Kamis, 04 Juni 2020

FILSAFAT PENDIDIKAN REALISME

BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Filsafat pendidikan adalah aplikasi dari filsafat umum dalam pendidikan. Berbeda dengan Filsafat Umum yang objeknya adalah kenyataan keseluruhan segala sesuatu. Filsafat Khusus /terapan mempunyai objek kenyataan salah satu aspek kehidupan manusia yang dalam hal ini adalah pendidikan. Filsafat pendidikan menyelidiki hakikat pelaksanaan pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang cara dan hasilnya serta hakikat ilmu pendidikan yang bersangkut paut terhadap struktur kegunaannya.
Seperti halnya filsafat yang lain, filsafat pendidikan pun bersifat spekulatif, preskriptif dan analitik. Spekulatif artinya filsafat pendidikan membangun teori-teori tentang hakikat pendidikan manusia, hakikat masyarakat dan hakikat dunia. Preskriptif artinya filsafat pendidikan menentukan tujuan pendidikan yang harus diikuti dan dicapai. Analitik artinya filsafat pendidikan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang spekulatif dan perspektif.
Filsafat ilmu pendidikan dapat dibataskan sebagai salah satu bentuk teori pendidikan yang dihasilkan melaui riset baik kualitatif maupun kuantitatif. Filsafat pendidikan ini perlu dipedomani para perencana pendidikan tentang tujuan, isi, kurikulum yang merumuskan tujuan-tujuan pengubahan perilaku yang bersifat personal, sosial dan ekonomi.
Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum maka filsafat pendidikan pun terdiri beberapa aliran seperti filsafat pendidikan idealisme, realisme, esensialisme dan pragmatisme.


2.      Rumusan Masalah
Dalam Makalah ini memaparkan beberapa rumusan masalah yang ada diantaranya :
a. Bagaimana hakikat pendidikan menurut aliran filsafat realisme dan idealisme? 

3. Tujuan
Adapun Tujuan Penulisan Makalah ini adalah sebagai berikut :
a.       Untuk mengetahui hakikat Pendidikan menurut Aliran Filsafat Realisme, dan Idealisme
b.      Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah “ Filsafat Pendidikan”.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Aliran Filsafat Idealisme
Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), ia murid Sokrates (Ali 1996:23). Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan idea.
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea.
Plato yang memiliki filsafat beraliran idealisme yang realistis mengemukakan bahwa jalan untuk membentuk masyarakat menjadi stabil adalah menentukan kedudukan yang pasti bagi setiap orang dan setiap kelas menurut kapasitas masin-masing dalam masyarakat sebagai keseluruhan. Mereka yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang cukup dapat menduduki posisi yang tinggi, selanjutnya berurutan ke bawah. Misalnya, dari atas ke bawah, dimulai dari raja, filosof, perwira, prajurit sampai kepada pekerja dan budak. Yang menduduki urutan paling atas adalah mereka yang telah bertahun-tahun mengalami pendidikan dan latihan serta telah memperlihatkan sifat superioritasnya dalam melawan berbagai godaan, serta dapat menunjukkan cara hidup menurut kebenaran tertinggi.
Mengenai kebenaran tertinggi, dengan doktrin yang terkenal dengan istilah ide, Plato mengemukakan bahwa dunia ini tetap dan jenisnya satu, sedangkan ide tertinggi adalah kebaikan. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari.
Kadangkala dunia idea adalah pekerjaan norahi yang berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita yang arealnya merupakan lapangan metafisis di luar alam yang nyata. Menurut Berguseon, rohani merupakan sasaran untuk mewujudkan suatu visi yang lebih jauh jangkauannya, yaitu intuisi dengan melihat kenyataan bukan sebagai materi yang beku maupun dunia luar yang tak dapat dikenal, melainkan dunia daya hidup yang kreatif (Peursen, 1978:36). Aliran idealisme kenyataannya sangat identik dengan alam dan lingkungan sehingga melahirkan dua macam realita. Pertama, yang tampak yaitu apa yang dialami oleh kita selaku makhluk hidup dalam lingkungan ini seperti ada yang datang dan pergi, ada yang hidup dan ada yang demikian seterusnya. Kedua, adalah realitas sejati, yang merupakan sifat yang kekal dan sempurna (idea), gagasan dan pikiran yang utuh di dalamnya terdapat nilai-nilai yang murni dan asli, kemudian kemutlakan dan kesejatian kedudukannya lebih tinggi dari yang tampak, karena idea merupakan wujud yang hakiki.
Prinsipnya, aliran idealisme mendasari semua yang ada. Yang nyata di alam ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang tampak dan tergambar. Sedangkan ruangannya tidak mempunyai batas dan tumpuan yang paling akhir dari idea adalah arche yang merupakan tempat kembali kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan Tuhan, arche, sifatnya kekal dan sedikit pun tidak mengalami perubahan.
Inti yang terpenting dari ajaran ini adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan materi bagi kehidupan manusia. Roh itu pada dasarnya dianggap suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma. Aliran idealisme berusaha menerangkan secara alami pikiran yang keadaannya secara metafisis yang baru berupa gerakan-gerakan rohaniah dan dimensi gerakan tersebut untuk menemukan hakikat yang mutlak dan murni pada kehidupan manusia. Demikian juga hasil adaptasi individu dengan individu lainnya. Oleh karena itu, adanya hubungan rohani yang akhirnya membentuk kebudayaan dan peradaban baru (Bakry, 1992:56). Maka apabila kita menganalisa pelbagai macam pendapat tentang isi aliran idealisme, yang pada dasarnya membicarakan tentang alam pikiran rohani yang berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita, di mana manusia berpikir bahwa sumber pengetahuan terletak pada kenyataan rohani sehingga kepuasaan hanya bisa dicapai dan dirasakan dengan memiliki nilai-nilai kerohanian yang dalam idealisme disebut dengan idea.
Memang para filosof ideal memulai sistematika berpikir mereka dengan pandangan yang fundamental bahwa realitas yang tertinggi adalah alam pikiran (Ali, 1991:63). Sehingga, rohani dan sukma merupakan tumpuan bagi pelaksanaan dari paham ini. Karena itu alam nyata tidak mutlak bagi aliran idealisme. Namun pada porsinya, para filosof idealisme mengetengahkan berbagai macam pandangan tentang hakikat alam yang sebenarnya adalah idea. Idea ini digali dari bentuk-bentuk di luar benda yang nyata sehingga yang kelihatan apa di balik nyata dan usaha-usaha yang dilakukan pada dasarnya adalah untuk mengenal alam raya. Walaupun katakanlah idealisme dipandang lebih luas dari aliran yang lain karena pada prinsipnya aliran ini dapat menjangkau hal-ihwal yang sangat pelik yang kadang-kadang tidak mungkin dapat atau diubah oleh materi, Sebagaimana Phidom mengetengahkan, dua prinsip pengenalan dengan memungkinkan alat-alat inderawi yang difungsikan di sini adalah jiwa atau sukma. Dengan demikian, dunia pun terbagi dua yaitu dunia nyata dengan dunia tidak nyata, dunia kelihatan (boraton genos) dan dunia yang tidak kelihatan (cosmos neotos). Bagian ini menjadi sasaran studi bagi aliran filsafat idealisme (Van der Viej, 2988:19).
Plato dalam mencari jalan melalui teori aplikasi di mana pengenalan terhadap idea bisa diterapkan pada alam nyata seperti yang ada di hadapan manusia. Sedangkan pengenalan alam nyata belum tentu bisa mengetahui apa di balik alam nyata. Memang kenyataannya sukar membatasi unsur-unsur yang ada dalam ajaran idealisme khususnya dengan Plato. Ini disebabkan aliran Platonisme ini bersifat lebih banyak membahas tentang hakikat sesuatu daripada menampilkannya dan mencari dalil dan keterangan hakikat itu sendiri. Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa pikiran Plato itu bersifat dinamis dan tetap berlanjut tanpa akhir. Tetapi betapa pun adanya buah pikiran Plato itu maka ahli sejarah filsafat tetap memberikan tempat terhormat bagi sebagian pendapat dan buah pikirannya yang pokok dan utama.
Antara lain Betran Russel berkata: Adapun buah pikiran penting yang dibicarakan oleh filsafat Plato adalah: kota utama yang merupakan idea yang belum pernah dikenal dan dikemukakan orang sebelumnya. Yang kedua, pendapatnya tentang idea yang merupakan buah pikiran utama yang mencoba memecahkan persoalan-persoalan menyeluruh persoalan itu yang sampai sekarang belum terpecahkan. Yang ketiga, pembahasan dan dalil yang dikemukakannya tentang keabadian. Yang keempat, buah pikiran tentang alam/cosmos, yang kelima, pandangannya tentang ilmu pengetahuan (Ali, 1990:28).

B.    Arti Realisme
Pada dasarnya realisme merupakan filsafat yang memandang  realitas secara dualitas. Realisme berbeda dengan materialisme dan idealisme yang bersifat monitis. Realisme berpendapat bahwa hakikat realitas adalah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yang subjek yang menyadari dan mengetahui disatu pihak dan dipihak lainnya adalah adanya realita diluar manusia yang dapat dijadikan sebagai objek pengetahuan manusia. (Uyoh Sadulloh : 2007 : 103)
Gagasan filsafat realisme terlacak  dimulai sebelum periode abad masehi dimulai, yaitu dalam pemikiran murid Plato bernama Aristoteles (384-322 SM). Sebagai murid Plato, sedikit banyak Aristoteles tentu saja memiliki pemikiran yang sangat dipengaruhi Plato dalam berfilsafat. Dalam keterpengaruhannya, Aristoteles memiliki sesuatu perbedaan pemikiran yang membuatnya menjadi berbeda dengan Plato.
Ibarat Plato memulai filsafatnya dari sebelah selatan, Aristoteles justru memulai dari sebelah utara. Filsafat Aristoteles tampak seperti antitesis filsafat Plato yang justru memiliki corak idealisme. Oleh karena itu, jika Plato meyakini bahwa apa yang sungguh-sungguh ada adalah yang ada dalam alam idea,  Aristoteles justru memandang bahwa apa yang di luar alam ide, termasuk benda-benda yang terlihat indra bukanlah idea  yang lahir dari replikasi yang ada dalam pikiran atau mental.
Bagi Aristoteles, benda-benda itu sungguh pun tidak ada yang memikirkannya ia tetaplah ada. Keberadaanya tersebut tidak ditentukan oleh akal. Disini fokus perhatian Aristoteles terhadap kemungkinan sampai pada konsepsi-konsepsi tentang bentuk universal melalui kajian-kajian atas objek-objek material. Kelak, ini akan menjadi dasar-dasar pertama bagi lahirnya fisika modern serta sains. (Teguh Wangsa Gandhi : 2010 : 140)

C.     Realisme Dalam Pendidikan ( Purnawan : 2009 : 24)

a)      Pendidikan Sebagai Institusi Sosial
John Amos Comenius di dalam bukunya Great Didactic, mengatakan bahwa manusia tidak diciptakan hanya kelahiran biologinya saja. Jika ia menjadi seorang manusia, budaya manusia harus memberi arah dan wujud kepada kemampuan dasarnya.
Dalam bukunya Membangun Filsafat Pendidikan, Harry Broudy secara eksplisit ia menekankan bahwa masyarakat mempunyai hak dengan mengabaikan keterlibatan pemerintah, yang akan membawa pendidikan formal di bawah wilayah hukumnya karena ini merupakan suatu lembaga atau institusi sosial.
Implikasinya : pendidikan adalah kebutuhan dasar dan hak yang mendasar bagi manusia dan kewajiban penting bagi semua masyarakat untuk memastikan bahwa semua anak-anak dilahirkan dengan pendidikan yang baik.
b)      Siswa
Guru adalah pengelola KBM di dalam kelas (classroom is teacher-centered), guru penentu materi pelajaran, guru harus menggunakan minat siswa yang berhubungan dengan mata pelajaran, dan membuat mata pelajaran sebagai sesuatu yang kongkret untuk dialami siswa. Siswa berperan untuk menguasai pengetahuan yang diandalkan, siswa harus taat pada aturan dan disiplin, sebab aturan yang baik sangat diperlukan untuk belajar. Siswa memperoleh disiplin melalui ganjaran dan prestasi.
c)      Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan realisme adalah untuk “ penyesuaian diri dalam hidup dan mampu melaksanakan tanggung jawab sosial.
Pendidikan bertujuan agar siswa dapat bertahan hidup di dunia yang bersifat alamiah, memperoleh keamanan dan hidup bahagia, dengan jalan memberikan pengetahuan esensial kepada siswa. Pengetahuan tersebut akan memberikan keterampilan-keterampilan yang penting untuk memperoleh keamanan dan hidup bahagia.
d)     Proses Pendidikan
1)      Kurikulum
Kurikulum pendidikan sebaiknya meliputi : 
(1) Sains dan Matematika,
(2) Ilmu-ilmu kemanusiaan dan sosial,
(3) Nilai-nilai.
Kurikulum yang baik diorganisasi menurut mata pelajaran dan berpusat pada materi pelajaran (subject matter centered) yang diorganisasi menurut prinsip-prinsip psikologi belajar. Kurikulum direncanakan dan diorganisasi oleh guru/orang dewasa (society centered)
Isi kurikulum harus berisi pengetahuan dan nilai-nilai esensial agar siswa dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan alam, masyarakat, dan kebudayaannya.
2)      Metode Pendidikan
Pembiasaan merupakan metode utama bagi filsuf penganut behaviorisme Metode mengajar yang disarankan bersifat otoriter. Guru mewajibkan siswa untuk dapat menghafal, menjelaskan, dan membandingkan fakta-fakta, menginterprestasi hubungan-hubungan, dan mengambil kesimpulan makna-makna baru.
3)      Evaluasi
Guru harus menggunakan metode-metode objektif dengan mengevaluasi dan memberikan jenis tes yang memungkinkan untuk dpt mengukur secara tepat pemahaman siswa tentang materi-materi esensial. Untuk tujuan motivasi guru memberikan ganjaran terhadap siswa yang mencapai sukses.

D. Aliran Filsafat Idealisme Dalam Pendidikan
            Idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain dari pada kejadian dalam jiwa Manusia, sedangkan kenyataan yang diketahui Manusia itu terletak diluarnya. Konsep filsafat menurut aliran idealism adalah :
1.      Metalistika idealisme : secara absolut kenyataan yang sebenarnya adalah spiritual dan rohaniah. Sedangkan secara kritis yaitu adanya kenyataan yang bersifat fisik dan rohaniah, tetapi kenyataan rohaniah yang lebih dapat berperan.
2.      Humanologi-idealisme; jiwa dikaruniaikemampuan berfikir yang dapat menyebabkan adanya kemampuan memilih.
3.      Epistemologi-idealisma; pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali melalui berfikir. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang; sebagian besar manusia hanya sampai pada tingkat berpendapat.
4.      Aksiologi-idealisme; kehidupan manusia diatur oleh kewajiban-kewajiban moral yang diturunkan dari pendapat tentang kenyataan atau metafisika.

Dalam hubungannya dengan pendidikan, Idealisme memberi sumbangan yang besar terhadap Perkembangan Filsafat Pendiddikan. Kaum idelis percaya bahwa anak merupakan bagian dari alam spiritual, yang memiliki pembawaan spiritual sesuai potensialitasnya. Oleh karena itu, Pendidikan harus mengajarkan hubungan antara anak dengan bagian alam spiritual. Pendidikan harus menekankan kesesuaian batin antara anak dan alam semesta. Pendidikan merupakan pertumbuhan kearah tujuan pribadi manusia yang ideal. Pendidik yang idealisme mewujudkan sedapat mungkin watak yang terbaik. Prndidik harus memandang anak sebagai tujuan, bukan sebagai alat.
Menurut Power (1982), Implikasi Filsafat Pendidikan Idealisme adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan: untuk membentuk karakter, mengembangakan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan social.
2.      Kurikulum: pendidikan Liberal untuk pengembanagn kemampuan dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan.
3.      Metode: di utamakan metode dialektif tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan.
4.      Peserta didik bebas untuk mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuan dasarnya.
5.      Pendidik bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan melalui kerja sama dengan alam.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa Realisme berpendapat bahwa hakikat realitas adalah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yang subjek yang menyadari dan mengetahui disatu pihak dan dipihak lainnya adalah adanya realita diluar manusia yang dapat dijadikan sebagai objek pengetahuan manusia. Bahan pendidikan yang esensial bagi aliran realism klasik adalah  pengalaman manusia. Yang esensial adalah apa yang merupakan penyatuan dan pengulangan dari pengalaman manusia. Sedangkan Menurut realisme ilmiah, pengetahuan yang shahih adalah pengetahuan yang diperolah melalui pengalaman empiris, dengan jalan observasi, atau penginderaan.
Kneller membagi realisme menjadi dua bentuk, yaitu : 1) Realisme Rasional, 2) Realisme Naturalis. Namun, masih ada lagi pandangan-pandangan lain, yang termasuk realisme. Aliran tersebut disebut “Neo-Realisme” dari Frederick Breed, dan “Realisme Kritis” dari Immanuel Kant.
Implikasinya Realisme dalam pendidikan adalah kebutuhan dasar dan hak yang mendasar bagi manusia dan kewajiban penting bagi semua masyarakat untuk memastikan bahwa semua anak-anak dilahirkan dengan pendidikan yang baik.






DAFTAR PUSTAKA
Gandhi, Teguh Wangsa. 2010. Filsafat Pendidikan : Madzhab-madzhab Filsafat Pendidikan. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.
Sadullah, Uyoh. 2007. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Purnawan. 2009. Filsafat Realisme. Bandung : Universitas Pendidikan Bandung
Kneller, George F. 1971. Introduction to The Philosophy of Education. New York : John Willey Son Inc.
Power, Edward J. 1982. Philosophy of Education. New Jersey : Printice-Hall Inc. Englewood Cliffs.
Henderson, Stella van Pettern. 1959. Introduction to The Philosophy of Education. Chicago : The University of Chicago


Rabu, 03 Juni 2020

STRUKTUR ORGANISASI KURIKULUM PAI

BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Secara etimologis istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Menurut J. Harlan Shores memandang kurikulum sebagai a sequence of potensial experiences set up in the school for pupose of disciplining children and youth in group ways of thinking and acting, yang berarti kurikulum bukan hanya mata pelajaran, tetapi juga pengalaman-pengalaman potensial yang dapat diberikan kepada peserta didi.[1]

Dalam kurikulum terdapat bahasan mengenai struktur dan organisasi kurikulum, yang merupakan perpaduan antara dua kurikulum atau lebih sedemikian hingga menjadi suatu kesatuan yang utuh, dan dalam aplikasi pada kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat menggairahkan proses pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna karena senantiasa mengaitkan dengan kegiatan praktis sehari-hari sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Dengan demikian, kehadiran kurikulum sangat menunjang bagi kelancaran pendidikan.Sebab kurikulum menyajikan bahan-bahan yang akan diajarkan kepada peserta didik.

2.      Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diambil rumusan masalahnya sebagai berikut.

a.       Apa yang dimaksud dengan struktur dan organisasi kurikulum PAI?

b.      Bagaimana tipe-tipe organisasi kurikulum PAI?

c.       Apa saja faktor-faktor pertimbangan dalam organisasi kurikulum PAI?



3.      Tujuan

Adapun tujuannya, yaitu:

a.       Untuk mengetahui pengertian struktur dan organisasi kurikulum PAI,

b.      Untuk mengetahui tipe-tipe organisasi kurikulum PAI, dan

c.       Untuk mengetahui faktor-faktor pertimbangan dalam organisasi kurikulum PAI.
























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Struktur dan Organisasi Kurikulum PAI

Sebelum pada pembahasan inti, terlebih dahulu untuk mengetahui pengertian dari struktur, organisasi dan struktur organisasi.

Struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun.[2] Organisasi adalah suatu kelompok sosial yang bersifat tertutup atau terbuka dari atau terhadap pihak luar, yang diatur berdasarkan aturan tertentu, yang dipimpin atau diperintah oleh seorang pimpinan atau seorang staf administrative, yang dapat melaksanakan bimbingan secara teratur dan bertujuan.[3] Jadi, struktur organisasi adalah susunan dan hubungan-hubungan antar komponen, bagian-bagian dan posisi-posisi dalam suatu organisasi.[4]

Struktur Kurikulum PAI merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran PAI kedalam muatan kurikulum setiap mata pelajaran agama Islam pada setiap tahun pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum.[5]

Struktur  kurikulum  terdiri  atas  sejumlah  mata  pelajaran,  beban  belajar,  dan  kalender pendidikan. Mata pelajaran terdiri atas:[6]

1.      Mata  pelajaran  wajib  diikuti  oleh  seluruh  peserta  didik  di  satu  satuan  pendidikan pada setiap satuan atau jenjang pendidikan.

2.      Mata   pelajaran  pilihan  yang  diikuti  oleh  peserta  didik  sesuai  dengan  pilihan mereka.

Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester.

Organisasi Kurikulum PAI merupakan pola atau bentuk bahan pelajaran agama Islam yang disusun untuk disampaikan kepada peserta didik. Secara akademik, organisasi kurikulum PAI dikembangkan dalam bentuk-bentuk organisasi, sebagai berikut:

1.      Kurikulum mata ajaran, yang terdiri dari sejumlah mata ajaran secara terpisah.

2.      Kurikulum bidang studi, yang memfungsikan beberapa mata ajaran sejenis.

3.      Kurikulum integrasi, yang menyatukan dan memusatkan kurikulum pada topik atau masalah tertentu.

4.      Core curriculum, yakni kurikulum yang disusun berdasarkan masalah dan kebutuhan siswa.

Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam organisasi kurikulum, yaitu:[7]

1.      Konsep, yaitu definisi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala. Hampir setiap organisasi kurikulum dibangun berdasarkan konsep seperti peserta didik, masyarakat, kebudayaan, kuantitas dan kualitas, ruangan dan evolusi.

2.      Generalisasi, yaitu kesimpulan-kesimpulan yang merupakan kristalisasi dari suatu analisis. Misalnya, setiap orang baik sebagai subjek maupun sebagai objek berperilaku secara manusiawi.

3.      Keterampilan, yaitu kemampuan dalam merencanakan organisasi kurikulum dan digunakan sebagai dasar untuk menyusun program yang berkesinambungan. Misalnya, organisasi pengalaman belajar berhubungan dengan keterampilan komprehensif, keterampilan dasar untuk mengerjakan matematika.

4.      Nilai-nilai, yaitu norma atau kepercayaan yang diagungkan, sesuatu yang bersifat absolut untuk mengendalikan perilaku. Misalnya, menghargai diri sendiri, menghargai orang lain dengan segala keberbedaannya dan sebagainya.

Berdasarkan pengertian yang disebutkan, dapat dikatakan bahwa struktur organisasi kurikulum PAI adalah susunan dari pola atau bentuk mata pelajaran PAI yang disusun untuk disampaikan dan harus ditempuh oleh peserta didik.

B.     Tipe-Tipe Organisasi Kurikulum PAI

Menurut Nasution, S., dalam Nurdin, S., dan Usman, B. M. (2003:44), dilihat dari organisasi kurikulum, ada tiga tipe kurikulum yaitu:[8]

1.      Separated Subject Curriculum

Secara umum, Separated Subject Curriculum merupakan tipe kurikulum dimana bahan dikelompokan pada mata pelajaran yang sempit, dimana antara mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya menjadi terpisah-pisah, terlepas dan tidak mempunyai kaitan sama sekali, sehingga banyak mata pelajaran yang sempit ruang lingkupnya. Contoh: mata pelajaran IPS, IPA, Sejarah, Agama, Bahasa, dan sebagainya.

Dalam Pendidikan Agama Islam misalnya mata pelajaran Bahasa Arab, terbagi atas Imla’, Nahwu dan sebagainya.

Apakah sebenarnya subject atau mata pelajaran itu? Subject ialah hasil pengalaman umat manusia sepanjang masa, atau kebudayaan dan pengetahuan yang dikumpulkan oleh umat manusia sejak dahulu kala. Bahan ini lalu disusun secara logis dan sistematis, disederhanakan dan disajikan kepada peserta didik di sekolah sebagai mata pelajaran setelah disesuaikan dengan usia dan pematangan peserta didik.[9]

2.      Correlated Curriculum

Umumnya, Correlated Curriculum merupakan  suatu bentuk kurikulum yang menunjukan adanya suatu hubungan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, tetapi tetap memperhatikan ciri (karakteristik) tiap bidang studi tersebut. Hubungan antar mata pelajaran dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu:

a.       Insidental artinya secara kebetulan ada hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran lainnya. Contoh, bidang studi IPA didalamnya disinggung juga tentang Geografi, Antropologi, dan lain-lain.

b.      Hubungan yang lebih erat, misalnya suatu pokok permasalahan yang diperbincangkan dalam berbagai bidang studi.

c.       Batas mata pelajaran disatukan dan difungsikan, yaitu dengan meghilangkan batasan masing-masing mata pelajaran tersebut disebut dengan Broad Field.

Demikian juga halnya dengan Pendidikan Agama Islam, misalnya mata pelajaran Sejarah Peradaban Islam didalamnya juga terdapat tentang akhlaq para nabi, sahabat dan sebagainya.





3.      Integrated Curriculum

Secara umum, Integrated Curriculum merupakan perpaduan, penyatuan, atau penggabungan dari dua objek atau lebih mata pelajaran supaya menjadi suatu kebulatan atau menjadi utuh.Dalam Intgrated Curriculumpelajaran dipusatkan pada suatu masalah atau topik tertentu.

Integrated meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan. Yang penting bukan hanya kurikulum, akan tetapi tujuannya pula yakni membentuk anak-anak menjadi pribadi yang integrated, manusia yang sesuai hidupnya dengan sekitarnya dan harmoni dengan lingkungannya.



C.    Faktor-Faktor Pertimbangan dalam Organisasi Kurikulum PAI

Secara umum ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam organisasi kurikulum yaitu, ruang lingkup, urutan, kesinambungan, terpadu, keseimbangan dan waktu.[10] Dengan demikian, adapun faktor yang harus dipertimbangkan dalam organisasi kurikulum PAI, yakni

1.      Ruang Lingkup (Scope)

Ruang lingkup kurikulum menunjukkan keseluruhan, keluasan atau kedalaman dan batas-batas bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. Dalam Pendidikan Agama Islam, ruang lingkup yang dimaksud mencakup Al-Qur`an, Al-Hadits, Fiqih, Aqidah Akhlaq, Sejarah Peradaban Islam dan mata pelajaran yang terkait lainnya.

2.      Urutan (Sequence)

Urutan bahan pelajaran menunjukkan keteraturan bahan yang akan disampaikan kepada peserta didik, kapan bahan terebut baiknya disampaikan terlebih dahulu dan mana bahan yang akan dipelajari kemudian.

3.      Kesinambungan (Continuity)

Hendaknya apa yang diajarkan dalam Pendidikan Agama Islam, memiliki kesinambungan untuk setiap jenjang pendidikannya. Agar memiliki korelasi antar tiap mata pelajaran dari masing-masing jenjang pendidikan.

4.      Terpadu (Integrated)

Ketika guru menggunakan subject-centered curriculum, maka besar kemungkinan pengetahuan yang diperoleh peserta didik menjadi terpecah-pecah dan tidak fungsional. Hal ini menuntut bahwa dengan demikian keterpaduan antar tiap bahan pengajaran itu harus ada, sehingga menjadi suatu kesatuan yang terpadu dan tidak terpisah-pisah.

5.      Keseimbangan (balance)

Maksudnya adalah keseimbangan isi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik dan keseimbangan proses pembelajaran.

6.      Waktu (Times)

Alokasi waktu harus dipertimbangkan dalam organisasi kurikulum, dalam arti apakah suatu mata pelajaran, misalnya akan diberikan selama 2 jam pelajaran per hari, satu minggu, satu bulan, satu semester, satu tahun atau tiap tahun.





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Struktur Organisasi Kurikulum PAI adalah susunan dari pola atau bentuk mata pelajaran PAI yang disusun untuk disampaikan dan harus ditempuh oleh peserta didik.

Adapun tipe-tipe organisasi kurikulum PAI, mengacu pada tipe-tipe organisasi kurikulum pada umumnya yaitu, Separated Subject Curriculum, Corelated Curriculum dan Integrated Curriculum.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam organisasi kurikulum PAI, juga tidak terlepas dengan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam organisasi kurikulum pada umunya, yaitu:

1.      Ruang lingkup (Scope)

2.      Urutan (Sequece)

3.      Kesinambungan (Continuity)

4.      Terpadu (Integrated)

5.      Keseimbangan (Balance)

6.      Waktu (Times)




DAFTAR PUSTAKA


Arifin, Zaenal. 2012. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Cetakan ke-2, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hamalik, Oemar.2007. Managemen Pengembangan Kurikulum. Cetakan ke-2. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Huda, Niamul. 2012. Pengertian Struktur Kurikulum. Diunduh pada 21 Oktober 2013 pkl. 23.00  WIB dari website http://pengertianpengertian.blogspot.com/2012/04/pengertian-struktur-kurikulum.html

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2013.Struktur. Diunduh pada                                                 22 Oktober 2013 pkl 07.00 WIB dari websitehttp://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=struktur&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas=all&submit=tabel

Nasution. 1994. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudrajat, Akhmad. 2013. Dokumen Kurikulum 2013. Diunduh pada 21 Oktober 2013 pkl. 23.35 WIB dari website akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2013/03/draft-kurikulum-2013.doc

Trianto. 2011. Model Pembelajaran Terpadu (Konsep, Strategi dan Implementasinya dalam KTSP). Cetakan ke-3, Jakarta: Bumi Aksara.

Wiliyanto, Dimas. 2012. Pengertian Struktur dan Bentuknya. Diunduh pada 22 Oktober 2013 pkl. 07.15 WIB dari website  http://dimaswiliyanto.blogspot.com/2012/07/pengertian-struktur-dan-bentuknya.html





[1] Drs. Zaenal Arifin, M.Pd., 2012, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Cetakan ke-2, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, hlm. 2
[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2013, Struktur, http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=struktur&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas=all&submit=tabel
[3] Prof. Dr. Oemar Hamalik, 2007, Managemen Pengembangan Kurikulum, Cetakan ke-2, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, hlm. 136
[4] Dimas Wiliyanto, 2012, Pengertian Struktur dan Bentuknya, http://dimaswiliyanto.blogspot.com/2012/07/pengertian-struktur-dan-bentuknya.html
[5] Niamul Huda, 2012, Pengertian Struktur Kurikulum, http://pengertianpengertian.blogspot.com/2012/04/pengertian-struktur-kurikulum.html
[6] Akhmad Sudrajat, 2013, Dokumen Kurikulum 2013, akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2013/03/draft-kurikulum-2013.doc
[7]Drs. Zaenal Arifin, M.Pd., Op. Cit., hlm. 96
[8] Trianto, M.Pd., 2011, Model Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi dan Implementasinya dalam KTSP, Cetakan ke-3, Jakarta: Bumi Aksara, hlm. 33
[9] Prof. Dr. S. Nasution, M.A., 1994, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, hlm. 179

  • [10]Drs. Zaenal Arifin, M.Pd., Op. Cit., hlm. 104-108

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...