Kamis, 04 Juni 2020

KESULITAN BELAJAR


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
            Secara sederhana masalah belajar dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menghambat tercapainya tujuan belajar. Dari bebagai pendapat dan hasil penelitian jika kita mendapat kejelasan bahwa masalah-masalah belajar, baik intern ekstern dapat bersumber atau dalam dinamikanya dapat dikaji dari dimensi guru maupun dari dimensi siswa. Demikian pula dilihat dari tahapannya, masalah belajar dapat terjadi pada waktu sebelum belajar, selama proses belajar dan sesudah belajar.
            Hal ini disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (gangguan neorubioligis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan seperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung. Anak-anak disekolah pada umumnya memiliki karakteristik individu yang berbeda, baik dari segi fisik, mental, intelektual, ataupun social-emosional.
Oleh karena itu mereka juga akan mengalami persoalan belajarnya masing-masing secara individu, dan akan mengalami berbagai jenis kesulitan belajar yang berbeda pula, sesuai dengan karakteristik dan potensinya masing-masing. Pada kesempatan ini penyusun makalah akan memaparkan materi tentang “Kesulitan Belajar”.




B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Pengertian kesulitan belajar?
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar?
3.      Cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar?
4.      Usaha mengatasi kesulitan belajar?

C.    Tujuan
Dari rumusan masalah diatas tujuannya, yakni:
1.      Untuk memahami pengertian kesulitan belajar,
2.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar,
3.      Untuk mengetahui cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar, dan
4.      Untuk mengetahui usaha mengatasi kesulitan belajar.









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar yang didefenisikan oleh The United States Office of Education (USOE) yang menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.
Di samping defenisi tersebut, ada definisi lain yang yang dikemukakan oleh The National Joint Commite for Learning Dissabilites (NJCLD) bahwa kesulitan belajar menunjuk kepada suatu kelompok kesulitan yang didefenisikan dalam bentuk kesulitan nyata dalam kematian dan penggunan kemampuan pendengaran, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar atau kemampuan dalam bidang studi biologi
Adapun pengertian yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah “kesulitan yang dialami oleh siswa-siswi dalam kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkahlaku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai manivestasi tingkahlaku, baik secara langsung maupun tidak langsung.[1]

Artinya: “Karena sesungguhnya setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Alam Nasyroh: 5-6).[2]
Artinya: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul agar kalian dapat rahmat.” (Q.S. Al-Imran: 132).[3]

B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesulitan belajar siswa terbagi menjadi dua faktor yaitu sebagai berikut :
1.      Faktor internal
Faktor internal yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari dalam diri sendiri, meliputi :
a.      Faktor jasmaniah
1.      Faktor kesehatan, berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu. Selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan pusing alat indranya serta tubuhnya.
Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar , istirahat, tidur, makan, olahraga, rekreasi dan ibadah.
2.      Cacat tubuh adalah Sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan. Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar siswa yang cacat belajarnya juga terganggu. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya.
b.      Faktor psikologis,
Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong kedalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar, antara lain :
1)      Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan kedalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar . dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat intelegensinya yang rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum pasti berhasil belajarnya. Hal ini disebabkan karena faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegnsi adalah segala faktor diantara faktor yang lain.
2)      Perhatian, untuk dapat menjamin perhatian hasil belajar yang baik maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjai perhatian siswa, maka timbulah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.
3)      Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Minat berpengaruh besar terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajarai tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.
4)      Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Bakat itu mempengaruhi belajar, jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya itu.
5)      Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorong.
Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar denan baikatau padanya mempunyai motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan, dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan atau menunjang belajar. Motif yang kuat sangatlah perlu di dalam belajar, didalam membentuk motif yang kuat itu dapat dilaksanakan dengan adanya latihan-latihan dan pengaruh lingkungan yang memperkuat, jadi latihan itu sangat perlu dalam belajar.
6)      Kematangan adalah suatu tingkat dalam pertumbuhan seseorang dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Misalnya tangan dan jari-jarinya sudah siap untuk menulis, dengan otaknya sudah siap untuk berpikir abstrak.
7)      Kesiapan adalah kesedian untuk memberi respon atau bereaksi. Kesedian itu timbul dar dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya ada kesiapan, maka kesiapan hasil belajarnya akan lebih baik.
8)      Motivasi adalah kekuatan tersembunyi didalam diri kita, yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas.
a)      Motivasi intrinsik mengacu pada faktor-faktor dari dalam, tersirat baik dalam tugas itu sendiri maupun pada diri siswa. Kebanyakan teori pendidikan modern mengambil motivasi intrinsik sebagai pendorong bagi aktivitas dalam pengajaran dan dalam pemecahan soal.
b)      Motivasi ekstrinsik mengacu kepada faktor-faktor dari luar, dan ditetapkan pada tugas atau pada siswa oleh guru atau orang lain. Motivasi ekstrinsik biasa berupa penghargaan,pujian, hukuman, atau celaan. [4]
c. Faktor kelelahan
Kelehan dalam seseorang walaupun sulit untuk dikisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani yaitu terkait lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmaniterjadi karena kekacauan substansi sisa pembakaran didalam tubuh, sehingga darah tidak atau kurang lancar pada bagian-bagian tertentu. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi seolah-olah otak kehabisan daya untuk bekerja.[5]
2.      Faktor eksternal,
Faktor eksternal yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri sendiri, meliputi :
a.      Faktor keluarga
Faktor keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Tetapi dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan belajar. Faktor ini antara lain sebagai berikut :
1)      Faktor orang tua
a)      Cara mendidik anak, orang tua yang tidak atau kurang memperhatikan pendidikan anak-anaknya mungkin acuh tak acuh atau tidak memperhatikan kemajuan belajar anak-anaknya.
b)      Hubungan orang tua dan anak, yang dimaksud dengan hubungan adalah kasih sayang, penuh pengertian, atau kebencian, sikap keras, acuh tak acuh, memanjakan,dan lain-lain. Kasih sayang dari orang  tua, perhatian atau penghargaan pada anak-anak, menimbulkan mental yang sehat bagi anak.
c)      Contoh atau bimbingan dari orang tua, merupakan contoh terdekat dari anak-anaknya. Segala yang diperbuat orang tua tanpa disadari akan ditiru oleh anak-anaknya, karenanya sikap orang tua yang bermalas-malasan tidak baik. Demikian juga belajar memerlukan bimbingan dari orang tua agar sikap dewasa dan tanggug jawab belajar tumbuh pada diri anak.
Al-Qur’an surat Al-Kahfi  ayat 66 ada kaitannya tentang kesulitan dalam belajar, yakni:
Artinya: “Musa berkata kepada Khidhr “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.” (QS. Al-Kahfi: 66)”.[6]

Dari ayat diatas dapat diambil beberapa pokok pemikiran sebagai berikut dan kaitan ayat ini dengan aspek pendidikan bahwa seorang pendidik hendaknya:
(1)   Menuntun anak didiknya. Dalam hal ini menerangkan bahwa peran seorang guru adalah sebagai fasilitator, tutor, tentor, pendamping dan yang lainnya. Peran tersebut dilakukan agar anak didiknya sesuai dengan yang diharapkan oleh bangsa neraga dan agamanya.
(2)   Memberi tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu. Hal ini perlu, karena zaman akan selalu berubah seiring berjalananya waktu. Dan kalau kita tidak mengikutinya, maka akan menjadikan anak yang tertinggal.
(3)   Mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui bahwa potensi anak didiknya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang akan dipelajarinya.[7]
2)      Suasana rumah atau keluarga
Suasana keluarga yang sangat ramai atau gaduh, tidak mungkin anak dapat belajar dengan baik. Anak akan selalu terganggu konsentrasinya, sehingga sukar untuk belajar. Demikian juga suasana rumah yang selalu tegang, selalu banyak cekcok diantara anggota keluarga, selalu ditimpa kesedihan, antara ayah dan ibu selalu cekcok atau selalu membisu akan mewarnai suasana keluarga yang melahirkan anak-anak yang tidak sehat mental.
3)      Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi digolongkan dalam:
a)      Ekonomi yang kurang atau miskin, keadaan ini akan menimbulkan kurangnya alat belajar, kurangnya biaya yang di sediakan orang tua, tidak mempunyai tempat belajar yang baik.
b)      Ekonomi yang berlebihan atau kaya, keadaan ini sebaliknya dari keadaan yang pertama, dimana ekonomi keluarga berlimpah ruah. Mereka akan menjadi segan belajar karena ia terlalu banyak bersenang-senang. Mungkin juga ia dimanjakan oleh orang tuanya. Keadaan seperti ini akan dapat menghambat kemajuan belajar.
b.      Faktor sekolah
Yang dimaksud faktor sekolah antara lain:
1)      Guru
Guru apat menjadi sebab kesulitan belajar apabila:
a)      Guru tidak kualified, baik dalam pengambilan metode yang digunakan atau dalam mata pelajaran yang dipegangnya kurang sesuai. Sehingga kurang menguasai, lebih-lebih kalau kurang persiapan, sehingga cara menerangkan kurang jelas, sukar dimengerti oleh murid-muridnya.
b)      Hubungan guru dengan murid kurang baik, hal ini bermula pada sifat dan sikap guru yang tidsk disenangi oleh murid-muridnya, seperti: kasar atau suka marah-marah, mengejek, tidak suka membantu anak, membentak, tidak pandai dalam menerangkan, sinis, sombong, menjengkelkan, tinggi hati, pelit dalam memberi nilai, tidak adil, dan lain-lain.
c)      Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis kesulitan belajar.
d)     Metode mengajar guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar antara lain: metode mengajar yang mendasarkan dari pada latihan mekanis tidak didasarkan pada pengertian, guru dalam mengajar tidak menggunakan alat peraga yang memungkinkan semua alat inderanya berfungsi, metode mengajar yang menyebabkan murid pasif sehingga anak tidak ada aktivitas.


Artinya: “(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang telab mengajarkan al Qur’an, Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara /AI-Bayan”. (Q.S. Ar-Rahman: 1-4). [8]
Kaitannya ayat ar-Rahman ini dengan Subjek Pendidikan adalah sebagai berikut:
(1)     Kata Ar-Rahman menunjukkan bahwa sifat-sifat pendidik adalah murah hati, penyayang dan lemah lembut, santun dan berakhlak mulia kepada anak didiknya dan siapa saja yang menunjukan profesionalisasi pada Kompetensi Personal.
(2)     Seorang guru hendaknya memiliki kompetensi paedagogis yang baik sebagaimana Allah mengajarkan al-Quran kepada Nabi-Nya.
(3)     Al-Quran menunjukkan sebagai materi yang diberikan kepada anak didik adalah kebenaran/ilmu dari Allah (Kompetensi Profesional).
(4)     Keberhasilan pendidik adalah ketika anak didik mampu menerima dan mengembangkan ilmu yang diberikan, sehingga anak didik menjadi generasi yang memiliki kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual, sebagaimana penjelasan AI-Bayan.[9]
2) Faktor alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat praktikum, kurangnya alat laboratorium akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar.
3)      Kondisi gedung
Ruangan harus memenuhi syarat kesehatan seperti:
a)      Ruangan harus berjendela, ventilasi cukup, udara segar dapat masuk ruangan, sinar dapat menerangi ruangan.
b)      Dinding harus bersih, putih, tidak terlihat kotor.
c)      Lantai tidak becek, licin atau kotor.
d)     Keadaan gedung yang jauh dari tempat keramaian, sehigga anak mudah konsentrasi dalam belajar.
4)      Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik, misalnya:
a)      Bahan-bahannya terlalu tinggi
b)      Pembagian bahan tidak seimbang
c)      Adanya pendataan materi.
5)      Waktu sekolah dan disiplin kurang
Apabila sekolah masuk sore, siang, malam, maka kondisi anak tidak lagi dalam keadaan optimal untuk menerima pelajaran.
c.       Faktor media masa dan lingkungan social
1)      Faktor media masa
Faktor media masa meliputi: bioskop, tv, surat kabar, majalah, buku-buku komik yang ada di sekeliling kita. Hal-hal itu akan menghambat belajar apabila anak terlalu banyak waktu yang dipergunakan untuk itu, hingga lupa akan tugas belajarnya.
2)      Lingkungan sosial
a)      Teman bergaul, karena teman bergaul pengaruhnya sangat besar dan lebih cepat masuk dalam jiwa anak. Apabila anak suka bergaul dengan mereka yang tidak sekolah, maka ia akan malas belajar, sebab cara hidup anak yang bersekolah berlainan dengan anak yang tidak bersekolah.
b)      Lingkungan tetangga, corak kehidupan tetangga misalnya suka main judi, minum arak, menganggur, pedagang, tidak suka belajar, akan mempengaruhi anak-anak bersekolah.
c)      Aktivitas dalam masyarakat, terlalu banyak berorganisasi, kursus ini dan itu akan menyebabkan belajar anak menjadi terbengkalai.[10]

C.    Cara Mengenal Anak Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar
Beberapa gejala sebagai indicator adanya kesulitan belajar anak didik dapat dilihat dari petunjuk-petunjuk sebagai berikut :
1.      Menunjukan prestasi belajar yang rendah, dibawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok anak didik dikelas.
2.      Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, padahal anak didik sudah berusaha belajar dengan keras tetapi nilainya selalu rendah.
3.      Anak didik lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar.
4.      Anak didik menunukan sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, berpura-pura, berdusta, mudah tersinggung, dan sebagainya.
5.      Anak didik menunjukan tingkah laku yang tidak seperti bisanya ditunjukan pada orang lain, seperti pemurung, pemarah, selalu bingung, selalu sedih, kurang gembira, atau mengasingkan diri dari kawan-kawan sepermainannya.
6.      Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi,tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi yang rendah.
7.      Anak didik yang selalu menunjukan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi dilain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.[11]

D.    Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Untuk mengatasi kesulitan belajar, terlebih dahulu harus mencari faktor-faktor yang di duga sebagai penyebabnya, untuk itu harus dilakukan cara sebagai berikut:
a.      Observasi
Observasi adalah suatu cara memperoleh data dengan langsung mengamati terhadap objek. Sambil melakukan observasi, dilakukan pencatatan terhadap gejala-gejala yang tampak pada diri subjek, kemudian di seleksi untuk dipilih yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
b.      Wawancara
Wawancara atau interview adalah suatu cara mendapatkan data dengan wawancara langsung terhadap orang yang diselidiki atau terhadap orang lain yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki. Interview sebagai pendukung yang akurat dari kegiatan observasi karena keakuratan data lebih terjamin bila kegiatan observasi dilanjutkan dengan kegiatan interview
c.       Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu cara untuk mengetahui sesuatu dengan melihat catatan, arsip-arsip, dokumen-dokumen yang berhubungan dengan orang yang diselidiki. Teknik dokumentasi adalah suatu cara yang sering dipakai dalam upaya mencari faktor-faktor penyebab yang menyebabkan anak didik mengalami kesulitan belajar melalui dokumen anak didik itu sendiri.
Diantara dokumen anak didik yang perlu dicari adalah berhubungan dengan riwayat hidup anak didik, prestasi anak didik, kumpulan ulangan, catatan kesehatan anak didik, buku rapor anak didik, buku catatan untuk semua mata pelajaran, dan sebagainya.     
d.      Tes diagnostik
Tes diagnostik dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan belajar yang dialami anak didik berdasarkan hasil tes formatif sebelumnya. Tes diagnostik sebelumnya memerlukan sejumlah soal untuk satu mata pelajaran yang diperkirakan merupakan kesulitan anak didik. Soal-soal tersebut bervariasi dan difokuskan pada kesulitan. Tes ini biasanya dilaksanakan sebelum suatu pelajaran berjalan.[12]
e.       Prognosis
Prognosis merujuk pada aktivitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar siswa. Prognosis ini dapat berupa: bentuk treatment yang harus diberikan, bahan atau materi yang diperlukan, metode yang akan digunakan, alat bantu belajar mengajar yang diperlukan, dan waktu kegiatan dilaksanakan.
f.       Terapi atau pemberian bantuan
Terapi atau memberian bantuan adalah pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk terapi yang dapat diberikan antara lain melalui: bimbingan belajar kelompok, bimbingan belajar individual, pengajaran remedial, pemberian bimbingan pribadi dan alih tangan kasus.
g.      Tindak lanjut
Tindak lanjut adalah usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjutnya yang didasari hasil evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan dalam upaya pemberian bimbingan.[13]
Istilah evaluasi dalam wacana keislaman tidak ditemukan padanan yang pasti, tetapi terdapat istilah-istilah tertentu yang mengarah kepada makna evaluasi. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:[14]
1)      Al-Imtihan, memiliki arti ujian.
2)      Al-Hisab, memiliki makna mengira, menafsirkan, menghitung, dan, menganggap. (Al-Baqarah: 284)
3)      Al-Bala, memiliki makna cobaan, ujian. (Q.S. Al-Mulk: 2)
4)      Al-Hukm, memiliki makna putusan atau vonis. (Q.S. An-Naml: 78)
5)      Al-Qadhi, memiliki arti putusan.(Q.S. Thaha: 72)
6)      Al-Nazhr, memiliki makna melihat. (Q.S. An-Naml: 27).




Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:”Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”. (Q.S. Al-Baqarah: 31).

Ayat diatas ada kaitannya dengan proses pendidikan terhadap manusia terjadi pertama kali ketika Allah SWT selesai menciptakan Adam As, lalu Allah SWT mengumpulkan tiga golongan mahluk yang diciptakan-Nya untuk diadakan Proses Belajar Mengajar (PBM).
 Tiga golongan mahluk ciptaan Allah dimaksud yaitu Jin, Malaikat, dan Manusia (Adam Alaihissalam) sebagai “Mahasiswa” nya, sedangkan Allah SWT bertindak sebagai “Maha Guru” nya. Setelah selesai PBM maka Allah SWT mengadakan evaluasi kepada seluruh mahasiswa (jin, malaikat, dan manusia) dengan cara bertanya dan menyuruh menjelaskan seluruh materi pelajaran yang diberikan, dan ternyata Adam lah (dari golongan manusia) yang berhasil menjadi juara dalam ujian tersebut.




BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
a.      Pengertian kesulitan belajar
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai manivestasi tingkahlaku, baik secara langsung maupun tidak langsung.
b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar
1)      Faktor internal
Faktor internal yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari dalam diri sendiri, meliputi:
a)      Faktor jasmaniah, antara lain faktor kesehatan, cacat tubuh.
b)      Faktor psikologis, antara lain intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan, motivasi intrinsik dan ekstrinsik.
c)      Kelelahan.
2)      Faktor eksternal
Faktor eksternal yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri sendiri, meliputi :
a)      Faktor keluarga
1)      Faktor orang tua, seperti: cara mendidik anak, hubungan orang tua dan anak, dan  contoh atau bimbingan dari orang tua.
2)      Suasana rumah atau keluarga
3)      Keadaan ekonomi keluarga, seperti ekonomi yang kurang atau miskin, dan ekonomi yang berlebihan atau kaya
b)     Faktor sekolah
1)      Faktor alat
2)      Kondisi gedung
3)      Kurikulum
4)      Waktu sekolah dan disiplin kurang
c)      Faktor media masa dan lingkungan social
1)      Faktor media masa
2)      Lingkungan sosial
3)      Lingkungan tetangga

c.       Cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar
Beberapa gejala sebagai indicator adanya kesulitan belajar anak didik dapat dilihat dari petunjuk-petunjuk sebagai berikut: Menunjukan prestasi belajar yang rendah, hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, anak didik lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar, anak didik menunukan sikap yang kurang wajar, anak didik menunjukan tingkah laku yang tidak seperti bisanya ditunjukan pada orang lain, dan Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi.
d.      Usaha mengatasi kesulitan belajar
Untuk mengatasi kesulitan belajar, terlebih dahulu harus mencari faktor-faktor yang di duga sebagai penyebabnya, untuk itu harus dilakukan cara sebagai berikut: observasi, wawancara, dokumentasi, tes diagnostik, prognosis, terapi atau pemberian bantuan, dan tindak lanjut. 

2.      Kritik dan Saran
Dengan kerendahan hati, penulis merasa makalah ini sangat sederhana dan jauh dari kesempurnaan. Kritik dan Saran yang konstruktif sangat diperlukan demi  kesempurnaan  makalah ini, sehingga akan  lebih bermanfaat konstribusinya bagi khazanah keilmuan.




DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi Abu dan Widodo Surriyono. 2004. Psikologi Belajar. Rineka Cipta: Jakarta.
Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Alfabeta: Bandung.
Davies K Ivor . 1986. Pengelolaan Belajar. Rajawali Pers: Jakarta.
Huda Samsul. 2012. Dalil Al-quran tentang pendidikan. Di unduh pada hari Senin 16 September 2013 pukul 14.05. melalui http://syamsul14.wordpress.com/2012/11/29/dalil-al-quan-tentang-pendidikan/ .
Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Kalam Mulia: Jakarta.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka cipta:Jakarta.
Soenarjo. 1971. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta.
Sudiyono Anas. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Yulianto Toto. 2013. Metode Pembelajaran. Di unduh pada hari Senin 16 September 2013 pukul 14.00. melalui http://totoyulianto.wordperss.com2013/03/09/pengertian-kesulitan-belajar.



[1]Toto Yulianto. 2013. Metode Pembelajaran. Di unduh pada hari Senin 16 September 2013 pukul 14.00. melalui http://totoyulianto.wordperss.com2013/03/09/pengertian -kesulitan-belajar.
[2]Soenarjo. 1971.  Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta.  Hal. 1073.
[3] Ibid. hal. 97.
[4] Ivor K Davies. 1986. Pengelolaan Belajar. Rajawali Pers: Jakarta. Hal. 214-216.
[5] Slameto.1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka cipta:Jakarta. Hal 54-60.

[6] Soenarjo. Hal. 454.
[7] Samsul Huda. 2012. Dalil Al-quran Tentang Pendidikan. Di unduh pada hari Senin 16 September 2013 pukul 14.05. melalui http://syamsul14.wordpress.com/2012/11/29/dalil-al-quan-tentang-pendidikan/ .

[8] Soenarjo. Hal. 885.
[9] Op Cit. Samsul Huda.
[10] Abu Ahmadi dan Widodo Surriyono. 2004. Psikologi Belajar. Rineka Cipta: Jakarta. Hal. 85-93.
[11] Op. Cit. Syaiful Bahri Djamarah. Hal. 246.
[12] Anas Sudiyono. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Raja Grafindo Persada: Jakarta. Hal. 76-90.
[13] Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Alfabeta: Bandung. Hal 198.
[14] Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Kalam Mulia: Jakarta. Hal. 332.  


TATA CARA SHALAT SUNNAH RAWATIB

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Shalat Sunnah Rawatib
Shalat sunnah rawatib yaitu shalat sunnah yang menyertai shalat fardhu lima waktu, shalat sunnah yang dilaksanakan sebelum shalat fardhu disebut Rawatib Qabliyah, sedangkan yang dilaksanakan sesudah shalat fardhu disebut Rawatib Ba’diyah.
B.     Ketentuan Shalat Sunnah Rawatib
Hukum shalat sunnah rawatib ada 2, yaitu;
1.      Ketentuan Salat Sunnah Muakadah
Salat sunah muakadah adalah salat sunah yan dikuatkan (selalu dikerjakan Rasulullah SAW. dan jarang ditinggalkan). Oleh karena itu, setiap muslim yang ingin melaksanakan salat sunah muakadah, sebaiknya mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan ketentuan salat tersebut. Memahami ketentuan salat sunah muakadah menjadi penting. Dengan cara memahami itulah salat sunah muakadah dapat dilaksanakan secara benara sesuai dengan ketentuan yang ada.
a.    Tata cara salat sunah muakadah
Cara melaksanakan salat sunah muakadah sama dengan melaksanakan salat wajib, yang membedakan hanyalah niat dan waktu pelaksanaannya. Gerakkan dan bacaannya sama. Meski demikian dalam melaksanakan salat sunah muakadah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
                                              1)     Tidak didahului azan dan iqamah
                                              2)     Dilaksanakan secara munfarid (sendirian), kecuali salat sunah Idain
                                              3)     Dimulai dengan niat sesuai jenis salatnya
                                              4)     Dilaksanakan dengan dua rakaat salam, seperti salat duha, sunah Rawatib, dan salat Idain.
                                              5)     Tempat melaksanakan salat sunah muakadah sebaiknya berbeda dengan salat wajib (dengan berpindah tempat atau bergeser dari tempat semula)
                                              6)     Bacaan sunah ada yang dibaca sirri (berbisik) seperti salat Duha dan sunah rawatib) dan ada yang dibaca jahr (seperti imam salat sunah Idain).
2.      Ketentuan Salat Sunah Ghairu Muakadah
Salat sunah ghairu muakadah adalah salat sunah yang tidak dikuatkan (kadang-kadang dikerjakan Rasulullah SAW. kadang-kadang tidak).
a.    Tata cara salat sunah Ghairu muakadah
Cara melaksanakan salat sunah ghairu muakadah adalah sama dengan melaksanakan salat wajib, yang membedakan hanyalah niat dan waktu pelaksanaannya. Gerakkan dan bacaannya sama. Walaupun demikian, dalam melaksanakan salat sunah ghairu muakadah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1)   Tidak didahulukan azan dan ikamah
2)   Dilaksanakan secara munfarid (sendirian)
3)   Bacaannya tidak dinyaringkan
4)   Dilaksanakan dua rakaat salam
5)   Tempat melaksanakan salat sunah muakadah sebaiknya berbeda dengan salat wajib (dengan berpindah tempat atau bergeser dari tempat semula)
6)   Memulai salat diawali dengan niat menurut macam salatnya.

C.    Macam-macam Shalat Sunnah Rawatib
Shalat sunnah yang dilaksanakan sebelum shalat fardhu disebut Rawatib Qabliyah, sedangkan yang dilaksanakan sesudah shalat fardhu disebut Rawatib Ba’diyah.
1.    Salat Sunah Muakadah
a.    Salat Sunah Rawatib
Adapun yang termasuk salat sunah rawatib muakadah sebagai berikut.
i.      Dua rakaat sebelum Subuh
ii.    Dua rakaat sebelum salat Zuhur
iii.  Dua rakaat sesudah salat Zuhur
iv.  Dua rakaat sesudah salat Maghrib
v.    Dua rakaat sebelum salat Isya’
b.    Salat Sunah Malam
Di antara salat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari adalah:
i.      Salat Tarawih
Salat Tarawih adalah salat sunah malam yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu, salat Tarawih disebut juga Qiyaamu Ramadhan. Waktu pelaksanaan salat Tarawih adalah setelah salat Isya’ sampai menjelang subuh. Adapun waktu yang paling baik untuk salat Tarawih adalah sepertiga malam yang terakhir. Hukum melaksanakan salat Tarawih adalah sunah muakadah (sunah yang dianjurkan), sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW. dalam hadis yang artinya sebagai berikut:
Sesungguhnya Rasulullah SAW. telah salat Tarawih di masjid, maka salat pula manusia bersama beliau. Kemudian, beliau salat untuk kedua kalinya maka bertambah banyak orang yang mengikutinya. Kemudian, pada malam ketiga atau keempat manusia berkumpul, tetapi beliau tidak keluar bersama mereka. Pada pagi harinya beliau bersabda, “Saya mengetahui apa yang kamu kerjakan malam tadi (yakni untuk salat Tarawih). Saya tidak berhalangan untuk datang kepada kamu semua, hanya saya takut salat Tarawih menjadi wajib atas kamu.” Dikatakan, kejadian tersebut pada bulan Ramadan. (H.R. al-Buhkari dari ‘Aisyah Ummul Mukminin: 1061 dan Muslim: 1270)
Ada beberapa keterangan mengenai jumlah rakaat salat Tarawih. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Khatttab banyak orang yang mengerjakan salat Tarawih sebanyak 20 rakaat, kemudian ditambah salat Witir tiga rakaat sehingga jumlahnya 23 rakaat (H.R. al-Baihaqi) dan tidak seorang pun yang hadir saat itu membantahnya.
Adapun menurut sunah Rasulullah SAW. salat Tarawih dikerjakan sebanyak sebelas rakaat berdasarkan hadis berikut.
“Dari ‘Aisyah, katanya, “Tidaklah Rasulullah SAW. menambah (jumlah rakaat) pada bulan Ramadan dan pada bulan yang lain, dari sebelas rakaat.” (H.R. al-Bukhari dari Abi Salamah Ibnu Abdurrahman: 1874 dan yang lain).

ii.  Salat Witir
Salat Witir adalah salat sunah yang dilaksanakan pada malam hari dengan jumlah rakaatnya gasal, paling sedikit satu rakaat dan paling banyak sebelas rakaat. Waktunya setelah salat Isya’ sampai terbit fajar.
Salat Witir sebagai penutup dari seluruh salat malam. Cara melaksanakan salat Witir boleh tiap-tiap dua rakaat salam dan dan yang terakhir boleh satu atau tiga rakaat salam. Apabila salat Witir dilaksanakan tiga rakaat, tidak usah membaca tasyahud awal. Hal itu dimaksudkan agar tidak serupa dengan salat Maghrib.
Disyariakannya salat Witir berdasarkan hadis Rasulullah SAW. berikut:
Dari Abu Said al-Hudri r.a. bahwa beliau telah bersabda Rasulullah SAW. “Salat Witirlah sebelum subuh.” (H.R. Muslim: 1253)
iii. Salat Tahajud
Salat Tahajud adalah salat sunah yang dilaksanakan pada malam hari. Waktu yang paling baik untuk melaksanakannya adalah sesudah bangun tidur setelah salat Isya’ (sepertiga malam terakhir). Jumlah bilangan rakaat salat Tahajud paling sedidkit dua rakaat dan paling banyak tidak terbatas. Allah SWT. berfirman:
Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat Tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Q.S. al-Isra’: 79)
c.    Salat Sunah Idain
Idain adalah dua hari besar yang dirayakan umat Islam. Pada kedua hari besar tersebut, umat Islam disunahkan melakukan salat yang disebut salat Idain (salat dua hari raya), yaitu Idulfitri dan Iduladha.
1)   Pengertian Salat Idain
Kata Idain berarti dua hari raya, yaitu hari Idulfitri dan Iduladha. Salat Idai adalah salat sunah yang dilakukan karena datangnya hari Idulfitri atau Iduladha. Salat Iduladha dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal, sedangkan salat Iduladha dilaksanakan pada tanggal 10 Zulhijah. Salat Idain disyariatkan pada tahun pertama Hijriah.
Hukum melaksanakan salat Idain adalah sunah Muakadah (sunah yang dikuatkan) karena Rasulullah SAW. selalu mengerjakannya setiap tahun, sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW. dalam hadits berikut.

“Dari Ummi Atiyah, katanya, “Nabi SAW. telah menyuruh kami keluar pada dua Hari Fitri dan Hari Haji supaya kami membawa gadis-gadis, perempuan yang sedang haid, dan hamba perempuan (ke tempat salat Hari Raya) dan memerintahkan para wanita yang haid untuk menjauhi tempat salat orang musli.” (H.R. Muslim: 1473)
2)   Tempat Pelaksanaan Salat Idain
Tempat pelaksanaan salat Idain sebaiknya di lapangan sehingga wanita-wanita yang sedang haid dapat hadir ke tempat salat, untuk mendengarkan khotbah meskipun tidak salat sehingga syiar Islam tampak semarak. Sebaliknya, apabila keadaan tidak memungkinkan karena hujan, salat Idain boleh diaksanakan di masjid. Hal tersebut didasarkan atas hadits Nabi SAW. berikut.
“Bahwa pada suatu Hari Raya, hujan turun maka Nabi SAW. melaksanakan salat dengan sahabat-sahabatnya di masjid.” (H.R. Abu Dawud dari Abu Hurairah: 980)
3)   Waktu Salat Idain
Salat Idain dilaksanakan pada waktu duha. Dalam sebuah hadits, diriwayatkan sebagai berikut.
“Dari Jundub katanya, “ Nabi SAW. salat Idulfitri bersama kami ketika matahari kira-kira setinggi dua penggalah dan salat Iduladha ketika matahari setinggi kira-kira satu penggalah.” (H.R. Ahmad bin Hasan al-Bana)
Imam Syaukani mengatakan bahwa hadits di atas sebaik-baik hadits yang memberikan penjelasan mengenai ketentuan waktu salat Idain. Ibnu Kudamah menambahkan, “ Disunahkan menyegerakan salat Iduladha agar terbuka kesempatan yang luas untuk berkurban, disunahkan mengundurkan salat Idulfitri agar terbuka pula kesempatan yang luas untuk membayar zakat fitrah.
4)   Tata Cara Salat Idain
Tata cara salat Idain yang perlu diketahui kaum muslimin sebagai berikut.
a.    Dilaksanakan dengan berjamaah
b.   Takbir tujuh kali setelah membaca doa iftitah (sebelum membaca surah Al-Fatihah) pada rakaat pertama. Kemudian, pada rakaat kedua lima kali takbir (sebelum membaca surah Al-Fatihah)
c.    Mengangkat tangan pada waktu takbiratulihram dan 12 takbir tersebut
d.   Membaca tasbih di antara beberapa takbir.
e.    Membaca surah al-A’la sesudah surah al-Fatihah pada rakaat pertama dan surah al-Ghasyiyah pada rakaat kedua, atau surah Qaf pada rakaat pertama dan surah al-Qamar pada rakaat kedua.
f.    Menyaringkan bacaan takbir, Surah Al-Fatihah, dan surah atau ayat Al-Qur’an.

d.   Salat Tahiyat Masjid
Setelah azan dikumandangkan, kaum muslimin berdatangan ke masjid. Ketika imam belum datang, banyak di antara mereka yang melakukan salat dua rakaat. Mungkin mereka melakukan salat Syukrul Wudu, mungkin juga salat Tahiyatul Masjid.
1)      Pengertian Salat Tahiyat Masjid
Secara bahasa, Tahiyatul Masjid berarti penghormatan masjid. Dengan demikian, salat Tahiyatul masjid berarti salat yang dikerjakan untuk menghormati masjid. Masjid adalah tempat manusia bersembah sujud kepada Allah SWT. sebagai Rabb semesta alam, berzdikir, dan membaca Al-Qur’an. Semua kegiatan yang dilakukan di masjid ditujukan untuk mengagungkan nama Allah SWT. Itulah sebabnya masjid disebut Baitullah yang berarti rumah Allah SWT. dan masjid juga disebut sebagai tempat suci.
Hamba-hamba Allah yang setia kepada-Nya senantiasa melafalkan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil di dalamnya. Demikian mulianya masjid sehingga Islam mensyari’atkan salat Tahiyatul Masjid. Rasulullah SAW. bersabda.
Apabila telah seorang di antara kamu masuk masjid, hendaklah ia salat dua rakaat sebelum duduk. (H.R. Abu Dawud dari Abi Qatadah: 395)
Berdasarkan hadits di atas, Rasulullah SAW. menyuruh kepada setiap orang yang masuk ke masjid untuk menunaikan salat dua rakaat. Salat dua rakaat yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah salat Tahiyatul Masjid. Hokum menunaikan salat Tahiyatul Masjid adalah sunah, yakni apabila ditinggalkan tidak berdosa, apabila dilaksanakan mendapat pahala.
2)      Tata Cara Salat Sunah Tahiyat Masjid
Salat adalah ibadah mahdah. Pelaksanaan salat harus sesuai dengan sunah Rasulullah SAW. tidak boleh membuat aturan sendiri. Dalam menunaikan salat Tahiyatul Masjid, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
a.    Rukun salat Tahiyatul Masjid sama dengan rukun salat pada umumnya.
b.    Syarat sah salat Tahiyatul Masjid sama dengan syarat sah salat yang lain, ditambah satu lagi yakni dilakukan di masjid.
c.    Salat Tahiyatul Masjid dilaksanakan sebanyak dua rakaat sebelum duduk berdasarkan hadis riwayat Jammah.
d.   Bacaan-bacaan pada salat Tahiyatul Masjid sama dengan bacaan salat yang lain, hanya niat yang berbeda, dan tidak ada aturan khusus.

2.    Salat Sunah Ghairu Muakadah
a.    Salat Sunah Rawatib
Seperti telah diuraikan sebelumnya, pelaksanaan salat sunah rawatib adalah sebelum atau sesudah salat fardhu. Ada beberapa salat sunah rawatib yang merupakan sunah ghairu muakadah, yaitu sebagai berikut.
1)      Empat rakaat sebelum dan sesudah Zuhur
Rasulullah SAW. bersabda dalam sebuah hadits berikut.
“Dari Ummi Habibah, bersabda Nabi SAW. “Barang siapa mengerjakan salat empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah SWT. mengharamkan apai neraka baginya.” (H.R. at-Tirmizi: 393)
Dengan demikian, dua rakaat termasuk muakadah, dua rakaat yang lain termasuk ghoiru muakadah.

2)      Empat rakaat sebelum salat Asar
Rasulullah SAW. bersabda dalam sebuah hadits berikut.
“Dari Ibnu Ummar berkata, Nabi SAW. bersabda, “Allah member rahmat kepada seseorang yang salat empat rakaat sebelum Asar.” (H.R. at-Tirmizi: 395)
3)      Dua rakaat sebelum Maghrib
Rasulullah SAW. bersabda dalam sebuah hadits berikut.
Dari Abdullah Muzanni dari Nabi SAW. bersabda. “Salatlah sebelum Maghrib, salatlah sebelum Maghrib.” Kemudia, beliau mengulangi lagi sabdanya yang ketiga kali, bagi orang yang menghendaki.” (H.R. al-Bukhari: 1111)

b.      Salat Duha
Salat Duha memiliki keutamaan yag besar bagi pelakunya sehingga Rasulullah SAW. sangat menganjurkan para sahabat dan seluruh kaum muslimin untuk melaksanakannya. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pelaksanaan salat Duha.
1)      Pengertian Salat Duha
Salat Duha adalah salat sunnah yang dikerjakan pada waktu Duha, yakni ketika matahari terbit setinggi tombak sampai menjelang waktu Zuhur. Hokum melaksanakan salat Duha adalah sunah berdasarkan sabda Rasulullah SAW. sebagai berikut.
Tiga perkara yang wajib di diriku dan sunah atas dirimu, yakni berkurban, Witir, dan dua rakaat (salat) Duha. (H.R. Bazar dan al-Hakim)
2)      Bilangan Rakaat Salat Duha
Salat sunah Duha dikerjakan sekurang-kurangnya dua rakaat, sebanyak-banyaknya dua belas rakaat. Meski demikian, ada ulama yang mengatakan tidak dibatasi jumlah rakaatnya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW. berikut.
Sesungguhnya Nabi SAW. mengerjakan salat Duha delapan rakaat, tiap dua rakaat salam. (H.R. Abu Dawud dari Ummi Hani binti Abi Talib: 1098 dengan sanad sahih)
3)      Syarat dan Rukun Salat Duha
Tidak dijumpai aturan khusus dari Rasulullah SAW. mengenai syarat dan rukun salat sunah Duha. Oleh karena itu, syarat dan rukun salat Duha sama dengan syarat dan rukun salat yang lain, hanya berbeda dalam niat dan waktu pelaksanaan salat. Jelasnya, salat sunah Duha harus dikerjakan pada waktu Duha.
4)      Do’a sesudah Salat Duha
“Ya Allah, sesungguhnya waktu Duha adalah milik-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu. Ya Allah, apabila rizkiku ada di langit maka turunkanlah, apabila di bumi maka keluarkanlah, apabila sukar maka mudahkanlah, apabila haram maka sucikanlah, apabila jauh maka dekatkanlah. Dengan haknya waktu Duha, keagungan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu. Berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.”





DAFTAR PUSTAKA
Al-Qahthani, Sa’id bin Ali bin Wahf. 2005. Tuntunan Shalat Sunnah. Bandung: Irsyad Baitus Salam
KTSP Standar Isi 2006 (LKS). Islam Agamaku (Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VIII Semester 1.  Kudus: CV. Pustaka Indah
Rasyid, Sulaiman. 2012. Fiqih Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset
Seade, Ahmad. 1996. Penuntun Sholat Lengkap (Wudlu, Tayamum, Shalat Wajib, Salat Jum’at, Shalat Sunnah, Do’a-Do’a Pilihan, Dzikir dan Wirid. Jakarta: Rica Grafika
T. Ibrahim dan Darsono. 2014. Penerapan Fikih 1 untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

RESEP OSENG KANGKUNG

Bahan-bahan: * Seikat Kangkung  * 3 cabe merah besar * Cabe rawit sesuai selera. * 1 Lengkung  * 3 Siung Bawang Merah.  * 1 Siung Bawang Put...