BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Evaluasi pembelajaran merupakan bagian terpenting dalam suatu proses pembelajaran di kelas. Karena melalui evaluasi akan dapat diketahui suatu tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran sudah bisa didapatkan atau belum. Sehingga, didalam pendidikan sangat dituntut pengevaluasian yang tepat. Hal tersebut dikarenakan dengan evaluasi tersebut bisa dilakukan perbaikan-perbaikan yang positif.
Dalam pembelajaran SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) khususnya di MA (Madrasah Aliyah) bukan hanya menuntut siswa untuk mengetahui saja, melainkan aspek afektif dan psikomotorik juga mampu dikuasai oleh siswa. Hal ini tentu bisa dilakukan dengan adanya perbaikan yang positif. Maka dari situlah evaluasi dilakukan agar bisa diketahui aspek mana yang sudah tercapai dan aspek mana yang belum tercapai.
Evaluasi dalam hal ini tentu tidak terlalu sulit juga tidak terlalu mudah, karena untuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ini selain kebanyakan menggunakan metode ceramah dalam pelaksanaannya, siswa juga terkesan tidak aktif karena hanya mendengarkan apa yang dijelaskan oleh gurunya. Sehingga tidak sedikit siswa yang masih merasa bingung bahkan kesulitan dalam menguasai mata pelajaran yang satu ini.
Hal tersebut juga dikarenakan penilaian pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam lebih banyak menggunakan tes tulis, dibandingkan dengan tes-tes lain seperti tes lisan yang bisa membuat siswa berpikir lebih luas tentang sejarah. Ole karenanya, dalam makalah yang jauh dari sempurna ini, mencoba akan membahas berkenaan dengan Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dirumuskan masalahnya adalah:
1. Apa yang dimaksud evaluasi pembelajaran bidang studi SKI di MA?
2. Apa saja macam-macam evaluasi pembelajaran bidang studi SKI di MA?
3. Apa tujuan evaluasi pembelajaran bidang studi SKI di MA?
4. Bagaimana contoh evaluasi pembelajaran bidang studi SKI di MA berdasarkan kurikulum 2013 untuk kelas X?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian evaluasi pembelajaran bidang studi SKI di MA;
2. Untuk mengetahui macam-macam evaluasi pembelajaran bidang studi SKI di MA; dan
3. Untuk mengetahui tujuan pembelajaran bidang studi SKI di MA.
4. Untuk mengetahui contoh evaluasi pembelajaran SKI di MA berdasarkan kurikulum 2013 untuk kelas X.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah
Sebelum kepada pengertian Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah, berikut ini akan coba diuraikan terlebih dahulu tentang evaluasi pembelajaran atau bisa disebut sebagai penilaian.
Perkembangan konsep penilaian pendidikan yang ada pada saat ini menunjukkan arah yang lebih luas. Konsep-konsep tersebut pada umumnya berkisar pada pandangan sebagai berikut:
1. Penilaian tidak hanya diarahkan kepada tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tetapi juga terhadap tujuan-tujuan yang tersembunyi, termasuk efek samping yang mungkin timbul.
2. Penilaian tidak hanya melalui pengukuran perilaku siswa, tetapi juga melakukan pengkajian terhadap komponen-komponen pendidikan, baik masukan, proses maupun keluaran.
3. Penilaian tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, tetapi juga untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan tersebut penting bagi siswa dan bagaimana siswa mencapainya.
4. Mengingat luasnya tujuan dan objek penilaian, maka alat yang digunakan dalam penilaian sangat beraneka ragam, tidak hanya terbatas pada tes, tetapi juga alat penilaian bukan tes.
Berdasarkan hal-hal tersebut, maka lingkup sasaran penilaian mencakup tiga sasaran pokok, yakni:
1. Program pendidikan;
2. Proses belajar-mengajar; dan
3. Hasil-hasil belajar.[1]
Dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran. Norman E. Gronlund (1976) merumuskan pengertian evaluasi sebagai berikut: “Evaluation… a systematic process of determining the extent to which instructional objectives are achieved pupils”. (Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa).
Dengan kalimat yang berbeda, tetapi mengandung pengertian yang hampir sama, Wrightstone dan kawan-kawan (1956: 16) mengemukakan rumusan evaluasi pendidikan sebagai berikut: “Educational evaluation is the estimation ofi’owih and progress of pupils toward objectives or values in the curriculum.” (pendidikan ialah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum.).[2]
Dewasa ini, orang-orang lebih cenderung mengartikan evaluasi sebagai suatu pengertian yang sama dengan pengukuran dan penilaian, sehingga dalam memakianya hanya tergantung dari kata mana yang sedang siap untuk di ucapkannya. Akan tetapi orang lain, membedakan tiga istilah tersebut. Adapun perbedaannya yaitu:
1. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.
2. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kuantitatif.
3. Evaluasi meliputi kedua langkah di atas, yakni mengukur dan menilai
Dalam istilah pengukuran adalah measurement, sedangkan penilaian adalah evaluation. Dari kata evaluation inilah diperoleh kata Indonesia evaluasi yang berarti menilai (tetapi dilakukan dengan mengukur terlebih dahulu).[3]
Dalam makalah ini pembahasan dibatasi pada penilaian atau evaluasi pembelajaran, khususnya pembelajaran bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah. Adapun penilaian atau evaluasi tentang yang lainnya tidak bahas. Demikianlah uraian singkat mengenai evaluasi atau penilaian, selanjutnya akan diuraikan mengenai pengertian SKI (Sejarah Kebudayaan Islam).
Sejarah, sebagaimana diketahui dalam bahasa arab disebut syajarah yang berarti pohon atau sebatang pohon. Dengan demikian sejarah berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan suatu pohon mulai sejak benih pohon tersebut segala sesuatu yang dihasilkan oleh pohon itu. Maka bisa dikatakan sejarah adalah catatan detail tentang suatu pohon dan segala sesuatu yang dihasilkannya. Singkatnya, sejarah dapat diartikan catatan detail dengan lengkap tentang segala sesuatu. Sedangkan dalam bahasa inggris sejarah disebut history yang berarti cabang ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan kronologi berbagai peristiwa.[4]
Adapun suatu peristiwa dapat dikatakan sebagai sejarah apabila memenuhi unsur-unsur berikut:
1. Manusia;
2. Waktu;
3. Peristiwa; dan
4. Pencatat dan penulis.[5]
Sedangkan, kebudayaan berasal dari kata budi dan daya. Kemudian disatukan menjadi budidaya yang berarti sebuah upaya untuk menghasilkan dan mengembangkan sesuatu agar menjadi lebih baik dan memberikan manfaat bagi hidup dan kehidupan. Selanjutnya, kata budidaya diimbuhkan dengan ke dan an sehingga menjadi kebudidayaan, lalu disingkat menjadi kebudayaan. Jadi, kebudayaan artinya segala upaya yang dilakukan oleh umat manusia untuk menghasilkan dan mengembangkan sesuatu, baik yang sudah ada maupun yang belum ada agar memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Sementara itu, kata Islam secara bahasa artinya penyerahan, kepatuhan dan atau ketundukan. Secara istilah Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW khususya dan kepada para nabi lain pada umumnya untuk membimbing umat manusia meraih kebahagiaan di dunia dan di akherat kelak.
Dari ketiga kata diatas, yaitu Sejarah, Kebudayaan dan Islam apabila digabungkan menjadi Sejarah Kebudayaan Islam yang berarti catatan lengkap tentang segala segala sesuatu yang dihasilkan oleh umat Islam untuk kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia.
Demikianlah secara singkat yang bisa dipaparkan mengenai evaluasi atau penilaian dan SKI atau Sejarah Kebudayaan Islam. Adapun pengertian dari Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi SKI di MA, sebagaimana yang diuraikan diatas bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauhmana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa.
Maka, apabila diikatkan dengan pembelajaran bidang studi SKI di MA, menjadi Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi SKI di MA dan yang dimaksud Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi SKI di MA adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauhmana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa dalam pembelajaran bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Aliyah (MA).
B. Macam-Macam Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah
Berdasarkan yang sudah diketahui bersama bahwa evaluasi menjadi tolak ukur untuk memperhatikan kekurangan dan kelebihan yang sudah dilakukan dalam suatu kegiatan. Dalam pembelajaran banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran.
Dari sini, dapat dipahami bahwa macam evaluasi yang digunakan dalam setiap pembelajaran itu berbeda. Keberbedaan macam-macam evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran bukanlah seuatu persoalan, karena dalam pencapaiannya akan sama yakni mengukur ketercapaian usaha dari rencana yang sudah dilakukan.
Oleh karenanya, dalam pembahasan berikut ini akan mencoba dijelaskan mengenai evaluasi yang dapat digunakan dan sudah biasa digunakan dalam pembelajaran sejarah kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah.
Dalam pengevaluasian suatu mata pelajaran diperlukan alat-alat evaluasi atau alat-alat penilaian. Ada 2 tipe alat penilaian, yaitu:
1. Tes sebagai Alat Penilaian Hasil Belajar
Ada dua jenis tes yang akan dibahas, yakni tes uraian atau tes essai dan te objektif.
a. Tes uraian
Tes uraian yang disebut juga essay examination, merupakan alat penilaian hasil belajar yang paling tua. Secara umum tes uraian ini adalah pertanyaan yang menuntuk siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri.
Bentuk tes uraian dibedakan menjadi 2, yaitu:
1) Uraian bebas (free essay); dan
2) Uraian terbatas dan terstruktur.
Dalam uraian bebas jawaban siswa tidak dibatasi, bergantung pada pandangan siswa itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh isi pertanyaan uraian bebas yang bersifat umum.[6]
Dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah, evaluasi jenis tes uraian bebas ini memiliki kualitas tinggi dalam melakukan penilaian terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran. Contoh pertanyaan yang bisa dibuat dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah yaitu:
Jelaskan secara kronologis proses Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama di Gua Hiro menurut yang kamu pahami![7]
Berdasarkan dari tipe evaluasi jenis ini menuntut siswa agar benar-benar memakai aspek kognitifnya untuk mampu menjelaskan maksud dari pertanyaan tersebut. Sehingga siswa diharapkan mampu berpikir bebas mengenai proses Nabi Muhammad SAW menerima wahyu di Gua Hira.
Sedangkan tes uraian terbatas bentuk pertanyaan diarahkan kepada hal-hal tertentu atau ada pembatasan tertentu. Pembatasan bisa dari segi:
1) Ruang lingkupnya;
2) Sudut pandang menjawabnya; dan
3) Indikator-indikatornya.
Contoh pertanyaan yang bisa dibuat dalam evaluasi pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah jenis uraian ini, yaitu:
Jelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun duka cita (`amil hazni)![8]
b. Tes objektif
Soal-soal bentuk objektif dikenal ada beberapa bentuk, yakni jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan dan pilihan ganda. Kecuali bentuk jawaban singkat, dalam soal-soal bentuk objektif telah tersedia kemungkinan-kemungkinan jawaban (option)yang dapat dipilih.
Contoh soal Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah, yaitu:
1) Bentuk soal jawaban singkat
Ke kota manakah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah?
2) Bentuk soal benar-salah
Nabi Muhammad SAW hijrah dari kota Makkah ke Madinah (B-S)
3) Bentuk soal menjodohkan
Kaum yang menyambut kedatangan rombongan Rasulullah di kota yatsrib disebut…..
|
MUHAJIRIN
|
Kaum yang hijrah ke yatsrib bersama Rasulullah disebut…..
|
ANSHAR
|
4) Bentuk soal pilihan ganda
Bangsa Quraisy sebelum Islam mereka banyak menyembah…..
a. Matahari
b. Bulan
c. Bintang
d. Sapi
e. Berhala[9]
2. Nontes sebagai alat penilaian hasil dan proses belajar-mengajar
Hasil belajar dan proses belajar tidak hanya dinilai oleh tes, baik melalui bentuk tes uraian maupun tes objektif, tetapi juga dapat dinilai oleh alat-alat nontes atau bukan tes. Alat-alat bukan tes yang sering digunakan antara lain ialah questioner dan wawancara, skala (penilaian, sikap, minat), observasi atau pengamatan, studi kasus dan sosiometri.
Wawancara dan kuesioner sebagai alat penilaian digunakan untuk mengetahui pendapat, aspirasi, harapan, prestasi, keinginan, keyakinan dan lain-lain sebagai hasil belajar siswa. Cara yang dilakukan ialah dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa dengan beberapa cara. Apabila pertanyaan yang diajukan dijawab oleh siswa secara lisan, maka cara ini disebut wawancara. Bila pertanyaan yang diajukan dijawab oleh siswa secara tertulis disebut kuesioner. Bentuk pertanyaannya bisa objektif dan bisa pula essay.
Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat dan perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukkan.
Adapun observasi atau pengamatan sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar misalnya tingkah laku siswa pada waktu belajar, tingkah laku guru pada waktu mengajar, kegiatan diskusi siswa, partisipasi siswa dalam simulasi dan penggunaan alat peraga pada waktu mengajar.
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang dipandang mengalami suatu kasus tertentu. Misalnya mempelajari secara khusus anak nakal, anak yang tidak bisa bergaul dengan orang lain, anak yang selalu gagal belajar atau anak pandai, anak yang paling disukai teman-temannya. Kasus-kasus tersebut dipelajarinya secara mendalam dan dalam kurun waktu yang cukup lama. Tekanan utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melakukan apa yang dilakukannya dan bagaimana tingkah lakunya dalam kondisi dan pengaruhnya terhadap lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud sosiometri merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyesuaikan dirinya, terutama hubungan social siswa dengan teman sekelasnya.[10]
Adapun pembahasan mendalam mengenai alat-alat nontes tidak dijelaskan secara mendalam karena tujuan penulisan makalah ini tidak mengarah kesana. Melainkan sebatas mengetahui saja tentang berbagai alat-alat yang bisa digunakan untuk evaluasi.
C. Contoh Penilaian atau Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah berdasarkan Kurikulum 2013 untuk Kelas X
Berikut ini contoh penilaian yang sedang diuji coba oleh pemerintah berkenaan dengan pembelajaran bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah khususnya untuk kelas X. Karena memang baru kelas X yang baru dicobakan pembelajaran berbasis kurikulum 2013.
Adapun yang akan disajikan adalah dalam bentuk draft penilaian berdasarkan kurikulum 2013.
1. Penilaian Sikap (Afektif)
No
|
Nama Peserta Didik
|
Aktifitas
| |||||||||||||||
Kerjasama
|
Keaktifan
|
Partisipasi
|
Inisiatif
| ||||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
| ||
1
| |||||||||||||||||
2
| |||||||||||||||||
Rubrik Penilaian:
1. Apabila peserta didik belum memperlihat perilaku yang dinyatakan dalam indikator
2. Apabila peserta didik sudah memperlihatkan tetapi belum konsisten yang dinyatakan dalam indikator
3. Apabila peserta didik sudah memperlihatkan perilaku dan sudah konsisten yang dinyatakan dalam indikator
4. Apabila peserta didik sudah memperlihatkan perilaku kebiasaan yang dinyatakan dalam indikator
Catatan:
Penguasaan nilai disesuaikan dengan karakter yang diinginkan.
Rentang skor = Skor Maksimal – Skor Minimal
= 16 – 4
= 12
MK =
|
14 – 16
|
MB =
|
11 – 13
|
MT =
|
8 – 10
|
BT =
|
4 – 7
|
Keterangan:
BT :Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator)
MT : Mulai Terlihat (apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten)
MB : Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten)
MK : Mulai Membudaya/Terbiasa (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten)
2. Penilaian Psikomotorik
No
|
Nama Peserta Didik
|
Aspek yang Dinilai
|
Skor Maks.
|
Nilai
|
Ketuntasan
|
Tidak Lanjut
| ||||
1
|
2
|
3
|
T
|
TT
|
R
|
P
| ||||
Aspek dan rubrik penilaian:
1) Kejelasan dan kedalaman informasi
a. Jika kelompok tersebut dapat memberikan kejelasan dan kedalaman informasi lengkap dan sempurna, skor 30.
b. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman informasi lengkap dan kurang sempurna, skor 20.
c. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman informasi kurang lengkap, skor 10.
2) Keaktifan dalam diskusi
a. Jika kelompok tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi, skor 30.
b. Jika kelompok tersebut berperan aktif dalam diskusi, skor 30.
c. Jika kelompok tersebut kurang aktif dalam diskusi, skor 10.
3) Kejelasan dan kerapian presentasi
a. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan rapi, skor 40.
b. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan jelas dan rapi, skor 30.
c. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan kurang rapi, skor 20.
d. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan kurang jelas dan tidak rapi, skor 10.
3. Penilaian Kognitif
Untuk mengukur kemampuan kognitif peserta didik dalam kaitannya dengan mata pelajaran yang dipelajari bisa dilakukan dengan memberikan soal pilihan ganda dan uraian atau essay. Adapun penilaiannya sebagai berikut.
Skor penilaian:
a. Soal pilihan ganda, dalam contoh soal yang ada pada buku panduan guru dengan pendekatan saintifik kurikulum 2013 adalah 20 soal. Maka penilaiannya, yaitu: jumlah jawaban benar * 3 (maksimalnya berarti, 20 * 3 = 60).
b. Soal uraian atau essay, dalam contoh soal yang ada pada buku panduan guru dengan pendekatan saintifik kurikulum 2013 adalah 5 soal, untuk setiap soal nilai maksimalnya adalah 8. Maka penilaian maksimalnya yaitu 8 * 5 = 40.[11]
BAB III
KESIMPULAN
A. Pengertian Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah
Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi SKI di MA adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauhmana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa dalam pembelajaran bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Aliyah (MA).
B. Macam-Macam Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah
1. Tes sebagai Alat Penilaian Hasil Belajar, meliputi:
a. Tes Uraian; dan
b. Tes Objektif.
2. Nontes sebagai Alat Penilaian Hasil Belajar, meliputi:
a. Kuesioner;
b. Wawancara;
c. Skala;
d. Observasi;
e. Studi kasus; dan
f. Sosiometri.
C. Contoh Penilaian atau Evaluasi Pembelajaran Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah berdasarkan Kurikulum 2013 untuk Kelas X
Aspek penilaian berdasarkan pendekatan saintifik kurikulum 2013 yang diutamakan adalah afektif dengan tidak mengabaikan psikomotorik dan kognitif. Untuk lebih jelasnya dapat diamati pada bagian pembahasan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2011. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Kementerian Agama RI. 2014. Sejarah Kebudayaan Islam (Madrasah Aliyah) Kelas X (Guru). Jakarta: Kementerian Agama.
Kementerian Agama RI. 2014. Sejarah Kebudayaan Islam (Madrasah Aliyah) Kelas X (Siswa). Jakarta: Kementerian Agama.
Purwanto, Ngalim. 2009. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Rosdakarya.
Sudjana, Nana. 2012. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Cetakan ke-17. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Supriyadi, Dedi 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Taqiyuddin. 2013. Pendidikan Islam dalam Lintas Sejarah Nasional. Cetakan ke-2. Cirebon: CV Pangger.
[1] Nana Sudjana, 2012, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Cetakan ke-17, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, hlm. 1.
[2] Ngalim Purwanto, 2009, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: Rosdakarya, Hlm. 3.
[3] Suharsimi Arikunto, 2011, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, Hlm.3.
[4] Dedi Supriyadi, 2008, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, hlm. 13.
[5] Taqiyuddin, 2013, Pendidikan Islam dalam Lintas Sejarah Nasional, Cirebon: CV Pangger, Cetakan ke-2.hlm. 1-4.
[6] Nana Sudjana, 2012, Op. Cit., hlm. 35.
[7] Kementerian Agama RI, 2014, Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam (Madrasah Aliyah) Kelas X, Jakarta: Kementerian Agama, hlm. 38.
[9] Kementerian Agama RI, 2014, Buku Guru Sejarah Kebudayaan Islam (Madrasah Aliyah) Kelas X, Jakarta: Kementerian Agama, hlm. 9.
[10] Nana Sudjana, 2012, Op.Cit., hlm. 67.
[11]Kementerian Agama RI, 2014, Buku Guru Sejarah Kebudayaan Islam (Madrasah Aliyah) Kelas X, Op. Cit., hlm. 6-13.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar