Sabtu, 30 Mei 2020

PERBANDINGAN ANTARA KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DAN KURIKULUM 2013

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan kiranya penting akan adanya kurikulum karena Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Kurikulum PAI suatu Lembaga Pendidikan Agama Islam mempunyai tujuan mencetak kader bangsa yang paham ajaran Islam serta dapat mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari, sehat jasmani dan rohani, dan dapat berkembang mengikuti zaman.
Oleh karena suatu pendidikan dalam mencapai tujuan tersebut harus mengetahui prosedur ajar yang sesuai dengan kebutuhan sekarang dan akan datang serta kebutuhan lain yang menunjang efektifitasnya pembelajaran. Adanya kesalahan, menyepelekan proses serta prosedur ajar dapat menghambat bahkan menyebabkan kacaunya atau hilangnya arah tujuan pendidikan.
Supaya pendidikan Islam tidak jatuh ke lubang kehancuran, maka proses improvisasi kurikulum harus dilakukan adaptasi dan kontekstualisasi secara terus-menerus. Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum pendidikan Islam jangan pernah berhenti, jika memang ingin menjaga kepercayaan (amanat) dan menegakkan kemajuan masyarakat.
Kurikulum pendidikan Islam harus mencari terobosan baru yang sesuai dengan nafas pola hidup umat manusia yang menitik beratkan nilai kemajuan dan terbebas dari kebodohan dan kemiskinan. Sebab secara substantif, antara kebodohan dan kemiskinan itu merupakan dua sifat manusia yang mengkristal dan menjadi lawan nyata bagi dunia pendidikan pada umumnya.
Oleh karena itu, penting kiranya bagi seorang pendidik mengetahui dan paham apa perbandingan antara KTSP dan Kurikulum 2013 itu yang mencangkup pengertian, ciri-ciri, karakteristik, pentingnya perubahan Kurikulum 2013, perbedaan KTSP dan Kurikulum 2013.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan yang dapat di rumuskan sebagai berikut:
1.         Jelaskan pengertian kurikulum?
2.         Apa saja ciri-ciri kurikulum PAI?
3.         Apa saja karakteristik KTSP dan Kurikulum 2013?
4.         Bagaimana pentingnya perubahan Kurikulum 2013?
5.         Jelaskan perbedaan KTSP dan Kurikulum 2013?
6.         Apa saja kelebihan KTSP dan Kurikulum 2013?
7.         Apa saja kelemahan KTSP dan Kurikulum 2013?

C.      Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1.      Memenuhi tugas kelompok mata kuliah Kurikulum PAI di SMA.
2.      Mengetahui pengertian kurikulum.
3.      Memahami ciri-ciri kurikulum PAI.
4.      Mengetahui karakteristik KTSP dan Kurikulum 2013.
5.      Memahami pentingnya perubahan Kurikulum 2013.
6.      Mengetahui perbedaan KTSP dan Kurikulum 2013.













BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah konsep yang sering terdengar dalam dunia pendidikan, tetapi banyak yang mengartikan kurikulum identik dengan mata pelajaran atau mata kuliah. Sesungguhnya istilah kurikulum berasal dari bahasa latin curriculum yang arti asalnya a ranning course, or race course dan dalam bahasa Prancis berasal dari kata courier yang artinya berlari. Istilah kurikulum digunakan sebagai makna majaa dari mengejar mata pelajaran demi mencapai ijazah dan gelar. (Hamdan Ihsan dan Fuad Ihsan, 2007: 131)[1]
Definisi kurikulum dipandang sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan. kurikulum diartikan 2 macam yaitu:
1.      Sejumlah materi pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari di sekolah atau Perguruan Tinggi untuk memperoleh ijazah tertentu.
2.      Sejumlah materi pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan atau jurusan.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktifitas belajar mengajar. Kurikulum merupakan syarat mutlak dan cirri utama pendidikan sekolah atau pendidikan formal, sehingga kurikulum adalah bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan dan pelajaran.[2]
Pengertian kurikulum pendidikan Islam antara lain:
1.         Kurikulum adalah program pendidikan yang terdiri atas beberapa mata pelajaran yang harus diambil oleh anak didik pada suatu jenjang sekolah.
2.         Kurikulum adalah semua pengalaman yang diperoleh anak selama di Sekolah.
3.         Kurikulum adalah rencana belajar siswa agar mencapai tujuan yang ditetapkan.[3]

B.       Ciri-Ciri Kurikulum PAI
Menurut Al-Syaibani yang dikutip oleh Tafsir, bahwa kurkulum pendidikan islam seharusnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.         Kurikulum pendidikan Islam harus menonjolkan mata pelajaran agama dan Akhlak
2.         Kurikulum Pendidikan Islam harus memperhatikan pengembangan menyeluruh aspek pribadi siswa, yaitu aspek jasmani, akal, dan rohani.
3.         Kurikulum Pendidikan Islam memperhatikan keseimbangan antara pribadi dan masyarakat, dunia dan akherat, jasmani, akal, dan rohani manusia.
4.         Kurikulum pendidikan Islam memperhatiakan juga seni halus, yaitu ukur, pahat, tulis indah, gambar dan sejenisnya.
5.         Kurikulum Pendidkan Islam mempertimbangkan perbedaan-perbedaan kebudayaan yang sering terdapat di tengah manusia karena perbedaan tempat, dan juga perbedaan zaman, karena dirancang sesuai kebudayaan itu.
Armani Arif menjelaskan tentang ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam sebagai berikut:
1.         Agama dan akhlak sebagai tujuan utama yang didasarkan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
2.         Mempertahankan pengembangan dan bimbingan terhadap semua aspek pribadi siswa dari segi intelektual, psikologi, sosial dan spiritual.
3.         Adanya keseimbangan antara kandungan kurikulum dan pengalaman serta kegiatan pengajaran.
Berdasarkan ciri kurikulum pendidikan di atas, bahwa kurikulum ini sangat menonjolkan akhlak pribadi muslim yang tinggi atau dengan kata lain, dalam masalah kecerdasan emosionalnya (EQ). Dengan kurikulum dapat membangun masyarakat muslim di lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat. Sehingga dapat di wujudkan perilaku Islami, diantaranya berbudi pekerti luhur, baik terhadap Tuhan, terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain maupun dalam hubungan sosial mereka.[4]

C.      Karakteristik KTSP dan Kurikulum 2013
1.      Karakteristik KTSP
Karakteristik KTSP sebagai berikut :
a.       Pemberian Otonomi Luas Kepada  Sekolah dan Satuan Pendidikan
KTSP memberikan otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan, disertai seperangkat tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi setempat. Sekolah dan satuan pendidikan juga diberi kewenangan dan kekuasaan yang luas untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik serta tuntunan masyarakat.
Selain itu, sekolah dan satuan pendidikan juga diberikan kewenangan untuk menggali dan mengelola sumber dana sesuai dengan prioritas kebutuhan. Melalui otonomi yang luas, sekolah dapat meningkatkan kinerja tenaga kependidikan dengan menawarkan partisipasi aktif mereka dalam pengambilan keputusan dan tanggung jawab bersama dalam pelaksanaan keputusan yang diambil secara proporsional dan professional.

b.      Partisipsi Masyarakat dan Orang Tua yang Tinggi
Dalam KTSP, pelaksanaan kurikulum yang didukung oleh partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik yang tinggi. Orang tua peserta didik dan masyarakat tidak hanya mendukung sekolah melalui bantuan keuangan tetapi melalui komite sekolah dan dewan pendidikan merumuskan serta mengembangkan program-program yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Masyarakat dan orang tua menjalin kerja sama untuk membantu sekolah sebagai narasumber pada berbagai kegiatan sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

c.       Kepemimpinan Demokratis dan Profesional
Dalam KTSP, pengembangan dan pelaksanaan kurikulum didukung oleh adanya kepemimpinan sekolah yang demokratis dan professional. Kepala sekolah dan guru-guru sebagai tenaga pelaksana kurikulum merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan dan integritas professional. Kepala sekolah adalah manajer pendidikan professional yang direkrut komite sekolah untuk mengelola segala kegiatan sekolah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan.
Guru-guru yang direkrut oleh sekolah adalah pendidik professional dalam bidangnya masing-masing, sehingga mereka bekerja berdasarkan pola kinerja professional yang disepakati bersama untuk memberi kemudahan dan mendukung keberhasilan pembelajaran peserta didik. Dalam proses pengambilan keputusan, kepala sekolah mengimplementasikan proses “bottom-up” secara demokratis, sehingga semua pihak memiliki tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil beserta pelaksanaannya. 
d.      Tim-Kerja yang Kompak dan Transparan
Dalam KTSP, keberhasilan pengembangan kurikulum dan pembelajaran didukung oleh kinerja team yang kompak dan transparan dari berbagai pihak yang terlihat dalam pendidikan. Dalam dewan pendidikan dan komite sekolah misalnya, pihak-pihak yang terlibat bekerja sama secara harmonis sesuai dengan posisinya masing-masing untuk mewujudkan suatu “sekolah yang dapat dibanggakan” oleh semua pihak. Mereka tidak saling menunjukkan kuasa atau paling berjasa, tetapi masing-masing berkontribusi terhadap upaya peningkatan mutu dan kinerja sekolah secara keseluruhan.
Dalam pelaksanaan pembelajaran misalnya, pihak-pihak terkait bekerja sama secara professional untuk mencapai tujuan-tujuan atau hasilan KTSP merupakan hasil sinergi (synergistic effect) dari kolaborasi team yang kompak dan transparan. Dalam konsep KTSP yang utuh kekuasaan yang dimiliki sekolah dan satuan pendidikan, terutama mencakup pengambilan keputusan tentang pengembangan kurikulum dan pebelajaran serta penilaian hasil belajar peserta didik.
Di samping beberapa karakteristik di atas, terdapat beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan KTSP, sebagai berikut: 
a)      Sistem Informasi yang Jelas dan Transparan
b)      Sistem Penghargaan dan Hukuman[5]

2.      Karakteristk Kurikulum 2013
Kurikulum 2006 (KTSP) dikembangkan menjadi kurikulum 2013 dengan dilandasi pemikiran tantangan masa depan yaitu tantangan abad ke 21 yang ditandai dengan abad ilmu pengetahuan, knowledge-based society dan kompetensi masa depan. “Kurikulum 2013 disusun untuk menyempurnakan kurikulum sebenarnya dengan pendekatan belajar aktif berdasarkan nilai-nilai agama dan budaya bangsa. Berkaitan dengan hal ini, pemerintah telah melakukan penyesuaian beberapa nama mata pelajaran yang antara lain adalah mata pelajaran pendidikan agama Islam menjadi pendidikan agama Islam dan budi pekerti”
Kurikulum 2013 sudah tidak lagi menggunakan Standar kompetensi (SK) sebagai acuan dalam mengembangkan Kompetensi Dasar (KD). Sebagai gantinya, Kurikulum 2013 telah menyusun Kompetensi Inti (KI). Kompetensi inti adalah tingkat kemampuan untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus dimiliki seorang peserta didik pada setiap kelas atau program. (PP. No. 32/ 2013). Kompetensi Inti memuat kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan ke dalam Kompetensi Dasar. Perubahan perilaku dalam pengamalan ajaran agama dan budi pekerti menjadi perhatian utama, sehingga diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal dan selaras dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga demokratis serta bertanggung jawab.[6]

D.      Pentingnya Perubahan Kurikulum 2013
Kurikulum 2006 atau yang dikenal dengan KTSP dikembangkan menjadi Kurikulum 2013 didasari pemikiran tentang tantangan masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan paedagogik, kompetensi masa depan, dan fenomena negatif.
Berkaitan dengan perubahan kurikulum E. Mulyasa menyarankan bahwa dalam perubahan kurikukulum berbagai pihak menganalisis dan melihat perlunya diterapkan kurikulum berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter, yang dapat membekali peserta didik dengan berbagai sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan tuntutan teknologi. Dengan demikian perubahan kurikulum sangat penting dilakukan sebagai upaya mempersiapkan peserta didik yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman, yang dapat memecahkan berbagai persoalan bangsa.
Perbedaan paradigma atau pola pikir dalam penyusunan kurikulum 2004 dan  KTSP 2006 dengan Kurikulum 2013 sebagaimana dicantumkan dalam tabel di bawah ini :


NO
KTSP 2006
KURIKULUM 2013
1
Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari Standar Isi
Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari kebutuhan
2
Standar Isi dirumuskan berdasarkan Tujuan Mata Pelajaran (Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran) yang dirinci menjadi Standar Kompetensi  dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran
Standar Isi diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan melalui Kompetensi Inti yang bebas mata pelajaran
3
Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap, pembentuk keterampilan dan pembentuk pengetahuan.
Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan dan pengetahuan
4
Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran
Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai
5
Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti sekumpulan mata pelajaran
Semua mata pelajaran diikat oleh Kompetensi Inti (tiap kelas)

Perubahan tersebut diatas harus disosialisasikan secara luas pada semua pihak yang berkepetingan secara langsung dengan kependidikan di Sekolah maupun pihak lain yang berkepentingan. Strategi yang digunakan dalam sosialisasi Kurikulum 2013 dengan cara menginformasikan kebijakan implementasi Kurikulum 2013 bagi Guru kepada DPR, DPRD, Gubernur, Kabupaten atau Kota dan Masyarakat serta pelatihan Kurikulum 2013 kepada Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas.[7]

E.       Perbedaan KTSP dan Kurikulum 2013
Secara umum tema pengembangan Kurikulum 2013 adalah menghasilkan insani Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif (sikap spiritual dan sosial). Pencapaian perwujudan tema ini ditempuh melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dijabarkan dalam Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).
Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai bagian dari Kurikulum 2013 memiliki peran yang sangat penting berkenaan dengan pendidikan karakter sebagai tujuannya. Sebagai integrator maka PAI menghimpun kompetensi pengetahuan, sistem penilaian dan kompetensi keterampilan yang diaktualisasikan dalam sikap/ watak Islam.
Sekalipun diterbitkan oleh Puskurbuk Kemdiknas, isi kurikulum PAI 2013 dibuat oleh Kemenag RI berdasarkan Keputusan Menteri Agama no. 211 tahun 2011 tentang Pedoman Pengembangan Standar Nasional Pendidikan Agama Islam pada Sekolah.
Menilik bentuknya, perbedaan kurikulum PAI pada KTSP dan Kurikulum 2013 misalnya terdapat pada pemakaian istilah Kompetensi Inti (KI) untuk menggantikan SK, tidak dipilah per aspek (Al-Qur’an, Akidah, Akhlak, Fiqh, SKI) artinya PAI diajarkan sebagai satu kesatuan dan tidak dipilah per semester tetapi pertahun. Pelaksanaan evaluasi semester diserahkan kepada sekolah untuk mengaturnya.
Setiap kelas terdiri dari empat KI kemudian dijabarkan dalam KD. KI 1 merupakan sikap spiritual, KI 2 sikap sosial, KI 3 kognitif dan KI 4 adalah skill (keterampilan). KI 1 merupakan pengamalan core maple dalam kehidupan sehari-hari. KI 2 diamalkan dalam hubungannya dengan sesama manusia, KI 3 dan KI 4 sudah jelas.
Pada Kurikulum 2013 ini tugas guru untuk membuat administrasi mengajar cukup ringan karena silabus dan Kompetensi Dasar (KD) sudah disiapkan dari pusat, jadi guru tinggal mengembangkannya dalam RPP.[8]

F.       Kelebihan KTSP dan Kurikulum 2013
a.      Kelebihan KTSP
Kelebihan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), yaitu:
1.         Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu bentuk kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu adalah adanya penyeragaman kurikulum di seluruh Indonesia, tidak melihat kepada situasi riil di lapangan, dan kurang menghargai potensi keunggulan lokal.
2.         Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.
3.         KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. Sekolah dapat menitikberatkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya. Sebagai contoh daerah kawasan wisata dapat mengembangkan kepariwisataan dan bahasa inggris, sebagai keterampilan hidup.
4.         KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat. Karena menurut ahli beban belajar yang berat dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak.
5.         KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan.
6.         Guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum.
7.         Kurikulum sangat humanis, yaitu memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan isi/konten kurikulum sesuai dengan kondisi sekolah, kemampuan siswa dan kondisi daerahnya masing-masing.
8.         Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi terutama di sekolah yang berkaitan dengan pekerjaan masyarakat sekitar.
9.         Standar kompetensi yang memperhatikan kemampuan individu, baik kemampuan, kecakapan belajar, maupun konteks social budaya.
10.     Berbasis kompetensi sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi- potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.
11.     Pengembangan kurikulum di laksanakan secara desentralisasi (pada satuan tingkat pendidikan) sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum.
12.     Satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk menyususn dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasikan potensi sekolah kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.
13.     Guru sebagai fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar siswa.
14.     Mengembangkan ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan berdasarkan pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual.
15.     Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerjasama antar sekolah, masyarakat, dan dunia kerja yang membentuk kompetensi peserta didik.
16.     Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar.
17.     Berpusat pada siswa.
18.     Menggunakan berbagai sumber belajar.
19.     Kegiatan pembelajaran lebih bervariasi, dinamis dan menyenangkan.[9]

b.      Kelebihan Kurikulum 2013
Implementasi Kurikulum 2013 diharapkan dapat menghasilkan insani yang produktif, kreatif, inovatif dan kurikulum ini berbasis karakter, kompetensi yang secara konseptual memiliki beberapa kelebihan, sebagai berikut.
1.        Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah (konstektual), karena berangkat, berfokus dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing. Dalam hal ini peserta didik merupakan subjek belajar, dan proses belajar berlangsung secara alamiah dalam bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan kompetensi tertentu, bukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge).
2.        Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi boleh jadi mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain. Penguasaan ilmu pengetahuan, dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta mengembangkan aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal berdasarkan standar kompetensi tertentu.
3.        Bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam pengembangannya lebih tepat menggunakan, pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan dengan keterampilan.[10]

G.      Kelemahan KTSP dan Kurikulum 2013
a.      Kelemahan KTSP
Perlunya perubahan kurikulum karena adanya beberapa kelemahan yang ditemukan dalam KTSP 2006 sebagi berikut (diadaptasi dari materi sosialisasi kurikulum 2013)
1.        Isi dan pesan-pesan kurikulum masih terlalu padat, yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampui tingkat perkembangan usia anak.
2.        Kurikulum belum mengembangkan kompetensi secara utuh sesuai dengan visi, misi dan tujuan pendidikan nasional.
3.        Kompetensi yang dikembangkan lebih didominasi oleh aspek pengetahuan, belum sepenuhnya menggambarkan pribadi peserta didik (pengetahuan, keterampilan dan sikap).
4.        Berbagai kompetensi yang diperlukkan sesuai dengan perkembangan masyarakat, seperti pendidikan karakter, kesadaran lingkungan, pendekatan dan metode pembelajaran konstruktifistik, keseimbangan soft skills and hard skills, serta jiwa kewirausahaan, belum terakomodasi di dalam kurikulum.
5.        Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
6.        Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
7.        Penilaian belum menggunakan standar penilaian berbasis kompetensi, serta belum tegas memberikan layanan remediasi dan pengayaan secara berkala.[11]
b.        Kelemahan Kurikulum 2013
Kelemahan kurikulum 2013 yaitu:
1.        Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013.
2.        Tidak ada keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih diberlakukan.
3.         Pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar tidak tepat, karena rumpun ilmu pelajaran-pelajaran tersebut berbeda.[12]






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kurikulum adalah konsep yang sering terdengar dalam dunia pendidikan, tetapi banyak yang mengartikan kurikulum identik dengan mata pelajaran atau mata kuliah.
Ciri kurikulum PAI, bahwa kurikulum ini sangat menonjolkan akhlak pribadi muslim yang tinggi atau dengan kata lain, dalam masalah kecerdasan emosionalnya (EQ).
Karakteristik KTSP: a. Pemberian Otonomi Luas Kepada  Sekolah dan Satuan Pendidikan, b. Partisipsi Masyarakat dan Orang Tua yang Tinggi, c. Kepemimpinan Demokratis dan Profesional, d. Tim-Kerja yang Kompak dan Transparan
Karakteristik Kurikulum PAI: Kurikulum 2013 sudah tidak lagi menggunakan Standar kompetensi (SK) sebagai acuan dalam mengembangkan Kompetensi Dasar (KD). Sebagai gantinya, Kurikulum 2013 telah menyusun Kompetensi Inti (KI). Kompetensi inti adalah tingkat kemampuan untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus dimiliki seorang peserta didik pada setiap kelas atau program. (PP. No. 32/ 2013). Kompetensi Inti memuat kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan ke dalam Kompetensi Dasar.
Kurikulum 2006 atau yang dikenal dengan KTSP dikembangkan menjadi Kurikulum 2013 didasari pemikiran tentang tantangan masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan paedagogik, kompetensi masa depan, dan fenomena negatif. Peserta didik dengan berbagai sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan tuntutan teknologi.
Perbedaan kurikulum PAI pada KTSP dan Kurikulum 2013 misalnya terdapat pada pemakaian istilah Kompetensi Inti (KI) untuk menggantikan SK, tidak dipilah per aspek (Al-Qur’an, Akidah, Akhlak, Fiqh, SKI) artinya PAI diajarkan sebagai satu kesatuan dan tidak dipilah per semester tetapi pertahun. Pelaksanaan evaluasi semester diserahkan kepada sekolah untuk mengaturnya.
DAFTAR PUSTAKA
Amri, Sofan. 2013. Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum
2013. Jakarta: Prestasi Pustaka.
E. Mulyasa. 2011. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya Offset.
E. Mulyasa. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013 Cet. 2.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Hasan, Basri. 2014. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
H. Mahmud. 2011. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka.
Nik Haryanti. 2014. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam.
Bandung: Alfabeta.



[1] Basri Hasan, 2014, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, Hlm. 53.
[2] Nik Haryanti, 2014, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Bandung: Alfabeta,
  Hlm. 1-4.
[3] H. Mahmud, 2011,  Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka, Hlm. 141.
[4] Nik Haryanti, Op. Cit., Hlm. 5-6.
[5] E. Mulyasa, 2011, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, Hlm. 29-32.
[6] Nik Haryanti, Op. Cit., Hlm. 179-180.
[7] Ibid, hlm. 178-179.
[8] Ibid, Hlm. 185-186.
[10] E. Mulyasa, 2013, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013 Cet. 2, Bandung: PT.
 Remaja Rosdakarya, Hlm. 163-164.
[11] E. Mulyasa, Op.Cit., Hlm. 60-61.
[12] Sofan Amri, 2013, Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013, Jakarta:     Prestasi Pustaka, Hlm. .28-35.

Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...