Senin, 01 Juni 2020

ASBABUN AN-NUZUL AL-QUR’AN

ASBABUN NUZUL


A.    Pembahasan

1.          1. Pengertian Asbabun Nuzul

         Usman (2009:112-113) menyatakan bahwa “Asbabun nuzul ayat-ayat al-Qur’an dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: pertama, segi bentuk sebab turunnya ayat. Kedua, jumlah sebab dan ayat yang turun. Dari segi bentuknya, asbabun nuzul dapat dibagi menjadi dua, yaitu: pertama, bentuknya peristiwa. Kedua, bentuknya pertanyaan.”

           Menurut bahasa (etimologi), asbabun nuzul berarti turunnya ayat-ayat al-Qur’an[1] dari kata “asbab” jamak dari “sababa” yang artinya sebab-sebab, nuzul yang artinya turun. Yang dimaksud disini adalah ayat al-Qur’an. Asbabun nuzul adalah suatu peristiwa atau saja yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al-Qur’an baik secara langsung atau tidak langsung. (Rifa’I dan Syadali, 2006 : 89 ).

Di kalangan para ulama dan pakar bahasa Arab tidak ada kesepakatan tentang ucapan, asal pengambilan dan arti kata al-Qur’an. Di antara mereka berpendapat bahwa kata al-Qur’an itu harus diucapkan tanpa huruf hamzah. Termasuk mereka yang berpendapat demikian adalah al-Syafi’i al-Farra dan al-Asy’ari. Para pakar lain berpendapat bahwa kata al-Qur’an tersebut harus diucapkan dengan memakai huruf hamzah. Termasuk mereka yang berpendapat seperti ini adalah al-Zajjaj dan al-Lihyani.

   Sedangkan dalam kitab Manna’ Al-Qatthan disebutkan tentang pengertian  al-Qur’an itu sendiri adalah :7

"قرأ: تأتى بمعنى الجمع و الضم, والقراء ة : ضم الحروف والكلما ت بعضها الى بعض فى التنزيل, والقرآن فى الأصل كا لقراء ة, مصدر قرأ قراء ة وقرآنا

Secara etimologis, Asbabun Nuzul ayat itu berarti sebab-sebab turun ayat. dalam pengertian sederhana turunnya suatu ayat disebabkan oleh suatu peristiwa, sehingga tanpa adanya peristiwa itu, ayat tersebut itu tidak turun.

Dalam bahasa Indonesia Asbabun Nuzul  biasa di artikan Sebab-sebab turun, alsan-alasan turun, motif atau latar  belakang  turunnya ayat al-Qur’an. Sedangkan menurut ulama’ lain adalah Sebab-sebab melatarbelakangi terjadinya sesuatu.

Berkenaan dengan al-Qur’an menurut istilah/terminologi, para ulama telah berbeda pendapat, demikian pula sikap mereka dalam memberikan definisinya. Misalnya, Prof. Dr. Syekh mahmud Syaitut mendifinisikan al-Qur’an dengan:

اللفظ العربي المنزل على نبينا محمد صلى الله عليه وسلم المنقول إلينا بالتواتر

Sedangkan dalam kitab Manna’ Al-Qatthan juga menyebutkan definisinya :

كلا م اللّهالمنزل على محمّد صلى الله عليه وسلمالمتعبّد بتلا وته

Al-Qur’an juga mengandung sebab-sebab diturunkannya suatu ayat yang dikenal dengan istilah “Asbabun Nuzul”. Tetapi dalam keseluruhan isi al-Qur’an, tidak semuanya ada ayat yang mengandung asbabun nuzul, hanya sebagian ayat saja.

   Banyak pengertian terminology yang dirumuskan oleh Para Ulama, diantaranya

1.      Menurut Az-Zarqani :

Asbab An-Nuzul adalah “khusus atau sesuatu yang terjadi serta ada hubungannya dengan turunnya ayat Al-Qur’an sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.”

2.      Ash-Shabuni :

Asbab An-Nuzul adalah “peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.”

3.      Shubhi Shalih :

Asbab An-Nuzul adalah “sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Qur’an (ayat-ayat) terkadang menyiratkan peristiwa itu, sebagai respon atasnya. Atau sebagai penjelas terhadap hokum-hukum di saat peristiwa itu terjadi.”

4.      Mana’Al-Qthathan :

Asbab An-Nuzul adalah “peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya Al-Qur’an berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi.”

5.       Nurcholis Madjid :

Menyatakan bahwa asbab al-nuzul adalah konsep, teori atau berita tentang adanya sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari al-Qur’an kepada Nabi saw baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat maupun satu surat.

6.      Subhi Shalih menta’rifkan (ma’na) asbabun nuzul ialah:

ما نزلة الأية او الآيات بسببه متضمنة له أو مجيبة عنه أو مبينة لحكمه زمن وقوعه.

“Sesuatu yang dengan sebabnyalah turun sesuatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban tentang sebab itu, atau menerangkan hukumnya; pada masa terjadinya peristiwa itu.”


2.      Dasar Mengetahui Asbabun Nuzul

       Menurut Mana’ul Quthan (1993: 85) mengatakan “Dalam mengetahui asbabun nuzul ialah sahnya riwayatnya itu dari Nabi SAW atau dari Sahabat. Kalau hanya berita dari Sahabat, maka berita ini hendaklah terang-terangan. Di sini tidak boleh dengan ra-i (berfikir). Berita Sahabat ini mempunyai kedudukan hukum lebih tinggi”.

      Subhi Shalih menta’rifkan (ma’na) asbabun nuzul ialah:

ما نزلة الأية او الآيات بسببه متضمنة له أو مجيبة عنه أو مبينة لحكمه زمن وقوعه.

“Sesuatu yang dengan sebabnyalah turun sesuatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban tentang sebab itu, atau menerangkan hukumnya; pada masa terjadinya peristiwa itu.”


B.     Analisis

          Asbabun Nuzul adalah sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jika tidak ada suatu sebab atau peristiwa ayat tersebut tidak akan turun.  Sebab turunnya al-Qur’an (berupa peristiwa/pertanyaan) yang melatar belakangi turunnya ayat al-Qur’an dalam rangka menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari kejadian tersebut. Asbabun Nuzul sangatlah erat kaitannya dengan kaidah penetapan hukum. Seringkali terdapat kebingungan dan keraguan dalam mengartikan ayat-ayat al-Qur’an karena tidak mengetahui sebab turunnya ayat.

           Firman Allah itu turun berkenaan dengan suatu peristiwa yaitu beberapa orang mukmin menunaikan shalat bersama Rasulullah saw. Pada suatu malam yang gelap gulita sehingga mereka tidak dapat memastikan arah kiblat dan akhirnya masing-masing menunaikan shalat menurut perasaan masing-masing sekalipun tidak menghadap arah kiblat karena tidak ada cara untuk mengenal kiblat.Seandainya tidak ada penjelasan mengenai asbabun nuzul tersebut mungkin masih ada orang yang menunaikan shalat menghadap ke arah sesuka hatinya dengan alasan firman Allah suratal-Baqarah ayat 115. peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah saw. Oleh karena itu, tidak boleh tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya selain berdasarkan periwayatan (pentransmisian) yang benar (naql as-shalih) dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung turunnya ayat al-Qur’an.







BAB III

PENUTUP


a.     Kesimpulan

 Al-Qur’an merupakan mu’jizat terbesar yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dengan perantaraan Malikat Jibril As. disampaikan secara mutawatir dan bernilai ibadah bagi yang membacanya baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Al-Qur’an menguraikan masalah hukum-hukum dan lain-lain. Asbabun nuzul adalah sebab turunnya al-Qur’an (berupa peristiwa/pertanyaan) yang melatarbelakangi turunnya ayat al-Qur’an dalam rangka menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari kejadian tersebut. Asbabun nuzul terdiri dari kata asbab (jamak dari sababa yang artinya sebab-sebab), dan nuzul (artinya turun).


b.      Saran

              Mempelajari Asbabun Nuzul sangat penting, dan seharusnya di tanamkan sejak dini bagi seluruh Pelajar Islam di Indonesia, dan juga bagi orang yang beragama Islam yang masih awam, terutama mengenai sebab-sebab turunnya al-Qur’an. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan mohon dimaklumi apabila ada kesalahan dalam kata-kata.








DAFTAR PUSTAKA


Anwar, Rosihon. 2006. Ulumul Qur’an. Bandung : Pustaka Setia.

Ahmadehirijin, Moh. 1998. Al-Qur’an. Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Primayasa.

Ahmad Rifa’I, Ahmad Syadali. 2006. Ulumul Qur’an. Bandung : Pustaka Setia.

Athaillah. 2007. Sejarah Al-Qur’an Dan Verifikasi Tentang Otentitas Al-Qur’an. Banjarmasin : Antasari Preess.

Al-Qathan, Mana’. 1973. Mabahits Fi Ulumul Qur’an. T.tp : Mansyurat Al-Ahsan Al-Hadist.

                            , 1973. Mabahits Fi Ulumil Dan Al-Qur’an. Rujadh : Mansyurat Al-‘Ashril Al-Hadist.

Shaleh Al-Utsamin, Bin Muhammad. 1989. Dasar-Dasar Penafsiran Al-Qur’an. Semarang : Diana Utama.

Shalih, Subhi. 1998. Mabahits Fi ‘Ulumul Qur’an. Beirut : Dar Al-Qalam Li Al-Malayyin. Anwar, Rosihon. 2012. Ulum Al-Qur’an. Bandung : Pustaka Setia.

Thaba’thaba’i, Allamah  M.H. 1987. Mengungkapkan Rahasia Al-Qur’an. Bandung : Mizan.

Usman. 2009. Ulumul Qur’an. Yogyakarta : Teras.

Quthan, Mana’ul. 1993. Pembahasan Ilmu Al-Qur’an 1. Jakarta: PT. Rineka Cipta.









Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...