Selasa, 02 Juni 2020

PENELITIAN AGAMA

PEMBAHASAN

A.    Kedudukan Penelitian Agama
Penelitian berasal dari kata teliti yang artinya cermat, saksama, pemeriksaan yang dilakukan secara saksama dan teliti dan dapat pula berarti penyelidikan. Penelitian (research) yang dilahirkan oleh dunia ilmu pengetahuan mengandung implikasi implikasi yang bersifat ilmiah, yaitu proses penyelidikan yang berjalan sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam ilmu pengetahuan tentang penelitian. Tujuan pokok dari kegiatan penelitian yaitu untuk mencari kebenaran-kebenaran objektif, yang kemudian digunakan sebagai dasar atau landasan untuk pembaruan, perkembangan atau perbaikan dalam masalah teoretis dan praktis bidang yang bersangkutan.[1]
Penelitian (research) adalah upaya sistematis dan objektif untuk mempelajari sesuatu masalah dan menemukan prinsip-prinsip umum. Penelitian berarti pengumpulan informasi yang bertujuan untuk menambah pengetahuan. Pengetahuan manusia tumbuh dan berkembang berdasarkan kajian-kajian sehingga terdapat penemuan-penemuan, sehingga ia siap merevisi pengetahuan-pengetahuan masa lalu melalui penemuan-penemuan baru.
Kriteria metode ilmiah, sebagaimana dijelaskan Moh. Nazir, adalah sebagai berikut :
1.      Berdasarkan fakta.
2.      Bebas dari prasangka.
3.      Menggunakan prinsip-prinsip analisis.
4.      Menggunakan hipotesis.
5.      Menggunakan ukuran objektif.
6.      Menggunakan teknik kuantitatif.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam metode ilmiah adalah sebagai berikut : 
1.      Memilih dan mendefinisikan masalah.
2.      Survey terhadap data yang tersedia.
3.      Memformulasikan hipotesis.
4.      Membangun kerangka analisis serta alat-alat dalam menguji hipotesis.
5.      Mengumpulkan data primer.
6.      Mengolah, menganalisis dan membuat interpretasi.
7.      Membuat generalisasi atau kesimpulan.
8.      Membuat laporan.[2]
Dengan demikian penelitian merupakan suatu upaya mengkaji suatu masalah dengan menggunakan pendekatan ilmiah, yang dilakukan untuk memperoleh informasi dan untuk menemukan jawaban terhadap persoalan yang terjadi, selain itu hasil daripada penelitiannya pun dapat dipertanggungjawabkan.
Selanjutnya yaitu  mengenai agama, H. M. Arifin mengatakan bahwa agama merupakan elemen yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia sejak zaman pra sejarah sampai zaman modern sekarang ini dapat dibagi menjadi dua segi yaitu segi bentuk dan isinya.
a.        Jika dilihat dari segi bentuknya, agama dapat dipandang sebagai kebudayaan batin manusia yang mengandung potensi psikologis yang mempengaruhi jalan hidup manusia.
b.      Dilihat dari segi isnya, agama merupakan ajaran atau wahyu Tuhan yang dengan sendirinya tidak dapat dikategorikan sebagai kebudayaan. Segi ini hanya berlaku bagi agama-agama samawi (wahyu). Sedangkan bagi agama yang sumbernya bukan wahyu dapat dipandang baik bentuk maupun isinya adalah kebudayaan.[3]
Berdasarkan pendapat tersebut, kegiatan penelitian terhadap agama budaya dapat dilakukan baik terhadap isinya maupun bentuknya. Sedangkan penelitian terhadap agama samawi hanya dapat dilakukan terhadap bentuk atau praktik yang tampak dalam kehidupan sosial dan bukan terhadap isinya. Karena isi agama samawi tidak perlu dipersoalkan lagi karena sudah diyakini kebenarannya.[4]
Adapun hal-hal yang dapat kita teliti dari agama yaitu sebagai berikut:
a.       Bentuk pengalaman dari ajaran agama tersebut, atau agama yang nampak dalam perilaku penganutnya. Misalnya meneliti tingkat keimanan dan ketakwaan yang dianut masyarakat. Selain itu dapat juga mengenai seberapa jauh tingkat kepedulian umat Islam terhadap penanganan masalah-masalah sosial sebagai panggilan ajaran agamanya.
b.      Penelitian agama dapat dilakukan dalam upaya menggali ajaran-ajaran agama yang terdapat dalam kitab suci tersebut serta kemungkinan aplikasinya sesuai dengan perkembangan zaman.[5]
Di kalangan masyarakat Indonesia terdapat kesan bahwa islam bersifat sempit. Kesan itu timbuldari salah pengertian tentang hakikat Islam. Kekeliruan paham ini terdapat bukan hanya dikalangan umat bukan Islam, tetapi juga dikalangan umat Islam sendiri, bahkan juga dikalangan agamawan-agamawan Islam.
Kekeliruan paham itu terjadi kurikulum pendidikan agama Islam yang banyak dipakai di Indonesia ditekankan pada pengajaran ibadat, fikih, tauhid, tafsir, hadits dan bahasa Arab. Oleh karena itu Islam di Indonesia banyak dikenal hanya dari aspek ibadat, fikih dan tauhid saja. Dan itupun ibadat, fikih dan tauhid biasanya diajarkan hanya menurut satu mazhab dan aliran saja. Hal ini memberi pengetahuan yang sempit tentang Islam.
Dalam Islam sebenarnya terdapat aspek-aspek selain dari yang tersebut diatas, seperti aspek teologi, aspek kebudayaan, aspek ajaran spiritual dan moral, aspek sejarah, aspek politik, aspek hukum, aspek lembaga-lembaga kemasyarakatan, aspek misticismedan tarekat, aspek falsafah, aspek ilmu pengetahuan dan aspek pemikiran serta usaha-usaha pembaharuan dalam Islam.[6]
Agama yang diturunkan dan terwujud dalam bentuk pengetahuan dan pikiran manusia merupakan bagian dari budaya. Oleh karena itu, ia termasuk objek penelitian filsafat atau kebudayaan. Dalam agama Islam terdapat gagasan para ahli filsafat, ahli kalam, ahli hukum (fikih), dan para sufi. Itu semua termasuk wilayah budaya atau filsafat.
Agama yang diturunkan dan terwujud dalam bentuk tindakan dan sikap manusia merupakan produk interaksi sosial. Oleh karena itu, ia merupakan bagian dari ilmu sosial dan ilmu sejarah. Hubungan kiai-santri dalam lingkungan lembaga pesantren, interaksi antara ulama dan umara dalam kehidupan politik, interaksi antara kiai dan masyarakat sekitarnya merupakan wilayah kajian dari ilmu-ilmu ini.[7]
Agama yang diturunkan dan terwujud dalam bentuk benda-benda suci atau keramat, seperti bangunan-bangunan Masjid yang bernilai historis tinggi, Candi Borobudur, dan Bedug Sunan yang dipamerkan dalam festival Istiqlal, mislnya merupakan wilayah kajian antropologi dan arkeologi.
Dengan demikian, agama dalam pengertian yang kedua, menurut Harun Nasution, dapat dijadikan sebagai objek penelitian tanpa harus menggunakan metode khusus yang berbeda dengan metode yang lain.
Atho Mudzhar mengutip pendapaat Middelton, guru besar antropologi di New York University. Middelton berpendapat bahwa penelitian agama (research or religion) berbeda dengan penelitian keagamaan (religius research). Penelitian agama lebih mengutamakan pada materi agama, sehingga sasarannya terletak pada tiga elemen pokok yaitu ritus, mitos dan magik. Sedangkan penelitian keagamaan lebih mengutamakan pada agama sebagai sistem atau sistem keagamaan (religius system ). (M. Atho Mudzhar, 1998: 35).
Penelitian tentang hidup keagamaan adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran agama yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif. Berdasarkan batasan tersebut, penelitian hidup keagamaan meliputi hal-hal berikut.
1.      Perilaku individu dan hubungannya dengan masyarakatnya yang didasarkan atas agama yang dianutnya.
2.      Perilaku suatu masyarakat atau suatu komunitas, baik perilaku politik,  budaya maupun yang lainnya yang mendefinisikan dirinya sebagai penganut suatu agama.
3.      Ajaran agama yang membentuk pranata sosial, corak perilaku dan budaya masyarakat beragama.[8]

B.     Pendekatan-Pendekatan Terhadap Islam
Istilah pendekatan merupakan kata terjemahan dari bahasa Inggris approach. Maksudnya adalah suatu disiplin ilmu untuk dijadikan landasan kajian sebuah studi ilmu atau penelitian, pendekatan dalam aplikasinya lebih mendekati disiplin ilmu karena tujuan utama pendekatan ini untuk mengetahui sebuah kajian dan langkah-langkah metodologis yang dipakai dalam pengkajian atau penelitian itu sendiri.[9]
Adapun dengan Islam adalah bukan agama yang monodimensi. Islam tidak hanya didasarkan kepada intuisis mistis manusia dan terbatas pada hubungan antara manusia dengan Tuhan. Islam tidak melepaskan dirinya dalam masalah kehidupan manusia di muka bumi. Islam juga merupakan agama yang membentuk suatu masyarakat dan peradaban.[10] Sehingga sangat memungkinkan untuk memahami Islam melalui suatu pendekatan.
Dalam buku yang diuraikan oleh Mukti Ali yang menjelaskan tentang pendekatan-pendekatan terhadap Islam melalui kehidupan, rukun iman, ibadat, dan shalat dan skema hidup yang diajarkan olehnya. Metode yang dipergunakan menurut Mukti Ali yaitu metode yang digunakan dalam Al-Quran itu sendiri, dan diusahakan untuk dapat menerangkan secara singkat ajaran-ajaran Islam.[11]
Cara orang mendekati dan memahami Islam ada 3 adalah pendekatan  naqli (tradisional), pendekatan aqli (rasional), pendekatan kasyfi (mistis). Tiga pendekatan diantaranya, tradisi dalam bentuk yang kaku sekarang ini hanya terdapat dalam kalangan Wahabiyah di Arab Saudi dan tarikat As-Sanusiyah di Afrika Utara. Akal menjadi pembantu dalam pemahaman ilmu kalam (teologi), pendekatan secara rohani dari kaum Sufi mengambil banyak bentuk sejak dari paham yang panteistik sampai kepada kezuhudan biasa.
Pengikut-pengikut Imam Hanbali dalam memahami agama mempertahankan pendekatan secara tradisional. Mereka berjuang berabad-abad lamanya menentang pemikiran-pemikiran yang bebas, berusaha untuk melampaui pemikiran ulama-ulama yang dulu. Mereka bahkan menentang dengan keras ilmu kalam, dan menerima mengulangi ajaran-ajaran akidah kuno dalam bentuk-bentuk yang kuno pula. Juga mereka menentang pendekatan agama secara mistis dalam segala bentuknya.
Imam Abu Hanifah cenderung kepada rasionalitas dan spekulasi dalam bidang akidah dan hukum, dan pengikut-pengikutnya mengikuti cara pendekatan ini. Pendekatan mistis dipergunakan dalam bidang politik. Hal itu berkembang di antara golongan Syi’ah, yang berusaha mencari arti yang tersembunyi dalam Al-Qur’an, dan keterkaitannya kepada Ali dan Ahlul Bayt kepada misinya yang dianggap suci, tetap menghidupkan pikiran bahwa Allah terus berbicara kepada manusia dan adanya orang pilihan yang sangat dekat kepada Tuhan.
Perkembangan teologi dalam Islam dan juga jurisprudensi, tidak memulai kecuali setelah Nabi Muhammad SAW. wafat. Selama beliau masih hidup dan menerima wahyu untuk menyelesaikan berbagai macam masalah yang dihadapi oleh umat, sudah barang tentu tidak akan ada sistem teologi yang dapat dibentuk atau bahkan dipikirkan pembentukannya. Bahkan pada 20 atau 30 tahun pertama setelah Nabi Muhammad wafat, umat Islam terlalu disibukan dengan penyiaran Islam, sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan apa sebenarnya ajaran Islam itu.[12] 

C.    Macam-Macam Penelitian
Seseorang yang akan menyusun konstruksi teori penelitian terlebih dahulu perlu mengetahui bentuk dari macam-macam penelitian, karena perbedaan bentuk atau macam penelitian yang dilakukan akan mempengaruhi bentuk konstruksi teori penelitian yang dilakukan, termassuk pula penelitian agama.
Penelitian dapat mengambil bentuk bermacam-macam tergantung dari sudut pandang mana yang akan digunakan untuk melihatnya, diantaranya[13]:
1.      Dilihat dari segi hasil yang ingin dicapai
a)      Penelitian menjelajah (exploratory atau deskriptif), maksudnya yaitu pengetahuan mengenai persoalan masih sangat kurang atau belum ada sama sekali, teori-teorinya belum ada atau belum diperlukan.
b)      Penelitian bersifat menerangkan (explanatory), dilakukan apabila sudah pasti ada teori-teori yang menjadi dasar hipotesis-hipotesis yang akan diuji dan jelas memerlukan teori.
2.      Dilihat dari segi objek yang akan diteliti
a)      Penelitian kepustakaan (library research), dengan menggunakan bahan-bahan tertulis seperti manuskrip, buku, majalah, surat kabar, dan dokumen lainnya.
b)      Penelitian lapangan (field research), dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari sasaran penelitian yang selanjutnya disebut informan atau responden melalui instrumen pengumpulan data seperti angket, wawancara dan observasi.
3.      Dilihat dari segi cara menganalisisnya
a)      Penelitian kualitatif, dilakukan terhadap objek penelitian yang bersifat sosiologis. Misalnya, sikap keagamaan, kecerdasan, pengaruh kebudayaan, dan lain-lain.
b)      Penelitian kuantitatif, dilakukan terhadap objek penelitian yang bersifat fisik, material dan dapat dihitung jumlahnya. Misalnya, jumlah orang yang melanggar peraturan dan sebagainya.
4.      Dilihat dari segi metode dasar dan rancangan penelitian yang digunakan. Jenis penelitian ini banyak digunakan sebagai acuan, karena cara pandang yang telah disebutkan sebelumnya dinilai sudah tercakup dalam cara melihat penelitian dari segi metode dan rancangannya. Macam-macam penelitian tersebut diantaranya:
a)      Penelitian historis (historical research), tujuannya yaitu untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi serta mensistematisasikan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.
b)      Penelitian kasus dan penelitian lapangan, tujuannya yaitu untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan sesuatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga atau masyarakat.
c)      Penelitian korelasional (correlational research), bertujuan untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan koefisien korelasi.
d)     Penelitian kausal komparatif (causal comparative research), bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.
e)      Penelitian eksperimental sungguhan, dilakukan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental dan memperbandingkan hasilnya satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenal kondisi perlakuan.
f)       Penelitian tindakan (action research), bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain.
g)      Penelitian survei, penelitian ini merupakan penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok.
h)      Grounded reserach, penelitian jenis ini menekankan pada pendekatan kualitatif, data dikumpulkan dengan menggunakan wawancara bebas dimana para peneliti tidak memulai penelitiannya dengan teori atau hipotesis yang akan diuji, melainkan bertolak dari data yang dikumpulkan.

D.    Bidang Pengkajian Agama
Durkheim serta ilmuwan-ilmuwan lain yang mengikutinya membagi bidang kajian agama pada dua hal : beliefs dan practices, kita disini juga membaginya dua hal : ajaran dan keberagamaan. Ajaran adalah teks lisan atau tulisan yang sakral dan menjadi sumber rujukan bagi pemeluk agama. Untuk agama Islam nash adalah al-Qur’an  dan al-Hadits.
Keberagamaan (religionsity) adalah perilaku yang bersumber langsung atau tidak langsung pada nash. Keberagamaan muncul dalam 5 dimensi :
1.         Dimensi ideologis, berkenaan dengan perangkat kepercanyaan (beliefs) yang memberikan “premis eksistensial” untuk menjelaskan alam, manusia, Tuhan dan hubungan diantara mereka.
2.         Dimensi intelektual mengacu pada pengetahuan agama apa yang tengah atau harus diketahui orang tentang ajaran-ajaran agamanya.
3.         Dimensi eksperiensial adalah bagian keagamaan yang bersifat afektif yakni keterlibatan emosional dan sentimentil pada pelaksanaan ajaran agama.
4.          Dimensi ritualistik merujuk pada ritus-ritus kegamaan yang dianjurkan oleh agama atau dilaksanakan oleh para pengikutnya. 
5.         Dimensi konsekuensial yang menjelaskan apakah efek ajaran Islam terhadap etos kerja, hubungan interpersonal, kepeduliatan kepada penderitaan orang lain, dan sebagainya.[14]

E.     Konstruksi Teori Penelitian Agama
1)      Pengertian
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, W. J. S. Poerwadarminta mengartikan konstruksi adalah cara membuat (menyusun) bangunan-bangunan, dan dapat pula berarti susunan dan hubungan kata di kalimat atau kelompok kata. Sedangkan teori berarti pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian), dan berarti pula asas-asas dan hukum-hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan. Teori dapat berarti pendapat, cra-cara dan aturan-aturan untuk melakukan sesuatu.
Berdasarkan uraian diatas, maka yang dimaksud dengan konstruksi teori penelitian agama adalah suatu upaya memeriksa, mempelajari, meramalkan, dan memahami secara seksama susunan atau bangunan dasar-dasar atau hukum-hukum dan ketentuan lainnya yang diperlukan untuk melakukan penelitian terhadap bentuk pelaksanaan ajaran agama sesuai tuntutan zaman.
2)      Langkah-Langkah Pokok Penyusunan Draft Penelitian dan Pengkajian Islam
Langkah-langkah pokok penyusunan draft penelitian dan pengkajian Islam merupakan salahsatu bagian pokok dari konstruksi teori penelitian agama. Langkah-langkah tersebut pada hakikatnya merupakan kegiatan yang harus ada dalam suatu rencana penelitian. Unsur-unsur yang terdapat dalam langkah penyusunan draf tersebut yaitu latar belakang masalah, studi kepustakaan, landasan teori, metodologi penelitian, dan kerangka analisis. Kelima unsur yang lazim digunakan dalam penelitian sosial itu dapat digunakan untuk penelitian agama, karena agama dari segi bentuk pelaksanaannya merupakan bagian dari pengetahuan sosial atau merupakan bagian dari budaya manusia yang bercorak batiniah. Kelima unsur tersebut dikemukakan lebih jelas dibawah ini:
a.       Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah pada hakikatnya memuat pemikiran atau alasan yang jelas dan meyakinkan mengapa penelitian tersebut harus dilakukan. Masalah yang terdapat dalam bidang keagamaan cukup banyak. Masalah yang ada tersebut harus benar-benar dipikirkan apakah masalah tersebut dicarikan jawabannya untuk pengembangan teori dalam bidang yang bersangkutan dengan dasar teoretis penelitiannya atau sekedar pemecahan masalah-masalah praktis.
Selanjutnya masalah tersebut perlu dipertimbangkan dari segi kemampuan si peneliti, seperti biaya yang tersedia, waktu yang dapat digunakan, alat-alat perlengkapan yang tersedia, bekal kemampuan teoretis yang dimiliki dan penguasaan metode yang diperlukan. Masalah tersebut selanjutnya dapat dirumuskan dalam kalimat tanya, padat, dan jelas serta memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan tersebut.
b.      Studi Kepustakaan
Kajian kepustakaan dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan topik penelitian yang akan diajukan dengan penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya sehingga tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu dan mubadzir. Selain itu, tinjauan pustaka berguna untuk memperdalam pengetahuan tentang masalah yang diteliti, mencaru celah atau peluang dari suatu penelitian yang akan dilakukan. Misalnya, kita akan meneliti pemikiran teologi dari Al-Ghazali, maka kita harus melakukan tinjauan pustaka atau membaca buku-buku atau hasil-hasil penelitian yang dilakukan para peneliti terdahulu, baik yang ada di Indonesia maupun yang ada di luar negeri. Setelah diketahui ternyata pemikiran teologi Al-Ghazali itu belum ada yang menelitinya, barulah kita melangkah untuk menelitinya.
c.       Landasan Teori dan Hipotesis
Teori merupakan pernyataan mengenai sebab akibat atau mengenai adanya hubungan positif antara gejala yang ditelitidari satu atau beberapa faktor tertentu dalam masyarakat. Dalam penelitian agama misalnya, teori yang mengatakan bahwa setiap perilaku yang diperankan oleh  seseorang selalu bertolak dari keyakinan agama yang dianutnya. Dengan teori ini kita dapat menjelaskan mengapa orang berkata, berbuat dan melakukan suatu perbuatan bertolak dari sudut pandang keyakinan agama yang dianutnya.
Suatu teori dalam penelitian sangat berguna untuk menjelaskan, menginterpretasi dan memahami suatu gejala atau fenomena yang dijumpai dari hasil penelitian. Kerangka atau landasan teoretis membantu si peneliti dalam menentukan tujuan dan arah penelitiannya dan dalam memilih konsep-konsep yang tepat guna pembentukan hipotesis-hipotesisnya. Hipotesis merupakan kesimpulan sementara yang akan digunakan untuk menjelaskan data-data yang dihasilkan melalui penelitian itu dibangun dari konsep-konsep atau teori-teori yang dihasilkan melalui kajian pustaka. Disini mulai terlihat adanya hubungan dialektis antara konsep lama dengan konsep baru sebagai hasil atau kesimpulan dari penelitian.
Dengan adanya landasan teori dan hipotesis, kita dapat mengetahui apakah penelitian yang dilakukan itu dapat mengungkapkan sesuatu yang sama sekali baru, menolak, mempertanyakan atau mengkaji ulang pemikiran atau hasil penelitian seseorang, atau telah berhasil mengembangkan dan memperdalam pemikiran atas hasil penelitian yang sudah ada.
d.      Metodology Penelitian
Pemilihan metode pelaksanaan penelitian dilakukan apabila konsep-konsep sudah ditemukan dan ditegaskan, dan landasan teori dan hipotesis telah terbentuk. Pemilihan metode didasarkan pada macam penelitian yang dilakukan serta maksud dan tujuan yang ingin dicapai.
Misalnya untuk penelitian yang bersifat eksploratif, dapat melakukan wawancara terbuka yang memberikan keleluasaan bagi si penjawab untuk memberi pandangan secara bebas. Sedangkan untuk penelitian yang bersifat deskriptif dapat menggunakan data kualitatif.
e.       Kerangka Analisis
Data-data yang telah terkumpul melalui berbagai metode tersebut selanjutnya diolah. Mengnalisis data merupakan suatu langkah yang sangat kritis dalam penelitian. Penelitian harus memastikan kerangka dan pola analisis mana yang akan digunakan, apakah analisis statistik atau analisis nonstatistik. Pemilihan tersebut tergantung pada jenis data yang dikumpulkan.





KESIMPULAN

Penelitian merupakan suatu upaya mengkaji suatu masalah dengan menggunakan pendekatan ilmiah, yang dilakukan untuk memperoleh informasi dan untuk menemukan jawaban terhadap persoalan yang terjadi, selain itu hasil daripada penelitiannya pun dapat dipertanggungjawabkan.
Istilah pendekatan adalah suatu disiplin ilmu untuk dijadikan landasan kajian sebuah studi ilmu atau penelitian, pendekatan dalam aplikasinya lebih mendekati disiplin ilmu karena tujuan utama pendekatan ini untuk mengetahui sebuah kajian dan langkah-langkah metodologis yang dipakai dalam pengkajian atau penelitian itu sendiri.
Macam-macam penelitian yaitu:
1.      Dilihat dari segi hasil yang ingin dicapai
a)         Penelitian menjlajah (exploratory atau deskriptif),
b)        Penelitian bersifat menerangkan (explanatory.
2.      Dilihat dari segi objek yang akan diteliti
a)      Penelitian kepustakaan (library research),
b)      Penelitian lapangan (field research).
3.      Dilihat dari segi cara menganalisisnya
a)      Penelitian kualitatif,
b)      Penelitian kuantitatif.
4.      Dilihat dari segi metode dasar dan rancangan penelitian yang digunakan.
a)      Penelitian historis (historical research),
b)      Penelitian kasus dan penelitian lapangan,
c)      Penelitian korelasional (correlational research),
d)     Penelitian kausal komparatif (causal comparative research),
e)      Penelitian eksperimental sungguhan,
f)       Penelitian tindakan (action research),
g)      Penelitian survei,
h)      Grounded reserach.
Durkheim serta ilmuwan-ilmuwan lain yang mengikutinya membagi bidang kajian agama pada dua hal : beliefs dan practices. Keberagamaan (religionsity) adalah perilaku yang bersumber langsung atau tidak langsung pada nash. Keberagamaan muncul dalam 5 dimensi yaitu dimensi ideologis, dimensi intelektual, dimensi eksperiensial, dimensi ritualistik, dimensi konsekuensial.
Konstruksi teori penelitian agama adalah suatu upaya memeriksa, mempelajari, meramalkan, dan memahami secara seksama susunan atau bangunan dasar-dasar atau hukum-hukum dan ketentuan lainnya yang diperlukan untuk melakukan penelitian terhadap bentuk pelaksanaan ajaran agama sesuai tuntutan zaman.





DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mukti. 1996. Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam Cet. III. Bandung:
Mizan, 1996.
Ali, Mukti. 1991. Metode Memahami Agama Islam. Jakarta: Bulan Bintang
Arifin, M. 1993.  Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum) Cet. II. Jakarta:
Bumi Aksara.
Arifin, M. 1992. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar Cet. IV. Jakarta:
Golden Trayon Press.
Hakim,Atang Abd. dan Jaih Mubarok. 2012. Metodologi Studi IslamBandung :
PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Nasution, Harun dkk. 1998. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Bandung :
Nuansa.
Nata, Abuddin. 2004. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Nata, Abuddin dkk. 2005. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum. Jakarta: Raja
Grafindo Persada
Sahrodi, Jamali. 2008. Metodologi Studi Islam Menelusuri Jejak Historis Kajian
Islam ala Sarjana Orientalis. Bandung: Pustaka Setia.


[1] H. M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), cet. II, hlm. 142.
[2] Atang Abd. Hakim, dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung : PT. Remaja          Rosdakarya Offset, 2012), hlm. 55-56.
[3] H. M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: Golden Trayon Press, 1992), cet. IV, hlm. 5.
[4] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), cet. IX, hlm. 170-171.
[5] Ibid., hlm. 171.
[6] Mukti Ali, 1991, Metode Memahami Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang. Hal. 48
[7] Ibid., hlm.  58-59.
[8] Ibid., hlm. 59-62.
[9] Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam Menelusuri Jejak Historis Kajian Islam ala Sarjana Orientalis, (Bandung: Pustaka Setia, 2008) hlm. 54-55.
[10] Abuddin Nata, dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 164.
[11] Ibid. Hal. 55-56
[12] Mukti Ali, Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam, (Bandung: Mizan, 1996) cet.III. hlm. 19-20.
[13] Abuddin Nata, Op, Cit., hlm. 172-178.
[14] Harun Nasution, dkk, Tradisi Baru Penelitian Agama Islam, (Bandung : Nuansa, 1998), hlm. 63-64.

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...