi
1.      Namanya disebut dimana-mana
2.      Syafaat yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad Saw. untuk melindungi umatnya di akhirat
6
As-Sal’laby
Suatu mukjizat dari Allah Swt. sehingga doa Nabi Muhammad Saw. dan umatnya yang saleh selalu dikabulkan

Berbagai macam penafsiran itu memang benar adanya karena semua itu terdapat pada diri Nabi Muhammmad Saw. begitu banyaknya nikmat yang telah Allah Swt. berikan kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya berikut ini.

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohon kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Q.S. Ibrahim/14: 34)
Pada Ayat 2, terdapat dua perintah kepada Nabi Muhammmad Saw., khususnya dan umat Islam pada umumnya, yaitu melaksanakan salat dan berkurban. Pelaksanaan kedua perintah sebagai bukti rasa syukur atas limpahan nikmat Allah Swt. yang begitu banyak.
Perintah salat yang terdapat dalam ayat ini ditafsirkan berbeda-beda oleh para ulama. Menurut ad-Dahaq, sebagaimana yang ia terima dari Ibnu Abbas, salat yang dimaksud dalam ayat ini ialah salat lima waktu. Ia beralasan bahwa salat lima waktu merupakan tiang agama. Sa’ad bin Zubair menafsirkan salat di sini dengan salat Subuh.
Setelah perintah salat, diikuti perintah berkurban. Kurban merupakan ibadah yang memiliki dua dimensi, yaitu ibadah kepada Allah Swt. dan ibadah sosial. Kurban dikatakan sebagai ibadah kepada Allah Swt. karena mementingkan ketaatan dan keikhlasan. Penyembelihan kurban harus dilaksanakan dengan menyebut nama Allah Swt. dan jauh dari unsur kesyirikan, sebagai firman Allah Swt. berikut ini.



Katakanlah (Muhammad), “sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (Q.S. al-An’am/6 : 162)
Kurban juga memiliki nilai ibadah sosial karena sebagian besar daging kurban dibagikan kepada Masyarakat, fakir miskin umatnya. Allah Swt. berfirman sebagai berikut.

لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ

… Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang sengsara dan fakir. (Q.S. al-Hajj/22: 28)
Lafal            berarti yang mengalami kesulitan atau kesusahan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Adapun kata             berarti orang yang sangat membutuhkan. Dengan demikian, keduanya adalah golongan orang miskin yang harus mendapat perhatian dari orang-orang yang mampu. Pada hari Idul Adha, mereka perlu diberikan daging agar merasakan nikmatnya daging kurban.
Kurban memiliki keutamaan yang besar. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, yang menyatakan:








“Tidaklah seorang anak Adam mengerjakan suatu pekerjaan pada hari kurban lebih disenangi Allah daripada aliran darah. Sesungguhnya pada hari kiamat akan datang dengan tanduk-tanduk dan kaki-kakinya serta rambut-rambutnya. Dan sesungguhnya darah itu tidak akan sampai kepada Allah sebelum darah tersebut menyentuh tanah. Maka bersihkanlah jiwa dengannya.” (Ibnu Majah dan Turmudzi).[6]

Pada ayat ini, Allah Swt. berfirman sebagai berikut.

وَٱلْبُدْنَ جَعَلْنَٰهَا لَكُم مِّن شَعَٰٓئِرِ ٱللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَٱذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَيْهَا صَوَآفَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْقَانِعَ وَٱلْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta…. (Q.S. al-Hajj/22: 36) 
Yang dimaksud            pada ayat tersebut ialah orang miskin yang rela menerima kenyataan. Mereka tidak suka meminta-minta kepada orang lain. Mereka lebih suka menjaga kehormatan dirinya sehingga dalam pandangan orang lain ia kelihatan mampu. Adapun yang dimaksud                ialah orang miskin yang menampakkan kemiskinannya. Mereka suks meminta-minta dan berkeluh kesah sehingga membuat orang lain merasa kasihan. Kedua golongan ini perlu memdapat perhatian, terutama golongan
Pada ayat 3, Allah Swt. menjelaskan bahwa orang yang membenci Nabi Muhammad Saw. dan risalahnya akan terputus dari rahmat-Nya. Dalam ayat ini terdapat lafal al-abtar. Menurut kebiasaan orang Arab, kata ini digunakan untuk menyebut orang yang tidak memiliki anak laki-laki.
Nabi Muhammad Saw. memiliki tujuh orang anak, empat orang anak, dan tiga laki-laki. Keempat anak perempuan beliau, yaitu Zainab, Ruqayah, dan Ummu Kulsum, dan Fatimah. Ketiganya meninggal mendahului beliau, sedangkan Fatimah meninggal setelah beliau. Sementara itu, ketiga anak laki-lakinya meninggal ketika masih kecil. Mereka adalah Abdullah, Qasim, dan Ibrahim. Dengan, demikian beliau tidak lagi memiliki anak laki-laki. Oleh karena itu, orang-orang kafir mengatakan bahwa Muhammad telah terputus keturunannya. Mereka merasa senang karena dakwah Islam agar segera berakhir. Anak laki-laki yang beliau dambakan sudah tidak ada lagi.
Pernyataan mereka ini dibantah oleh Allah Swt. dalam ayat ini. Pada kenyataannya, Islam makin berkembang dengan pesat dan dikenal di seluruh dunia sepeninggalan beliau. Kehancuran justru menimpa orang kafir Quraisy dengan ditaklukannya kota Mekkah. Selain sebagai bantahan terhadap orang kafir, surah ini juga menjadi penghibur bagi Nabi Muhammad Saw.

d.      Tafsir Surat Al-Kautsar
Kata (                 a’thainaaka diambil dari kata (                  a’tha berarti memberi ang biasa digunakan untuk pemberian yang menjadi milik pribadi seseorang, juga digunakan untuk menggambarkan pemberian yang sedikit. Kata ini bergandengan dengan al-kautsar yang berarti banyak, mengesankan bahwa anugerah Allah kepada beliau walaupun banyak, namun ia masih dinilai sedikit jika dibandingkan dengan apa yang akan beliau terima di masa datang. Huruf (      kaf berarti mu yaitu kepada Nai Muhammad saw secara pribadi.
Kata (                  al-kautsar dari kata (                      katsir berarti banyak. Kata ini menunjuk sesuatu yang banyak bilangannya atau tinggi mutunya.
Kata (           shalli adalah bentuk perintah dari kata (               shalah yang dari segi bahasa berarti do’a. Do’a disini merupakan ibadah secara keseluruhan.
Kata (            inhar terambil dari kata (        nahr dari segi bahasa berarti dada, sekitar tempat meletakkan kalung. Secara umum dapat dikatakan bahwa kata an-nahr digunakan secara populer dalam arti menyembelih binatang sebagai syiar Islam. Hari raya Idul Adha juga dinamai id an-Nahr karena ketika itu dianjurkan untuk menyembelih binatang sebagai kurban.
Kata (              syaani’aka terambil dari kata (             syanaa’ani yang berarti kebencian. Kata ini digunakan al-Quran untuk menunjukkan adanya kebencian yang bukan pada tempatnya dan yang lahir karena iri hati.
Kata (              al-abtar diambil dari kata (           batara yang berarti terputus sebelum sempurna. Jika kata ini disandarkan pada hewan, maka ia berarti putus ekornya, dan jika kepada seorang laki-laki, biasanya diartikan dengan yang terputus kturunannya. Bisa juga diartikan yang terputus dari kebajikan.
Jika kita menerima riwayat yang menyatakan bahwa Sabab Nuzul nya ayat ini adalah ejekan kaum musyrikin terhadap Nabi sebagai terputus keturunannya, maka kata abtar adalah yang terputus keturunannya. Sedang jika riwayat tersebut ditolak, maka kata abtar berarti terputus dari kebajikan. Sehingga redaksi al-abtar bersifat umum dapat menampung kedua pendapat itu.[7]

2.      Surah Al-Ma’un
a.       Lafal Surah dan Terjemahannya




Artinya: “ Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan. (QS. Al-Ma’un/ 107: 1-7)[8]

b.      Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Tharif bin Abi Thalhah yang bersumber dari Ibnu Abbas,  dikemukakan bahwa ayat ini (QS. Al-Ma’un ayat 4-7) turun berkenaan dengan kaum munafiqin yang suka mempertontonkan shalat (ria) kepada kaum mukminin dan meninggalkannya apabila tidak ada yang melihatnya, serta menolak memberikan bantuan ataupun pinjaman. Ayat ini turun sebagai peringatan kepada orang-orang yang berbuat seperti itu. [9]

c.       Tafsir Surat Al-Ma’un
Kata (               dzalika/ itu digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang jauh. Ini memberi kesan betapa jauh tempat dan kedudukan yang ditunjuk dari pembicara, dalam hal ini Allah swt.
Kata (                  yukadzibu/ mendustakan atau mengingkari dapat beruba sikap batin dan dapat juga dalam bentuk sikap lahir, yang wujud dalam bentuk perbuatan.
Kata (                ad-din dari segi bahasa berarti agama, kepatuhan, dan pembalasan. Bila menggandengkan kata ad-din dengan yukadzibu, maka konteksnya adalah pengingkaran terhadap hari kiamat. Selanjutnya jika dikaitkan dengan makna kedua ini dengan sikap mereka yang enggan membantu anak yatim atau orang miskin karena menduga bahwa bantuannya kepada mereka tidak menghasilkan apa-apa, maka itu berarti sikap tersebut merupakan sikap yang tidak mempercayai adanya hari pembalasan.
Kata (               yadu’u berarti mendorong dengan keras. Kata ini tidak terbatas pada dorongan fisik, tetapi mencakup pula segala macam penganiayaan, gangguan dan sikap tidak bersahabat dengan mereka.
Kata (               al-yatiim diambil dari kata (          yutm yang berarti kesendirian. Bahasa menggunakan kata tersebut untuk menunjuk anak manusia yang belum dewasa yang ayahnya telah wafat, atau anak binatang yang induknya telah tiada. Walaupun ayat ini berbicara tentang anak yatim, namun maknanya dapat diperluas sehingga mencakup semua orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan.
Kata (                ) yahudhu berarti menganjurkan, mengisyaratkan bahwa mereka yang tidak memiliki kelebihan apapun, tetap dituntut paling sedikit berperan sebagai penganjur pemberi pangan.
Kata (                tha’am berarti makanan/ pangan. Kata ini bermaksud agar setiap orang yang menganjurkan dan atau memberi itu, tidak merasa bahwa ia telah memberi makan orang-orang yang butuh.
Huruf (        fa berarti maka yang berfungsi menghubungkan kalimat sebelumnya dengan kalimat sesudahnya seperi hubungan sebab akibat.
Kata (            wail digunakan dalam arti kebinasaan dan kecelakaan yang menimpa pelanggaran dan kedurhakaan, biasa digunakan sebagai ancaman.
Kata (                       al-mushallin walaupun dapat diterjemahkan dengan orang-orang yang shalat, tetapi dalam penggunaan al-Qur’an  ditemukan makna khusus. Jika dalam kata tersebut digandengkan dengan kata aqimu yang berarti perintah pelaksanaan sesuatu dalam bentuk sempurna. Kata  al-mushallin pada ayat tersebut tidak didahului oleh kata yang seakar dengan aqimu mengisyaratkan bahwa shalat mereka tidak sempurna, tidak khusyu, tidak memperhatikan syarat dan rukunnya, atau tidak menghayati arti dan tujuan hakiki dari ibadah tersebut.
Kata (                saahun terambil dari kata (         sahaa berarti lupa, lalai yakni seseorang yang hatinya menuju kepada sesuatu yang lain, sehingga pada akhirnya ia melalaikan tujuan pokoknya.
Kata (         ) berarti tentang/ menyangkut. Dalam ayat ini ‘an shalatihim berarti kecelakaan tertuju kepada mereka yang lalai tentang esensi makna dan tujuan shalat.
Kata (                yuraa’un terambil dari (         ) ra’a yang berarti melihat. Dari kata tersebut, lahirlah kata riya yakni siapa yang melakukan pekerjaannya sambil melihat manusia, sehingga jika tidak ada yang melihatnya, mereka tidak melakukannya.
Kata (                  al-ma’un menurut sementara ulama terambil dari akar kata (                  ma’unah yang berarti bantuan[10]

d.      Kandungan Surah[11]
Pada ayat 1, Allah swt menanyakan tentang siapa orang yang mendustakan agama. Kalimat tanya tersebut tidak memerlukan jawaban, karena Allah swt lebih mengetahui. Ayat ini memberikan penekanan agar Nabi Muhammad saw menaruh perhatian yang lebih terhadap masalah yang akan diterangkan. Orang yang mendustakan agama adalah orang yang paling celaka.
Pada ayat 2 dan 3, Allah swt mulai menjelaskan orang-orang yang termasuk mendustakan agama. Mereka adalah orang yang menghardik (menyia-nyiakan) anak yatim dan tidak mau menyuruh dan memberi makan (tidak peduli nasib) orang miskin.
Anak yatim ialah anak yang ditinggal mati ayahnya sehingga ia hidup bersama ibunya. Lazimnya, anak yatim mengalami kesulitan hidup karena ayahnya sebagai penopang kehidupan telah tiada. Sekurang-kurangnya, anak yatim mengalami tekanan batin kehilangan kasih sayang seorang ayah. Tekanan itu akan lebih terasa ketika ayahnya tidak meninggalkan harta yang cukup untuk menyambung hidupnya.
Orang Islam, terutama orang yang mampu wajib memperhatikan nasib anak yatim. Dengan memberikan kasih sayang, kepeduliaan dan tidak menyia-nyiakan mereka, akan mengurangi beban derita mereka. Nabi Muhammad saw memotivasi umatnya untuk senantiasa menyayangi anak yatim. Dalam sebuah hadis Nabi bersabda:




“Aku dan orang-orang yang memelihara anak yatim di surga seperti ini. Beliau menunjukkan telunjuk dan jari tengah serta beliau merenggangkan antara keduanya.” (HR. Al-Bukhari dari Sahl bin Sa’d No. 4892)





“Sebaik-baik rumah orang Islam adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim dan diasuh dengan baik. Seburuk-buruk rumah orang Islam adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan jahat. (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah No. 3669)

            Adapun yang dimaksud orang miskin ialah orang yang tidak berharta  dan serba kekurangan. Semua itu membuat hidupnya menderita. Islam mendidik umatnya agar memiliki kepedulian terhadap mereka. Rasulullah saw selalu memberikan motivasi kepada umatnya agar senantiasa membantu orang miskin. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda :







“Orang yang menolong janda dan orang miskin bagaikan orang yang berjihad di jalan Allah. Aku (Abu Hurairah) mengira beliau bersabda, “seperti orang yang shalat malam tidak merasa payah dan seperti orang yang puasa, tidak berbuka (sebelum waktunya).” (HR. Muslim dari Abu Hurairah No. 5295)

     Pada ayat 4 dan 5, Allah swt menjelaskan tentang orang-orang yang shalat, tetap mendapat celaka. Kecelakaan itu akibat mereka lalai terhadap shalatnya. Lalai disini berarti mengabaikan atau tidak memerhatikan waktu shalatnya. Shalat merupakan tiang agama sekaligus sebagai ukuran baik dan buruknya amal seseorang. Orang yang melalaikan shalatnya, ia termasuk pendusta agama.
     Pada ayat 6, Allah swt menjelaskan riya. Riya berarti berbuat baik karena ingin memperoleh pujian atau mendapat penghormatan dari orang lain. Orang yang riya termasuk pendusta agama karena perbuatan ini menyekutukan Allah swt dengan dirinya.
     Ayat 7 merupakan salah satu pelajaran tentang kepedulian sosial bagi umat Islam. Orang yang mengaku dirinya Islam, tentu akan memiliki kepeduliaan sosial terhadap sesama. Sifat bakhil atau kikir jelas bertentangan dengan agama Islam. Menurut ayat ini, orang yang enggan memberikan bantuan kepada orang lain merupakan bentuk pendustaan agama. Karena Islam adalah agama yang tidak hanya untuk diyakini, melainkan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah bersabda:




“ Abu Hurairah r.a berkata: Nabi saw bersabda : Tiada tiba hari dimana manusia berpagi-pagi melainkan turun dua malaikat, lalu yang satu berdo’a : Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang membelanjakan (mendermakan/bersedekah) hartanya. Sedang Malaikat  yang kedua berdo’a : Ya Allah, binasakan harta orang yang bakhil. (Bukhari Muslim).[12]
C.     Keterkaitan Surah al-Kausar dan al-Ma’un tentang Kepedulian Sosial
            Surah al-kausar dan al-Ma’un memiliki keterkaitan dalam hal kepedulian social. Keterkaitan kedua surah itu antara lain sebagai berikut.
1.      Kedua surah tersebut sama-sama mendidik umat islam agar memiliki kepedulian social.
2.      Kepedulian social dalam surah al-kausar diwujudkan dengan bentuk pemyembelihan kurban. Kemudian, daging kurban supaya didistribusikan kepada orang-orang yang memerlukan, terutama fakir miskin. Inilah bentuk kepedulian sosial yang dimaksud.
3.      Kepedulian sosial dalam surah al-Ma’un diwujudkan dengan bentuk
a.       Menyantuni dan tidak menyia-nyiakan anak yatim
b.      Peduli terhadap nasib atau keadaan orang-orang miskin
c.       Suka membantu atau meringankan beban orang dengan memberikan sesuatu yang dapat meringankan bebannya
4.      Keengganan memberi bantuan atau  bersifat kikir terhadap sesama yang membutuhkan merupakan bentuk pendustaan terhadap ajaran islam.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan fenomena yang terjadi di sekitar kita. Banyak anak yatim, fakir miskin, dan orang terlantar yang kurang mendapat perhatian. Sebagai seorang muslim, kita harus memiliki kepedulian terhadap mereka karena mereka adalah saudara kita. Rasulullah saw. Pernah bersabda sebagai berikut.

















Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak boleh menganiaya dan tidak boleh menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, Allah akan (membalas) membantu keperluannya. Barangsiapa membebaskan seorang muslim dari kesusahannya, Allah akan membebaskan satu kesusahan dirinya dari beberapa kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya kelak pada hari kiamat. (H. R. al-Bukhari dari Abdullah Ibnu Umar No. 2262).[13]

D.    Penerapan Isi Kandungan Surah al-kausar dan al-Ma’un dalam Kehidupan Sehari-hari
            Penerapan kandungan surah al-Kausar dan al-Ma’un dalam kehidupan sehari-hari antara lain sebagai berikut:
1.      Surah al-Kausar
a.       Kita harus mensyukuri  segala nikmat yang telah diberikan Allah swt. Kepada kita dengan menggunakannya sesuai petunjuk-Nya.
b.      Salat wajib lima waktu harus selalu kita laksanakan. Kemudian, salat sunnah juga kita laksanakan semampu kita.
c.       Bersedia menyisihkan sebagian harta untuk berkurban sebagai bentuk ibadah kepada Allah swt. dan ibadah sosial.
d.      Kita harus selalu peduli terhadap nasib fakir miskin
2.      Surah al-Ma’un
a.       Kita harus memiliki kepedulian terhadap anak yatim, seperti memberikan santunan, baik dalam bentuk sikap, ucapan, maupun perbuatan nyata. Lebih baik lagi, jika mampu memeliharanya.
b.      Mem biasakan diri kita untuk selalu ringan tangan atau suka membantu fakir miskin, misalnya memberi makan, member pekerjaan jika mampu, atau member sedekah dalam bentuk lain.
c.       Kita harus mendukung setiap usaha untuk mensejahterakan anak yatim dan fakir miskin.
d.      Kita harus selalu menjaga ibadah, terutama salat wajib, baik waktu maupun kekhusukannya.
e.       Kita harus berlatih ikhlas dalam segala perbuatan yang kita lakukan sehingga tidak bangga ketika dipuji dan tidak marah ketika dicela.
f.       Sikap dermawan harus kita tumbuhkan dalam kehidupan, jangan sampai sifat kikir ada pada diri atau keluarga kita. [14]




BAB III
PENUTUP
Simpulan
Kepedulian sosial berarti sikap memperhatikan atau menghiraukan urusan orang lain atau (sesama anggota masyarakat). Kepedulian sosial yang dimaksud bukanlah untuk mencampuri urusan orang lain, tetapi lebih pada membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi orang lain dengan tujuan kebaikan dan perdamaian.
Isi kandungan dari surat al-Kautsar yaitu perintah untuk shalat dan berqurban, berqurban memiliki nilai sosial yaitu sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan nimat Allah swt yang begitu banyak. Sedangkan isi kandungan dari surat al-Ma’un yaitu larangan menghardik anak yatim, harus membantu orang miskin dan senantiasa memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan bantuan.
Surah al-kausar dan al-Ma’un memiliki keterkaitan dalam hal kepedulian social yaitu kedua surah tersebut sama-sama mendidik umat islam agar memiliki kepedulian social, kepedulian social dalam surah al-kausar diwujudkan dengan bentuk pemyembelihan kurban, kepedulian sosial dalam surah al-Ma’un diwujudkan dengan bentuk menyantuni dan tidak menyia-nyiakan anak yatim dan lain-lain. Keengganan memberi bantuan atau  bersifat kikir terhadap sesama yang membutuhkan merupakan bentuk pendustaan terhadap ajaran islam.
Penerapan kandungan surah al-Kausar dan al-Ma’un dalam kehidupan sehari-hari antara lain yaitu kita harus senantiasa melaksanakan shalat, memuliakan dan menyayangi anak yatim, memiliki sifat ringan tangan dan saling menolong dan kita harus memiliki sifat dermawan.



DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Terjemah dan Tafsir Per Kata. 2010.  Bandung : Jabal.
Abdul Baqi, Muhammad Fuad . 1982. Al-Lu’lu Wal MarjanSurabaya: Bina Ilmu.
El-Jazairi, Abu Bakar Jabir. 1991. Pola Hidup MuslimBandung:Remaja
Rosdakarya.
K. H. Q. Shaleh, H. A. A. Dahlan, dkk. 2000. Asbabun NuzulBandung:
Diponegoro.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Volume 15 . Jakarta: Lentera Hati.
T. Ibrahim dan H. Darsono. 2013. Pemahaman Al-Qur’an Hadis untuk Kelas VIII
MTs. Solo: Pustaka Mandiri.



[1] T. Ibrahim dan H. Darsono, Pemahaman Al-Qur’an Hadis untuk Kelas VIII MTs, (Solo: Pustaka Mandiri, 2013) hlm. 31-32.
[2] Al-Qur’an Terjemah dan Tafsir Per Kata, (Bandung : Jabal, 2010) hlm. 602.
[3] K. H. Q. Shaleh, H. A. A. Dahlan, dkk, Asbabun Nuzul, (Bandung: Diponegoro, 2000) hlm. 679.
[4] T. Ibrahim dan H. Darsono, Op, Cit., hlm. 32-33.
[5] Ibid., hlm. 33-36.
[6] Abu Bakar Jabir El-Jazairi, Pola Hidup Muslim, (Bandung:Remaja Rosdakarya, 1991) hlm. 324.
[7] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 15 (Jakarta: Lentera Hati, 2002) Hlm. 559-567.
[8] Al-Qur’an Terjemah dan Tafsir Per Kata, Op, Cit., hlm. 602.
[9] K. H. Q. Shaleh, H. A. A. Dahlan, dkk, Op, Cit., hlm. 677.
[10] Quraish Shihab, Op, Cit.,  hlm. 546-551.
[11] T. Ibrahim dan H. Darsono, Op, Cit., hlm. 36-37.
[12] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu Wal Marjan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1982) hlm. 307-308.
[13] T. Ibrahim dan H. Darsono, Op, Cit., hlm. 38.
[14] Ibid., hlm. 39.


Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...