BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum merupakan hal yang sangat diperlukan dalam pendidikan. Kurikulum bisa digunakan sebagai acuan dalam kegiatan pendidikan. Dalam perkembangannya sebagai sebuah disiplin ilmu, para ahli pendidikan tidak pernah henti-hentinya menghasilkan berbagai rumusan atau konsep tentang kurikulum. Secara umum kajian-kajian tentang kurikulum terdiri dari tiga hal pokok yaitu perencanaan kurikulum, pelaksanaan atau impelemtasi kurikulum dan evaluasi kurikulum.
Tiga aspek utama di atas selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Dalam wilayah implementasi kurikulum juga sejalan dengan perencanaan kurikulum mengalami perubahan karena kurikulum yang diimplementasikan adalah kurikulum yang telah direncanakan, implementasi kurikulum intinya adalah pelaksanaan proses belajar mengajar itu sendiri yang didalamnya terdapat rencana pembelajaran, silabus, materi, media dan sumber belajar, evaluasi, termasuk juga di dalamnya adalah strategi pembelajaran.
B. Ringkasan Materi
Pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa. Oleh karenanya dibutuhkan sebuah strategi supaya tujuan-tujuan tersebut dapat tercapai. Dalam dunia pendidikan strategi berarti sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai suatu tujuan pendidikan, yang mana semua itu harus melalui beberapa langkah (step by step) untuk mencapai hasil yang maksimal. Begitupun sama halnya dengan strategi pembelajaran.
Strategi pembelajaran merupakan pola umum atau cara-cara yang akan dipilih seorang pengajar untuk memudahkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang pada akhirnya dapat mencapai tujuan pembelajaran. strategi pembelajaran di atas dapat dikorelasikan dengan pendidikan agama Islam sebagaimana yang dinyatakan Tafsir yaitu kegiatan atau usaha-usaha dalam mendidikkan agama Islam. Selain langkah-langkah, dalam strategi juga harus dipilih dengan berbagai kriteria, kemudian digolongkan dan dilaksanakan dengan baik.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Strategi
Strategi merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan yang telah di rencanakan dimana untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan yang telah di harapkan atau sasaran yang telah ditentukan. Ahmadi dan Tri Prasetyao (2005:11) lebih jelas mengemukakan bahwa menurut Hornby, istilah strategi mula-mula dipakai dikalangan militer dan diartikan sebagai seni dalam merancang (operasi) peperangan, terutama yang erat kaitannya dengan gerakan pasukan dan navigasi kedalam posisi perang yang dipandang paling menguntungkan untuk memperoleh kemenangan.
Dewasa ini istilah strategi banyak di gunakan dalam bidang apapun, karena dalam setiap kegiatan yang di lakukan hal yang paling di inginkan oleh semuanya adalah kesuksesan, itu adalah suatu hal yang mutlak, dan untuk mencapai semua itu strategi adalah suatu tindakan yang akan membantu jalannya proses suatu kegiatan yang ada.
Bahkan dalam pendidikan pun strategi diikut sertakan karena itu merupakan hal yang paling penting. Dalam dunia pendidikan strategi berarti sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai suatu tujuan pendidikan, yakni kesuksesan dalam proses pembelajaran. Dengan rumusan lain, dapat juga dikemukakan bahwa strategi berarti pilihan pola kegiatan belajar mengajar yang diambil untuk mencapai tujuan secara efektif.
Dari definisi-definisi di atas penting untuk diketahui bahwa strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjukan pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Dengan kata lain, strategi adalah a plan of operation achieving something; sedangkan metode adalah a way in achieving something.
Ahmadi dan Tri Pasetyo (2005:12) mengemukakan bahwa menurut Newman dan Logan, strategi dasar arti setiap usaha meliputi empat masalah yaitu:
1. Pengidentifikasian dan penetapan spesifikasi dan kualifikasi hasil yang harus dicapai dan menjadi sasaran usaha tersebut, dengan mempertimbangkan aspirasi masyarakat yang memerlukannya.
2. Pertimbangan dan pemilihan pendekatan utama yang ampuh untuk mencapai sasaran.
3. Pertimbangan dan penetapan langkah-langkah yang ditempuh sejak awal sampai akhir.
4. Pertimbangan dan penetapan tolak ukur dan ukuran baku yang akan digunakan untuk menilai keberhasilan usaha yang dilakukan.
Apabila diterapkan dalam konteks pendidikan, keempat strategi dasar tersebut dapat diterjemahkan menjadi:
1. Mengidentifikasikan serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian peserta didik sebagaimana yang diharapkan.
2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar bedasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh para guru dalam kegiatan mengajarnya.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria dan setandar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar, yang selanjutnya menjadi umpan balik bagi penyempurnaan sistem intruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.
B. Strategi Pengembangan Kurikulum
1. Pengertian pengembangan kurikulum
Hamalik (2008:96) mengemukakan bahwa pengembangan kurikulum (curriculum development) menurut Audrey Nichollas dan S. Howard Nichoolas adalah the planning of learning opportunities intended to bring about certain desered in pupils, and assessment of the extent to wich these changesvave taken plece.
Rumusan ini menunjukan bahwa pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa. Sedangkan yang dimaksud kesempatan belajar (learning opportunity) adalah hubungan yang telah direncanakan dan terkontrol antara para siswa, guru, bahan peralatan, dan lingkungan dimana belajar yang diinginkan diharapkan terjadi. Ini terjadi bahwa semua kesempatan belajar direncanakan oleh guru, bagi para siswa sesungguhnya adalah kurikulum tersendiri.
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu administrator pendidikan ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus menerus turut terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah administrator, guru, dan orang tua. (Sukamadinata, 2010:155).
2. Langkah-langkah pengembangan kurikulum
Menurut Kastowo (2013) dalam web sitenya mengemukakan bahwa pegembangan kurikulum meliputi empat langkah, yaitu merumuskan tujuan pembelajaran (instructional objective), menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar (selection of learning experiences), mengorganisasi pengalaman-pegalaman belajar (organization of learning experiences), dan mengevaluasi (evaluating).
a. Merumuskan Tujuan Pembelajaran (instructional objective)
Terdapat tiga tahap dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tahap yang pertama yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan adalah memahami tiga sumber, yaitu siswa (source of student), masyarakat (source of society), dan konten (source of content). Tahap kedua adalah merumuskan tentative general objective atau standar kompetensi (SK) dengan memperhatikan landasan sosiologi (sociology), kemudian di-screen melalui dua landasan lain dalam pengembangan kurikulum yaitu landasan filsofi pendidikan (philosophy of learning) dan psikologi belajar (psychology of learning), dan tahap terakhir adalah merumuskan precise education atau kompetensi dasar (KD).
b. Merumuskan dan Menyeleksi Pengalaman-Pengalaman Belajar (selection of learning experiences)
Dalam merumuskan dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar dalam pengembangan kurikulum harus memahami definisi pengalaman belajar dan landasan psikologi belajar (psychology of learning). Pengalaman belajar merupakan bentuk interaksi yang dialami atau dilakukan oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan. Pengalaman belajar yang harus dialami siswa sebagai learning activity menggambarkan interaksi siswa dengan objek belajar. Belajar berlangsung melalui perilaku aktif siswa; apa yang ia kerjakan adalah apa yang ia pelajari, bukan apa yang dilakukan oleh guru. Dalam merancang dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar juga memperhatikan psikologi belajar.
Ada lima prinsip umum dalam pemilihan pengalaman belajar. Kelima prinsip tersebut adalah pertama, pengalaman belajar yang diberikan ditentukan oleh tujuan yang akan dicapai. kedua, pengalaman belajar harus cukup sehingga siswa memperoleh kepuasan dari pengadaan berbagai macam perilaku yang diimplakasikan oleh sasaran hasil. ketiga, reaksi yang diinginkan dalam pengalaman belajar memungkinkan bagi siswa untuk mengalaminya (terlibat). keempat, pengalaman belajar yang berbeda dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama. kelima, pengalaman belajar yang sama akan memberikan berbagai macam keluaran (outcomes).
c. Mengorganisasi Pengalaman Pengalaman Belajar (organization of learning experiences)
Pengorganisasi atau disain kurikulum diperlukan untuk memudahkan anak didik untuk belajar. Dalam pengorganisasian kurikulum tidak lepas dari beberapa hal penting yang mendukung, yakni: tentang teori, konsep, pandangan tentang pendidikan, perkembangan anak didik, dan kebutuhan masyarakat.
d. Mengevaluasi (evaluating) Kurikulum
Langkah terakhir dalam pengembangan kurikulum adalah evaluasi. Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan di mana data yang terkumpul dan dibuat pertimbangan untuk tujuan memperbaiki sistem. Evaluasi yang seksama adalah sangat esensial dalam pengembangan kurikulum. Evaluasi dirasa sebagai suatu proses membuat keputusan, sedangkan riset sebagai proses pengumpulan data sebagai dasar pengambilan keputusan.
Perencana kurikulum menggunakan berbagai tipe evaluasi dan riset. Tipe-tipe evaluasi adalah konteks, input, proses, dan produk. Sedagkan tipe-tipe riset adalah aksi, deskripsi, historikal, dan eksperimental. Di sisi lain perencana kurikulum menggunakan evaluasi formatif (proses atau progres) dan evaluasi sumatif (outcome atau produk).
Sedangkan menurut Ali (2009:66) penyusunan dan pengembangan kurikulum dapat menempuh langkah langkah sebagai berikut.
a. Perumusan tujuan,
b. Menentukan isi,
c. Memilih kegiatan, dan
d. Merumuskan evaluasi.
3. Pengembangan kurikulum PAI
Mawardi (2013) mengemukakan dalam web sitenya bahwa pengembangan dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) diartikan sebagai, kegiatan menghasilkan kurikulum PAI, proses yang mengkaitkan satu komponen dengan yang lainnya untuk menghasilkan kurikulum PAI yang lebih baik, dan kegiatan penyusunan (desain), pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan kurikulum PAI.
Dalam pengembangan kurikulum PAI dimulai dari kegiatan perencanaan kurikulum. Dalam menyusun perencanaan ini didahului oleh ide-ide yang akan dituangkan dan dikembangkan dalam program. Ide kurikulum bisa berasal dari:
a. Visi yang dicanangkan. Visi (vision) adalah the statement of ideas or hopes, yakni pernyataan tentang cita-cita atau harapan-harapan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga pendidikan dalam jangka panjang.
b. Kebutuhan stakeholders (siswa, masyarakat, pengguna lulusan), dan kebutuhan untuk studi lanjut.
c. Hasil evaluasi kurikulum sebelumnya dan tuntutan perkembangan IPTEK dan zaman.
d. Pandangan-pandangan para pakar dengan berbagai latar belakangnya.
e. Kecenderungan era globalisasi, yang menuntut seseorang untuk memiliki etos belajar sepanjang hayat, melek sosial, ekonomi, politik, budaya dan teknologi.
Kelima ide tersebut kemudian diramu sedemikian rupa untuk dikembangkan dalam program atau kurikulum sebagai dokumen yang antara lain berisi; informasi dan jenis dokumen yang akan dihasilkan, bentuk atau format silabus, dan komponen-komponen kurikulum yang harus dikembangkan. Apa yang tertuang dalam dokumen tersebut kemudian dikembangkan dan disosialisasikan dalam proses pelaksanaannya, yang dapat berupa pengembangan kurikulum dalam bentuk satuan acara pembelajaran atau SAP, proses pembelajaran di kelas atau di luar kelas, serta evaluasi pembelajaran, sehingga diketahui tingkat efisiensi dan efektivitasnya. Dari evaluasi ini akan diperoleh umpan balik (feed back) untuk digunakan dalam penyempurnaan kurikulum berikutnya. Dengan demikian, proses pengembangan kurikulum menuntut adanya evaluasi secara berkelanjutan mulai dari perencanaan, implementasi hingga evaluasi itu sendiri.
Disamping itu dalam pengembangan kurikulum, terdapat dua proses utama yaitu pengembangan pedoman kurikulum dan pengembangan pedoman instruksional. Dalam pedoman kurikulum, beberapa hal yang berpengaruh yaitu 1) latar belakang, yang berisi rumusan falsafah dan tujuan lembaga pendidikan, populasi yang menjadi sasaran, rasional bidang studi, struktur bahan pelajaran, 2) silabus, yang berisi mata pelajaran secara lebih terinci yang diberikan yakni scope (ruang lingkup) dan sequence-nya (urutan pengajiannya), 3) desain evaluasi, termasuk strategi revisi atau perbaikan kurikulum, mengenai bahan pelajaran dan organisasi bahan dan strategi instruksionalnya. Sedangkan pedoman instruksional untuk tiap matapelajaran yang dikembangkan berdasarkan silabus.
C. Strategi Pembelajaran
1. Pengertian strategi pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses terjadinya interaksi antara pelajar dengan pengajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran, yang berlangsung dalam suatu lokasi tertentu dalam jangka waktu tertentu pula. Proses pembelajaran berlangsung melalui tahap-tahap persiapan dan pelaksanaan yang melibatkan pelajar dan pengajar dalam satuan waktu guna mencapai tujuan kompetensi kemudian selanjutnya dirumuskan dalam bentuk tujuan-tujuan pembelajaran.
Adapun yang dimaksud dengan strategi pembelajaran menurut beberapa pendapat adalah:
a. Menurut Hamalik (2008:162) adalah pola umum untuk mewujudkan proses belajar mengajar. Secara operasional strategi pembelajaran adalah prosedur dan metode yang ditempuh oleh dosen (pengajar) untuk memberikan kemudahan bagi siswa (peserta didik) melakukan kegiatan belajar secara aktif dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
b. Menurut Hasibun (2008:3) adalah pola umum perbuatan guru-murid di dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar.
c. Menurut B. Uno (2012:3) adalah cara-cara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran. Pemilihan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi, sumber belajar, kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihadapi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Dari beberapa pengertian strategi pembelajaran diatas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan pola umum atau cara-cara yang akan dipilih seorang pengajar untuk memudahkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang pada akhirnya dapat mencapai tujuan pembelajaran.
2. Kriteria pemilihan strategi pembelajaran
Pemilihan strategi pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran harus berorientasi pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Selain itu, juga harus disesuaikan dengan jenis materi, karakteristik peserta didik, serta situasi atau kondisi dimana proses pembelajaran tersebut akan berlangsung. Terdapat beberapa metode dan teknik pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru, tetapi tidak semuanya sama efektifnya dapat mencapai tujuan pembelajaran.
B. Uno (2012:8) mengemukakan bahwa menurut Mager, kriteria yang dapat digunakan dalam memilih strategi pembelajaran yaitu sebagai berikut.
a. Berorientasi pada tujuan pembelajaran. Tiap prilaku apa yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik. Misalnya menyusun bagan analisis pembelajaran. Berate metode yang paling dekat dan sesuai dengan yang dikehendaki TKP adalah latihan atau praktek langsung.
b. Pilih teknik pembelajaran sesuai dengan ketrampilan yang diharapkan dapat dimiliki saat bekerja nanti (dihubingkan dengan dunia kerja). Misalnya setelah bekerja, peserta didik dituntut untuk pandai memprogram data computer (programmer). Berarti metode yang paling mungkin digunakan adalah praktikum dan analisis kasus atau pemecahan masalah (problem solving).
c. Gunakan media pembelajaran yang sebanyak mungkin memberikan rangsangan pada indra peserta didik. Artinya, dalam satuan-satuan waktu yang bersamaan peserta didik dapat melakukan aktifitas fisik maupun psikis. Misalnya menggunakan OHP. Dalam menjelaskan suatu bagan, lebih baik guru menggunakan OHP daripada hanya berceramah, karena penggunaan OHP memungkinkan peserta didik sekaligus dapat melihat dan mendengar penjelasan guru.
Lebih lanjut B. Uno (2012:9) mengemukakan bahwa pemilihan strategi pembelajaran hendaknya ditentukan berdasarkan criteria berikut
a. Orentasi strategi pada tugas pembelajaran,
b. Relevan dengan isi atau materi pembelajaran,
c. Metode dan teknik yang digunakan difokuskan pada tujuan yang ingin dicapai, dan
d. Media pembelajaran yang digunakan dapat merangsang indra peserta didik secara simultan.
3. Dasar-dasar untuk menggolongkan strategi pembelajaran
Ada beberapa dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan strategi pembelajaran yaitu sebagai berikut.
a. Pengaturan guru dan siswa
Dari segi guru dapat dibedakan pengajaran oleh seorang guru atau oleh suatu tim, selanjutnya dapat pula dibedakan hubungan guru-murid terjadi secara tatap muka ataukah dengan perantara media, baik cetak ataupun visual. Sedangkan dari segi siswa dibedakan pengajar klasikal (kelompok besar), kecil (5-7 orang siswa) atau pengajaran perorangan.
b. Struktur peristiwa pembelajaran
Bersifat tertutup dan terbuka. Tertutup dalam arti segala sesuatu telah di tentukan secara relatif ketat, Sedangkan terbuka dalam arti tujuan khusus, materi, serta prosedur yang akan ditempuh untuk mencapainya ditentukan sementara kegiatatan belajar-mengajar berlangsung.
c. Peranan guru-murid di dalam mengolah pesan
Pengajaran yang menyampaikan pesan dalam keadaan “telah siap” (telah diolah secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan) dinamakan besifat ekspositorik, sedangkan yang mengharuskan pengolahan oleh siswa dinamakan heuristik.
Ada dua sub strategi di dalam strategi heuristik yang akhir-akhir ini sering dikemukakan orang, yaitu penemuan (discovery) dan penyelidikan (inquiry).
d. Proses pengolahan pesan
Peristiwa balajar-mengajar yang bertolak dari yang umum untuk dilihat keberlakuannya atau akibatnya pada yang khusus dinamakan strategi yang bersifat deduktif, sedangkan yang ditandai oleh proses berfikir yang bergerak dari khusus ke umum dinamakan induktif.
e. Tujuan belajar
Menurut Gagne dilihat dari tujuan belajar, ada lima tipe hasil belajar, yaitu diantaranya; Keterampilan intelektual, Strategi kognitif, Informasi verbal, Keterampilan motorik, Sikap dan nilai. Dari tipe-tipe tersebut menyarankan, bahkan mempersyaratkan kondisi-kondisi tertentu sehingga daripadanya dapat dijabarkan strategi-strategi belajar mengajar yang sesuai.
f. Pengklasifikasian yang lebih komprehensif
Pengklasifikasian dalam arti meninjau beberapa faktor sekaligus, seperti wawasan tentang manusia dan dunianya maupun tujuan serta lingkungan belajar, dikemukakan oleh Bruce Joyce dan Masha Weil, sebagai berikut.
1) Kelompok model-model interaksi sosial
Kelompok model interaksi sosial didasarkan pada dua asumsi pokok, yaitu:
a) Masalah-masalah sosial diindentifikasi dan dipecahkan atas dasar kesepakatan-kesepakatan yang diperoleh dari dalam dan dengan menggunakan proses-proses sosial.
b) Proses sosial yang demokratis perlu dikembangkan untuk melakukan perbaikan di masyarakat dalam arti seluas-luasnya secara building dan terus menerus.
2) Kelompok model pengolahan informasi
Model-model mengajar di dalam kelompok ini bertolak dari prinsip-prinsip pengolahan informasi oleh manusia: bagaimana manusia menangani rangsangan dari lingkungan, mengolah data, mendeteksi masalah, menyusun konsep, memecahkan masalah dan menggunakan simbol-simbol.
3) Kelompok model personal humanistik
Model-model yang termasuk kelompokm ini meletakkan nilai tertinggi pada perkembangan pribadi di dalam memandang dan membangun realitas, yang melihat manusia terutama sebagai pembuat makan. Dengan kata lain, kelompok ini mengutamakan proses pengorganisasian internal yang dilakukan individu tersebut dengan lingkungannya maupun dengan dirinya sendiri.
4) Kelompok model modifikasi tingkah laku
Model-model kelompok ini mementingkan penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan manipulasi penguatan tingkah laku secara efektif sehingga terbentuk pola tingkah laku yang dikehendaki.
4. Pelaksanaan strategi pembelajaran
Dalam pelaksanaan strategi pembelajaran terdapat beberapa tahap yang dapat dirinci sebagai berikut.
a. Perencanaan, meliputi:
1) Menetapkan apa yang mau dilakukan, kapan dan dan bagaimana cara melakukannya.
2) Membatasi sasaran dan menetapkan pelaksanaan kerja untuk mencapai hasil yang di maksimalkan melalui proses penentuan target.
3) Mengembangkan anternatif-anternatif.
4) Mengumpulkan dan menganalisis informasi.
5) Mempersiapkan dan mengkomunasikan rencana-rencana dari keputusan-keputusan.
b. Pengorganisasian
1) Menyediakan fasilitas, perlengkapan, dan tenaga kerja yang diperlukan untuk penyusunan kerangka yang efisien dalam melaksanakan rencana-rencana melalui suatu proses penetapan kerja yang diperlukan untuk menyelesaikannya.
2) Pengelompokan komponen kerja ke dalam struktur organisasi secara teratur.
3) Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi.
4) Merumuskan dan menetapkan metode dan prosedur.
5) Memilih, mengadakan pelatihan dari pendidikan tenaga kerja serta mencari sumber-sumber lain yang diperlukan.
c. Pengarahan
1) Menyusun kerangka waktu dan biaya secara terperinci.
2) Memprakarsai dan menampilkan kpemimpinan dalam melaksanakan rencana dan pengambilan keputusan.
3) Mengeluarkan intruksi-intruksi yang spesifik.
4) Membimbing, memotivasi, dan melakukan super visi.
d. Pengawasan
1) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan dibandingkan dengan rencana.
2) Melaporkan penyimpangan untuk tindakan koreksi, menyusun standar-standar dan saran-saran.
3) Menilai pekerjaan dan melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan-penyimpangan.
5. Strategi pembelajaran PAI
Berdasarkan beberapa definisi strategi pembelajaran di atas dapat dikorelasikan dengan pendidikan agama Islam sebagaimana yang dinyatakan Tafsir yaitu kegiatan atau usaha-usaha dalam mendidikkan agama Islam.
Rokhim (2013) mengemukakan dalam web sitenya bahwa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh seorang guru maka ada beberapa strategi pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) yang harus diterapkan, yaitu :
a. Mengidentifikasikan dan menetapkan spesifikasi serta kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik pengajar.
b. Terlebih dahulu memilih sistem pendekatan belajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup anak didik pengajar
c. Menetatapkan prosedur, metode dan teknik pembelajaran yang dianggap paling tepat sehingga dapat dijadikan pegangan dalam kegiatan mengajar guru.
d. Memberikan batasan norma-norma dan batas minimal standar keberhasilan kemudian dijadikan pedoman dalam melakukan evaluasi dari hasil belajar siswa.
Adapun dalam mencapai tujuan pembelajaran diperlukan untuk menyusun strategi yang optimal, diantaranya:
a. Dengan strategi pembelajaran secara langsung.
b. Dengan strategi pembelajaran melalui diskusi.
c. Dengan strategi pembelajaran dengan membentuk kelompok kecil.
d. Dengan strategi pembelajaran cooperative learning.
e. Dengan strategi pembelajaran melalui problem solving.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Strategi merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan yang telah di rencanakan dimana untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan yang telah di harapkan atau sasaran yang telah ditentukan. Dalam dunia pendidikan strategi berarti sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai suatu tujuan pendidikan, yakni kesuksesan dalam proses pembelajaran.
Pegembangan kurikulum meliputi empat langkah, yaitu merumuskan tujuan pembelajaran (instructional objective), menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar (selection of learning experiences), mengorganisasi pengalaman-pegalaman belajar (organization of learning experiences), dan mengevaluasi (evaluating).
strategi pembelajaran merupakan pola umum atau cara-cara yang akan dipilih seorang pengajar untuk memudahkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang pada akhirnya dapat mencapai tujuan pembelajaran. Adapun dalam mencapai tujuan pembelajaran diperlukan untuk menyusun strategi yang optimal, diantaranya dengan strategi pembelajaran secara langsung, diskusi, membentuk kelompok kecil, cooperative learning, dan dengan melalui problem solving.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Tri Prasetya, Joko. 2005. SBM (Strategi Belajar Mengajar). Bandung: Pustaka Setia.
Ali, Muhammad. 2009. Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offest.
B. Uno, Hamzah. 2012. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hamalik, Oemar. 2008. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya Offest.
Hasibun, JJ dan Moedjino. 2008. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya Offest.
Kastowo. 2013. Strategi Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran diunduh melalui web site http://jatilawang-tulisan.blogspot.com/2012/04/strategi-pengembangan-kurikulum-dan.html. Jumat, 27 september 2013. Pukul 04.37 WIB.
Mawardi. 2013. Strategi pelaksananaan dan pengembangan kurikulum diunduh melalui web site http://mesutmawardiozil.blogspot.com/2013/05/makalah-strategi-pelaksanaan-kurikulum.html. Jumat, 27 september 2013. Pukul 04.53 WIB.
Rokhim. 2013. Pengertian Model, Pendekatan, Strategi dan Metode Pembelajaran diunduh melalui web site http://www.rokhim.net/2013/04/pengembangan-model-pendekatan-dan.html. rabo, 25 september 2013. pukul 19.48.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2010. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya Offest.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar