BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semua Manusia yang normal dapat menguasai bahasa, sebab sejak lahir Manusia telah memiliki kemampuan dan kesiapan untuk mempelajari bahasa dengan sendirinya. Hal ini terlihat bahwa Manusia tidak memerlukan banyak usaha untuk mampu berbicara. Bahasa adalah alat komunikasi untuk berbicara bersama seseorang. Bahkan banyak penelitian mengenai penguasaan bahasa menyakini bahwa anak-anak dari berbagai konteks sosial yang luas mampu menguasai bahasa ibu mereka tanpa terlebih yang jelas (Rice, 1993 dalam Santrock, 1995).
Kemampuan dalam berbahasa, Manusia yang begitu banyak dimiliki sesama Manusia telah mengalami begitu banyak kemampuan dan perkembangan setelah kelahirannya. Bahkan menguasai bahasa sudah dimiliki ketika sejak lahir dan berkembang sedikit demi sedikit menguasi kemampuan yang begitu cepat, dan begitu besar.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian bahasa ?
2. Bagaimana perkembangan bahasa selama masa bayi ?
3. Apa saja tugas-tugas perkembangan bahasa ?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa ?
5. Apa saja tipe perkembangan bahasa anak ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Pengertian bahasa
2. Untuk mengetahui perkembangan bahasa selama masa bayi
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Bahasa
Bahasa adalah suatu bentuk komunikasi-entah itu lisan, tertulis atau isyarat-yang berdasarkan pada suatu sistem dari simbol-simbol. Bahasa terdiri dari kata-kata yang digunakan oleh masyarakat beserta aturan-aturan untuk menyusun berbagai variasi dan mengkombinaskannya.
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini, tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimik muka.
Bahasa merupakan faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan. Bahasa merupakan anugerah dari Allah Swt, yang dengannya manusia dapat mengenal atau memahami dirinya, sesama manusia, alam, dan penciptanya serta mampu memposisikan dirinya sebagai makhluk berbudaya dan mengembangkan budayanya.
Semua bahasa Manusia memiliki beberapa karakteristik umum. Hal ini termasuk generativitas tak terbatas dan aturan-aturan organisasi. Generativitas tak terbatas adalah kemampuan menghasilkan sejumlah kalimat bermakna tanpa batas dengan menggunakan aturan-aturan dan kata-kata yang terbatas. Ketika kita berkata “aturan” yang kita maksudkan adalah bahwa bahasa sifatnya tertata dan bahwa aturan-aturan mendekripisikan cara-cara bahasa tersebut mampu memiliki makna (Berko Gleason, 2004).
B. Perkembangan Bahasa Selama Masa Bayi
Pengertian bayi mengetahui dan mengerti lebih banyak kata-kata dari pada apa yang mereka ucapkan. Jadi pengertian berkembang lebih dini dan lebih cepat dibanding yang dihasilkan. Bayi sering menanggapi pertanyaan dan perintah seperti “Di mana botolmu?” atau “sayangilah anjingmu” dengan gerak isyarat dan perbuatan sebelum mereka mengemukakan dengan kata-kata (Huttenlocher, 1974; Sach & Truswell, 1978).
Tingkat pengertian seorang anak mempunyai sedikit hubungan dengan kematangan ucapan yang dihasilkan. Seorang anak yang hanya sedikit berbicara mungkin mengerti lebih banyak dibandingkan seorang anak yang banyak berbicara dan menggunakan kalimat-kalimat yang lebih kompleks (Benedict, 1979; Kagan, 1982).
Celoteh dan Vokalisasi yang lain Bayi-bayi secara efektif mengeluarkan suara sejak ia di lahirkan. Tujuan komunikasi awal ini adalah menarik perhatian pengasuh-pengasuhnya dan orang-orang lain dalam lingkungannya (Lock, 2004, Volterra dkk, 2004). Suara bayi dan gerak-isyaratnya mengikuti rangkaian berikut selama tahun-tahun pertama:
a. Menangis. Bayi menangis waktu ia lahir. Menangis dapat mengindikasikan keadaan yang tidak nyaman, tetapi seperti yang akan kita diskusikan dalam Bab 11, ada banyak tipe menangis yang berbeda- beda, yang menandai hal-hal yang berbeda-beda pula.
b. Cooing. Bayi pertama kali mendekut (cooing) kira-kira pada usia 1-2 bulan. Suara “oo” ini seperti “coo” atau “goo”. Mereka umumnya mendekut selama berinteraksi dengan pengasuh.
c. Celoteh. Ini terjadi pertama kali di pertengahan tahun pertama dan termasuk menggambung-gabungkan kombinasi konsonan-vokal, seperti “ba, ba, ba, ba.”
d. Gerakan. Bayi mulai menggunakan gerakan seperti menunjuk (untuk menunjukkan sesuatu atau untuk pamer), kira-kira pada usia 8 hingga 12 bulan. Mereka mungkin melambaikan tangan “da..da..”, mengangguk untuk mengatakan “ya”, menunjuk ke gelas kosong bila ingin minum susu, dan menunjuk ke seekor anjing untuk menarik perhatian kearah anjing itu.
Perkembangan mental lainnya pada bayi ialah kemampuan menggunakan kata-kata permulaan; ada pengembangan bahasa. Ia mulai bersuara untuk mengingatkan kehadirannya pada orang dewasa dan ibunya. Mula-mula bayi meracau dengan menggunakan suara dan lafal tertentu sebagai alat berkomunikasi dengan orang dewasa. Ia berceloteh dan “berkicau riang”, jika hatinya merasa senang gembira. Celetohan ini akan bernada tinggi dan mengeras bunyinya. Jika dia merasa tidak sabaran dan tidak senang. Lalu berganti menjadi geram dan tangis. Oleh karena itu pada usia muda, tangis bayi merupakan alat komunikasi dan alat pengekpresi kehidupan batiniahnya.
Bahkan banyak peneliti mengenai penguasaan bahasa menyakini bahwa anak-anak dari berbagai konteks sosial yang luas mampu menguasai bahasa Ibu mereka tanpa terlebih dahulu diajarkan secara khusus dan tanpa penguatan yang jelas (Rice, 1993 dalam Santrock, 1995).
Kemampuan dan kesiapan belajar bahasa pada manusia ini segera mengalami perkembangan setelah kelahirannya. Bahkan menurut Havighurst (1984), kemampuan menguasai bahasa, dalam arti belajar membuat suara-suara yang berarti dan berhubungan dengan orang lain melalui penggunaan suara-suara itu, merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa bayi. Hal ini adalah karena urat-urat saraf dan otot-otot alat bicara sudah berkembang baik sejak lahir. Oleh karena itu, jauh sebelum bayi bisa berbicara, dia telah mampu meniru secara selektif nada pembicaraan tertentu. Bahkan bayi yang baru lahir dapat mensinkronkan gerakan tubuhnya dengan nada pembicaraan orang Dewasa (Hetherington & Parke, 1979). Sejak akhir bulan pertama, bayi dapat membedakan suara manusia dengan suara-suara lainnya, dan pada usia 2 bulan mereka merespons secara berbeda terhadap suara yang berasal dari ibunya dan dari wanita lain yang belum dikenalnya. Penelitian juga menunjukkan bahwa bayi, seperti halnya orang dewasa, sudah dapat membedakan antara huruf mati atau huruf konsonan, seperti “Pah” dan “Bah”. Kemampuan ini muncul dalam diri bayi kira-kira usia 1 bulan (Eimas, 1975).
Jadi, sesungguhnya bayi sudah menunjukkan kemampuan khusus berbahasa, termasuk menyeleksi perhatian, membedakan suara, meniru aspek-aspek pembicaraan, mengsinkronkan gerakan dengan nada suara dan lebih khusus lagi kemampuan memahami fonem. Bayi yang berusia 1 bulan, dapat dengan mudah membedakan antara bunyi yang sama dengan fonem yang berbeda, dan anak-anak dengan cepat dapat mempelajari fonem mana yang relevan dengan bahasanya. Namun, dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi anak untuk mempelajari bagaimana fonem dapat digabung untuk membentuk kata (Atkinson, et all, 1991).
Bayi yang baru lahir dapat membedakan suara percakapan dari suara-suara lain dalam lingkungan dan menanggapinya secara berbeda. Pada usia 3 bulan bayi dapat membedakan antara suara ibunya dan suara wanita lain. Penemuan ini menunjukkan bahwa seperti halnya seekor burung yang secara biologis siap membedakan nyanyian burung dari jenisnya sendiri dengan suara dari jenis lain (mungkin disebabkan setruktur susunan saraf pusat), bayi manusia dipersiapkan secara biologis untuk membedakan percakapan dari suara lain dan mungkin juga untuk membedakan suara orang lain.
Di samping memiliki kemampuan berbahasa yang dapat berkembang dengan cepat, bayi sejak lahir juga dengan aktif memproduksi bunyi-sekalipun bukan bahasa. Seseorang yang bangun tengah malam karena tangisan bayi usia 3 minggu, menunjukkan bahwa bayi itu tidak diam atau pasif. Produksi bunyi pada tahun pertama kehidupan mengikuti suatu urutan rapi. Kaplan & Kaplan (1971) mengidentifikasi empat tahap produksi bunyi pada bayi, yaitu: (1) tangisan, yang dimulai dari kelahiran; (2) suara-suara lain dan mendengkur, yang dimulai pada akhir bulan pertama; (3) ocehan, yang dimulai pada pertengahan tahun pertama; dan (4) suara yang telah dipolakan pada usia menjelang 1 tahun.
Selama bulan-bulan pertama kehidupannya, bayi juga banyak mengelurkan suara-suara sederhana, seperti: merengek, menjerit, menguap, bersin, mengeluh, batuk, bunyi mengarau, menggeram, dan sebagainya. Kemudian, pada usia kira-kira 1 hingga 6 bulan, bayi mulai memperlihatkan suatu minat terhadap suara, bermain dengan air liur, dan merespons suara. Pada usia 6 bulan, bayi mulai mengoceh, mengeluarkan suara, seperti “goo-goo” dan “ga-ga”. Ocehan-ocehan ini berbeda-beda sesuai dengan situasi, seperti ocehan didalam tempat tidur kecil, ocehan ketika melihat mobil, atau ocehan ketika duduk di pangkuan ibunya (Hetheringston & Parke, 1979).
Pada pertengahan kedua tahun pertama perdendaharaan kata yang diterima bayi mulai berkembang dan meningkat secara dramatis pada tahun kedua, dari 12 kata yang dipahami pada ulang tahun pertama hingga diperkirakan 300 kata atau lebih pada ulang tahun kedua. Pada usia kira-kira 9 hingga 12 bulan, bayi mulai memahami pelajaran, seperti “daah” ketika kita mengucapkan selamat tinggal.
Pada saat anak-anak berusia 18 hingga 24 bulan, mereka biasanya mengucapkan pertanyaan yang terdiri dari dua kata. Selama tahap kedua kata ini, mereka dengan cepat memahami pentingnya mengekpresikan konsep dan peran yang akan dimainkan oleh bahasa dalam berkomunikasi dengan orang lain. Secara singkat perkembangan bahasa selama masa bayi ini, dapat di gambarkan dalam tabel 4.5 berikut.
TABEL 4.5
Perkembangan Bahasa selama Masa bayi
Usia
|
Pencapaian Vokal
|
4 minggu
12 minggu
20 minggu
6 bulan
12 bulan
18 bulan
24 bulan
|
Tangisan ketidaksenangan.
Mendengkur pulas, memekik mendeguk; kadang-kadang bunyi vokal.
Menyatakan ocehan pertama; bunyi vokal lebih banyak, tapi kadang-kadang hanya huruf mati.
Memperlihatkan ocehan yang lebih baik; bunyi vokal mulai penuh dan banyak huruf mati.
Ocehan meliputi nyanyian atau intonasi bahasa; mengungkapkan isarat emosi; memproduksi kata-kata pertama; anak memahami beberapa kata dan perintah sederhana.
Mengucapkan kosa kata antara 3 sd/hingga 50 kata; ocehan diselingi dengan kata-kata yang riil; kadang-kadang kalimat yang terdiri dari 2 dan 3 kata.
Mengucapkan kosa kata antara 50 s/d hingga 300 kata, walaupun tidak semua digunakan dengan teliti; ocehan menghilang; banyak kalimat yang terdiri dari 2 kata atau lebih panjang; tata bahasa belum benar; anak memahami secara sangat sederhana bahasa yang dibutuhkannya.
|
Memang logika dan bahasa anak itu belum berkembang dengan sempurna. Dengan kata lain : dunia anak-anak itu mempunyai logikanya sendiri, sesuai dengan perkembangan akal budinya. Sehingga dengan begitu tepatlah kalimat yang menyatakan: ”Anak itu adalah seorang pemikir yang tekun dengan caranya sendiri.”
C. Tugas-Tugas Perkembangan Bahasa
Dalam berbahasa anak dituntut untuk menuntaskan atau menguasai empat tugas pokok yang satu sama lainnya saling berkaitan. Apabila anak berhasil menuntaskan tugas yang satu, maka berarti juga ia dapat menuntaskan tugas-tugas yang lainnya. Keempat tugas itu adalah sebagai berikut.
1. Pemahaman, yaitu kemampuan memahami makna ucapan orang lain. Bayi memahami bahasa orang lain, bukan memahami kata-kata yang diucapkannya, tetapi dengan memahami kegiatan/gerakan atau gesture-nya (bahasa tubunya).
2. Pengembangan perbendaharaan kata. Perbendaharaan kata-kata anak berkembang dimulai secara lambat pada usia dua tahun pertama, kemudian mengalami tempo yang cepat pada usia pra-sekolah dan terus meningkat setelah anak masuk sekolah.
3. Penyusunan kata-kata menjadi kalimat, kemampuan menyusun kata-kata menjadi kalimat pada umumnya berkembang sebelum usia dua tahun. Bentuk kalimat pertama adalah kalimat tunggal (kalimat satu kata) dengan disertai: “gesture” untuk melengkapi cara berpikirnya. Contohnya, anak menyebut “Bola” sambil menunjukan bola itu dengan jarinya. Kalimat tunggal itu berarti “tolong ambilkan bola untuk saya”. Seiring dengan meningkatnya usia anak dan keluasan pergaulannya, tipe kalimat yang diucapkannya pun semakin panjang dan kompleks. Menurut Davis, Garrison & Mc Carthy (E. Hurlock, 1956 ) anak yang cerdas, anak wanita dan anak yang berasal dari keluarga berada, bentuk kalimat yang diucapkannya itu lebih panjang dan kompleks dibandingkan dengan anak yang kurang cerdas, anak pria dan anak yang berasal dari keluarga miskin.
4. Ucapan. Kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan hasil belajar melalui imitasi (peniruan) terhadap suara-suara yang didengar anak dari orang lain (terutama orang tuanya). Pada usia bayi, antara 11-18 bulan, pada umumnya mereka belum dapat berbicara atau mengucapkan kata-kata secara jelas, sehingga sering tidak dimengerti maksudnya. Kejelasan ucapan itu baru tercapai pada usia sekitar tiga tahun. Hasil studi tentang suara dan kombinasi suara menunjukkan bahwa anak mengalami kemudahan dan kesulitan dalam huruf-huruf tertentu. Huruf yang mudah diucapkan yaitu huruf hidup (vokal): i,a, e, dan u dan huruf mati (konsonan):t, p, b, m, dan n, sedangkan yang sulit diucapakan adalah huruf mati tunggal: z, w, s, dan g, dan huruf mati rangkap (diftong): st, str, sk, dan dr.
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor kesehatan, intelegensi, status sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga.
1. Faktor kesehatan. Kesehatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, terutama pada usia awal kehidupannya. Apabila pada usia dua tahun pertama, anak mengalami sakit terus -menerus, maka anak tersebut cenderung akan mengalami kelambatan atau kesulitan dalam perkembangan bahasanya. Oleh karena itu, untuk memelihara perkembangan bahasa anak secara normal, orangtua perlu memperhatikan kondisi kesehatan anak. Upaya yang dapat ditempuh adalah dengan cara memberikan ASI, makan yang bergizi, memelihara kebersihan tubuh anak atau secara leguler memeriksakan anak ke dokter atau ke puskesmas.
2. Inteligensi. Perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat inteligensinya. Anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai inteligensi normal atau diatas normal. Namun begitu tidak semua anak yag mengalami kelambatan perkembangan bahasanya pada usia awal, dikatagorikan sebagai anak yang bodoh (Lindgren, dalam E. Hurlock, 1956). Selanjutnya Hurlock mengemukakan hasil studi mengenai anak yang mengalami kelambatan mental, yaitu sepertiga di antara mereka yang dapat berbicara secara normal dan anak yang berada pada tingkat intelektual yang paling rendah, mereka sangat miskin dalam berbahasanya.
3. Status Sosial Ekonomi Keluarga. Beberapa studi tentang hubungan antara perkembangan bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh perbedaan kecerdasan atau kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan perkembangan bahasa anaknya), atau kedua-duanya (Hetzer & Reindorf dalam E. Hurlock, 1956).
4. Jenis kelamin (sex). Pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria dengan wanita. Namun mulai usia dua tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari anak pria.
5. Hubungan keluarga. Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orangtua yang mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak. Hubungan yang sehat antara orangtua dengan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya) memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau kelambatan dalam perkembangan bahasanya. Hubungan yang tidak sehat itu bisa berupa sikap orangtua yang keras/kasar, kurang kasih sayang, atau kurang perhatian untuk memberikan latihan dan contoh dalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami stagnasi atau kelainan, seperti: gagap dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk mengungkapkan pendapat, dan berkata yang kasar dan tidak sopan.
E. Tipe Perkembangan Bahasa
Ada dua tipe perkembangan bahasa anak, yaitu sebagai berikut.
1. Egocentric Speech, yaitu anak berbicara kepada dirinya sendiri (monolog).
2. Socialized Speech, yang terjadi ketika berlangsung kontak antara anak dengan temannya atau dengan lingkungannya. Perkembangan ini dibagi ke dalam lima bentuk: (a) adapted in formation, di sini terjadi saling tukar gagasan atau adanya tujuan bersama yang dicari, (b) critism, yang menyangkut penilaian anak terhadap ucapan atau tingkah laku seseorang, (c) command (perintah), request (permintaan), dan threat (ancaman), (d) questions (pertanyaan), dan answers (jawaban).
Berbicara monolog (egocentric speech) berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak yang pada umumnya dilakukan oleh anak berusia 2-3 tahun; sementara yang “sociaized speech” mengembangkan kemampuan penyesuaian sosial (social adjustment).
DAFTAR PUSTAKA
Kagan Jerome, dkk. 1988. Perkembangan dan Kepribadian Anak. Jakarta:
Erlangga.
Karnoto kartini. 1995. Psikologi anak (Psikologi Perkembagan). Bandung:
Mandar Maju.
Mar’at Samsunuwiyati. 2012. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Santrock John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
