BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Persiapan dalam memasuki proses pembelajaran merupakan kata lain dari perencanaan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang pengajar sebelum memasuki proses pembelajaran, tanpa adanya persiapan atau perencanaan pembelajaran, maka ibarat menulis di atas air karena proses pembelajaran merupakan suatau hal yang nyata yang sebelumnya sudah di pertimbangkan dengan baik dan matang. Hal-hal yang harus dipersiapkan secara fisik diantaranya ialah:
a. Tubuh kita harus sehat secara jasmani maupun ruhani
b. Berpenampilan menarik dan sopan
c. Mampu memotivasi peserta didik
d. Memahami seluruh karakteristik peserta didik melalui psikologi belajar
Sedangkan hal-hal yang harus dipersiapkan secara administrasi, diantaranya ialah :
a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
b. Silabus
c. Program Tahunan dan program semester
d. Buku Paket untuk Guru dan siswa
e. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Dan sedangkan yang lainnya yang berkaitan dengan metode pembelajaran,media pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Jika kesemuanya telah dipersiapkan dan dilaksanakan dengan profesional maka hasilnya lima puluh persen kita telah menguasai proses pembelajaran.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka pembahasan dari makalah ini dapat diambil beberapa rumusan masalah diantaranya sebagai berikut.
1. Bagaimanakah persiapan memasuki proses pembelajaran?
C. Tujuan Penulisan makalah
Dari beberapa rumusan di atas mempunyai tujuan yaitu untuk:
1. Untuk mengetahui persiapan-persiapan yang harus dilaksanakan sebelum memasuki proses pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bagaimanakah persiapan memasuki proses pembelajaran
Persiapan mengajar pada hakikatnya memproyeksikan tentang apa yang akan dilakukan. Dengan demikian, persiapan mengajar adalah memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Perencanaaan pembelajaran perlu dilakukan untuk mengkoordinasikan komponen pembelajaran berbasis kompetensi, yakni: kompetensi dasar, materi standar, indikator hasil belajar, skenario pengajaran, dan penilaian berbasis kelas (PBK).
Kompetensi dasar berfungsi mengembangkan potensi peserta didik; materi standar berfungsi memberi makna terhadap kompetensi dasar; indikator hasil belajar berfungsi menunjukkan keberhasilan pembentukan kompetensi pada peserta didik; skenario pengajaran merupakan tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam proses pengajaran; sedangkan PBK berfungsi mengukur pembentukan kompetensi, dan menentukan tindakan yang harus dilakukan apabila standar kompetensi belum tercapai.
Membuat rencana mengajar merupakan tugas guru yang paling utama. Rencana mengajar merupakan realisasi dan pengalaman belajar siswa yang telah ditetap pada tahapan penentuan pengalaman belajar. Guru dapat mengembangkan rencana pengajaran dalam berbagai bentuk (Lembar Kerja Siswa, Lembar Tugas Siswa, Lembar Informasi, dan lain-lain), sesuai dengan strategi pembelajaran dan penilaian yang akan digunakan.
Kenneth D. Moore membagi perencanaan menjadi, rencana mingguan dan rencana harian (moore, 2001: 26). Menurutnya, rencana mingguan itu sangat perlu sebagai garis besar program pengajaran yang bisa disampaikan guru dan diserahkan kepada administrasi sekolah sehingga kalau tiba-tiba guru tersebut ada halangan, yang lain bisa mempunyai informasi apa yang harus disampaikan kepada muridnya. Sedangkan rencana harian, adalah rencana pembelajaran yang disusun untuk setiap hari mengajar, dan bersentuhan langsung dengan suasana dalam kelas.
Aderson dalam E. Mulyasa (2004: 83) membedakan perencanaan dalam dua kategori, yaitu perencanaan jangka panjang disebut unit plan yang merupakan perencanaan bersifat komprehensif, dimana data dilihat aktivitas guru selama satu semester. Perencanaan umum ini memerlukan uraian lebih rinci melalui perencanaan jangka pendek yang disebut dengan persiapan mengajar.
Guru, murid, dan bahan ajar merupakan unsure yang dominan dalam proses pembelajaran. Ketiga unsur ini saling berkaitan, mempengaruhi serta tunjang menunjang antara satu dengan yang lainnya. Jika salah satu unsur tidak ada, maka kedua unsur yang lain tidak dapat berhubungan secara wajar dan proses pembelajaran tidak akan berlangsung dengan baik. Jika proses belajar mengajar itu ditinjau dari segi kegiatan guru, maka terlihat bahwa guru memegang peranan prima. Ia berfungsi sebagai pembuat keputusan yang berhubungan dengan perencanaan, implementasi, dan penilaian/ evaluasi.
Istilah pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Oleh karena itu, pembelajaran memusatkan perhatian pada “bagaimana membelajarkan siswa”, dan bukan pada “apa yang dipelajari siswa”. Adapun perhatian terhadap apa yang telah dipelajari siswa merupakan bidang kajian dari kurikulum, yakni mengenai apa isi pembelajaran yang harus dipelajari siswa agar dapat tercapainya tujuan. Pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana agar dapat tercapai tujuan tersebut. Dalam kaitan ini hal-hal yang tidak bisa dilupakan untuk mencapai tujuan adalah bagaimana cara mengorganisasikan pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.
Pembelajaran yang akan direncanakan memerlukan berbagai teori untuk merancangnya agar rencana pembelajaran yang disusun benar-benar dapat memenuhi harapan dan tujuan pembelajaran. Untuk itu pembelajaran sebagaimana disebut oleh Degeng (1989), Reigeluth (1983) sebagai suatu disiplin ilmu menaruh perhatian pada perbaikan kualitas pembelajaran dengan menggunakan teori pembelajaran deskriptif, sedangkan rancangan pembelajaran mendekati tujuan yang sama dengan berpijak pada teori pembelajaran preskriptif.
1. Perencanaan dan implementasi persiapan pengajaran
Pekerjaan mengajar merupakan pekerjaan yang kompleks dan sifatnya dimensional. Berkenaan dengan hal tersebut, guru paling sedikit harus menguasai berbagai teknik yang erat hubungannya dengan kegiatan-kegiatan penting dalam pengajaran. Urutan pembelajaran yang baik selalu melibatkan keputusan guru berdasarkan berbagai tugas.
Aktivitas pertama “mendiagnosa kebutuhan peserta didik”, berarti para guru harus menaruh perhatian khusus terhadap peserta didik dalam kelas. Antara lain bertalian dengan minat para individu, kebutuhan dan kemampuan mereka. Selanjutnya dicari jalan keluar bagaimana memenuhi hal tersebut. Di samping itu guru juga harus menentukan bahan pelajaran yang dipilih dan diajarkan kepada peserta didik. Jawaban-jawaban atau usaha tersebut akan dapat membantu guru untuk melangkah kepada aktivitas berikutnya.
Kedua, yaitu “memilih isi dan menentukan sasaran”. Sasaran pengejaran kita melukiskan apa yang sebenarnya diharapkan dari peserta didik, agar mereka mampu melakukan sesuatu dengan sesuai urutan pembelajaran, dengan demikian para guru dapat mengetahui bahwa ‘peserta didik’ tersebut telah mempelajari sesuatu dalam kelas. Dalam hubungan ini para guru juga perlu mempertimbangkan adanya perbedaan individu yang terdapat dalam kelas tersebut selama mengajar.
Ketiga, mengidentifikasi teknik-teknik “pembelajaran”. Aktivitas ini dilakukan karena guru telah mengetahui sasaran-sasaran tertentu yang dapat digunakan sebagai basis untuk mengambil suatu keputusan. Guru dapat memilih secara bebas setiap tekhnik pembelajaran, sehingga merupakan penyesuaian yang bersifat professional, dan tindakan semacam ini dapat membantu para peserta didik untuk dapat mencapai sasaran yang telah ditentukan semula.
Keempat, merencanakan aktivitas “merumuskan unit-unit dan merencanakan pelajaran”. Dalam aktivitas ini yang paling penting adalah mengorganisasi keputusan-keputusan yang telah diambil, yaitu mengenai peserta didik secara individu, sasaran-sasaran, dan tekhnik pembelajaran dan bukukan pada dokumen resmi, sehingga dapat dipergunakan untuk melanjutkan pembelajaran berikutnya.
Kelima, “Memberikan motivasi dan implementasi program”. Perencanaan pada aktivitas ini mempersiapkan guru secara khusus bertalian dengan teknik motivasional yang akan diterapkan dan beberapa prosedur administratif yang perlu diikuti agar rencana pengajaran tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam hubungannnya dengan tugas atau aktivitas ini terdapat suatu keputusan yang sangat penting yang harus dilakukan, yaitu penetapkan transisi antara satu bagian dari pelajaran yang diberikan pada hari itu ke pelajaran pada hari-hari berikutnya.
Keenam, merupakan aktivitas yang terakhir, yaitu perencanaan yang dipusatkan kepada “pengukuran, evaluasi, dan penentuan tingkat”. Aktivitas ini merupakan pengembangan perencanaan untuk mengadakan test dan penyesuaian tentang penampilan peserta didik secara individual. Perlu diperhatikan bahwa terdapat hubungan antara pengukuran, evaluasi dan penentuan tingkatan tersebut dengan keenam aktivitas lain yang terdapat dalam kerangka kerja sebagaimana diutarakan diatas. Dengan demikian terdapat hubungan yang langsung antara masing-masing aktivitas tersebut.
2. Prinsip-prinsip persiapan mengajar
Untuk membuat perencanaan yang baik dan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang ideal, setiap guru harus mengetahui unsur-unsur perencanaan pembelajaran yang baik, antara lain: mengidentifikasi kebutuhan siswa, tujuan yang hendak dicapai, berbagai strategi dan skenario yang relevan digunakan untuk mencapai tujuan, dan kriteria evaluasi (Hunt, 1999: 24). Bersamaan dengan itu peran guru dalam mengembangkan strategi amat penting, karena aktivitas belajar siswa sangat dipengaruhi oleh sikap dan perilaku guru didalam kelas. Jika mereka antusias memperhatikan aktivitas dan kebutuhan-kebutuhan siswa, maka siswa-siswa tersebut pun akan mengembangkan aktivitas-aktivitas belajarnya dengan baik, antusias, giat, dan serius (Dede Rosyada, 2004: 123).
Pengembangan persiapan mengajar harus memperhatikan minat dan perhatian peserta didik terhadap materi yang dijadikan bahan kajian. Dalam hal ini perhatian guru bukan hanya sebagai transformator, tetapi harus berperan sebagai motivator yang dapat membangkitkan gairah belajar, serta mendorong siswa untuk belajar dengan menggunakan berbagai variasi media, dan sumber belajar yang sesuai serta menunjang pembentukan kompetensi. Berkenaan dengan hal tersebut, (E. Mulya, 2004: 80) mengemukakan beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam mengembangkan persiapan mengajar, yaitu:
a. Rumusan kompetensi dalam persiapan mengajar harus jelas. Semakin konkrit kompetensi, semakin mudah diamati dan semakin tepat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk membentuk kompetensi tersebut.
b. Persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
c. Kegiatan-kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam persiapan mengajar harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan.
d. Persiapan mengajar yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh, serta jelas pencapaiannya.
e. Harus ada koordinasi antara komponen pelaksana program sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksanakan secara tim (team teaching) atau moving class.
3. Komponen-komponen persiapan mengajar
Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada persiapan mengajar, sebagai produk program pembelajaran jangka pendek yang mencakup komponen kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program.
Cynthia dalam Mulyasa (2004: 82) mengemukakan bahwa proses pembelajaran yang dimulai dengan fase persiapan mengajar ketika kompetensi dan metodelogi telah diidentifikasi, akan membantu guru dalam mengorganisasikan materi standar serta mengantisipasi peserta didik dan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran. Sebaliknya, tanpa persiapan mengajar, seseorang guru akan mengalami hambatan dalam proses pembelajaran yang dilakukannya. Hal senada juga dikemukakan oleh Joseph dan Leonard (1982: 20) bahwa: Teaching without adequate written planning is sloppy and almost always ineffective, because the teacher has not thought out exactly what to do and how to do it.
Agar guru dapat membuat persiapan mengajar yang efektif dan berhasil guna, dituntut untuk memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan persiapan mengajar, baik berkaitan dengan hakikat, fungsi, prinsip maupun prosedur pengembangan persiapan mengajar, serta mengukur efektifitas mengajar.
Rencana pembelajaran yang baik menurut Gagne dan Briggs (1974) hendaknya mengandung tiga komponen yang disebut anchor point, yaitu: 1) tujuan pengajaran; 2) materi pelajaran/ bahan ajar, pendekatan dan metode mengajar, media pengajaran dan pengalaman belajar; dan 3) evaluasi keberhasilan. Hal ini sesuai dengan pendekatan Kenneth D.Moore (2001: 216) bahwa komposisi format rencana pembelajaran meliputi komponen:
a. Topik bahasan
b. Tujuan pembelajaran (kompetensi dan indikator kompetensi)
c. Materi pelajaran
d. Kegiatan pembelajaran
e. Alat/ media yang dibutuhkan, dan
f. Evaluasi hasil belajar
4. Dasar Perlunya Perencanaan Pembelajaran
Perlunya perencanaan pembelajaran sebagimana disebutkan di atas, dimaksudkan agar dapat dicapainya perbaikan pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan dengan asumsi sebagai berikut:
a. Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran
Perbaikan kualitas pembelajaran haruslah diawali dengan perbaikan desain pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dapat dijadikan titik awal dari upaya perbaikan kualitas pembelajaran. Hal ini dimungkinkan karena dalam desain pembelajaran, tahapan yang akan dilakukan oleh guru atau dosen dalam mengajar telah terancang dengan baik, mulai dari mengadakan analisis dari tujuan pembelajaran sampai dengan pelaksanaan evaluasi sumatif yang tujuannya untuk mengukur ketercapaian tujaun pembelajaran yang ditetapkan.
b. Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan sistem
Untuk mencapai kualitas pembelajaran, desain pembelajaran yang dilakukan haruslah didasarkan pada pendekatan sistem. Hal ini disadari bahwa dengan pendekatan sistem, akan memberikan peluang yang lebih besar dalam mengintegrasikan semua variable yang mempengaruhi belajar, termasuk keterkaitan antar variabel pengajaran yakni variable kondisi pembelajaran, variable metode, dan variable hasil pembelajaran.
c. Perencanaan desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar
Kualitas pembelajaran juga banyak tergantung pada bagaimana pembelajaran itu dirancang. Rancangan pembelajaran biasanya dibuat berdasarkan pendekatan perancangnya. Apakah bersifat intuitif atau bersifat ilmiah. Jika bersifat intuitif, rancangan pembelajaran tersebut banyak diwarnai oleh kehendak perancangnya. Akan tetapi, jika dibuat berdasarkan pendekatan ilmiah, rancangan pembelajaran tersebut diwarnai oleh berbagai teori yang dikemukakan oleh para ilmuan pembelajaran. Di samping itu, pendekatan lain adalah pembuatan rancangan pembelajaran bersifat intuitif ilmiah yang merupakan paduan keduanya, sehingga rancangan pembelajaran yang dihasilkan disesuaikan dengan pengalaman empiris yang pernah ditemukan pada saat melaksanakan pembelajaran yang dikembangkan pula dengan penggunaan teori-teori yang relevan. Berdasarkan dengan tiga pendekatan ini, pendekatan intuitif ilmiah akan dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih sahih dari dua pendekatan lainnya bila hanya digunakan secara terpisah
d. Desain Pembelajaran Diacukan pada Siswa Perorangan
Seseorang belajar dimiliki potensi yang perlu dikembangkan. Tindakan atau perilaku belajar dapat ditata atau dipengaruhi, tetapi tindakan atau perilaku belajar itu akan tetap berjalan sesuai dengan karakteristik siswa. Siswa yang lambat dalam berpikir, tidak mungkin dipaksa untuk segera bertindak dengan cara lambat. Dalam hal ini jika perencanaan pembelajaran tidak diacukan pada individu yang belajar seperti ii, maka besar kemungkinan bahwa siswa yang lambat belajar akan makin tertinggal, dan yang berpikir maju akan cepat maju pembelajarannya. Akibatnya proses pembelajaran yang dilakukan dalam suatu kelompok tertentu akan banyak mengalami hambatan karena perbedaan karakteristik siswa yang tidak diperhatikan. Hal lain yang merupakan karakteristik siswa adalah perkembangan intelektual siswa, tingkat motivasi, kemampuan berpikir, gaya kognitif, gaya belajar, kemampuan awal, dan lain-lain. Berdasarkan karakteristik ini, maka rancangan pembela maupun tidak mau harus diacukan pada pertimbangan ini.
e. Desain Pembelajaran Harus Diacukan pada Tujuan
Hasil pembelajaran mencakup hasil langsung dan hasil tak langsung (pengiring). Perancangan pembelajaran perlu memilah hasil pembelajaran yang langsung dapat diukur setelah selesai pelaksanaan pembelajaran, dan hasil pembelajaran yang dapat terukur setelah melalui keseluruhan proses pembelajaran, atau hasil pengiring. Perancang pembelajaran seringkali merasa kecewa dengan hasil nyata yang dicapainya karena ada sejumlah hasil yang tidak segera bisa diamati setelah pembelajaran berakhir terutama hasil pembelajaran yang termasuk pada ranah sikap. Padahal ketercapaian ranah sikap biasanya terbentuk setelah secara kumulatif dan dalam waktu yang relative lama terintegrasi keseluruhan hasil langsung pembelajaran.
f. Desain Pembelajaran Diarahkan pada Kemudahan Belajar
Sebagaimana disebutkan di atas, pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa dan perancangan pembelajaran merupakan penataan upaya tersebut agar muncul perilaku belajar. Dalam kondisi yang ditata dengan baik, strategi yang direncanakan akan memberikan peluang dicapainya hasil pembelajaran. Di samping itu, peran guru sebagai sumber belajar telah diatur secara terencana, pelaksanaan evaluasi baik formatif maupun sumatif telah terencana, memberikan siswa untuk belajar. Dengan desain pembelajaran, setiap kegiatan yang dilakukan guru telah terencana, dan guru dapat dengan mudah melakukan kegiatan pembelajaran. Jika hal ini dilakukan dengan baik, sudah tentu sasaran akhir dari pembelajaran adalah terjadinya kemudahan belajar siswa dapat dicapai.
g. Desain Pembelajaran Melibatkan Variabel Pembelajaran
Desain pembelajaran diupayakan mencakup semua variable pembelajaran yang dirasa turut mempengaruhi belajar. Ada tiga variable pembelajaran yang perlu dipertimbangkan dalam merancang pembelajaran. Ketiga variable tersebut adalah variable kondisi, metode, dan variabel hasil pembelajaran. Kondisi pembelajaran mencakup semua variabel yang tidak dapat dimanipulasi oleh perencanaan pembelajaran , dan harus diterima apa adanya. Yang masuk dalam variabel ini adalah tujuan pembelajaran, karakteristik bidang studi dan karakteristik siswa. Adapun variabel metode pembelajaran mencakup semua cara yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam kondisi tertentu. Yang masuk dalam variabel ini adalah strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian pembelajaran, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Adapun variabel hasil pembelajaran mencakup semua akibat yang muncul dari penggunaan metode pada kondisi tertentu, seperti keefektifan pembelajaran, efesiensi pembelajaran dan daya Tarik pembelajaran.
h. Desain Pembelajaran Penetapan Metode untuk Mencapai Tujuan
Inti dari desain pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Focus utama perencanaan pembelajaran adalah pada pemilihan, penetapan, dan pengembangan variabel metode pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran harus didasarkan pada analisis kondisi dan hasil pembelajaran. Analisis akan menunjukan bagaimana kondisi pembelajarannya, dan apa hasil pembelajaran yang diharapkan. Setelah itu, barulah menetapkan dan mengembangkan metode pembelajaran yang diambil dari setelah perancang pembelajaran mempunyai informasi yang lengkap mengenai kondisi nyata yang ada dan hasil pembelajaran yang diharapkan.
Ada tiga prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam upaya menetapkan metode pembelajaran. Ketiga prinsip tersebuta adalah (1) tidak ada satu metode pembelajaran yang unggul untuk semua tujuan untuk semua kondisi; (2) metode (strategi) pembelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda dan konsisten pada hasil pembelajaran; dan (3) kondisi pembelajaran bisa memiliki pengaruh yang konsisten pada hasil pengajaran.
5. Proses persiapan mengajar
Memang tidak ada format baku dalam penyusun persiapan mengajar . dengan demikian guru diharapkan dapat mengembangkan format-format baru. Tidak perlu ada keseragaman format, karena pada hakikatnya silabus dan rencana pengajaran adalah ‘program’ guru mengajar. Dalam hal ini, penulis menyajikan beberapa model persiapan mengajar sebagai bahan pembanding dan stimulus untuk lahirnya model-model baru.
1. Model ROPES
Hunt tidak mengkatagorikan perencanaan pengajaran menjadi rencana semester, mingguan, dan harian. Akan tetap Hunts menyebutkan rencana prosedur pembelajaran sebagai persiapan mengajar yang disebutnya ROPES (Review, Overview, Presentation, Exercise, Summary) dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Review, kegiatan ini dilakukan dalam waktu 1 sampai 5 menit, yakni mencoba mengukur kesiapan siswa untuk mempelajari bahan ajar dengan melihat pengalaman sebelumnya yang sudah dimiliki oleh siswa dan diperlukan sebagai prerequisite untuk memahami bahan yang disampaikan hari itu. Hal ini diperlukan dengan didasarkan atas :
a) Guru bisa memulai pelajaran, jika perhatian dan motivasi siswa untuk mempelajari bahan baru sudah mulai tumbuh.
b) Guru hendak memulai pelajaran, jika interaksi antara guru dengan siswa sudah mulai terbentuk.
c) Guru dapat memulai pembelajaran jika siswa-siswa sudah memahami hubungan bahan ajar sebelumnya dengan bahan ajar baru yang dipelajari hari itu.
Guru harus yakin dan tahu betumenerima pelajaran baru. Jika siswa belum menguasai pelajaran sebelumnya, maka guru harus dengan bijak member kesempatan kepada siswa untuk memahaminya terlebih dahulu atau mencerahkan melalui pemberian tugas, penjelasan, bimbingan, tutor sebaya, dan baru bergerak pada materi sebelumnya. Apabila terjadi akumulasi bahan ajar yang tertunda, maka harus dicarikan waktu tambahan, karena lebiuh baik menunda bahan ajar baru dari pada menumpuk ketidakpahaman siswa.
2) Overview, sebagaimana review, overview dilakukan tidak terlalu lama berkisar antara 2 sampai 5 menit. Guru menjelaskan program pembelajaran yang akan dilaksanakan pada hari itu dengan menyampaikan isi (content) secara singkat dan strategi yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pandangannya atas langkah-langkah pembelajaran yang akan ditempuh oleh guru sehingga berlangsungnya proses pembelajaran bukan hanya memiliki guru semata, akan tetapi siswa pun ikut merasa senang dan merasa dihargai keberadaannya.
3) Presentation, tahap ini merupakan inti dari proses kegiatan belajar mengajar, karena disini guru sudah tidak lagi memberikan penjelasan-penjelasan singkat, akan tetapi sudah masuk pada proses telling, showing, dan doing. Proses tersebut sangat diperlukan untuk meningkatkan daya serap dan daya ingat siswa tentang pelajaran yang mereka dapatkan. Hal ini sejalan dengan konsep yang dikemukakan oleh Mohammad Syafe’I yaitu bahan-bahan yang dapat mengembangkan pikiran, perasaan dan keterampilan atas yang lebih dikenal dengan istilah 3 H, yaitu Head, Heart, dan Hand. Apabila jika kompetensinya memasuki wilayah afektif dan psikomotor, strategi pembelajaran yang menekankan pada doing, atau hand menjadi sangat penting, karena penerimaan, tanggapan dan penanaman nilai akan otomatis berjalan dalam proses belajar mengajar. Semakin bervariasi strategi pembelajaran yang digunakan, semakin baik proses jenuh, melainkan mengantarkan mereka menikmati proses pembelajaran dengan suasana asyik dan menyenangkan.
4) Exercise,yakni suatu proses untuk memberikan kesempatan kepada siswa mempraktekkan apa yang telah mereka pahami. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga hasil yang dicapai lebih bermakna. Oleh karena itu guru harus mempersiapkan rencana pembelajaran tersebut dengan baik melalui skenario yang sistematis. Misal nya untuk sains bisa dilakukan praktek di laboratorium, untuk bahasa, membaca al-Qur’an, mengkafani mayat bisa dilakukan di kelas, jika tidak, sulit bagi guru untuk memberikan pengalaman-pengalaman manipulative melalui berbagai praktikum di sekolah. Di samping itu pula guru harus mempersiapkan perencanaan pengajaran bukan hanya bahan ajar saja, tetapi pengalaman belajar siswa yang harus diberikan lewat peragaan-peragaan, bermain peran dan sejenisnya yang harus ditata berdasarkan alokasi waktu antara penjelasan, asigement (tugas-tugas), peragaan dan lain sebagainya.
5) Summary, dimaksudkan untuk memperkuat apa yang telah mereka pahami dalam proses pembelajaran. Hal ini sering tertinggal oleh guru karena mereka disibukkan dengan presentase, dan bahkan mungkin guru tidak pernah membuat summary (kesimpulan) dari apa yang telah mereka ajarkan.
Hal yang ganjil dari rencana prosedur pembelajaran yang dikemukakan oleh Hunts adalah tidak mencantumkannya aspek penilaian, padahal hasil penilaian selain mengukur tingkat pencapaian kompetensi siswa, juga dapat dijadikan input untuk melakukan perbaikan pada proses pembelajaran berikutnya. Jika guru tidak mempunyai data dan informasi yang cukup tentang perkembangan siswanya, maka terjadilah penumpukan akumulasi ketidakpahaman siswa pada akhirnya menjadi boomerang bagi sekolah itu sendiri, sehingga muncul anggapan sekolah meluluskan siswa dengan kemampuan di bawah standar minimal penguasaan kompetensi.
Untuk mengetahui ide/ pemikiran Hunts tersebut, kiranya guru dapat memasukan unsur penilaian, karena melalui penilaianlah guru memperoleh gambaran tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang disampaikan sehingga dapat mengembangkan materi yang akan disajikan pada pertemuan berikutnya. Berdasarkan hasil penilaianlah guru dapat mengetahui tingkat efektivitas strategi pembelajaran yang digunakan.
6. Tipe-Tipe Belajar
Menurut Gagne belajar mempunyai delapan tipe. Kedelepan tipe itu bertingkat, ada hierarki dalam masing-masing tipe. Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya.
Tipe belajar dikemukakan oleh Gagne pada hakikatnya merupakan prinsip umum baik belajar maupun mengajar. Artinya, dalam mengajar atau membimbing siswa belajar pun terdapat tingkatan sebagaimana tingkatan belajar di atas. Kedelapan tipe itu adalah sebagai berikut.
a. Belajar Isyarat (Signal Learning)
Belajar isyarat mirip dengan conditionet responds atau respon bersyarat. Seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut dengan telunjuk dan lambaian tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah respon. Tipe belajar semacam inidengan melakukan respons suatu isyarat. Jadi, respons yang dilakukan itu bersifat umum, kabur, dan emosional. Menurut Threndike (1961). Bentuk belajar seperti ini biasanya bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak sadar.
b. Belajar Stimulus Respons(Stimulus Respons Learning)
Berbeda dengan belajar isyarat, respons bersifat umum, kabur dan emosional. Tipe belajar stimulus respons, respons bersifat spesifik. 2x6=6 adalah bentuk suatu hubungan S-R. mencium bau masakan sedap, keluar air liur, itu pun ikatan S-R. jadi, belajar stimulus respons sama dengan teori asosiasi (S-R bound). Setiap respons dapat diperkuat dengan reinforcement hal ini berlaku pula pada tipe belajar stimulus respons.
c. Belajar Rangkaian (Chaining)
Rantai dalam chaining adalah semacam rangkaian antara berbagai S-R yang bersifat segera. Hal ini terjadi dalam rangkaian motorik; seperti gerakan dalam mengikat tali sepatu, makan minum, merokok atau gerakan verbal seperti selamat tinggal, bapak ibu.
d. Asosiasi Verbal (Verbal Association)
Tipe belajar ini adalah mampu mengaitkan sesuatu yang bersifat verbalisme kepada sesuatu yang sudah dimilikinya. Misal “pyramid itu berbangun limas” adalah contoh tipe belajar asosiasi verbal. Seseorang dapat mengatakan bahwa pyramid berbangun limas kalau ia mengetahui berbagai bangun, seperti balok, kubus, kerucut. Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk bila unsur-unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu mengikuti yang lain.
e. Belajar Diskriminasi (Discrimination Learning)
Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian seperti membedakan bentuk wajah, hewan, tumbuhan, dan lain-lain.
f. Belajar Konsep (Concept Learning)
Konsep merupakan symbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil memuat tafsiran terhadap fakta atau realita, dan hubungan antara berbagai fakta. Suatu konsep dapat diklasifikasi berdasarkan ciri tertentu misalnya konsep tentang manusia, konsep burung, konsep ikan, dan lain-lain. Kemampuan seseorang dapat membentuk konsep apabila orang tersebut dapat melakukan diskriminasi.
g. Belajar Aturan (Rule Learning)
Tipe belajar aturan adalah lebih meningkat dari tipe belajar konsep. Dalam belajar aturan, seseorang dipandang telah memiliki berbagai konsep yang dapat digunakan untuk mengemukakan berbagai formula, hukum, atau dalil. Misalnya seseorang langsung mengatakan bahwa dalam suatu segitiga besar sudut seluruhnya adalah 180 derajat.
h. Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Tipe belajar yang terakhir adalah memecahkan masalah. Tipe belajar ini dapat dilakukan oleh seseorang apabila dalam dirinya sudah mampu mengaplikasikan berbagai aturan yang relevan dengan masalah yang dihadapinya. Dalam memecahkan masalah diperlukan waktu yang cukup, bahkan ada yang memakan waktu terlalu lama. Juga seringkali harus melalui berbagai langkah, seperti mengenal tiap unsur dalam masalah itu. Dalam segala langkah diperlukan pemikiran sehingga dalam memecahkan masalah akan diperoleh hasil yang maksimal.
Kedelapan tipe belajar diatas tampaknya para ahli sepakat merupakan tipe belajar yang memiliki hierarki. Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar selanjutnya. Sebaliknya tiap tipe belajar memerlukan penguasaan pada tipe belajar ditingkat bawahnya. Belajar memecahkan masalah misalnya harus menguasai sejumlah aturan yang relevan seterusnya untuk belajar aturan perlu penguasaan beberapa konsep yang digunakan pada aturan.
Dalam kaitan dengan perencanaan pengajaran, tipe belajar ini perlu mendapat perhatian, sebab hal ini menjadi salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan pengajaran yang diberikan kepada siswa. Dengan kata lain, agar siswa belajar mencapai taraf yang lebih tinggi, diperlukan kemampuan guru dalam menerapkan prinsip-prinsip sebagaimana yang telah diuraikan diatas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pekerjaan mengajar merupakan pekerjaan yang kompleks dan sifatnya dimensional. Berkenaan dengan hal tersebut, guru paling sedikit harus menguasai berbagai teknik yang erat hubungannya dengan kegiatan-kegiatan penting dalam pengajaran. Urutan pembelajaran yang baik selalu melibatkan keputusan guru berdasarkan berbagai tugas.
1. Aktivitas pertama “mendiagnosa kebutuhan peserta didik”, berarti para guru harus menaruh perhatian khusus terhadap peserta didik dalam kelas. Antara lain bertalian dengan minat para individu, kebutuhan dan kemampuan mereka. Selanjutnya dicari jalan keluar bagaimana memenuhi hal tersebut. Di samping itu guru juga harus menentukan bahan pelajaran yang dipilih dan diajarkan kepada peserta didik. Jawaban-jawaban atau usaha tersebut akan dapat membantu guru untuk melangkah kepada aktivitas berikutnya.
2. Kedua, yaitu “memilih isi dan menentukan sasaran”. Sasaran pengejaran kita melukiskan apa yang sebenarnya diharapkan dari peserta didik, agar mereka mampu melakukan sesuatu dengan sesuai urutan pembelajaran, dengan demikian para guru dapat mengetahui bahwa ‘peserta didik’ tersebut telah mempelajari sesuatu dalam kelas. Dalam hubungan ini para guru juga perlu mempertimbangkan adanya perbedaan individu yang terdapat dalam kelas tersebut selama mengajar.
3. Ketiga, mengidentifikasi teknik-teknik “pembelajaran”. Aktivitas ini dilakukan karena guru telah mengetahui sasaran-sasaran tertentu yang dapat digunakan sebagai basis untuk mengambil suatu keputusan. Guru dapat memilih secara bebas setiap tekhnik pembelajaran, sehingga merupakan penyesuaian yang bersifat professional, dan tindakan semacam ini dapat membantu para peserta didik untuk dapat mencapai sasaran yang telah ditentukan semula.
4. Keempat, merencanakan aktivitas “merumuskan unit-unit dan merencanakan pelajaran”. Dalam aktivitas ini yang paling penting adalah mengorganisasi keputusan-keputusan yang telah diambil, yaitu mengenai peserta didik secara individu, sasaran-sasaran, dan tekhnik pembelajaran dan bukukan pada dokumen resmi, sehingga dapat dipergunakan untuk melanjutkan pembelajaran berikutnya.
5. Kelima, “Memberikan motivasi dan implementasi program”. Perencanaan pada aktivitas ini mempersiapkan guru secara khusus bertalian dengan teknik motivasional yang akan diterapkan dan beberapa prosedur administratif yang perlu diikuti agar rencana pengajaran tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam hubungannnya dengan tugas atau aktivitas ini terdapat suatu keputusan yang sangat penting yang harus dilakukan, yaitu penetapkan transisi antara satu bagian dari pelajaran yang diberikan pada hari itu ke pelajaran pada hari-hari berikutnya.
6. Keenam, merupakan aktivitas yang terakhir, yaitu perencanaan yang dipusatkan kepada “pengukuran, evaluasi, dan penentuan tingkat”. Aktivitas ini merupakan pengembangan perencanaan untuk mengadakan test dan penyesuaian tentang penampilan peserta didik secara individual. Perlu diperhatikan bahwa terdapat hubungan antara pengukuran, evaluasi dan penentuan tingkatan tersebut dengan keenam aktivitas lain yang terdapat dalam kerangka kerja sebagaimana diutarakan diatas. Dengan demikian terdapat hubungan yang langsung antara masing-masing aktivitas tersebut.
B. Saran dan Kritik
Dalam penyusunan makalah ini penulis menginginkan adanya masukan serta kritikan dari pembaca sehingga dalam penulisan makalah – makalah lain khususnya makalah Materi Pembelajaran Fiqh di MA tentang persiapan memasuki proses pembelajaran yang baik dan benar ini kami akan mendapatkan banyak revisi serta masukan dari berbagai karakteristik pembaca sehingga dimaksudkan agar dalam penulisan makalah – makalah yang lain akan menjadi lebih baik dan menuju kesempurnaan .terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Hamzah B Uno.2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta : PT. Bumi Aksara
Majid, Abdul. 2011. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.