Kamis, 04 Juni 2020

KESULITAN BELAJAR


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
            Secara sederhana masalah belajar dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menghambat tercapainya tujuan belajar. Dari bebagai pendapat dan hasil penelitian jika kita mendapat kejelasan bahwa masalah-masalah belajar, baik intern ekstern dapat bersumber atau dalam dinamikanya dapat dikaji dari dimensi guru maupun dari dimensi siswa. Demikian pula dilihat dari tahapannya, masalah belajar dapat terjadi pada waktu sebelum belajar, selama proses belajar dan sesudah belajar.
            Hal ini disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (gangguan neorubioligis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan seperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung. Anak-anak disekolah pada umumnya memiliki karakteristik individu yang berbeda, baik dari segi fisik, mental, intelektual, ataupun social-emosional.
Oleh karena itu mereka juga akan mengalami persoalan belajarnya masing-masing secara individu, dan akan mengalami berbagai jenis kesulitan belajar yang berbeda pula, sesuai dengan karakteristik dan potensinya masing-masing. Pada kesempatan ini penyusun makalah akan memaparkan materi tentang “Kesulitan Belajar”.




B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Pengertian kesulitan belajar?
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar?
3.      Cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar?
4.      Usaha mengatasi kesulitan belajar?

C.    Tujuan
Dari rumusan masalah diatas tujuannya, yakni:
1.      Untuk memahami pengertian kesulitan belajar,
2.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar,
3.      Untuk mengetahui cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar, dan
4.      Untuk mengetahui usaha mengatasi kesulitan belajar.









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar yang didefenisikan oleh The United States Office of Education (USOE) yang menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.
Di samping defenisi tersebut, ada definisi lain yang yang dikemukakan oleh The National Joint Commite for Learning Dissabilites (NJCLD) bahwa kesulitan belajar menunjuk kepada suatu kelompok kesulitan yang didefenisikan dalam bentuk kesulitan nyata dalam kematian dan penggunan kemampuan pendengaran, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar atau kemampuan dalam bidang studi biologi
Adapun pengertian yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah “kesulitan yang dialami oleh siswa-siswi dalam kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkahlaku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai manivestasi tingkahlaku, baik secara langsung maupun tidak langsung.[1]

Artinya: “Karena sesungguhnya setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Alam Nasyroh: 5-6).[2]
Artinya: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul agar kalian dapat rahmat.” (Q.S. Al-Imran: 132).[3]

B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesulitan belajar siswa terbagi menjadi dua faktor yaitu sebagai berikut :
1.      Faktor internal
Faktor internal yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari dalam diri sendiri, meliputi :
a.      Faktor jasmaniah
1.      Faktor kesehatan, berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu. Selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan pusing alat indranya serta tubuhnya.
Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar , istirahat, tidur, makan, olahraga, rekreasi dan ibadah.
2.      Cacat tubuh adalah Sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan. Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar siswa yang cacat belajarnya juga terganggu. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya.
b.      Faktor psikologis,
Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong kedalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar, antara lain :
1)      Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan kedalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar . dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat intelegensinya yang rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum pasti berhasil belajarnya. Hal ini disebabkan karena faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegnsi adalah segala faktor diantara faktor yang lain.
2)      Perhatian, untuk dapat menjamin perhatian hasil belajar yang baik maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjai perhatian siswa, maka timbulah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.
3)      Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Minat berpengaruh besar terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajarai tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.
4)      Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Bakat itu mempengaruhi belajar, jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya itu.
5)      Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorong.
Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar denan baikatau padanya mempunyai motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan, dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan atau menunjang belajar. Motif yang kuat sangatlah perlu di dalam belajar, didalam membentuk motif yang kuat itu dapat dilaksanakan dengan adanya latihan-latihan dan pengaruh lingkungan yang memperkuat, jadi latihan itu sangat perlu dalam belajar.
6)      Kematangan adalah suatu tingkat dalam pertumbuhan seseorang dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Misalnya tangan dan jari-jarinya sudah siap untuk menulis, dengan otaknya sudah siap untuk berpikir abstrak.
7)      Kesiapan adalah kesedian untuk memberi respon atau bereaksi. Kesedian itu timbul dar dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya ada kesiapan, maka kesiapan hasil belajarnya akan lebih baik.
8)      Motivasi adalah kekuatan tersembunyi didalam diri kita, yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas.
a)      Motivasi intrinsik mengacu pada faktor-faktor dari dalam, tersirat baik dalam tugas itu sendiri maupun pada diri siswa. Kebanyakan teori pendidikan modern mengambil motivasi intrinsik sebagai pendorong bagi aktivitas dalam pengajaran dan dalam pemecahan soal.
b)      Motivasi ekstrinsik mengacu kepada faktor-faktor dari luar, dan ditetapkan pada tugas atau pada siswa oleh guru atau orang lain. Motivasi ekstrinsik biasa berupa penghargaan,pujian, hukuman, atau celaan. [4]
c. Faktor kelelahan
Kelehan dalam seseorang walaupun sulit untuk dikisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani yaitu terkait lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmaniterjadi karena kekacauan substansi sisa pembakaran didalam tubuh, sehingga darah tidak atau kurang lancar pada bagian-bagian tertentu. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi seolah-olah otak kehabisan daya untuk bekerja.[5]
2.      Faktor eksternal,
Faktor eksternal yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri sendiri, meliputi :
a.      Faktor keluarga
Faktor keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Tetapi dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan belajar. Faktor ini antara lain sebagai berikut :
1)      Faktor orang tua
a)      Cara mendidik anak, orang tua yang tidak atau kurang memperhatikan pendidikan anak-anaknya mungkin acuh tak acuh atau tidak memperhatikan kemajuan belajar anak-anaknya.
b)      Hubungan orang tua dan anak, yang dimaksud dengan hubungan adalah kasih sayang, penuh pengertian, atau kebencian, sikap keras, acuh tak acuh, memanjakan,dan lain-lain. Kasih sayang dari orang  tua, perhatian atau penghargaan pada anak-anak, menimbulkan mental yang sehat bagi anak.
c)      Contoh atau bimbingan dari orang tua, merupakan contoh terdekat dari anak-anaknya. Segala yang diperbuat orang tua tanpa disadari akan ditiru oleh anak-anaknya, karenanya sikap orang tua yang bermalas-malasan tidak baik. Demikian juga belajar memerlukan bimbingan dari orang tua agar sikap dewasa dan tanggug jawab belajar tumbuh pada diri anak.
Al-Qur’an surat Al-Kahfi  ayat 66 ada kaitannya tentang kesulitan dalam belajar, yakni:
Artinya: “Musa berkata kepada Khidhr “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.” (QS. Al-Kahfi: 66)”.[6]

Dari ayat diatas dapat diambil beberapa pokok pemikiran sebagai berikut dan kaitan ayat ini dengan aspek pendidikan bahwa seorang pendidik hendaknya:
(1)   Menuntun anak didiknya. Dalam hal ini menerangkan bahwa peran seorang guru adalah sebagai fasilitator, tutor, tentor, pendamping dan yang lainnya. Peran tersebut dilakukan agar anak didiknya sesuai dengan yang diharapkan oleh bangsa neraga dan agamanya.
(2)   Memberi tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu. Hal ini perlu, karena zaman akan selalu berubah seiring berjalananya waktu. Dan kalau kita tidak mengikutinya, maka akan menjadikan anak yang tertinggal.
(3)   Mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui bahwa potensi anak didiknya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang akan dipelajarinya.[7]
2)      Suasana rumah atau keluarga
Suasana keluarga yang sangat ramai atau gaduh, tidak mungkin anak dapat belajar dengan baik. Anak akan selalu terganggu konsentrasinya, sehingga sukar untuk belajar. Demikian juga suasana rumah yang selalu tegang, selalu banyak cekcok diantara anggota keluarga, selalu ditimpa kesedihan, antara ayah dan ibu selalu cekcok atau selalu membisu akan mewarnai suasana keluarga yang melahirkan anak-anak yang tidak sehat mental.
3)      Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi digolongkan dalam:
a)      Ekonomi yang kurang atau miskin, keadaan ini akan menimbulkan kurangnya alat belajar, kurangnya biaya yang di sediakan orang tua, tidak mempunyai tempat belajar yang baik.
b)      Ekonomi yang berlebihan atau kaya, keadaan ini sebaliknya dari keadaan yang pertama, dimana ekonomi keluarga berlimpah ruah. Mereka akan menjadi segan belajar karena ia terlalu banyak bersenang-senang. Mungkin juga ia dimanjakan oleh orang tuanya. Keadaan seperti ini akan dapat menghambat kemajuan belajar.
b.      Faktor sekolah
Yang dimaksud faktor sekolah antara lain:
1)      Guru
Guru apat menjadi sebab kesulitan belajar apabila:
a)      Guru tidak kualified, baik dalam pengambilan metode yang digunakan atau dalam mata pelajaran yang dipegangnya kurang sesuai. Sehingga kurang menguasai, lebih-lebih kalau kurang persiapan, sehingga cara menerangkan kurang jelas, sukar dimengerti oleh murid-muridnya.
b)      Hubungan guru dengan murid kurang baik, hal ini bermula pada sifat dan sikap guru yang tidsk disenangi oleh murid-muridnya, seperti: kasar atau suka marah-marah, mengejek, tidak suka membantu anak, membentak, tidak pandai dalam menerangkan, sinis, sombong, menjengkelkan, tinggi hati, pelit dalam memberi nilai, tidak adil, dan lain-lain.
c)      Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis kesulitan belajar.
d)     Metode mengajar guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar antara lain: metode mengajar yang mendasarkan dari pada latihan mekanis tidak didasarkan pada pengertian, guru dalam mengajar tidak menggunakan alat peraga yang memungkinkan semua alat inderanya berfungsi, metode mengajar yang menyebabkan murid pasif sehingga anak tidak ada aktivitas.


Artinya: “(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang telab mengajarkan al Qur’an, Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara /AI-Bayan”. (Q.S. Ar-Rahman: 1-4). [8]
Kaitannya ayat ar-Rahman ini dengan Subjek Pendidikan adalah sebagai berikut:
(1)     Kata Ar-Rahman menunjukkan bahwa sifat-sifat pendidik adalah murah hati, penyayang dan lemah lembut, santun dan berakhlak mulia kepada anak didiknya dan siapa saja yang menunjukan profesionalisasi pada Kompetensi Personal.
(2)     Seorang guru hendaknya memiliki kompetensi paedagogis yang baik sebagaimana Allah mengajarkan al-Quran kepada Nabi-Nya.
(3)     Al-Quran menunjukkan sebagai materi yang diberikan kepada anak didik adalah kebenaran/ilmu dari Allah (Kompetensi Profesional).
(4)     Keberhasilan pendidik adalah ketika anak didik mampu menerima dan mengembangkan ilmu yang diberikan, sehingga anak didik menjadi generasi yang memiliki kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual, sebagaimana penjelasan AI-Bayan.[9]
2) Faktor alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat praktikum, kurangnya alat laboratorium akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar.
3)      Kondisi gedung
Ruangan harus memenuhi syarat kesehatan seperti:
a)      Ruangan harus berjendela, ventilasi cukup, udara segar dapat masuk ruangan, sinar dapat menerangi ruangan.
b)      Dinding harus bersih, putih, tidak terlihat kotor.
c)      Lantai tidak becek, licin atau kotor.
d)     Keadaan gedung yang jauh dari tempat keramaian, sehigga anak mudah konsentrasi dalam belajar.
4)      Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik, misalnya:
a)      Bahan-bahannya terlalu tinggi
b)      Pembagian bahan tidak seimbang
c)      Adanya pendataan materi.
5)      Waktu sekolah dan disiplin kurang
Apabila sekolah masuk sore, siang, malam, maka kondisi anak tidak lagi dalam keadaan optimal untuk menerima pelajaran.
c.       Faktor media masa dan lingkungan social
1)      Faktor media masa
Faktor media masa meliputi: bioskop, tv, surat kabar, majalah, buku-buku komik yang ada di sekeliling kita. Hal-hal itu akan menghambat belajar apabila anak terlalu banyak waktu yang dipergunakan untuk itu, hingga lupa akan tugas belajarnya.
2)      Lingkungan sosial
a)      Teman bergaul, karena teman bergaul pengaruhnya sangat besar dan lebih cepat masuk dalam jiwa anak. Apabila anak suka bergaul dengan mereka yang tidak sekolah, maka ia akan malas belajar, sebab cara hidup anak yang bersekolah berlainan dengan anak yang tidak bersekolah.
b)      Lingkungan tetangga, corak kehidupan tetangga misalnya suka main judi, minum arak, menganggur, pedagang, tidak suka belajar, akan mempengaruhi anak-anak bersekolah.
c)      Aktivitas dalam masyarakat, terlalu banyak berorganisasi, kursus ini dan itu akan menyebabkan belajar anak menjadi terbengkalai.[10]

C.    Cara Mengenal Anak Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar
Beberapa gejala sebagai indicator adanya kesulitan belajar anak didik dapat dilihat dari petunjuk-petunjuk sebagai berikut :
1.      Menunjukan prestasi belajar yang rendah, dibawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok anak didik dikelas.
2.      Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, padahal anak didik sudah berusaha belajar dengan keras tetapi nilainya selalu rendah.
3.      Anak didik lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar.
4.      Anak didik menunukan sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, berpura-pura, berdusta, mudah tersinggung, dan sebagainya.
5.      Anak didik menunjukan tingkah laku yang tidak seperti bisanya ditunjukan pada orang lain, seperti pemurung, pemarah, selalu bingung, selalu sedih, kurang gembira, atau mengasingkan diri dari kawan-kawan sepermainannya.
6.      Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi,tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi yang rendah.
7.      Anak didik yang selalu menunjukan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi dilain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.[11]

D.    Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Untuk mengatasi kesulitan belajar, terlebih dahulu harus mencari faktor-faktor yang di duga sebagai penyebabnya, untuk itu harus dilakukan cara sebagai berikut:
a.      Observasi
Observasi adalah suatu cara memperoleh data dengan langsung mengamati terhadap objek. Sambil melakukan observasi, dilakukan pencatatan terhadap gejala-gejala yang tampak pada diri subjek, kemudian di seleksi untuk dipilih yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
b.      Wawancara
Wawancara atau interview adalah suatu cara mendapatkan data dengan wawancara langsung terhadap orang yang diselidiki atau terhadap orang lain yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki. Interview sebagai pendukung yang akurat dari kegiatan observasi karena keakuratan data lebih terjamin bila kegiatan observasi dilanjutkan dengan kegiatan interview
c.       Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu cara untuk mengetahui sesuatu dengan melihat catatan, arsip-arsip, dokumen-dokumen yang berhubungan dengan orang yang diselidiki. Teknik dokumentasi adalah suatu cara yang sering dipakai dalam upaya mencari faktor-faktor penyebab yang menyebabkan anak didik mengalami kesulitan belajar melalui dokumen anak didik itu sendiri.
Diantara dokumen anak didik yang perlu dicari adalah berhubungan dengan riwayat hidup anak didik, prestasi anak didik, kumpulan ulangan, catatan kesehatan anak didik, buku rapor anak didik, buku catatan untuk semua mata pelajaran, dan sebagainya.     
d.      Tes diagnostik
Tes diagnostik dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan belajar yang dialami anak didik berdasarkan hasil tes formatif sebelumnya. Tes diagnostik sebelumnya memerlukan sejumlah soal untuk satu mata pelajaran yang diperkirakan merupakan kesulitan anak didik. Soal-soal tersebut bervariasi dan difokuskan pada kesulitan. Tes ini biasanya dilaksanakan sebelum suatu pelajaran berjalan.[12]
e.       Prognosis
Prognosis merujuk pada aktivitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar siswa. Prognosis ini dapat berupa: bentuk treatment yang harus diberikan, bahan atau materi yang diperlukan, metode yang akan digunakan, alat bantu belajar mengajar yang diperlukan, dan waktu kegiatan dilaksanakan.
f.       Terapi atau pemberian bantuan
Terapi atau memberian bantuan adalah pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk terapi yang dapat diberikan antara lain melalui: bimbingan belajar kelompok, bimbingan belajar individual, pengajaran remedial, pemberian bimbingan pribadi dan alih tangan kasus.
g.      Tindak lanjut
Tindak lanjut adalah usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjutnya yang didasari hasil evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan dalam upaya pemberian bimbingan.[13]
Istilah evaluasi dalam wacana keislaman tidak ditemukan padanan yang pasti, tetapi terdapat istilah-istilah tertentu yang mengarah kepada makna evaluasi. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:[14]
1)      Al-Imtihan, memiliki arti ujian.
2)      Al-Hisab, memiliki makna mengira, menafsirkan, menghitung, dan, menganggap. (Al-Baqarah: 284)
3)      Al-Bala, memiliki makna cobaan, ujian. (Q.S. Al-Mulk: 2)
4)      Al-Hukm, memiliki makna putusan atau vonis. (Q.S. An-Naml: 78)
5)      Al-Qadhi, memiliki arti putusan.(Q.S. Thaha: 72)
6)      Al-Nazhr, memiliki makna melihat. (Q.S. An-Naml: 27).




Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:”Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”. (Q.S. Al-Baqarah: 31).

Ayat diatas ada kaitannya dengan proses pendidikan terhadap manusia terjadi pertama kali ketika Allah SWT selesai menciptakan Adam As, lalu Allah SWT mengumpulkan tiga golongan mahluk yang diciptakan-Nya untuk diadakan Proses Belajar Mengajar (PBM).
 Tiga golongan mahluk ciptaan Allah dimaksud yaitu Jin, Malaikat, dan Manusia (Adam Alaihissalam) sebagai “Mahasiswa” nya, sedangkan Allah SWT bertindak sebagai “Maha Guru” nya. Setelah selesai PBM maka Allah SWT mengadakan evaluasi kepada seluruh mahasiswa (jin, malaikat, dan manusia) dengan cara bertanya dan menyuruh menjelaskan seluruh materi pelajaran yang diberikan, dan ternyata Adam lah (dari golongan manusia) yang berhasil menjadi juara dalam ujian tersebut.




BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
a.      Pengertian kesulitan belajar
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai manivestasi tingkahlaku, baik secara langsung maupun tidak langsung.
b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar
1)      Faktor internal
Faktor internal yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari dalam diri sendiri, meliputi:
a)      Faktor jasmaniah, antara lain faktor kesehatan, cacat tubuh.
b)      Faktor psikologis, antara lain intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan, motivasi intrinsik dan ekstrinsik.
c)      Kelelahan.
2)      Faktor eksternal
Faktor eksternal yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri sendiri, meliputi :
a)      Faktor keluarga
1)      Faktor orang tua, seperti: cara mendidik anak, hubungan orang tua dan anak, dan  contoh atau bimbingan dari orang tua.
2)      Suasana rumah atau keluarga
3)      Keadaan ekonomi keluarga, seperti ekonomi yang kurang atau miskin, dan ekonomi yang berlebihan atau kaya
b)     Faktor sekolah
1)      Faktor alat
2)      Kondisi gedung
3)      Kurikulum
4)      Waktu sekolah dan disiplin kurang
c)      Faktor media masa dan lingkungan social
1)      Faktor media masa
2)      Lingkungan sosial
3)      Lingkungan tetangga

c.       Cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar
Beberapa gejala sebagai indicator adanya kesulitan belajar anak didik dapat dilihat dari petunjuk-petunjuk sebagai berikut: Menunjukan prestasi belajar yang rendah, hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, anak didik lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar, anak didik menunukan sikap yang kurang wajar, anak didik menunjukan tingkah laku yang tidak seperti bisanya ditunjukan pada orang lain, dan Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi.
d.      Usaha mengatasi kesulitan belajar
Untuk mengatasi kesulitan belajar, terlebih dahulu harus mencari faktor-faktor yang di duga sebagai penyebabnya, untuk itu harus dilakukan cara sebagai berikut: observasi, wawancara, dokumentasi, tes diagnostik, prognosis, terapi atau pemberian bantuan, dan tindak lanjut. 

2.      Kritik dan Saran
Dengan kerendahan hati, penulis merasa makalah ini sangat sederhana dan jauh dari kesempurnaan. Kritik dan Saran yang konstruktif sangat diperlukan demi  kesempurnaan  makalah ini, sehingga akan  lebih bermanfaat konstribusinya bagi khazanah keilmuan.




DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi Abu dan Widodo Surriyono. 2004. Psikologi Belajar. Rineka Cipta: Jakarta.
Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Alfabeta: Bandung.
Davies K Ivor . 1986. Pengelolaan Belajar. Rajawali Pers: Jakarta.
Huda Samsul. 2012. Dalil Al-quran tentang pendidikan. Di unduh pada hari Senin 16 September 2013 pukul 14.05. melalui http://syamsul14.wordpress.com/2012/11/29/dalil-al-quan-tentang-pendidikan/ .
Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Kalam Mulia: Jakarta.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka cipta:Jakarta.
Soenarjo. 1971. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta.
Sudiyono Anas. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Yulianto Toto. 2013. Metode Pembelajaran. Di unduh pada hari Senin 16 September 2013 pukul 14.00. melalui http://totoyulianto.wordperss.com2013/03/09/pengertian-kesulitan-belajar.



[1]Toto Yulianto. 2013. Metode Pembelajaran. Di unduh pada hari Senin 16 September 2013 pukul 14.00. melalui http://totoyulianto.wordperss.com2013/03/09/pengertian -kesulitan-belajar.
[2]Soenarjo. 1971.  Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta.  Hal. 1073.
[3] Ibid. hal. 97.
[4] Ivor K Davies. 1986. Pengelolaan Belajar. Rajawali Pers: Jakarta. Hal. 214-216.
[5] Slameto.1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka cipta:Jakarta. Hal 54-60.

[6] Soenarjo. Hal. 454.
[7] Samsul Huda. 2012. Dalil Al-quran Tentang Pendidikan. Di unduh pada hari Senin 16 September 2013 pukul 14.05. melalui http://syamsul14.wordpress.com/2012/11/29/dalil-al-quan-tentang-pendidikan/ .

[8] Soenarjo. Hal. 885.
[9] Op Cit. Samsul Huda.
[10] Abu Ahmadi dan Widodo Surriyono. 2004. Psikologi Belajar. Rineka Cipta: Jakarta. Hal. 85-93.
[11] Op. Cit. Syaiful Bahri Djamarah. Hal. 246.
[12] Anas Sudiyono. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Raja Grafindo Persada: Jakarta. Hal. 76-90.
[13] Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Alfabeta: Bandung. Hal 198.
[14] Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Kalam Mulia: Jakarta. Hal. 332.  


Tidak ada komentar:

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...