Rabu, 03 Juni 2020

EVALUASI PENCAPAIAN BELAJAR SISWA

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Evaluasi
Pengertian eveluasi adalah: sebuah istilah pembuatan penetapan tentang nilai yang menunjukkan sebuah rentang segala prosedur yang sistematis , yang digunakan untuk memperoleh informasi umum mengenai belajar siswa dan pembelajaran yang telah di lakukan oleh guru , baik menggunakan penelitian data dengan cara ( pengamatan , penganalisaan data ,penilaian penampilan atau proyek ). dan pembentukan nilai serta pertimbangan mengenai kemajuan belajar siswa untuk menentukan ketetapan atau keputusan alternative mengenai belajar siswa baik kwalitatif maupun kwantitatif sehingga dapat mengetahui mutu dan evektivitas atau nilai suatu program pembelajaran yang telah di lakukan atau penentu keputusan terhadap langkah pembelajaran yang akan datang.[1]
Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.  Padanan kata evaluasi adalahassessnment yang menurut Tardif (1989) berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Selain kata evaluasi dan assessnment ada pula kata lain yang searti dan relatif lebih masyhur dalam dunia pendidikan kita yakni tes, ujian, dan ulangan.[2]
Assessnment menurut Petty (2004) mengukur keluasan dan kedalam belajar, sedangkan evaluasi yang berarti mengungkapkan dan pengukuran hasil belajar yang pada dasarnya merupakan proses penyusunan deskripsi siswa, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.[3]
Tidak ada satupun guru yang tidak ingin berhasil dalam proses mengajar, tentunya semua guru sangat mengharapkan sekali keberhasilan belajar mengajar itu, guru yang masa bodoh terhadap anak didiknya adalah cermin kurang tanggung jawabnya seorang guru menjabat sebagai profesinya, gurung yang tidak mau tahu dengan perkembangan pendidikan anak didiknya adalah tanda guru yang tidak peduli taerhadap tantangan zaman yang terus merongrong anak didiknya.
Seringkali dikacaukan antara pengertian penilaian (evaluation). Menurut Oemar Hamalik dalam bukunya Kurikulum dan Pembelajaran evaluasi adalah suatu upaya untuk mengetahui berapa banyak hal-hal telah dimiliki oleh siswa dari hal-hal yang telah diajarkan oleh guru.
Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatife – alternative keputusan (Mehrens dan Lehmann, 1978: 5). Menurut Norman E. Gronlund, Evaluasi adalah suatu protes yang sistematis untuk menentukan atau membuat  keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran yang telah dicapai oleh siswa.[4]
Evaluasi Pencapaian belajar siswa adalah salah satu kegiatan yang merupakan kewajiban bagi setiap guru atau pengajar. Dikatakan kewajiban karena setiap pengajar pada akhirnya harus dapat memberikan informasi kepada lembaganya atau kepada siswa itu sendiri. Bagaimana dan sampai dimana penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai siswa tentang materi dan keterampilan-keterampilan mengenai mata ajaran yang telah diberikannya.[5]
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi (mengawali), memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik, (Tim Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 2009). Dan juga telah dijelaskan dalam Pasal 1 butir 20 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, yakni “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. [6]
B.       Prinsip-Prinsip Dasar Tes Hasil Belajar
Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan di dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut benar-benar dapat mengukur tujuan pelajaran yang telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan atau keterampilan siswa yang diharapkan setelah siswa menyelesaikan suatu unit pengajaran tertentu.  
a.         Tes tersebut hendaknya dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan intruksional.
b.         Mengukur sampel yang representative dari hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan.
c.         Mencakup berbagai bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan.
d.        Didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Kita mengenal berbagai macam kegunaan tes sesuai dengan tujuan masing-masing. Khususnya di dalam evaluasi pendidikan yang menyangkut evaluasi hasil belajar, sedikitnya kita mengenal empat macam kegunaan test :
1)        Tes yang digunakan untuk penentuan penempatan siswa dalam suatu jenjang atau jenis program pendidikan tertentu (placement test).
2)        Tes yang digunakan untuk mencari umpan balik (feedback) guna memperbaiki proses belajar-mengajar bagi guru maupun siswa (test formatif).
3)        Tes yang digunakan untuk mengukur atau menilai sampai di mana pencapaian siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan, dan selanjutnya untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan siswa yang bersangkutan (tes sumatif), dan
4)        Tes yang bertujuan untuk mencari sebab-sebab kesulitan belajar siswa seperti latar belakang psikologis, fisik dan lingkungan sosial-ekonomi siswa (tes diagnostik).
e.         Dibuat seandal (reliable) mungkin sehingga mudah diinterprestasikan dengan baik.
f.          Digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru.[7]
C.      Penilaian Formatif dan Penilaian Sumatif
Mengingat masih banyaknya salah pengertian di antara guru-guru tentang pengertian formatif dan sumatif, perlu kiranya dijelaskan pengertian penilaian formatif dan penilaian sumatif dan perbedaan antara kedua jenis penilaian tersebut. [8]
1.         Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk men­cari umpan balik (feedback), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut da­pat digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan. Jadi, sebenarnya penilaian formatif itu ti­dak hanya dilakukan pada tiap akhir pelajaran, tetapi bisa juga ketika pe­lajaran sedang berlangsung. Misalnya, ketika guru sedang mengajar, meng­ajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mencek atau menda­patkan informasi apakah siswa telah memahami apa yang diterangkan gu­ru; jika ternyata masih banyak siswa yang belum mengerti, tindakan guru selanjutnya ialah mengubah atau memperbaiki cara mengajarnya sehing­ga benar-benar dapat dipahami dan diserap oleh siswa. Contoh lain: se­telah pelajaran selesai guru memberi tugas kepada para siswa untuk diker­jakan di luar jam pelajaran/ di rumah. Setelah diperiksa, dan ternyata ma­sih banyak siswa yang salah mengerjakan tugas tersebut, maka guru ber­usaha menerangkan kembali pelajaran itu.
Dari contoh-contoh tersebut, jelas bahwa penilaian formatif tidak ha­nya berbentuk tes tertulis dan hanya dilakukan pada setiap akhir pelajaran, tetapi dapat pula berbentuk pertanyaan-pertanyaan lisan atau tugas-tugas yang diberikan selama pelajaran berlangsung ataupun sesudah pelajaran selesai. Dalam hubungan ini maka pretes dan post-tes yang biasa dilaku­kan dalam sistem pengajaran PPSI termasuk dalam penilaian formatif.
2Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh da­ta atau informasi sampai di mana penguasaan atau pencapaian belajar sis­wa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka wak­tu tertentu. Adapun fungsi dan tujuannya ialah untuk menentukan apa­kah dengan nilai yang diperolehnya itu siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak lulus. Pengerian lulus dan tidak lulus di sini dapat berarti: dapat ti­daknya siswa melanjutkan ke modul berikutnya; dapat tidaknya seorang siswa mengikuti pelajaran pada semester berikutnya; dapat tidaknya se­orang siswa dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi; dapat tidaknya seorang siswa dinyatakan lulus/tamat dari sekolah yang bersangkutan; atau dapat tidaknya seorang siswa diterima di sekolah yang lebih tinggi.
Dari apa yang telah dikemukakan, jelas kiranya bahwa penilaian su­matif tidak hanya merupakan penilaian yang dilaksanakan pada setiap akhir caturwulan atau setiap akhir Semester, tetapi juga dilaksanakan mi­salnya pada setiap akhir modul (bagi pengajaran yang menggunakan sis­tem modul), setiap akhir tahun ajaran, Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EB­TA atau Ebtanas), dan ujian masuk Perguruan Tinggi yang terkenal de­ngan sebutan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru). Bahkan penilaian sumatif termasuk pula penilaian yang dilakukan guru atau do­sen pada tahap-tahap tertentu selama caturwulan atau semester. Penilaian ini biasa disebut tes subsumatif atau tes unit,dengan maksud untuk mem­bedakannya dengan tes surnatif yang dilakukan pada setiap akhir catur­wulan atau akhir Semester. Nilai hasil tes subsumatif dan tes sumatif ini­lah yang boleh diperhitungkan untuk menentukan nilai rapor atau ijazah atau kartu hasil studi mahasiswa.[9]
D.      Norm-Referenced vs Criterion-Referenced Test
Dick dan Carey dalam bukunya The Systematic Design of Instruction menjelaskan pengertian dan perbedaan criterion-referenced test (CRT) dan norm-referenced test (NRT) seperti berikut:
Criterion-referenced test (CRT) ialah tes yang dirancang untuk mengukur seperangkat tujuan yang eksplisit. Dengan kata lain, CRT adalah sekumpulan soal atau items yang secara langsung mengukur tingkah laku-tingkah laku yang dinyatakan di dalam seperangkat tujuan-tujuan behavioral atau performance objectives. Jadi, soal-soal CRT didasarkan pada behavioral objectives tertentu. Tiap soal pada CRT menuntut siswa untuk mendemonstrasikan penampilan yang dinyatakan di dalam tujuan.
Ada dua pengertian dalam penggunaan kata criterion dalam ungkapan criterion -referenced test items, yaitu:
a)    menunjukkan hubungan antara tujuan-tujuan yang bersifat behavioral atau performance atau penampilan dan soal-soal tes yang dibuatnya -,
b)   menunjukkan spesifikasi ketetapan penampilan yang dituntut untuk dinyatakan sebagai penguasaan atau mastery. Atau dengan kata lain, sampai batas mana siswa diharapkan dapat menguasai atau dapat menjawab dengan benar tes tersebut, atau sampai berapa jauh siswa harus melakukan keterampilan tertentu untuk dapat dinyatakan mencapai tujuan.
Dalam hubungannya dengan proses belajar-mengajar, Dick dan Carey selanjutnya menyatakan adanya empat jenis CRT, yaitu:
1.    Entry-behaviors test, yakni suatu tes yang diadakan sebelum suatu program pengaiaran dilaksanakan, dan bertujuan untuk mengetahui sampai batas mana penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki siswa yang dapat dijadikan dasar untuk menerima program pengajaran yang akan diberikan. Dalam hubungannya dengan penyusunan rancangan pengajaran (design of instruction), dari hasil entry behavior test seorang guru/pengajar dapat menetapkan materi instruksional mana yang perlu direvisi dan atau yang tidak perlu diajarkan lagi karena telah dikuasai oleh semua siswa.
2.   Pretest, yaitu tes yang diberikan sebelum pengajaran dimulai, dan bertujuan untuk mengetahui sampai di mana penguasaan siswa terhadap bahan pengajaran (pengetahuan dan keterampilan) yang akan diajarkan.[10]
Dalam hal ini fungsi pretest adalah untuk melihat sampai di mana efektivitas pengajaran, setelah hasil pretest tersebut nantinya dibandingkan dengan hasil post-test.
3.    Post-test, adalah tes yang diberikan pada setiap akhir program satuan pengajaran. Tujuan post-test ialah untuk mengetahui sampai di mana pencapaian siswa terhadap bahan pengajaran (pengetahuan maupun keterampilan)setelah mengalami suatu kegiatan belajar.
Seperti telah dikatakan di atas, jika hasil post-test dibandingkan dengan hasil pretest, maka keduanya berfungsi untuk mengukur sampai sejauh mana aktivitas pelaksanaan program pengajaran. Guru/pengajar dapat mengetahui apakah kegiatan itu berhasil baik atau tidak, dalam arti apakah semua atau sebagian besar tujuan instruksional yang telah dirumuskan telah dapat tercapai.
4.    Embedded test, ialah tes yang dilaksanakan di sela-sela atau pada waktu-waktu tertentu selama proses pengajaran berlangsung. Embedded test berfungsi untuk:
a.     mentes siswa secara langsung sesudah suatu unit pengajaran sebelum post-test, dan merupakan data yang berguna sebagai evaluasi formatif bagi pengaiaran tersebut;
b.    tujuan kedua adalah berhubungan dengan akhir tiap langkah kegiatan pengajaran, untuk mencek kemajuan siswa, dan jika diperlukan untuk kegiatan remedial sebelum diadakan post-test.
Langkah-langkah embedded test dapat dilihat dengan jelas pada program pengaiaran yang dilaksanakan dengan sistem modul. Sedangkan pada sistem pengajaran biasa yang dilakukan dengan ceramah, embedded test biasanya hanya berupa pertanyaan-pertanyaan lisan untuk mengetahui apakah siswa telah memahami pengajaran yang baru saja diberikan, atau berupa pengerjaan tugas-tugas untuk mengetahui sampai di mana penguasaan siswa terhadap suatu unit pengajaran yang baru saja dipelajarinya.[11]
Penyusunan norm-referenced test (NRT) berbeda dengan CRT Soal-soal pada NRT tidak ditekankan untuk mengukur penampilan yang eksak dari behavioral objectives. Dengan kata lain, soalsoal pada NRT tidak terutama didasarkan pada pengajaran yang diterima siswa atau pada keterampilan atau tingkah laku yang diidentifikasi sebagai sesuatu yang dianggap relevan bagi belajar siswa. Soal-soal yang dikembangkan untuk NRT sengaja diadministrasikan untuk bermacam-macam siswa dari target populasi. Range atau pencaran skor-skor yang diperoleh dari NRT biasanya diharapkan merupakan kurva normal; dan oleh karena itu maka tes semacam itu disebut norm-referenced. Yang menjadi standar dalam penilaian NRT adalah norma kelompok atau prestasi kelompok. Oleh karena itu maka dalam pengolahannya digunakan mean dan standar deviasi yang diperoleh dari hasil tes kelompok yang bersangkutan.
Dari apa yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan, bahwa paling tidak ada tiga perbedaan pokok antara. CRT dan NRT, yaitu berbeda dalam hal:
1.  Cara tiap jenis tes itu dikembangkan,
2.    Standar yang digunakan untuk menimbang (men-judge) atau menginterpretasikan hasil
     tes, dan
3.    Tujuan untuk apa tes itu disusun dan diadministrasikan.
            Jika dalam menginterpretasikan, hasil tes seorang siswa dibandingkan dengan hasil-hasil siswa yang lain, atau dengan kata lain dibandingkan dengan prestasi kelompoknya, dikatakan norm-referenced interpretation. Dan jika hasil tes itu tidak dibandingkan dengan hasil siswa-siswa yang lain, tetapi dibandingkan denaan suatu kriteria tertentu - misalnya hasil seorang siswa dibandingkan dengan tujuan instruksional yang seharusnya dicapai maka disebut criterion-referenced interpretation.
Jadi, kedua jenis interpretasi itu dapat dilakukan terhadap (satu) tes yang sama. Akan tetapi kedua jenis interpretasi tes itu akan lebih berarti, jika tes itu khusus dirancang sesuai dengan jenis interpretasi yang akan dibuat. Dengan demikian, suatu tes dapat disusun atau dirancang untuk suatu tujuan criterion-referenced.[12]
Mengetahui persamaan dan perbedaan norm-referenced dan criterion-referenced sangat penting bagi guru untuk mencoba menyusun kedua tipe tes tersebut.

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN NORM-REFERENCED DAN CRITERION-REFERENCED TEST

PERSAMAAN
PERBEDAAN
NORM-REFERENCED
PAN
CRITERION REFERENCED PAP
1.    Menurut spesifikasi tujuan (learning outcomes)
Tujuan dinyatakan secara umum atau khusus
Cenderung sangat khusus dan mendetail
2.    Mengukur reprensentatif dari hasil belajar
-Mencakup rentangan hasil yang luas
-Sedikit item untuk tiap hasil
-Domein hasil (aspek yang diukur) terbatas
-Sejumlah item untuk tiap hari
3.    Menggunakan berbagai tipe item tes
Item tipe memilih (true-false, multiple choise, dan sebagainya)
Tidak tergantung pada item tipe memilih saja
4.    Harus memenuhi syarat-syarat penulis tes
“Daya pembeda” diperhatikan
Performance siswa lebih di tekankan
5.    Menuntut keandalan hasil (variabilitas skor tinggi)
Menggunakan prosedur statistik-statistik (variabilitas skor rendah)
Tidak menggunakan prosedur statistik (variabilitas skor rendah)
6.    Memiliki kegunaan tertentu
Baik untuk placement dan sumatif
Cocok untuk formatif dan diagnostic

Untuk memberi gambaran yang lebih jelas sehingga dapat inembantu kita dalam menyusun kedua jenis tes tersebut, berikut ini disusun diagram yang menunjukkan persamaan dan perbedaan antara keduanya.(lihat tabel).
Mengetahui persamaan dan perbedaan norm-referenced dan criterion-referenced sangat penting bagi guru untuk mencoba rnenyusun kedua tipe tes tersebut.[13]
E.       Perencanaan Dalam Menyusun Tes
Dalam merencanakan penyusunan achievement test diperlukan adanya langkah­langkah yang harus diikuti secara sistematis sehingga dapat diperoleh tes yang lebih efektif. Para ahli penyusun tes maupun para pengajar (classroom teachers) umumnya telah menyepakati langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Menentukan/merumuskan tujuan tes.
2.      Mengidentifikasi hasil-hasil belajar (learning outcomes) yang akan
       diukur dengan tes itu.
4.         Menentukan/menandai hasil-hasil belajar yang spesifik, yang merupakan
tingkah laku yang dapat diamati dan sesuai dengan TIK.
5.         Merinci mata pelajaran/bahan pelajaran yang akan diukur dengan tes itu.
6.         Menyiapkan tabel spesifikasi (semacam blueprint).
7.          Menggunakan tabel spesifikasi tersebut 'sebagai dasar penyusunan tes.



F.         Ciri-Ciri Dari Empat Tipe Achievement Test

TIPS TES
FUNGSI TES
KONSIDERASI SAMPEL
CIRI-CIRI
PLACEMENT
-  Mengukur prerekuisltentry skills

-  Menentukan entry formance tentang tujuanpelajaran
-Mencakup tiap- tiapprerekulslt entry behavior
-Memilih sampel yangmewakill tujuan pelajaran
-  Items mudah dan crite­rion-referenced

-  Items memitiki rangekesukaran yang lugs dannorm-referenced
FORMATIF
Sebagai balikan bagi
siswa + guru tentang
kemajuan belajar
Jika mungkin, mencakup
semua unit tujuan
(yang esensial)
Items memadukan ke­
sukaran unit tujuan
dan criterion-referenced.
DIAGNOSTIK
Menentukan kesulitan
belajar yang sating
muncul
Mencakup sampel tugas-
tugas yang berdasarkan
sumber-sumber kesalah-
an belajar yang umum
Items mudah dan dl­
gunakan untuk menunjuk
sebab-sebab kesalahan
yang spesifik
SUMATIF
Menentukan kenaikan
tingkatlkelas atau
kelulusan pada akhir
program pengajaran
Memilih sampel tujuan-
tujuan pelajaran yang
representatif
Items memitiki range ke­
sukaran yang lugs dan
norm-referenced











BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang mengukur dan memberi nilai secara obyektif dan valid, di mana beberapa besar manfaat pelayanan yang telah dicapai berdasarkan tujuan dari obyek yang seharusnya diberikan dan yang nyata apakah hasil-hasil dalam pelaksanaan telah efektif dan efisien.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa perbedaan antara penilaian for­matif dan penilaian surnatif bukan terletak pada kapan/waktu tes itu dilaksana­kan, tetapi terutama pada fungsi dan tujuan tes/penilaian itu dilaksanakan. Jika penilaian atau tes itu berfungsi dan bertujuan untuk memperoleh umpan balik dan selanjutnya digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar, maka penilaian itu disebut penilaian formatif. Tetapi jika penilaian itu berfungsi dan bertujuan untuk mendapatkan informasi sampai di mana prestasi atau pe­nguasaan dan pencapaian belajar siswa yang selanjutnya diperuntukkan bagi penentuan lulus tidaknya seorang siswa, maka penilaian itu disebut penilaian sumatif.
Prinsip-prinsip dasar tes hasil belajar yaitu, Mengukur secara jelas hasil belajar yang telah ditetapkan sesuai tujuan instruksional, Mengukur sampel yang representatif dai hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan,  Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar, Didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memeroleh hasil yang diinginkan, Dibuat seandal (reliable) mungkin sehingga mudah diinterpretasikan dengan baik, danDigunakan untuk memperbaiki cara belajar dan mengajar.
Untuk dapat merumuskan tujuan penyusunan tes dengan baik, seorang guru atau pengajar perlu memikirkan apa tipe dan fungsi tes yang akan disusunnya sehingga selanjutnya is dapat menentukan bagaimana karakteristik soal-soal yang akan dibuatnya.



DAFTAR PUSTAKA

Abdul Haris, Asep Jihad. 2008. Evaluasi Pembelajaran cet II. Yogyakarta : Pressindo.
Chabib Dkk, Thoha. 2004.  Metodologi Pengajaran Agama.  Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Purwanto, M. Ngalim. 2012.  Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Cet  17. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Syah, Muhibbin.  2010. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Bojjezz, Behaviorurl default tvml, Diunduh pada 20 Mei 2014 pkl. 03.25 WIB dari  

http://bojjezz.blogspot.com/p/v-behaviorurldefaultvml-o.html
                    




[1] Asep jihad, Abdul haris,2008 ,Evaluasi Pembelajaran cet II, Yogyakarta : Pressindo, hal. 15.
[2] Dr. Muhibbin Syah, M.Ed. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya hal 13.
[3] Dr. Muhibbin SyahOp Cit, hal 140.
[4] M. Ngalim Purwanto, 2012, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Cet 17, Bandung : PT.   
  Remaja Rosdakarya, hal. 3
[5] M. Ngalim Purwanto, Op Cit, Hal. 22
[6] Thoha Chabib Dkk, 2004, Metodologi Pengajaran Agama, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, hal. 11.
[7] M. Ngalim Purwanto, 2012, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Cet 17, Bandung : PT.
   Remaja Rosdakarya, hal. 23-25
[8] M. Ngalim Purwanto, Op Cit, hal. 26.
[9] Bojjezz, Behaviorurl default tvml, Diunduh pada 20 Mei 2014 pkl. 03.25 WIB dari  
http://bojjezz.blogspot.com/p/v-behaviorurldefaultvml-o.html
                           
[10] M. Ngalim Purwanto, 2012, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Cet 17, Bandung :
PT. Remaja Rosdakarya, hal. 27-28.
[11] M. Ngalim Purwanto, Op Cit, hal. 28-29.
[12] M. Ngalim Purwanto, Op Cit, hal. 29.
[13] M. Ngalim Purwanto, Op Cit, hal. 30.

Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...