1. Definisi Berpikir
Berpikir adalah daya yang paling utama dan merupakan ciri yang khas yang membedakan manusia dari hewan. Dengan bahasa manusia dapat memberi nama kepada segala sesuatu baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dalam arti yang terbatas berpikir itu tidak dapat didefinisikan. Tiap jiwa yang menggunakan kata-kata dan pengertian selalu mengandung hal berpikir.
Berpikir adalah satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Kita berpikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian yang kita kehendaki. Ciri-ciri yang terutama dari berpikir adalah adanya abstraksi. Abstraksi dalam hal ini berarti: anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda, kejadian-kejadian dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan.
Menurut aliran psikologi ada beberapa pendapat tentang pengertian berpikir:
a. Psikilogi Asosiasi mengemukakan, bahwa berpikir itu tidak lain daripada jalannya tanggapan-tanggapan yang dikuasai oleh hukum asosiasi. Aliran psikologi asosiasi berpendapat bahwa dalam alam kejiwaan yang penting ialah terjadinya tersimpannya dan bekerjanya tanggapan-tanggapan. Unsur yang paling sederhana dan merupakan dasar bagi semua aktivitas kejiwaan adalah tanggapan-tanggapan. Daya jiwa yang lebih tinggi, seperti perasaan, kemauan, keinginan dan berpikir, semua berasal atau terjadi karena bekerjanya tanggapan-tanggapan. Pendapat inilah yang menimbulkan pendidikan dan pengajaran yang bersifat intelektualistis dan verbalis. Okoh yang terkenal dalam aliran ini ialah Jhon Locke (1632-1704) dan Herbart (1770-1841). Dengan adanya eksperimen-eksperimen yang dilakukan oleh para ahli psikologi kemudian, pendapat aliran ini tidak dapat dipertahankan lagi.
b. Aliran Behaviorisme berpendapat bahwa: berpikir adalah gerakan-gerakan reaksi yang dilakukan oleh urat syaraf dan otot-otot bicara seperti halnya bila kita mengucapkan “buah pikiran”. Jadi menurut Behaviorisme “berpikir” tidak lain adalah berbicara. Jika pada psikologi asosiasi yang merupakan unsur-unsur yang paling sederhana dalam kejiwaan manusia adalah tanggapan-tanggapan, maka dalam Behaviorisme unsur yang paling sederhana itu adalah refleks. Refleks adalah gerakan atau reaksi tidak sadar yang disebabkan adanya perangsang dari luar. Semua keaktifan jiwa yang lebih tinggi, seperti perasaan, kemauan, dan berpikir, dikembalikannya kepada refleks-refleks.
Dalam penyelidikannya terhadap tinggkah laku manusia, Behaviorisme hanya mau tahu soal tingkah laku luar (badaniah) saja. Gejala-gejala psikis yang mungkin terjadi adalah akibat dari adanya gejala-gejala atau perubahan-perubahan jasmaniah sebagai reaksi terhadap perangsang-perangsang tertentu. Itulah sebabnya menurut kaum Behavioris (W. James) “orang tidak menangis karena susuah, tetapi orang susah karena menangis”.
c. Psikologi Gestalt memendang bahwa gestalt yang teratur mempunyai peranan yang besar dalam berpikir. Psikologi Gestalt berpendapat bahwa proses berpikirpun seperti proses gejala-gejala psikis yang lain merupakan suatu kebulatan.
Berlainan dengan Behaviorime, maka penganut Psikologi Gestalt memandang berpikir itu merupakan keaktifan psikis yang abstrak, yang prosesnya tidak dapat kita amati dengan alat indra kita. Proses berpikir itu dilukiskan sebagai berikut: “jika dalam diri seseorang timbul suatu masalah yang harus dipecahkan, terjadilah lebih dahulu suatu skema atau bagan yang masih agak kabur-kabur. Bagan itu dipecahkan dan dibanding-bandingkan dengan sketsama.
Bagian Gestalt dalam bagan itu diamati benar-benar. Orang mencari bagian-bagian yang belum tampak dalam kebulatan yang dihadapinya. Kemudian anggota yang dicarinya itu muncul, sehingga tidak terasa kekosongan lagi. Apa yang dicarinya telah diketemukan. Masalah yang dihadapi terpecahkan.
d. Sehubungan dengan pendapat para ahli psikologi Gestalt itu, maka ahli-ahli psikologi sekarang sependapat bahwa proses berpikir pada taraf yang tinggi pada umumnya melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1) Timbulnya masalah, kesulitan yang harus dipecahkan,
2) Mencari dan mengupulkan fakta-fakta yang dianggap ada sangkut pautnya dengan pemecahan masalah,
3) Taraf pengelolahan atau pencernaan, fakta diolah dan dicernakan,
4) Taraf penemuan atau pencernaan; menemukan cara memecahkan masalah,
5) Menilai, menyempurnakan dan mencocokan hasil pemecahan.
Perlu diingat, bahwa jalannya berpikir itu ditentukan oleh bermacam-macam faktor. Suatu masalah yang sama, mungkin menimbulkan adanya pemecahan yang berbeda-beda pada tiap orang. Sehingga hasilnya pun kemungkinan berbeda pula. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jalannya berpikir itu antara lain ialah bagaimana seseorang melihat atau memahami asalah itu, situasi yang sedang dialami seseorang dan situasi luar yang dihadapi, pengalaman-pengalaman orang itu, dan bagaimana kecerdasan orang tersebut.[1]
2. Beberapa macam cara berpikir
Diatas telah diutarakan bahwa dalam berpikir orang mengolah, mengorganisasikan bagian-bagian dari pengetahuan, sehingga pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang tidak teratur menjadi tersusun merupakan kebulatan-kebulatan yang dapat dikuasai atau dipahami. Dalam hal ini orang dapat mendekati masalah itu melalui beberapa cara:
a. Berpikir Induktif
Berpikir induktif adalah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus menuju kepada yang umum. Orang mencari ciri-ciri atau sifat-sifat yang tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan bahwa ciri-ciri atau sifat-sifat itu terdapat pada seua jenis fenomena tadi. Beberapa contoh sebagai penjelasan:
1) Seorang ahli psikologi mengadakan penyelidikan dengan observasi. Bayi A setelah dilahirkan segera menangis, bayi B juga begitu, bayi C, D, E, F, dan seterusnya demikian pula. Kesimpulan “semua bayi yang normal segera menangis pada waktu dilahirkan”.
Tepat atau tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini terutama bergantung kepada representatif atau tidaknya sampel yang diambil yang mewakili fenomena keseluruhan.
b. Berpikir Deduktif
Sebaliknya dari berpikir induktif, maka berpikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum menuju kepada yang khusus. Dalam cara berfikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum. Dari situ ia menerapkannya kepada fenomena-fenomena yang khusus, dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut. Contoh sebagai penjelas:
1) Manusia semua akan mati (kesimpulan umum)
Jamilah adalah manusia (kesimpulan khusus)
Jamilah akan mati (kesimpulan deduktif)
2) Semua logam jika dipanaskan akan memuai (kesimpulan umum)
Besi adalah logam (kesimpulan khusus)
Besi jika dipanaskan memuai (kesimpulan deduktif)
Adapula semacam kesimpulan deduktif yang tidak dapat kita terima kebenarannya, yang disebut silogise semula.
Contoh: semua manusia bernapas dengan paru-paru (premis mayor)
Anjing bernafas dengan paru-paru (premis minor)
Karena itu anjing adalah manusia (kesimpulan yang salah)
c. Berpikir Analogis
Analogis berarti persamaan atau perbandingan. Berpikir analogis ialah berpikir dengan jalan menyamakan atau memperbandingkan fenomena-fenomena yang biasa atau pernah dialami. Di dalam cara berpikir ini, orang beranggapan bahwa kebenaran dari fenomena-fenomena yang pernah dialaminya berlaku pula bagi fenomena yang dihadapi sekarang.
Contoh: setiap hari kira-kira ja 11.00 udara di atas kota Bogor kelihatan berawan tebal; dan tidak lama sesudah itu hujan lebat itu turun smpai sore. Pada suatu hari kira-kira jam 11.00 udara di atas kota Bogor berawan tebal. Kesimpulannya: “sudah tentu sebentar lagi akan turun lagi hujan lebat sampai sore”.
Kesimpula yang diambil dari berpikir analogis ini kebenarannya lebih kurang dapat dipercaya. Kebenarannya ditentukan oleh faktor “kebenaran” dan bukan berdasarkan perhitungan yang tepat. Dengan kata lain: validitas kebenarannya sangat redah. [2]
d. Berpikir Kritis
Berpikir kritis adalah mode berpikir mengenai hal, substansi atau masalah apa saja dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya.[3] Definisi ini sungguh menarik karena ia mengarahkan perhatian pada keistimewaan berpikir kritis dimana para guru dan peneliti dibidang ini kelihatan pada perinsipnya menyetujui, bahwa satu-satunya cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis seseorang ialah melalui “berpikir tentang pemikiran diri sendiri” (atau sering disebut metakognisi), dan secara sadar berupaya memperbaikinya dengan merujuk pada beberapa model brpikir yang baik dalam bidang itu.
Sangat jelas berpikir kritis berbeda dengan berpikir tidak reflektif jenis berpikir dimana kita langsung mengarah kekesimpulan, atau menerima beberapa bukti, tuntutan atau keputusan begitu saja, tanpa sungguh-sungguh memikirkannya. Berpikir kritis dengan jelas menuntut interpretasi dan efaluasi terhadap observasi, komunikasi, dan sumber-sumber informasi lainnya. Lebih lanjut, pemikir yang kritis percaya ada banyak situasi dimana cara terbaik memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan adalah dengan memakai jenis berpikir keritis dan reflektif cenderung memakai metode-metode ini.
3. Definisi Inteligensi
Inteligensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berpuat sesuatu dengan cara yang tertentu. William Stem mengemukakan batasan sebagai berikut: Inteligensi adalah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya. Wiliam stem berpendapat bahwa inteligensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan. Pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada inteligensi seseorang.
Inteligensi adalah kesanggupan rohani untuk menyesuaikan diri kepada situasi yang baru dengan mempergunakan berpikir menurut tujuannya. Seseorang dikatakan berbuat inteligen kalau dalam situasi tertentu, ia dapat berbuat dengan cara yang tepat. Artinya, ia dapat memecahkan kesulitan-kesulitan, soal-soal yang dapat dalam suatu situasi itu. Dengan kata lain, ia dapat menyesuaikan diri dengan suatu situasi yang baru itu. [4]
Dari batasan yang dikemukakan diatas, dapat kita ketahui bahwa:
a. Inteligensi itu ialah faktor total. Berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan didalamnya (ingatan, fantasi, perasaan, perhatian, minat, dan sebagainya turut mempengaruh inteligensi seseorang).
b. Kita hanya dapat mengetahui inteligensi, dari tingkah laku atau perbuatannya yang tampak. Inteligensi hanya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsung, melalui “kelakuan inteligennya”.
c. Bagi suatu perbuatan inteligensi bukan hanya kemampuan yang dibawa sejak lahir saja yang penting faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan.
d. Bahwa manusia itu dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru, dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mewujudkan dan mencapai tujuan itu.
4. Ciri-ciri Perbuatan Inteligensi
a. Masalah yang dihadapi banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan.
b. Perbutan inteligensi sifatnya serasi tujuan dan ekonomis.
c. Masalah yang dihadapi, harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan.
d. Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat.
e. Dalam berbuat inteligen sering kali menggunakan daya mengabstraksi.
f. Perbuatan inteligen bercirikan kecepatan.
g. Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang menggnggu jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi.
5. Macam-macar Inteligensi
a. Inteligensi Praktis
Inteligensi Praktis adalah nama lain untuk inteligensi motor-indera yang tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan motor-indera (usia 0-2 tahun) dan merupakan dasar dari semua inteligensi yang berkembang kemudian. Dengan inteligensi praktis, seorang anak dapat belajar untuk berbuat sesuatu sekalipun ia belum mampu memikirkan perbuatan itu. Dala hal ini inteligensinya tidak lebih dari pada kemampuan untuk belajar berbuat semata-mata. Ia tahu bagai mana cara mengerjakan sesuatu akan tetapi ia tidak dapat memahami apa sebenarnya yang dikerjakannya itu, apa lagi untuk mengerti akibat perbuatan tersebut.
Seringkali, cara berpikir pada tingkat inteligensi praktis tidak hanya terjadi pada anak-anak kecil saja. Pada waktu tertentu orang dewasa juga melakukan sesuatu dengn cara berpikir seperti anak dalam periode perkembangan inteligensi praktis, yaitu dapat melakukan seuatu akan tetapi tidak memahami apa yang sedang ia kerjakan.
b. Inteligeni Praoperasional
Setelah anak memasuki perkembangan praoprasi (2-7 tahun), berkebang pulalah perkembangan kognitifnya memasuki tahap inteligensi praoprasional yang berciri adanya cara berpikir intuitif. Cara berpikir intuitif ini memungkinkan anak memahami berbagai tugas dan situasi yang kompleks. Walahpun tahap perkembangan ini merupakan kemajuan besar dari tahap pemikiran motor-indera yang praktis akan tetapi masih terdapat berbagai keterbatasan didalamnya. Kererbatasan itu antara lain berupa ketidak mampuan anak untuk menggunakan logika sebagai mana telah dapat dilakukan anak yang lebih dewasa.
c. Inteligensi Operasional
Disekitar usia 5 tahun samapai 7 tahun anak memasuki perkembangan dasar inteligensi oprasional dengan mulainya anak memahami apa yang disebut sebagai oprasi nyata (concrete operasion). Bentuk operasi nyata dalam tahap perkembangan inteligensi ini adalah konvresi dan klasifikasi. Konvresi merupakan sistem pengertian bahwa suatu transformasi atau perubahan dapat terjadi secara bolak-balik. Terjadi bolak-balik maksudnya adalah bila suatu oprasi menyebabkan perubahan maka oprasi lain dapat mengembalikan perubahan itu ke keadaan semula.
Sistim operasi lain adalah klasifikas. Melalui sistem klasifikasi, daam tahap inteligensi operasional anak mampu melihat bermacam hubungan yang terjadi diantara berbagai benda sehingga ia dapat mengadakan penggolongan atau klasifikasi dengan bermacam cara. Misalnya penggolongan menurut jenis atau menurut tingkatan.
Inteligensi operasional mempuyai keterbatasan pula. Keterbatasan utama adalah ketidak mampuan anak yang berada pada tahap inteligensi ini untuk menghadapi situasi-situasi hipotetik. Apa yang dapat dihadapi oleh anak dalam tahap ini terbatas pada karakteristik-karakteristik nyata yang terjadi dalam situasi-ituasi nyata.
d. Inteligensi operasional formal
Dalam tahap inteligensi formal keterbatasan inteligensi formal telah teratasi. Tahap perkembangan inteligensi ini diawali pada masa awal remaja.Anak menjadi mampu berfikir hipotetik dan dapat menguji secara sistematik berbagai penjelasan mengenai kejadian-kejadian tertentu, dikarenakan anak telah mulai dapat menemukan penyelesaian suatu masalah. Dalam penyelesaian masalah anak mampu menyisihkan berbagai penyebab kejadian yang tidak relevan dan mengkombinasikan berbagai kemungkinan di luar fakta-fakta yang nyata. Kemampuan lain dalam tahap inteligensi ini adalah kemampuan untuk berfikir secara abstrak. Anak mulai mampu memahami prinsip-prinsip abstrak yang berlaku dan hal itu merupakan suatu kemampuan yang sangat penting dalam mempelajari berbagai informasi yang harus diterimanya dari lingkungan.
BAB III
SIMPULAN
Berpikir adalah satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Kita berpikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian yang kita kehendaki. Ciri-ciri yang terutama dari berpikir adalah adanya abstraksi. Abstraksi dalam hal ini berarti: anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda, kejadian-kejadian dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan.
Beberapa macam cara berpikir yaitu:
1. Berpikir Induktif
2. Berpikir Deduktif
3. Berpikir Analogis
4. Berpikir Kritis
Inteligensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berpuat sesuatu dengan cara yang tertentu. William Stem mengemukakan batasan sebagai berikut: Inteligensi adalah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya.
Macam-macam integensi:
1. Inteligensi Praktis
2. Inteligeni Praoperasional
3. Inteligensi Operasional
4. Inteligensi operasional formal
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi ZE, Moch. Ishom. 2009. Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah. Yogyakarta: SJ Press.
Fisher, Alec. 2008. Berpikir Kritis. Jakarta: Erlangga.
Purwanto, M. Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar