BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi
Pengertian eveluasi adalah: sebuah istilah pembuatan penetapan tentang nilai yang menunjukkan sebuah rentang segala prosedur yang sistematis , yang digunakan untuk memperoleh informasi umum mengenai belajar siswa dan pembelajaran yang telah di lakukan oleh guru , baik menggunakan penelitian data dengan cara ( pengamatan , penganalisaan data ,penilaian penampilan atau proyek ). dan pembentukan nilai serta pertimbangan mengenai kemajuan belajar siswa untuk menentukan ketetapan atau keputusan alternative mengenai belajar siswa baik kwalitatif maupun kwantitatif sehingga dapat mengetahui mutu dan evektivitas atau nilai suatu program pembelajaran yang telah di lakukan atau penentu keputusan terhadap langkah pembelajaran yang akan datang.[1]
Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Padanan kata evaluasi adalahassessnment yang menurut Tardif (1989) berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Selain kata evaluasi dan assessnment ada pula kata lain yang searti dan relatif lebih masyhur dalam dunia pendidikan kita yakni tes, ujian, dan ulangan.[2]
Assessnment menurut Petty (2004) mengukur keluasan dan kedalam belajar, sedangkan evaluasi yang berarti mengungkapkan dan pengukuran hasil belajar yang pada dasarnya merupakan proses penyusunan deskripsi siswa, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.[3]
Tidak ada satupun guru yang tidak ingin berhasil dalam proses mengajar, tentunya semua guru sangat mengharapkan sekali keberhasilan belajar mengajar itu, guru yang masa bodoh terhadap anak didiknya adalah cermin kurang tanggung jawabnya seorang guru menjabat sebagai profesinya, gurung yang tidak mau tahu dengan perkembangan pendidikan anak didiknya adalah tanda guru yang tidak peduli taerhadap tantangan zaman yang terus merongrong anak didiknya.
Seringkali dikacaukan antara pengertian penilaian (evaluation). Menurut Oemar Hamalik dalam bukunya Kurikulum dan Pembelajaran evaluasi adalah suatu upaya untuk mengetahui berapa banyak hal-hal telah dimiliki oleh siswa dari hal-hal yang telah diajarkan oleh guru.
Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatife – alternative keputusan (Mehrens dan Lehmann, 1978: 5). Menurut Norman E. Gronlund, Evaluasi adalah suatu protes yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran yang telah dicapai oleh siswa.[4]
Evaluasi Pencapaian belajar siswa adalah salah satu kegiatan yang merupakan kewajiban bagi setiap guru atau pengajar. Dikatakan kewajiban karena setiap pengajar pada akhirnya harus dapat memberikan informasi kepada lembaganya atau kepada siswa itu sendiri. Bagaimana dan sampai dimana penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai siswa tentang materi dan keterampilan-keterampilan mengenai mata ajaran yang telah diberikannya.[5]
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi (mengawali), memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik, (Tim Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 2009). Dan juga telah dijelaskan dalam Pasal 1 butir 20 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, yakni “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. [6]
B. Prinsip-Prinsip Dasar Tes Hasil Belajar
Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan di dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut benar-benar dapat mengukur tujuan pelajaran yang telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan atau keterampilan siswa yang diharapkan setelah siswa menyelesaikan suatu unit pengajaran tertentu.
a. Tes tersebut hendaknya dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan intruksional.
b. Mengukur sampel yang representative dari hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan.
c. Mencakup berbagai bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan.
d. Didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Kita mengenal berbagai macam kegunaan tes sesuai dengan tujuan masing-masing. Khususnya di dalam evaluasi pendidikan yang menyangkut evaluasi hasil belajar, sedikitnya kita mengenal empat macam kegunaan test :
1) Tes yang digunakan untuk penentuan penempatan siswa dalam suatu jenjang atau jenis program pendidikan tertentu (placement test).
2) Tes yang digunakan untuk mencari umpan balik (feedback) guna memperbaiki proses belajar-mengajar bagi guru maupun siswa (test formatif).
3) Tes yang digunakan untuk mengukur atau menilai sampai di mana pencapaian siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan, dan selanjutnya untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan siswa yang bersangkutan (tes sumatif), dan
4) Tes yang bertujuan untuk mencari sebab-sebab kesulitan belajar siswa seperti latar belakang psikologis, fisik dan lingkungan sosial-ekonomi siswa (tes diagnostik).
e. Dibuat seandal (reliable) mungkin sehingga mudah diinterprestasikan dengan baik.
f. Digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru.[7]
C. Penilaian Formatif dan Penilaian Sumatif
Mengingat masih banyaknya salah pengertian di antara guru-guru tentang pengertian formatif dan sumatif, perlu kiranya dijelaskan pengertian penilaian formatif dan penilaian sumatif dan perbedaan antara kedua jenis penilaian tersebut. [8]
1. Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feedback), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan. Jadi, sebenarnya penilaian formatif itu tidak hanya dilakukan pada tiap akhir pelajaran, tetapi bisa juga ketika pelajaran sedang berlangsung. Misalnya, ketika guru sedang mengajar, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mencek atau mendapatkan informasi apakah siswa telah memahami apa yang diterangkan guru; jika ternyata masih banyak siswa yang belum mengerti, tindakan guru selanjutnya ialah mengubah atau memperbaiki cara mengajarnya sehingga benar-benar dapat dipahami dan diserap oleh siswa. Contoh lain: setelah pelajaran selesai guru memberi tugas kepada para siswa untuk dikerjakan di luar jam pelajaran/ di rumah. Setelah diperiksa, dan ternyata masih banyak siswa yang salah mengerjakan tugas tersebut, maka guru berusaha menerangkan kembali pelajaran itu.
Dari contoh-contoh tersebut, jelas bahwa penilaian formatif tidak hanya berbentuk tes tertulis dan hanya dilakukan pada setiap akhir pelajaran, tetapi dapat pula berbentuk pertanyaan-pertanyaan lisan atau tugas-tugas yang diberikan selama pelajaran berlangsung ataupun sesudah pelajaran selesai. Dalam hubungan ini maka pretes dan post-tes yang biasa dilakukan dalam sistem pengajaran PPSI termasuk dalam penilaian formatif.
2. Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai di mana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu. Adapun fungsi dan tujuannya ialah untuk menentukan apakah dengan nilai yang diperolehnya itu siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak lulus. Pengerian lulus dan tidak lulus di sini dapat berarti: dapat tidaknya siswa melanjutkan ke modul berikutnya; dapat tidaknya seorang siswa mengikuti pelajaran pada semester berikutnya; dapat tidaknya seorang siswa dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi; dapat tidaknya seorang siswa dinyatakan lulus/tamat dari sekolah yang bersangkutan; atau dapat tidaknya seorang siswa diterima di sekolah yang lebih tinggi.
Dari apa yang telah dikemukakan, jelas kiranya bahwa penilaian sumatif tidak hanya merupakan penilaian yang dilaksanakan pada setiap akhir caturwulan atau setiap akhir Semester, tetapi juga dilaksanakan misalnya pada setiap akhir modul (bagi pengajaran yang menggunakan sistem modul), setiap akhir tahun ajaran, Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA atau Ebtanas), dan ujian masuk Perguruan Tinggi yang terkenal dengan sebutan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru). Bahkan penilaian sumatif termasuk pula penilaian yang dilakukan guru atau dosen pada tahap-tahap tertentu selama caturwulan atau semester. Penilaian ini biasa disebut tes subsumatif atau tes unit,dengan maksud untuk membedakannya dengan tes surnatif yang dilakukan pada setiap akhir caturwulan atau akhir Semester. Nilai hasil tes subsumatif dan tes sumatif inilah yang boleh diperhitungkan untuk menentukan nilai rapor atau ijazah atau kartu hasil studi mahasiswa.[9]
D. Norm-Referenced vs Criterion-Referenced Test
Mengetahui persamaan dan perbedaan norm-referenced dan criterion-referenced sangat penting bagi guru untuk mencoba menyusun kedua tipe tes tersebut.
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN NORM-REFERENCED DAN CRITERION-REFERENCED TEST
PERSAMAAN
|
PERBEDAAN
| |
NORM-REFERENCED
PAN
|
CRITERION REFERENCED PAP
| |
1. Menurut spesifikasi tujuan (learning outcomes)
|
Tujuan dinyatakan secara umum atau khusus
|
Cenderung sangat khusus dan mendetail
|
2. Mengukur reprensentatif dari hasil belajar
|
-Mencakup rentangan hasil yang luas
-Sedikit item untuk tiap hasil
|
-Domein hasil (aspek yang diukur) terbatas
-Sejumlah item untuk tiap hari
|
3. Menggunakan berbagai tipe item tes
|
Item tipe memilih (true-false, multiple choise, dan sebagainya)
|
Tidak tergantung pada item tipe memilih saja
|
4. Harus memenuhi syarat-syarat penulis tes
|
“Daya pembeda” diperhatikan
|
Performance siswa lebih di tekankan
|
5. Menuntut keandalan hasil (variabilitas skor tinggi)
|
Menggunakan prosedur statistik-statistik (variabilitas skor rendah)
|
Tidak menggunakan prosedur statistik (variabilitas skor rendah)
|
6. Memiliki kegunaan tertentu
|
Baik untuk placement dan sumatif
|
Cocok untuk formatif dan diagnostic
|
E. Perencanaan Dalam Menyusun Tes
Dalam merencanakan penyusunan achievement test diperlukan adanya langkahlangkah yang harus diikuti secara sistematis sehingga dapat diperoleh tes yang lebih efektif. Para ahli penyusun tes maupun para pengajar (classroom teachers) umumnya telah menyepakati langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menentukan/merumuskan tujuan tes.
2. Mengidentifikasi hasil-hasil belajar (learning outcomes) yang akan
diukur dengan tes itu.
4. Menentukan/menandai hasil-hasil belajar yang spesifik, yang merupakan
tingkah laku yang dapat diamati dan sesuai dengan TIK.
5. Merinci mata pelajaran/bahan pelajaran yang akan diukur dengan tes itu.
6. Menyiapkan tabel spesifikasi (semacam blueprint).
7. Menggunakan tabel spesifikasi tersebut 'sebagai dasar penyusunan tes.
F. Ciri-Ciri Dari Empat Tipe Achievement Test
TIPS TES
|
FUNGSI TES
|
KONSIDERASI SAMPEL
|
CIRI-CIRI
|
PLACEMENT
|
- Mengukur prerekuisltentry skills
- Menentukan entry formance tentang tujuanpelajaran
|
-Mencakup tiap- tiapprerekulslt entry behavior
-Memilih sampel yangmewakill tujuan pelajaran
|
- Items mudah dan criterion-referenced
- Items memitiki rangekesukaran yang lugs dannorm-referenced
|
FORMATIF
|
Sebagai balikan bagi
siswa + guru tentang
kemajuan belajar
|
Jika mungkin, mencakup
semua unit tujuan
(yang esensial)
|
Items memadukan ke
sukaran unit tujuan
dan criterion-referenced.
|
DIAGNOSTIK
|
Menentukan kesulitan
belajar yang sating
muncul
|
Mencakup sampel tugas-
tugas yang berdasarkan
sumber-sumber kesalah-
an belajar yang umum
|
Items mudah dan dl
gunakan untuk menunjuk
sebab-sebab kesalahan
yang spesifik
|
SUMATIF
|
Menentukan kenaikan
tingkatlkelas atau
kelulusan pada akhir
program pengajaran
|
Memilih sampel tujuan-
tujuan pelajaran yang
representatif
|
Items memitiki range ke
sukaran yang lugs dan
norm-referenced
|
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang mengukur dan memberi nilai secara obyektif dan valid, di mana beberapa besar manfaat pelayanan yang telah dicapai berdasarkan tujuan dari obyek yang seharusnya diberikan dan yang nyata apakah hasil-hasil dalam pelaksanaan telah efektif dan efisien.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa perbedaan antara penilaian formatif dan penilaian surnatif bukan terletak pada kapan/waktu tes itu dilaksanakan, tetapi terutama pada fungsi dan tujuan tes/penilaian itu dilaksanakan. Jika penilaian atau tes itu berfungsi dan bertujuan untuk memperoleh umpan balik dan selanjutnya digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar, maka penilaian itu disebut penilaian formatif. Tetapi jika penilaian itu berfungsi dan bertujuan untuk mendapatkan informasi sampai di mana prestasi atau penguasaan dan pencapaian belajar siswa yang selanjutnya diperuntukkan bagi penentuan lulus tidaknya seorang siswa, maka penilaian itu disebut penilaian sumatif.
Prinsip-prinsip dasar tes hasil belajar yaitu, Mengukur secara jelas hasil belajar yang telah ditetapkan sesuai tujuan instruksional, Mengukur sampel yang representatif dai hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan, Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar, Didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memeroleh hasil yang diinginkan, Dibuat seandal (reliable) mungkin sehingga mudah diinterpretasikan dengan baik, danDigunakan untuk memperbaiki cara belajar dan mengajar.
Untuk dapat merumuskan tujuan penyusunan tes dengan baik, seorang guru atau pengajar perlu memikirkan apa tipe dan fungsi tes yang akan disusunnya sehingga selanjutnya is dapat menentukan bagaimana karakteristik soal-soal yang akan dibuatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Haris, Asep Jihad. 2008. Evaluasi Pembelajaran cet II. Yogyakarta : Pressindo.
Chabib Dkk, Thoha. 2004. Metodologi Pengajaran Agama. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Purwanto, M. Ngalim. 2012. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Cet 17. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Bojjezz, Behaviorurl default tvml, Diunduh pada 20 Mei 2014 pkl. 03.25 WIB dari
http://bojjezz.blogspot.com/p/v-behaviorurldefaultvml-o.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar